Tag: bahagia

  • Berbahagialah karena perbedaan

    Berbahagialah karena perbedaan

    Awal september lalu aku pergi berlibur ke Mt Buller, sisi paling selatan dari pegunungan es (alpine) di Tenggara Australia.

    Harusnya masa-masa itu, salju sudah tak terlalu banyak karena sudah masuk musim semi (spring) dan suhu udara harusnya sudah lebih menghangat. Tapi anomali iklim terjadi. Badai salju berukuran besar datang menghampiri dari sisi selatan Australia yang berbatasan langsung dengan benua Antartika. Saking besarnya, orang-orang lokal menyebut sebagai snowmageddon, plesetan dari snow+armageddon.

    Kami sekeluarga sih seneng-seneng aja, maklum sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di negara tropis seperti Indonesia, pengalaman bersentuhan dengan salju selalu memberikan pengalaman yang berbeda.

    Sesampainya di sana, pengalaman yang benar-benar beda memang kami rasakan. Semua putih! Sejauh mata memandang, pohon-pohon, atap rumah, dinding, mobil sebagian besar tertutup salju. Langit pun demikian, tak ada biru selain putih.

    Tapi rasa senang itu berubah jadi membosankan di hari kedua. Aku rindu warna-warna lain muncul hingga akhirnya hari ketiga, di pagi hari, seekor burung hitam tampak terbang lalu hinggap di sebatang pohon dan aku buru-buru membuka jendela untuk mengamatinya. Menyenangkan karena burung itu tampak lain sendiri di hadapan ?kanvas putih? yang membentang di sekeliling.

    Hari keempat ketika kami pulang, kira-kira sepuluh kilometer jauhnya dari puncak, pemandangan beragam bermunculan. Salju-salju yang menipis, air yang mengalir di selokan pinggir tebing pegunungan, langit yang membiru meski berawan, padang savana yang menghijau dan hewan ternak yang berkeliaran. Semua jadi tampak menyenangkan karena beraneka ragam dan warna.

    Pengalaman di atas membuatku merenung, betapa hidup dengan sesama yang tak sama, yang beraneka ragam itu sejatinya jauh lebih menyenangkan ketimbang sesama yang benar-benar sama seperti pengalamanku di Mt Buller waktu itu.

    Ketidaksamaan membuat kita dan mereka justru memiliki satu sifat tambahan yaitu pembeda. Ibaratnya seperti burung hitam yang kuceritakan di atas, kita jadi pembeda dari yang lainnya dan begitu pula mereka terhadap kita.

    Mungkin ada yang berpikir, perbedaan membuat konflik muncul yang tidak akan terjadi ketika semua sama. Pertanyaan itu masuk akal tapi siapakah yang berani menjamin tidak akan ada konflik ketika semua sudah jadi sama?

    Kita dikodratkan lahir dalam keadaan unik, berbeda satu dari yang lain. Kalaupun dipaksakan untuk jadi sama, hingga kapan akan tetap tampak demikian sedangkan salju yang menumpuk dan memutihkan sekitar pun pada akhirnya juga akan mencair ketika matahari datang menyinari dan suhu permukaan merangkak naik?

    Keseragaman bukanlah jaminan bahwa konflik tidak akan terjadi. Tak percaya? Sepulang dari Mt Buller, aku berbincang dengan kolegaku yang berasal dari Belanda. Aku menceritakan apa yang kualami dan ia merasa begitu bersyukur karena aku dan keluargaku selamat dari snowmageddon karena hari-hari dimana kami berada di puncak, televisi melaporkan ada dua orang hilang dalam badai tersebut.

    Ya! Gejala alam badai salju yang memutihkan lingkungan itu memunculkan ?whiteout?, kondisi dimana kita tak memiliki penglihatan dan kontras yang cukup karena tereduksi oleh warna putih salju. Garis horizon alam tampak lenyap, tak ada titik yang bisa dijadikan referensi karena semuanya putih dan seseorang yang berada dalam kondisi itu bisa mengalami disorientasi arah dan akhirnya hilang.

    Jadi, berbahagialah kita yang hidup dalam keberagaman yang membuat kita tetap merasakan hidup yang sesungguhnya sebahagia aku dan keluarga yang bisa menikmati snowmageddon sekaligus berhasil keluar dari badai itu dengan selamat?

  • Botolmu lebih kecil dari botolku

    Botolmu lebih kecil dari botolku

    Bahagia itu adalah ketika kita tiba-tiba tersadar bahwa sebenarnya masih ada dan banyak orang baik di luar sana.

    Kemarin sore, seperti biasa, aku berolahraga selama lebih kurang satu jam.

    Hal yang paling membetekan saat berolahraga di gym itu ada tiga tapi memiliki dasar yang sama: antri. Pertama, antri kamar mandi. Kedua, antri alat olahraga yang mau dipakai, ketiga antri ambil air minum.

    Setelah menyelesaikan elliptical session yang pertama, aku antri air minum di depan kran. Di depanku ada dua pemuda yang usianya kira-kira masih awal 20an.

    Tiba-tiba orang pertama yang sudah hendak mengambil air di kran menoleh ke arahku, melihat botol yang kupegang hendak kuisi air. Tak seberapa lama kemudian ia lantas mempersilakanku untuk mengisi lebih dulu.

    Aku kaget.
    ?I?m fine. I can wait.? kataku.

    ?Nggak papa, botolmu lebih kecil dari botolku jadi isinya lebih cepat?? ujarnya.

    Aku terdiam. Bagaimana orang kedua? Ternyata ia juga mempersilakanku. ?Yeah mate, go for it!?

    Aku terdiam lagi sesaat sebelum akhirnya mengucapkan terimakasih dan maju ke depan.

    Membayangkan dunia masa depan selalu menimbulkan kecemasan. Bukan karena aku tak ber-Tuhan sehingga menyangsikan bagaimana Ia mampu mengatasi problematika dunia. Mungkin juga karena aku sudah mulai kena ?sindrom orang tua? yang mengkhawatirkan adakah dunia di masa mendatang itu akan sama nyamannya dengan dunia jaman kita bertumbuh dulu. Adakah aku dan istri akan berbahagia saat tua nanti? Adakah anak-anakku dapat bertumbuh dengan riang gembira dan berhasil dengan kehidupan mereka masing-masing? Bagaimana kita akan menghadapi dunia ketika teknologi makin maju nanti dan? adakah orang-orang tetap bersikap baik terhadap sesamanya?

    Pengalamanku bertemu dengan dua pemuda tadi adalah pengalaman yang menghidupkan bara, menumbuhkan optimisme bahwa masih ada dan banyak orang baik di luar sana. Meskipun dandanannya cuek dan cenderung slordeg tapi mereka begitu baik.

    Kebahagiaan tercercah membayangkan kebahagiaan-kebahagiaan yang terbayang di masa yang akan datang hidup bersama orang-orang baik seperti mereka.

  • Berbahagia itu tak jadi jongos iklan merk kaos olahraga ternama

    Berbahagia itu tak jadi jongos iklan merk kaos olahraga ternama

    Hal nan tak kalah membuatku bahagia adalah kebisaan untuk tidak lagi membeli barang-barang yang tidak berguna.

    Kaos olahraga misalnya. Dalam seminggu, lima kali aku berolahraga di gym (well, di Indonesia biasa disebut sebagai ‘fitness center‘).

    Dulu setiap kali mau nge-gym, hal yang menyumpel di dalam pikiran adalah “Pakai baju apa ya?” Sejak dulu aku memang berpikir bahwa berpenampilan keren itu penting. Hal itu tak bisa disalahkan meski yang patut ‘diseret ke pengalidan’ adalah perasaan kita sendiri yang menyatakan bahwa untuk keren harus pakai pakaian yang mahal!

    Untuk itu aku menyediakan budget untuk membeli pakaian olahraga. Alasan untuk menggunakan budget itu ada saja! Mulai dari cari yang berbahan menyerap keringat hingga yang ringan dan tidak memberatkan.

    Bagiku, kecuali kamu adalah atlit bayaran, hal-hal ‘teknis’ seperti itu sebenarnya tak perlu dijadikan soal. Apa salahnya berkeringat? Lagipula, katakanlah kaos dan celana olahragamu mampu menyerap keringat, lantas apakah kamu tidak akan mencuci setelah dipakai? Karena meski menyerap keringat, adakah kaos dan celana itu juga mampu menyerap dan menghilangkan kotoran yang timbul dari keringat?

    Kalau tidak lantas kenapa harus dibeli?

    Soal bahan kaos dan celana yang ringan dan tak memberatkan… duh ya ampun, memang beda beratnya itu berapa kilo sih?! Adakah kaos ‘biasa’ berberat sekilo lebih ringan ketimbang kaos yang ‘anti berat’?

    Untuk berolahraga, kini aku mengenakan kaos yang kupakai untuk tidur malam sebelumnya! Gampang, kan?

    Ih, nggak bau tuh?
    Bau apa? Aku tidur tak berkeringat, dan sebelum tidur aku pasti mandi. Katakanlah bau (entah karena apa) apa salahnya untuk dipakai? Toh selama berolahraga juga akan berkeringat! Bukankah itu juga akan berbau kalau memang keringatmu berbau?

    Katakanlah bau, keringatmu, itu bukan salah kaosnya tapi barangkali ada yang perlu diperbaiki dari pola makanan yang kita santap atau pola metabolisme yang harus diperiksa supaya keringat tak bau.

    Lagipula kalau kamu berpikiran bau keringat akan membuat wajahmu yang tampan jadi kurang ganteng, toh ada deodorant?

    Jadi, berbahagia itu mudah.

    Tapi pakai kaos olahraga itu bagus apalagi kalau ada merknya tampak besar di dada, Don! Rasanya bangga gitu karena kita beli kaos mahal!

    Hehehe, dulu aku juga berpikir begitu tapi sekarang sebaliknya. Mari berpikir cerdas. Yang ada di kaos bagian dadamu itu merk siapa? Apakah itu merk kamu yang punya? Jika demikian, kamu pantas berbangga. Tapi jika itu adalah merk milik orang lain, perusahaan lain bahkan milik asing kenapa bangga ketika kamu harus bayar mahal dan akhirnya cuma jadi jongos produsen yang menjadikan kita model iklan gratisan?

    Mikir!

  • Bangunan kebahagiaan dalam secangkir kopi sachet

    Bangunan kebahagiaan dalam secangkir kopi sachet

    Menyusun kebahagiaan itu bisa dari sudut kita menikmati seduhan kopi.

    Aku cukup getol dalam ber-kopi.
    Pernah dalam sehari, selain makan tiga kali, ngopi juga harus tiga kali! Kurang dari itu, bagai kerupuk dan sambal yang dimakan tanpa nasi, bagi hidup tanpa kamu ada di sisi!

    Ongkos yang kukeluarkan tidaklah murah. Secangkir kopi ukuran sedang di Sydney rata-rata $4.5 jadi dalam sehari $13.5. Dalam seminggu, $67.5, sebulan dengan menghitung ada 22 hari kerja, aku harus membayar $297 banyaknya. Hanya untuk kopi!

    Aku lantas menantang diriku sendiri, “Sanggupkah aku keluar dari jerat ketergantungan itu tapi tetap bahagia?” Puji Tuhan aku tidak sedang ada dalam kesulitan keuangan tapi apakah keluar dari jerat itu hanya saat kita ‘diharuskan’ keluar?

    Tantangan kuterima! Berhadap-hadapan dengan diri sendiri, aku harus bisa mengalahkanku!
    Pergi ke supermarket,membeli satu kardus kopi sachet, pertandingan itu kumulai. Sepuluh kemasan seduh kubayar seharga $6! Jika aku berhasil mengalahkan tantangan ini, aku berhasil menghemat lebih dari 80% harga kopi yang biasa kubayar ke coffeeshop tiap cangkirnya!

    Rasa

    Apa yang terjadi? Berat! Tapi aku harus mampu mendefinisikan dimana titik yang memberatkan itu?
    Kubeli secangkir kopi yang biasa kunikmati, kuletakkan di meja dan di sebelahnya kuletakkan secangkir kopi lainnya, hasil seduhan kopi sachet.

    Kuminum secara bergantian, beda rasa tetap ada tapi sejauh apa? Tak beda jauh. Sama-sama kopi, sama-sama susu! Yang membedakan hanyalah rasa dan rasa itu milik kekuasaan lidah dan lidah dikontrol oleh otak. Ini hanya masalah persepsi. Aku menugaskan otak untuk membujuk lidah supaya menerima keduanya sebagai kopi yang punya rasa kurang lebih sama.

    Hari pertama kulalui dengan sukses.

    Interaksi

    Hari kedua. Ternyata tak lebih ringan, tetap berat! Apanya yang salah? Kopinya sudah berasa sama, setidaknya menurut lidah atas perintah otakku untuk mengatakan demikian.

    Ternyata yang memberatkan adalah kebiasaan. Aku terbiasa untuk berinteraksi dengan kolega saat bersama-sama jalan keluar dari gedung kantor menuju ke coffeeshop. Di perjalanan yang tak lebih dari lima belas menit itu kami biasa ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja, topik berita, kejadian semalam hingga pekerjaan yang akan kami habisi hari ini. Aku juga terbiasa interaksi basa-basi dengan barista yang menyeduhkan kopi untukku, juga dengan orang-orang yang tak kukenal tapi kepadanya kusapa, masih dengan basa-basi, “Hey, Mate!” atau “Sorry, are you in the line?” atau sekadar “Cheers!’ Kopi memiliki interaksi antar manusia dan aku kehilangan itu.

    Solusiku, ketika menyeduh kopi di dapur, aku berkenalan dengan kolega lain yang juga sama-sama sedang menyeduh kopi. Kami saling ngobrol seperti layaknya obrolan dengan kolega-kolegaku yang biasa bareng-bareng pergi ke coffeeshop. Lagi-lagi, masalah teratasi!

    Gengsi… Gak gaul tapi tak kehilangan esensi

    Stigma terbangun kadang bukan dari pengalaman tapi dari ‘kata orang’.

    Banyak foto di Instagram diunggah kawan yang memamerkan sedang minum kopi di coffeeshop terkenal tapi adakah atau banyakkah yang mengunggah foto saat menyeduh kopi di dapur lusuh?

    Banyak situs menjelaskan tentang beda-beda kopi dari cara pembuatan, campuran dan tetek bengeknya dan itu menjadi penanda bahwa seolah kalau kita tak mengenalinya dan tak pernah mencoba menyeruputnya kita turun kasta!

    Belum lagi soal latte-art. Orang berlomba-lomba datang ke coffeeshop, memesan kopi dan memotret hasil latte-art lalu mengunggahnya ke social media. Tapi dimana letak esensinya? Latte art itu bukan kita yang buat, sebentar juga sirna secepat kita menyeruput kopi, atau kita membeli kopi hanya untuk latte art?

    Ada pula, janji deh ini yang terakhir, orang yang dengan pongahnya bilang bahwa minum kopi kalau kopi sachet itu seperti minum air santan?

    Dari hal-hal seperti itu, aku tersadar bahwa sejatinya selama ini ada begitu banyak opini dan asumsi yang tercipta dari secangkir kopi yang sejatinya tidak mempengaruhi esensi kopi itu sendiri.

    Kopi adalah kopi apapun namanya. Kopi adalah kopi tanpa atau dengan latte-art.

    Tapi ketika terlambat menyadari esensi, yang terjadi adalah otak teracuni dengan berbagai macam asumsi dan opini tadi sehingga dengan lancang ia memerintahkan lidah untuk tidak mau mencecap kopi sachet dan maunya kopi yang ada di coffeshop, yang jenis-jenisnya membuat kita merasa seperti orang italia yang lancar berkata ‘capucinno, latte, mocca dan lain sebagainya’

    Lalu bagaimana caraku mengatasinya?
    Aku mengunggah foto cangkir kopi yang barusan kupakai untuk menyeruput kopi sachet. Apa salahnya dan dimana buruknya? Kalau soal latte-art, aku tinggal ‘search’ dengan keyword ‘latte art’ dan aku mendapatkan hasil yang jauh lebih bagus dari yang kawan-kawanku ataupun diriku sendiri pernah dapati dari latte-art yang pernah kulihat sebelum kucecap.

    Kopi dan penumpasan pemberotakan rasa ngantuk

    Hal paling identik dengan kopi adalah hilangnya rasa kantuk. Benar? Benar!

    Tapi adakah kopi sachet juga tak bisa menumpas pemberontakan si kantuk? “Nggak bisa! Kopinya gak kental jadi tetap aja ngantuk!”

    Benar? Barangkali!
    Tapi mari kita buat tidak benar. Jangan biarkan kopi sachet bekerja sendiri, persatukan ia dengan oksigen, beras merah dan roti gandum, pola tidur yang baik, olahraga yang teratur dan minum air banyak-banyak. Dikeroyok sebanyak itu, rasa kantuk akan hilang dan sirna.

    Kian hari aku kian terbiasa menyeruput kopi sachet dan terlepas dari kebiasaan harus minum kopi di coffeeshop. Coffeeshopku adalah supermarketku, tempat dimana aku bisa mendapatkan kopi sachetku dengan harga yang murah dan meriah!

    Lalu bagaimana kalau aku sedang tak ada di rumah atau kantor sehingga tak bisa mengakses dapur untuk membuat kopi?
    Ya aku harus beli kopi tapi tak harus kopi yang ini dan yang itu! Sembarang kopi bisa karena aku telah berhasil menstimulus otakku untuk memerintahkan lidah mencecap apa saja selama itu adalah kopi ketika butuh ngopi maka itu adalah kopi!

     

    Kebetulan di 7-11 (Sevel) dijual kopi seduh murah dari biji kopi asli.
    Secangkir ukuran sedang hanya dua dollar saja atau lebih dari separuh dari harga kopi buatan barista di coffeeshop. Kok bisa murah? Karena tidak menggunakan tenaga manusia melainkan mesin.

    Jadi, ketika tak bisa menyeduh kopi sachet, kopi ‘sevel’ yang kian hari kian banyak peminatnya itu jadi pilihan strategis!

    Banyak orang bilang kopi ‘sevel’ kurang enak, kopi ‘sevel’ nggak pekat. Jika aku tak melakukan ‘latihan’ dan memenangkan tantangan di atas, barangkali aku juga bisa berkata demikian. Tapi karena aku telah berhasil melewati, mendapati kopi ‘sevel’ yang katanya tidak enak pun ya jadi terasa enak.

    Kebahagiaan itu bukan hal yang sulit untuk diciptakan. Semua tergantung bagaimana kita memerintah otak untuk memutuskan bahwa apapun yang diterima dari indera, entah itu mata, telinga, lidah, kulit maupun hidung adalah kebahagiaan.

    Mudah, kan?