Tag: budaya

  • Yang penting tahu batasnya…

    Yang penting tahu batasnya…

    Aku tertarik betul dengan clip singkat yang menampilkan sosok seorang penggiat musik, Rudolf Dethu. Coba simak…

    “Yang penting tahu batasnya,” ujar @rudolfdethu. Bagaimana dengan kamu? Bantu kami sebarkan #TahuBatasnya!

    A video posted by BEERGEMBIRA (@beergembira) on Jun 28, 2016 at 11:56pm PDT

    Pesan terkuat dari orang yang pernah semeja ?perjamuan? denganku di sebuah bar tua di The Rock, Sydney beberapa tahun yang lalu itu jelas, ?Kegiatan minum alkohol itu yang penting tahu batasnya.?

    (Kalian bisa lihat beberapa video lain tentang kampanye #tahubatasnya dari beergembira dengan menengok akun instagramnya).

    Tahu batas adalah tanda kedewasaan. Tidak merasa harus dibatasi atau membatasi, orang dewasa bisa melakukan swa-tindakan untuk mencegah diri sendiri ketika hendak keluar batas.

    Aku bukan alkoholik tapi aku kenal alkohol sejak SMP.
    Awalnya coba-coba dan namanya juga anak ingusan, belum tahu batas. Minum sebanyak-banyaknya, batasnya adalah kalau kita jadi tak sadar, batasnya adalah kalau paginya dimarahi Papa dan Mama, batasnya adalah kalau kawan-kawan memberitahuku tingkah-tingkah lucuku ketika tak tahu batas semalam?

    Semakin besar, aku semakin tahu batas.

    tahu batas
    Tahu batas! Yang tak kutahu adalah batas ketampananku… wahahahaha…

    Pindah ke Australia?
    Makin tahu batasnya meski pernah suatu waktu aku lupa batasan!

    Di sebuah pesta kantor yang digelar di kawasan elite Darling Harbour, alkohol disajikan seolah tanpa batas. Dalam acara-acara seperti itu aku bisa menenggak lebih dari 10 botol beer dan itu biasa…

    Tapi semua jadi bencana saat aku memutuskan untuk mengambil segelas wine. Mencampur beer dan wine adalah harakiri dan pamali bagiku. Aku khilaf.

    Benar saja!
    Tak seberapa lama kemudian aku mabuk. Terkapar di atas meja saat acara masih berlangsung. Kepala pening tak keruan dan saat terbangun aku muntah di atas meja, di hadapan kawan-kawan kerja serta petinggi-petinggi perusahaan.

    Senin pagi aku diundang ke ruang manajer. Ia tak sendiri, hadir pula manajernya. Mereka mengungkapkan hal yang separuhnya memalukan tapi separuhnya lagi kusyukuri betul.

    Aku seharusnya mendapat peringatan keras resmi dari kantor atas perbuatan tak tahu batasku dalam pesta kantor malam itu dan aku menerima. Mau gimana lagi, memang salahku tak tahu batas!

    Tapi karena mengingat prestasi kerjaku yang menurut mereka luar biasa, surat peringatan itu disilang di depanku, aku diberi kesempatan sekali lagi. Mereka sambil tersenyum hanya berpesan, ?Lain kali, tahu batas!?

    Sejak saat itu, kalau tak kepepet betul, aku tak pernah minum alkohol. Kalaupun harus, batasanku hanya dua botol atau segelas wine lalu sudah, lalu pulang. Harus pulang kalau tak mau kelewat batas lagi.

    blog_tahuBatasNya_01

    Bersyukur hingga kini, lima tahun sesudah kejadian itu, aku bisa mengerem dan makin mengerti batasanku. Aku semakin dewasa.

    Jadi kalian mau dewasa?
    Kalian harus tahu batasannya karena orang-orang yang tak dewasa adalah orang-orang yang tak tahu batas. Ketidaktahuan terhadap batas terkadang muncul karena dimanjakan oleh aturan-aturan yang membatasi diri.

    Contohnya? Ya Aturan anti minuman keras!?Untuk apa ada aturan seperti itu? Alih-alih mewujudkan generasi resik, yang ada justru generasi yang mati menenggak oplosan dan generasi munafik yang tetap minum alkohol walau diam-diam.

    Mana bisa dewasa?

    Orang miskin mati minum oplosan,
    Politisi busuk mabuk kekuasaan,
    Bangsa munafik koruptor jancuk,
    orang miskin kok dilarang mabuk
    (Orang Miskin Dilarang Mabuk – Libertaria)

  • Yoni? Johnny? Oh, Tony!

    Yoni? Johnny? Oh, Tony!

    Orang-orang sini sulit mengucap nama Donny ketika kuberi tahu kepada mereka namaku D O N N Y!

    Oh Johnny?
    No! Donny!

    Yoni?
    No! Donny!

    I see. Thanks, Tony!
    Nooo? D-O-N-N-Y?.Delta Oscar November November Yankee!

    Nama Donny memang tak umum digunakan di sini. Kalaupun umum, mereka mengira itu adalah kependekan dari Donald seperti halnya Sam untuk Samuel, dan Bill untuk William.

    Yang susah kalau ke coffee shop! Hal yang kutulis di atas selalu terjadi.

    Ngomong-omong, adakah nama lain yang juga sulit dieja oleh mereka?

    Ya banyak. Buanyak banget!
    Ada kawanku yang nama belakangnya ?Brotowalujo?, orang Indonesia lah. Dan mungkin karena saking desperate-nya, setiap berhadapan dengan receptionist yang butuh data nama lengkap, ia lebih suka menyodorkan ID card supaya si receptionist membaca sendiri ketimbang ia harus mengajarinya mengeja namanya itu.

    Jangankan nama-nama yang terdengar sebagai nama migran, nama mereka sendiri pun juga kadang membingungkan mereka sendiri kok!

    Kenapa? Kebanyakan nama depan di sini standard: Mike, John, Peter, Jacob, Nigel, Angela, Michelle, Julianne dan lain-lain. Tapi surname lain ceritanya. Mereka harus mengeja satu-per-satu untuk memastikan tak ada yang salah.

    Misal kawanku. Surnamenya ?Blighton? tapi kerap ditulis sebagai ?Blyton? kecuali ia akhirnya mengeja sebagai B-L-I-G-H-T-O-N.

    nama

    Kok bisa begitu ya? Entah aku bukan ahli dalam hal beginian tapi menurutku ini terjadi karena apa yang terucap dan terbaca boleh berbeda dengan apa yang tertulis. (Yang ahli bahasa, please help me, apa ini istilahnya?)

    Misalnya begini
    Kamu mungkin tak sadar bahwa ?poor? dan ?door? diucapkan dengan cara yang berbeda padahal keduanya punya ?oo? yang sama.

    Door diucapkan sebagai d?? (doooo, dengan r yang mati) padahal poor diucapkan sebagai p??,p?? (puaa dengan R yang mati juga).
    Susah kan?

    Beda dengan bahasa kita. Slamet, selamanya akan jadi Slamet. Tuti selamanya akan jadi ?Tuti? meski orang Jawa lebih suka menyebut sebagai ?Tutik? seperti halnya ?Watik? terhadap Wati. Meski kebanyakan sekarang mulai juga kebingungan karena ada yang ?suka-suka? memberi nama termasuk memodifikasi nama dari tulisan asalnya. Misalnya Kayla. Ada yang menulis sebagai Kaela, Chaella, atau ya Kayla biasa.

    Terkait nama-nama dan cara menyebut begini aku punya cerita dari kawanku, lucu juga.

    Dia bule, pernah tinggal di kawasan Cikini selama sembilan tahun. Kakaknya, cewek, pernah bemasalah ketika memanggil taksi lewat telepon, maklum waktu itu kan belum ada Uber yang bisa pesan taksi via aplikasi ya.

    Namanya Jeanne yang orang Indonesia kebanyakan akan memanggil sebagai ?Jen? dengan ?e? seperti pada kata ?ekor?. Padahal dia sendiri dan orang-orang di sini menyebut sebagai Ji-in dengan ?i? yang panjang.

    Alhasil, ketika pak sopir sampai di depan rumahnya, pembantu yang membukakan pintu bilang, ?Maaf, di sini nggak ada yang namanya Jen??

    Kakaknya kawanku tak kehilangan akal.
    Alih-alih memaksa lidah operator dan supir taksi mengikuti caranya mengucap nama, ia memutuskan pakai nama ?Indonesia?.

    ?Taksi atas nama siapa, Bu??
    ?Atas nama WATI.?

    ?Baik Bu Wati. Armada nomer 79 siap meluncur ke rumah Ibu! Ditungg ya…?

    Habis perkara! Yang ia lakukan tinggal mengkomunikasikan ke pembantu bahwa mulai saat itu kalau ada yang tanya rumah Bu Wati, itulah dia, si Jeanne itu!

    Kembali ke soal bagaimana caraku akhirnya ngakalin pesan kopi supaya tak berlarut-larut dalam membantu penjual mengeja namaku?

    Pasrah saja. Nggak kuakal-akali. Aku butuh kopi cepat, jadi mau dipanggil Yoni, Johnny, Tony atau apapun aku manut pokoknya kopiku buruan jadi!