Tag: blogger

  • Blontank: Lawan hoax? Edukasi diri!

    Blontank: Lawan hoax? Edukasi diri!

    Lama tak terdengar ada acara kumpul-kumpul berbau ?blogger?, Rumah Blogger Indonesia (RBI) Solo yang dikomandoi aktivis senior media sosial Indonesia, Blontank Poer, kamis 23 November 2017 silam mengadakan acara temu muka/kopi darat (kopdar) blogger. Acara ini bertepatan dengan diadakannya Festival Media yang dihelat di kota asal Presiden Jokowi itu oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), 23 – 24 November 2017 silam.

    Aku menyempatkan diri berbincang melalui Whastapp dengan Lik Bloentank (aku memanggil beliau dengan sebutan Paklik, ?Lik? yang berarti ?om? dalam Bahasa Jawa) yang eksentrik itu dan berikut adalah petikannya.

    kopdar blogger
    kopdar blogger

    (DV) Lik, apa acara Kopdar Blogger kemarin itu numpang Festival Media?
    (BP) Dibilang numpang juga bisa.?Kebetulan teman-teman AJI Kota Solo mengajak RBI ikut terlibat bantu-bantu kepanitiaan Festival Media. Dari situ muncul ide, daripada bantu-bantu aja kenapa tak terlibat lebih?

    Sejauh apa keterlibatan kawan-kawan RBI dalam acara itu?
    Kami jadi volunteer dan terlibat aktif sejak rapat perencanaan festival itu bersama kawan-kawan AJI Kota Solo.

    Lalu isi acara Kopdar Blogger kemarin tujuannya apa?
    Ya kumpul-kumpul, lama nggak ketemu.

    Ada ?modus? lain?
    Bukan ?modus? tapi lebih pada memanfaatkan momentum. Rumah kontrakan RBI tahun depan kebetulan akan jatuh tempo, jadi kami ijin panitia untuk sekalian cari dana membayar kontrakan dan salah satu implementasinya ya cari sponsor.

    Dapet?
    Dapat. Dana penyelenggaraan, utamanya kami dapat dari XL. Terus ada tambahan saweran dari Pandi.id, ictwatch.id, dan komunitas siberkreasi.id. Jadi, kami cukup leluasa dalam memuliakan tamu-tamu kami.

    Blontank Poer
    Blontank Poer

    Apa masih relevan bicara tentang blogger saat ini, Lik? Apa masih banyak blogger di Indonesia?
    Blogging memang tak sepopuler dulu tapi sebenarnya masih banyak orang ngeblog baik di blog maupun microblogging lewat medsos. Apapun platformnya, titik tekannya ada di konten. dan, kita dihadapkan pada pilihan mau ngisi dengan konten positif (bermanfaat) atau sebaliknya.

    Ada sinergi atau rencana kerja bareng blogger dan kalangan pewarta dari AJI dalam festival media kemarin?
    Ke depan harusnya ada karena kemarin aja mereka saling kunjung kok. Aktivis AJI hadir di acara kopdar dan sebaliknya, blogger datang ke festival media.

    Minimal kopdar kemarin bisa mendekatkan teman-teman blogger dengan AJI. Apalagi terkait prinsip kebebasan berekspresi dan banyaknyablogger serta warganet lainnya yang masih takut dengan ancaman pidana dari pasal 27 ayat 3 UU ITE, bahkan yang sudah direvisi sekalipun.

    Apa yang bisa dilakukan AJI dalam hal ini?
    AJI menginisiasi pendirian LBH Pers yang misinya mendampingi jurnalis ketika berhadapan dengan kasus-kasus hukum.

    Dengan begitu, aku berharap kelak blogger/warganet merasa punya teman, apalagi sejak kongres AJI di Padang, empat tahun lalu, pewarta warga (blogger ?red) sudah dimasukkan dalam kelompok masyarakat yang bisa menjadi anggota AJI dan pihak yang bisa diadvokasi jika ada tuntutan hukum.

    Para peserta kopdar blogger
    Para peserta kopdar blogger

    Selain soal advokasi apa ada hal lain yang bisa ?dikerjakan bersama??
    Yang kuharap adanya inisiatif-inisiatif alami yang mempertemukan kedua belah pihak (AJI dan blogger). Aku yakin mereka merasakan kegelisahan yang sama terhadap berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat.

    Konkritnya?
    Mungkin aksi-aksi terkait literasi publik dan tidak sebatas digital tapi dalam pengertian luas yang berhubungan dengan relasi sosial, pemahaman politik dan sikap kebangsaan.

    Bicara soal hoax yang makin marak, peran blogger apa relevan dalam menghalau hoax piye?
    Menurutku saiki sangat relevan. Banyak individu yang dulu kita kenali sebagai blogger, kini rajin menyuarakan padangan dan sikapnya terhadap konten negatif, baik yang mengandung ujaran kebencian maupun informasi palsu atau salah.

    Tapi konon oknum blogger-bogger jaman old lah yang ikut terjun menerbitkan hoax?
    Ya satu dua ada yang masih ‘istiqomah’ hidup dalam jaman kegelapan, ya kita doain saja supaya cepat waras hehehe?

    Menurutmu cara terbaik melawan hoax itu gimana?
    Kita harus mengedukasi diri sendiri lewat akun-akun blog maupun medsos yang kita punya dengan cara mengisi konten-konten yang kita yakini berguna untuk kemaslahatan.

    Sekecil apapun, aku yakin orang yang membaca postingan kita akan tahu juga kok.

    Tantangan blogger Indonesia ke depan terutama dalam tahun-tahun politik mendatang bagaimana?
    Aku optimis ke depan akan membaik. Mereka yang jualan isu-isu, misalnya agama kan ya itu-itu saja orangnya.

    Pelajaran berharga dari Pilkada DKI, utamanya terkait aksi-aksi massa ?tiga angka? itu menurutku sudah cukup membuat banyak orang terbuka pikiran dan wawasannya.

    Masyarakat akan sadar dan menjadi kebal atas kalimat-kalimat hasutan.

    Blontank Poer
    Blontank Poer

    Oh ya, yang datang di acara kopdar kemarin berapa orang?
    Sekitar 150 orang padahal yang kutargetkan hanya 60 saja.

    Mereka datang darimana?
    Dari berbagai daerah. Ada yang mewakili komunitas BloggerNgalam (Malang), Plat-M (Madura), Blogger Warok (Ponorogo), Pendekar Tidar (Magelang) lalu teman-teman blogger dari Surabaya, Banyumas, Jogja, Salatiga, Sukabumi, Gorontola dan Jayapura tak ketinggalan Solo dan Klaten?

    Peserta ditarik duit berapa untuk ikut kopdar, Lik?
    Gratis lah! Kopdar kok bayar? Hahaha?.

    Simak wawancara lain dengan Bloentank Poer di sini

  • Risalah Akhir Pekan XLIII/2017

    Risalah Akhir Pekan XLIII/2017

    Ada dua seseruan yang terjadi minggu lalu.

    Pertama, apalagi kalau bukan Harblognas atau peringatan Hari Blogger Nasional ke-10 yang jatuh pada 27 Oktober 2017.

    Sejatinya, ada atau tak ada peringatan harblognas tak berpengaruh banyak bagiku. Ada perayaan atau tidak, aku tetaplah seorang blogger yang ngeblog. Hal menarik dari harblognas kemarin (dan tahun-tahun sebelumnya) sebenarnya justru linimasa social media mereka yang dulu juga ngeblog.

    Aku membagi ?arus? mereka dalam tiga aras.

    Aras pertama adalah orang-orang yang dulunya ngeblog tapi kini lebih aktif nge-vlog, nge-buzz, nge-tweet ataupun ?nge-? dan ?nge-? lainnya pokoknya tetap memproduksi konten. Orang-orang dalam aras ini tetap merayakan harblognas tapi dengan embel-embel bahwa ngeblog itu nggak harus blogging tapi bisa nge-vlog, nge-buzz, nge-tweet ataupun ?nge-? dan ?nge-? lainnya. Salah? Tidak sama sekali!

    Aras kedua, orang yang dulunya ngeblog tapi sekarang berhenti lalu mendadak ngeblog lagi khusus memperingati harblognas.
    Nggak salah juga justru aku membayangkan sensasi yang mereka dapat barangkali malah luar biasa. Ibaratnya seperti seseorang yang tinggal di Jakarta lalu pulang ke desa saat hari raya tiba. Rasanya pasti sangat menyenangkan untuk mendatangi rumah tempat ia dibesarkan, bertemu tetangga yang sudah setahun tak bertemu dan menikmati makanan-makanan yang dulu setiap hari dinikmati.

    Hanya saja analogi ini tak lagi pas ketika aku mendapati seorang blogger, hendak ngeblog di harblognas tapi lupa password admin :) Kalau dipaksa dalam pengibaratan orang mudik, masa seorang mudik lupa alamat rumah di desa? Kan tidak mungkin? Kan ada GPS? :)

    Aras ketiga adalah orang yang baru-baru ini mulai ngeblog? Romantikanya tentu berbeda dengan mereka yang ada di dua aras sebelumnya. Ada semangat membara dan melihat yang seperti ini menyenangkan meski sekaligus menegangkan untuk membayangkan apakah semangat mereka masih tetap menyala di harblognas-harblognas berikutnya atau mereka sudah lantas masuk ke dua aras sebelumnya?

    Masih tentang harblognas. Yang menghangatkan hati dalam harblognas tahun ini adalah ketika seorang yang sudah kuanggap seleblog, Agus Mulyadi, menulis di wallnya terkait dengan eksistensiku dalam ngeblog.

    Kenapa hatiku hangat sebenarnya bukan karena semata-mata ?Agus?-nya. Tapi karena ia jadi salah satu seleblog terbaru dari beberapa yang lain yang lalu-lalu, yang ngepost tentang aku. Hal ini kuanggap sebagai sebuah penghargaan bahwa aku diterima sejak jaman dulu hingga kini.

    Aku sendiri bukan seleblog. Dalam tulisan lamaku di sini, aku menyebut diri sebagai angin sepoi-sepoi. Aku tidak mengguncang, tak pula menggelegar. Biasa saja?

    Hal kedua yang tak kalah serunya adalah peluncuran rencana acara diskusi kebangsaan di Sydney.

    Setelah mengalami beberapa kali penundaan, secara resmi NKRI OZ Community Inc., sebuah asosiasi nirlaba di Australia yang kudirikan bersama beberapa kawan pemerhati Indonesia akan mengadakan diskusi kebangsaan pada 18 November 2017 mendatang dengan tema Jokowi, dua periode?

    Acara ini akan mengetengahkan dua nara sumber, Bhatara Ibnu Rheza (Senior researcher IMPARSIAL) dan Dr. Nur Arif Makful, MSc (staff pengajar di beberapa universitas dan penggiat Kebhinnekaan dan Kebangsaan). Aku sendiri kebagian tugas menjadi pembawa acara.

    Kalian yang tinggal atau kebetulan sedang ada di Sydney hari itu, atau punya kenalan dan saudara bahkan pacar yang sedang ada di sini, boleh loh join ke acara itu. Silakan mendaftarkan diri di sini.

    Kami juga menjual kaos untuk keperluan fund raising yang bisa kalian dapatkan dengan mengisi form di sini. Oh ya, kaos hanya dijual di Australia saja.

    Selamat menjalani minggu yang baru.

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXX

  • Konon ngeblog sekarang itu?

    Konon ngeblog sekarang itu?

    Konon ngeblog sekarang itu? udah nggak enak dan ketinggalan jaman. Kawanku yang influencer terkemuka berkata demikian. ?Bahkan Twitter pun udah nggak asik, Bro! Follower yang diperhitungkan itu di Youtube atau Instagram! Apalagi blog? Sounds so two decades ago!? Tapi tentu aku tak bergeming karena ngeblog bagiku bukan untuk menerbitkan atau menimbulkan gelombang influence.

    Konon ngeblog sekarang itu? nggak menghasilkan duit sebanyak dulu. Kawanku yang seorang ?buzzer produk? membisikkanku begitu. Ngeblog panjang lebar duitnya lebih sedikit puluhan kali lipat ketimbang ngetweet atau? nge-vlog! Bermodal ?Hae guys!? tak peduli tampang yang penting sensasi (dan kadang memalukan dikit gak papalah) duit pun berdatangan. Tapi hal itu tak menggelitikku karena ngeblog bagiku tak kutujukan untuk hal-hal komersial.

    Konon ngeblog sekarang itu? masih relevan kalau kamu membela pemerintah. Berani sensasi, berani nulis yang bombastis dan mendekat ke ormas yang dekat ke penguasa maka kamu aman. Sebaliknya kalau kamu membela yang ?bumi datar?, kata mereka, sensasi masih dapet tapi duit zonk karena makin banyak yang mulai ditangkep atau setidaknya di-polisi-kan. Lagi-lagi, meski aku membela yang benar, aku tak tertarik untuk menjatuhkan diri pada satu sisi dari yang saling berlawanan itu karena aku lahir untuk tegak berdiri tidak untuk dirundukkan baik oleh uang maupun kekuasaan.

    Konon ngeblog sekarang itu? diluar urusan politik atau makanan atau wisata akan semakin tak terdengar. Pengunjung kalau mau ribuan atau puluhan ribu ya harus jadi seperti mereka. ?Kalau cuma nulis curhatan, keseharian apalagi nulis renungan Injil kayak loe mana bisa eksis, Bro?? Eksistensi itu tidak untuk dipertahankan. Ia dibangun dengan cara menulis bukan menulis apa dan tentang siapa ataupun pengunjungnya berapa.

    Konon ngeblog sekarang itu? ditinggalkan karena selain urusan-urusan di atas ya karena terlalu banyak urusan diluar masalah ngeblog yang harus dihadapi dan diselesaikan. ?Repot aku kalau disuruh ngeblog terus. Nggak ada ide dan energi!? Aku juga tak punya energi tak pula ide tapi keduanya selalu datang menghampiri. Jangan-jangan mereka menghampirimu pula tapi kamu tak mengenali?

    Konon hari ini, 27 Oktober 2017, adalah Hari Blogger Nasional? Oh ya? Kalau begitu Selamat Hari Blogger Nasional, Teman-teman. Aku sudah berhenti merayakannya karena aku bukan lagi seorang blogger, aku superblogger Indonesia!