Tag: Ahok

  • Ahok yang kian bercahaya dan kebaperan kita

    Ahok yang kian bercahaya dan kebaperan kita

    Tak ada yang lebih disyukuri daripada berita yang dibawa Luhut Panjaitan, Menko Kemaritiman yang juga sahabat Presiden Jokowi itu. Ia mendapat pesan tertulis dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mantan Gubernur DKI Jakarta yang masih mendekam dalam penjara. (Simak di sini beritanya.)

    Ahok, menurut Luhut, tak marah dengan dipilihnya Maruf Amin sebagai pendamping Jokowi dalam Pilpres 2019 nanti. Bahkan, masih kata Luhut, Ahok menyatakan keinginannya untuk bergabung dalam tim kampanye Jokowi-Maruf Amin selepas penjara nanti.

    Kenapa berita itu begitu baik, karena setelah Jokowi memilih Maruf Amin, konon banyak Ahoker (pendukung Ahok) yang kecewa lalu memilih untuk bersikap golput, alias tidak memilih dalam Pilpres 2019 mendatang.

    Bagi kalian yang belum tahu, Maruf Amin yang juga ketua MUI itu adalah orang yang dulu menyetujui dikeluarkannya fatwa terkait kasus Ahok. (baca di sini referensinya)

    Apa yang bisa kita pelajari dari sini?

    1. Potensi Jokowi kehilangan suara dari kalangan Ahokers yang baper akan terkurangi karena Ahok telah menyatakan dukungannya pada pasangan Jokowi – Maruf Amin.
    2. Kejadian ini membuktikan besarnya karisma tokoh ?junjungan? amat mempengaruhi pilihan orang. Ahok adalah tokoh berkarisma. Apa yang dikatakan, diikuti pengikut-pengikutnya. Hal yang sama mengingatkanku pada HRS di kubu sebelah. Pilihannya terhadap pasangan calon bisa menjadi rekomendasi dukungan amat kuat bagi pengikutnya.
    3. Dari poin di atas, kritik bisa kita ajukan pada diri sendiri. Ketika memilih pasangan A atau B karena junjungan kita merekomendasikan hal tersebut, sejatinya kita kurang percaya diri. Kita tak bebas memilih menggunakan akal dan budi, kita mencari referensi pihak luar untuk memutuskan. Hati-hati! Peluang untuk sakit hati perlu diperhitungkan. Kok bisa? Simak poin berikutnya.
    4. Orang yang bertikai saat ini bisa jadi berangkulan demi kepentingan yang sama tak lama lagi. Junjungan yang kali ini memihak A, suatu saat nanti bisa berbalik mendukung B dan sebaliknya. Politik itu cair. Kalau kita terlalu kaku, sakit hati adalah imbalannya.
    5. Makanya memilihlah berdasarkan nilai-nilai yang dibawa pasangan pilihan. Dari nilai itu kita mempertimbangkan dan memutuskan dukungan. Kalau nilai-nilainya sama dengan yang kita anggap akan mampu membawa bangsa dan negara ke arah yang lebih baik ya kita dukung. Ketika nilainya tak sama lagi ya lepaskan dukungan. Atau saat melihat ada pasangan lain yang lebih baik dari sudut pandang nilai itu, tak perlu ragu untuk mengubah arah dukungan.
    6. Hal terbesar yang kupelajari dari semua ini adalah kita diberi kesempatan untuk melihat kedalaman hati Ahok. Ia semakin gemilang dan bercahaya. Dalam bahasa iman, apa yang dilakukan Ahok adalah memaafkan apa yang telah terjadi. Ia juga mengorbankan rasa sakit dan luka hati? (jika masih ada) demi kepentingan yang lebih besar, bangsa dan negara yang begitu ia cintai, Indonesia.

    Jadi, udahan ya baperannya!

    Kembali dukung Jokowi! Kalau memang belum bisa terima juga pada cawapresnya, nanti di TPS yang dicoblos Jokowinya saja!

    Gitu aja kok repot?

     

    Salam Cepret,

     

  • Kamu Ahoker dan belum bisa move on? Baca ini!

    Kamu Ahoker dan belum bisa move on? Baca ini!

    Kamu Ahoker? Sama, aku juga!

    Kamu belum bisa move on karena Jokowi memilih Ma’ruf Amin jadi calon wakilnya? Beda!

    Aku udah move on sejak sesaat setelah aku tahu Jokowi tak memilih Mahfud MD pada detik-detik akhir menjelang pengumuman kemarin.

    Catatan di bawah ini barangkali bisa membantumu untuk bisa move on.

    1. Lewat secarik kertas yang konon dikirim dari balik jeruji penjara, Ahok meminta para loyalisnya untuk menyukseskan Jokowi supaya menang dalam Pilpres 2019. Kamu dan aku termasuk loyalisnya, kan?
    2. Memilih Ma?ruf Amin bukan berarti bahwa Jokowi mengkhianati Ahok! Ahok nggak memusuhi Ma?ruf Amin meski mungkin mereka juga tidak berteman akrab. Adanya anggapan bahwa Ma?ruf Amin ikut membuat Ahok berada dalam pusaran masalah waktu itu juga tak bisa diartikan begitu saja bahwa Ahok akan merasa dikhianati ketika Jokowi memilihnya.
    3. Memilih Ma?ruf Amin juga bukan berarti bahwa Jokowi menganggap Ahok jadi pion yang dikorbankan! Aku percaya Jokowi memilih Ma?ruf Amin menjadi wakil itu pada detik-detik terakhir sebelum pengumuman, sedangkan Ahok dipenjara tahun lalu? Kalaupun ada kaitan antara Ma?ruf Amin dan dipenjaranya Ahok, anggapan bahwa Jokowi mengkhianati Ahok tetap tak bisa kumasukkan ke dalam akal karena waktunya berbeda. Apa iya korban jatuh dulu (Ahok dipenjara) setahun sebelum ?pengkhianatan? terjadi kalau memang pemilihan cawapres dianggap sebagai pengkhianatan?
    4. Memilih Ma?ruf Amin bukan berarti bahwa Jokowi memainkan isu agama dalam meraih kemenangan untuk periode kedua jabatannya. Justru menurutku Jokowi berusaha untuk meredam permainan isu agama dengan menaruh pemuka agama sebagai wakilnya. Pertanyaanku sekarang, apakah dengan menaruh pemuka agama sebagai wakil maka ia otomatis bisa kita anggap memainkan isu agama?
    5. Kalau Jokowi berpihak pada Ahok, ia pasti memilih Ahok jadi cawapresnya! Jokowi barangkali berpihak ke Ahok tapi ia lebih berpihak pada hukum dan konstitusi. Ada aturan yang menyebutkan bahwa mantan narapidana yang pernah terbelit kasus dengan ancaman hukuman minimal lima tahun penjara tak bisa lagi dicalonkan baik jadi presiden, wakil presiden bahkan menteri. (Link di sini) Ahok taat konstitusi, adakah kamu tega mendesak sahabatnya yang bernama Jokowi itu untuk tak taat dan menabraknya?
    6. Golput ah! Eitssss! Mau golput sih bebas Bro and Sis tapi baca ulang poin pertama di atas. Aku punya satu statement ciamik dari seorang Frans Magnis Suseno. Pastor Yesuit itu menyebut bahwa Pemilu diadakan supaya yang terburuk tidak berkuasa. Silakan berhitung mana yang terburuk, Jokowi dengan Ma’ruf Amin atau kubu sebelah lalu pilihlah yang terbaik.

    Jadi masih mau golput?

    Salam Cepret,

     

  • Ahok-Vero? Jangan Kaget!

    Ahok-Vero? Jangan Kaget!

    Apakah kalian sudah mendengar berita gugatan cerai yang diajukan Ahok terhadap istrinya, Vero?

    Jika belum, mari sini kukageti!
    Kaget nggak?
    Enggak?
    Kok nggak kaget sih? Kaget dong!

    Berita gugatan cerai yang diajukan Ahok terhadap Vero adalah kekagetan kedua yang kualami tadi pagi. Yang pertama aku kaget sampai terbangun saat suara geluduk begitu menggelegar di langit kota Sydney sekitar jam 4 pagi.

    Hush! Jangan mengaitkan geluduk itu dengan kabar tentang mereka itu ya! Kaget dan geluduk adalah sesuatu yang wajar meski dalam imanku, perceraian bukanlah satu kewajaran karena apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.

    Jadi kamu kaget? Wajar karena kita ini manusia. Kita kaget karena kita terlanjur percaya dan sering melihat keintiman Ahok-Vero selama ini. Tapi mari kita kembalikan semua itu pada para pelakunya. Bagaimanapun juga Ahok dan Vero sebagaimana halnya kita memiliki privasi yang tak boleh dan tak bisa diganggu-gugat oleh orang lain.

    Pelajaran kekagetan pagi ini juga adalah pelajaran bagi kita supaya lebih terampil mengelola kekagetan dan ini penting sekali.

    Kalau kita mudah kaget, waktu hidup kita yang singkat ini takutnya habis untuk terkaget-kaget. Kita kaget karena mendengar gugatan cerai Ahok terhadap Vero. Karena kaget, kita lantas membagikan berita itu ke orang lain yang juga terkaget-kaget. Kekagetan mereka membuat kalang kabut dan percaya pada hoax-hoax yang lantas dikirim ke kita. Kita yang seharusnya sudah reda kekagetannya jadi terkaget-kaget lagi sehingga tercipta kekagetan yang tiada henti, kekagetan nan abadi!

    Aku jadi ingat apa yang dituliskan Ndorokakung, hidup ini penuh tikungan mengejutkan, kejutan itu kadang tanpa permisi dan tak disangka-sangka.

    So kalem aja?
    Kaget dikit boleh tapi buru-buru sadar bahwa tagihan-tagihan bulanan yang menumpuk, susu anak yang harganya kian membubung dan semuanya itu tak bisa dibayar hanya dengan kekagetan-kekagetan itu?mari kita lanjutkan hidup.

  • Bebas dari penjara, Ahok cocoknya jadi apa?

    Bebas dari penjara, Ahok cocoknya jadi apa?

    Tahun baru tak bersemangat? Semoga tulisan ini membuat kalian terbangun cerah ceria!?Ketahuilah bahwa jika tak ada aral yang melintang, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab dipanggil Ahok itu akan bebas bersyarat tahun 2018 ini!

    Dalam hitungan kasar, menurut rilis BBC, mantan gubernur DKI periode lalu itu sudah akan menjalani dua pertiga masa tahanan pada September 2018. Ditambah dengan remisi hukuman lima belas hari yang didapatnya di Natal 2017, ia bisa bebas merdeka tepat di hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73, 17 Agustus 2018. Indah, bukan?

    Tapi kira-kira apa ya yang akan ia lakukan selepas bebas dari penjara? Berikut adalah perkiraanku yang semoga asyik untuk dibaca?

    # Jadi pendeta

    Ahok jadi pendeta?
    Ahok jadi pendeta?

    Selama di dalam penjara Ahok banyak bergumul dengan buku-buku termasuk buku agama. Membayangkan Ahok berprofesi sebagai pendeta atau penginjil adalah menyenangkan karena selain membagikan intisari buku-buku yang sudah ia baca, Ahok juga bisa sharing pengalaman hidupnya yang pasti amat menarik untuk dibagikan kepada jemaat!

    # Jadi pengusaha

    Ahok jadi pengusaha?
    Ahok jadi pengusaha?

    Sebelum terjun ke gelanggang politik, Ahok adalah seorang pengusaha. Maka, kembali ke dunia profesional/usaha akan jadi pilihan yang nyaman baginya. Siapa yang tak tertarik untuk mengangkat Ahok menjadi salah satu direktur perusahaan? Atau, siapa yang tak tertarik membeli produk/jasa yang dijual oleh Ahok, gubernur DKI yang piawai itu?

    # Pindah ke luar negeri

    Ahok pindah luar negeri?
    Ahok pindah luar negeri?

    Sebelum terjun ke dunia politik, Ahok konon pernah berpikir untuk pindah ke Kanada.? Tapi atas saran ayahnya ia mengurungkan niat itu. Setelah lepas dari penjara, pindah ke luar negeri dan berdomisili di sana bukanlah pilihan buruk bagi Ahok dan keluarga. Janganlah diartikan bahwa pindah ke negeri lain itu tanda ketidakcintaan dia terhadap Indonesia. Mencintai Tanah Air pun bisa dilakukan dari jauh, malah berdasarkan pengalamanku yang sudah tinggal sembilan tahun di luar negeri, rasa cinta terhadap Tanah Air kian besar dibumbui kangen dan rindu yang menumpuk tinggi!

    # Jadi pendidik

    Ahok jadi pendidik?
    Ahok jadi pendidik?

    Seperti pendeta namun dalam kerangka yang lebih luas tanpa sekat, Ahok cocok juga jadi pendidik atau malah mendirikan sekolah/universitas untuk melahirkan para pemimpin yang mumpuni yang alergi terhadap korupsi, tak gentar melawan ketidakadilan dan berjuang demi rakyat banyak. Siapa mau daftar jadi siswa/mahasiswanya?

    # Jadi tokoh sosial

    Ahok jadi tokoh sosial?
    Ahok jadi tokoh sosial?

    Atau barangkali mendirikan yayasan sosial bisa dipakai Ahok untuk berkegiatan selepas dari penjara. Misalnya mendirikan yayasan untuk para korban gusuran, para penderita penyakit akut atau yang lainnya.

    # Jadi presiden

    Ahok jadi presiden?
    Ahok jadi presiden?

    Hah! Serius? Kalian ingin Ahok jadi gubernur lagi? Kalau menurutku sih nggak perlu! Ahok kan sudah pernah jadi gubernur yang amat sukses masa sih perlu mengulang hal yang sudah ia lakukan dengan amat baik itu? Naik kelas dong! Jadi menteri, wakil presiden atau bahkan presiden? Itu baru seru!

    Gimana menurut kalian?

  • Ahok, Si Pengusir  ?pedagang anggaran? dari ?Bait Rakyat?

    Ahok, Si Pengusir ?pedagang anggaran? dari ?Bait Rakyat?

    Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ.
    (Lukas 19:45)

    Yesus mengusir pedagang yang berjualan di Bait Alah. Serunya, ??Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.? (bdk Lukas 19:46)?Lukas tak melaporkan bagaimana reaksi para pedagang itu, tapi yang kubayangkan tentu bersungut-sungut, marah dan? dendam.

    Uniknya, orang-orang makin hari makin banyak yang datang dan terpikat ke pengajaranNya. Hal ini membuat para pendendam itu kehilangan akal untuk mencelakaiNya.

    Apa yang tertulis dalam Kabar Baik hari ini mengingatkanku pada sosok Ahok.

    Ahok mengusir ?para pedagang anggaran? dari ?bait rakyat?. Rumah yang seharusnya dijadikan orang-orang yang merasa dirinya mewakili rakyat bekerja untuk para konstituennya.

    Anggaran dipangkas habis-habisan, tak meninggalkan celah untuk kong-kalikong korupsi, meninggalkan gerutuan dan dendam.

    Ahok
    Credit photo: Sea Globe

    Tapi Ahok tak ditinggalkan warganya. Justru makin banyak yang suka kepadanya karena apa yang dilakukan membawa begitu banyak perubahan di Jakarta.

    Beberapa tahun setelah berkuasa, Ahok kalah dalam Pilkada dan dijebloskan dalam penjara. Beberapa hari sesudah mengusir para pedagang, Yesus ditangkap dan juga dipenjarakan meski semalam karena keesokan paginya, Ia didera, disalib hingga mati.

    Kawan, di bawah matahari yang sama, konon tak ada lakon cerita yang benar-benar baru sama sekali. Yang ada hanyalah perulangan meski dengan pelaku-pelaku yang berbeda. Ahok tentu bukan Yesus tapi apa yang ia lakukan meneladani Sang Guru, dua ribu tahun sebelumnya.

    Sama seperti Yesus dan Ahok, kitapun diundang untuk tetap kritis terhadap keadaan dan berpegang pada nilai-nilai kebenaran. Meski resikonya besar dan berat dan terkadang membinasakan, sayangnya kita tak punya pilihan! Ingin diselamatkan dan dibenarkan Tuhan, kita harus jadi orang benar!

    Benar, kan?

    Sydney, 24 November 2017

  • Kawah Candradimuka

    Kawah Candradimuka

    Aku mendapatkan kiriman tulisan dari Mas Datuk Sweida Zulalhamsyah, kakak kelasku di SMA Kolese De Britto, yang pernah kuwawancarai di blog ini melalui WhatsApp siang tadi. Saat istirahat makan, akupun membacanya lalu jatuh iba…

    Tulisan itu karya Mbak Cindita Ginting, istri Mas Datuk, yang berkisah tentang kunjungannya bertemu dengan sosok yang meski tak disebutkan secara langsung tapi sepertinya sosok tersebut adalah Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI Jakarta yang saat ini mendekam di penjara untuk menuntasi hukuman badan karena kasus yang menimpanya beberapa tempo yang lalu.

    Atas seijin Mas Datuk, aku mempublikasikannya di blog ini. Simak selengkapnya…

    KAWAH CANDRADIMUKA

    “Pisang garing, silakan dicoba. Saya pesan langsung dari orang kampung kami. Ini resep asli, pasti dia kangen makanan ini,” Ibu separuh baya itu mengulurkan bungkusan hijau daun pisang.

    Saya mengenal penganan itu sebagai nagasari, tidak istimewa benar, tapi raut wajahnya yang ragu membuat saya tercenung. Tangannya terlihat gemetar merapikan wadah kue yang dipersiapkannya untuk beliau. Kegelisahannya sama dengan apa yang memenuhi dada saya. Kami duduk bersisian di sebuah restoran cepat saji, beberapa ratus meter jaraknya dari Mako Brimob. Setelah beberapa waktu sebelumnya tertunda, penuh harap saya menunggu saatnya.

    Selanjutnya semua terasa cepat. Seolah tiba-tiba, saya memasuki ruangannya. Beliau berdiri di depan pintu mengenakan kaus polo biru tua, celana panjang warna khaki, sepatu hitam dan kaca mata khasnya. Tinggi, bugar dan wajahnya bersih. Genggam tangannya terasa hangat.

    Beliau mempersilakan kami duduk dan sempat kerepotan memilih kursi yang akan didudukinya, karena nyaris terisi penuh oleh rombongan kami.

    “Banyak nih. Ada berapa orang? Tadi berapa mobil?” begitu tanyanya dengan senyum. Dan selanjutnya mengalir cerita soal otomotif. Beliau berkisah soal kiatnya agar bisa mengendarai mobil termasuk mobil mewah tanpa perlu membeli serta mengeluarkan uang untuk bensin dan parkir.

    Saat studi S2 di Prasetya Mulya, ia mencari teman kuliah yang bertempat tinggal di sekitar rumahnya, lantas menawari untuk berangkat bersama-sama. Ia menyupiri dan sang teman duduk tenang belajar di sebelahnya, kedua belah pihak happy.

    Sejak lama teman-temannya mahfum akan hobbynya ini, karena itu jika ada perjalanan beramai-ramai ke luar kota, sudah pasti ia berada di belakang kemudi. Termasuk saat ada keluarga teman bermain basketnya yang membeli mobil, ia orang pertama yang didaulat untuk mencoba si mobil baru.

    “Paling enak kalau beli mobil bekas test drive, diskonnya besar,” begitu ia melanjutkan cerita.

    “Sebenarnya saya sudah tanya-tanya show room, mau beli mobil bekas test drive. Dan sudah dapat harga cocok, tapi saya pikir tunggu dulu. Nanti aja bulan Oktober saja saya belinya. Eh…. nggak taunya, sekarang saya malah di sini,” tawanya berderai.

    Dada saya terasa ngilu sesaat. Tapi ia malah melanjutkan dengan jenaka. “Nanti keluar dari sini saya mau jadi Comedian, sudah banyak cerita lucu yang saya kumpulkan, buktinya dari tadi anda semua tertawa-tawa. Saya akan pasang harga mahal untuk ticket Stand Up Comedy saya.”

    Ia lantas bercerita bahwa pengalaman saat ini sebenarnya sudah pernah dilaluinya dalam bentuk yang berbeda. Ketika itu ia harus mengurus pabrik milik keluarga di kampung halamannya. Sebagai orang muda, meninggalkan Jakarta dan kembali ke kampung yang sepi merupakan “siksaan” tersendiri, tak henti-hentinya ia menyesali diri. Hingga suatu saat temannya dari Jakarta datang berlibur dan mengungkapkan betapa bahagianya jika bisa melihat pantai Bilitung yang indah setiap hari. Betapa beruntungnya orang-orang yang tidak harus berjibaku dengan keruwetan hidup di Jakarta. Beliau kemudian menyadari bahwa kita sering kali menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain, padahal tiap fase hidup punya arti dan tujuan tersendiri.

    Jika selama ini dia selalu dikejar waktu dan tugas susul-menyusul nyaris tanpa jeda, maka sekarang saatnya dia beristirahat beberapa waktu.

    Melihat tumpukan surat titipan teman-teman yang kami bawa, Ia lalu bercerita tentang aktifitas membalas surat yang harus dilakukan mirip ban berjalan di pabrik mobil. Petugas meregistrasi surat-surat masuk dalam seminggu dan ada hari-hari khusus buat dia untuk membalasnya. Tidak boleh tidak, surat-surat harus dibalas sesuai jadwal. Jika tidak, akan terjadi penumpukan dan nantinya malah lebih repot. Isi surat bermacam-macam, mulai dari seorang
    kakek yang mengeluh karena nenek tiap kali menangis jika melihat berita di tivi tentang beliau, anak kecil yang menceritakan Ibunya menjadi malas memasak akibat memikirkan beliau hingga berita gembira seorang remaja yang sebelumnya termenung setiap hari, setelah menerima balasan surat dari beliau, intensitas termenungnya menjadi jauh berkurang.

    Ketika seorang anggota rombongan kami mengulurkan post card bergambar Simpang Susun Semanggi dalam balutan cahaya warna-warni lampu jalan, dia terbelalak.

    “Ini siapa yang foto? Bagus banget. Ini diambil waktu uji coba ya? Hebat nih yang foto,” raut wajahnya sumringah??

    Saya tercekat. Saya ingin mengatakan bahwa Simpang Susun Semanggi itu legacy beliau. Beliaulah yang hebat! Tapi bahkan dia sendiri tak sedikitpun menunjukkan sikap berlebih. Tak ada tutur jumawa, tak ada raut wajah berbangga diri. Sudut mata saya membasah, tapi hati saya terasa hangat.

    Rasa hormat saya bertambah. Saya menyimpan harap pada ketegaran, semangat dan energi positif yang tetap terpancar kuat, sekalipun dirinya sendiri sedang berada pada titik nadir. Dia tetap seorang petarung!

    Waktu berjalan cepat. Langkah kaki saya terasa ringan menuju kendaraan, walau terik matahari membakar. Konon di balik matahari, di negeri khayangan ada kawah Candradimuka yang panasnya jauh melebihi api, di mana bayi Tetuko, anak Bima digembleng hingga menjelma menjadi Gatotkaca, ksatria kuat, berotot kawat dan bertulang besi.

    Semesta tengah menjalankan tugasnya. Beliau sedang digembleng di kawah Candradimuka, belajar mengurai sasmita alam dan menerima titahNya sepenuh jiwa tanpa perlu bertanya apa-apa.

    Siapa yang mampu menahan putaran waktu? Pada saatnya nanti segalanya akan paripurna. Saya menantikan saat itu. Penantian saya, penantian kami, tidak akan berujung sia-sia.?

    (Cindita Ginting, 25 Juli 2017)

    Tulisanku yang berisi wawancara dengan Mas?Datuk Sweida Zulalhamsyah bisa disimak di sini.

  • Ahok mengembalikan dana operasional, kejujuran biasa yang tampak jadi istimewa. Kenapa?

    Ahok mengembalikan dana operasional, kejujuran biasa yang tampak jadi istimewa. Kenapa?

    Setelah memutuskan untuk membatalkan banding, Ahok kabarnya mengirimkan surat pengunduran diri sebagai Gubernur DKI Jakarta kepada Presiden yang juga adalah pasangannya saat maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 silam, Joko Widodo.

    Tak hanya itu, setelah mundur, Ahok juga mengembalikan uang Biaya Penunjang Operasional (BPO) bulan Mei 2017 sebesar Rp 1.287.096.775,00.

    Adakah yang istimewa?
    Tidak! Kejujuran sebenarnya tidaklah istimewa tapi karena jaman yang gulirannya sudah menjadi seperti sekarang ini, kejujuran-kejujuran yang ditunjukkan terpidana tindak penistaan agama yang harus mendekam dalam penjara selama dua tahun tersebut jadi tampak gilap-gemerlap.

    Peluang untuk menjadi orang yang gemerlap seperti Ahok sejatinya mudah, perkaranya kita mau atau tidak? Berdiri tegak untuk nilai-nilai luhur seperti kejujuran atau memilih meringkuk tenggelam dan ikut arus?

    Berikut adalah copy surat pengunduran diri dan surat penyerahan dana penunjang tersebut.

    Aku (mencoba berbuat seperti) Ahok! Kamu?

    Surat pengembalian Biaya Penunjang Operasional (BPO)
    Surat pengunduran diri sebagai Gubernur DKI Jakarta
  • Ahok: Gusti Ora Sare!

    Ahok: Gusti Ora Sare!

    Ahok membatalkan permohonan bandingnya kemarin dan pagi tadi, Veronika Tan, istrinya, di depan para wartawan yang berkumpul, membacakan surat yang ditulis tangan oleh Ahok yang selengkapnya adalah sebagai berikut:

    Rumah Tahanan Depok, Minggu 21 Mei 2017
    Kepada para relawan dan pendukung Ahok yang saya cintai, semua mereka yang telah menjalankan proses demokrasi di mana pun berada.

    Saya telah banyak berpikir tentang kejadian yang saya alami. Saya mau berterima kasih kepada saudara-saudara yang terus mendukung saya dalam doa. Kiriman bunga, makanan, kartu ucapan, surat, buku-buku bahkan berkumpul dengan menyalakan lilin.

    Saya tahu tidak mudah bagi saudara menerima kenyataan seperti ini. Apalagi saya. Tetapi saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini. Jika untuk kebaikan kita dalam berbangsa dan bernegara.

    Alangkah ruginya warga DKI dari sisi kemacetan dan kerugian ekonomi. Akibat adanya unjuk rasa yang mengganggu lalu lintas, tidaklah tepat saling unjuk rasa dan demo dalam proses yang saya alami saat ini. Saya khawatir banyak pihak akan menunggangi jika para relawan unjuk rasa, apalagi benturan dengan pihak lawan yang tidak suka dengan perjuangan kita.

    Terima kasih telah melakukan unjuk rasa yang taat aturan dan menyalakan lilin perjuangan konstitusi ditegakkan di NKRI dengan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.

    Mari kita tunjukkan bahwa kita percaya, Tuhan tetap berdaulat dan memegang kendali sejarah setiap bangsa. Kita tunjukkan bahwa kita adalah orang yang beriman kepada Tuhan YME, pasti mengasihi sesama manusia, pasti menegakkan kebenaran dan keadilan bagi sesama manusia.

    Gusti Ora Sare..
    Put your hope in the Lord now and always. Mazmur 131 ayat 3.

    Kalau dalam iman saya, saya katakan: The Lord will work out his plans for my life, Mazmur 138 ayat 8a.

    Ahok BTP.

    Ada beberapa poin menarik yang hendak kuangkat di sini.

    Pengakuan atas dukungan dan belarasa

    Ahok menyatakan terima kasih atas dukungan yang diberikan para relawan di berbagai daerah baik di dalam maupun luar negeri yang dalam beberapa minggu terakhir ini telah menyuarakan ‘Justice for Ahok’. Ia juga menghargai belarasa yang diberikan oleh para pendukung atas ‘lakon hidup’ yang sedang ia laluinya itu.

    Foto rally ‘Justice for Ahok’ di Sydney

    Bagian yang paling menarik sebenarnya adalah pada kata ‘mengampuni’! Ahok jeli benar ada banyak pendukungnya yang sakit hati atas vonis yang dianggap tidak adil, atas perlakuan ‘lawan’ yang memojokkan. Dengan besar hati, Ahok secara tidak langsung juga mengajak kita untuk ‘mengampuni’, tak mendendam dan terus fokus pada perjuangan ke depan!

    Nah, di titik ini, sudahkah kalian baca tulisanku tentang Hendra Ong yang memaafkan pemilik Willis Canteen yang dianggap menghina ras dan agama tertentu serta menyudutkan kelompok tertentu pula? Kupikir Hendra telah berusaha melakukan apa yang dikehendaki Ahok ini yaitu mengampuni…

    Alasan pembatalan banding

    Ahok juga menyatakan alasan pembatalan banding yang semula telah diajukan tim pengacaranya itu.

    Alasan pertama dan yang utama kupikir adalah kekhawatirannya jika ada pihak yang menunggangi para relawan yang diperkirakan akan berunjuk rasa saat sidang banding diadakan. Benturan-benturan dirisaukan akan terjadi dengan pihak lawan yang tidak suka dengan perjuangan kita. Di titik ini, Ahok menempatkan diri dan pendukungnya pada posisi berbeda dengan ‘lawan’

    Tapi, menariknya, pada alasan kedua, Ahok tak membedakan pendukung dan lawan. Ia merangkum dalam satu kesatuan, ‘Warga DKI’. Ia berpikir jika ada demo akan melahirkan kemacetan dan kerugian dari sisi ekonomi, mungkin ia berpikir karena orang-orang berdemo maka aktivitas ekonomi akan terhenti. Bagiku ini seperti menampar para ‘manajer-manajer’ demo terdahulu di pihak ‘lawan’ yang demen bermain ‘kombinasi angka’ untuk menamai aksi-aksinya itu. Mereka turun berjuta-juta banyaknya tanpa mempedulikan aktivitas ekonomi yang terhambat dan kemacetan yang mungkin terjadi karenanya!

    Ajakan dan Landasan Iman

    Ahok juga menunjukkan itikad baik untuk menjaga supaya para relawan tetap menandang semua ini sebagai hal yang sudah digariskan Tuhan. Tak lupa ia menggunakan istilah terkenal Jawa, ‘Gusti ora sare‘ yang berarti Tuhan tidak tidur. Aku, sebagai orang Jawa tulen, terharu di titik ini. Perkawanannya dengan Djarot, wakil gubernur yang sekarang jadi PLT Gubernur DKI telah membuatnya mengenal budaya Jawa sedikit-demi-sedikit.

    Tak lupa ia juga menyertakan ayat Kitab Suci, sesuatu yang kuyakin kini makin sering ditekuni Ahok dalam sel tahanannya.

    Ada dua ayat yang ia tampilkan.

    Pertama,
    Mazmur 131:3
    Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

    Kedua,
    Mazmur 138:8a
    TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

    Aku tak tertarik untuk menafsirkan, biarlah kalian menafsirkan hal tersebut dalam pikiran dan hati kalian terkait dengan perjuangan Ahok ini.

    Saya Ahok! Kamu?

    Simak tulisan-tulisanku lainnya tentang ‘Ahok’ di sini

    GUSTI ORA SARE!
    Mari miliki kaos ‘Gusti Ora Sare’ dengan desain di bawah ini hanya 12 buah, warna hitam, bahan kaos Gildan Premium!

    Daftarkan dirimu secepatnya di sini!

  • Ahok boleh dipenjara, kitalah yang melanjutkan bara…

    Ahok boleh dipenjara, kitalah yang melanjutkan bara…

    Kabar Baik Hari Ini, 23 Mei 2017

    Yohanes 16:5 – 11
    tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi?

    Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita.

    Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.

    Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.

    Renungan

    Aku tertarik dengan penggalan Kabar Baik berikut ini,

    Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.

    Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;

    Yesus naik ke surga lalu Roh Kudus, Roh Penghibur yang juga adalah Roh Kebenaran hadir dan tinggal di dalam diri kita untuk mewartakan namaNya.

    Semalam Ahok memutuskan untuk tidak mengajukan banding, sesuatu yang sejatinya menyedihkan karena banding adalah satu-satunya upaya hukum untuk membuktikan bahwa ia tak bersalah atas tuduhan penodaan agama yang ditujukan kepadanya.

    Tapi sudahlah, kita hormati keputusannya dan keluarganya sambil terus mendoakan dan penggalan Kabar Baik di atas hari ini mengingatkanku bahwa mungkin memang ada baiknya Ahok memutuskan untuk tak banding apapun pertimbangannya.

    Kenapa? Supaya kita, para pendukungnya, bisa ‘sejenak melupakannya’ lalu melanjutkan hidup dengan terus membawa semangat-semangat kebaikan yang pernah dilakukannya, ditunjukkanya selama memimpin ibukota Jakarta.

    Tentu aku tak hendak menyamakan Ahok dengan Yesus, tapi aku percaya diluar kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya sebagai manusia, Roh Kebenaran ada dalam diri Ahok, pribadi yang dipakai Tuhan untuk mewartakan kasihNya melalui pelayanan yang luar biasa kepada segenap masyarakat baik yang membenci maupun yang mendukungnya.

    Jadi, bagaimana?
    Yuk kita sudahi kedukaan ini. Kita lanjutkan bara perjuangan untuk mengasihi sesama di lingkungan kita masing-masing.

  • How ‘Ahok’ are you?

    How ‘Ahok’ are you?

    Ahok mencabut bandingnya? Ya sudah, tak apa-apa. Itu haknya sebagai warga negara. Kita hormati saja dan percaya bahwa itu adalah yang terbaik setidaknya menurut Vero, istrinya, dan anak-anaknya dan menurut Ahok sendiri.

    Jadi tak perlu berasumsi ataupun sok menganalisa apa yang terjadi dibalik keputusan Ahok itu karena tak semua harus dianalisa dan diasumsikan begitu. Tak perlu mereka-reka jangan-jangan ini karena skenario si A, atau jangan-jangan ini adalah upaya cerdik Ahok untuk menghindari permainan Si B atau Si C atau Si Anu dan Si Itu!

    Justru berpikirlah begini, bahwa Ahok pun sudah move on dan rela untuk mencabut hak bandingnya dan mendekam di penjara untuk setidaknya dua tahun ke depan, kenapa kita belum?

    Mari kita lanjutkan hidup ini dan mengambil pelajaran apa yang bisa kita tarik dari rentetan peristiwa ini. Kalau kita mengaku mengagumi Ahok, ini adalah saat yang tepat untukmu membuktikan ‘How ahok are you?’

    Ayo bangkit!
    Teruskan semangat-semangat ‘ahokisme’ dan pekerjaan baiknya! Jadilah ‘ahok-ahok’ yang baru yang berguna bagi masyarakat dimanapun kalian berada. Hanya dengan begitu maka perjuangannya tak sia-sia.

    How Ahok are you?
    Den, kopinya diseruput dulu, Den!

  • Tentang kasus warung gado-gado di Sydney yang heboh itu…

    Tentang kasus warung gado-gado di Sydney yang heboh itu…

    Aku juga kaget waktu melihat sebuah posting di The Rock ada yang membahas tentang bagaimana seorang pemilik warung masakan asli Indonesia menuliskan status di akun social media yang berisi kebencian terhadap sebuah kelompok. Ia mengatai para Ahokers adalah anjing! (Aku menghargai usaha founder The Rock untuk menghapus postingan tersebut)

    Yang lebih mengagetkan lagi, ketika melihat ke sekujur wall-nya, nada-nada kebencian yang dilontarkannya tak hanya terkait pada kelompok tertentu tapi juga suku dan ras serta pemeluk agama tertentu pula!

    Hal ini menerbitkan banyak ‘padahal’ dalam pikirku karena mengejutkan.

    Padahal orangnya sangat baik dan hangat. Setiap kali aku datang, dia selalu melongok ke luar lalu menyapa, “Apa kabar, Pak? Dari gereja?” Kebetulan aku selalu ke sana sepulang dari gereja di minggu siang bersama keluarga.

    Padahal anak-anaknya juga ramah-ramah. Mereka sering mengajak main Odilia dan selalu memberikan kami kerupuk ekstra karena tak ada dari kami yang tak suka kerupuknya.

    Padahal masakannya juga enak! Aku paling suka gado-gadonya! Selain porsinya ‘munjung’, cara masak dan konon bumbunya adalah bumbu asli Indonesia. Sambelnya diuleg tidak diblender seperti kebanyakan warung-warung sini menghidangkan gado-gado.

    Ini gado-gado buatannya…
    Ini kerupuk bonus yang biasa diberikan anak-anaknya yang baik dan ramah…

    Padahal.. dan ini adalah ‘ke-padahal-an’ yang paling seru… padahal istrinya adalah keturunan ras tertentu dan beragama tertentu pula yang ternyata di dalam akun facebooknya selalu dijadikan sasaran kebenciannya!

    Reaksiku kemarin awal-awalnya juga sama. Tak percaya! Marah dan menganjurkan boikot karena pemiliknya ternyata adalah seorang rasis!

    Tapi lantas aku berpikir, kita selalu mengatai pihak seberang sebagai orang-orang yang bersumbu pendek jadi bukankah seharusnya kita memiliki yang lebih panjang; pikiran yang lebih panjang dan sumbu sabar yang lebih panjang pula?

    Yang harus lebih pendek dari mereka hanyalah kemarahan. Kita boleh marah tapi jangan lebih panjang dari kependekan otak mereka!

    Melawan tentu boleh bahkan satu bentuk keharusan! Tapi lawanlah dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

    Beri review buruk di facebook page atau dimanapun profil warungnya ada! Tapi jangan lupa gunakan kata-kata yang baik karena kita ini manusia baik-baik meski di-anjing-anjing-kan olehnya. Tak perlu menghujat karena kita bukan mereka dan justru merekalah yang seharusnya belajar banyak menjadi seperti kita, kan?

    Masih belum puas?
    Berkunjunglah ke warungnya. Sampaikan kepadanya, secara baik-baik pula, bahwa apa yang dituliskan itu menyakiti kita semua. Kalau ia sadar dan menyampaikan maaf, beri waktu untuk berubah.

    Tapi kalau tidak, ya sudah tak perlu didatangi lagi karena kita memang tak layak mendatangi orang yang seperti itu terlebih ketika kita hidup di Australia, negeri yang mencintai perbedaan dan menerima keanekaragaman meski tak bersemboyankan Bhinneka Tunggal Ika.

    Aku sendiri berpikir untuk menghadiahkan kaos Ahok seperti di bawah ini kepadanya secara cuma-cuma. Bukan sebagai apa-apa, aku hanya ingin memberi tahu bahwa sekelas anjing pun masih bisa berbuat baik kepadanya. Lantas kalau demikian, kelas apakah dia sebenarnya?

    Bagaimana menurut kalian? Ide yang brilian, kan?

    Keterangan: Kaos ‘Ahok’ diproduksi oleh ‘Politik’ brand merchandise ‘politik’. Ikuti dan ‘like’ pagenya di sini!

    Simak update terbaru:

    Kisah Hendra, berkunjung ke Willis Canteen siang ini, makan dan memaafkannya! Saat aku baru berani menulis, saat yang lain belum berhenti mencela, Hendra menunjukkan karya nyata! Ia mendatangi Willis Canteen, makan seperti biasa, memaafkan dan berfoto bersama!

    Kenapa kita tidak seperti dia? Mari memaafkan dan kembali menikmati hidangan lezat di kantin sana. Simak wawancaraku dengan Hendra Ong di sini:

    Kisah Hendra, berkunjung ke Willis Canteen siang ini, makan dan memaafkannya!

  • Justice For Ahok, terima kasih panitia!

    Justice For Ahok, terima kasih panitia!

    Rasa hormat dan terima kasih harus kusanjungkan kepada seluruh rekan panitia yang kemarin (14/05) telah bekerja keras untuk mempersiapkan dan mengadakan acara Justice For Ahok di Botanical Garden, Sydney.

    Secara pribadi, meski hanya sebagai peserta, aku merasa bangga jadi bagian dari acara besar itu. Belum pernah aku bertemu dengan sesama orang Indonesia sebanyak itu di Sydney. Bayangkan, lebih dari dua ribu (konon ada yang berani menyebut hingga tiga ribuan!) berada di satu tempat di luar negeri untuk hadir dalam sebuah acara ke-Indonesia-an itu rasanya bikin merinding disko, Bro!

    Hadir dalam acara sebesar itu membuatku mengulas kembali kenangan saat dulu pernah membantu mengurusi acara kampanye Jokowi – ** (maaf, aku tetap tak mau menyebut nama wakilnya hehehe) yang kami adakan pada 29 Juni 2014 dan ketika itu dihadiri oleh sekitar 300 ‘anak bangsa’… sepersepuluh yang hadir kemarin tapi… kami toh waktu itu sudah seneng banget!

    Lalu ketika pulang semalam, aku berpikir kenapa acara yang kami adakan dulu ‘hanya’ dihadiri oleh 300 anak bangsa sedangkan kemarin ada sekitar 3000-an orang lebih yang datang?

    Sekadar iseng, beberapa poin berikut ini mungkin bisa jadi rujukan pembanding keduanya.

    #1 Isu

    poster tahun 2014

    Isu tahun 2014 adalah isu Pemilihan Presiden (Pilpres). Bagi sebagian orang, Pemilu seheboh apapun adalah sesuatu yang periodik, berulang meski tiga tahun lalu, Jokowi hadir sebagai simbol ‘rakyat biasa’ sudah mulai tereskalasi tapi tetap saja, itu hanyalah Pemilu.

    Sebaliknya, isu kemarin adalah isu yang menurutku tak biasa. Ahok yang baru saja kalah dalam Pilkada DKI Jakarta dan menjadi simbol minoritas masuk penjara karena dakwaan menista agama.

    Bagi sebagian yang hadir mungkin ada yang menitikberatkan agenda acara pada ‘membela Ahok’ meski ada juga yang datang untuk mengambil posisi yang lebih umum dan mencoba merangkum banyak pihak; demi NKRI, demi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, penghapusan hukum penistaan terhadap agama, dan lain-lainnya.

    Nah, isu yang luar biasa ini mampu tak hanya menerbitkan minat tapi juga urgensi bagi Warga Negara Indonesia maupun simpatisan Indonesia di Sydney untuk hadir dan berkumpul.

    #2 Online community

    Acara kemarin juga tak lepas dari peran dua komunitas Facebook ‘Indonesia-Australia’, The Rock dan Ausindoz.

    Hingga saat tulisan ini kurawi, Ausindoz memiliki anggota sebanyak 16.879 sedangkan The Rock hampir dua kali lipatnya, 30.449! Pada dua komunitas besar ini pengumuman acara Justice For Ahok diadakan.

    Itu baru Facebook! Belum lagi WhatsApp Group (WAG) ke-Indonesia-an yang menyebar serta ditambah beberapa gelombang-gelombang kecil seperti yang kulakukan melalui blog ini dalam tulisan beberapa hari yang lalu di sini.

    Tahun 2014 dulu, kami justru membuat halaman Facebook setelah memiliki rencana untuk bertemu dan bukannya sebaliknya, punya komunitas Facebook dulu baru membuat acara.

    Aku tak tahu kapan The Rock dan Ausindoz berdiri tapi yang kuingat, tahun 2014 dulu, kami panitia belum mengenalnya jika memang keduanya sudah ada.

    WhatsApp Group seingatku dulu juga belum semewabah sekarang penggunaannya.

    #3 Lokasi

    https://youtu.be/Hy5C1I_OF1I

    Tahun 2014 dulu kami memutuskan untuk mengadakan kampanye tepat di muka Sydney Opera House. Kami sudah mengurus ijin beberapa hari sebelumnya tapi toh polisi tetap akhirnya membubarkan acara karena yang kami perkirakan hanya 50 orang saja nyatanya yang hadir sekitar 300an!

    Pilihan untuk mengadakan kampanye di depan Sydney Opera House setelah dipikir-pikir ternyata memang bukan pilihan yang tepat.

    Kenapa? Gedung tersebut adalah landmark kota Sydney, tempat yang menjadi tujuan wisatawan dalam dan luar negeri. Kehadiran kami waktu itu, meski tak mengganggu keamanan tapi barangkali membuat yang lain merasa tak nyaman. Kami berorasi, membacakan deklarasi, bersorak dan bernyanyi ‘Salam Dua Jari’!

    Acara kemarin diadakan di Botanical Garden, taman memanjang yang luasnya sekitar 30 hektar!

    Meski titik kumpul kami adalah Sydney Opera House, tapi kami sejak awal diarahkan untuk masuk ke dalam Botanical Garden, berjalan terus hingga hampir sampai di Macquarie’s Chair.

    Menurutku pemilihan Botanical Garden sebagai tempat pelaksanaan acara adalah pilihan yang tepat yang memungkinkan para peserta untuk datang, berkumpul dan memulai acara terkait luasnya area membuat kehadiran kami tak langsung membuat perhatian pihak keamanan terlepas apakah mereka sudah mendapatkan ijin atau belum dari pihak berwajib.

    Hal ini berbeda dengan tahun 2014. Mungkin karena sudah berijin, polisi jadi siap siaga dan ketika jumlah yang hadir sudah lebih dari total jumlah yang diijinkan (kalau tak salah 50 orang) mereka langsung membubarkan saat acara masih berjalan sekitar 15 menit padahal yang sedang berjalan menuju ke venue pun masih banyak dan kuyakin lebih banyak dari yang sudah hadir.

    Tapi toh demikian, waktu itu kami berkeputusan untuk menuruti kemauan polisi karena yang terpenting, acara pembacaan deklarasi dukungan sudah direkam dan beberapa jam kemudian kukirimkan ke banyak media mainstream di Indonesia untuk disebarluaskan.

    credit photo: Yenfang

    Sedangkan kemarin, acara bisa berlangsung hingga lebih kurang 30 menit sebelum bubar dan diisi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan lainnya, memanjatkan doa singkat serta… foto-foto!

    So, sekali lagi, selamat dan salut untuk panitia! Mengurus tiga ribuan anak bangsa yang hadir tentu tak mudah sama-sekali. Semoga di waktu-waktu yang akan datang, hal-hal seperti ini bisa diulangi lagi, lebih besar lagi dan lebih terkoordinir lagi demi Indonesia dan demi rasa cinta kita terhadap Tanah Air dan Bangsa!

    Salam dua jari!

    Simak tulisanku sebelumnya, Dua ribu anak bangsa mendobrak lantai surga?dan tulisan yang kurawi tiga tahun lalu tentang kampanye ‘300 anak bangsa’ di Sydney Opera House

  • Dua ribu anak bangsa mendobrak lantai surga

    Dua ribu anak bangsa mendobrak lantai surga

    Awalnya aku tak tertarik sama sekali untuk ikut-ikutan acara ‘Ahok‘ karena bagiku Indonesia adalah ‘beyond Ahok’, lebih dari sekadar Ahok.

    Tapi dinamika politik terkini Tanah Air membuatku mulai berpikir, kenapa tak ikut? Ahok memang tidak merepresentasikan Indonesia tapi hukuman yang ia terima serta ekses yang muncul disana-sini, bukankah itu cukup mengguncang dan setidaknya headline berita-berita dan percakapan social media pekan lalu penuh dengan nada pesimis, penuh kekuatiran seolah kehilangan daya hidup yang lebih baik lagi seperti biasanya? Apa yang bisa kukerjakan?

    Akhirnya akupun mulai mencari tahu kapan ada acara ‘Ahok’ di Australia terutama di Sydney?

    Seorang kawan lama mengabari, “Minggu, jam 4 sore di Sydney Opera House…” A-ha! Tapi sayang jadwal pelayanan musik di Gereja bertepatan dengan acara tersebut. Ya sudah, apa mau dikata?

    Tapi semua seperti sudah digariskan Tuhan. ?Sabtu sore, Linggar, kawanku duet dalam pelayanan di Gereja mengabari bahwa entah bagaimana pastor paroki setempat ternyata salah memberi jadwal kepada kita. “Ternyata yang main harusnya grup lain. Jadi kita nggak bisa main besok!”

    “Wah, berarti memang kamu harus datang ke acara Ahok besok,” ujar Joyce, istriku.

    Baiklah!
    Aku akhirnya menyempatkan diri pergi ke supermarket untuk membeli kaos polos warna merah sesuai anjuran.

    Hari Minggu pagi tadi, awalnya pesimis apakah akan jadi berangkat atau tidak, matahari bersembunyi di balik awan yang menggelanyut ditingkahi angin sepoi yang mendingin. Tapi menjelang siang cuaca menghangat dan kami memutuskan untuk tetap berangkat.

    KamiRiba di Sydney Opera House sekitar pukul 14.30 waktu setempat kami pikir kami akan jadi orang pertama yang datang ke sana. Tapi tak disangka, beberapa wajah Indonesia berkostum merah-putih sudah terhampar di pelatarannya!

    Dan sesungguhnya, datang kembali ke Sydney Opera House itu seperti menguak kenangan masa lalu.

    Meski gedung yang menjadi landmark kota Sydney itu kulewati hampir setiap hari saat pergi dan pulang bekerja, tapi terakhir kali aku menginjakkan kaki di terasnya adalah pada tanggal 29 Juni 2014, saat kami, 300 warga negara Indonesia mengadakan kampanye mendukung pasangan calon presiden Joko Widodo beserta wakilnya (Maaf, aku tak sudi menyebutkan namanya saat ini karena satu dan lain hal hehehe…)

    Jadi, datang lagi ke Sydney Opera House adalah seperti mengenang dan menyematkan kembali kenangan serta semangat yang dulu pernah ada mendukung Indonesia yang lebih baik.

    Sekitar pukul tiga, kami diarahkan oleh seorang kawan untuk masuk ke Botanical Garden yang letaknya bersebelahan dengan Sydney Opera House, tempat yang digunakan Joko Widodo, Presiden RI bertemu dengan Malcolm Turnbull beberapa waktu silam.

    Aku tak tahu bagaimana struktur kepanitiaan acara ini karena memang informasi tentang acara ini berlangsung begitu spontan mengalir lewat Facebook dan Whatsapp Group.

    https://youtu.be/huWzwsNlzl4

    Menjelang pukul empat, orang-orang Indonesia telah benar-benar menyemut sepanjang Botanical Garden yang memiliki jalur melengkung di pinggir pantai/teluk Sydney Harbour.

    Tak ada yang memulai dan seolah tanpa aba-aba tapi tiba-tiba lagu Indonesia Raya dikumandangkan begitu megah!

    Di depan tampak beberapa orang mengangkat tinggi-tinggi tulisan SYDNEY SAVE AHOK. Setelah Indonesia Raya disusul beberapa lagu perjuangan dan diakhiri dengan doa singkat selama dua menit.

    Aku merasakan hening yang menyeruak saat doa didaraskan. Pada wajah yang hadir begitu banyak yang kusyuk dan tak sedikit yang menangis, meneteskan air mata.

    Selesai doa, sekali lagi, lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan kali ini aku giliran aku yang terbata-bata. Mataku berkaca, panas dan nanar saat menyanyikan lagu yang dulu setiap senin selalu kunyanyikan dengan sikap sempurna pada upacara bendera.

    credit photo: Yenfang

    Yang terbayang saat itu adalah Indonesia. Tanah Air, tempat tubuh ini pertama kali diberi hembusan nyawa, tempat jiwa dan kobaran semangat kehidupan bertumbuh mula-mula, semua menyatu dalam lagu karya WR Supratman yang menderu-deru itu.

    Aha! Masuk ABC News, national TV channelnya Australia! (Credit photo: Andrew Wanandy)

    Ada gelungan rasa tak jenak saat media di Indonesia akhir-akhir ini dibombardir dengan berita tentang begitu banyak tindak ketidakadilan, begitu banyak sas-sus tentang keadaan negara yang bakalan morat-marit dan penuh ancaman terhadap dasar negara dan kebhinekaan…

    Terbayang wajah keluarga adikku, saudara-saudariku, kawan serta kerabatku yang ada di Indonesia serta kekhawatiran-kekhawatiran itu! Tapi semua sirna saat kami berteriak,

    Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka! Tanahku negeriku yang kucinta!
    Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka! Hiduplah Indonesia Raya!

    Ah, Indonesia memang sangat layak dan berharga untuk dipertahankan dan diperjuangkan.

    Jika tiga tahun lalu, tiga ratus anak bangsa menggedor lantai surga untuk mengharapkan supaya Jokowi menang, sore tadi, dua ribu… sekali lagi.. dua ribu anak bangsa mendobrak lantainya, mendaraskan doa tak hanya untuk Ahok tapi lebih daripada itu supaya Tuhan selalu mengobarkan semangat bagi kami untuk tetap mencintai negeri, Tanah Air kami, tempat kami akan mengenangkan segala kenangan-kenangan baik masa lalu kami.

    Salam dari kami, wahai Negeri Yang berseri-seri, zamrud Khatulistiwa nan?abadi! Kami tak kan pernah berhenti mencintaimu dengan sepenuh hati meski raga dan hidup kami ada di sini!

    Simak tulisan tiga tahun silam dengan nada yang sama dan terjadi ada di tempat yang sama pula, Tiga ratus anak bangsa menggedor lantai surga!

    Terkonfirmasi dari beberapa kawan, jumlah yang datang bahkan konon lebih dari tiga ribu anak bangsa!

    Link menuju ke beberapa situs berita terkait kejadian ini:

  • Apakah Ahok adalah orang yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaanNya?

    Apakah Ahok adalah orang yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaanNya?

    Kabar Baik Hari Ini, 13 Mei 2017

    Yohanes 14:7 – 14
    Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

    Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”

    Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

    Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.

    Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.

    Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

    Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”

    Renungan

    Masih soal Ahok! Percayakah kamu bahwa ia adalah orang yang percaya kepadaNya?

    Seperti yang Yesus bilang hari ini dalam Kabar BaikNya, “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan.”

    Barangkali banyak yang bilang tanpa menyangsikan bahwa Ahok telah melakukan pekerjaan-pekerjaanNya. Tapi bagaimana ketika kita mendengar komentar orang-orang yang rumahnya digusur? Adakah bagi mereka Ahok telah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan atau sebaliknya?

    Coba dengar pendapat Pak Sandyawan Sumardi, mantan pastor yesuit yang banyak mendampingi warga-warga di sekitar Ciliwung yang digusur Ahok, adakah baginya dan warga yang dibelanya Ahok mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan?

    Atau bertanyalah pada Bu Retno Listyarti dan keluarganya. Ia adalah mantan kepala sekolah SMA 3 Jakarta yang dipecat tapi kemudian di tingkat MA, perkaranya dimenangkan. Ia tentu memiliki opini berbeda tentang sosok Ahok.

    Jadi, benarkah ia mengerjakan pekerjaan-pekerjaanNya?

    Janganlah kita menghakimi atas hal ini karena hanya Tuhan yang sanggup dan berhak menilai apakah seseorang telah mengerjakan pekerjaan-pekerjaanNya sebagai tanda bahwa kepercayaan termasuk Ahok dan kita.

    Tapi setidaknya, peristiwa Ahok ini memberikan kita hikmah dan harus kita ambil sebagai satu pelajaran bahwa pernah ada satu orang bernama Ahok yang berusaha untuk mencintaiNya dengan segala daya, kekurangan dan kelemahannya. Perkara apakah pekerjaan yang ia lakukan itu sudah sejalan dengan yang Ia lakukan atau tidak, itu tak jadi soal.

    ‘Bola’ justru sekarang ada di pihak kita, apakah kita yang diberi kesempatan menyaksikan semua ini bisa berbuat lebih baik dari yang Ahok lakukan atau tidak?

  • Ahok!

    Ahok!

    Ahokisme telah menjalar dan mengular kemana-mana.
    Jiwanya tak tertahan dalam sel, tak terkurung dalam penjara. Ia menyeruap ke berbagai tempat tak hanya di kota tapi juga pulau, negara dan dunia!

    Mungkin masih samar mana yang lebih tampak, Ahok-nya atau Ahokisme-nya? Personanya atau ‘pesonanya’? Tapi tak mengapa. Sebagaimana kayu yang dibakar, biarlah terbakar dengan menyala-nyala menyisakan arang yang paling kokoh untuk menjadi bara yang abadi setelah kobaran-kobaran itu lenyap sesaat.

    Setelah di Cipinang, Depok, Tugu Proklamasi, Balai Kota kini telah sampai di Jogja, Manado, Merauke, Dili, Perth, Washington, Hongkong, Sydney dan masih banyak lagi!

    Bagi kalian yang tinggal di Sydney, meski aku tak mengundang, tapi ada acara dengan tema yang sama. Siapa tahu kamu punya waktu dan keluangan energi.

    Design by Rosye

    Ahok! Kamu akan tergantikan!
    Tapi penggantimu tak akan sanggup mengganti apalagi mengurung ide-ide dan semangatmu untuk terus mempengaruhi jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran meski benar tak selamanya menang dan yang menang tak selamanya benar!

    Beristirahatlah dalam kurungan untuk sementara, biar kami yang melanjutkan bara!

    Lawan!

    Kaos yang kukenakan adalah produksi ‘Politik‘,?kaos pun melek politik!

  • Sosok di belakang Ahok? Siapakah yang terbesar baginya?

    Sosok di belakang Ahok? Siapakah yang terbesar baginya?

    Kabar Baik hari ini 11 Mei 2017

    Yohanes 13:16 – 20
    Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.

    Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

    Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.

    Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.

    Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”

    Renungan

    Kabar Baik hari ini sangat menarik utamanya karena bisa kita jadikan cermin terhadap hal-hal yang terjadi belakangan ini.

    Coba simak bagian ini,

    Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

    Ahok dipenjara.
    Sedih? Lumrah.

    Tapi saking emosionalnya, beberapa kawan membandingkan Ahok dengan Yesus. Ahok minoritas, berbuat banyak kebaikan pada masa pemerintahannya yang singkat, kalah dalam Pilkada, dihukum penjara dengan tuduhan penistaan agama.

    Lalu muncul sebuah tanya, pantaskah kita membandingkan seorang Ahok dengan Yesus?

    Kalau membandingkan antar sosok tentu tak pantas karena Ahok bukanlah Tuhan. Tapi kisah Ahok dan kisah Yesus, dimana kebaikan dijatuhkan dengan ketidakadilan adalah kisah klasik yang menurutku menunjukkan bahwa kita masih hidup di dunia, bukan di surga. Jadi, kalau kisahnya disamakan dengan kisah Yesus, ya sah-sah saja.

    Tapi adakah hal yang lebih dalam untuk kita pelajari dari sekadar hal tersebut?

    Tentu ada!
    Kita perlu mempelajari bagaimana Ahok berpikir dan bertindak.

    Ia adalah seorang yang mengimani Tuhan. Sebagai seorang kristiani tentu ia menjadikan Yesus sebagai Tuhan, sebagai Guru. Untuk itu, tak heran kalau Ahok membawa semangat pelayanan kasih dan menjunjung tinggi kejujuran dalam pekerjaan yang diembannya. Meski hanya memerintah dalam waktu yang tak lama, tapi banyak orang bisa merasakan kepiawaiannya dalam membawa perubahan ke arah kebaikan pada daerah yang dipimpinnya. Perkara akhirnya ada orang yang tak suka atas apa yang dilakukannya, itu diluar kuasanya.

    Jadi?
    Berhentilah menangisi Ahok karena aku percaya saat semua ini terjadi menimpanya, Ahok tahu lebih dulu resiko yang menghadang. Dan karena ia melakukan semua ini dengan penuh cinta, maka ia juga pasti berbahagia persis seperti yang diungkapkan Yesus hari ini, “…maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya!”

    Menangislah justru kalau kamu tak bisa mendapatkan apa-apa yang bisa dipelajari dari peristiwa ini selain hanya marah, emosi dan benci serta apatis terhadap negeri!

    Pandanglah Ahok sebagai sebuah semangat karena eksistensinya meski kini dipenjara, ia telah menyublim menjadi daya kuat bagi kita. Bukan untuk mengkultuskan apalagi menuhankan dia tapi untuk sadar bahwa ada semangat kasih dari Tuhan yang hadir dalam karya-karya dan sikap hidupnya tentu saja terlepas dari kelemahan-kelemahannya sebagai manusia.

    Selanjutnya, marilah dengan semangat itu kita melanjutkan apa yang diembankan Tuhan untuk kita. Mencintai sesama, menghargai lingkungan dan perbedaan serta terus-menerus mencintai negara tempat kita tinggal seperti halnya Ahok mencintai Indonesia.

    Perkara nanti akhirnya direndahkan, dikalahkan, dikurung…ya apa mau dikata? Toh sejak awal Yesus sudah bilang seperti di atas, bahwa mana ada hamba yang dipelakukan lebih tinggi dari tuannya, seorang utusan daripada dia yang mengutusnya? Bukankah Dia yang mengutus kita, Dia yang adalah Tuhan kita sudah dibunuh pun dengan cara yang keji dan terhina?

  • Jangan pernah lelah mencintai Indonesia

    Jangan pernah lelah mencintai Indonesia

    Ada orang bertanya kenapa aku begitu mencintai Indonesia?

    Jawaban yang paling sederhana karena di tanahnya aku memijakkan kaki untuk pertama kali dan pada air susu yang kuminum dari puting ibuku, pun juga berasal dari air tanahnya. Jadi adakah jalan keluar bagiku untuk tidak mencintai Indonesia?

    Lalu orang itu melanjutkan tanya berikutnya, “Apakah nggak lelah mencintai Tanah Air terlebih dengan begitu banyak intrik politik yang terjadi akhir-akhir ini?”

    Lelah sih! Tapi lelah yang menyenangkan.
    Mari beranalogi, Bro! Sejak beberapa tahun lalu, aku punya hobi angkat berat. Tiap sore atau saat istirahat makan siang, aku pergi ke gym dekat kantor untuk angkat beban selama lebih kurang 45 menit.

    Sepulang dari nge-gym, biasanya keesokan paginya, badan pegel-pegel semua. Nyeri otot bahkan kadang cedera itu sudah biasa! Tapi anehnya, meski begitu, sorenya ya tetap kembali melakukan rutinitas yang sama, nge-gym lagi, angkat beban lagi bahkan dengan beban yang lebih berat dari yang sehari sebelumnya kuangkat. Begitu terus-menerus…

    Nah, mencintai Tanah Air itupun kurang lebih juga sama!
    Rasa pegel-pegel dan kecewa apalagi ketika jagoan kita kalah secara menyakitkan bahkan harus dibui seperti Ahok itu wajar dan manusiawi. Tapi yang lebih manusiawi lagi adalah kesadaran bahwa kekecewaan itu ada batas kadaluwarsanya dan ketika ia menghilang lalu pergi, rasa cinta pada nasion menyeruak lagi tinggi-tinggi!

    Jadi, bagi kawan-kawan yang merasa begitu kecewa dengan dimasukannya Ahok ke dalam penjara, lampiaskanlah kecewamu, tapi jangan lama-lama! Kita harus melihat dalam prespektif luas dan lapang dada bahwa dalam hidup selalu ada yang dipertaruhkan dan tak selamanya kita harus menang!

    Toh kalau memang hukuman dua tahun yang harus dijalani Ahok itu berlaku tetap dan final, tak sampai akhir tahun depan pun dia udah bebas lagi, kan?

    Berpikirlah juga bahwa meski terpenjara, meski merasa diperlakukan tak adil, apakah menurut pikirmu Ahok akan berhenti mencintai Indonesia? Tidak, kan? Nah, kalau dia yang ‘dibegitukan’ saja masih bisa mencintai Indonesia, kenapa kita tidak?

    Ayo bangun lagi! Jangan takut ngilu dan nyeri karena bukankah hanya cinta palsu yang tak perlu pengorbanan?

    Cintai Indonesia! Kita inilah Indonesia sebenar-benarnya! Kita yang tak pernah kenal lelah untuk mencintai Tanah Air, kita yang tak pernah kenal letih menghidupkan asa!

  • Ahokisme…Saya Ahok!

    Ahokisme…Saya Ahok!

    Hidup selalu menyediakan tikungan-tikungan tajam kan?
    Tak hanya seberapa derajat tajam belokannya tapi juga seperti apa permukaan di balik tikungan sana. Bisa jadi beraspal mulus, bisa pula ada lubang, genangan air bekas hujan atau… ada seekor tikus yang mati ketabrak digiles truk yang tak jauh ada di depan kita.

    Beberapa minggu lalu Ahok kalah di Pilkada, hari ini Ahok masuk penjara. Hukum telah ditegakkan seadil-adilnya, setidaknya berdasarkan penuturan bibir hakim yang mengadilinya siang ini.

    Kawan, kita tak tahu apa yang akan terjadi di depan. Yang kita bisa pelajari hanya runtutan kejadian yang ada di belakang untuk dijadikan patokan bukan tentang apa yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi, tapi ketika sesuatu terjadi, apapun itu, kita jangan sampai terkaget-kaget lagi. Siapkan diri dan tebalkan hati karena hidup ini penuh dengan tikungan dan kejutan.

    Pak Ahok!
    Saya bangga sudah mengawal Bapak dengan cara saya sendiri. Cara yang mungkin kadang dibenci oleh mereka yang mengelu-elukan Bapak, tapi dalam setiap doa, saya selalu mendaraskan seserpih perhatian untukmu. Bukan supaya kamu bebas dari apapun bahaya yang mengganjalmu, tapi supaya kamu kuat dan tabah ketika bahaya datang tak hanya mengganjal langkah tapi juga meng-ambruki tubuhmu.

    Saya sedih seperti halnya yang lain tertegun tapi kalau Tuhan berkehendak, bukankah besok matahari tetap akan bersinar?

    Dirimu telah kalah, lantak namun kamu belum tuntas!
    Keberadaanmu dan eksistensimu akan abadi melebihi umur duniamu. Kamu menyublim menjadi semangat Ahokisme! Ahokisme yang meruap dan menghangatkan relung nafas kami, anak bangsa yang sekali lagi menggedor lantai surga supaya Tuhan memberikan jalan lebih mudah ketimbang yang terjal dan berbatu ini.

    Seperti yang selalu kau bilang, Tuhan selalu berkehendak atas segala yang boleh kita rasakan, mari kita terus berteguh pada iman.

    Saya Ahok! Kamu?

    Foto utama oleh:?Sea-globe.com

  • Sebelum menagih janji Anies – Sandi, adakah semua janji kampanye Jokowi – Ahok dulu terpenuhi?

    Sebelum menagih janji Anies – Sandi, adakah semua janji kampanye Jokowi – Ahok dulu terpenuhi?

    Sehari sesudah Pilkada DKI Jakarta, sebagian besar kawan yang kuikuti di linimasa yang kebanyakan adalah pembela Ahok – Jarot tampaknya sudah semakin legawa melihat kenyataan bahwa jagoannya kalah. Terlebih pernyataan pemberian selamat oleh Ahok – Djarot terhadap pasangan Anies – Sandi membuat kita semua lega (hal yang sebenarnya ‘kusyukuri’ dari kekalahan Ahok karena kalau yang kalah Anies – Sandi apakah mereka juga bisa selegawa itu?)

    Tapi meski demikian ada pula yang mulai menagih janji kampanye Anies-Sandi meski mereka juga sebenarnya sadar bahwa masa jabatan gubernur-wakil gubernur baru pun akan dimulai Oktober nanti!

    Sebenarnya wajar kok menagih janji kampanye terlebih untuk janji-janji yang gula-gula manisnya masih terasa di ingatan. Tapi persoalannya perlukah? Perlukah menagih janji kampanye ketika tahu bahwa kemungkinan (besar) hal itu hanya akan mengecewakan hati?

    Nggak sayang dengan perasaan dan pikiran yang beberapa bulan ini sudah dikerubuti hal-hal terkait Pilkada melulu? Nggak sayang untuk melarut-larutkan rasa sakit hati?

    Kenapa tak memilih untuk melupakan yang kemarin dan kembali menata diri serta fokus perhatian pada kehidupan pribadi kita masing-masing tak peduli siapapun pemimpinnya?

    Tapi kamu nggak fair, Don! Mereka menang karena janji-janji manis saat kampanye kemarin!

    Really? Baiklah kalau sangkamu demikian. Silakan melanjutkan penagihan janji terhadap Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Tapi pesanku, sebelum masa kepemimpinan Ahok berakhir, adakah janji-janji kampanye Jokowi – Ahok pada Pilkada 2012 silam juga sudah terpenuhi semuanya?

    Mari simak dan bandingkan janji-janji Jokowi – Ahok dan Anies – Sandi di bawah ini. Baca baik-baik dan jawab sendiri mana janji yang sudah ditepati, mana yang belum dan mana yang sudah pasti tak dapat ditepati hingga Oktober 2017 nanti.

    Janji kampanye Jokowi – Basuki Tjahaja Purnama tahun 2012 seperti dimuat Republika.

    1. Tidak memakai Voorijder untuk merasakan juga kemacetan
    2. Hanya 1 jam di kantor. Selebihnya, meninjau pelayanan publik di lapangan.
    3. Tidak tersinggung dengan pertanyaan wartawan yang menyudutkan pihaknya
    4. Tidak memberikan pentungan dan perlengkapan yang memungkinkan Polisi Pamong Praja memukul warga.
    5. Menambah 1.000 unit bus Transjakarta
    6. Memberikan honor tambahan kepada Ketua RT/ RW di Jakarta sebanyak Rp 500 ribu per bulan, dan asuransi kesehatan.
    7. Memberikan asuransi kesehatan kepada semua anggota RT/RW.
    8. Akan memimpin Jakarta selama lima tahun. Tidak menjadi kutu loncat dengan mengikuti Pemilu 2014. (Jumpa pers di rumah Megawati Soekarnoputri, 20 September 2012)
    9. Membangun perkampungan yang sehat dan layak huni. Hunian di bantaran Sungai Ciliwung di desain menjadi kampung susun. Melakukan intervensi sosial untuk merevitalisasi pemukiman padat dan kumuh tanpa melakukan penggusuran. (Debat Calon Gubernur DKI Jakarta, 14 September 2012)
    10. Mengatasi banjir dengan melakukan pembangunan embung/folder untuk menangkap dan menampung air hujan di setiap kecamatan dan setiap kelurahan. Mengintegrasikan seluruh saluran drainase agar terkoneksi dengan kanal-kanal pembuangan air.
    11. Memperbanyak armada angkutan umum, terutama bus TransJakarta di koridor-koridor yang tetap dipertahankan sebagai jalur bus khusus. Merintis MRT/subway. Busway diubah menjadi railbus yang berkapasitas lebih besar. Dengan demikian yang bergerak warga bukan mobil.
    12. Membangun Mal PKL, Ruang Publik & Revitalisasi Pasar Tradisional sehingga tidak mengganggu pengguna jalan. (Jakarta, 18 September 2012)
    13. Membangun kebudayaan warga kota berbasis komunitas. Merevitalisasi dan melengkapi fasilitas kawasan Old Batavia.
    14. Membenah birokrasi bersih dan profesional agar pemerintahan berjalan bersih, transparan, dan profesional.
    15. Memberikan pendidikan gratis Kartu melalui kartu Jakarta Pintar. Dengan kartu ini maka warga Jakarta dapat merasakan pendidikan gratis dari SD hingga SMA. Program ini telah berhasil diterapkan di Solo selama 5 tahun. (Kampanye di Kampung Sawah, Gandaria Selatan, Jakarta Selatan, 29 Juni 2012).
    16. Melegalkan tanah-tanah yang sebelumnya tidak diakui oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau tanah ilegal. (Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, 15 September 2012)
    17. Melakukan redesain total dengan membangun Jakarta dari kampung-kampung. (Menteng Dalam, 14 September 2012).
    18. Setiap kampung punya ruang publik, ruang hijau, serta drainase memadai dan punya tangki pembuangan komunal. (Menteng Dalam, 14 September 2012)
    19. Melanjutkan program Kanal Banjir Timur serta pembangunan tanggul di tiap kecamatan.

    Janji kampanye Anies Baswedan dan Sandiaga Uno seperti dimuat DetikCom

    1. Merevisi dan memperluas manfaat Kartu Jakarta Pintar dalam bentuk Kartu Jakarta Pintar Plus untuk semua anak usia sekolah (6-21 tahun), yang juga dapat digunakan untuk Kelompok Belajar Paket A, B dan C, pendidikan madrasah, pondok pesantren dan kursus keterampilan serta dilengkapi dengan bantuan tunai untuk keluarga tidak mampu.
    2. Merevisi dan memperluas manfaat Kartu Jakarta Sehat dalam bentuk Kartu Jakarta Sehat Plus dengan menambahkan fasilitas khusus untuk para guru mengaji, pengajar Sekolah Minggu, penjaga rumah ibadah, khatib, penceramah dan pemuka agama.
    3. Membuka 200.000 lapangan kerja baru, membangun dan mengaktifkan 44 pos pengembangan kewirausahaaan warga untuk menghasilkan 200.000 pewirausaha baru, selama lima tahun.
    4. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas Pendidikan Kejuruan dengan mengintegrasikan dunia usaha ke dalamnya, untuk menghasilkan lulusan yang langsung terserap ke dunia kerja dan berwirausaha.
    5. Mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok dengan menjaga ketersediaan bahan baku dan menyederhanakan rantai distribusi, serta menyediakan Kartu Pangan Jakarta untuk meningkatkan daya beli warga tidak mampu serta merevitalisasi pasar-pasar tradisional dan Pedagang Kali Lima untuk meningkatkan kesejahteraan para pedagang.
    6. Menghentikan Reklamasi Teluk Jakarta untuk kepentingan pemeliharaan lingkungan hidup serta perlindungan terhadap nelayan, masyarakat pesisir dan segenap warga Jakarta.
    7. Membangun pemerintahan yang bersih, modern dan melayani berbasis transparansi, akuntabilitas dan keteladanan dengan mengoptimalkan pelibatan publik dan pemanfaatan teknologi (Smart City).
    8. Mengembangkan kinerja dan tata kelola pemerintahan untuk merealisasikan rencana kerja hingga 95 persen, mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian dalam audit laporan keuangan, mencapai predikat 80 dalam Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), menghentikan praktik penyelewengan di dalam birokrasi, dan memperbaiki manajemen aset-aset milik Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta.
    9. Meningkatkan Realisasi Rencana Program (daya serap anggaran) untuk memperluas cakupan dan efektivitas program-program penanggulangan banjir dan kemacetan, rehabilitasi dan pemeliharaan lingkungan hidup serta pengelolaan sampah.
    10. Memuliakan perempuan Jakarta dengan mendukung Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Ekslusif, melakukan pendataan dan pemantauan dini terhadap ibu-ibu hamil dan balita yang memerlukan bantuan khusus, memberikan cuti khusus bagi suami selama proses kelahiran anak, serta menyediakan fasilitas-fasilitas publik khusus seperti Ruang Menyusui dan Tempat Penitipan Anak yang dikelola secara sehat, profesional dan bisa diakses seluruh warga.
    11. Memberdayakan perempuan Jakarta dengan mendukung sepenuhnya partisipasi perempuan dalam perekonomian, antara lain melalui pemberian Kredit Usaha Perempuan Mandiri.
    12. Melindungi perempuan dan anak-anak Jakarta dari praktik pelecehan, kekerasan dan diskriminasi serta praktik perdagangan manusia (human traficking) dengan mengaktifkan 267 Rumah Aman, merevitalisasi Unit Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan berbasis aplikasi bekerjasama dengan Kepolisian Daerah Jakarta, dan memberi subsidi bantuan hukum bagi korban.
    13. Membangun sistem transportasi umum yang terintegrasi dalam bentuk interkoneksi antarmoda, perbaikan model manajemen layanan transportasi umum, perluasan daya jangkau transportasi hingga menjangkau seluruh warga, pengintegrasian sistem transportasi umum dengan pusat-pusat pemukiman, pusat aktivitas publik, dan moda transportasi publik dari luar Jakarta.
    14. Mengatasi kesenjangan Ibu Kota dengan menjadikan Kepulauan Seribu sebagai Kepulauan Pembangunan Mandiri dengan menyediakan infrastruktur, lapangan kerja, fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi segenap warganya dan menjadikannya sebagai pusat inovasi konservasi ekologi.
    15. Mengaktifkan kembali komunitas-komunitas di Jakarta melalui kegiatan pengembangan kebudayaan, kesenian, olahraga, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan budaya membaca melalui Program Taman Maju Bersama, yaitu merevitalisasi taman-taman yang ada, membangun taman-taman baru dari wilayah pinggiran Jakarta, serta membangun Taman Pintar (Science Park).
    16. Membangun dan merevitalisasi pusat-pusat pengembangan kebudayaan, antara lain dengan:
      (a) Membangun Taman Benyamin Sueb sebagai pusat perawatan dan pengembangan kebudayaan Betawi dan pusat interaksi lintas-komunitas, yang di dalamnya berdiri Museum Kebudayaan Betawi.

      (b) Menyelamatkan dan merevitalisasi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dengan melakukan digitalisasi seluruh koleksinya, profesionalisasi pengelolaannya serta memperlayak sarana dan prasarananya.(c). Menjadikan Jakarta sebagai pusat kebangkitan film nasional melalui sinergi dengan semua pemangku kepentingan dalam kerja kreatif sinematografi dan industri film.

    17. Menyelenggarakan festival olahraga dan kesenian Jakarta sepanjang tahun untuk mengembangkan pembinaan olahraga dan kesenian berbasis komunitas.
    18. Menjadikan Jakarta sebagai Kota Hijau dan Kota Aman yang ramah, sejuk dan aman bagi anak, perempuan, pejalan kaki, pengguna jalan, dan seluruh warga; menggalakkan kegiatan cocok tanam kota (urban farming); melakukan audit berkala keamanan kampung; serta memperluas cakupan dan menperbaiki kesejahteraan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).
    19. Memperluas cakupan dan memperbaiki kualitas layanan air bersih dengan prioritas pada wilayah-wilayah dengan kualitas air terburuk, dan memberikan subsidi langsung untuk warga tidak mampu.
    20. Merevitalisasi layanan dokter komunitas, melakukan pelatihan peduli kesehatan diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar, melakukan pelatihan peduli lingkungan hidup, dan mengaktifkan Pos Perempuan Mandiri sebagai bagian dari program pengembangan Posyandu dan Posbindu.
    21. Memberdayakan para pengembang kelas menengah untuk merealisasikan pembangunan kampung susun, kampung deret dan rumah susun, serta mempermudah akses kepemilikan bagi warga tidak mampu.
    22. Membangun pusat-pusat pariwisata, tempat-tempat bersejarah dan pusat-pusat kegiatan warga sebagai tempat yang ramah, aman dan sejuk bagi anak, lansia dan warga difabel.
    23. Meningkatkan bantuan sosial untuk rumah ibadah, lembaga pendidikan keagamaan, lembaga sosial, Sekolah Minggu dan Majelis Taklim berbasis asas proporsionalitas dan keadilan.

    Simak juga tulisanku sebelumnya,?Surat Ber-tjahaja untuk Basuki Tjahaja Purnama

  • Surat Ber-tjahaja untuk Basuki Tjahaja Purnama

    Surat Ber-tjahaja untuk Basuki Tjahaja Purnama

    Ahok
    Credit photo: Sea Globe

    Hok, kalau tak ada perubahan drastis, kamu dipastikan kalah dalam Pilkada Gubernur DKI Jakarta kali ini. Tapi tak mengapa Hok, karena dibandingkan ‘kawan bermain dan berkompetisi-mu’, kamu tampaknya memang lebih siap untuk kalah.

    Dari awal aku memang mengira bahwa hari ini akan terjadi dan sebaiknya memang terjadi. Bukannya sok main ‘feeling’ tapi aku mencoba berpikir berputar bahwa seandainya kamu menang, para radikalis yang anti keberagaman itu akan bagai kepenuhan mesiu untuk menjalankan aksi-aksi berikutnya entah 505, 510, atau 501 namanya! Kekalahanmu bagaikan memberikan mesiu kosong pada ujung meriam yang siap njeblug… mereka kini justru yang mati angin sambil menunggu mesiu yang baru mungkin dekat-dekat 2019 nanti.

    Kekalahanmu juga adalah simbol betapa Tuhan tak hanya sayang kamu tapi Ia juga sayang ‘kawan bermain dan berkompetisi-mu’ itu, Hok!

    Membayangkanmu kalah itu mendamaikan karena kamu akan legawa dan akan bekerja sebagaimana rakyat biasa (kalau Jokowi tak memanggilmu untuk menempati pos baru di pemerintahannya sih…) Tapi membayangkan ‘kawan bermain dan berkompetisi-mu’ kalah? Mau kerja apa dia? Bukannya nanti dia jadi tak oke dan tak oce lagi?

    Jadi? Dunia belum berakhir! Bekerjalah tak hanya dalam lingkup Jakarta. Bekerjalah kepada sekelilingmu yang juga membutuhkan cinta dan menawarkan kasih nan semerbak kepadamu dan keluarga cantikmu itu.

    Kini saatnya untuk fokus pada sisa masa jabatanmu dan persidangan terhadap kasus yang menimpamu. Kita tak akan pernah tahu seperti apa tikungan jalan di depan. Kamu kalah, bisa jadi kamu juga masuk penjara karena kalah dalam persidangan. Betapa malangnya nasibmu? Aku tetap mendoakanmu supaya lolos dari jerat hukuman itu. Tapi kalaupun harus dibui, tak mengapa! Aku percaya orang-orang yang benar dan bercahaya sepertimu justru perlu dikirim ke tempat-tempat dan lorong yang gelap supaya daripadanya mengumbar cahaya yang menerangkan dan menenangkan.

    Aku ingin menutup surat yang kuuntai di atas kereta yang mengantarkanku pulang di tengah kepedihanku yang tak bisa kusembunyikan menyaksikan kalahmu ini dengan sebuah cerita pendek tentangku dan almarhumah Mamaku.

    Sepuluh tahun lalu aku pernah gagal dalam bercinta, Hok. Hilang separuh jiwaku, lunglai tubuhku, pupus rencana-rencanaku. Kepada Mama yang amat kucintai, aku pulang dan bersandar serta mengeluhkan kesahku.

    Lalu yang kuingat dan muncul dari bibirnya kala itu adalah begini,
    “Kamu gak perlu menang dalam setiap pertandingan, Le! Yang diperlukan hanya bertahan dan berjuang hingga garis finish! Menang dan kalah itu hanya pangkat dan jabatan. Kamu tetap jagoannya Mama dan itu adalah pangkat dan jabatanmu!”

    Betapa bangga dan mongkok hatiku saat itu, Hok!

    Hok, kamu telah mengakhiri pertandingan dengan baik! Kamu telah mencapai garis akhir! Sekarang telah tersedia garis start yang baru, berlarilah lagi di gelanggang yang baru. Bawa tjahajamu di sana seperti kami akan memelihara tjahajamu dari sini.

    Kalau udah longgaran, main-main ke Sydney lah, Hok! Kita nge-beer bareng sambil cerita sana-sini!


    Salam,

    DV, Superblogger Indonesia

    Simak juga tulisanku?sesudahnya,?Sebelum menagih janji Anies ? Sandi, adakah semua janji kampanye Jokowi ? Ahok dulu terpenuhi?