Tag: bahasa

  • Tak afdolkah bicara tanpa mencampur-campurkan kata beda bahasa?

    Tak afdolkah bicara tanpa mencampur-campurkan kata beda bahasa?

    Ada banyak orang mencampuradukkan kata beda bahasa dalam percakapannya dan dalam tulisan atau pesannya.

    Dosakah? Nggak juga…terserah!
    Tapi mari berpikir secara esensi, berbahasa itu berkomunikasi, ketika lawan komunikasi tak tahu apa yang kita utarakan hanya karena alasan teknis, yaitu kata dan bahasa, bukankah miris karena komunikasi jadi kehilangan arti?

    Biar keren

    Dulu waktu masih di Indonesia dan mulai ikut kursus Bahasa Inggris sebagai persiapan pindah ke Australia, aku sering mencampur-adukkan bahasa. “Wah too many tasks nih! Harusnya shopping trus malemnya sembahyangan lingkungan tapi kok ya rasanya hari ini too short ya!”

    Kesannya biar keren karena kursus Bahasa Inggris tak murah sementara untuk pamer langsung dan bilang “Eh aku kursus Bahasa Inggris dan mahal lho!” kok malu-maluin juga. Cara yang elegan? Menurutku ya mencampur-adukkan bahasa.

    Tanda tak percaya diri

    Dan ternyata cara itu sebenarnya tak elegan.
    Di depan orang-orang yang tak mengerti, mungkin demikian, tapi di tengah orang-orang yang ‘tahu’, alih-alih dapat tepuk tangan, yang terjadi malah diberi stigma sebagai orang yang tak percaya diri.

    Keunggulan itu terpancar dari diri. Kalau kita pintar, kepintaran terpancar dari karya dan perbuatan bukan dari cara ‘lenjeh’ kita dalam berbahasa yang mencampur-adukkan semuanya.

    Unjuk kepongahan

    Mencampur-adukkan bahasa, kalau tidak menguasai benar justru akan jadi unjuk kepongahan.

    Misalnya, “Aku akan datang even hari hujan” Yang dimaksud adalah “Aku akan datang meskipun hari hujan” tapi karena ‘even’ itu setara dengan ‘bahkan’ maka sebagian membaca sebagai ‘Aku akan datang bahkan hari hujan!’ Nah, jadi salah kaprah, kan?

    “Harusnya ‘even though’ bukannya ‘even’!”, demikian kata istriku dulu mengkritik karena awal-awalnya akupun juga nggak tahu.

    Masih soal even, ada juga yang mengucapkannya sama persis dengan cara mengucapkan ‘event’! Padahal? Even diucapkan /?i?v(?)n/ dan ‘event’ diucapkan sebagai /??v?nt/. Sehingga ketika misalnya orang berkata “Nanti kita akan tetap mengadakan event even mendekati akhir tahun.” dengan pengucapan event sama dengan even, betapa bingung orang yang mendengarnya? Kenapa tak dipermudah saja menjadi “Nanti kita akan tetap mengadakan acara meskipun mendekati akhir tahun.”

    Lebih enak dan tidak malu-maluin kan?

    Ketidakmampuan menyusun tata bahasa

    Ketika melihat ada orang asing bicara dalam bahasa Indonesia dan mereka mencampur-adukkan bahasa, itu barangkali karena mereka belum bisa merangkai kalimat secara lengkap dalam bahasa Indonesia.

    Namun sebaliknya, ketika melihat ada orang kita sendiri berbicara dalam bahasa Indonesia tapi dicampuradukkan dengan tak hanya bahasa Inggris, barangkali Bahasa Arab, cina atau bahkan Perancis dan Spanyol di depan audiens bangsa sendiri, apakah ada terpikir bahwa orang itu tidak bisa merangkai kalimat secara lengkap dalam bahasa Indonesia yang adalah bahasa sendiri? Tentu tidak! Yang terpikirkan justru, “Kalau ngaku jago, kenapa nggak ngomong dalam bahasa Inggris sekalian, nggak usah dicampur-campur!” Lalu bisik-bisik di belakang, “Mana bisa? Dia nyampur-nyampur gitu justru karena belum bisa!”

    Ketika sedang menyusun tulisan ini, entah kenapa tiba-tiba aku teringat akan Vicky. Yuk kita simak sekali lagi clip tentang mantan pacar Zaskia Gotik itu. Semoga terhibur!

  • Jason belajar Bahasa Indonesia

    Jason belajar Bahasa Indonesia

    Dua tahun silam, sekitar seminggu sebelum aku pindah ke Australia, kegiatan yang paling banyak menyita waktu dan perhatian adalah berpamitan dengan rekan serta handai taulan.
    Salah satu yang kami temui waktu itu adalah Alin, teman lama yang anggaplah bernama demikian.
    Lima tahun sudah aku tak pernah bertemu dengannya dan selama itu pula aku telah ketinggalan banyak kabar tentangnya. Salah satunya adalah kabar tentang ia yang ternyata sudah menikah dan dikaruniai seorang anak.
    Mengingat kesibukan mereka, kami lantas sepakat untuk bertemu pada sebuah makan siang di kafe dekat pusat perbelanjaan di tengah kota. Pertemuan yang sungguh hangat dan penuh dengan nuansa kekakraban karena tak hanya menjadi ajang perpisahan namun sekaligus reuni untuk kami bercerita tentang masa-masa lalu yang pernah kami lewati. Aneh memang, kami melakukan reuni tepat di bibir perpisahan…
    Alin memperkenalkan suami serta anaknya yang datang lima belas menit lebih lambat ketimbangnya.
    Kesanku yang pertama tentang suaminya, Alin memang tak salah pilih pasangan. Suaminya, Alan, adalah seorang yang menarik. Tongkrongannya tinggi lagi besar. Sorot matanya memperlihatkan ia adalah pejuang tangguh namun dari bagaimana caranya memperlakukan Alin serta anaknya, ia adalah pecinta kaliber juara.
    Adapun Jason, anaknya, sangatlah menggemaskan… Pipinya gembul, rambutnya seperti jarum hitam yang menantang langit, matanya meski sipit tapi aku bisa melihat sorot yang tajam dan pipi serta bibirnya begitu merah. Siang itu, Jason yang berumur empat tahun, tampak sebagai anak yang tumbuh dengan baik dan cerdas. Ia tak banyak bicara dan tenggelam dalam kesibukannya mewarnai tokoh-tokoh idola kartun yang ada di buku gambarnya. Beberapa pensil warna dan penghapus serta setumpuk buku mewarnai lainnya terhambur di meja kecilnya yang diletakkan tak jauh dari tempat kami duduk di meja utama.
    Lalu tiba saat dimana kami rasakan stock cerita hampir tandas di ujung bibir. Kami tak tahu mau bicara apa lagi tapi masih pula enggan untuk menyudahi pertemuan.
    Keadaan itu lantas kumanfaatkan untuk mendekat pada Jason.
    “Halo Jason… sibuk amat mewarnainya? Sini ngobrol sama Om..” Ia melirik sebentar ke arahku, tersenyum lalu kembali sibuk dengan tokoh-tokoh idolanya.
    “Dia ngga ngerti kamu ngomong apa, Don…” tutur Alin sementara suaminya mengangguk mengiyakan.
    “Maksudmu?”
    “Iya.. dia sejak kecil kubiasakan berbahasa Inggris di rumah. Lalu sejak umur dua tahun hingga sekarang masuk ke pre-school yang bahasa pengantarnya berbahasa Inggris.” Alin menjelaskan.
    “Oh…”
    “Sekarang baru mau kucarikan guru Bahasa Indonesia karena kemungkinan dia akan kumasukkan TK dan SD katholik yang pake Bahasa Indonesia…” tambahnya lagi.
    Mendengar penjelasan itu, usahaku untuk mendekati Jason pun surut.
    Bukannya ogah berbahasa Inggris, tapi aku tak bisa.
    Saat itu, aku belum terlalu percaya diri untuk bahkan sekadar ber-cas-cis-cus dalam bahasa Inggris dengan anak seumuran Jason. Istriku lantas mengambil alih pembicaraan dan sejak saat itu hingga akhir pertemuan, bahasa Inggris mendominasi sementara aku hanya ber “Ahhh…” dan “Ohhhh” saja pertanda terkadang mengerti apa yang diomongkan dan terkadang tidak.
    Dalam perjalanan pulang, di dalam taksi, aku lantas berpikir tentang ‘fenomena’ unik yang kutemui barusan.
    Anak berumur empat tahun yang tinggal di negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-harinya dipaksa belajar bahasa Inggris sejak bayi dan sekarang orang tuanya kerepotan mencarikan guru bahasa Indonesia, bahasa ibunya.
    Aku selalu percaya bahwa apa yang diberikan orang tua kepada anaknya adalah yang terbaik. Aku juga percaya bahwa pada usia-usia seperti Jason, perkenalan bahasa adalah menjadi satu yang sangat efektif, akan tetapi dalam soalan ini kesalahan, kalau bisa disebut begitu, orang tua Jason adalah bahwa ia memberikan satu pola pembelajaran yang tidak terlalu tepat urutannya. Mereka, Alin dan Alan, lupa mengurutkan mana bahasa yang utama yang harus dipelajari dan dipakai dan mana bahasa lain yang menjadi ‘bahasa sekunder’ yang bisa diajarkan sesudahnya.
    “Lho tapi kan di rumah pun orang tua dan kerabatnya berbahasa Inggris dengannya, begitu pula di pre-schoolnya?”
    OK, fair enough kalau kalian bilang begitu kepadaku. Tapi dunia tak seluas rumah dan pre-school, toh?
    Coba bayangkan peristiwa di bawah ini…
    Anggaplah, sekali lagi ini perandaian, ia pada suatu siang bersama Alin, mamanya, pergi ke sebuah pusat perbelanjaan.
    Karena saking repotnya Alin berbelanja dan saking asyiknya Jason memelototi mainan-mainan yang dipajang di toko mainan, keduanya lantas terpisahkan. Beberapa saat setelah tersadar bahwa anaknya hilang, Alin panik. Ia lantas bersicepat menuju ke Pusat Informasi dan meminta pada resepsionist untuk memanggil Jason yang hilang itu. Paniknya semakin menjadi-jadi karena receptionist menolak untuk mengumumkan berita hilangnya Jason dalam bahasa Inggris dengan alasan yang simple, “Ini kan di Indonesia, Bu.. lagipula kalau kita mengumumkan dalam Bahasa Inggris akan semakin banyak orang yang tak tahu…”
    Maka tersiarlah melalui pengeras suara ke seantero pusat belanja itu.
    “Panggilan… panggilan… untuk adik Jason ditunggu Mamanya di depan Pusat Informasi”
    Bayangkan bagaimana Jason akan kebingungan mendengarkan informasi itu.
    Ia tahu namanya disebut, tapi ia tak mengenali apa arti kata-kata lainnya selain namanya sendiri, Jason, JA-SON.
    Selamat berakhir pekan…