Tag: breakfast

  • Sarapan

    Sarapan

    Eh, kalian tadi sarapan pagi pake apa?
    Sejak kecil aku selalu membiasakan diri untuk menyantap sarapan.
    Waktu mulai sekolah dulu, Mama selalu menyiapkan entah itu roti mentega berselai, mie instant, ataupun nasi goreng plus telor sebagai sarapan tak lupa segelas teh panas sebagai kompanionnya.
    Tapi, setelah ke Jogja untuk melanjutkan studi di tingkat SMA, tahun 1993, atas nama ?pengiritan?, pernah aku berusaha untuk tidak menyantap sarapan dan menggantinya dengan menghabiskan beberapa batang rokok (saat itu aku masih perokok aktif).
    Tapi toh niat suci itu hanya kuat bertahan dua bulan awal karena meski ngirit tapi akibatnya badan malah gemetaran, mata berkunang-kunang dan perut sering melilit ketika hari belum lagi beranjak siang.
    ?Beruntung? semenjak lulus SMA, siklus hidupku berubah yang semula bangun pagi dan tidur malam menjadi bangun siang dan tidur dinihari. Perubahan ini membuat cita-cita lama untuk mengirit berhasil karena pada akhirnya apa yang kusantap sebagai sarapan berlaku pula sebagai makan siangku.
    Bertahan lebih dari dua belas tahun dengan pola ?abnormal? seperti itu, kepindahanku ke Australia mau tak mau harus mengubahku kembali menjadi normal.
    Bangun pagi sepagi buta untuk berangkat kerja, aku harus santap sarapan.
    Awal-awal dulu aku suka breakfast meal sebuah raksasa junk food retailer yang terdiri dari bacon and egg, hash brown dan secangkir kopi hingga beberapa bulan lamanya sebelum akhirnya jatuh bosan dan tersadar betapapun nikmatnya babi, tapi bila disajikan sebagai ?junkfood?dan disantap setiap hari itu tak terlalu bagus untuk kesehatan, bukan?
    Sesudahnya, pilihan jatuh pada paket kopi+banana bread yang di sini banyak dijual di warung kopi sebagai sarapan. Tapi skali lagi, tak lama kemudian aku jatuh bosan pada kombinasi itu dan lagipula, kalau dihitung-hitung, harga sepaketnya tidaklah murah, sekitar tujuh dollar mahalnya.
    Enam bulan lalu, ketika akhirnya aku diterima kerja di tempat yang baru, selera sarapanku kuubah lagi. Ketika itu aku berpikir tentang sesuatu yang menyehatkan tapi sekaligus mengenyangkan dan enak.

    Susu, strawberry, pisang dan cereal

    Pilihan lantas jatuh pada cereal plus buah dicampur susu.
    Selain sehat dan murah (ongkos per-serve setelah kuhitung-hitung bahkan kurang dari dua dollar saja!), pilihan ini membuatku sedikit lebih aktif karena aku harus mempersiapkannya sendiri di dapur kantor setiap pagi.
    Resepnya mudah!
    Tinggal mencampurkan empat sendok makan cereal, tiga buah strawberry yang dipotong-potong,dan sesisir pisang yang juga sudah dipotong tipis-tipis ke dalam mangkuk.
    Sesudahnya, tuangkan susu (skim maupun full cream) seperlunya, seseleranya.
    Bagiku yang sangat menyukai ?crunchy? nya cereal, aku tak mau menambahkan susu banyak-banyak ke atasnya.
    Metamucil, si pelancar boker hehehe

    Untuk pilihan minuman, aku tetap bersandar pada kopi. Namun, untuk pelengkap ?kesehatan?, aku mengkonsumsi produk minuman alami kaya serat yang selain berfungsi sebagai subtitusi sayur-sayuran yang harusnya kumakan, juga terbukti ampuh mengatur jadwal buang air besar jadi lebih efisien :)
    Itulah sarapanku.
    Tak peduli seperti apakah nanti makan siang dan malamku dan berapa banyak beer yang kuminum pada sore dan malam harinya, setidaknya aku telah mencoba memulai hari dengan sesuatu yang menyehatkan :)
    Eh, jadi kuulang lagi pertanyaanku di atas, apa sarapan pagimu?
    Gudeg? Nasi goreng? Nasi kuning? Atau sesuatu yang lebih berat dari itu? :)
    * * *
    Sudahlah, hantarkan saja
    Secangkir kopi hitamku
    Dekap lutut nikmati embun
    Sebatang rokok tersulut
    Berbagai topik terhidang
    Di atas meja terasku
    Politik, Ekonomi, Lingkungan
    Segera kita kunyah lagi
    Selalu,
    Selalu, begitu
    Selalu,
    Sarapan pagiku
    Sarapan Pagi (KLa Project)