Tag: bekasi

  • Filadelfia… tuk.. tuk.. tuk… Filadelfia… tuk.. tuk… tuk…

    Filadelfia… tuk.. tuk.. tuk… Filadelfia… tuk.. tuk… tuk…

    Belum usai masalah GKI Yasmin di Bogor, minggu lalu mencuat clip yang ‘bercerita banyak’ tentang bagaimana jemaat Gereja HKBP Filadelfia di Desa Jejalen, Tambun Bekasi sedang beribadah lalu disebelahnya terpasang beberapa speaker berukuran dan bervolume besar menyuarakan ‘sesuatu-yang-aku-tak-tahu’ yang kemungkinan besar dicorongkan ke arah jemaat yang hendak memulai acara peribadatan. Coba klik di interface bawah dan perhatikan dengan seksama.

    Entah dengan kalian, tapi bagiku, setelah melalui berbagai macam rasa mulai dari emosi hingga malu pada diri sendiri atas keadaan yang tampak di rekaman itu, pada akhirnya aku sampai pada keteduhan hati dan balik bertanya pada diri sendiri,
    “Adakah mereka hidup di tahun dan era yang sama dengan yang kualami saat ini, di sini atau mereka hidup di masa batu dimana sejarah belum tertuliskan?”

    “Sssstttt, Don! Tapi konon mereka itu itu belum mengantongi ijin pendirian gereja karena belum mendapat persetujuan dari penduduk sekitar… makanya disegel dan mereka nekad beribadah di lapangan terbuka!” bisik seorang teman yang kuhormati karena perbedaannya.

    Benar! Tak ada kebenaran yang lebih benar ketika hukum berbicara. Tapi tunggu dulu! Masalahnya, hukum, dalam kasus ini diproyeksikan untuk kepentingan siapa atas siapa? Karena, bukankah pada akhirnya semua perjuangan sebusuk apapun tujuannya memang tak pernah tak menggunakan dalih… termasuk hukum itu sendiri?

    Marilah kita ketuk-ketukkan ujung jari ke meja saja sebagai tanda bahwa kita adalah manusia-manusia lemah yang bingung hendak berbuat apa selain berdoa hingga berbusa-busa.

    Bahkan untuk mengharap banyak kepada negara pun tak ubahnya seperti merekonstruksi sebuah harapan yang usang.

    Harapan yang dulu pernah meledak-ledak atas seorang pemimpin yang istilahnya berani kotor ketika harus turun ke sawah dan berani basah ketika harus terjun ke sungai menghalau masalah bersama rakyat. Bukannya pemimpin yang memilih berdiri di tepian sawah ataupun kali dengan kaki terjinjit-jinjit takut basah dan takut kotor ujung celananya lalu pasang telunjuk, main perintah ke sana kemari demi dianggap sebagai seorang pemimpin dan sesudahnya bicara pada media “Saya sebenarnya pengen turun tangan tapi bukan kapasitas saya untuk…” dan bla-bla-bla yang lainnya sampai mulut berbusa dengan paras sok serius dan sok wibawa!

    Ah, sudahlah! Menulis terlalu panjang di tulisan kali ini tak mendatangkan faedah sama sekali! Lebih baik mari kita lanjutkan mengetuk-ketukkan ujung jari ke meja saja,
    Tuk… Tuk… Tuk… Filadelfia… tuk.. tuk.. tuk… Filadelfia… tuk.. tuk… tuk…

    To be human is to be free. God gives us space to be free and so to be human. – Desmond M. Tutu