Avatar, bagiku, akhirnya menjadi muara pencarian film berbobot sepanjang tahun ini.
Film besutan James Cameron ini kutabalkan menjadi yang terbaik di tahun 2009, atau kalau ada yang tetap nekat dan keukeuh menyebut bahwa New Moon serta 2012 itu unbeatable dan awesome, .. o well… tapi aku juga bisa lebih nekat menempatkan Avatar sebagai mbahnya film terbaik kalau begitu :)
Bagiku, sebuah film bisa dikatakan bagus jika paduan unsur pemain, sinematografi termasuk CGI dan sound effect serta alur ceritanya bisa saling bersinergi membawakan hiburan yang sarat makna bagi penonton dan meninggalkan kesan positif yang tak mudah menguap begitu saja, dan Avatar meraih kriteria itu.
Pemain
Penokohan Na’vi sebagai penduduk asli planet Pandora lewat Zoe Saldana (berperan sebagai Neytiri), CCH Pounder (Moat), Wes Studi (Eytukan) dan Laz Alonso (Tsu’tey) adalah sesuatu yang memukau. Tak percuma bahwa konon Zoe Saldana sempat harus berpakaian benar-benar seperti Na’vi selama uji lapangan di Hawaii pada pra produksi. Mereka, tentu dengan bantuan visual effect yang juga optimal, benar-benar tampak lepas dari sisi manusia untuk merasuk menjadi Na’vi lengkap dengan perangai serta bahasa yang digunakan. Sementara itu peran Sam Worthington (Jake Sully), Sigourney Weaver (Dr Grace Augustine) dan Joel Moore (Norm Spellman) lebih hebat lagi karena selain tetap berperan sebagai manusia, mereka juga berperan sebagai avatar mereka, bersosok Na’vi dan mereka harus pula menjaga kesamaan chemistry antara sosok yang mereka perankan sebagai manusia dan sebagai na’vi.
Sinematografi
Hingga kini aku tak berhenti berpikir bagaimana proses kreatif dibalik pembuatan Avatar ini bekerja.
Aku bayangkan pasti ada begitu banyak gugus kerja untuk menghasilkan kesolidan seperti yang ditampakkan di Avatar.
Aku sangat suka dengan detail yang dikembangkan dalam rangka memberi gambaran tentang bagaimana keadaan Planet Pandora, kekayaan flora dan fauna, juga kultur serta detail fisik Na’vi sebagai ‘alien’ di tempat tinggal mereka sendiri.
Yang juga patut diacungi jempol adalah color scheme yang dipakai untuk memukaukan mata. Yang kumaksud, warna-warna yang ditampilkan pada pepohonan serta bunga-bunga nan unik itu memanjakan mata tentang sesuatu yang asri dan asli namun unik.
Simaklah penampilan tanaman putri malu yang berwarna pink yang berputar berpilin lalu kalau disentuh akan ‘mingkup’ seperti payung, kuda berkaki enam, serigala bermoncong besi, badak bercula mirip palu hingga na’vi, sosok manusia yang tinggai besar, bermata lebar, berhidung besar, bertelinga seperti kuda, berekor serta memiliki tinggi kurang lebih satu setengah hingga dua kali ukuran tinggi manusia normal.
Hal ini didukung lagi dengan pemilihan soundtrack yang membumi, sajian musik yang kaya dengan perkusi serta yelling vokal yang khas ‘Afrika’. (Entah kenapa ketika menonton kemarin tiba-tiba aku sempat berpikir bahwa James sebenarnya bisa lebih optimal kalau menjadikan lagu ‘Africa’ nya TOTO menjadi soundtrack meski beberapa waktu kemudian aku berpikir, “Kalau Africa jadi OST,judulnya harus berubah dari Avatar jadi Afrika juga dong!??!” *deziggghhhh*)
Alur Cerita
Ide cerita Avatar barangkali tak benar-benar baru.
Sedikit banyak, konsep representasi dua dunia (Jake sebagai manusia dan na’vi sebagai avatarnya) sangat mirip dengan apa yang dimiliki Matrix (Neo sebagai manusia dengan Neo yang berada di dunia matrix). Hanya bedanya, di Avatar, sosok Jake sebagai avatar tak lenyap dan hanya mati suri ketika program di-disconnected sedangkan pada Matrix, setiap si Neo kembali dari dunia matrix, sosoknya akan moksa.
Awal cerita Avatar juga menurutku berlalu begitu lambat.
Film ini awalnya terlihat seperti kehilangan arah dimana akan mengaitkan alur cerita selanjutnya. Namun, secara berangsur-angsur, alur menjadi semakin menarik ketika Jake dan kawan-kawan dalam wujud avatar mulai merambah dunia Pandora.
Proses penyelesaian konflik dalam film ini kupikir juga sangat Hollywood sekali.
Ada penokohan kepahlawanan lengkap dengan pengorbanannya (saat dimana pilot helikopter Trudy Chacon (diperankan oleh Michelle Rodriguez) membelot dan mengantar Jake dkk untuk kembali ke Pandora) yang sia-sia (berujung dengan kematian) namun disambung dengan balas dendam yang pada akhirnya sering lepas kontrol dari alur logis penonton sehingga terkesan lebay meski berhasil mengundang sorak sorai penonton.
Bagian paling akhir dimana si Jake memutuskan untuk melepas kodratnya sebagai manusia untuk selamanya berubah menjadi Na’vi juga sesuatu yang kupikir bersifat ‘terlalu menggembirakan’ penonton. Kenapa James Cameron tak berani membuat ending yang menyedihkan misalnya dengan membuat na’vi punah oleh karena keganasan manusia atau barangkali ending semacam yang dipertontonkan di film Last Samurai dimana Nathan Algren (Tom Cruise) tak ketahuan rimbanya apakah mati, kembali ke Amerika atau hidup damai Taka (Koyuki)? Hal ini tentu bakal menjadi sesuatu yang lebih membuat penasaran orang dan bukankah itu berarti pula membuka peluang ?untuk squeling Avatar 2, 3 dan seterusnya?
Namun yang menjadikan semua titik lemah di atas sirna, at least dimataku, adalah karena James Cameron pandai menangkap isu perusakan lingkungan dan kaitannya dengan naluri ekspansif (baca: ketamakan) manusia untuk memplotkannya pada film ini. Sesuatu yang sangat “it’s so now!” :))
Jadi, kupikir sebelum turun dari peredaran, kejarlah Avatar dan jangan lupa, jika memungkinkan tontonlah dalam 3D mode atau kamu akan… sedikit menyesal karena tak mampu melihat bagaimana si Jake dan kekasihnya Neytiri terbang bersama Mountain Banshee begitu nyata ‘menembus’ layar bioskop!
