Tag: australia

  • Menikah Beda Agama di Australia benar-benar mudah?

    Menikah Beda Agama di Australia benar-benar mudah?

    Migunani tumraping liyan, alias berguna bagi sesama adalah cita-cita sekaligus alasan kenapa blog ini terus kuadakan sejak 2002 hingga sekarang.?

    Dua tahun silam, tepatnya 5 Mei 2017, aku menulis artikel bertajuk ?Pernikahan Beda Agama? Menikahlah di Australia!? Hingga sekarang, artikel itu adalah salah satu dari yang paling banyak dibaca orang. Beberapa dari pembaca menghubungi secara langsung untuk bertanya apakah benar menikah (sipil) beda agama itu mudah di sini juga tentang detil-detil yang mesti dipersiapkan.

    Salah satu dari mereka yang membaca dan lantas menghubungiku adalah Fransiska Wuri Nugrahani atau yang akrab disapa Siska. 2017 silam Siska menghubungiku melalui email dan Instagram dan bertanya tentang tata-cara menikah beda agama di sini.

    Tak dinyana, dua tahun kemudian, Siska menikah dengan I Made Dwicahyana Putra pada 21 Februari 2019 silam di Melbourne, Australia!

    menikah beda agama
    menikah beda agama

    Siska yang berasal dari Ambarawa, Jawa Tengah adalah seorang Katolik sementara suaminya, Made, mudah ditebak, ia berasal dari Bali dan pemeluk Hindu.

    Aku menghubungi Siska melalui WA beberapa waktu lalu. Aku ingin bertanya tentang bagaimana sukar-mudahnya mengurus pernikahan beda agama di negara ini. Bukan untuk membuktikan bahwa kekuatan sebuah tulisan blog itu begitu digdaya untuk memotivasi orang lain tapi justru untuk meng-update tentang apa yang kutulis dua tahun lalu itu. 

    Caranya cukup mudah

    menikah beda agama
    menikah beda agama

    Tentang bagaimana proses persiapan pernikahan, Siska menyebut bahwa caranya cukup mudah. Ia mengisi formulir online dari situs Births Deaths Marriages (BDM) milik Pemerintah Australia pada bulan Januari 2019. (link)

    Selanjutnya ia mencari kawan yang mau untuk dijadikan saksi pernikahan. Siska dan Made lantas pergi ke Marriage Registry (semacam kantor urusan pernikahan) untuk melakukan wawancara dan bayar syarat-syarat administrasi. Karena mereka menikah pada hari kerja (Kamis), ongkos pernikahan adalah $320. Sedikit lebih murah ketimbang kalau kamu mau menikah di akhir pekan, $370. Mereka juga diminta menunjukkan paspor lalu memilih tanggal pernikahan.

    Lalu pertanyaan apa aja yang ditanyakan di Marriage Registry?

    ?Soal usia apakah sudah lebih dari delapan belas tahun atau belum, sudah pernah menikah atau belum? Siapa yang akan jadi saksi?? jawab Siska

    Agama nggak ditanyain?
    ?Enggak lah. Jangankan agama, jenis kelamin aja enggak (ditanya)!?

    Jadi kawan-kawan, kalau pacarmu beda agama, jangan buru-buru diputusin dulu. Jangan pula buru-buru pindah agama demi pasangan. Menikahlah secara sipil di Australia, kamu tak perlu seagama!

    ??agama tuh ga seharusnya jadi penghalang seseorang buat nikah.? (Fransiska Wuri Nugrahani)

  • Catholic Indonesian Community Newtown

    Catholic Indonesian Community Newtown

    Setelah Gereja Jago Ambarawa, aku merilis situs web Catholic Indonesian Community Newtown siang tadi.

    Catholic Indonesian Community Newtown, selanjutnya kusebut CIC Newtown, adalah sebuah komunitas orang-orang Indonesia Katolik yang berdomisili di Sydney dan sekitarnya dan setiap minggu mengadakan perayaan ekaristi di St Joseph?s Church di kawasan Newtown, NSW.

    Yang istimewa, perayaannya dibawakan dalam Bahasa Indonesia dengan lagu-lagu yang juga ber-Bahasa Indonesia pula. CIC Newtown bukan komunitas baru karena tahun lalu usianya menginjak ke-25.

    Adalah Om Michael Phang, koordinator CIC Newtown 2017-2019 yang memintaku untuk me-redesign situs web dengan pertimbangan perlunya penyegaran baik di sisi design maupun konten.?Bukannya kebetulan pula kalau aku lantas meng-iya-kan. Talenta aku punya, waktu pun bisa kuusahakan tentu setelah meminta ijin istri tercinta :)

    Sempat ?mangkrak? cukup lama karena beberapa urusan (termasuk menyelesaikan pengerjaan situs web Gereja Jago yang masuk lebih dulu) sejak minggu lalu akhirnya situs web CIC Newtown kukebut untuk dikerjakan dan kuselesaikan.

    Bagi kalian yang berdomisili maupun sedang akan berlibur/pindah tempat ke Sydney dan ingin mengikuti perayaan ekaristi berbahasa Indonesia, CIC Newtown adalah pilihan yang tepat.

    Selain mengobati kerinduan pada kampung halaman dengan ikut misa berbahasa Indonesia, para pengurusnya selalu welcome, komunitas-komunitas pendukung bina iman betebaran, umat-umatnya rajin menyapa dan hampir tiap minggu selalu ada yang berjualan makanan Indonesia di lantai bawah?. dan sstttt sebulan sekali biasanya ada seorang pria tampan-tinggi-besar bersuara ?emas? menyanyikan mazmur di sana. Coba tebak siapakah dia hahaha?

    Pria pe-mazmur itu...
    Pria pe-mazmur itu…

    So, nggak usah banyak cingcong lagi ya Cong…eh Cing! Mari ber-Indonesia sekaligus ber-Katolik bersama di Sydney, Australia. Buka situs web CIC Newtown di sini!

  • [Review] Djago Coconut Chicken dan rasa yang djagoan!

    [Review] Djago Coconut Chicken dan rasa yang djagoan!

    Salah satu kawan yang tinggal di Sydney dan sekaligus kakak angkatan di SD Pius Bhakti Utama Kebumen, Julius Simo, membuka restaurant baru, Djago Coconut Chicken namanya. Ia tak sendirian, join dengan Rudy Sudartanto yang akhirnya juga jadi kawanku.

    Julius - DV - Rudy (ki-ka)
    Julius – DV – Rudy (ki-ka)

    Sesuai namanya, Djago Coconut Chicken menawarkan aneka rasa makanan berbasis ayam meski aku tak tahu yang digunakan adalah ayam jago semua atau ada betinanya.?Tapi tak penting kan karena kalau memang rasanya josss, mau djago atau betina ya tetap aja djago? djagoan!

    Yang unik dari restaurant ini adalah cita rasanya. Julius dan Rudy menghadirkan sesuatu yang berbeda, kombinasi tradisional-modern berbasis dari resep asli Indonesia, tempat dimana mereka, aku dan kita semua bertumbuh dan menaruh cinta.

    Bersama keluarga kemarin aku datang ke restaurant yang terletak di Shop 5/1 Avenue of Europe, Newington, 2127 itu (lihat peta di atas) dan berikut adalah review yang bisa kuberikan untuk Djago.

    Tropic Thunder ($13)

    Tropic Thunder
    Tropic Thunder

    Kupikir ukurannya kecil ternyata saat berhadapan dengan burger ayam ini, wow besar juga! Bisa bikin kenyang sehari-harian apalagi untuk makhluk diet sepertiku hahaha!

    Ayam tanpa tulangnya begitu crispy dengan sambel, rujak slaw serta onion string dijepit roti yang tak terlalu tebal tapi juga tak terlalu tipis.

    Kombinasi yang diberikan menarik, acar! Burger dan acar? Yup! Indonesia banget ya! Eits, belum kelar karena ada kejutan lain? singkong goreng! Wow! Sembilan tahun tinggal di negara ini setahuku ya baru di Djago ini aku menemukannya!

    Bagi kalian yang tak terlalu suka pedas, Tropic Thunder ini lumayan bisa bikin kepedesan tapi bagi pecinta makanan pedas sepertiku, Tropic Thunder tetap kurang pedas.

    Untuk ngakalinnya kemarin aku pakai cabe yang ada di acar. Pilihan lain, kita juga bisa menambahkan? Sambal Oelek ($2) yang adalah sambal terpedas yang mereka punya saat ini.

    Flammed Grilled Quarter Chicken ($8.5)

    Anak-anak kemarin makan paha ayam bakar dengan nasi uduk-kuning (turmeric coco rice) tapi karena aku ingin mencoba, aku nyomot juga.?Rasa ayamnya istimewa karena bumbunya marinated, tidak terlalu berminyak dan nasi uduk-kuningnya jagoan! Tak hanya berwarna kuning tapi rempah/santannya nyerep bener!

    Combo (+$5.5)

    Untuk ayam dan in-betweeners (burger dan wrap), Djago Coconut Chicken menawarkan pesanan dalam bentuk ?combo? yaitu tambahan menu sampingan (side) dan minuman.

    Gado-gado ($9)

    Joyce, istriku, memesan gado-gado dan karena aku ?lapar mata?, kucomot juga sesendok! Rasanya adaptable untuk lidah orang-orang sini tapi sekali lagi karena aku penyuka pedas, ditambahi Sambal Oelek sepertinya enak juga.

    Daftar menu per 9 Januari 2018
    Daftar menu per 9 Januari 2018. Oh ya mereka terima pembayaran menggunakan kartu kredit (Visa/Mastercard) dan eftpos!

    Overall, aku sangat menyukai makanan di Djago Coconut Chicken bukan karena yang punya adalah kawan-kawanku sendiri dan tulisan inipun pro-bono alias cuma-cuma.

    Yang kusuka dari Djago adalah karakter masakannya yang sangat ?Indonesia.?. Satu-satunya masukan atau lebih tepatnya harapan ke depan barangkali bakal lebih asyik kalau Djago juga menghadirkan menu minuman yang ?Indonesia? seperti misalnya Wedang Ronde dan Jahe Serbat panas yang menghangatkan musim dingin atau Es Cendol dan Es Kopyor untuk mengusir panas di kota yang hari minggu lalu baru saja dinobatkan sebagai kota terpanas di dunia dengan capaian 47 derajat celcius itu!

    Psstttt... kaosnya sepabrik dengan kaos Iman Merchandise dan Politik Merchandise lho!
    Psstttt… kaosnya pun made in Indonesia! Sepabrik dengan kaos Iman Merchandise dan Politik Merchandise lho!

    Ikuti facebook page-nya, tongkrongin instagramnya atau boleh berkunjung ke situs web mereka di sini.

    Salam Kukuruyuk! Salam Djagoan!

  • Gubernur DV

    Gubernur DV

    Sejak sekitar dua tahun silam aku menolak ketika ditawari untuk jadi ?Gubernur? Paguyuban Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta di Australia. Bagiku, jabatan itu tak ada gunanya.

    Tapi pemikiranku berubah setelah perjumpaan dengan Mas Guru Herry dan Mbak Guru Rosa, dua guru SMA Kolese De Britto yang ditugaskan belajar di Australia, yang kutemui Kamis dan Sabtu pekan lalu.

    ?Mas DV, apa ada alumni De Britto yang lain yang tinggal di Sydney?? tanya Mas Herry.

    ?Setahuku ada beberapa, Mas?tapi saya nggak pernah ketemu?? jawabku.

    Lalu saat diskusi kebangsaan ?Jokowi 2019?? Sabtu lalu. Ketika aku, Mas Guru Herry dan Mbak Guru Rosa menyanyikan Mars De Britto bersamaan dengan para alumni dan guru SMA Kolese Kanisius menyanyikan mars mereka, aku teringat pertanyaan dan jawaban di atas. ?Apa iya hanya aku yang ada di Sydney??

    Dari situ akhirnya aku berpikir bila saja aku mau mengalahkan egoku dan menerima jabatan ?Gubernur Australia? barangkali ceritanya akan lain. Barangkali tak hanya aku yang menemui Mas Herry dan Mbak Rosa. Barangkali tak hanya kami bertiga yang bernyanyi mars.

    Pinangan kuterima. Sejak Senin lalu aku jadi gubernur.

    #AlumniDeBritto ? Tinggal di Australia? Gabung chapter Australia !!! Hubungi Gubernur chapter Australia , mas @dv.fyi ???

    A post shared by Alumni De Britto (@alumnidebritto) on Nov 21, 2017 at 8:45pm PST

    Tujuannya apa?
    Tujuannya jelas, ?nglumpuke balung pisah? istilah Jawa yang berarti mengumpulkan kawan/saudara lama yang terpisah-pisah. Bukannya kebetulan, salah satu penggalan lirik Mars De Britto adalah, ?Selalu tetap bersatu dengan semua kawanmu??

    Praktiknya melalui grup WhatsApp ?JB Australia? yang awalnya hanya berisi tiga orang tapi kini sudah sekitar sebelas anggota. Nanti mungkin kalau sudah lebih banyak ya dilanjutkan dengan ?kopdar?, foto-foto atau apalah.

    Tujuan lainnya, siapa tahu pengalaman kami di sini baik sebagai pelajar maupun penduduk bisa memberikan pencerahan bagi adik-adik angkatan yang hendak/sedang belajar/migrasi ke Australia.

    Dan yang terakhir tapi bukan yang paling tak penting adalah tentang menyanyikan Mars De Britto. Sesuai ?aturan tak tertulis?, seorang alumni ?berhak? untuk dinyanyikan Mars De Britto saat menikah dan/atau saat meninggal dunia.

    Siapa tahu kalian, alumni De Britto, ada yang menikah di Australia, kami siap datang dan bernyanyi mars bersama-sama. Siapa tahu ada yang tutup usia di sini, kamu tak perlu iri dengan alumni-alumni di Indonesia karena teman-teman alumni ?De Britto Australia? pun pasti siap datang ke depan peti jenasah lalu bernyanyi Mars De Britto dengan khidmat dan penuh penjiwaan nan mendalam.

    Kalian alumni De Britto atau punya kenalan alumni De Britto yang tinggal/sekolah atau pernah tinggal di Australia, New Zealand dan sekitarnya? Hubungi aku karena akulah gubernurnya!

    Gubernur yang semoga bener, setia pada janji dan tak gemar membagi-bagi uang serta melipatgandakan anggaran :)

  • Diskusi Kebangsaan Jokowi 2019 dalam prakiraan, persiapan dan kenyataan

    Diskusi Kebangsaan Jokowi 2019 dalam prakiraan, persiapan dan kenyataan

    Acara diskusi kebangsaan bertajuk ?Jokowi 2019?? (diskusi kebangsaan Jokowi 2019) yang kami adakan siang itu, Sabtu, 18 November 2017 ti Ashfield Town Hall, Ashfield, NSW, Australia berjalan lancar.

    Ada haru menyelinap di tengah gempita bahagia yang kurasakan bersama kawan-kawan NKRI OZ Community Inc karena aku teringat perjalanan mempersiapkan acara yang penuh liku dan sama sekali tak mudah.

    Rencana awal

    Sekitar bulan Mei 2017, saat publik dikagetkan dengan kekalahan dan dipidananya Ahok, Andrew Wanandy, kawan sesama orang Indonesia yang tinggal di sini menghubungiku melalui sambungan telepon.

    Ia menawariku jadi moderator pada sebuah acara diskusi kebangsaan yang sedianya akan diadakan pada september 2017.

    ?Kenapa gue, Ndrew??
    ?Loe beda! Dan justru karena beda itu loe pasti bisa bikin acaranya hidup karena opini yang disampaikan narasumber bisa dapat imbangannya!?

    A-ha! Menarik juga! Akupun menerima ?pinangan? itu. Tapi sayang, setelah ikut dalam beberapa kali meeting, acara itu harus dibatalkan karena hal yang tak bisa kusebutkan di sini.

    Tetap jalan?

    Pembatalan acara itu cukup memukul tapi tak melukai. Justru kami bersyukur karena sudah terlanjur terpicu semangat untuk tetap berkumpul dan membuat acara keindonesiaan.

    Kami berbincang, berdiskusi lantas bergegas memutuskan: acara dilanjutkan!

    Tapi rencana itu lagi-lagi digagalkan karena salah seorang narasumber yang kami hadirkan mengundurkan diri seiring pengunduran diri salah satu mantan panitia.

    Kami sempat hilang kendali. Jadi? Atau tak jadi saja?

    Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai
    Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai

    NKRI OZ Community Inc.

    Di tengah keterombang-ambingan itu, Dr Nur Arif Makful, MSc yang sedianya jadi narasumber kami yang lainnya menyarankan untuk tetap jalan.

    Dan kami pikir benar juga!
    Untuk lebih memantapkan langkah (dan sebenarnya untuk mengirit biaya ini dan itu) kami lantas membuat asosiasi resmi yang diakui pemerintah Australia sebagai pengundang pembicara dan penanggung jawab jalannya acara. Kenapa demikian? Karena dengan memiliki asosiasi, ongkos sewa gedung bisa kami irit dan kami percaya ketika mengundang tamu dari Indonesia sebagai pembicara, dalam urusan visa, keberadaan asosiasi sebagai pengundang bisa menunjukkan kejelasan dan keseriusan kepada pihak imigrasi Australia.

    Maka terbentuklah NKRI OZ Community Inc. yang semula kami beri nama Care for NKRI. Dengan komunitas itu kami sadar telah berkomitmen dan amat sayang kalau komitmen itu hanya dipakai untuk menyelenggarakan satu acara lantas bubar. Kami sepakat untuk berjalan dalam jangka panjang.

    Tantangan

    Tantangan berikutnya adalah,

    Siapa pembicara lainnya?
    Apa yang dibicarakan?
    Biaya?
    Siapa saja yang perlu diundang?
    Adakah yang mau datang?

    Satu per satu hal tersebut kami selesaikan bersama-sama.

    Aku mengusulkan nama Bhatara Ibnu Reza. Ia seorang peneliti senior IMPARSIAL sekaligus calon doktor International Humanitarian Law and Military Affairs dari University of New South Wales Australia.

    Bhatara kukenal cukup lama, sejak awal masa pemerintahan Jokowi-JK 2014 silam. Saat itu kami sama-sama mendukung Jokowi pada Pilpres 2014.

    Bhatara bagiku adalah sosok cerdas yang supel, bisa menyesuaikan diri dengan lawan bicara dan membawa topik percakapan yang sejatinya rumit jadi enak diperbincangkan. Nama Bhatara pun ditanggapi kawan-kawan NKRI OZ Community Inc. dengan baik.

    Persiapan beranjak ke fase berikutnya yaitu mulai mengurus visa dan tiket pesawat untuk Mas Nur Arief serta booking tempat pelaksanaan.

    Semuanya membutuhkan biaya yang lantas membuat kami harus tidak menggratiskan acara tersebut. Untuk umum, harga tiket kami bandrol seharga $15, sedangkan untuk mahasiswa kami beri harga spesial, $5.

    Hasilnya mudah ditebak.
    Tiket kami tak laku! Tak ada yang meminati! Ada yang alasannya kemahalan, ada yang tunggu nanti-nanti saja daftarnya meski ada juga yang secara terbuka berkata, ?Pembicaranya nggak terkenal??

    Bhatara dan Mas Nur Arif memang bukan selebritis tapi mereka bukan orang sembarangan. Datang dari latar belakang akademisi, mereka tahu bahwa apa yang dilontarkan harus mampu dipertanggungjawabkan dengan teori yang mereka pelajari bukan opini pasar atau gosip warung kopi tanpa dasar literasi.

    Jadi, kami cuek bebek aja!
    Salah satu kawan berkoar, ?Kalau yang datang banyak kita bersyukur tapi kalau yang datang sedikit ya anggap aja kita bikin acara nongkrong dan kongkow bareng-bareng kita aja?.?

    Tekad kami untuk membuat acara ini terjadi memang sudah bulat? lat? lat!

    Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai
    Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai

    ?Tangan Tuhan?

    Seminggu sebelum acara diadakan perkembangan jumlah peserta belum juga menggembirakan tapi kami tetap bergembira karena acara akan segera dilangsungkan dalam beberapa hari ke depan.

    Hari Kamis, dua hari sebelum pelaksanaan, aku bertemu dengan dua orang guru dari almamaterku, SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Mas Herry dan Mbak Rosa. Keduanya datang bersama guru-guru kolese (sekolah yang diasuh kaum Yesuit) lain dari Indonesia untuk belajar semingguan lamanya di Sydney.

    Dalam percakapan dengan mereka, akupun mengundang mereka untuk datang pada acara kami. Dan bukan kebetulan bahwa Andrew, Albert dan Johan (rekan-rekan lain di NKRI OZ Community Inc.) adalah lulusan Kolese Kanisius, aku lantas meminta Mas Herry dan Mbak Rosa untuk mengajak guru-guru dari Kanisius hadir juga.

    flyer acara diskusi kebangsaan jokowi 2019
    flyer acara diskusi kebangsaan jokowi 2019

    Diskusi kebangsaan jokowi 2019

    Gayung bersambut.
    Mereka bahkan tak hanya datang dari dua kolese itu saja tapi juga guru-guru dari seluruh kolese yang belajar hadir dalam acara kami. Mereka datang selain dari De Britto dan Kanisius juga dari Kolese Gonzaga (Jakarta), Kolese Mikhael (Surakarta), Kolese Loyola (Semarang) dan Seminari Mertoyudan (Magelang).

    Mereka, para guru itu, hadir membaur dengan warga diaspora serta mahasiswa Indonesia yang hadir secara khidmat dalam acara.

    Dari situ aku sangat merasakan betapa Tuhan pun turun tangan! Ia memberikan jalan dan menutup setiap celah kelemahan. Segala wujud kekhawatiran dan ketidaksiapan, digantiNya dengan keyakinan dan kesigapan.

    Saat hampir dikatakan amat jarang orang yang mau datang, Ia mengutus para guru untuk menemani rekan-rekan diaspora dan teman mahasiswa lain yang telah sudi hadir.

    Ia mengubah semua prakiraan buruk jadi baik bahkan yang terbaik seperti halnya cuaca sore itu yang diperkirakan hujan jadi kering kerontang.

    ?sesaat setelah MC, Imelda Santoso, mengundangku untuk memimpin lagu Indonesia Raya, aku meminta hadirin bangkit berdiri. Aku mengambil aba-aba ?Hiduplah Indonesia Raya? dan lagu suci nan berharga itupun berkumandang dilantunkan meski hanya oleh segelintir anak bangsa. Tak mengapa karena toh semangat kami mampu tetap menggelora dan gaungnya terdengar hingga lima ribu kilometer jauhnya ke sisi barat laut ke arah Tanah Air tercinta.

    ?Indonesia Raya? merdeka.. merdeka.. Tanahku, negriku yang kucinta!?

    Oh ya, video di bawah ini adalah bagaimana aku, dua guru De Britto dan para alumni Kanisius yang tinggal di Sydney bersama para guru Kanisius menyanyikan mars De Britto dan mars Kanisius secara bersamaan.

    https://www.youtube.com/watch?v=GLE7iMdaRBU

    Simak beberapa liputan media terkait acara kami di Tempo, JPNN dan Liputan6.

  • Jokowi, 2019? Sebuah diskusi kebangsaan

    Jokowi, 2019? Sebuah diskusi kebangsaan

    Kalau kalian tinggal/sedang berada atau punya saudara/kawan/pacar di Sydney, suruhlah ia datang ke acara keren, sebuah diskusi bertajuk ?Jokowi, 2019?’

    Lho, acaranya di Sydney, Australia kok yang dibicarakan Jokowi? Nggak salah?

    Enggak!
    Kalian enggak salah baca, acaranya memang di Sydney kota yang letaknya lima ribu kilometer jauhnya dari Jakarta. Acara ini memang tentang Indonesia, tak hanya tentang Jokowi, jadi diperuntukkan bagi mereka dan kalian anak bangsa serta siapapun yang tertarik dengan Indonesia dan tinggal di Sydney.

    Nara sumber acara ini pun bukan asal nara sumber. Mereka datang dari kaum akademisi, warga dan pecinta Indonesia, Bhatara Ibnu Rheza dan Dr. Nur Arif Makful, MSc namanya.

    Bhatara adalah kawan yang sejak beberapa tahun terakhir kukenal baik. Ia seorang kandidat doktor dalam bidang International Humanitarian Law and Military Affairs di University of New South Wales (UNSW). Ia juga seorang senior researcher IMPARSIAL, sebuah LSM yang salah satu pendirinya adalah alm. Munir.

    Nur Arif adalah seorang dosen di beberapa universitas dalam dan luar negeri, ia juga penggiat serta pemerhati masalah kebangsaan dan kebhinekaan yang juga seorang gusdurian.

    Acara akan diadakan di Ashfield Town Hall, 260 Liverpool Road, Ashfield, NSW 2131 pada sabtu ini, 18 November 2017 jam 1:30 – 4:00 pm.

    Lantas siapa yang mengadakan acara ini?
    Yang mengadakan adalah sebuah organisasi resmi bernama NKRI OZ Community Inc., dimana aku termasuk salah seorang pendiri dan pengurus inti. Organisasi itu kudirikan Juli 2017 silam bersama empat orang Indonesia lain yang tinggal di Australia.

    ?Tapi kalian kan udah enak tinggal di luar negeri? Ngapain sih bikin acara-acara ginian? Bukankah sudah tidak ingin balik ke Indonesia??

    Begini? ini bukan soal keberadaan kami, bukan pula soal mau-tidak-mau kami balik ke Indonesia. Keputusan untuk mengadakan acara ini adalah mengingat pentingnya untuk mencermati apa yang akan terjadi di Indonesia pada 2019 mendatang.

    Seperti yang kita tahu, 2019 adalah tahun politik. Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan dihelat. Nah, acara ini bisa dijadikan sebagai teropong atas apa yang kiranya akan terjadi berdasarkan analisa kedua nara sumber, bukan berdasarkan kepentingan politik maupun sektarian dan semoga jauh dari kepentingan-kepentingan yang sifatnya sesaat (toh akhirnya aku batal masuk parpol kok hahaha…)

    Lagipula, meski kami tidak di Tanah Air, kecintaan Indonesia itu tak otomatis luntur dan menghablur, Brur! Indonesia itu ibaratnya lahan sawah adalah air yang mengaliri dan mengairi tubuh serta jiwa kami untuk bertumbuh dan hidup. Ia menjadi karakter pokok hingga kapanpun dan dimanapun kami berada dan berusaha.

    Jadi, ayolah! Berhentilah menaruh syak wasangka kepada kami! Niat kami semoga suci dan tulus kok!

    Datang supaya nggak rugi karena yang jadi moderator pun tak kalah kerennya! Ia seorang superblogger Indonesia yang berdomisili di Australia yang tulisannya tiap hari kamu baca di sini :)

    Tertarik? Daftar di sini ya! Untuk mahasiswa dan mahasiswi bisa menggunakan link ini.

    Klik di sini untuk menuju ke situs web organisasi kami.

  • Risalah Akhir Pekan XLIV/2017

    Risalah Akhir Pekan XLIV/2017

    Satu November dua ribu tujuh belas kemarin, aku genap sembilan tahun tinggal di Australia.

    Aku mengambil cuti sehari meski aku tak mengkhususkannya untuk perayaan itu. Bagiku setiap hari adalah pengalaman baru yang tak perlu dipisahkan tahun-per-tahun.

    Namun tetap saja, sore harinya aku dan Joyce serta anak-anak merayakannya dengan pergi makan ke Pho An, sebuah restaurant penyaji mie khas Vietnam di bilangan Bankstown. Sembilan tahun lalu, sore itu, semangkuk pho yang disajikan di Pho An adalah makan malam pertamaku bersama Joyce di negara-benua ini.

    Rasa syukur menyeruak dari lubuk hati yang paling dalam tak hanya karena kesempatan kesembilan yang kurayakan tapi lebih daripada itu adalah penyertaan Tuhan yang sempurna dalam hidupku.

    Padahal kalau diingat-ingat ada beberapa ketidakpastian yang terjadi di sekitar kepindahanku dulu utamanya soal pekerjaan; aku pindah dalam keadaan nganggur, tanpa pengalaman kerja di Australia sebelumnya, pun aku bukan lulusan universitas di sana, eh? pengantin baru pula!

    Tak hanya itu, alasan kuat tentang kenapa aku harus pindah dan tidak diam di Jogja pun tak kutemukan seutuhnya meski yang kutahu hanya satu: aku melangkah dalam iman!

    Hari berikutnya kembali masuk kerja.
    Seorang kawan menitip buah tangan untuk diberikan kepada Joyce. Karena kupikir jaraknya tak terlalu jauh dari tempat kerja, aku memutuskan jalan kaki. Berbekal GPS aku melangkah di tengah panasnya musim semi kota Sydney.

    Lima belas menit berjalan aku mulai hilang arah. GPS ternyata tak menunjukkan arah seperti yang kuperkirakan saat di kantor. Aku sampai harus mereset ulang GPS karena tak yakin bahwa arah yang telah ditunjukkan akan mengantarkanku ke tempat kawanku itu berada.

    Ternyata oleh GPS aku dibawa balik, lalu diputar ke sisi tenggara kota melewati jalan yang biasa kulewati dengan berkendara. Kira-kira setengah jam barulah aku sampai di tempat janjian tentu dengan keringat dan sedikit kehabisan tenaga meski lebay banget kalau harus pakai airmata!

    Hingga akhirnya aku kembali ke kantor, kubutuhkan sekitar satu jam berjalan kaki dan menurut informasi yang kudapat dari jam yang kukenakan, hari itu aku menempuh jarak 6.5 km. Tak terlalu luar biasa sebenarnya karena hampir setiap hari, di atas treadmill aku toh jalan kaki hampir dua kali lipat jauhnya dari siang itu. Hanya bedanya, di gym tempatku berolah raga ada di dalam ruangan dan selalu terguyur AC sedangkan siang itu cuaca sedang panas-panasnya di Sydney.

    Tapi toh ada saja pelajaran yang kuambil. Sejauh-jauhnya aku berjalan akhirnya toh sampai pula di tujuan. Sehilang-hilangnya arah selama berjalan, akhirnya kudapatkan juga arah yang benar.

    Barangkali begitu pula apa yang kurasakan dulu. Pindah ke Sydney, kota nan jauh dari kampung halaman, belum mendapatkan tujuan yang jelas selain berkeluarga dan melanjutkan hidup hingga akhirnya arah pun kudapat yaitu tak lain karena aku harus memuliakan Allah di tempat ini melalui cara dan talenta yang sudah Tuhan bri.

    Selamat menjalani minggu yang baru.

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXXI pada peringatan Santa dan Santo Elisabeth dan Zakarias

  • Risalah Akhir Pekan XLIII/2017

    Risalah Akhir Pekan XLIII/2017

    Ada dua seseruan yang terjadi minggu lalu.

    Pertama, apalagi kalau bukan Harblognas atau peringatan Hari Blogger Nasional ke-10 yang jatuh pada 27 Oktober 2017.

    Sejatinya, ada atau tak ada peringatan harblognas tak berpengaruh banyak bagiku. Ada perayaan atau tidak, aku tetaplah seorang blogger yang ngeblog. Hal menarik dari harblognas kemarin (dan tahun-tahun sebelumnya) sebenarnya justru linimasa social media mereka yang dulu juga ngeblog.

    Aku membagi ?arus? mereka dalam tiga aras.

    Aras pertama adalah orang-orang yang dulunya ngeblog tapi kini lebih aktif nge-vlog, nge-buzz, nge-tweet ataupun ?nge-? dan ?nge-? lainnya pokoknya tetap memproduksi konten. Orang-orang dalam aras ini tetap merayakan harblognas tapi dengan embel-embel bahwa ngeblog itu nggak harus blogging tapi bisa nge-vlog, nge-buzz, nge-tweet ataupun ?nge-? dan ?nge-? lainnya. Salah? Tidak sama sekali!

    Aras kedua, orang yang dulunya ngeblog tapi sekarang berhenti lalu mendadak ngeblog lagi khusus memperingati harblognas.
    Nggak salah juga justru aku membayangkan sensasi yang mereka dapat barangkali malah luar biasa. Ibaratnya seperti seseorang yang tinggal di Jakarta lalu pulang ke desa saat hari raya tiba. Rasanya pasti sangat menyenangkan untuk mendatangi rumah tempat ia dibesarkan, bertemu tetangga yang sudah setahun tak bertemu dan menikmati makanan-makanan yang dulu setiap hari dinikmati.

    Hanya saja analogi ini tak lagi pas ketika aku mendapati seorang blogger, hendak ngeblog di harblognas tapi lupa password admin :) Kalau dipaksa dalam pengibaratan orang mudik, masa seorang mudik lupa alamat rumah di desa? Kan tidak mungkin? Kan ada GPS? :)

    Aras ketiga adalah orang yang baru-baru ini mulai ngeblog? Romantikanya tentu berbeda dengan mereka yang ada di dua aras sebelumnya. Ada semangat membara dan melihat yang seperti ini menyenangkan meski sekaligus menegangkan untuk membayangkan apakah semangat mereka masih tetap menyala di harblognas-harblognas berikutnya atau mereka sudah lantas masuk ke dua aras sebelumnya?

    Masih tentang harblognas. Yang menghangatkan hati dalam harblognas tahun ini adalah ketika seorang yang sudah kuanggap seleblog, Agus Mulyadi, menulis di wallnya terkait dengan eksistensiku dalam ngeblog.

    Kenapa hatiku hangat sebenarnya bukan karena semata-mata ?Agus?-nya. Tapi karena ia jadi salah satu seleblog terbaru dari beberapa yang lain yang lalu-lalu, yang ngepost tentang aku. Hal ini kuanggap sebagai sebuah penghargaan bahwa aku diterima sejak jaman dulu hingga kini.

    Aku sendiri bukan seleblog. Dalam tulisan lamaku di sini, aku menyebut diri sebagai angin sepoi-sepoi. Aku tidak mengguncang, tak pula menggelegar. Biasa saja?

    Hal kedua yang tak kalah serunya adalah peluncuran rencana acara diskusi kebangsaan di Sydney.

    Setelah mengalami beberapa kali penundaan, secara resmi NKRI OZ Community Inc., sebuah asosiasi nirlaba di Australia yang kudirikan bersama beberapa kawan pemerhati Indonesia akan mengadakan diskusi kebangsaan pada 18 November 2017 mendatang dengan tema Jokowi, dua periode?

    Acara ini akan mengetengahkan dua nara sumber, Bhatara Ibnu Rheza (Senior researcher IMPARSIAL) dan Dr. Nur Arif Makful, MSc (staff pengajar di beberapa universitas dan penggiat Kebhinnekaan dan Kebangsaan). Aku sendiri kebagian tugas menjadi pembawa acara.

    Kalian yang tinggal atau kebetulan sedang ada di Sydney hari itu, atau punya kenalan dan saudara bahkan pacar yang sedang ada di sini, boleh loh join ke acara itu. Silakan mendaftarkan diri di sini.

    Kami juga menjual kaos untuk keperluan fund raising yang bisa kalian dapatkan dengan mengisi form di sini. Oh ya, kaos hanya dijual di Australia saja.

    Selamat menjalani minggu yang baru.

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXX

  • Mengurus administrasi di Australia katanya mudah. Bener nggak sih?

    Mengurus administrasi di Australia katanya mudah. Bener nggak sih?

    Postingan di laman Facebook Kari Tri Adji jadi viral bahkan masuk Detik.com.

    Mas Kari, begitu aku memanggilnya, adalah kakak angkatanku di SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang lima tahun terakhir tinggal di Sydney bersama istri dan kedua anaknya. Baru minggu lalu ia pulang kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan hidup karena tugas belajar yang ditempuh istrinya sudah selesai. Aku seharusnya bertemu dengannya rabu pekan lalu untuk sekadar minum kopi sebelum ia pulang tapi karena kesibukannya untuk mengurus pindahan, pertemuan itupun batal.

    Adapun postingan yang jadi viral itu terkait dengan proses kepindahan sekolah anak-anaknya. Supaya tak jadi panjang lebar, kalian simak saja statusnya di bawah ini:

    Aku tak tertarik membahas serumit apa mengurus hal seperti itu di Indonesia tapi mari membaca tulisanku ini supaya kalian bisa mengerti adakah yang dibilang bahwa mengurus administrasi/birokrasi di Australia relatif lebih mudah itu benar atau tidak?

    Daftar sekolah?

    Waktu aku mendaftarkan anak-anak ke sekolah, hal yang kami lakukan hanyalah mengisi formulir lalu mengirimkan formulir itu kembali ke sekolah untuk diperiksa. Semua anak yang tinggal di Australia pada rentang usia wajib belajar haruslah bersekolah. Jadi, apa yang ditulis Mas Kari tentang mudahnya mengurus sekolah di Australia itu memang benar adanya.

    Yang jadi pertimbangan pihak sekolah (terutama public school) untuk menerima/menolak biasanya hanya apakah yang bersangkutan tinggal di catching area. Catching area adalah wilayah ditetapkan oleh pemerintah terkait dengan semua anak yang tinggal di situ berhak bersekolah di sekolah tersebut.

    Dapatin kartu identitas?

    Di Australia, kartu identitas adalah paspor, SIM atau kartu foto/photo card. Waktu pertama datang tahun 2008 dulu, sebelum punya SIM, aku membuat photo card. Cara mendapatkan mudah betul. Datang ke kantor RMS (Road and Maritime Service) membawa paspor. Tak sampai lima menit langsung dipanggil untuk difoto dan jadi. Cerita selengkapnya dulu kutulis di sini.

    Beli mobil atau motor?

    Di Australia tidak mengenal istilah BPKB dan STNK. Ketika beli mobil atau motor, kita tinggal beli ke dealer lalu dealer yang menguruskan semua registrasi ke pemerintah untuk plat nomer lalu kelar! Pokoknya jangan lupa bayar pajak tahunan dan nggak nabrak.

    ***

    Kenapa sih menurus hal-hal seperti di atas relatif mudah di Australia? Jawaban secara ?global?nya barangkali adalah sesuai pepatah lama, ?Kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit?? tapi secara praktek, mungkin hal-hal di bawah ini bisa dijadikan pertimbangan.

    Bukti kartu identitas dibuat sesedikit mungkin

    Bukti kartu identitas tak perlu banyak-banyak, tak perlu kartu keluarga hingga akta lahir. Cukup seperti yang kusebut di atas, SIM atau Photo Card.

    Kecuali kalau misalnya hendak hutang ke bank atau mengambil kredit, biasanya (tak semuanya) mereka minta print-out tagihan listrik dan air sebagai tanda bahwa kita memang tinggal di satu tempat.

    Tidak berbelit-belit

    Pengurusan di sini cenderung tidak berbelit-belit. Semua hal sudah tertera di media yang bisa diakses sehingga ketika seseorang hendak mengurus sesuatu, semua bisa dipersiapkan dan ketika kita pergi ke loket, apa yang diminta ya sesuai dengan yang kita ketahui, tidak ada tambahan-tambahan lain yang mengagetkan dan kadang bikin bete karena harus bolak-balik rumah untuk memenuhi permintaannya.

    Online

    Makin hari makin banyak urusan-urusan administrasi di sini yang bisa diselesaikan secara online. Ini lebih menyenangkan lagi! Yang kita perlukan tinggal duduk di depan laptop dan menyiapkan handphone berkamera untuk memotret bukti-bukti identitas seperti misalnya kartu identitas yang harus dikirimkan bersama online form.

    Nggak harus fotokopi

    Salah satu hal yang menurutku paling menyebalkan adalah ketika kita sudah maju ke depan loket lalu diminta untuk memfotokopi bukti-bukti lain. ?Bapak silakan fotokopi dulu.. kalau nggak mau jauh, di bawah ada koperasi tempat fotokopi.?

    Tujuannya sih baik supaya koperasi juga ada pemasukan tapi kalau hanya itu tujuannya kenapa bukan mesin fotokopinya yang dipindah ke atas di belakang loket dan dijaga orang koperasi sehingga tak merepotkan kita?

    Di sini? Fotokopi gratis dan mesinnya menyatu dengan printer ada di samping pegawai loket. Singkat dan cepat!

    Nggak harus pakai pakaian rapi, nutup tattoo, tidak juga harus pakai sepatu

    Dulu aku pernah hendak mengurus surat tertentu disuruh pulang karena tak bersepatu.

    ?Kamu pulang dan pakai sepatu!?
    ?Lha ini kan sepatu gunung, Pak??
    ?Itu bukan sepatu, itu sendal!?

    Debat kusir pun terjadi, males banget nggak sih?

    Di sini ngurus administrasi nggak perlu berpakaian rapi, nutup tattoo dan pakai sepatu. Pakaian dan kerapian itu urusan pribadi kita. Hanya saja, untuk bikin SIM, aku selalu berusaha tampil keren karena foto yang diambil akan ditempelkan di SIM, sebagai raja narsis yang gemar berselfie, aku harus memastikan aku tak tampil buruk karena sejatinya aku ya memang keren :)

    Surat pengantar RT/RW

    Di sini tak ada RT/RW jadi tak perlu surat pengantar. Dulu mau urus sesuatu harus minta surat pengantar RT/RW dan bagiku ini adalah hal yang sangat menyebalkan. Kenapa? Ketua RT/RW itu setahuku kan tidak dibayar dan bukan jabatan karir seseorang? Sehingga, biasanya pejabat RT/RW juga punya pekerjaan sendiri sehingga untuk minta surat pengantar ya harus menunggu mereka di rumah dan bisa ditemui.

    ?Pak RT ada, Bu??
    ?Oh, masih ngantor, Mas??

    Sore harinya,
    ?Pak RT nya ada, Bu??
    ?Oh sedang mandi, Mas??

    Malam harinya,
    ?Pak RT nya ada, Bu??
    ?Oh sudah tidur, Mas??

    Okay?

  • Sydney – Way Kambas – Padang – Sydney dalam sehari. Why not?

    Sydney – Way Kambas – Padang – Sydney dalam sehari. Why not?

    Jalan-jalan dari Sydney ke Way Kambas di Lampung untuk melihat harimau sumatera lalu lanjut ke Padang untuk makan Nasi Padang dan balik lagi ke Sydney dalam satu hari apakah memungkinkan?

    Tentu! Kenapa tidak? Kemarin aku melakukannya!

    Aku, Joyce, Odilia dan Elodia beserta sebuah keluarga Indonesia lainnya pergi ke kebun binatang di Sydney, Taronga Zoo namanya.

    Sejak beberapa hari silam, pembicaraan tentang Taronga Zoo menghangat ke permukaan terkait hadirnya kembali wahana harimau sumatera yang telah selesai direstorasi setelah dua tahun pengerjaan dan dibuka untuk umum. Wahana itu diberi nama Tiger Trek, menghadirkan pengalaman/experience yang luar biasa unik bagi para pengunjung.

    Tiger trek tampak depan seperti ini

    Tiger trek tampak depan seperti ini

    Kita seolah diajak pergi naik pesawat ke Sumatera lalu mendarat di Way Kambas dan menikmati petualangan dengan harimau sumatera.

    Awalnya para pengunjung diminta antri menuju ‘kabin pesawat’ yang akan mengantar kita ke Sumatera. Kabinnya benar-benar seperti kabin pesawat, bedanya kita tidak perlu duduk karena penerbangan hanya memakan waktu 10 menit saja.

    Ketika jumlah ‘penumpang’ telah cukup, cabin crew segera menutup pintu ‘pesawat’ dan pesawat diberangkatkan. Pemandangan layaknya sebuah penerbangan juga tampak di ‘jendela kabin’ yang tak lain adalah sebuah layar yang berbentuk jendela kabin dan memutar rekaman melewati gugusan awan, gunung Kelimutu di Flores, pegunungan-pegunungan di Jawa lalu mendarat di bandara ‘Way Kambas’ lengkap dengan jajaran pohon kelapa yang tampak nyata!

    Pemandangan dari dalam ‘pesawat’. Tampak nyata kan padahal hanya sebuah layar bebentuk jendela pesawat? Kemarin saat kushare di socmed, tak ada kawan yang curiga :)

    Selama ‘perjalanan’, melalui rekaman di layar, seorang cabin crew lainnya berparas Indonesia dan bernama Wira Sanjaya yang berbahasa Inggris dengan akses Indonesia, menyampaikan pesan selamat datang. Pesan terakhir yang disampaikan Mas Wira teringat hingga kini, “Selamat datang di Sumatera! Saya sangat bangga kalian datang ke ‘rumah’ saya.” Haru! Mengharukan! Sebagai seorang diaspora Indonesia yang rindu rumah, hal-hal yang mungkin kesannya sepele seperti itu amat menyentuh sisi sensitifku.

    Mas Wira, cabin crew berbahasa Inggris dengan logat Indonesia yang kental

    Pintu ‘pesawat’ dibuka dan kami sampai di bibir Taman Nasional Way Kambas. Begitu keluar, aroma ‘tropikal’ tak hanya tampak pada pepohonan yang ada di situ tapi juga penataan landscape yang benar-benar dibuat mirip dengan kondisi Tanah Air. Gapura ‘Keluarga Berencana/PKK’, rumah-rumah penduduk ala Indonesia lengkap dengan ‘pengalihan fungsi’ sebagai warung retail, penjual handphone/cellphone, pusat oleh-oleh, gerobak dorong penjual tahu kupat, mie dan bakso, bahkan warung penjual bensin eceran dan tambal ban serta dua sepeda motor butut pun ada terpajang! Amat detail!

    Ada yang jualan bensin eceran dan tambal ban :) Ini di Australia!
    Ada yang jualan bensin eceran dan tambal ban :) Ini di Australia!

    Warung rumahan dan warung henpon. Indonesia sekali kan?
    Warung rumahan dan warung henpon. Indonesia sekali kan?

    Warung rumahan

    Tahu kupat. Anyone?

    Taman Nasional Way Kambas
    Taman Nasional Way Kambas

    Selamat datang di 'Way Kambas' Australia :)
    Selamat datang di ‘Way Kambas’ Australia :)

    Gapura KB/PKK. Dua anak cukup :)
    Gapura KB/PKK. Dua anak cukup :)

    Setelah masuk ke gapura ‘Way Kambas’, kita disuguhkan dengan berbagai macam informasi tentang harimau sumatera dan tantangan pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan populasi harimau yang kini konon tinggal 400 ekor di alam bebas tersebut. Pembabatan hutan liar untuk keperluan industri, pembangunan perumahan yang tak berpola hingga kerusakan lingkungan yang menyebabkan harimau kehilangan tempat tinggal dan makanan pun disorot dengan amat informatif dan seolah disampaikan oleh pegawai Taman Nasional Way Kambas sendiri melalui papan pengumuman!

    Perhatikan penggunakan kata 'Pak' :)
    Perhatikan penggunakan kata ‘Pak’ :)

    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan
    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan
    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan
    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan
    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan
    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan
    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan
    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan
    Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

    Kita juga bisa melihat fakta-fakta unik tentang harimau sumatera termasuk bagaimana cara membedakan jantan dan betina dari pola tapak kaki, perilaku alamiah harimau bahkan bentuk tinjanya pun dipajang untuk dijadikan tambahan informasi.

    Yang tak kalah menariknya adalah bagian ranger station, sebuah gedung semi permanen yang beratapkan seng lalu di ujung gedung terdapat replika kendaraan patroli ‘ranger’ yang langsung berhadapan dengan kandang harimau.

    Di mana harimaunya? Di dalam kotak itu sedang tiduran
    Di mana harimaunya? Di dalam kotak itu sedang tiduran

    Ini mobil patroli. Jika harimau sedang 'in the mood' mereka bisa naik ke depan mobil itu
    Ini mobil patroli. Jika harimau sedang ‘in the mood’ mereka bisa naik ke depan mobil itu

    Ranger station
    Ranger station

    Kita boleh naik mobil tersebut dan bila harimau sedang ‘in the mood’, mereka bisa memanjat naik ke atas mobil dan beradu jarak amat dekat dengan pengunjung berbatasan dengan kaca mobil saja.

    Sayangnya kemarin harimaunya sedang terlelap tapi justru di sini menariknya. Para pengunjung seolah tak harus menanti harimau berkeliaran untuk merasakan pengalaman hidup di alam tempat mereka berada.

    Di ujung wahana terdapat sebuah toko serba ada yang juga amat menarik. Dalam toko itu kita diajak memilih dan berbelanja barang-barang yang secara proses produksi tidak ikut merusak ekosistem alam di Sumatera. Di sana dijelaskan misalnya, barang-barang yang mengandung kelapa sawit adalah barang yang sebisa mungkin tidak perlu kita konsumsi semata karena makin banyak kelapa sawit ditebang untuk produksi, makin besar pula kerusakan hutan alamai di Sumatera yang diganti dengan hutan kelapa sawit untuk kepentingan bisnis belaka tanpa memperhatikan keseimbangan alam tempat hidup harimau sumatera dan satwa lainnya.

    Suasana supermarket edukatif
    Suasana supermarket edukatif

    Contoh makanan yang 'tiger friendly'
    Contoh makanan yang ‘tiger friendly’

    Edukasi yang 'tiger friendly'
    Edukasi yang ‘tiger friendly’

    Sepulang dari Taronga Zoo, waktu merambat malam dan kami memutuskan makan ke rumah makan Indonesia, Medan Ciak yang terletak di sisi selatan kota, Surry Hills.

    Kerumunan orang mengantri di restaurant Indonesia yang sedang ‘ngehits’ ini. Setelah menunggu sekitar 20 menit kami masuk dan aku memesan nasi padang komplit yang terdiri dari nasi, sayur ketela, rendang, ayam, telur dan sambel hijau.

    Nikmat? Jelas! Setelah capek jalan-jalan ke ‘Way Kambas’, makan nasi padang ‘di Padang’ tentu tak hanya mengenyangkan tapi juga menyenangkan.

    Nasi padang dan teh kotak. Anyone?
    Nasi padang dan teh kotak. Anyone?

    Satu jam berselang, kami membayar makanan lalu pulang karena esoknya kami harus kembali bekerja, anak-anak bersekolah.

    Keluar dari pintu Medan Ciak, kami seolah telah ‘kembali’ ke Sydney dengan suhu udara di bawah 10 derajat yang mengiggilkan tulang ditingkahi rintik hujan. Usai sudah jalan-jalan kami ‘ke Indonesia’ seharian ini.

    Macan ganteng dan... macan ganteng :)))
    Macan ganteng dan… macan ganteng :)))

    Macan ganteng dan... macan ganteng :)))
    Macan ganteng dan… macan ganteng :)))

    Kian hari aku, aku kian mensyukuri tinggal di tanah ini. Negara terbuka yang amat menghargai budaya asal warga yang tinggal di dalamnya termasuk Indonesia. Tentang bagaimana negara ini bertetangga dengan Indonesia, itu sudah dari sononya karena secara geografis memang kita bertetangga. Namun perihal bagaimana pemerintah Australia menunjukkan kepedulian yang besar terhadap Indonesia termasuk mengangkat pamor konservasi alam di Sumatera melalui Tiger Trek di Taronga Zoo, hal itu adalah inisiatif yang mengagumkan yang datang dari negara yang mengagumkan dan berbicara tentang Tanah Air yang kepadanya aku tak pernah lepas mengagumi dan membanggainya.

    Oh ya, kalian juga bisa menyimak salah satu liputan stasiun televisi lokal Australia tentang peresmian Tiger Trek di bawah ini. Enjoy!!!

    https://www.youtube.com/watch?v=oQOonAriOI0

    Juga video resmi dari pihak Taronga Zoo:

  • Hidup dan energi

    Hidup dan energi

    Perkara hidup itu perkara energi.

    Apa pentingnya membikin mesin/robot secanggih seperti yang ada di video ini hanya untuk menanam sebatang pohon?

    https://www.youtube.com/watch?v=6Hjq0ZdoN2k

    Kenapa nggak pakai cara manual? Di-gelundung-kan lalu begitu sampai dekat liang, batang ditegakkan dengan cara ditarik tali dari arah yang berlawanan hingga tegak.

    Berapa ongkos (tenaga, uang dan waktu) yang dihabiskan untuk membuat mesin itu dan bandingkan dengan berapa ongkos yang diperlukan untuk sekadar membeli seutas tali dan mengumpulkan orang untuk menegakkan batang?

    Sama halnya dengan perkara bergunjing!
    Ada yang bertanya kenapa kita suka bergunjing membahas politik dan remah-remahnya? Agama dan tetek-bengeknya? Dunia hiburan dan gosip-gosip selebritisnya?

    Kenapa tak dibiarkan saja atau cukup dibahas di warung kopi di pagi hari tak lebih dari lima belas menit dan tak perlu jadi gosip hingga ke atas ranjang bersama istri atau suami? Berapa ongkos yang dihabiskan untuk membahas semua itu tanpa kenal waktu?

    Mana yang lebih berguna dan ‘migunani’ dan mana yang tidak? Membuat mesin penanam pohon atau bergunjing tentang gosip dari politik, agama hingga selebritis?

    Jelas yang migunani adalah yang bikin mesin itu, Don!

    Sok tahu! Bagaimana kalau berpikir sebaliknya, uang untuk bikin mesin itu dibagikan ke orang-orang yang menarik pohon secara manual, akan ada berapa keluarga yang bisa diberi uang dan dihidupi?

    Lha ketimbang cuma bicara politik dan agama? Dimana letak migunani-nya?

    Sok menghakimi! Siapa tahu beberapa tahun dari sekarang mereka/kita yang kerap bicara politik dan agama itu jadi politikus dan kaum agamis sehingga migunani untuk sesama?

    Hidup ini sejatinya perkara energi. Bagaimana memanfaatkan energi hidup untuk digunakan dan menghidupi hidup itu sendiri. Salah benar itu kadang hanya soal persepsi…

    Video kuambil saat sedang berjalan-jalan di Hyde Park, Sydney. Penanaman pohon ini adalah bagian dari pengembangan Hyde Park North.

  • Ketika agama makin tak laku di Australia aku tetap berusaha untuk tekun memelukNya

    Ketika agama makin tak laku di Australia aku tetap berusaha untuk tekun memelukNya

    Nyatanya, secara angka, agama dalam hal ini Gereja Katolik makin tak laku di Australia!

    Sensus yang diadakan terhadap segenap penduduk Australia tahun 2016 dan baru saja dikeluarkan hasilnya oleh pemerintah adalah ukurannya.

    Ia menempati posisi kedua dengan 22.6% sedangkan lebih dari tiga puluh persen penduduk memilih untuk menganut agama ‘Tak Beragama’. Coba bandingkan dengan sensus lima tahun sebelumnya. Waktu itu Gereja Katolik masih berada di peringkat tertinggi dengan 25.3%, menang tipis atas agama ‘Tak Beragama’ di posisi runner-up dengan 22.3%.

    Kawan kerjaku yang juga adalah kawan dekatku langsung bereaksi terhadap hasil sensus itu. Ia adalah orang yang baru saja menganut agama ‘Tak Beragama’. “What do you think, DV? Are you still on the boat?” ujarnya lewat pesan singkat. ‘Boat’ yang dimaksud adalah agama karena dalam diskusi dengannya, aku menganalogikan agama sebagai boat.

    “Sure, why not? Interested to jump into? Let me know at anytime, Mate!!” jawabku yang lantas dijawab dengan emoticon tertawa ngakak olehnya.

    Hari pun berganti dan pagi ini seolah tiga puluh persen dari penduduk Australia yang tak beragama itu mendapatkan peneguhan bahwa keputusannya untuk tak beragama adalah tepat.

    Apa pasal?
    Yang Mulia (Your Eminence) Kardinal George Pell, figur senior Katolik Australia dan Uskup Agung Sydney yang kini bertugas mengepalai bidang perekonomian di Vatikan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pelecehan seksual oleh pihak kepolisian negara bagian Victoria.

    Yang Mulia Kardinal George Pell

    Hal itu sebenarnya tak mengagetkan karena kardinal yang ditunjuk sebagai ketua tim ekonomi kepausan di Vatikan itu sudah sejak lama diperiksa.

    Aku tak mengenal Yang Mulia secara personal tapi persinggunganku yang paling dekat adalah ketika ia menjabat sebagai Uskup Agung Sydney. Sekitar tahun 2009, aku pernah ikut perayaan ekaristi yang dipimpin olehnya lalu sepulang misa aku mendekatinya, menjabat tangan lalu meminta berkat atas kalung rosario yang baru saja kubeli. Kalung itu hingga kini hampir setiap hari kupakai untuk berdoa.

    Tadi siang, bertepatan dengan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, aku mendatangi Katedral untuk ikut perayaan ekaristi harian. Sepulang dari sana, sekitar jam 1:40pm, di depan pintu keluar, beberapa wartawan televisi mengerubung. Mereka berusaha mewawancarai umat terkait kasus ini dan aku tak lepas dari satu yang diincarnya. Seorang mbak-mbak wartawan berdarah eropa, muda, tinggi, langsing dan cantik mendekatiku menyapa, “Hi, how are you?” seonggok microphone dengan corong berwarna oranye ditodongkan, di belakangnya kamera menangkap wajahku bulat-bulat…

    Maraknya kasus pelecehan seksual yang dituduhkan maupun yang sudah terbukti benar dilakukan oleh imam Gereja Katolik itu tak hanya dijadikan bulan-bulanan media tapi juga dijadikan salah satu alasan terkuat orang-orang meninggalkanNya.

    “Ngapain ke Gereja kalau pastornya aja melakukan pelecehan seksual?”

    Ada pula yang beralasan karena tak sudi se-gereja dengan orang yang dianggapnya munafik. Alasan lain rata-rata karena tak punya waktu dan lebih baik meluangkan waktu bersama kawan dan keluarga ketimbang ke Gereja. Pernah pula mendengar bahwa agama tak memberikan kebebasan padahal pacarnya mengajak untuk hidup bersama. Pun ada yang beralasan berbau teologis, “Tuhan pun tak beragama kenapa kita harus beragama?” tapi tak ada yang lebih menohok dari pertanyaan tangkas kawanku yang kutulis di atas tadi, “Apa sumbangsih agama untuk jaman dan sejauh apa ia mampu menyelesaikan persoalan manusia?”

    Waktu ia bertanya seperti itu, aku tak menjawab. Bukannya tak punya jawaban tapi bagiku, apapun jawabanku pasti tetap akan dianggap sebagai sesuatu yang bukan jawaban. Aku memilih diam dan bertekun serta memeluk agama saja.

    Keterdiaman, ketekunan ini tak lepas dari akar budaya Indonesia yang mengalir dalam darahku meski sudah hampir sembilan tahun lamanya aku meninggalkan Tanah Air.

    Bagiku, nilai-nilai religiositas yang muncul, meruap dan menjadi nafas hidup itu ya lahir dan bertunas di Indonesia. Aku diajari untuk memeluk agama tanpa meninggalkan hakikat ‘memeluk’ itu sendiri yang seolah tak mau tahu apa yang terjadi dengan obyek yang dipeluknya pokoknya harus dipeluk erat…

    Jadi, jangan tanya suasana batinku terkait semakin menurunnya jumlah orang beragama di Australia. Jangan pula kepo berpikir apa yang dipikirkan seorang DV terkait dijadikannya Kardinal George Pell sebagai tersangka.

    Aku menjalani hidup hari ini dengan ringan-ringan saja, tak bergeming dan tetap memeluk agama. Kenapa? Karena agama sejatinya tak pernah antara aku dengan kamu, aku dengan kalian, aku dengan angka-angka statistik itu dan tak pula dengan George Pell. Aku beragama kalau menurut apa yang dikatakan KH A Mustofa Bisri alias Gus Mus adalah karena aku sedang naik kereta kencana yang disediakan Tuhan untuk menuju hadiratNya.

    * * *

    Kepada mbak wartawan yang cantik jelita tadi, setelah ia bertanya apa pendapatmu tentang Kardinal George Pell, aku tersenyum lalu berucap, “I can’t give any comment right now. I need to go back to work… God bless you!” Ia membalas senyumku, menarik microphonenya dan memberiku jalan untuk pergi.

    Dari seberang Katedral, kulihat mbak wartawan tadi mengejar umat yang lainnya sementara wartawan lain mengejar umat yang lainnya lagi. Di belakangnya Gereja Tuhan tetap tegak berdiri tak bergeming dengan apapun yang terjadi di luarnya, mengarungi jaman.

    Agama

    …adalah kereta kencana
    yang disediakan Tuhan
    untuk kendaraan kalian
    berangkat menuju hadiratNya
    (Agama – KH A Mustofa Bisri / Gus Mus)

     

    • Berita tentang Kardinal George Pell bisa dibaca di sini
    • Berita tentang hasil Sensus ‘Australia’ 2016 terkait agama bisa disimak di sini
  • Berapa besar Tunjangan Hari Raya di Australia?

    Berapa besar Tunjangan Hari Raya di Australia?

    Setelah mendapatkan kerja untuk pertama kali di Australia, satu pertanyaan yang dulu kusampaikan pada istri dan kawan-kawanku sesama Indonesia di sini adalah perihal THR, Tunjangan Hari Raya.

    “Eh, lupa nanya, di sini cara ngedapatain THR-nya gimana? Dibagikan setiap kapan? Natal atau Lebaran?”

    Tentu saja aku ditertawakan karena di Australia ini tak dikenal adanya THR.

    Kok bisa? Karena tak semua pekerja merayakan hari raya keagamaan dan tak semua pekerja beragama. Kalaupun merayakan, pemerintah dan perusahaan tak memandang perlu untuk memberikan tunjangan. Untuk apa? Kan sudah digaji?

    Lagipula, perayaan hari raya di sini tak terlalu menghebohkan.

    Misalnya saat Natal, setiap keluarga biasanya memang mengadakan acara makan bersama saat Hari Natal, ada juga yang berlibur bersama tapi budget tentu tetap disesuaikan dengan tabungan masing-masing orang.

    Jadi, bersyukurlah kalian yang tinggal di Indonesia karena untuk merayakan hari raya keagamaan pun pemerintah mewajibkan perusahaan untuk memberikan tunjangan hari raya.

    Padahal kalau kita pikir secara jujur dan dewasa, sebenarnya perlunya apa sih bagi perusahaan untuk memberikan tunjangan kepada seseorang yang merayakan hari raya keagamaan? Bukankah beragama itu adalah urusan pribadi kita dengan Tuhan?

    Tapi kalau nggak dapat tunjangan gimana mudiknya?
    Mudik ya tinggal mudik aja tapi kalau tak punya anggaran ya nggak usah mudik. Tunggu aja tahun depan dan mulai sekarang sisihkan uang untuk mudik. Beres, kan?

    Tiba-tiba aku membayangkan kalau suatu waktu nanti pemerintah membatalkan peraturan pemberian THR. Kira-kira demonya akan seramai apa dan akan berapa kali banyaknya atau… jangan-jangan kalian berhenti pula merayakan hari raya semata karena tak ditunjangi?

  • Bolehkah orang bertattoo bekerja di sektor formal di Australia?

    Bolehkah orang bertattoo bekerja di sektor formal di Australia?

    Beberapa orang di Indonesia banyak yang tak percaya ketika kuberitahu bahwa aku di sini bekerja di sektor formal. Apa pasal? “Badanmu tattooan, telingamu lubang gede gitu apa gak jadi soal ketika bekerja di Australia?”

    Ya!
    Pada kedua kakiku, dari pangkal paha hingga mata kaki penuh tattoo. Sisi kanan dan kiri leherku juga bertattoo. Telingaku sengaja kulubangi (earlobe) dan kini diameternya 16mm, sehari-hari kupasang ear tunnel seperti tampak pada gambar di atas. Jangan ditanya kenapa aku melakukannya karena pertanyaan yang sama juga akan kulayangkan kenapa kamu memilih untuk beragama dan beribadah? Hahaha…

    Tapi serius, Don? Kerja di Australia dengan tattoo dan ber-earlobe gitu nggak papa? Tergantung sih! Tergantung dimana kalian bekerja.

    Wah, kalau begitu artinya untuk perusahaan-perusahaan yang tak mengijinkan, mereka mendeskriminasikan pegawainya yang bertattoo dan ber-earlobe?

    Kupikir juga begitu pada awalnya tapi ternyata tidak. Setidaknya demikian menurut pendapat juru bicara Fair Work Ombudsman Australia seperti dimuat di sini (link ke berita) bahwa penampakan fisik (termasuk tattoo dan earlobe) tidak dilindungi aturan ketenagakerjaan (Fair Work Act).

    Lalu bidang-bidang apakah yang tak mengijinkan orang-orang bertattoo, ber-earlobe dan mereka yang melakukan body modification lainnya untuk menjadi pekerja? Tepatnya aku tak tahu tapi sebenarnya kamu bisa ketahui saat bertemu dalam sesi interview dengan pihak perusahaan yang hendak meng-hire-mu.

    Aku punya beberapa tips atau poin-poin pemikiran terkait pekerjaan dan tattoo, earlobe dan body modification lainnya.

    1. Kesepakatan

    Seperti kusinggung di atas, kesepakatan saat sesi interview dengan pihak perusahaan adalah yang terpenting. Bicarakan sejak awal bahwa kamu bertatoo dan ber-earlobe atau memiliki body modification lainnya. Bila mereka keberatan, tentu kamu akan diberi tahu. Tuangkan kesepakatan-kesepakatan itu dalam kontrak sebagai landasan formal tentang ‘bagaimana baiknya’ menyikapi keadaan yang ada pada dirimu.

    2. Tutupi

    Seperti kukutip dari berita di atas bahwa penampakan fisik tak dilindungi aturan ketenagakerjaan maka setidaknya buatlah supaya tattoo, earlobe dan modifikasi tubuh lainnya tak tampak.

    Bagiku ada dua jalan untuk membuat hal-hal tersebut tak tampak yaitu secara permanen maupun temporer.

    Untuk langkah permanen, sekarang banyak ditawarkan teknologi laser untuk menghapus tattoo. Untuk menambal earlobe juga mudah, tinggal dijahit atau kalau mau yang lebih mulus tinggal ambil operasi plastik yang tentu lebih mahal ketimbang ‘jahit biasa’.

    Tapi untuk yang temporer, kita bisa menutupi tattoo dengan pakaian, syal ataupun patch/plester selama bekerja. Untuk earlobe bisa disamarkan dengan patch/plester ataupun flesh/skin tone earplug semacam penutup earlobe yang memiliki warna kulit. Ia tidak menyembunyikan tapi menyamarkan.

    Ini adalah contoh skin tone ear plug dan bagaimana saat dikenakan di telinga. Samar meski tak tersembunyi seutuhnya

    3. Pakaian rapi

    Meski bertattoo dan ber-ear tunnel, aku selalu mengenakan pakaian rapi ketika bekerja terutama saat berhadapan dengan client. Sebagai konsultan, aku merasa bahwa mengenakan stelan jas, kemeja yang disetrika, celana katun atau chinos, dan sepatu serta sabuk kulit formal adalah keharusan. Oh ya jangan lupa untuk menyemprotkan deodorant dan parfum dan simpulkan sebuah senyum dari bibir.

    Penampilanku sehari-hari dalam bekerja

    4. Karakter Pribadi

    Ini sisi menariknya.
    Aku bekerja sebagai UX/UI Lead Consultant, bagian kecil dari industri kreatif yang kian besar. Entah kenapa, stereotipikal orang-orang ketika bicara tentang pelaku dunia industri kreatif selalu dikaitkan dengan gaya hidup hippie, celana skinny, kacamata oversized, music ingar-bingar maupun RnB dan lain-lainnya termasuk tattoo, earlobe sehingga ketika kita bertatoo dan ber-earlobe, kebanyakan orang memaklumkannya.

    Malah, tattoo dan earlobe justru menjadi daya tarik yang mau-tak-mau melekat pada karakter pribadi kita. Beberapa klien secara eksplisit bahkan menyatakan ketertarikannya untuk bekerja denganku karena sisi funky-ku yang kuyakin salah satunya terbangun dari tattoo dan earlobeku itu.

    Tapi apakah hanya itu yang membuat klienku suka bekerja denganku? Tak adakah hal-hal lain yang membangun karakter pribadiku menjadi menarik selain tattoo dan earlobe?

    Poin terakhir di bawah ini bisa jadi yang paling penting! Simak!

    5. Sensasional?

    Kamu tattooan dan ber-earlobe maka kamu keren dan sensasional! Tapi tanpa tattoo dan tanpa earlobe, apakah kamu akan tetap menawan?

    Aku adalah orang yang percaya bahwa apapun yang kuperbuat dan ada di sekitarku sebisa mungkin harus bisa kugunakan untuk membuat hidupku dan hidup di sekitarku lebih baik. Apa yang lebih baik ketika aku bertattoo dan ber-earlobe?

    Ini perkara label. Di saat banyak orang menilai buruk tentang tattoo, earlobe dan modifikasi tubuh lainnya, aku justru terlecut untuk membuktikan sebaliknya bahwa tak selamanya orang-orang bertattoo dan orang ber-earlobe adalah orang-orang yang ngawur, tak serius, tak sukses dan berantakan.

    Aku memiliki keluarga, istri dan anak-anak yang kucintai dan mencintaiku. Membanggakan dan akupun dibanggakan olehnya. Aku berjuang untuk itu meski aku bertattoo dan ber-earlobe.

    Aku memperhatikan sangat aspek spiritual dan memandang bahwa ada Yang Maha Tinggi, sosok dimana aku harus menjalin relasi baik sekaligus sosok dimana pada akhirnya aku akan berpulang nantinya. Aku aktif dalam kegiatan agama, meski aku bertatoo dan ber-earlobe.

    Aku berusaha menghargai teman dan memelihara pertemanan dengan mereka yang bisa kujadikan kawan dari berbagai kalangan meski aku tattooan dan ber-earlobe.

    Aku memiliki skill dan karir yang lumayan bisa diperhitungkan di sebuah negara maju bernama Australia… meski aku tattooan dan ber-earlobe.

    Jadi? Bertattoo dan ber-earlobe ataupun memodifikasi tubuh lainnya, bolehkah bekerja di Australia?

    Sekali lagi jawabannya adalah tergantung. Sama halnya dengan pertanyaan, Apakah mereka yang tak bertatoo dan tak ber-earlobe adakah mereka juga baik semuanya? Jawabannya juga tergantung, kan?

    Simak serial tulisanku bertajuk?Hikayat Tattoo, kenapa akhirnya aku memutuskan untuk memiliki tattoo dan perjalanan untuk aku mendapatkan semua rajah tattoo di kulitku.

  • Risalah Akhir Pekan XVI/2017

    Risalah Akhir Pekan XVI/2017

    Minggu kemarin melelahkan ya?

    Jagoan kalah di Pilkada, hati siapa tak jadi nestapa? Jadi supaya tak makin berlarut biarlah risalah kali ini kubuat yang ringan-ringan saja!

    Kalau membaca Risalah minggu lalu, kalian akan tahu bahwa aku diminta untuk bermain musik (gitar) dalam perayaan ekaristi Malam Paskah di gereja paroki setempat di sini.

    Nah, tepat setelah selesai perayaan yang berlangsung tiga jam itu, saat sedang beres-beres tiba-tiba seorang yang kukenal adalah tetangga rumah mendekatiku.

    “Wah, aku nggak nyangka kamu main gitarnya jago!” Aku tersenyum. “Thanks, Mate!” Kami bersalaman.

    “Aku juga main gitar tapi cuma inget empat chord saja hehehe…”

    “Oh ya?” Aku masih tersenyum sambil terus melanjutkan beres-beres amplifier, pedal, dan kabel-kabel untuk kumasukkan ke dalam tasku.

    “Iya. Lima belas tahun lalu aku malah ikut pelayanan dalam perayaan ekaristi berbahasa China di daerah Pymble (sebuah kawasan di Sydney -red) tapi sekarang sudah nggak lagi!”

    Aku manggut-manggut saja sementara di seberang, Joyce dan anak-anak sudah memberi kode supaya aku buruan beresin barang-barangnya karena hari sudah larut dan anak-anak sudah pula mengantuk.

    “Kamu keberatan nggak kalau ngajari aku main gitar lagi jadi kita bisa main bareng di gereja?”

    WHAT? Aku kehilangan kata-kata selain mengangguk saja.

    Mungkin kalian bertanya apa salahnya untuk mengajari dia? Toh tetangga sendiri? Betul! Dan aku jadi serba salah karena kalian berpikir dan bertanya begitu.

    Sejujurnya sembilan tahun tinggal di Australia telah mengubah sedikit banyak cara pandangku untuk bercengkrama dengan tetangga. Di sini tak bisa disamakan dengan di Indonesia meski yang kudengar di beberapa perumahan elit di Jakarta pun katanya seorang dengan yang lainnya nggak saling sapa dan kenal.

    Kenal dengan tetangga adalah ketidakharusan di sini. Kalaupun kenal, perkenalannya sebatas pada nama, alamat email dan mobile numbernya sehingga kalau misalnya kita ingin mengajak diskusi tentang cara tamunya memarkir mobil yang tak baik, kita bisa menghubunginya. Atau kalau kita ingin memberitahukan bahwa kita tak terlalu suka dengan caranya mengadakan pesta yang hingar-bingar, kita tahu kemana email harus dikirimkan.

    Perkenalan tak bisa dan tak biasa lebih dalam daripada itu. Misalnya untuk tahu siapa nama pacar anaknya, kapan anaknya akan dinikahkan, atau hal apa yang membuat hati istrinya dongkol dan bisa kita gosipkan dengan tetangga lainnya, pun tak sedalam itu!

    Jadi bayangkan, untuk membayangkan aku mengetuk pintu rumahnya lalu mengajarinya bermain gitar, bukannya tak mau, tapi aku sudah lupa bagaimana cara memulai percakapan yang hangat dan berbincang dengan orang yang kenal tapi tak ‘kukenal’ lebih dari nama, alamat email dan nomer telepon tadi.

    Malam itupun berlalu begitu saja dan kupikir bahwa permintaan untuk mengajarinya bermain gitar itu hanya basa-basi biasa.

    Hari selasa pagi saat berjalan dari rumah menuju ke stasiun tiba-tiba pundakku dijawil.

    “Donny! Jadi kapan latiannya?”
    Mukaku pucat. Aku kehabisan kata-kata…

    Selamat menjalani minggu yang baru. Semoga tak melelahkan lagi ya, Kawan!

    Dipublikasikan pada Hari Raya Minggu Paska II/Hari Minggu Kerahiman Ilahi pada pesta nama Santo Adelbertus, Uskup dan Martir dan Santo Gregorius, Martir

  • Playlist: Maret 2017

    Playlist: Maret 2017

    [et_pb_section admin_label=”section”][et_pb_row admin_label=”row”][et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text” background_layout=”light” text_orientation=”left” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid”]

    Agak telat nih tapi nggak papa ya ;)
    Setelah asyik-masyuk dengan britpop/britrock era 90an, di bulan ketiga tahun ini, aku mendengarkan musik ‘anak negeri’, dedengkot-dedengkot musik asli negara tempat tinggalku, Australia.

    Berikut selengkapnya:

    [/et_pb_text][et_pb_gallery admin_label=”Gallery” gallery_ids=”14075,14076,14077,14078,14079,14080,14081,14082,14083,14084″ fullwidth=”off” posts_number=”12″ show_title_and_caption=”on” show_pagination=”on” background_layout=”light” auto=”off” hover_overlay_color=”rgba(255,255,255,0.9)” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid” orientation=”landscape”] [/et_pb_gallery][et_pb_text admin_label=”Text” background_layout=”light” text_orientation=”left” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid”]

    Oh ya, tentang ?penduduk tetap? seperti bulan lalu, ada tambahan dua yang berasal dari playlist Februari 2017 yang lalu yaitu Blur, sementara Noel Gallagher kuhapus untuk sementara waktu. Selengkapnya di sini:

    [/et_pb_text][et_pb_gallery admin_label=”Gallery” gallery_ids=”13610,13609,13608,13607,13605,13618,13833″ fullwidth=”off” posts_number=”12″ show_title_and_caption=”on” show_pagination=”on” background_layout=”light” auto=”off” hover_overlay_color=”rgba(255,255,255,0.9)” use_border_color=”off” border_color=”#ffffff” border_style=”solid” orientation=”landscape”] [/et_pb_gallery][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

  • Suka-Duka Jadi Konsultan IT di Australia (3)

    Suka-Duka Jadi Konsultan IT di Australia (3)

    Kali ini mari bicara hal-hal menarik dari menjadi seorang konsultan IT di Australia.

    Ada banyak hal-hal menarik dari menjadi seorang konsultan IT bahkan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan yang kutulis pada tulisan sebelumnya, ketika kita temukan solusinya, pun akhirnya malah jadi menarik dan membuat kita semakin nyaman berprofesi sebagai konsultan IT di sini.

    Apa saja hal itu?

    Nggak punya personal spot

    Ketidaknyamanan ini menjadi hal yang menyenangkan karena tanpa personal spot otomatis kita bisa merasa lebih easy going kapanpun kita harus pindah. Tak ada kelekatan pada kantor tertentu, pokoknya santai. Tinggal tenteng tas, panggil taksi lalu pergi!

    Travelling

    Ketidaknyamanan ini juga menjadi hal yang mengasyikkan karena waktu yang kita pakai selama travelling di atas public transport bisa kita manfaatkan sebagai ‘me’ time!

    Mulai dari memutar film di Netflix, membaca social media (akhir-akhir ini jarang kulakukan karena isinya cuma soal Pilkada melulu!) hingga menulis blog sambil mendengarkan musik melalui headphone bahkan tidur jika memang perlu untuk memejamkan mata barang sejenak.

    Travelling time bagiku adalah jeda/spasi hidup dari banyaknya hal yang harus dihadapi dan taklukkan.

    Pakaian Rapi

    Bekerja mengenakan pakaian rapi, yang semula adalah hal yang tidak nyaman menjadi nyaman karena setidaknya kita tampak lebih baik ketika rapi, bukan? Selain itu, berpenampilan rapi selama hari kerja membuat kita bisa lebih menghargai akhir pekan saat santai bersama keluarga. Kenapa? Dulu pernah aku setiap hari bekerja mengenakan kaos dan jeans serta sneakers, memang santai tapi alhasil saat akhir pekan tiba, karena aku mengenakan pakaian yang sama, rasanya seperti tak terlalu istimewa lagi karena tak beda!

    Anti politik!

    Bekerja sebagai pegawai tetap di perusahaan biasa akrab dengan hal-hal yang berbau politik. Hubungan yang semula baik antara kita dengan kolega bisa runyam karena masing-masing punya kepentingan. Menjadi konsultan IT terhindar dari politik atau setidaknya terkurangi banyak karena hubungan kita dengan klien hanya seumur jagung sebelum kita pindah ke klien lainnya. Hubungan kita dengan kolega antar konsultan pun juga sama, begitu proyek selesai kita sudah pindah ke proyek yang lain yang kemungkinan besar beda pula konsultan-konsultan yang ditempatkan di sana.

    Musuhan dengan atasan atau bawahan pun jarang karena aku bertemu dengan atasan sama jarangnya dengan ketemu bawahan, sebulan sekali!

    Expense

    Jadi konsultan IT juga punya peluang banyak makan dan minum enak… gratis! Ketemu bawahan di restaurant lalu makan dan uangnya ditukar perusahaan. Ketemu atasan di coffee shop, mau minum kopi model apa saja dan kudapan semewah apa, uangnya ditukar perusahaan. Jadwal public transport sedang amburadul, hujan lebat tanpa henti? Panggil taksi, ongkos diganti! Ogah setrika dan cuci, tinggal bawa ke laundry dibayari perusahaan! Nyaman, kan?

    Satu tim dengan para ahli

    Tak ada konsultan yang bukan ahli; semua ahli dan punya pengalaman di bidangnya. Seringkali aku berada satu tim dengan para konsultan senior yang punya pengalaman bekerja di raksasa dunia. Technical Lead di proyekku terdahulu adalah seorang senior consultant yang dulu, dekade silam, membuat aplikasi kalkulator di Windows 7 lalu ikut membangun Microsoft Snippet serta Lync! Kawanku lainnya, dia konsultan paling senior di bidang Identity Management di belahan dunia bagian selatan khatulistiwa.

    Bekerja bersama mereka dan mendengarkan bagaimana mereka dulu bekerja di perusahaan-perusahaan besar adalah hal yang membanggakan meski aku tak tahu apakah mereka juga bangga pernah bekerja denganku hahahaha…

    Tiket mudah untuk naik ke jenjang karir lebih tinggi

    Menjadi konsultan IT terutama di perusahaan terkemuka seperti yang kualami sekarang ini membuka peluang karir yang lebih tinggi di masa mendatang. Klien-klien yang kutangani adalah perusahaan-perusahaan besar dengan jumlah pegawai minimal sepuluh ribu banyaknya. Hal-hal yang kukerjakan siap kumasukkan ke dalam portfolio sehingga ketika aku memutuskan untuk pindah ke perusahaan lainnya, hal itu akan menjadi bekal besar untukku meyakinkan calon perusahaan yang kepadanya kulamar pekerjaannya.

    Gaji

    Gaji? Serius mau dibicarakan di sini?

  • Suka-Duka Jadi Konsultan IT di Australia (2)

    Suka-Duka Jadi Konsultan IT di Australia (2)

    Nah, setelah kemarin aku menulis tentang nggak enaknya jadi konsultan, tapi namanya juga profesi, kita harus men-tackle isu-isu tersebut sehingga semua harus bisa teratasi dengan baik.

    Solusinya? Ada di bawah ini.

    Miliki portable stuffs

    Ketiadaan personal spot dan personal stuffs yang bisa kita pakai di kantor klien bisa kita siasati dengan memiliki barang-barang yang punya tingkat protabilitas tinggi.

    portable cutlery

    Mulai dari gelas, piring dan sendok/garpu/pisau. Kita bisa menggunakan yang portable dan bisa didapatkan di toko-toko adventure.

    Stojo Pocket Mug (1)

    Stojo Pocket Mug saat dilipat siap dimasukkan tas

    Lalu laptop, mobile wifi/modem, charger, powerbank, noise cancelling headphone (ini perlu tak hanya untuk mendengarkan musik tapi juga untuk mengurangi noise dari percakapan yang muncul di kantor klien), kantong teh, bahkan tissue toilet pun aku bawa cadangan.

    Bagaimana dengan portable storage? Masih perlukah USB flashdisk? Tidak! Aku sudah tidak menggunakan USB flashdisk sejak tahun lalu karena lebih banyak menggunakan cloud storage yang tinggal upload/download saat diperlukan.

    Tas besar

    Karena begitu banyak portable stuff yang harus dibawa, mau tak mau aku harus menggunakan tas besar yang nyaman dibawa dan tak terlalu memberatkan. Karena aku punya masalah dengan tulang belakang (tulang belakangku agak bengkok ke kanan) maka aku memilih menggunakan tas besar sistem trolly yang bisa kutarik dan tak harus kujinjing.

    Samsonite mobile office bag yang kupakai setiap hari

    Up-to-date dengan jadwal public transport

    Bekerja menggunakan kendaraan pribadi bukanlah pilihan tepat di Sydney. Jarak antar kantor klien biasanya tak terlalu jauh jadi lebih baik menghapalkan jadwal public transport atau kalau memang sedang malas betul ya tinggal panggil taksi nanti toh ongkos yang dikeluarkan diganti perusahaan.

    Untuk pengaturan jadwal public transport, sejak awal tahun silam aku menginstall aplikasi TripView yang punya sistem hampir bisa dikatakan real time data. Artinya kita bisa tahu posisi kereta/bus/ferry yang akan kita naiki sudah sampai mana dan akan sampai di tujuan jam berapa.

     

    Aplikasi Trip View, kita bisa mendeteksi hampir realtime bus/ferry/kereta yang akan kita tumpangi

     

    Penunjang penampilan

    Karena kita dituntut untuk tampil rapi dan profesional, hal yang tak pernah tak kubawa di dalam tas adalah: deodorant, parfum, permen karet mint. Ketiganya amat penting untuk menangkal bau mulai dari bau badan, bau keringat maupun bau mulut! Dulu malah aku sempat bawa sikat gigi segala macam tapi lantas kupikir too much!

    Permen karet penghilang abab

    Parfum yang kupakai setiap hari

    Setia setiap saat. Kamu juga pakai, kan?

    Jaga Hubungan dengan Kantor Pusat dan manajemen

    Menjaga hubungan dengan kantor pusat amatlah penting! Kenapa? Sebagai konsultan yang ditempatkan di kantor klien, peluang kita bertemu dengan manajer dan anak buah (karena aku lead consultant aku punya beberapa anak buah) amat jarang. Kita harus proaktif untuk selalu keep in touch dengan mereka baik itu melalui telepon, email ataupun coffee meeting dan lunch!

    Hal ini amat penting karena banyak informasi terkait kebijakan perusahaan termasuk proyek-proyek baru yang masuk, issue-issue dengan anak buah dan peer colleagues, training sessions yang perlu kita tahu dan berguna untuk pengembangan karir personal kita.

    Olahraga dan jaga makan

    Bekerja sebagai konsultan membutuhkan dinamika yang tinggi. Energi adalah barang yang mahal. Untuk itu, berolahraga untuk mengatur stamina dan vitalitas tubuh amat diperlukan bahkan menurutku lebih perlu ketimbang aneka vitamin dan supplemen yang ditawarkan bakul-bakul obat di luaran sana.

    Interaksi kita dengan klien kadang juga membuat tak bisa menghindari untuk ikut acara makan siang maupun coffee break yang melibatkan banyak makanan yang secara nutrisi membuat pola makan yang sudah kita atur jadi berantakan. Oleh karena itu sebisa mungkin melakukan diet dengan menghitung jumlah kalori yang kita konsumsi dengan yang kita keluarkan amat penting. Puji Tuhan aku melakukan hal ini cukup seksama.

  • Suka-duka jadi konsultan IT di Australia (1)

    Suka-duka jadi konsultan IT di Australia (1)

    Sejak mulai berkarir di bidang IT, 1999 silam, beberapa kali aku pernah menempati posisi berbeda.

    Bermula dari penjaga warnet, lalu web designer. Setelah membangun perusahaan tahun 2000, posisiku jadi web development manager. Web content manager juga pernah kuemban saat mengelola Gudeg.Net hingga akhirnya pindah ke Australia tahun 2008.

    Di Australia aku mulai berkarir sebagai web developer (front to back end/full stack) lalu fokus ke front end side pernah pula menjadi Head of Digital (acting) dan sejak Mei 2016, aku banting stir ke dunia konsultasi.

    Ya, di perusahaan jasa konsultasi IT milik perusahaan telekom no 1 di Australia ini, posisiku adalah UX/UI Lead Consultant.

    Apa pula itu?
    UX/UI adalah singkatan dari User Experience/User Interface, sebuah anak cabang IT yang belum lama terdefinisikan bidangnya. Tapi aku belum hendak mengulas tentang hal tersebut karena aku lebih ingin fokus ke suka dan duka bekerja menjadi Lead Consultant.

    Tulisan ini akan bersambung ke dalam beberapa tulisan lainnya mendatang, tapi baiklah kumulai dengan ‘duka’ nya menjadi seorang Lead Consultant.

    Simak berikut ini…

    Nggak punya personal spot di kantor

    Bekerja sebagai konsultan, kebanyakan waktu kuhabiskan dengan bekerja di kantor client. Dengan lama engagement per proyek yang sekitar 2 sprints (4 minggu) aku praktis tak punya personal spot di kantor tersebut.

    Maksudnya? Aku tak punya kursi dan meja tetap dimana biasanya banyak digunakan pegawai untuk menyimpan barang-barang personal mulai dari alat makan (cutlery), alat olahraga hingga foto istri dan anak-anak yang biasa dipajang di dinding cubical.

    Travelling, berpindah-pindah

    Sebagian orang bermimpi enaknya bekerja travelling dan berpindah-pindah. Percayalah, aku dulu juga demikian! Tapi setelah mencoba, kini aku mulai punya impian untuk bekerja di satu kantor, tak berpindah-pindah. Mau gimana lagi, namanya manusia, kan? Maunya enaknya aja hahaha!

    Ketidaknyamanan bekerja berpindah-pindah itu tak datang dari lelah fisik sebenarnya, lebih banyak lelah pikiran. Ada beberapa waktu dimana dalam seminggu aku mengerjakan dua proyek sekaligus bahkan saat tulisan ini kurawi aku ada dalam komitmen dua proyek dengan pembelahan waktu yang amat tidak menyenangkan karena dari senin – rabu siang aku bekerja di proyek A, lalu rabu sore hingga kamis siang aku ke proyek B, kamis sore hingga jumat aku kembali ke proyek A!

    Ketidaknyamanan lain muncul ketika misalnya kita sudah merasa nyaman dengan klien yang lovely dan kawan kerja yang amat supportive lalu tiba-tiba engagement berakhir dan kita harus lompat ke proyek lainnya. Ada banyak ketakutan jangan-jangan klien tak akan se-lovely yang sekarang dan kawan kerja juga gak akan se-supportive sekarang!

    Pakaian rapi

    Ada yang bertanya kenapa aku sekarang lebih banyak berpakaian rapi-jali? Pake kemeja dan celana non-jeans lalu kadang pakai jas padahal sebelumnya aku selalu tampil casual ketika pergi ke kantor hanya dengan mengenakan kaos polos warna hitam, celana jeans skinny plus sneakers?

    Ada tuntutan dari perusahaan untuk tampil rapi jali dan itu tertuang di dalam kontrak kerjaku dulu.

    Hal ini membuat aku harus selalu siap dengan pakaian halus ter-setrika (simak tulisanku tentang hal ini di sini) dan selalu membawa deodorant serta permen karet di tas. Kenapa? Supaya klien tak ragu mendekat hanya karena kita bau keringat atau bau mulut sisa makan bawang semalam!

    Nah, itulah beberapa hal yang menurutku tak terlalu menyenangkan selama menjadi konsultan. Di tulisan berikutnya aku akan bercerita tentang solusi dari hal-hal tersebut di atas.

    Stay tune!

  • Leo Lee: Sopir dianggap sebagai profesi yang wajar!

    Leo Lee: Sopir dianggap sebagai profesi yang wajar!

    Denny Indrayana yang mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM di era SBY itu boleh jadi sopir di Melbourne, tapi seorang Indonesia yang lain jadi bos dua belas sopir di Sydney, Australia.

    Dialah Leo Lee, adik angkatanku waktu kuliah di Unversitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta dulu.

    Leo yang bermigrasi sejak beberapa tahun lalu bersama istri dan dua orang anaknya adalah salah satu pemilik sekaligus General Manager dari sebuah perusahaan jasa transport di Sydney, Arena Transport.

    sopir
    Aku (kiri) dan Leo, beberapa tahun lalu

    Aku sengaja menghubunginya dan mengajak berdiskusi bukan terkait Denny Indrayana yang jadi sopir, tapi bagaimana sih pandangan orang-orang sini terhadap profesi sopir dan seluk-beluk serta termasuk pendapatannya.

    Penggalannya bisa disimak di bawah ini.

     

    Leo, pandanganmu tentang profesi sopir bagaimana setelah kamu sekarang jadi bos-nya para sopir?

    Sebenarnya aku nggak bener-bener jadi ‘bos’ nya para sopir, Bro! Supir itu kebanyakan adalah wiraswastawan jadi ikatan kerjanya denganku lebih ke subcontractor.

    Maksudnya?

    Mereka bekerja padaku berdasarkan proyek.

    I see. Lalu untuk jadi sopir yang subcontractor begitu syaratnya apa saja?

    Gampang! Kamu punya SIM, ABN (Australia Business Number, semacam nomer induk perorangan yang digunakan untuk melakukan transaksi bisnis) dan kendaraan sendiri, van misalnya.

    Kalau Denny Indrayana itu berarti subcontractor juga?

    Wah, kurang tahu…

    Bro, banyak yang masih menganggap profesi sopir itu adalah profesi hina nan nista. Menurutmu gimana?

    Salah besar itu!
    Setidaknya kalau di Australia sini jelas nggak kayak gitu! Sopir ya dianggap profesi yang wajar! Malah banyak sopir taksi yang punya rumah mewah dan besar di Sydney kok! Padahal kita tahu harga rumah di Sydney itu termasuk yang paling mahal di dunia!

    Waduh! Memangnya penghasilannya rata-rata berapa sih?

    Kalau sopir taksi itu aku nggak tahu tapi kalau sopir-sopir yang bekerja untukku, dalam seminggu sekitar 1000 – 1500 Australian Dollar diluar pajak.

    Wih, lumayan dong?

    Lumayan banget! Itu juga untuk supir van! Semakin besar mobilnya, semakin besar juga untungnya karena tentu kapasitas angkut lebih banyak dan lebih mahal.

    Nah! Jadi siapa mau jadi sopir di sini? Daripada jadi pejabat publik malah kena OOT KPK mending nyetir, Bro!

    Tulisanku tentang Denny Indrayana bisa disimak di sini. Informasi tentang Arena Transport, perusahaan transportasi yang dikelola Leo Lee dan kawan-kawannya bisa disimak di sini.?