Tag: agama

  • Ketika agama makin tak laku di Australia aku tetap berusaha untuk tekun memelukNya

    Ketika agama makin tak laku di Australia aku tetap berusaha untuk tekun memelukNya

    Nyatanya, secara angka, agama dalam hal ini Gereja Katolik makin tak laku di Australia!

    Sensus yang diadakan terhadap segenap penduduk Australia tahun 2016 dan baru saja dikeluarkan hasilnya oleh pemerintah adalah ukurannya.

    Ia menempati posisi kedua dengan 22.6% sedangkan lebih dari tiga puluh persen penduduk memilih untuk menganut agama ‘Tak Beragama’. Coba bandingkan dengan sensus lima tahun sebelumnya. Waktu itu Gereja Katolik masih berada di peringkat tertinggi dengan 25.3%, menang tipis atas agama ‘Tak Beragama’ di posisi runner-up dengan 22.3%.

    Kawan kerjaku yang juga adalah kawan dekatku langsung bereaksi terhadap hasil sensus itu. Ia adalah orang yang baru saja menganut agama ‘Tak Beragama’. “What do you think, DV? Are you still on the boat?” ujarnya lewat pesan singkat. ‘Boat’ yang dimaksud adalah agama karena dalam diskusi dengannya, aku menganalogikan agama sebagai boat.

    “Sure, why not? Interested to jump into? Let me know at anytime, Mate!!” jawabku yang lantas dijawab dengan emoticon tertawa ngakak olehnya.

    Hari pun berganti dan pagi ini seolah tiga puluh persen dari penduduk Australia yang tak beragama itu mendapatkan peneguhan bahwa keputusannya untuk tak beragama adalah tepat.

    Apa pasal?
    Yang Mulia (Your Eminence) Kardinal George Pell, figur senior Katolik Australia dan Uskup Agung Sydney yang kini bertugas mengepalai bidang perekonomian di Vatikan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pelecehan seksual oleh pihak kepolisian negara bagian Victoria.

    Yang Mulia Kardinal George Pell

    Hal itu sebenarnya tak mengagetkan karena kardinal yang ditunjuk sebagai ketua tim ekonomi kepausan di Vatikan itu sudah sejak lama diperiksa.

    Aku tak mengenal Yang Mulia secara personal tapi persinggunganku yang paling dekat adalah ketika ia menjabat sebagai Uskup Agung Sydney. Sekitar tahun 2009, aku pernah ikut perayaan ekaristi yang dipimpin olehnya lalu sepulang misa aku mendekatinya, menjabat tangan lalu meminta berkat atas kalung rosario yang baru saja kubeli. Kalung itu hingga kini hampir setiap hari kupakai untuk berdoa.

    Tadi siang, bertepatan dengan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, aku mendatangi Katedral untuk ikut perayaan ekaristi harian. Sepulang dari sana, sekitar jam 1:40pm, di depan pintu keluar, beberapa wartawan televisi mengerubung. Mereka berusaha mewawancarai umat terkait kasus ini dan aku tak lepas dari satu yang diincarnya. Seorang mbak-mbak wartawan berdarah eropa, muda, tinggi, langsing dan cantik mendekatiku menyapa, “Hi, how are you?” seonggok microphone dengan corong berwarna oranye ditodongkan, di belakangnya kamera menangkap wajahku bulat-bulat…

    Maraknya kasus pelecehan seksual yang dituduhkan maupun yang sudah terbukti benar dilakukan oleh imam Gereja Katolik itu tak hanya dijadikan bulan-bulanan media tapi juga dijadikan salah satu alasan terkuat orang-orang meninggalkanNya.

    “Ngapain ke Gereja kalau pastornya aja melakukan pelecehan seksual?”

    Ada pula yang beralasan karena tak sudi se-gereja dengan orang yang dianggapnya munafik. Alasan lain rata-rata karena tak punya waktu dan lebih baik meluangkan waktu bersama kawan dan keluarga ketimbang ke Gereja. Pernah pula mendengar bahwa agama tak memberikan kebebasan padahal pacarnya mengajak untuk hidup bersama. Pun ada yang beralasan berbau teologis, “Tuhan pun tak beragama kenapa kita harus beragama?” tapi tak ada yang lebih menohok dari pertanyaan tangkas kawanku yang kutulis di atas tadi, “Apa sumbangsih agama untuk jaman dan sejauh apa ia mampu menyelesaikan persoalan manusia?”

    Waktu ia bertanya seperti itu, aku tak menjawab. Bukannya tak punya jawaban tapi bagiku, apapun jawabanku pasti tetap akan dianggap sebagai sesuatu yang bukan jawaban. Aku memilih diam dan bertekun serta memeluk agama saja.

    Keterdiaman, ketekunan ini tak lepas dari akar budaya Indonesia yang mengalir dalam darahku meski sudah hampir sembilan tahun lamanya aku meninggalkan Tanah Air.

    Bagiku, nilai-nilai religiositas yang muncul, meruap dan menjadi nafas hidup itu ya lahir dan bertunas di Indonesia. Aku diajari untuk memeluk agama tanpa meninggalkan hakikat ‘memeluk’ itu sendiri yang seolah tak mau tahu apa yang terjadi dengan obyek yang dipeluknya pokoknya harus dipeluk erat…

    Jadi, jangan tanya suasana batinku terkait semakin menurunnya jumlah orang beragama di Australia. Jangan pula kepo berpikir apa yang dipikirkan seorang DV terkait dijadikannya Kardinal George Pell sebagai tersangka.

    Aku menjalani hidup hari ini dengan ringan-ringan saja, tak bergeming dan tetap memeluk agama. Kenapa? Karena agama sejatinya tak pernah antara aku dengan kamu, aku dengan kalian, aku dengan angka-angka statistik itu dan tak pula dengan George Pell. Aku beragama kalau menurut apa yang dikatakan KH A Mustofa Bisri alias Gus Mus adalah karena aku sedang naik kereta kencana yang disediakan Tuhan untuk menuju hadiratNya.

    * * *

    Kepada mbak wartawan yang cantik jelita tadi, setelah ia bertanya apa pendapatmu tentang Kardinal George Pell, aku tersenyum lalu berucap, “I can’t give any comment right now. I need to go back to work… God bless you!” Ia membalas senyumku, menarik microphonenya dan memberiku jalan untuk pergi.

    Dari seberang Katedral, kulihat mbak wartawan tadi mengejar umat yang lainnya sementara wartawan lain mengejar umat yang lainnya lagi. Di belakangnya Gereja Tuhan tetap tegak berdiri tak bergeming dengan apapun yang terjadi di luarnya, mengarungi jaman.

    Agama

    …adalah kereta kencana
    yang disediakan Tuhan
    untuk kendaraan kalian
    berangkat menuju hadiratNya
    (Agama – KH A Mustofa Bisri / Gus Mus)

     

    • Berita tentang Kardinal George Pell bisa dibaca di sini
    • Berita tentang hasil Sensus ‘Australia’ 2016 terkait agama bisa disimak di sini
  • Jangan terlalu menangisi kematian Yesus, tapi tangisilah…

    Sama seperti tahun lalu, peringatan Jumat Agung tahun ini, aku dan keluarga merayakan di Canberra, kota yang letaknya sekitar 400 km di sebelah selatan Sydney yang juga adalah ibukota Australia. Kebetulan, seperti tahun sebelumnya, kali ini kami menghabiskan waktu di sana untuk santai menikmati udara sejuk kota.

    Kesamaan belum berakhir di sini karena, lagi-lagi, sama seperti tahun lalu, perayaan yang dimulai pukul 15:00 tadi dipimpin langsung oleh Yang Mulia Uskup Agung Christopher Prowse di katedral yang kebetulan juga ‘dimiliki’ oleh Santo Christopher itu.

    Yang membedakan, kalau tahun lalu kotbahnya cenderung membosankan, membikin ngantuk, kotbah Yang Mulia tadi begitu menohok dan memancingku untuk berpikir atau setidaknya merenungkan.

    “Jangan terlalu over sentimental menanggapi peringatan kematian Kristus! Jadikan peringatan ini untuk semakin bertindak nyata terhadap dunia di sekitarmu yang tak sentimentil sama sekali” gugatnya!

    Duarrrr! Rasanya mendengar kata-kata itu seperti ada bom meledak di dalam hati yang daya ledaknya barangkali melebihi bom Mother of All Bombs, bom non-nuklir terbesar milik Amerika yang untuk pertama kalinya sepanjang sejarah diledakkan di Afganistan atas restu presiden eksentrik mereka, Donald Trump pada 27 Maret 2017 lalu!

    Sebagai seorang yang menghabiskan 31 tahun pertama di Indonesia (1977 – 2008), tentu aku tak bisa menerima mentah-mentah ucapan yang Mulia di atas! Di Indonesia, agama tak hanya dihayati tapi juga dirasakan dengan membawa bongkahan besar bernama perasaan sehingga munculnya sisi sentimental setiap perayaan kematian Kristus adalah semacam gerak refleks, semacam reaksi dan bukannya aksi!

    Aku jadi ingat apa yang dulu biasa kuikuti.
    Jangankan Jumat Agung karena bahkan sisi sentimentil umat telah terbangun sejak peringatan Kamis Putih yang diselenggarakan semalam sebelumnya! Dimulai dari pencucian kaki para ‘rasul’ oleh Pastur yang kadang menghasilkan haru baik oleh kami yang menyaksikan maupun mereka yang diminta untuk berperan menjadi ‘rasul’. Dilanjut dengan perarakan Sakramen Mahakudus di akhir perayaan disambung dengan tuguran yang kadang berlarut-larut hingga dinihari.

    Jumat AgungLalu Jumat pagi, saat tidur belum tuntas, pun kita sudah harus datang ke Gereja untuk mengikuti jalan salib/tablo yang dalam beberapa kesempatan kadang dilengkapi dengan drama penyaliban dengan orang-orang yang berperan menjadi Yesus, para serdadu, Yohanes yang mendampingi Maria ibu Yesus dan Maria Magdalena hingga ke Golgota; sesuatu yang menurutku menjadi ‘hype’ setelah boom film Passion of Christ karya Mel Gibson dekade lalu!

    Selesai tablo yang dramatis nan menyesakkan, makan siang sebentar, jam tiga sudah harus balik ke Gereja lagi untuk mengikuti perayaan penyembahan salib Jumat Agung yang didahului dengan kisah sengsara Yesus yang mendayu-dayu, dibawakan oleh solis-solis terkemuka yang kerap muncul membawakan mazmur dalam misa-misa mingguan sepanjang tahun.

    Lalu bagian dimana Yesus meregang nyawa adalah puncaknya. Suasana gereja hening, tiba-tiba suara jernih solois memecah membawakan lagu pilu nan sendu. Isak tangis pun terdengar di sana-sini mengenang kematian Yesus yang harus diterima padahal tak satu kesalahan pun yang dituduhkan kepadaNya pernah terbukti.

    Upacara lalu dilanjut dengan penyembahan salib; masing-masing umat maju ke depan untuk mencium salib (bahkan ada beberapa gereja yang menempatkan salib beserta Yesus di dalam peti mati sungguhan, serem nggak sih hahahaha…) dan ini juga adalah pemeras air mata. Tak jarang orang-orang melanjutkan isaknya dengan mencium kaki salib, membuat para misdinar dan pro-diakon yang ditugaskan menjaga salib harus bekerja keras untuk mengelap sisa kecupan yang kadang bercampur dengan air mata dan… ingus yang muncul karena kebanyakan nangis sebelum dicium oleh umat lain yang ada di belakangnya yang juga kemungkinan akan melakukan hal yang sama, nangis, ber-airmata… kadang beringus pula!

    Nah, 31 tahun larut dalam budaya menyambut tri hari suci yang sedemikian khusuk, tahulah kalian seberapa ‘duarrr’ nya hati ini mendengar Yang Mulia menyampaikan pesan supaya tak ‘over-sentimental’ tadi kan?

    Tapi aku lantas merenung (ya, setelah Yang Mulia bicara tentang hal itu sejatinya aku sudah tak lagi mendengarkan kelanjutan kotbahnya karena larut dalam perenungan tersebut) apa benar kita sejatinya perlu sentimentil terhadap kematian Tuhan yang kita peringati hari ini?

    Jangan-jangan memang perlu tapi bisa juga tidak karena alasan yang dikemukakan Yang Mulia tadi?

    Otak dan batinku menimang-nimang kedua kemungkinan itu, perlukah? Tidak perlukah?

    Aku lantas mencoba berpikir ‘ekonomis’. Kalau perlu sentimentil, apa gunanya untuk kehidupan ini kesentimentilan itu dan apa perlunya pula untuk Tuhan?

    Tapi kalau tak sentimentil, apakah itu tanda kita tak berperasaan dan kedap nan beku terhadap apa yang ditawarkan Yesus sebagai sebuah pengorbanan atas dosa-dosa kita sendiri?

    Tiba-tiba penggalan Kabar Baik yang ditulis Lukas ini mencerahkan. Saat Yesus memanggul salib dari depan kediaman Pilatus di Yerusalem ke Golgota, beberapa ibu-ibu Yahudi menangisiNya. Alih-alih berterima kasih karena sudah diberi empati, Yesus yang kubayangkan sedang kepayahan memanggul salib seorang diri (Simon dari Kirene belum muncul) itu malah berkata demikian, “Hai putri-putri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! (bdk. Lukas 23:28)”

    Ya! Yesus memang tak perlu ditangisi. Ia adalah Anak Allah, sebelum turun ke bumi tentu Ia sudah ‘di-briefing’ oleh BapaNya tentang apa saja yang akan terjadi selama Ia ditugaskan di tanah ini.

    Tapi diri kita dan kehidupan ini, justru itulah yang perlu diratapi dan ditangisi jika kita tak menemukan Yesus di dalamnya! Jadi? Temukan Yesus di dalam hidup dengan jalan melakukan kehendak-kehendakNya bukannya malah ikut-ikutan menangis ketika kita mengenangNya karena bukankah kita tak dikehendaki untuk demikian adanya?

    So, jangan kebanyakan nangis lagi meski kalau memang tak tertahankan ya sudah mau digimanain lagi? Tapi pesanku, kalau kamu nangis jangan pakai tissue untuk menyeka air mata dan ingusmu. Ingat ‘dosa ekologis’, pesan Paus Fransiskus dalam ensikliknya Laudato Si untuk menjaga alam dan berapa banyak pohon harus ditebang karena kulitnya dipakai untuk bahan dasar tissue?

    Selamat mengarungi keheningan Paskah lebih dalam lagi, Tuhan memberkati!

  • Zakir Naik, Apologetika dan Mempertahankan Iman

    Akhirnya aku memutuskan untuk merilis tulisan setelah beberapa kawan bertanya kenapa aku tak kunjung mengomentari Zakir Naik yang sedang berkunjung dan ‘naik daun’ di Indonesia hari-hari ini.

    Kebetulan juga, tadi pagi di atas kereta saat berangkat kerja, aku menemukan tulisan menarik dari Ulil Abshar Abdalla, tokoh pemikir NU, di Facebook menyoal apologetika, Zakir Naik dan Ahmad?Deedat. Kalau kalian punya waktu aku menyarankan untuk membaca tulisannya saat ini juga ketimbang menghabiskan waktu di sini karena dibandingkan dengan guratannya Ulil, apalah arti larik-larik kata seorang DV?

    Membaca ulang dan mendengar istilah apologetika membuatku teringat dan terlempar pada sebuah masa silam yang jauhnya sekitar sepuluh tahun dari sekarang. Ketika itu aku tertarik untuk menjadi seorang apologetik, seorang yang mempertahankan iman Katolik dengan bekal pengetahuan terhadap keimanan itu sendiri.

    Ada tiga alasan kenapa aku memutuskan untuk belajar.

    Yang pertama dan yang paling tak masuk akal adalah, istilah apologetika itu seksi sekali! Setiap dengar kata ‘Apolo’ aku jadi ingat Apollo 11 yang konon katanya sampai ke Bulan dan… aha, apalagi kalau bukan Si Cantik Apollonia Vitelli dalam Godfather 1. Penampilannya hanya sebentar karena tak seberapa lama setelah diperistri Michael Corleone, Ia mati kena bom mobil saat sedang belajar nyetir di Sicilia. Ya, tepat ingatanmu, ada adegan telanjang si Apollonia dalam film itu. Seronok ya? Hahaha!

    zakir naik

    Yang kedua adalah supaya aku tampak lebih pintar lagi. Bukan hanya Donny yang jago IT dan jago main musik, tapi Donny yang juga jago ngoceh soal agama, soal apologetika! Sounds great huh?

    Tapi yang ketiga mungkin adalah yang paling penting dan terdengar realistis. Waktu itu aku merasa prihatin dengan begitu banyak orang-orang Katolik muda yang berpindah iman dengan gampang dan siapa tahu apologetika adalah jawaban untuk mengatasinya. Yang kubayangkan, kalau aku bisa membantu kawan-kawan Katolik yang hendak menyebrang agama dan membuat mereka ‘kembali ke Roma’ dengan ‘rumus-rumus’ apologetika yang kubawa, kan kedengarannya heroik banget?

    Meski akhirnya pemahaman itu ternyata salah kaprah. Orang-orang Katolik pindah agama bukan karena tak bisa mempertahankan iman mereka tapi karena sebagian tunduk takluk pada buaian calon istri/suami yang menghendaki untuk memilih simalakama, “Pilih mana? Agama atau saya?” Lalu karena mereka memilih pasangannya maka mereka pun menurut untuk ikut agama pasangannya juga sehingga mau di-apologetik-an sampai ke Bulan pun ya mana mau ia meninggalkan pasangannya, kan?

    Lalu apa dan bagaimana kiprahku dulu untuk belajar menjadi seorang apologetik? Aku ikut kursus-kursus kitab suci lalu melanjutkannya dengan usaha mandiri bergabung pada diskusi-diskusi online yang ber-genre apologetika Katolik tentu saja.

    Dalam forum-forum online itu kami membedah buku, menguliti tulisan dan menelan diskusi demi diskusi tentang iman dan tentang bagaimana iman harus dipertahankan. Lalu ketika dirasa sudah cukup ‘beramunisi’, kami terjun ke diskusi lintas iman online yang kadang dalam praktiknya benar-benar jauh dari diskusi dan lebih mengarah ke debat brutal dan tak mempedulikan lagi asas-asas baik di dalamnya.

    Hingga sekitar tiga tahun lamanya, tiba-tiba aku merasa ada yang berubah dalam diri. Wawasan tentang agama memang terbuka, keterbukaanku tentang spiritualitas bertambah, tapi ada satu pertanyaan awal yang bermain-main di benak, Adakah aku telah membela iman ketika berapologetika? Ataukah, justru sebenarnya aku hanya membela teks yang kuanggap sebagai imanku? Apakah iman itu?

    Itu semua kurang menohok hingga akhirnya suatu saat aku diberitahu oleh kawan sepelayanan di Gereja bahwa ada seorang ibu dan keluarganya yang harus dibantu secara ekonomi. Secara spontan, pertanyaanku balik kepadanya adalah, “Dia Katolik?”

    Kawanku menggeleng dan aku mengangkat bahu. Saat bahuku terangkat, saat itulah aku merasa terjatuh hingga ke dasaran! Aku merasa telah salah membela iman meski mungkin juga aku telah membela iman yang salah!

    Membela Iman Kristiani adalah melestarikan budaya pikir dan kehendak Yesus Sang Maha Kasih! Nah, kalau aku harus menanyakan terlebih dahulu apa agama orang yang hendak kutolong, apakah kasihNya bisa kulestarikan apalagi kupertahankan dengan cara-cara konyol seperti itu?

    Sejak saat itu aku mulai mundur teratur dari diskusi-diskusi apologetika. Beberapa orang yang bertanya tentang hal-hal keimanan kujawab dengan hal-hal yang tak semestinya diberikan oleh ‘seorang apologetik’. Jawabanku tak lagi ‘taktis’, tak lagi ‘eksak’ nan menohok tapi lebih banyak menggunakan kata, “Hmmm, tergantung bagaimana kamu memahaminya…” atau “Tergantung sikaplah!” Padahal dua hal itu, utamanya penggunakan kata ‘tergantung’ adalah hal pelik yang paling dihindari ketika sedang ‘berapologetika’ karena itu berarti membuka celah lawan untuk memasukkan opini-opininya.

    Titik dimana akhirnya aku benar-benar berhenti dari grup apologetika adalah momentum saat Jorge Mario Bergoglio diangkat menjadi Paus Fransiskus pada 2013. Paus yang lantas banyak mengusung semangat keterbukaan dan menerima perbedaan itu memberikan imbas positif bagiku untuk lebih mempertahankan iman dan bukannya mempertahankan teks yang melukiskan iman.

    Hingga kini, setelah aku tak lagi belajar menjadi seorang apologetik, aku toh tetap merasa mempertahankan iman dengan cara-cara ‘offline’ yang tak perlu di-‘on air’ kan. Mempertahankan iman dengan tak menganggap orang lain sebagai lawan tapi justru melawan kehendak diri sendiri yang kadang tak ingin mempertahankan iman secara nyata. Demikian.

    Don, errrrr…lalu inti tulisanmu tentang Zakir Naik apa??Ya nggak ada… karena tak semuanya harus dicari intinya, kan?

  • Catatan Natal: menolong yang lebih kaya, membahagiakan yang mayoritas

    Catatan Natal: menolong yang lebih kaya, membahagiakan yang mayoritas

    Jumat, 23 Desember 2016.
    Laju waktu di hari terakhir kerja tahun ini bergulir lamban. ?Orang-orang yang berlalu lalang tinggal segelintir karena sebagian lain sudah mengambil cuti Natal, menyisakan jalanan yang lengang, gerbong kereta yang juga kosong lebih dari sebagian.

    Sekeluarku dari Town Hall Station, seperti yang sudah-sudah, aku mengambil ruas jalur ke arah Event Cinema di George St sebagai jalan pintas terdekat menuju kantor.

    Tapi ada yang tak biasa pagi itu. Setelah keluar dari lorong, tepat di bibirnya yang bersebelahan dengan sebuah restaurant, seorang pemuda tidur di trotoar dengan wajah ditutup sebagian menggunakan selimut tipisnya seperti tampak pada foto di atas.

    Di depannya tertulis dalam kertas kardus seperti ini (kutulis ulang)

    Hi I’m 22 years old and homeless.
    Can you spare any change to help me out. Thank you much appreciated. Merry Christmas.

    Aku menyebutnya homeless, gelandangan.
    Jumlah homeless di Australia kian hari memang kian memprihatinkan. Dari sensus yang dibuat pada 2011, di seluruh negeri terdapat 105.237 homeless dengan sebaran berdasarkan usia, usia sepantaran si pemuda tadi, 19 – 24 tahun, ada sekitar 15.325, atau 15% dari seluruh jumlah homeless yang ada.

    Yang lebih memerihkan lagi, mereka menggelandang karena pilihan hidup, sesuatu yang amat dijunjung tinggi dalam alam ultra-bebas (dan kadang kebablasan) di Australia sini.

    Jadi kubayangkan ada satu titik dimana ia memilih untuk hidup menggelandang ketimbang bekerja. Aneh banget, kan? Tapi hal itu harus dihormati sebagai pilihan hidupnya sendiri!

    Tapi sebagai orang yang merasa dirinya pemalas tapi lantas berjuang segala daya untuk tak malas, aku terus terang gusar melihat pemandangan seperti itu. Rekan-rekan sepantarannya bersibuk-sibuk ria menggapai cita-cita, kenapa ia malah tidur di trotoar dan mengharapkan sedekah dari yang lewat di depannya?

    Kenapa ia tak mencari kerja apa saja, toh di negara ini, pemerintah menekan habis-habisan pelaku bisnis supaya mengambil tenaga kerja sebanyak-banyaknya sehingga tingkat pengangguran turun?

    Kenapa ia setidaknya tak belajar main gitar lalu ngamen, bukankah itu lebih baik dari sekadar tidur mengganggu orang lewat dan mengharapkan dollar?

    “22 tahun? Dulu aku seumuran itu harus banting tulang cari uang untuk membiayai hidupku sendiri di Jogja!”

    Aku lantas berlalu begitu saja…

    Beberapa jam sesudah kejadian itu, aku menyesal dengan ketetapan hatiku tadi.

    Harusnya aku tak menggerutu, tak pula mengatai dia. Bukan. Bukan karena aku harus menghormati pilihan hidupnya, tapi lebih karena aku seharusnya hanya punya dua pilihan, membantu atau diam saja.

    natal

    Kawan, dunia ini sudah penuh dengan keterbalikan. Orang yang perlu bantuan belum tentu orang miskin, orang yang perlu sokongan belum tentu kaum minoritas yang tertindas lagi tersingkir.

    Ada banyak kesempatan dimana kita melihat justru orang yang lebih kaya secara jasmani dan duniawi yang perlu disorongkan bantuan kepadanya. Dan, bukankah dimana-mana sedang terjadi saat ini betapa kaum yang mengaku dari kalangan mayoritas malah ketakutan hanya karena senyala iman kaum minoritas yang tertindas?

    Seolah apa yang kita lakukan ini bisa memporak-porandakan ‘kapal’ mereka. Seolah apa yang kita kenakan dan pajang sebagai simbol perayaan, jika dikenakan dan dilihat kaumnya, maka imannya akan menghablur seiring deru hujan di bulan desember.

    Untuk itu mereka merazia? Untuk itu mereka memilih untuk tidak mengucapi kita selamat saat kita merayakan Natal?

    Hey, kawan! Ingat, Natal adalah kita, dan kita adalah Natal.
    Dua ribu tahun silam, Yesus hadir juga tanpa perhitungan bahwa Ia hanya akan menolong orang miskin dan tertindas saja. Ia menolong siapa saja, bagaimanapun strata sosialnya, apapun agama dan orientasi seksual serta pekerjaannya. Buktinya, pelacur, pejabat cukai dan istri-istri pejabat banyak yang jatuh hati pada pengajaranNya, pada pribadiNya yang begitu welas asih tanpa batas.

    Jadi mari, justru kita bantu mereka tak peduli apakah mereka lebih miskin atau mayoritas? Lebih makmur dan digdaya.

    Kita bantu apa yang membuat mereka bahagia. Kita gandeng, kita manusiakan dan kita dengarkan mereka. Kalau atribut yang kita pakai dianggap mengganggu interaksi kita dengan mereka, lepaskan saja karena bukankah yang paling penting itu yang ada di dalam hati melebihi dari segala yang lahiriah? Bukan pula karena takut, tapi lebih karena ada yang jauh lebih penting ketimbang atribut dan rasa takut itu sendiri yaitu kasih yang bisa kita salurkan dari Tuhan kepada mereka, mereka dan mereka.

    Karena tantangan saat ini dan saat-saat nanti adalah sama; bagaimana menemukan Tuhan dalam setiap perkara yang kita hadapi, termasuk dalam segala kegetiran karena tekanan ini.

    Selamat Merayakan Natal. Damai untuk semua.

    Salam dariku dan keluarga,

    DV

  • Datuk: Isu SARA amat gampang untuk memobilisasi massa

    Datuk: Isu SARA amat gampang untuk memobilisasi massa

    Jika diperhatikan sekilas, sebenarnya tak ada yang salah dengan potongan berita dari Harian Kompas Selasa tgl 15/11/16 bertajuk ?Lari Amal di Borobudur Marathon? di bawah ini.

    blog_datuk_01

    Asosiasi alumni sekolah-sekolah katolik di bawah asuhan para imam Yesuit, ya wajar tho membantu sekolah katolik lainnya?

    Benar. Tapi kalau kalian perhatikan, di situ ada nama Haji Datuk Sweida Z. sebagai ketua umum AAJI, dan inilah pembedanya.

    Eh sebentar?sebenarnya hal itu juga tak beda-beda amat kan, Don? Apa karena dia seorang muslim yang haji tapi memimpin sebuah asosiasi alumni sekolah katolik? Wajar, kan? Bukankah kita ini Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan pemeluk agama-agama?

    Betul, tapi dalam suasana yang sedang gaduh oleh beberapa kasus terkait isu SARA yang menyeruak belakangan, hal ini justru jadi beda, jadi penyejuk.

    Ironis sebenarnya karena melihat sesuatu yang biasa jadi tampak luar biasa itu pertanda kita sebenarnya tidak berada di jalur yang biasa lagi.

    Aku pribadi mengenal beliau. Mas Datuk, begitu aku memanggilnya karena beliau adalah kakak angkatan di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Walau jarak kelulusan kami cukup jauh, aku lulus tahun 1996 dan beliau lulus tahun 1973, tapi jauh dekat, di De Britto, semua dilibas dengan sebutan ?Mas?.

    Bahkan sebelum menjabat di AAJI, Mas Datuk juga menjabat sebagai Presiden Alumni SMA Kolese De Britto hingga dua periode.

    Tadi pagi tiba-tiba terbesit dalam benak, aku ingin mewawancarainya.

    Bukan sebagai upaya untuk meng-counter banyaknya berita-berita bernada negatif dan penuh intrik perpecahan di social media. Tapi lebih pada, sekali lagi, menghadirkan sesuatu yang sejatinya biasa tapi karena kita berada dalam kondisi yang luar biasa, hal-hal lumrah seperti ini jadi tampak luar biasa.

    Tulisan ini juga kuhadirkan sebagai tawaran baik bahwa andai saja ada seratus orang seperti Mas Datuk di sekitar kita, atau andai kita bisa menyerap hal-hal baik darinya untuk dijalankan dalam hidup yang kian majemuk ini, barangkali kehidupan berbhineka di Tanah Air bisa semakin baik.

    Simak petikannya berikut ini?

    Mas Datuk, Anda berkiprah aktif dalam organisasi-organisasi alumni yang berasal dari lembaga pendidikan Katolik padahal Anda muslim. Apa Anda nggak merasa risih?

    Pasti tidak! Persahabatan dan silaturahim yang terjalin malah sangat natural karena saya sejak TK sampai SMA mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah Katolik dan terus menjalin persahabatan/silahturahim dengan seluruh rekan-rekan se-alumni hingga sekarang.

    Anda sangat membumi dan seolah malah mensyukuri akan adanya perbedaan. Kok bisa seperti itu bagaimana, Mas?

    Semua berasal dari lingkungan keluarga.

    Alhamdulillah, saya di besarkan dalam lingkungan keluarga yang beragama dengan baik.

    Alhamdulillah, orangtua menyekolahkan saya ke sekolah-sekolah yang mampu memberikan pendidikan dengan baik secara akademis dan kerohanian/moral.

    Saya memiliki orangtua yang sangat open mind dalam bergaul tapi kuat dalam berkaidah.

    Beliau berani menyekolahkan saya sejak TK sampai di SMA di sekolah kafir tanpa khawatir saya akan menjadi kafir.

    Waktu SD, kalau saya di rumah disuruh berdoa maka saya berdoa Bapa Kami dan orang tua saya tertawa terbahak-bahak tanpa marah, lalu dengan teduh mereka mengajari saya yang seharusnya.

    Mereka juga tidak keberatan saya mengikuti perayaan misa bersama rekan se-sekolah di gereja, tetapi mereka melarang saya dengan tegas waktu saya ingin ke gereja di hari Minggu dengan memberikan sebab-sebabnya.

    Datuk

    Oh ya? Kenapa bisa begitu?

    Mereka memberi tahu bahwa ketika saya harus ikut perayaan misa bersama rekan se-sekolah, itu adalah bagian dari kegiatan sekolah yang wajib untuk saya ikuti. Sementara kalau saya ikut perayaan misa pada hari minggu, itu adalah kegiatan rohani orang lain yang harus dihormati.

    Orang tua saya bilang bahwa kalau saya mau beribadah ya pergilah ke mesjid karena di sana tempat kami semua satu keluarga beribadah.

    Di saat yang bersamaan saya melihat bagaimana cara orangtua bergaul dengan sangat intens di masyarakat Katolik Yogya dan masyarakat NU (Nahdlatul Ulama) di Yogya. Sehingga sejak kecil saya ter-ekspose kepada pergaulan yang sangat beragam dan dari sinilah terasah rasa kesatuan dan kebangsaan dan kebhinekaan di dalam hati dan diri saya.

    Melihat kondisi terkini terkait maraknya isu SARA semisal kasus penistaan agama, bom molotov ke gereja dan masalah-masalah lainnya, Mas Datuk punya satu pandangan nggak kenapa hal itu bisa terjadi?

    Sederhana saja, semuanya diledakkan karena faktor ekonomi, iri dan politik yang dimainkan dengan isu SARA. Kenapa SARA, karena isu ini amat gampang untuk memobilisir massa.

    Lalu kalau dalam tataran solusi, bagaimana cara menghindari hal seperti ini terjadi ke depannya, Mas?

    Rekatkan rasa kehidupan berbangsa dan bernegara, atasi kesenjangan dalam segala hal. Apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dalam hal membuka akses pembangunan infrastruktur di seluruh Nusantara itu sudah sangat bagus dan bisa jadi salah satu cara ampuh untuk mengatasi soal kesenjangan ini.

    Rasa saling pengertian percaya di masyarakat juga harus dibangun dan semua jalur komunikasi harus lancar.

    Buat kerjasama kegiatan-kegiatan sosial dan ekspose besar-besaran sehingga masyarakat bisa mendapatkan pesan yang positif, pesan bahwa kita itu SATU tanpa sekat apapun juga.

    Mas Datuk, pertanyaan selanjutnya, menurut Anda yang sudah kaya pengalaman dengan hidup dan srawung?dalam keragaman, bagaimana sih tips untuk tetap beragama dengan baik tapi tetap peduli pada kebhinekaan di Indonesia ?

    Open mind. Kita harus terbuka terhadap semua pihak. Hal ini bisa dibangun karena adanya rasa saling percaya sehingga silaturahmi menjadi sangat penting perannya di sini.

    Dari pengalaman bersekolah di sekolah yesuit, hal yang paling mengesankan apa?

    Saya sangat beruntung bersekolah di tempat yang sangat disiplin sekaligus open mind, sehingga pertumbuhan kerohanian dan moral saya malah terjaga, lebih kokoh dan mapan.

    Hingga saat ini bahkan saya memegang kunci universal dalam hidup yaitu man for others dan AMDG. (AMDG adalah semboyan Yesuit, kependekan dari Ad Maiorem Dei Gloriam, semua demi kemuliaan Allah yang lebih besar). Saya mengartikannya sebagai, apapun yang aku lakukan adalah sedekahku bagi sesama untuk ketaatanku kepada Allah.

  • Mudahnya beragama di negeri non-agamis

    Mudahnya beragama di negeri non-agamis

    Rozzelle, 5 November 2016.
    Di kawasan inner west of Sydney berjarak empat kilometer dari pusat kota itu, aku dan keluarga menikmati sabtu sore. Mengudap kopi, melihat anak-anak menikmati ice cream, sementara angin sepoi berhembus mendinginkan terik seharian.

    Ramai orang berlalu lalang sore itu. Ada yang berbelanja buah dan sayuran di local grocery, ada yang mengamat-amati lapak barang second hand yang digelar di taman seberang, ada pula yang kongkow-kongkow asik dengan pacar ataupun sendirian membaca buku dan menikmati snack sore di atas rerumputan taman.

     

    Ini adalah tahun ke delapan aku tinggal di negeri nan sekuler, Australia dan kian hari aku kian mensyukuri kesempatan ini; untuk ada dan tinggal di sini.

    Sehari sebelumnya, aku penat memantau linimasa terkait demo besar 4 November 2016 di Jakarta.

    Karena nila setitik, ratusan ribu massa meluap di jalanan protokol ibukota meringsek ke depan istana. Susu sebelanga pun koyak meski semoga tak rusak, mereka mengejar Ahok yang dianggap menista agama, tapi ketika sudah dituruti kemauannya, isu ter-eskalasi ke tingkat berikutnya: turunkan presiden!

    Kenapa agama begitu mudah dijadikan bahan pergunjingan? Karena Tuhan, yang digambarkan di sana tak tampak ‘batang hidungNya’.
    Tuhan tak kasat mata dan hal ini dimanfaatkan oknum untuk menjadi tuhan bagi kepentingannya dan syahwatnya masing-masing. Persis seperti apa yang dikatakan gubernur berdarah cina itu, mereka membohongi memakai dalih-dalih keagamaan…

    ***

    Tak jauh dari rumah tempat tinggalku di sini ada sebuah gereja yang tinggal tunggu waktu untuk dihancurkan lalu di atasnya akan dibangun apartemen elit. Sebagai orang yang mencoba hidup dalam tata aturan agama, aku tentu merasa terpukul, prihatin karena rumah Tuhan diringkus meski di sisi lain aku justru ditantang untuk mengambil nilai positif dari yang diperbolehkan terjadi olehNya.

    Sekulerisme
    Gereja yang akan dirubuhkan dan baliho tentang apartemen yang akan didirikan…

    Gereja itu memang sepi dari umat, posisinya berhadap-hadapan dengan gereja yang biasa kudatangi setiap akhir pekan. Tapi sejak kantor pemasaran apartemen itu dibuka, sejak baliho besar berisi rekayasa bangunan yang hendak dibangun dimunculkan, mendadak gereja jadi ramai meski tidak untuk berdoa dan memuji Allah tapi untuk menguji sejauh mana uang yang didapat mampu menebus petak-petak apartemen yang ditawarkan.

    Agama mungkin memang makin ditinggalkan di sini tapi kebebasan beragama tetap dijunjung tinggi. Meski memiliki akar kristiani eropa yang begitu kuat, Australia adalah negara yang pemerintahnya menolak campur tangan agama apapun ke dalamnya.

    Di negara ini, seperti halnya orang bebas telanjang, media juga seolah bebas menelanjangi tokoh-tokoh agama. Saat ada seorang pastor yang diduga terkait kasus pelecehan seksual, media begitu keras menggiring dan menyudutkan. Bahkan seorang kardinal sekelas George Pell yang ditunjuk Vatikan membawahi divisi ekonomi kepausan pun harus mengalah pulang ke Australia untuk memberikan keterangan (dan bukannya tak mungkin ditingkatkan statusnya jadi tersangka) terkait kasus pelecehan seksual yang dituduhkan kepada pastor bawahannya saat ia masih bertugas di sini.

    Menyedihkan? Terserah masing-masing pribadi menanggapi tapi ketika bicara soal hukum, negara yang punya kuasa.

    Di Australia, agama dikembalikan ke ranah pribadi masing-masing, orang tak peduli apakah agamamu itu mayoritas atau minoritas, menyembah satu tuhan atau sejuta tuhan, setebal apa kitab sucimu, selama kehadiranmu dan kebiasaanmu beragama tak merugikan orang lain kamu bebas memeluknya.

    Orang menjalankan agama seperti halnya orang memilih mobil di sini dan seharusnya di mana saja. Secinta-cintanya kamu pada mobil, tak perlu memenuhi percakapan dengan teman hanya soal mobil melulu. Tak perlu juga mengomentari mobil orang lain lagipula bukankah hidup ini tak hanya soal mobil?

    Justru kalau mobilmu bagus, buktikan bahwa ia bisa kamu kendarai dengan baik pula sehingga kamu bisa lebih tepat waktu? Bisa pula kau pergunakan mobilmu untuk memberi tumpangan pada orang lain serta mengangkut orang sakit ke rumah sakit jika diperlukan misalnya? Kalau enggak? Percuma bicara mobil.

    Barangkali itulah yang membuat kehidupan beragama di australia cukup baik dan orang tak bergeming tentang agama yang dinista, bagaimana Yesus dijadikan umpatan, dijadikan cacian, dianggap fiksi dan ketinggalan jaman.

    Marah? Jika boleh memilih tentu marah, tapi untuk apa? Bukankah lebih baik membuktikan bahwa meski dijadikan umpatan, kita muridNya sanggup berbuat baik termasuk bagi yang mencaci dan mengumpat?

    Rozzelle, 5 November 2016.
    Matahari semakin condong ke barat dan angin makin kencang menerpa… Aku menengadah ke langit dan bersyukur karena Ia tak pernah menghentikan berkatNya terhadap negara sekuler ini, negara yang sistem pemerintahannya kerap dianggap momok dan musuh modern bagi penganut agama-agama padahal siapa tahu Tuhan justru sedang berencana untuk mengubah perilaku kita dengan menggunakan sekulerisme itu sendiri?

    Siapa tahu…

    blog_sekulerisme_01

  • Penrose Park

    Penrose Park

    Sejak menginjakkan kaki pertama kali ke Australia, 2008 silam, barangkali sudah lebih dari sepuluh kali aku mengunjungi Penrose Park.

    Tempat pertapaan dan sekaligus taman ziarah umat Katholik ini letaknya ada di tengah-tengah jarak antara Sydney dan Canberra, ibu kota Australia.

    Tapi kunjungan ke Penrose Park minggu lalu cukup istimewa karena aku tak sendirian. Ada sekitar seratus orang lainnya, kami semua dari Catholic Indonesian Community (CIC) Sydney yang berkunjung serta berziarah ke Penrose Park; sebuah acara dua kali dalam setahun yang memang sudah terjadwal.

    Kebetulan, CIC sebagai wakil Indonesia punya sebuah kapel kecil di Penrose Park yang dijadikan pusat acara ziarah kami minggu lalu.

    Acara dimulai dengan doa rosario lalu jalan salib hingga ke puncak Penrose Park lalu ditutup dengan perayaan ekaristi dalam Bahasa Indonesia dan santap siang.

    Kalau dalam tulisan lawas yang kutulis tujuh tahun silam ini kalian bisa melihat foto-foto Penrose Park, di sini kalian bisa melihat gambar hidup yang kusajikan dalam format vlog.

    Simak di bawah atau kalau menemui kesulitan, bisa mengakses langsung di sini.

    https://youtu.be/LsFcnUEC81w

  • Nico: Kalau memang nggak percaya ya nggak papa, tapi bijaklah

    Nico: Kalau memang nggak percaya ya nggak papa, tapi bijaklah

    Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisanku sebelumnya yang kuberi tajuk Patung dan manajemen rasa kaget.

    Update tentang berita patung yang rusak dan dibuang, kini semuanya makin jelas.?Aktor perusak dan pembuang patung-patung itu konon adalah anak koster gereja setempat. Bagi yang belum tahu, koster adalah pembantu umum di gereja. Kenapa anak itu membuang dan merusak? Konon, lagi-lagi konon, ia ngambek karena tak dibelikan handphone canggih oleh bapaknya.

    Terlepas dari berita ini benar atau tidak, setidaknya cerita ini membuat kita tahu bahwa stigma bahwa yang merusak tempat ibadah pasti dari kalangan luar yang sering kita cap sebagai?’teroris intoleran’ itu tidak selamanya benar, kan?

    Nah, tentang patung Bunda Maria di Jogja?yang konon mengeluarkan bau wangi dan ‘berkeringat’, aku juga punya updatenya.

    Patung
    Patung Bunda Maria

    Jadi ada seorang kerabat Nicholas Ronald Christianto, si pemilik patung itu yang membaca tulisanku dan kebetulan ia adalah kawanku juga. Ia lantas menghubungkanku dengan Nico dan kesempatan itu tak kusia-siakan untuk mewawancarainya.

    Ini petikannya.

    Nic, patung maria-mu itu benar-benar mengeluarkan bau wangi dan menangis?

    Kalau menangis saya rasa nggak juga..

    Oh, lalu?

    Mengeluarkan minyak lebih tepatnya.

    Sejak kapan sih patung itu menangis dan mengeluarkan minyak?

    Saya beli tahun 1994, setelah saya beli, tiga bulan kemudian kejadian (menangis dan mengeluarkan minyak)

    Patung
    Patung saat belum direparasi

    Kejadian-kejadian speerti itu setiap waktu atau di saat-saat tertentu?

    Di saat-saat tertentu. Saat Hari Raya Maria, kalau ada umat sakit dan minta didoakan, kadang kalau yang sakit cuma buat main-main ya tidak ada minyak yang dikeluarkan.

    Kalau kejadiannya sudah sejak lama, kenapa baru-baru ini beritanya menyebar. Ceritanya gimana?

    Awalnya saya hanya mau reparasi patung itu. Karena saya tinggal di Jakarta, sementara tukang reparasinya di Jogja, saya kirim via teman sekitar tiga minggu lalu. Nama tukang reparasinya, Pak Brata. Kebetulan ia memiliki hiasan mahkota dengan lingkaran 12 bintang dan menurutku akan bagus kalau ditambahkan di patungku.

    Lalu?

    Nah, setelah tiga minggu, aku pergi ke JOgja dan langsung ke tokonya Pak Brata mau tanya sudah jadi atau belum dan ternyata sudah. Aku lalu minta ia untuk membungkusnya karena Jumat besok akan kubawa pulang ke Jakarta.

    Nah, paginya saya kembali ke toko tiba-tiba patungnya mengeluarkan minyak mulai dari perut dan kedua matanya. Yang tahu pertama kali malah Pak Brata sendiri.

    Pak Brata kaget lalu memanggil seorang pengurus lingkungan. Dia lantas telepon Romo Noto (Romo G. Notobudyo, Pr) dan minta didoakan di rumahnya bersama keluarganya. Eh, yang datang malah ada lebih dari 100 orang dan dalam acara itu ada begitu banyak mukjizat kesembuhan terjadi.

    Maksudnya?

    Yang tuli jadi bisa dengar, yang sakit mata sembuh…

    Tapi kemudian ada yang mengirimkan pesan, mengatasnamakan pastor dan menyatakan bahwa mukjizat itu bukan mukjizat betulan. Kok bisa?

    Aku juga tak tahu kenapa sampai ada yang berbuat seperti itu. Aku gak ada niat apa-apa. Aku cuma pengen ambil patung lalu pulang ke Jakarta.

    Lagipula aku juga nggak pengen semua ini terekspos keluar. Patung ini milik pribadi jadi biarlah semua ini kembali ke pribadi saya dan keluarga. Saya menyayangkan banget berita-berita yang menyudutkan saya itu.

    Kalau memang nggak percaya ya nggak papa, tapi bijaklah.

    Pertanyaan terakhir, Nic… Kamu percaya bahwa semua yang terjadi itu adalah mukjizat?

    Kalau ditanya percaya, ya aku melihat sendiri dan yang penting kan semua itu dilihat dari buah-buahnya kan?

    Update:

    Soal pengrusakan oleh anak koster gereja itu diduga adalah hoax. Aku menemukan kaitannya di sini.

  • Tentang Sendal Jepit Yesus dan Maria itu…

    Tentang Sendal Jepit Yesus dan Maria itu…

    Mungkin karena setiap hari aku menulis Kabar Baik maka sore tadi seseorang mengirimkan email berisi pertanyaan kepadaku berharap aku bisa menyediakan pelita baginya. Begini tanyanya, “Bro, bagaimana menurut pandangan Bro Donny tentang polemik sandal jepit berdesign wajah Yesus dan Maria? Berdosa atau tidakkah?”

    Nggak usah panggil Bro untuk menyapa seorang Donny. Cukup panggil Donny atau DV, Bro! *eh

    Aku sebelum mendapatkan email tersebut tak sadar ada polemik sendal jepit. Baru sesudahnya aku lantas mencari tahu dan ternyata memang meski tak kuat, ombak di social media terkait dengan hal ini cukup seru juga.

    sendal jepit
    Sendal jepit kontroversial itu…

    Ada yang memandang hal itu sebagai dosa, tapi ada yang sok cool melihat hanya dari kacamata seni dan ‘cuek’ saja. Tapi yang lebih mengherankan adalah, ada juga oknum-oknum yang mengaku non-kristiani yang seolah memanas-manasi kenapa orang-orang ‘kita’ tak terbakar amarahnya melihat postingan sendal jepit berwajah Yesus dan IbuNya itu?

    Pola pandang manusia itu berbeda-beda, Bung! Eh… Bro!

    Tempo hari ada juga berita tentang warung bakso yang menyajikan masakan dengan cara unik, ditaruh di jamban.

    Aku melihat pertama kali langsung eneg dan mual, “Gila! Kenapa harus makan dari jamban?”

    Meski demikian, pada kenyataannya ada lebih banyak orang yang cuek, warungnya juga terbukti ramai dan kuyakin lebih ramai lagi setelah media televisi nasional mengangkatnya menjadi sesuatu yang unik dan langka.

    sendal jepit
    Bakso di toilet. Bagaimana cara pandangmu? (sumber: Brilio.net)

    Nah, dari situ, kalau orang lantas berpikir macam-macam tentang satu hal yang kontroversial seperti sendal jepit itu… ya wajar!

    Aku tak percaya semua orang Kristiani punya anggapan yang sama tentang sendal jepit tersebut!?Pasti ada juga yang panas dan naik darah melihat Tuhan dan Bunda Tuhan dihina. Tapi ada juga yang mungkin merasa adem-ayem dan ada pula yang ‘sok cool’ memilih untuk tenang dan berpendapat “Emang kamu pikir orang Kristen itu emosian kayak mereka?” sambil meunjuk ke ‘rombongan lain’ yang bersumbu pendek kalau melihat hal beginian….

    Kamu sendiri gimana Don? Bro Don?
    Aku berpikir begini… Jika sendal itu dibuat untuk menghina ya aku tak setuju meski ketidaksetujuanku hanya akan terlontar sebagai pendapat bukannya jebakan jahat untuk si pembuat karena urusan dosa itu biarlah jadi urusan dia dengan Dia.

    Tapi jika lantas sendal itu dibuat untuk tidak menghina, kenapa harus designnya adalah Yesus dan Bunda Maria? Ia tahu sandal adalah alas kaki yang akan diinjak untuk dipakai.

    Jadi, kalau aku adalah produsen sendal, aku memilih untuk tidak menggunakan gambar kedua sosok tersebut di desain produkku.

    Berarti kamu menyalahkan, Don?
    Uhmmm, tidak juga… Kamu tak bisa menjebakku dengan pertanyaan seperti itu hahahaha…

    Aku lebih suka menjawab hal ini dengan cerita ‘asal-asalanku’ ini…

    Anggaplah ada sebuah desa yang setiap jam enam sore hingga enam pagi, saat lampu jalan dinyalakan, semua pagar besi rumah yang ada di desa itu jadi dialiri setrum.

    Membahayakan? Jelas! Tiga hari lalu, Kang Sastro hampir ‘liwat’ karena lupa pakai sendal, membuka pagar besi dan tersentak pingsan!

    Nah, suatu malam, tetangga Kang Sastro yang usianya sudah senja terkena serangan jantung. Ia hidup dengan cucunya yang seorang Katolik taat. Entah bagaimana, cucunya, sebut saja Mawar, hanya punya sendal jepit bergambar Yesus dan Maria itu.

    Si Mawar berada di persimpangan.
    Ia harus membawa neneknya ke rumah sakit atau mati di tempat. Untuk itu, ia harus mengenakan sendal jepit itu untuk membuka pintu pagar besi rumahnya supaya tak kesetrum. Di sisi itu ia merasa berdosa jika harus mengenakan sendal jepit! Tapi di sisi lain, seperti kutulis barusan, jika tak dibawa, neneknya akan mati tak seberapa lama…

    Nah, pilih mana? Dosa’an mana?

    Intinya, tak semua hal yang ada di dunia ini harus dikejar-kejar untuk dinilai dari sisi benar-salahnya saja.

    sendal jepit
    Tattooku!

    Eh, kalian tahu nggak, akupun punya tattoo di paha bergambar Yesus di paha kanan dan Maria di paha kiri? Silakan baca tulisan-tulisan di tagar Hikayat Tattoo jika ingin membaca detail lengkapnya.

    Waktu orang-orang bilang aku gak sopan terutama karena sejak dulu aku aktif di pelayanan keagamaan, aku berkilah dengan alasan “Tuhan Yesus dan Bunda Maria kuletakkan di situ, di ujung tertinggi kakiku supaya mereka mengawal langkahku sepanjang hidup!” Hahahaha…

    Buat yang kirim email, semoga tulisan ini nggak tambah bikin bingung! Karena sejatinya gak ada hal sekecil apapun di dunia ini yang tidak membingungkan termasuk kebingungan-kebingungan kita sendiri!

  • Babi!

    Babi!

    Pada kesempatan-kesempatan tertentu saat kami ingin santai sejenak dan pekerjaan kantor juga sedang tidak terlalu sibuk, Joyce sering mengajakku meluangkan barang 30 – 60 menit untuk sarapan pagi di salah satu kedai kopi kesukaan kami.

    Dan pagi tadi adalah salah satunya.
    Setelah mengantar Kakak (Odilia, anak pertamaku) ke sekolah, kami mampir ke kedai kopi itu untuk sarapan.

    Seperti biasa, aku dan Joyce memesan menu Big Brekkie, sebuah menu ?sarapan besar? ala Australia berisi dua telor ceplok setengah matang (bisa juga dipesan dalam bentuk omlet), dua sosis babi, dua lembar irisan daging babi (bacon), beberapa potong jamur serta dua iris roti tawar gandum serta ditemani secangkir besar kopi susu kesukaanku.

    Begitu pesanan kubayar di kasir, barulah aku sadar bahwa aku sudah terlanjur janji untuk tidak makan babi di masa Pra Paskah ini sebagai wujud pantangku.

    Waduh, gimana ini?
    Aku terlanjur pesan, terlanjur lapar dan terlanjur membayangkan akan makan babi dan babi dan babi!

    Aku lantas tawar-menawar dengan Tuhan, tak jauh dari meja kasir sambil nunggu pesanan jadi.

    Tuhan? Ini makanan sudah terlanjur kupesan, kalau nggak kumakan dan kubuang sayang, tapi aku tahu aku sudah terlanjur janji untuk tidak mengkonsumsi babi selama masa Pra Paskah. Gimana ya?

    Dan seperti biasa, tak satupun terdengar suara Tuhan berbicara?

    Ok, let?s put it this way! Bagaimana kalau aku makan babi pagi ini dan besok jumat kubayar lunas hutangku dengan puasa penuh sehari-harian?

    Ia tetap tak menjawab? Atau mungkin menjawab tapi frekuensinya tak terjangkau.

    Pesanan jadi dan aku beringsut kembali ke meja membawa nampan besar. Bau semerbak babi meruam hingga terasa di ujung bulu-bulu hidungku.

    ?Aduh, Hon!? bukaku kepada Joyce.
    ?Kenapa??

    ?Aku tadi lupa pesan babi? kan aku pantang?!? Ia tertawa dan tawanya memang sudah kuprediksikan.

    ?Makanya pantangnya jangan pantang babi! Pantang tuh pantang buka Facebook sebulan penuh! Pasti kamu ga bisa kan?? sergahnya. Joyce memang pantang tidak mengakses Facebook dalam masa ini.
    Aku diam saja.

    ?Wah gimana ya?? Aku mengernyitkan dahi dan mengajukan pertanyaan seolah memerlukan penegasan dan berharap ia bilang Ya udah nggak papa.. makan aja.

    Tapi alih-alih demikian, Joyce menjawab dengan satu hal yang tak kuduga sebelumnya, ?Ya, ambil dan buang babinya…kalau berani!?

    DORRRRRR! Ini tantangan berat, amat berat. Seekor babi sudah mengorbankan nyawanya untuk kunikmati dagingnya dan aku harus menolaknya begitu saja? Sebegitu sia-siakah hidupnya? Mana bisa aku kuasa menolak? Oh noooo!

    Sejenak, dua jenak aku berpikir hendak benar-benar menyantap daging babi itu tapi tiba-tiba aku berkeputusan lain.

    Kuambil selembar tissue, kubuka dan kuletakkan satu-per?satu daging babi baik yang berupa sosis maupun bacon, kubungkus lalu kubuang ke tempat sampah.

    ?OK, kubuang!? aku tersenyum ke arah Joyce.

    Ia manggut-manggut. ?Tumben?.?
    ?O well…He died for me anyway?.? imbuhku.

    Ya!
    Keputusanku untuk akhirnya membuang daging babi itu muncul setelah tiba-tiba aku menyadari dua ribu tahun silam Ia memilih mati demiku padahal Ia bisa memilih untuk tak seperti itu. Lalu kenapa aku tak bisa hanya sekadar mengorbankan kenikmatan daging babi dalam masa Pra Paskah seperti ini?

    ? dan satu ujian berat terlewati pagi itu?

    Hal terkuat yang kupelajari dari pengalaman ini adalah, memang betul butuh satu tekad untuk menyatakan pantang tidak makan hal yang kita gemari, kita sukai.

    Tapi sekuat apapun tekad itu, akan lebih sulit untuk mempertahankannya ketika suatu saat kita lupa lantas memesan makanan lalu ketika kenikmatannya sudah terbayang di benak yang sukses menyelinap karena ruam bau dan penampilannya yang tertangkap mata lalu sesaat hendak melahap? kamu ingat kamu sedang berpuasa!

    Selayaknya sembilan per sepuluh jiwamu sudah merasakan nikmatnya daging babi tapi sepersepuluh bagian lainnya menolak!

    Sepulang dari kedai kopi itu aku tetap merasa lapar dan seolah ada yang kurang dari sarapan tadi. Tapi memang sejatinya dalam hidup ini kita harus berlatih untuk berkekurangan supaya Ia melebihkan, kan?

    Credit photo:?resiliencefitness.com

  • Pantang Babi. Kalian?

    Pantang Babi. Kalian?

    Ini sebenarnya catatan nggak penting karena bagaimanapun ibadah itu urusan kita dengan Tuhan.

    Tapi terinspirasi Matt Wullenweg, pendiri WordPress yang ternyata juga seorang Katolik dan berpantang serta berpuasa tiap tahun (baca tulisannya di sini), aku tertarik untuk menuliskan hal ini.

    Tahun ini aku memilih pantang makan daging babi. Kalau kalian teman dekatku, kalian akan tahu bagaimana aku sangat suka mengkonsumsi daging yang banyak diharamkan orang itu. Mulai dari olahan masakan khas Batak, Jawa, China, Kupang, Manado hingga model bule, semua kuterjang. Namanya juga daging terenak di dunia, diolah pakai model apapun tetap tak goyah enaknya!

    Jadi per Rabu kemarin yang diperingati sebagai awal puasa, Rabu Abu hingga Minggu Paskah, akhir Maret nanti, aku akan tidak makan daging babi.

    Bagaimana pantangku tahun-tahun silam.?Pantangku tahun-tahun silam sebenarnya banyak bolong-bolongnya.

    Pernah aku pantang main facebook dan Twitter, tapi baru sehari, selalu ada momen dimana aku menemukan alasan kuat untuk buka kembali social media.

    Pernah pula aku pantang garam, tapi baru tiga hari aku tak kuat dan menyerah kalah.

    Tapi sepertinya tak ada yang melebihi kawanku. Ia seorang pecandu kopi tapi ia memilih pantang kopi. Alhasil, dua minggu pertama dalam masa pantangnya, hampir setiap hari ia selalu mengkonsumsi pain killer untuk menghilangkan efek ketergantungan terhadap kafein.

    Pantang yang paling berkesan adalah pantang pada tahun 2009 silam atau masa Pra Paskah pertamaku setelah pindah ke Australia, 2008.

    Itu juga bukan tentang aku melainkan Joyce istriku.?Waktu itu aku sudah berhenti merokok sekitar 4 tahun sedangkan Joyce masih berkutat sebagai penghisap tembakau. Tiba-tiba sepulang perayaan Rabu Abu ia bilang kalau ia akan mencoba pantang rokok.

    Awalnya aku mencibir, ?Yakin bisa???Tapi ternyata cibiranku tak berarti karena Joyce benar-benar berhenti merokok, hanya sekitar sebulan sebelum ia akhirnya mengandung Odilia, anakku yang pertama.

    Kalian pantang apa?
    Pantang makan tempe karena tak suka tempe??Atau pantang mendengarkan musik dangdut karena memang kalian demen rock?

    Oh ya ini ada berita menyejukkan, solidaritas antar agama yang menenangkan. Ada gerakan Muslims4Lent, dimana beberapa rekan muslim ikut melakukan pantang selama masa Pra Paskah ini. Baca deh!

  • Dua belas uskup dalam pernikahan. Apa salahnya?

    Dua belas uskup dalam pernikahan. Apa salahnya?

    Aku nggak habis pikir dengan cara pikir orang-orang yang mengkritik kedatangan dua belas uskup dalam penerimaan sakramen pernikahan cucu pengusaha properti papan atas, Ciputra, Narsis namanya, lengkapnya Narsis Nararya Ciputra yang menikahi Melisa.

    Kalau dua belas uskup dibilang terlalu banyak, lantas ukuran pas-nya berapa??Apakah diatur dalam kitab hukum kanonik gereja katolik bahwa sebuah penerimaan sakramen pernikahan maksimal hanya boleh dipimpin oleh sekian imam, sekian uskup?

    uskup
    Foto pernikahan Narsis – Melisa. Credit photo: Floresa.co

    Aku juga yakin para uskup itu bukan manusia goblok.?Mereka tentu sudah memikirkan baik-buruknya, dan itu bukan melulu soal uang stipendium yang memang biasa diberikan pasangan pengantin kepada imam yang membawakan acara.

    Mari berpikir positif dan para mahasiswa yang harusnya punya logika yang sedang cerah-cerahnya tentu bisa berpikir jernih.

    Sebagai pengusaha developer kelas kakap, Ciputra, tentu punya banyak kenalan dan relasi. Aku yakin ia juga tak segan membantu Gereja ketika dibutuhkan karena memang Gereja memerlukan bantuan umat untuk operasional, kan?

    Orang tua si Melisa juga tokoh. Ibunya adalah salah satu pengurus Yayasan John Paul II meski i have no idea yayasan apakah itu.

    Jadi lumrah toh kalau mereka kenal sebegitu banyak uskup dan mengundang mereka untuk bersama-sama mendoakan bahtera rumah tangga si Narsis dan Melisa.

    Kalau aku punya kenalan sebanyak seribu uskup, pun akan kuundang dalam pernikahanku dulu! Tapi aku tak punya. Kalaupunya puya, waktu itu aku tak punya cukup uang untuk mengongkosi akomodasi mereka?

    Atau jangan-jangan pikirmu, uskup dan imam itu tidak boleh berkawan sekalipun itu dengan seorang yang kaya? Kalau memang benar, betapa kasihan orang kaya hanya karena kekayaannya maka lantas dianaktirikan? Betapa kasihan para uskup, hanya karena jabatannya lantas dibatasi pertemanannya?

    Hermawi Taslim, ketua Forkoma PMKRI, dalam artikel ini ?menyebutkan, ?berlebihan dan terkesan menghilangkan sikap kritis Gereja Katolik yang terkenal dengan semboyan option for the poor atau berpihak pada orang miskin.?

    Menurutku, tidak ada kaitannya antara hadir dalam sebuah perayaan penerimaan sakramen pernikahan dengan hilangnya kesan option for the poor. Logikanya, kalau punya sejuta teman miskin, apa tak boleh berkawan pula dengan satu orang kaya? Justru, siapa tahu, mereka berkawan dengan orang kaya untuk membantu membiayai misi mereka bagi orang miskin?

    Aku berharap, komentar yang disampaikan Hermawi Taslim ini tidak mewakili PMKRI secara utuh dan formal. Karena kalau demikian, bagiku sebenarnya energi yang digunakan untuk membahas isu tak penting ini bisa dipakai untuk menguliti isu-isu yang lebih aktual yang justru lebih condong ke the poor.

    Misalnya, membahas isu-isu aktual seperti penuntasan kasus-kasus HAM yang dijanjikan untuk diselesaikan oleh Jokowi tapi sampai sekarang juga belum terlaksana.

    Atau, kalau mau yang lebih terdahulu nan arkaik tapi tak kunjung diselesaikan, kenapa tak membahas soal kasus HAM genocide/pembasmian pasca geger tahun 1965, termasuk merunut balik ada atau tidak kaitan antara PMKRI dengan Orde Baru saat itu seperti tertuang di referensi ini??Kalau ada, maka harus berbuat seperti apa untuk condong kepada the poor, mereka yang terzalimi oleh sejarah?

    Come on guys, piknik gih!

    Credit photo utama: Backgroundbandit

  • Karena Tuhan tak se-cemen itu…

    Video di atas?ini ku-share kemarin di Facebook. Awalnya aku berpikir brilian juga ide orang ini meyakinkan orang lain tentang eksistensi Tuhan.

    ?Kalau Tuhan itu ada, kenapa ada sengsara?? tanya tukang potong rambut yang meragukan Tuhan ke pelanggannya.

    Pelanggan itu tak bisa berkata apa-apa. Keluar dari tempat itu, ia menemui seorang berambut gondrong lalu membawa orang tersebut masuk ke dalam menemui si tukang potong rambut tadi.

    ?Bagaimana dengan ini??Ia berambut panjang apakah itu berarti tak ada tukang potong rambut??

    Lalu jawab tukang potong rambut itu, ?Ada! Tapi ia tak datang padaku jadi rambutnya panjang begitu!?

    Nah, sama saja, kan? Kenapa ada sengsara di luar karena mereka tak datang pada Tuhan.

    ***

    Ada sesuatu yang kurang tepat dalam analogi ini.

    Keberadaan Tuhan dipertaruhkan dengan ada atau tidak adanya sengsara.

    Kalau aku jadi tukang potong rambut tadi, dengan tangkas aku akan menjawab, ?Tapi kalau begitu kenapa masih ada banyak orang yang tetap sengsara meski mereka selalu datang ke masjid, gereja, kuil dan tempat ibadat lainnya??

    Bagaimana pula dengan orang yang tersiksa, terusir dari tanah airnya sendiri, terbunuh hanya karena mereka percaya Tuhan dan membela iman mereka? Dimana Tuhan?

    Lalu pembicaraan bisa melebar kemana-mana?

    Bagiku, percaya dan datang kepada Tuhan itu bukan jaminan bahwa seseorang tak akan mendapatkan sakit dan sengsara. Kalau memang rasa sakit dan sengsara itu ada dalam skenarioNya, apa mau dikata?

    Percaya kepada Tuhan adalah kesadaran diri untuk mengakui sebuah kuasa yang lebih besar dari dirinya dan ini sejatinya tidak mudah.

    Bagiku, hal itu adalah proses sepanjang hidup. Jatuh-bangun antara percaya dan tidak percaya meski itu tidak terucap kata-kata adalah lumrah karena kita lemah dan sebaliknya, ketika kita berusaha berjuang untuk terus percaya, itu juga lumrah karena.. Tuhan memang benar-benar ada untuk menguatkan kita untuk terus percaya.

    Ada memang orang yang dibuat percaya seketika itu juga tanpa proses berbelit-belit.
    Tapi ada juga orang yang sok yakin dan sok percaya supaya kelihatan keren saja… meski itu hanya sedikit dan kalian pasti tidak termasuk disitu hehehe?

    Jadi, kalau aku jadi yang ditanya oleh si tukang potong rambut tentang ada atau tidak adanya Tuhan, cukup bagiku untuk bilang ?OK, itu hak kamu untuk tidak percaya dan aku hormati.?

    Tuhan tidak bisa dijelaskan.?Kalau Ia bisa dijelaskan dengan sempurna dan se-cemen itu, berarti Tuhan yang kita kenal bukanlah Tuhan Yang Maha Sempurna, karena kesempurnaan kita tidak ada se-tai-gigi-Nya, bagaimana mungkin kita bisa mengenal batas-batasNya?

  • Bagi mereka yang pernah satu iman

    Bagi mereka yang pernah satu iman

    Di penghujung Natal ini, aku ingat setahun silam di Facebook, aku menuliskan ini:

    Di hari Natal ini saya juga ingin mengucapkan ‘Selamat pernah merayakan Natal’ bagi mereka yang dulu pernah Kristen lalu entah karena alasan nikah, demi promosi jabatan atau mendapat ‘sinar’ lalu meninggalkan gereja.

    Percayalah bro dan sis, natal masih meriah meski tanpa kalian dan Yesus masih sayang kalian apapun agama dan keyakinan kalian…

    Seperti kata Chris Martin dalam Fix You-nya itu, “Light will guide you home…” mari kembali ke Tradisi Roma :)

    Ide tulisan di atas adalah karena begitu banyak kawan yang beralih keyakinan tapi dengan ?pede? nya aku merasa bahwa ada pula begitu banyak kerinduan yang terpendam untuk kembali bisa menjalani Natal sebagai bagian tak terpisahkan dari diri meski agama telah berganti baik dalam status sosial, KTP maupun ?hati?…

    Untuk kalian, semoga masih ada waktu dan keberanian…

    Sumber foto asli