Tag: alkohol

  • Minumlah (alkohol) dengan penuh rasa tanggung jawab!

    Minumlah (alkohol) dengan penuh rasa tanggung jawab!

    Tulisan ini merupakan bagian dari rangkaian tulisan bertema?minuman alkohol di Australia.

    Dari dua tulisanku sebelumnya terkait serial ‘Alkohol di Australia‘, ada seorang pembaca yang menghubungiku dan bertanya, “Mas, bagaimana dengan orang-orang yang tak diperbolehkan minum minuman alkohol karena aturan agama? Adakah pesta-pesta di Australia juga menyediakan minuman non-alkohol?”

    Fakta! Mendebarkan atau menyenangkan? :)

    Oh jelas!
    Pesta di sini tak hanya menyediakan minuman beralkohol tapi juga minuman-minuman non-alkohol. Alasan keberadaannya pun tidak melulu karena agama. Ada yang memilih abstain tak minum minuman alkohol karena alasan kesehatan, ada juga alasan lain karena sesudah pesta ia misalnya harus nyetir kendaraan pulang atau besok paginya masih ada komitmen sesuatu yang tak bisa ditinggalkan dan membutuhkan kesadaran penuh.

    Penyedia pesta biasanya menyediakan minuman-minuman non-alkohol seperti aneka ragam juice, minuman bersoda, teh, kopi hingga air putih biasa.

    Bir temulawak-nya Australia, Bundaberg!

    Tapi ada juga minuman bersoda yang memiliki rasa amat mirip dengan beer namun mengandung zero alcohol yaitu ginger beer atau yang di Indonesia dikenal sebagai bir temulawak.

    Karena ini adalah tulisan terakhir dari rangkaian ‘Alkohol di Australia‘ (kecuali jika di masa datang aku memerlukan untuk menulis lanjutannya) maka aku juga ingin berbagi perilakuku dalam mengkonsumsi alkohol.

    Aku bukanlah konsumen kelas berat alkohol. Setiap hari aku memang mengonsumsi alkohol tapi aku mengkhususkan diri pada anggur merah (red wine) jenis Cabernet Merlot. Takaran konsumsiku pun di bawah standard yaitu sekitar 150ml, setengah gelas kecil yang kuminum sepulang kerja. Dalam seminggu, biasanya aku menghabiskan satu botol wine (750ml). Budget yang kupakai biasanya kubatasi hingga maksimal $15 per botol. Aku tak mengkonsumsi bir, white wine apalagi spirit sehari-hari.

    Pada acara-acara tertentu seperti pesta atau meeting, sebulan sekali, aku mengonsumsi alkohol lebih banyak dari biasanya dan pilihan biasanya jatuh pada beer terutama craft beer, beer yang dibuat secara istimewa ketimbang beer-beer pabrikan biasa. Berapa banyak? Untuk takaran sedang aku biasa minum cukup tiga hingga empat botol bir, tapi untuk takaran tinggi… hehehehe, jangan kaget kadang aku dan kawan-kawan bisa minum hingga 12-15 botol.

    Banyak ya? Hehehe, tapi itu dulu! Sekarang sudah amat jarang kecuali mendapatkan ijin khusus dari Joyce, istriku. Kenapa perlu ijin khusus karena biasanya pesta diadakan pada Jumat sore/malam. Kalau aku minum banyak, 12 – 15 botol, keesokan paginya aku akan mengalami hangover padahal aku harus mengantar anak-anakku kursus ballet sabtu pagi jam 9:30! Jadi, bisa dibilang beberapa tahun belakangan aku sudah tak pernah minum beer secara berlebihan. Cukup tiga-empat botol lalu cabut! Ya, cabut alias pulang saat pesta masih berlangsung adalah kuncinya. Semakin kita berlama-lama, semakin kita terbujuk untuk minum terus dan terus dan terus…

    Drink responsibly!

    Bagaimana dengan perilakumu dalam minum minuman berlakohol? Apapun itu, jadilah yang terbaik untuk dirimu sendiri dan keluarga. Jangan minum karena kawan lainnya juga ikut-ikutan minum. Menyitir semboyan yang dipaparkan pemerintah Australia tentang budaya minum, minumlah dengan penuh rasa bertanggung jawab (drink responsibly). Artinya? Bertanggung jawablah terhadap hal-hal yang ditimbulkan dari perilaku minum minuman berlakoholmu! Jangan salahkan pemerintah, jangan salahkan penjual minuman apalagi jangan salahkan pemeluk agama lain yang kamu anggap memanas-manasi untuk terus minum dan minum lagi…

    Angkat gelasmu, Kawan! Kalau mampir ke Sydney kabar-kabar ya, kita bersulang bersama!
  • Seberapa mahal harga minuman ber-alkohol di Australia?

    Seberapa mahal harga minuman ber-alkohol di Australia?

    Tulisan ini merupakan bagian dari rangkaian tulisan bertema?minuman alkohol di Australia.

    Beberapa kawan di Indonesia juga sempat bertanya, berapa harga minuman beralkohol di Australia?

    Jawaban yang mudah tapi sulit karena kebanyakan dari kawan di Indonesia masih menghitung perbedaan harga dengan mengkonversi langsung nilai dollar ke rupiah dan sebaliknya.

    Don, bukankah itu cara yang benar?
    Tidak, karena kalau demikian berarti kamu membandingkan dengan cara apple-to-apple padahal harusnya tak demikian. Nanti akan kutulis di lain waktu soal ini.

    Kembali ke topik, harga minuman berlakohol di Australia secara garis besar sebenarnya lebih mahal daripada di Indonesia dan banyak negara lainnya.

    Menurut Lifehacker Australia dari informasi tahun 2014, harga bir di Australia termasuk yang termahal di dunia dengan harga per 0.5 liter botol adalah 4.45 USD setelah Iran, Kuwait, Uni Arab Emirates, Papua New Guinea, Singapore, Norway dan Qatar serta lebih murah dibanding Afganistan dan Jordan.

    Sementara itu untuk wine/anggur, Australia menduduki peringkat ke-31 dari 126 negara dengan harga per botol wine adalah 11.33 USD, menurut Numbeo.

    Lalu untuk spirit, aku tak menemukan data numeriknya tapi dari News.com.au?kudapatkan informasi bahwa meski dikonsumsi lebih sedikit seperti yang kutulis pada tulisan sebelumnya, tapi pajak yang dihasilkan dari konsumen spirit menduduki 41% dari keseluruhan pajak yang dihasilkan dari alkohol!

    Jadi secara keseluruhan, harga alkohol di Australia tidaklah murah. Lalu bagaimana cara mendapatkan stok alkohol yang murah tapi meriah?

    Dari pengalamanku, ini adalah beberapa tips yang mungkin bisa kalian pakai saat hendak berlibur atau bermigrasi ke Australia.

    1. Beli di local cellar

    alkohol
    Suasana cellar/bottleshop/toko alkohol

    Aku lebih suka beli stock minuman alkohol di local cellar/toko alkohol dekat rumah karena biasanya mereka punya harga lebih reasonable (Untuk merk wine favoritku Lehmann, di cellar-cellar besar dijual per botol bisa sampai $15 tapi di sana cuma $11 bahkan kalau beli 2 cuma bayar $20 saja!). Selain itu, kenal dekat dengan pemilik/pegawainya amat menguntungkan karena kadang mereka memberikan informasi seputar update jenis-jenis minuman, diskon-diskon terbaru hingga free wine tasting.

    Oh ya, menemukan local cellar/toko alkohol di Australia amat mudah. Hampir di setiap suburb, kita menemukan setidaknya satu.

    2. Beli di ALDI

    alkohol

    ALDI adalah nama retail brand di sini. Harga-harga barang yang dijual ALDI jauh lebih murah dan banyak dijadikan rujukan orang-orang saat berbelanja kebutuhan harian. ALDI punya anak perusahaan ALDI Liquor dan sama seperti induknya, harga minuman beralkohol di ALDI Liquor cukup miring dibandingkan yang lain.

    3. Pilih jenis jangan merk!

    Sebagai penyuka wine, aku tak pernah merasa perlu terpatok pada satu brand. Aku memilih untuk setia pada jenis wine yaitu cabernet merlot. Kenapa? Harga wine dari satu brand ke brand lain kadang jauh berbeda, sementara rasanya, asal jenisnya sama, masih bisa ditolerir lah lagipula sebagai penikmat harian, aku tak perlu wine yang rasanya ‘gimana-gimana’ amat :)

    Jadi misalnya di local cellar atau cellar lainnya sedang ada banting harga untuk wine jenis cabernet merlot yang kusuka, apapun merknya, langsung kubeli!

    4. Cari diskonan!

    Hampir setiap cellar selalu punya ‘special offer’. Nah, pintar-pintarlah untuk mengikuti perkembangan ‘special offer’ apa yang menarik hatimu untuk membeli. Untuk local cellar, aku sudah membagi nomer handphoneku padanya, jadi kalau ada yang diskon, mereka langsung memberitahuku dan aku akan mengambil pesanan sepulang kerja.

    Tulisan tentang alkohol di Australia tak berhenti di sini. Nantikan tulisan selanjutnya!

    Sumber/referensi pendukung:

    1. Peringkat harga beer se-dunia, Lifehacker
    2. Peringkat harga wine se-dunia, Numbeo
    3. Pajak spirit yang terbesar dibanding jenis minuman alkohol lainnya. Kenapa? ,News
    4. Situs web ALDI Liquor
    5. Situs web Dan Murphys ‘Special offers’
    6. Situs web Liquorland ‘Special offers’
    7. Situs web BWS ‘Special offers’
  • Kenapa ribet untuk sekadar menikmati minuman ber-alkohol di Australia?

    Kenapa ribet untuk sekadar menikmati minuman ber-alkohol di Australia?

    Beberapa minggu lalu, saat mengunggah foto botol anggur yang kukonsumsi ke social media, ada seorang kawan di Indonesia bertanya, “Perasaan kamu sering banget motret botol anggur? Minum terus? Kapan kerjanya?”

    Marah? Tidak! Justru ini adalah hal menarik karena beda pandangan tentang minuman beralkohol itu sah-sah saja. Ada yang berpikir bahwa orang minum minuman berlakohol pasti mabuk seperti halnya orang berpikir bahwa orang bertattoo pastilah preman.

    alkoholDi Australia, tak semuanya, tapi pada beberapa kalangan yang memilih minum alkohol tak berarti selalu mabuk-mabukan karena bukankah kita juga tak perlu makan hingga terkenyang-kenyang?

    Minuman alkohol banyak dihidangkan di pub dan bar, pada acara-acara makan di restaurant mahal, pentas musik, atau di rumah untuk konsumsi sehari-hari seperti yang kulakukan setiap hari.

    Apa saja yang diminum orang-orang Australia? Pada prinsipnya ada tiga, beer, wine dan spirit, sesuatu yang biasa disingkat sebagai BWS. Bagi yang belum tahu bisa googling apa arti ketiganya. Tapi kebanyakan, sejauh yang kutahu, orang-orang Australia lebih sering mengkonsumsi beer dan wine saja karena kepraktisan dan level alkohol yang cukup rendah yaitu antara 4 – 20%. Spirit jarang dikonsumsi selain karena kadar alkoholnya yang tinggi (rata-rata di atas 30%) juga banyak orang memilih mengonsumsi spirit dalam bentuk cocktail yang tak murah.

    Dimana membeli minuman alkohol? Bersyukurlah kalau dulu di Indonesia (katanya sekarang udah dilarang ya?) beer bisa ditemukan di gerai-gerai minimarket atau di warung-warung rokok yang menyediakan minuman alkohol meski dijual secara sembunyi-sembunyi dan harus menggunakan kata sandi untuk memesannya.

    Kenapa? Di Australia, pemerintah secara ketat mengatur penjualan minuman keras. Hanya toko-toko tertentu yang berhak menjual alkohol dan hanya orang-orang di atas usia 18 tahun saja (ditunjukkan dengan ID card) yang berhak membelinya.

    Tak semua restaurant juga boleh menyajikan minuman beralkohol, mereka harus punya ijin khusus dari pemerintah. Dan tak semua restaurant yang memiliki ijin untuk menjual minuman beralkohol boleh menjual minuman pada jam-jam tertentu saja. Misalnya, di daerah Kingscross, tempo hari karena situasi keamanan yang memburuk ditandai banyaknya pertikaian antar pemabuk, pemerintah setempat menerapkan aturan bahwa konsumsi alkohol hanya dibatasi hingga pukul 1 dinihari saja.

    Ada pula aturan di bar yang pernah kukunjungi bahwa mereka hanya boleh menjual alkohol untuk pengunjung yang masuk ke dalam bar. Bagi mereka yang memilih kongkow di teras bar, mereka tak diperbolehkan mengonsumsi alkohol di atas jam sembilan malam. Alasannya? Tak tahu pasti tapi yang jelas terkait dengan alasan kenyamanan dan keamanan lingkungan.

    Orang minum minuman beralkohol, hingga batasan tertentu juga dilarang untuk mengendarai kendaraan di jalan raya. Polisi kerap mengadakan operasi pengechekan secara acak yang dinamakan RBT, Random Breath Test.

    Teknisnya, meski namanya ‘random’ tapi kebanyakan RBT diadakan di akhir pekan atau di hari-hari libur nasional atau di dekat area keramaian yang memperbolehkan seseorang untuk minum minuman beralkohol.

    Mobil akan diberhentikan oleh polisi lalu seorang mendekat dan meminta kita untuk menghitung angka 0 – 10 di dekat alat detektor nafas. Beberapa saat kemudian indikator akan bergerak. Kalau menyentuh level tertentu yang tak diperbolehkan kita akan diminta turun dan mengikuti prosedur hukum berikutnya entah itu denda atau kalau parah bisa juga hukuman kurung badan alias dipenjara. Oh ya, alat pendeteksi RBT juga ada yang menggunakan metode tiup, jadi kita diminta untuk meniup sebuah pipa yang terkoneksi dengan detektor seperti gambar di bawah ini:

    alkohol
    Pipa putih yang dipegang itu yang harus ditiup untuk breath test

    Waduh, kok ribet banget beralkohol di Australia? Katanya negara sekuler? Kok malah kesannya lebih ketat daripada negara agamis?
    Justru karena Australia adalah negara sekuler, pemerintah peduli pada manusia-manusianya, bukan yang lain yang tak kelihatan. Ada dua hal yang coba dilindungi pemerintah dalam hal ini. Pertama, kenyamanan orang untuk menikmati alkohol. Kedua, kenyamanan orang di sekitar penikmat alkohol. Dua-duanya harus bisa dijamin kenyamanannya. Adil, kan?

    Lalu bagaimana cara mengonsumsi alkohol yang aman di Australia? Berapa kisaran harga kemasan minuman-minuman beralkohol? ?Ih kepo amat sih? Ya udah, tunggu aja tulisan berikutnya ya!

    Oh ya, silakan simak campaign tentang Plan B, bagaimana pemerintah Australia mengajak orang yang hendak menikmati alkohol untuk memanfaatkan fasilitas transportasi publik ketimbang membawa kendaraan pribadi. Selengkapnya bisa disimak di sini.

    https://www.youtube.com/watch?v=RGA5v5aaibo

  • Yang penting tahu batasnya…

    Yang penting tahu batasnya…

    Aku tertarik betul dengan clip singkat yang menampilkan sosok seorang penggiat musik, Rudolf Dethu. Coba simak…

    “Yang penting tahu batasnya,” ujar @rudolfdethu. Bagaimana dengan kamu? Bantu kami sebarkan #TahuBatasnya!

    A video posted by BEERGEMBIRA (@beergembira) on Jun 28, 2016 at 11:56pm PDT

    Pesan terkuat dari orang yang pernah semeja ?perjamuan? denganku di sebuah bar tua di The Rock, Sydney beberapa tahun yang lalu itu jelas, ?Kegiatan minum alkohol itu yang penting tahu batasnya.?

    (Kalian bisa lihat beberapa video lain tentang kampanye #tahubatasnya dari beergembira dengan menengok akun instagramnya).

    Tahu batas adalah tanda kedewasaan. Tidak merasa harus dibatasi atau membatasi, orang dewasa bisa melakukan swa-tindakan untuk mencegah diri sendiri ketika hendak keluar batas.

    Aku bukan alkoholik tapi aku kenal alkohol sejak SMP.
    Awalnya coba-coba dan namanya juga anak ingusan, belum tahu batas. Minum sebanyak-banyaknya, batasnya adalah kalau kita jadi tak sadar, batasnya adalah kalau paginya dimarahi Papa dan Mama, batasnya adalah kalau kawan-kawan memberitahuku tingkah-tingkah lucuku ketika tak tahu batas semalam?

    Semakin besar, aku semakin tahu batas.

    tahu batas
    Tahu batas! Yang tak kutahu adalah batas ketampananku… wahahahaha…

    Pindah ke Australia?
    Makin tahu batasnya meski pernah suatu waktu aku lupa batasan!

    Di sebuah pesta kantor yang digelar di kawasan elite Darling Harbour, alkohol disajikan seolah tanpa batas. Dalam acara-acara seperti itu aku bisa menenggak lebih dari 10 botol beer dan itu biasa…

    Tapi semua jadi bencana saat aku memutuskan untuk mengambil segelas wine. Mencampur beer dan wine adalah harakiri dan pamali bagiku. Aku khilaf.

    Benar saja!
    Tak seberapa lama kemudian aku mabuk. Terkapar di atas meja saat acara masih berlangsung. Kepala pening tak keruan dan saat terbangun aku muntah di atas meja, di hadapan kawan-kawan kerja serta petinggi-petinggi perusahaan.

    Senin pagi aku diundang ke ruang manajer. Ia tak sendiri, hadir pula manajernya. Mereka mengungkapkan hal yang separuhnya memalukan tapi separuhnya lagi kusyukuri betul.

    Aku seharusnya mendapat peringatan keras resmi dari kantor atas perbuatan tak tahu batasku dalam pesta kantor malam itu dan aku menerima. Mau gimana lagi, memang salahku tak tahu batas!

    Tapi karena mengingat prestasi kerjaku yang menurut mereka luar biasa, surat peringatan itu disilang di depanku, aku diberi kesempatan sekali lagi. Mereka sambil tersenyum hanya berpesan, ?Lain kali, tahu batas!?

    Sejak saat itu, kalau tak kepepet betul, aku tak pernah minum alkohol. Kalaupun harus, batasanku hanya dua botol atau segelas wine lalu sudah, lalu pulang. Harus pulang kalau tak mau kelewat batas lagi.

    blog_tahuBatasNya_01

    Bersyukur hingga kini, lima tahun sesudah kejadian itu, aku bisa mengerem dan makin mengerti batasanku. Aku semakin dewasa.

    Jadi kalian mau dewasa?
    Kalian harus tahu batasannya karena orang-orang yang tak dewasa adalah orang-orang yang tak tahu batas. Ketidaktahuan terhadap batas terkadang muncul karena dimanjakan oleh aturan-aturan yang membatasi diri.

    Contohnya? Ya Aturan anti minuman keras!?Untuk apa ada aturan seperti itu? Alih-alih mewujudkan generasi resik, yang ada justru generasi yang mati menenggak oplosan dan generasi munafik yang tetap minum alkohol walau diam-diam.

    Mana bisa dewasa?

    Orang miskin mati minum oplosan,
    Politisi busuk mabuk kekuasaan,
    Bangsa munafik koruptor jancuk,
    orang miskin kok dilarang mabuk
    (Orang Miskin Dilarang Mabuk – Libertaria)