Tag: 2026

  • Para Capres

    Para Capres

    Alvon (kiri) dan Hengky
    Alvon (kiri) dan Hengky

    Setahuku Alvon pada mulanya gak mau maju. Sejak 2022, Ia memang dipanas-panasi banyak orang di belakangnya tapi selalu menolak.

    Sekitar dua hari setelah ditunjuk jadi ketua KPU, aku mulai ‘belanja calon’, mendekati orang-orang yang sepertinya punya gelagat untuk maju. Dan Alvon salah satunya.

    Dia kutelpon, sebagaimana dulu aku sering menelpon dia.

    Waktu jaman COVID dulu, aku menelpon Alvon hampir setiap hari untuk urusan lagu karena di masa itu aku sering mengerjakan proyek lagu bersamanya. Tapi bulan lalu aku menelpon untuk mencoba membujuk mantan gitaris di band-ku dulu itu supaya mau maju jadi capres.

    Segala macam persuasi kusampaikan hingga pada satu kesimpulan, “Pokoknya kamu kubantu maju, Von! Yang gak bisa kubantu cuma satu, memenangkan kamu karena aku harus jujur dan gak mungkin curang…”

    Dua hari sesudahnya dia menghubungiku lagi meminta link untuk mengunduh formulir pendaftaran. “Aku maju manut omonganmu!”

    Lain halnya dengan Hengky. Meski berteman dekat tapi kami sudah tidak saling berhubungan sejak 20 tahun silam.

    Aku mendengar bahwa Hengky akan nyapres justru dari Alvon. Maka ketika tanggal 2 September 2026 lalu dia menghubungiku untuk mau nyapres, aku gak heran dan malah kusambut dengan hangat!

    Hingga jam-jam terakhir penutupan pendaftaran capres, aku sempat mengira akan ada satu capres lagi yang mendaftar. Perkiraanku waktu itu Haryo Bimo Utomo (HBU), angkatan tahun 2000. Dia kawan dekatku sejak dekade silam. Dalam masa kepengurusan yang baru lalu, HBU masuk dalam timku, Tim Digital.

    Sejak lama aku mendorongnya untuk maju karena menurutku dia sangat punya capability untuk itu. Seorang aktivis alumni yang diterima banyak orang baik yang tua maupun muda (meski yang gak suka juga banyak tapi gak sebanyak aku sih hahaha!)

    Sejak awal, karena kekurangan orang, aku mengajak HBU untuk masuk ke tim KPU juga. Tanggal 4 September 2026 sekitar siang hari dia memutuskan mundur dari grup WA KPU. Aku sempat sumringah karena mengira tebakanku benar. Tapi ketika kuhubungi tak lama sesudahnya, ternyata dia tidak maju.

    “Nggak tahun ini! 2030 aja!” jawabnya.

    “Lha kalau gitu kenapa kamu keluar dari WAG?” tanyaku.

    “Supaya gak ada konflik kepentingan!”

    “Kamu kan gak nyalon?”

    “Aku jadi timses!”

    “Hengky?”

    HBU mengiyakan.

    Segera sesudah kedua calon definitif, aku membentuk WAG bersama mereka. Sejak saat itu aku sudah tahu bahwa Pilpres kali ini tidak akan serame yang kuperkirakan karena kami bertiga, aku, Alvon dan Hengky sudah saling kenal.

    Aku memantau tak ada saling serang. Dalam podcast-podcast yang sempat kuikuti, mereka malah saling dukung.

    Saking sepinya, menjelang akhir masa kampanye aku sempat berpikir hendak memoderatori mereka untuk berdebat secara online tapi undanganku ditolak.

    “Ngapain debat? Kita berteman!” ujar salah satu dari mereka ketika kuhubungi…

    Ya sudah!

  • Keluar dari PAKJ!

    Keluar dari PAKJ!

    Pilpres 2026 itu lebih tidak seru ketimbang Pilpres 2019. Capresnya dan ketua KPU-nya (iya, saya!) sudah saling kenal dekat jadi gak ada gontok-gontokan yang berarti. 

    Yang bikin seru justru surat yang dibikin Alex, Ketua Presidium 2022-2026 terkait pengunduran diri Perkumpulan Alumni Kolese De Britto dari Perkumpulan Alumni Kolese Jesuit alias PAKJ.

    Hari Minggu pagi, 6 September 2026.

    Aku sedang bersiap untuk main musik dan nyanyi dalam Perayaan Ekaristi di Gereja dekat rumah di Sydney sini. Setelah sound system kupersiapkan, aku jalan-jalan santai bentar sambil buka HP. Pas buka WA, semua yang damai dan tenang itu berubah jadi runyam!

    Banyak pesan masuk mem-forward surat yang dirilis Alex: PAKDB keluar dari PAKJ! Gak hanya itu, Alex juga meminta uang keanggotaan selama tiga tahun untuk dikembalikan!

    “Atas dasar apa Alex keluar? Kenapa kami tidak diberi tahu?”

    “Ndremis! Uang sembilan juta aja diminta!? Kemana uang perkumpulan selama ini?!”

    Aku marah!
    Marahku bukan karena mereka memprotes Alex. Aku marah kepada Alex. Dia merusak kedamaianku menjelang pelayanan dan dia mengganggu acara Pilpres yang sedang kurangkai sedemikian rapinya!

    Yang lebih lagi, ada seorang yang harusnya masuk jadi tim KPU memutuskan mundur karena surat Alex itu. 

    Tinggal sepuluh menit sebelum misa dimulai aku memutuskan menelponnya. Orang yang kukenal sejak medio dekade silam itu kukata-katai sejadi-jadinya.

    “Asu kowe Lex! Pekok! Ra mikir!”

    Segala macam kutumpahkan ke dia bahkan aku sempat memaksanya untuk mundur dari ketua presidium supaya keadaan mendingin tapi dia menolak.

    Pagi itu aku kehilangan mood untuk melayani main musik dan bernyanyi di Gereja. Setelah misa aku kembali pusing. Dinamikanya tak lagi hanya kepad Alex, tapi ada beberapa oknum lurah angkatan yang memintaku mundur dengan alasan Alex toh sudah tidak punya legitimasi lagi karena sebagian dari mereka menganggap masa bhakti Alex sudah berakhir 2025 silam. 

    Respon pertamaku adalah pura-pura menyerah dan keluar dari WAG.

    Sesampaiku di rumah, aku menelpon Alvon dan Hengki. Pada saat itu keduanya sudah definitif maju sebagai capres. Kenapa aku telpon mereka karena dalam benakku mereka akan jadi pihak-pihak yang paling keberatan kalau aku mundur! Mereka sudah terlanjur nyapres, terlanjur membentuk tim, terlanjur deklarasi.

    Strategiku berhasil. Alvon mendukung, Hengky juga. Mereka kuminta menggerakkan tim masing-masing untuk mendukungku ‘kembali’.

    Tak berhenti di situ, aku menghubungi beberapa sesepuh perkumpulan yang aku kenal sejak hampir 26 tahun lalu untuk mendukungku. Mereka juga bergerak. Aman!

    Kira-kira dua jam sesudahnya, aku masuk lagi ke grup dan menantang balik para oknum tadi, “Gimana? Jadi nggak?”

    Ada satu-dua yang masih ngeyel tapi yang lain sudah diam. mereka mendukungku hehehe…

    Siang itu aku merasa telah menjadi politisi ulung yang menggunakan cara-cara politis nan taktis untuk mempertahankan hal yang memang harusnya kupertahankan.

    Oh ya, simak podcastku bersama Alex terkait banyak hal selama masa pemerintahannya termasuk alasan kenapa keluar dari PAKJ di sini:

  • Kenapa mau jadi Ketua “KPU” lagi?

    Kenapa mau jadi Ketua “KPU” lagi?

    Tahun 2015 aku masuk ke tim “KPU”.
    Tahun 2019 aku jadi Ketua “KPU”.
    Lalu kenapa tahun 2026 aku mau jadi Ketua KPU lagi?

    Buat kalian yang bukan alumni SMA Kolese De Britto, mungkin kalian tanya apakah aku jadi Ketua Komisi Pemilihan Umum Indonesia?

    Bukan! KPU di sini adalah istilah untuk komisi pemilihan Ketua Presidium Perkumpulan Alumni Kolese De Britto Yogyakarta.

    Awalnya aku gak mau. Enough is enough! Terbayang ribet dan stress-nya tahun 2019, aku gak mau mengulangi kisah yang sama.

    Maka ketika Alex menwariku di bulan Juni ya aku tolak begitu saja.

    Sebulan kemudian, Alex kembali dan bilang “Gimana kalau HBU?” HBU adalah Haryo Bimo Utomo, kawanku, seorang aktivis perkumpulan angkatan tahun 2000.

    Tapi aku akan sangat menyayangkan kalau HBU cuma maju jadi ketua KPU. Aku kenal HBU cukup dekat. Bagiku, dia lebih cocok maju jadi capres!

    “Jadi daripada dia maju jadi ketua KPU mending aku…. eh tapi wegah ding, Lex!” ujarku pada Alex.

    Pertengahan Agustus 2026 Alex kembali dengan keputusasaan. “Kowe wae yo!?!”

    Ketika hendak kutolak lagi, di saat yang nyaris bersamaan aku mendengar kabar burung tak mengenakkan: ada sebuah ultimatum beredar di WAG-WAG bahwa jika Alex gagal membentuk tim pemilihan hingga akhir Agustus 2026 ia akan disomasi!

    Aku terbakar amarahku sendiri! Apa-apaan! Dikit-dikit somasi, dikit-dikit somasi?! Udah kayak seleb dan politisi saja! Gara-gara itu aku lantas mengiyakan pinangan Alex tapi dengan syarat, pemilihan diadakan secara tidak langsung. Pemilihan langsung itu memusingkan karena harus deal dengan ribuan alumni, bergelut dengan verifikasi data dan lain sebagainya. Sementara pemilihan tidak langsung, dalam pemikiranku, hanya akan diadakan di tingkat ketua chapter dan lurah angkatan saja!

    Alex setuju. Surat penunjukan dikirimkan kepadaku.

    Tapi tak lama kemudian, Ndaru (2002) yang menjabat sebagai Sekjen Presidium menghubungi dan mengingatkanku, “Mas, dalam AD/ART itu dibilang pemilihan harus bersifat langsung!” Tim legal yang kami hubungi juga menguatkan pendapat Ndaru.

    Nasi sudah menjadi bubur. Aku terlanjur menyaguhi untuk jadi ketua KPU pun sudah diiklankan. Tiada pilihan lain, hanya satu kata: Laksanakan!

  • Selepas Hujan Sore Ini…

    Selepas Hujan Sore Ini…

    Semakin tua, aku merasa semakin mudah terpantik akan kenangan-kenangan indah yang pernah hadir di masa silam.

    Semalam aku kurang tidur. 
    Baru merem sekitar jam 2 malam karena nonton Netflix berseri-seri banyaknya. Dua jam kemudian lelapku terpecahkan oleh gonggongan keras Trudy dan Tilly. Sesudah mencoba tidur lagi hingga jam 6:30, selebihnya aku terjaga. Biasanya aku bisa tidur lagi setengah jam kemudian. Tapi gara-gara iseng mbukak HP lalu terkejut melihat hasil pemilihan Ketua Presidium Perkumpulan Alumni Kolese De Britto yang kuketuai dan votingnya baru berakhir semalam, aku jadi benar-benar gak bisa tidur lagi! (Hehehe, sabar! Hasilnya akan kuumumkan hari Senin depan!)

    Alhasil, lepas tengah hari, energi menurun jauh. Aku memutuskan tidur siang.

    Rencananya cuma satu jam karena aku harus memotong rumput di halaman yang sudah memanjang, tapi kebablasan hingga jam 16:30! Itupun dibangunkan Joyce…

    Ketika bangun, langit menggelap tak seperti biasanya dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya.

    Aku menyeduh teh hijau kesukaanku lalu duduk di ruang kerja yang menghadap ke jalan sambil membuka jendela kaca menikmati derasnya hujan yang jatuh di teralis besi rumah lalu titik-titiknya jatuh dengan pelan, sabar tapi pasti.

    Tak sampai satu jam, hujan mereda. Langit jadi begitu bersih dan sore tadi diakhiri dengan pemandangan langit yang begitu teatrikal indahnya! Pada sisi barat, ia menjingga, matahari turun begitu temaram sementara meski tak lama  pelangi muncul, semburatnya indah sekali!

    Aku jadi ingat masa kecilku dulu. 
    Di awal 1980an, tinggal di rumah Eyang di Kampung Tegal Blateran Klaten.

    Aku belum genap tujuh tahun, Chitra, adikku, belum juga lahir. Papa dinas di Kebumen sementara aku dan Mama tinggal bersama Eyang Buyut, Eyang serta kedua adik Mama yang harusnya kupanggil Om dan Tante tapi karena jarak usia yang tak terlalu jauh, aku memanggilnya Mas Kokok dan Mbak Yohana.

    Aku terbangun dari tidur siang karena suara hujan yang jatuh begitu derasnya disertai geledek yang membentur-benturkan kepalanya di langit. Mas Kokok dan Mbak Yo sibuk berkoordinasi dengan Eyang memasang ember di tempat-tempat yang biasanya kena tumpahan air karena genting bocor.

    Setelah hujan mereda, Mama memandikanku di kamar mandi yang letaknya di luar rumah. Suara arus Kali Jalidin yang berjarak 100 meter biasanya santai jadi terdengar derasnya pertanda hujan tadi turun cukup merata sejak di kaki Gunung Merapi sana!

    Selepas mandi, Mama membaluri dada dan perutku dengan minyak kayu putih lalu menaburi bedak yang ruapan aromanya masih kuingat sampai sekarang.

    Sambil menunggu Mama dan Eyang menyiapkan makan, aku duduk bersama Mas Kokok dan Mbak Yo mengitari televisi hitam putih empat belas inchi sementara Eyang Buyut menikmati daun sirih yang dilumat-lumat di bibir mungilnya. Matanya menatap ke langit-langit entah sedang membayangkan apa, sementara beberapa anak kucing peliharaan duduk mengitarinya.

    Tak lama kemudian suara Si Mbok penjaja gorengan terdengar lantang. Ia menggelar jajanannya di ruang depan, Mama mengambil dompet di kamar lalu memberi komando kepadaku untuk mengambil gorengan secukupnya. Aku paling suka wakpung, iwak glepung, irisan daging sapi (kami menyebutnya iwak sapi) yang dibenamkan dalam tepung terigu lalu digoreng. Aku ambil beberapa juga sepotong tahu dan pisang goreng.

    Jajanan itu kemudian kubawa ke ruang makan, kusandingkan dengan nasi dan sayur sop ayam bikinan Mama yang kunikmati hingga tandas sore itu.

    Menjelang maghrib dan selepas makan, kami duduk-duduk di serambi samping rumah. Mengayun-ayunkan kaki, kadang tak banyak bicara hanya menikmati suasana sore yang begitu temaram saja seperti sore tadi. Langit kehilangan mendungnya, sang geledek juga sudah pergi, kawanan burung yang tergesa-gesa pulang, genangan air di pekarangan serta suara katak mulai menaikkan volumenya bersahut-sahutan “Kung kong… kung kong!”

    Tak lama kemudian adzan menggema di langit disiarkan dari Masjid Besar Klaten. 

    Ini menjadi penanda acara duduk-duduk di serambi akan segera berakhir. “Ayo mlebu, Le… wes surup!” Surup alias petang setelah matahari lindap bagi kami orang Jawa waktu itu adalah saat terbaik untuk kembali masuk ke dalam rumah.

    Semakin malam semakin dingin. Mas Kokok dan Mbak Yo masuk ke kamar belajar ditemani Eyang. Dari luar sesekali kudengar suara Eyang meninggi mungkin karena mereka berdua sedang malas mengunyah ilmu dan mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara aku dan Mama juga Eyang Buyut menikmati teh sambil menonton acara televisi dengan volume yang minimal supaya tak mengganggu yang sedanb belajar. Menjelang jam sembilan, setelah menyalakan obat nyamuk bakar, Mama mengajakku masuk ke dalam kamar untuk tidur.

    Kami rebahan memandang langit-langit atap sirap bambu. Mama bercerita atau kadang aku yang bertanya-tanya tentang banyak hal.

    Tentang besok mau makan apa, tentang Ista yang bonekanya baru, Agus yang jumlah kelerengnya melebihiku. Tapi yang paling sering, “Mah! Papa lagi ngapain ya jam segini?”

    Sambil mengusap-usap rambut dan kepalaku, Mama menjawab “Paling bar rampung maem Le lho trus yo arep bobo soale kan sesuk nyambut gawe…”

    Sementara aku mulai lelap, otakku mulai mengawang-awang, menghitung berapa hari lagi hingga Papa pulang menjenguk kami, membawa oleh-oleh entah makanan atau mainan…

  • Kedua Capres dalam pandanganku

    Kedua Capres dalam pandanganku

    Memasuki hari terakhir Pemilihan Ketua Presidium Perkumpulan Alumni Kolese De Britto 2026 – 2030, sebagai ketua KPU, baiklah aku membuat catatan tentang kedua caopres, Alvon dan Hengki.

    Tau nggak, satu dari beberapa yang paling kusyukuri ada di Pilpres ini, kedua calon yang bertarung, dua-duanya kawan dekatku.

    ***

    Aku kenal Hengki pertama kali waktu duduk di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Dia kakak angkatanku dua tahun. 

    Perawakannya sedang, tidak tinggi tapi juga tidak pendek. Well kalau kalian lihat fotoku dengannya di bawah ini, dia (Hengki berbaju biru) tampak pendek karena akunya (berbaju kuning) yang tinggi hahaha!

    Hengki selalu tersenyum ramah kepada siapapun yang ia temui! Gayanya kalem, rambut gondrong, selalu membawa gantungan kunci di leher dan kamera! Buat kalian yang belum tahu, angkatan 94 memang angkatan yang kaya dengan nuansa kreatif. Kalau kalian kenal nama Anton Ismael, fotografer handal Tanah Air, dia seangkatan dengan Hengki. Kalau kalian masih ingat nama besar Kristupa Saragih, dia juga kawan dekat Hengki.

    Hengki aktif gak hanya dalam dunia fotografi tapi juga jurnalistik. Dia, bersama dengan Kristupa dan pendahulunya, Valens Riyadi, bergabung di Gema, sebuah komunitas jurnalistik pelajar Jogja yang bernaung di bawah Bernas.

    Interaksiku dengan Hengki swaktu SMA tidaklah banyak. Lebih pada seorang adik kelas yang mengagumi kreativitas kakak kelasnya.

    Garis hidup kami bertaut saat aku diajak Valens Riyadi bersama Riza Tantular, Wicaksono Cipto dan alm Iwan Santoso mendirikan Citraweb Nusa Infomedia pada Februari 2000. Kami semua lulusan De Britto tentu saja. Kantor kami lantas dijadikan markas para alumni termasuk Hengki. Citraweb membangun GudegNet, Gudang Info Kota Jogja, sebuah situs portal kota Jogja yang berfokus pada pemberitaan seni dan budaya Jogja. Kebetulan aku diminta menjadi orang yang mengepalainya. Lalu Valens mengajak Hengki, Kristupa dan sesekali Anton Ismael juga ikut urun rembug! Kalian tak bisa membayangkan bagaimana enaknya aku dibuai para mentor keren itu bukan?!

    Ada satu persinggungan personal antaraku dengan Hengki. Mungkin Hengki juga sudah lupa. Waktu itu, Januari 2001. Aku baru saja memulai hubungan dengan pacar yang sekarang jadi istriku, Joyce. Waktu itu kami sama-sama diundang ke acara tunangan seorang kawan yang tak perlulah kusebutkan namanya karena hubungan itu sudah kadaluwarsa hahaha. Karena aku belum punya mobil, aku menelpon Hengki untuk numpang mobilnya Honda LX ceper dari kota Solo ke Solo Baru. Kami bertemu di Stasiun Purwosari, tempatku dan Joyce turun dari kereta api. Sore itu Hengki menjadi salah satu orang pertama yang menyaksikan hubunganku dengan Joyce selain anak-anak Citraweb tentunya :)

    Dua tahun sesudahnya, Hengki pamit dari GudegNet. Ia mengadu nasib di Jakarta hingga kini.

    Awal September lalu, setelah lebih dari dua puluh tahun tak berhubungan, Hengki mengirimku pesan lewat Whatsapp, menyatakan keinginannya untuk maju menjadi calon presiden alumni. Senang dan banggaku bukan kepalang!

    ***

    Aku kenal Alvon pertama kali juga di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Dia kakak angkatanku setahun tapi kemudian karena gak naik kelas, kami jadi satu angkatan.

    Berbeda dengan Hengki yang kalem dan berperawakan sedang, Alvon ini tinggi, lebih tinggi beberapa centi dariku, gondrong, matanya membelalak ketika berbicara, tawanya meledak-ledak, jarang sekali tersenyum, seringkali misuh. Banyak orang bilang Alvon itu preman, aku nggak mengiyakan tapi aku sangat segan untuk berkenalan dengannya. Setahun kami tak saling kenal, saat duduk di bangku kelas dua, musik membuat kami saling kenal.

    Alvon mencari bassist untuk VOC Band dan aku adalah orang yang cocok baginya. VOC Band adalah band yang secara tradisi turun-temurun di De Britto dulu. Anggotanya berisi para veteran (orang yang tinggal kelas) tapi aku dan Kelik (vokalis) jadi pengecualian! Perkenalanku dengan Alvon membuatku jadi punya banyak sekali kenalan. Kalau dalam bahasa Bambang Pacul, aku korea dan Alvon adalah galahku!

    Hubunganku dengan Alvon jadi sangat dekat! Sepulang ngapel di malam minggu, aku gak langsung pulang kost, pergi ke rumah Alvon, minum-minum, main gitar dan mengerjakan beberapa ketrampilan yang lain (heheh) hingga pagi. 

    Kenangan terindahku dengan Alvon adalah ketika aku punya pacar anak SMA Stella Duce 2 Yogyakarta, Maret 1996. Aku tahu kawasan asramanya ‘rawan preman’. Aku mengadu ke Alvon untuk minta perlindungan kalau-kalau aku kena masalah. Alvon lalu bilang “Tenang wae! Nanti kukenalkan galine Kebonan!”

    Selanjutnya aku malah jadi punya hubungan sangat baik dengan para gali Kampung Kebonan. Mereka gak hanya menjagaku tapi juga menjaga pacarku termasuk melaporkan siapa saja yang berani ngapelin dia dan meneror mereka hahaha!

    Setelah lulus SMA aku tak lagi berhubungan dengan Alvon.

    Baru sesudah aku pindah ke Australia, aku mulai kembali berinteraksi dengannya. Di saat Pandemik Covid-19, aku terlibat dalam banyak karya musik bersama Alvon membuatku bernostalgia ke masa SMA bersamanya.

    Sejak awal Agustus 2026 geliat suara teman-teman untuk membujuknya maju menjadi presiden meninggi. Sama seperti Hengki, Alvon mengirimku pesan, “Thuk! Aku maju!” Senang dan banggaku bukan kepalang!

    ***

    Von, Heng!
    Maturnuwun sudah memeriahkan Pemilu tahun ini! Aku gak pernah menyangka bahwa capres-capres yang maju kali ini, dua-duanya adalah kawan baikku!

    Siapapun yang menang, pesanku, janganlah saling memisahkan diri. Tetaplah bersatu dengan semua kawanmu meskipun terpencar suara-suara pendukungmu! Hehehe…

    Berkah Dalem!

  • Bu Kudo

    Bu Kudo

    Pada tahun-tahun terakhir di Jogja, menjelang kepindahan ke Sydney, Australia (2008) aku sering sekali makan siang di warung makan Bu Kudo yang letaknya di Jl Bu Ruswo No. 25, dekat Plengkung Wijilan, sisi timur Kraton Jogja.

    Warungnya sederhana, warung rumahan Jawa. Yang mengenalkan pertama kali seingatku adalah Adit Omponk, karib sekaligus kawan kerjaku dulu.

    Masakan yang paling kugemari tentu Sayur Lodeh. Sayur ini adalah sayur sakti karena harmonisasi rasa ditentukan tak hanya oleh aneka macam sayuran tapi oleh rasa santen yang pas. Selain lodeh, Sayur Bobor Bayem adalah pilihanku yang kedua. Seperti halnya lodeh, cita rasa santen yang pas juga jadi kunci.

    Urusan lauk, sudah barang tentu iso babat adalah must have!

    Tricky sih karena kadang telat sedikit, iso babat sudah habis diembat. Pilihan kedua ada pada mangut lele ditingkahi dengan tempe dan tahu goreng garing serta oseng-oseng pare yang pahit dan sambel pedesss! Krupuknya jangan lupa, biasanya kalau ada karak gendar lebih bagus, kalau nggak ada ya krupuk apa aja ok lah! Minumnya aku biasa minta teh panassss tawarrrr dengan “s” yang panjang supaya tidak diberi yang hanget dan “r” yang tak kalah panjangnya supaya si pembuat minuman tahu bahwa aku tak suka gula!

    Saking sukanya makan di Bu Kudo, aku rela untuk membelah Jogja yang panas mengendarai Honda Supra X-ku dari Papringan. Buat yang tahu Jogja, Papringan ke Plengkung Wijilan bukanlah jarak yang dekat! Tapi ya demi, mau gimana lagi, kan?

    Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku ke Bu Kudo tapi yang pasti menjelang hari-hari terakhirku di Jogja, September 2008, aku menyempatkan diri makan di sana.

    Setelah pindah ke Sydney, selain Pak Dul Gejayan, Bu Kudo adalah tempat makan yang jadi incaran ketika mudik. Tapi sayang, mudik pertama di tahun 2010, warung Bu Kudo tutup. Dua tahun sesudahnya, pas mudik lagi, tutup juga.

    Kemarin sore, melalui social media Threads, aku menemukan jawaban tentang keberadaan Warung Bu Kudo.

    Ternyata, sejak awal dekade 2010, setelah lebih dari tiga puluh tahun manggon di Bu Ruswo, Bu Kudo memindahkan warungnya ke kawasan Purwodiningratan. Tapi nggak lama kemudian, Bu Kudo yang bernama asli Bu Muji meninggal dunia dan tak ada lagi yang melanjutkan hingga saat ini.

    Tulisan ini kuanggap sebagai penutup pencarianku terhadap warung Bu Kudo yang selalu kucari setiap pulang ke Jogja.

    Selamanya masakan Bu Kudo terutama sayur lodehnya akan kukenang sebagai sayur lodeh paling enak nomer dua di dunia! Yang nomer satu tentu sayur lodeh bikinan almh Mama yang rasa santennya ahhh.. benar-benar tak terkatakan!

  • Purbaya, Purwokerto – Surabaya

    Purbaya, Purwokerto – Surabaya

    Dicopotnya Menteri Purbaya, membuatku teringat pada Kereta Api (KA) Purbaya yang melayani jalur Purwokerto – Surabaya. Kereta yang dirilis sejak 15 April 1971 dan berakhir pada 21 Januari 2002 itu sangat mengesankanku.

    Dulu di pertengahan hingga akhir 80-an, alm. Papa belum punya mobil. Jadi untuk mudik ke Klaten demi merayakan Natal, kami naik Purbaya. Sementara setiap Lebaran, karena Papa waktu itu menganut Islam, kami naik Purbaya turun di Jombang. Nginep semalam di rumah almh Budhe Him lalu bersama rombongan pagi harinya naik Kereta Rel Diesel (KRD) menuju Blitar.

    Saking seringnya naik Purbaya, aku ingat betul jam kedatangannya di Stasiun Kebumen, jam 9:10 WIB dengan catatan kalau tepat waktu tapi kebanyakan molor hingga jam 10 pagi.

    Namanya juga kereta ekonomi, menumpang Purbaya waktu itu tentu tidak nyaman. Belum ada sistem penomeran kursi. Siapa cepat, dia dapat. Kalau gak dapat? Berdiri atau memaksakan diri untuk duduk (bahkan banyak yang tiduran) di lantai gerbong beralaskan koran. Yang namanya asap rokok jangan ditanya! Berpadu dengan suasana panas, bau keringat, bau makanan, bau muntah dan bau-bau yang lainnya. Kipas angin ada sih tapi gak punya daya!

    Ketika naik dari Kebumen, biasanya kami gak dapat tempat duduk. Papa memilih berdiri di bordes (sambungan gerbong kereta) sementara aku, Mama dan Chitra memaksakan diri masuk ke gerbong karena siapa tahu ada hati yang tergerak untuk memberikan tempat duduknya melihat seorang ibu muda membawa dua anak yang masih kecil-kecil.

    Biasanya memang ada yang tergerak sih lalu menawarkan kursi untukku dan Chitra. Tak lama kemudian Mama lalu Papa. Tapi kalau gak ada yang tergerak, biasanya kami mendapat kursi di Stasiun Kutoarjo karena ada beberapa yang turun. Oh ya, bicara tentang Stasiun Kutoarjo, ada satu pengalaman yang tak kan kulupakan. Waktu itu kami pergi berombongan gak hanya berempat tapi juga dengan Almh Eyang Slamet Putri (Ibunya alm Papa) bersama mas-mas sepupu pergi ke Jawa Timur. Tak seperti biasanya, kereta mengantri lama masuk ke stasiun. Aku dan sepupu-sepupuku mencoba mencari tahu berjalan ke bordes, melongok keluar. Dan ternyata… ada kecelakaan tepat di pintu persimpangan kereta api. Rupanya kereta api yang lewat sebelum kami menabrak dan melindas seorang wanita berkendara sepeda motor. Jenasahnya belum diangkat jadi aku menyaksikan jasad yang terlentang tak bernyawa dengan kepala yang terburai berdarah-darah!

    Masuk Jogja, menjelang tengah hari, suasana jadi lebih sumringah. 

    Sambil memandang hamparan sawah dan sesekali jejeran rumah di kampung-kampung yang kian dekat Jogja kian padat, Papa dan Mama mulai ngganyik bercerita tentang masa muda mereka ketika menempuh studi dan pacaran di Jogja. 

    Sesampainya di Stasiun Tugu, kereta berhenti sekitar 15 menit. Aku dan Papa biasanya turun ke bawah untuk meluruskan kaki dan karena aku ingin mendengarkan sinyal stasiun yang menggunakan melodi lagu Sepasang Mata Bola. Tak lupa kami membeli nasi ayam dan es teh dalam plastik untuk dibawa naik kembali ke gerbong. Kalau tujuannya Klaten, aku langsung buru-buru makan karena tak sampai satu jam kami akan tiba di Klaten.

    Sesampai di Solo Balapan, kesesakan diakhiri. Gerbong Purbaya melengang karena banyak yang turun di Solo, suasana jadi lebih nyaman dan kami mulai bercakap-cakap dengan penumpang yang duduk di depan atau di sebelah kami. 

    Di Madiun kami beli brem suling berwarna kuning untuk oleh-oleh di Jombang dan Blitar lalu tak seberapa lama kemudian lewat Nganjuk dan sampai di Jombang sudah menjelang Isya.

    Seingatku, aku belum pernah naik Purbaya hingga sampai di stasiun akhir baik Purwokerto maupun Surabaya Gubeng tapi kalau sampai Menteri Purbaya diberhentikan ya barangkali karena oleh Prabowo ia sudah dianggap sampai di tujuan akhir jadi harus turun. Gitu, kan?

  • Kendali Kecil di Tengah Arus Zaman

    Kendali Kecil di Tengah Arus Zaman

    Sejak beberapa bulan lalu, aku mengistirahatkan earphone nirkabel dan menggantinya dengan earphone berkabel. Beberapa tahun sebelumnya, aku memutuskan tidak lagi menggunakan smart watch dan beralih ke jam analog.

    Terakhir kali aku berganti telepon genggam sudah lebih dari tiga tahun lalu juga padahal sebelum-sebelumnya, setiap tahun, setiap Apple merilis iPhone versi terbaru, aku selalu menukar yang lama untuk mendapatkan yang anyar.

    Mengapa demikian?
    Bukan melulu soal uang karena di Australia membeli ketiga hal di atas bisa dalam wujud cicilan terjangkau yang disediakan operator jaringan. Tinggal datang ke counter, ngurus ini itu gak sampai setengah jam, barang sudah di tangan!

    Tapi karena aku ingin menunjukkan setidaknya kepada diriku sendiri bahwa di tengah modernisasi yang sedemikian mutakhir dan menggoda ini, aku tetap punya kendali atas hal-hal apa yang perlu kubeli dan kukonsumsi dan hal-hal lainnya yang kuputuskan untuk tak kumiliki.

    Earphone nirkabel tentu menyenangkan tapi bukan berarti yang berkabel itu gak bisa lagi digunakan. Memang menyebalkan karena kadang tersangkut ayunan tangan dan jatuh ke lantai atau saat ada panggilan masuk mendadak, aku harus mengurai kabelnya dulu.

    Begitu juga jam analog! Gimana pun juga tetap enak smartwatch lah!

    Semua hanya butuh terbiasa dan bukankah dulu sebelum ada yang modern dan mutakhir, kita terbiasa deal dengan hal-hal seperti itu bahkan banyak yang lebih buruk dan bikin kesal tapi kita OK-OK saja?

    Tapi tentu tak semuanya harus dibikin begini. Ketika dirasa perlu, banyak manfaatnya dan dalam jangkauan ya kenapa tidak?

    Misalnya, dua bulan lalu kami memutuskan untuk beralih dari mobil BBM ke mobil listrik. Alasannya ada dua. Pertama, harga bensin di sini naik tinggi banget seiring perang yang terus berkelanjutan di Timur Tengah sana. 

    Kedua, pemerintah Australia memberikan bantuan uang untuk warga yang rumahnya dipasang solar panel tenaga surya dan batere rumah. Artinya, kalau aku punya mobil listrik, ongkos charging-nya pun bakal nol karena tenaganya langsung dapat dari tenaga surya yang disimpan di batere rumah. Bahkan gak cuma itu, tenaga surya yang tak terpakai bisa dijual ke perusahaan listrik negara untuk mendapatkan uang. Aneh tapi asik, kan? :)

    Contoh lain adalah saat dua tahun lalu aku membeli smart glasses, Rayban Meta dan ada teman bilang “Kamu katanya mau mengendalikan gadget tapi kok tetap beli smart glasses? Gak konsisten!”

    Konsistenlah!
    Karena alasannya menurutku masuk akal. Aku mendapatkan smart glasses itu secara cuma-cuma dari asuransi yang kubayar setiap bulannya. Jadi kalau gak kuambil, uang jatah itu akan hangus begitu saja. Tapi apakah kemudian aku akan membeli versi terbaru dari smart glasses atau kembali ke kacamata model biasa, itu masih kupertimbangkan. Pertimbangannya bukan tentang bagus-tidaknya tapi perlu-tidaknya karena seperti kutulis di awal, aku tetap harus punya kendali terhadap apapun yang akan kupakai dan kubeli, serta hal-hal lain apa saja yang kuputuskan untuk tak ku konsumsi.

  • Menyaksikan Pandji: Harusnya Lucu

    Menyaksikan Pandji: Harusnya Lucu

    Akhirnya malam minggu kemarin aku nonton standup comedy-nya Pandji Pragiwaksono di Sydney.

    Kalau kalian mengikuti akun instagram-nya, show kemarin hampir batal karena Visa Australia-nya tak kunjung rilis hingga hari Kamis, dua hari show diadakan.

    Sementara kalau kalian mengikuti account instagramku, meski show Pandji akhirnya sesuai jadwal, aku hampir saja nggak jadi nonton karena Sabtu pagi, mobilku ditabrak dari belakang oleh mobil lain sehingga rencana yang udah kami susun baik-baik bersama keluarga sempat runyam dan berantakan.

    Bagaimana pertunjukannya sendiri?
    Menurut beberapa akun yang kupantau (beberapa temanku di Sydney) ada di dalam acara itu, mereka puas. Sayangnya aku tidak!

    Sabar! 
    Ketidakpuasanku bukan karena komedi Pandji buruk, tapi karena aku yang terlalu sering nonton segala sesuatu tentangnya di social media dan Youtube. 

    Oleh karenanya, hampir semua bit-bit Pandji aku kenal dan hapal. Ketika ia membagikan kisah orang Indonesia di New York yang bertemu dengan orang Indonesia yang lainnya, bagaimana cara orang Indonesia jalan kaki dibandingkan dengan cara berjalan kaki orang-orang Asia lainnya hingga termasuk bagaimana ia menceritakan perbedaan antara dirinya yang sabar tapi gak terlalu pintar sementara istrinya adalah orang yang cerdsa tapi gak sabaran, itu sudah kutahu sejak lama.

    Sehingga ketika para penonton lain terbahak-bahak, aku tetap tertawa tapi biasa saja. Tawaku lebih sebagai apresiasi terhadap Pandji dan jangan salah, waktu pertama kali dengar bit-bit itu, tawaku sama-sama terbahaknya dengan yang lain!

    Bahasa adalah hal kedua yang kuperhatikan.

    Aku paham bahwa Pandji sejak 2022 pindah ke New York, dan rutin stand up berbahasa inggris di beberapa comedy club di kota itu sehingga kalau kemudian Ia menggelar stand up world tour berbahasa inggris yang kota pertamanya adalah Sydney ya maklum saja.

    Tapi, sebagai orang kelahiran Indonesia yang berhitung dan berpikir dalam Bahasa Jawa, bercakap-cakap dengan istri dan menulis dalam Bahasa Indonesia dan hanya dalam rangka bekerja atau berinteraksi di luar rumah saja dalam Bahasa Inggris, sejatinya aku berharap Pandji melawak dalam Bahasa Indonesia.

    Bukan! Bukannya aku meragukan kemampuan bahasa inggrisnya!

    Tapi lebih pada aku yang belum bisa menikmati lawakan dalam Bahasa Inggris jadi pengennya ya nonton lawakan dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa sekalian. 

    Selancar-lancarnya Pandji berucap f**k atau d**k, aku lebih senang dia misuh ng*nt*t atau anj*ng. Yang terakhir ini semalam dispill dikit olehnya dan pecah banget!

    Tapi show ini milik Pandji, bukan milikku dan bukan milik penonton yang lainnya. Tentu ada strategi brand dan pemasaran juga perhitungan bisnis yang jadi pertimbangannya. Bisa jadi Pandji sedang mengukir takdir karena ia selalu mengusahakan diferensiasi antara satu tur dengan tur yang lainnya.

    Oh satu lagi!
    Ini lagi-lagu mungkin perasaanku saja, atau bisa jadi karena Pandji semalam baru terbang dari Indonesia, tapi aku menangkap ada kelelahan yang luar biasa padanya. Usahanya untuk tetap fokus membangun lawakan tampak terengah-engah sesekali.

    Mungkin ia perlu sedikit jeda dalam berkarya meski aku tahu in this economy, Pandji sepertinya tak punya pilihan untuk mengongkosi keluarganya yang ada di New York, apalagi kita tahu semua, kurs dollar terhadap rupiah terus menggila! 

    Atau mungkin ada baiknya Pandji ambil pilihan karir lainnya?

    Terjun ke dunia politik yang sudah tak asing lagi baginya atau merambah sisi dunia hiburan yang lebih luas lalu sesekali tetap stand up seperti yang dilakukan Ernest dengan dunia filmnya atau Raditya Dika yang bermain podcast? Jadi barangkali kreativitasnya akan lebih punya waktu untuk menunas, tumbuh dan berbuah ketimbang terus-menerus menceritakan bit yang sama?

    Ibarat orang pacaran, kalau ketemu tiap hari mana asik? Beda kalau ketemu seminggu atau sebulan sekali, kan?

    All the best, Pandji! Sukses untuk tur-nya!

  • Masuk angin di akhir musim dingin

    Masuk angin di akhir musim dingin

    Kurang dari seminggu lagi, musim dingin di Australia secara official berakhir.

    Sejak dua minggu lalu, blossom tree yang kutanam di depan rumahku yang daunnya menggugur sejak awal musim dingin mulai berbunga indah seperti yang tampak dalam gambar di rawian ini.

    Blossom tree

    Ini adalah musim dingin ke-17 sejak migrasiku ke Australia di akhir 2008 silam dan kian lama aku kian sadar bahwa badan ini sejatinya adalah badan tropis yang tidak siap untuk musim dingin di negara sub-tropis. Apalagi dengan fisik yang makin menua, daya lawan terhadap suhu dingin kurasa makin menurun.

    Segala daya untuk menghangatkan tubuh kulakukan. 

    Mulai dari menambah beberapa lapis pakaian, celana, kaus kaki yang sampai dua lapis, penutup leher berbahan wool yang tak boleh ketinggalan hingga penutup kepala serta pemanas ruangan yang tak boleh berhenti menyala di rumah.

    Setiap April, sekitar dua bulan sebelum musim dingin tiba, aku suntik vaksin flu supaya kalaupun terdampak, aku tidak terkena varian flu ganas sehingga semua bisa lebih dikondisikan lebih baik. Tahun ini, aku cukup berhasil dalam hal per-flu-an. Tahun lalu aku bisa KO hampir dua-tiga minggu kena flu, tahun ini tidak sama sekali.

    Tapi beda flu, beda pula dengan masuk angin!

    Dan bicara soal masuk angin, masa-masa akhir musim dingin seperti ini sebenarnya justru adalah masa rawan.

    Masa di mana tubuh mulai tidak sinkron dengan pikiran. Pikiran mengingatkan tubuh bahwa meski suhu udara di siang dan sore menaik tapi pagi dan malam tetaplah dingin dan angin yang meski menjarang tapi sekalinya bertiup, dinginnya menusuk tulang!

    Tapi yang namanya tubuh, maunya bebas dari balutan berlapis-lapis katun. Tubuh yang makin berani untuk dibaluti satu lapis kemeja dan celana katun saja. Syal leher? Ah apa itu? Nggak perlu! Pun tidak dengan penghangat kepala!

    Jadinya ya seperti mudah ditebak…
    Kepala berat nan pening, sendawa dan kentut yang tak berkesudahan membuat sebel anak-anak dan istri yang tentu tak tahan dengan baunya hehehe. 

    Kalau udah gitu, saatnya meringkuk sambil menunggu istri menghidangkan mie instan berkuah pedas, wedang jahe racikannya serta beberapa sachet tolak angin hampir setiap malam!

  • Obituari: Danu Primanto

    Obituari: Danu Primanto

    Sejujurnya hanya ada sedikit ruang ingatan yang masih terkenali tentang bagaimana interaksiku dengan Danu Primanto, adik kelas satu tingkat di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Dari yang sedikit itu, baiklah kutulis di sini sebagai lembar penutup hubunganku dengannya.

    Pertama kali bertemu dengan Danu pada Minggu sore tanggal 17 Juli 1994.

    Waktu itu aku baru tiba dari rumah kedua orang tuaku di Kebumen. Setelah mengambil kunci kamar asrama, Danu bersama Yanri Prastowo, teman sekamarnya, menyambutku di selasar Asrama Ampel 2 Yogyakarta. “Halo, Mas!” sapa mereka. Danu dan Yanri tinggal di kamar Nomer 1  sementara aku ada di sebelahnya Kamar Nomer 2.

    Malam itu kami bercengkrama dan aku melarangnya untuk memanggil Mas, “Donny aja!”

    Panggilan “Donny” ternyata juga nggak lama karena beberapa hari sesudahnya, dia bergabung bersama banyak temanku lainnya memanggilku, “Thuk! Bathuk!” panggilan kesayangan mereka kepadaku yang punya bathuk/jidat lebar ini!

    Meski begitu, aku  tetap memanggilnya “Dan…” Bukan “Dan” untuk “Danu” tapi “Dan” untuk “Dancuk!”

    Kok bisa? 
    Danu berasal dari Gresik, Jawa Timur dan hampir di setiap kalimat yang diucapkan selalu terselip umpatan “djancuk” makanya kupanggil dia Dan… Dancuk! Pun setelah ia punya kawan banyak dan mereka memanggilnya “Taek” karena selain “Dancuk” Danu sering bilang “Taek” tapi aku tetap memanggilnya Dancuk!

    Tiap sore hingga malam dia berkunjung ke kamarku membawa gitar bolong Yamahanya.

    “Thuk! Ajarono aku Slank po’o!” ujarnya dengan logat jawa timur yang kental.

    Kami ngoprek album ketiga Slank, Piss, bersamanya bermalam-malam lewat tape compo merk Polytron-nya. Mulai dari cara memainkan intro Mau (Beli) Tidur, Kirim Aku Bunga, Tepi Campuhan dan tentu saja Anyer 10 Maret yang lejen itu. (Aku dan Dancuk pernah nonton konser Slank di Mandala Krida, berjalan kaki dari asrama, bolos jam belajar lalu menyelinap masuk kembali ke kamar tanpa ketahuan Pak dan Bu Asrama hehehe. Keesokan paginya, kami berdua bolos sekolah nungguin Slank di lobi hotel untuk mengejar tanda tangannya).

    Lain hari Dancuk datang lagi, membawa gitar, minta diajari lagu-lagu KLa Project. “Ajari Semoga, Thuk opo Yogyakarta yo kena!”

    Tapi sesi “minta diajari” itu gak berlangsung lama karena meski ia punya gitar bagus dan semangat untuk belajar yang tinggi tapi permainan gitar Si Dancuk gak pernah bagus hehehe… “Grothal-grathul” gak keruan. “Kowe perlu belajar pindah chord sik! Gak usah belajar lagu dulu, Dan!”

    Ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng dan tak henti mengumpat “Jancuk! Taek, kon Thuk! Thuk!”

    Bukan hanya gitar yang menyatukan aku dan Danu. Adalah obat jerawat mengingat jerawatku dulu separah jerawat di wajah Danu. 

    Suatu malam, Danu yang berkulit legam itu mengetuk pintu kamar. “Thuk! Buka’i pintu, Thuk!”

    Aku membukakan pintu dan terkaget-kaget dibuatnya. Wajah Dancuk yang legam, malam itu jadi putih seperti hantu karena olesan obat jerawat.

    “Dancuk! Nganggo opo kowe!”

    Ia menyodorkan botol obat jerawat dan memintaku untuk mencobanya. “Coba’en sik! Manjur iki!”

    Makin dia punya banyak kenalan, makin ia melarut dalam pergaulan barunya sehingga interaksiku dengannya pun menjarang. Aku lebih sering ngobrol dengan Yanri, teman satu kamarnya.

    Paling kami cuma ketemu pas antri mandi di depan kamar mandi atau pas sedang bareng-bareng ngerokok, nongkrong di depan kamar kami masing-masing.

    Selepas SMA, kami tak pernah jumpa.
    Tapi di tahun 2000, empat tahun kemudian, ketika kantorku mendapatkan kontrak pembuatan situs web Universitas Atma Jaya Yogyakarta, aku bersinggungan lagi dengan Dancuk melalui alm Kristupa Saragih (De Britto 1994) dan Banu Arwanto (De Britto 1999). Dua kawan baikku itu fotografer, mereka membantuku mengambil foto yang kuperlukan untuk keperluan pembangunan situs web. Aan kemudian menyodorkan dua nama fotografer lainnya. Satu diantaranya ya si Dancuk itu tadi. 

    “Dancuk! Dadi fotografer saiki kon, Dan?!” ujarku. Lagi-lagi ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, “Taek kon, Thuk!”

    Menjelang kepindahanku ke Sydney pada 2008, circleku bertautan lagi dengan circle Si Dancuk. Waktu itu aku sering nongkrong di Djendelo Kafe dan ternyata Danu adalah teman dekat salah satu pemiliknya.

    Waktu itu ia sudah tampak beda sama sekali dibandingkan ketika masih SMA. Mata jahilnya sudah meneduh nan bijaksana. Perangainya tenang dan gak lagi memanggilku “Thuk” tapi “Mas Bathuk!”

    Kupikir cuma basa-basi ternyata enggak, dia memang ingin memanggilku demikian.

    Di masa pandemik Covid-19, waktu aku sedang berapi-apinya membuat dan merilis lagu baru, Dancuk adalah salah satu yang selalu mengapresiasi karya-karyaku.

    Ia selalu menanyakan “Ada link Apple Music-nya, Mas Bathuk?” Lagi-lagi kupikir cuma basa-basi, tapi ternyata nggak!

    Sekitar setahun lalu, adalah Bertus, kawanku yang bukan lulusan De Britto tapi mengenal Dancuk. Ia menelponku dan mengabarkan bahwa Dancuk, si Danu itu, mengidap penyakit akut. Aku tentu prihatin tapi tak bisa berbuat apa selain berdoa.

    Ketika Bowo (De Britto 1996) meninggal dunia. beberapa bulan lalu, Danu lah yang menghubungiku dan ikut mengucapkan bela sungkawa. Aku menyelipkan semangat untuk dirinya. “Kowe juga kudu semangat, Cuk! Kudu mari!” dan ternyata itu adalah percakapanku yang terakhir dengannya.

    Kemarin pagi, Yoyok, teman satu angkatannya, mengabarkan kepadaku bahwa Dancuk, si Danu a.k.a Taek sudah berpulang.

    Aku nggak kaget karena memang dia sudah sakit lama.
    Aku nggak terlampau sedih karena memang kami tidak pernah lagi dekat setelah perkenalan pertama kami tahun 1994.

    Tapi ketika merawi tulisan ini,  baru kusadar ada banyak ingatan termasuk tentang dirinya yang merepih sirna. Makanya cepat-cepatlah kutuliskan repihan itu di sini. Tak sekadar untuk mengingatnya tapi untuk meletakkan momentum-momentum indah di Jogja yang pernah terjadi antara aku dengannya dalam medium yang lebih abadi ketimbang otakku yang menua dan mulai mudah lupa ini.

    Selamat jalan, Dan! Dancuk!  Salamku untuk semua! 
    Papa-Mamaku, dan semua kawan-kawan kita yang sudah lebih dulu berpulang di sana!

    Screenshot
  • Pengalaman Pertama Menonton Stand-Up Comedy Live!

    Pengalaman Pertama Menonton Stand-Up Comedy Live!

    Pepatah lama bilang, selalu ada yang pertama dalam hidup.

    Sabtu seminggu lalu, pertama kalinya aku nonton stand-up comedy show secara live. Show diadakan oleh perkumpulan mahasiswa Indonesia di dua universitas di negara bagian New South Wales, Australia. Mereka mengundang komika Indonesia, Raditya Dika, sesama blogger jaman kuda yang berhasil menyulap dirinya menjadi salah seorang stand-up comedian paling berpengaruh di Indonesia. Dia tak sendirian, Yono Bakri, tampil sebagai openernya.

    Meski aku mengikuti standup comedy secara rutin di Youtube (dan Netflix) sejak beberapa tahun, kekhawatiran tentang “Gimana kalau nggak lucu ya?” tetap saja muncul sebelum datang ke show kemarin.

    Maklum, Aku tumbuh di era slapstick comedy dimana dua grup komedi legendaris Srimulat dan Warkop DKI menguasai media.

    Aku bisa terpingkal-pingkal hanya melihat Timbul yang jatuh dari sofa, Mamiek Slamet yang mencolokkan jari ke matanya sendiri atau Dono Warkop yang mengusap-usap bibir tonggosnya ketika melihat cewek-cewek berpakaian bikini di tepi pantai.

    Sementara stand-up comedy itu basisnya konteks dan kata-kata yang dilontarkan. Rumit untuk memantik kelucuan.

    Itu pula sebabnya aku gak pernah tertarik masuk ke stand-up comedy club di sini karena sebagai orang yang lahir dalam budaya yang menempatkan Bahasa Inggris sebagai bahasa ketiga (Bahasa pertamaku, Bahasa Jawa, bahasa keduaku Bahasa Indonesia) boro-boro mendapatkan lucu karena untuk mengerti apa yang mereka omongkan dalam Bahasa Inggris saja butuh waktu.

    Pun ketika akhirnya terbiasa dan mengerti (apa yang mereka omongkan), tantangan kedua adalah dimana lucunya, karena standard lucu orang juga beda.

    Nah, kekawatiranku terkait dengan Raditya Dika dan Yono Bakri juga sama. Bahasa tentu bisa dimengerti tapi konteks yang dikomedikan, apakah kegelisahan yang ditertawakan masih sehalaman denganku mengingat mungkin saja materinya adalah tentang kegelisahan para penonton lain yang kutaksir beda usianya sekitar 20 – 25 tahun di bawahku?

    Tapi semuanya terjawab lunas.

    Yono dan Radit berhasil menertawakan kegelisahan yang masih terhubung denganku.

    Mulai dari perkara beda ras “cina” dan pribumi yang meski usang tapi tetap berhasil membuat ngakak kalau dikomedikan dengan baik hingga soal siapa saja tamu Radit di podcast yang selalu kuikuti di Youtube yang sebenarnya tolol!

    Atau ketika tiba-tiba Radit bicara Gibran dan Jokowi serta ijasahnya, siapa yang gak terpingkal, kan?

    Tapi yang menurutku paling memvalidasi kenapa acara kemarin menarik adalah pandanganku selama ini melihat sosok Radit yang di podcast begitu lurus, alim dan cenderung introvert, terpatahkan ketika melihatnya di atas panggung dengan setingan tertutup, Radit menjadi seorang nan tak terbayangkan sebelumnya. Ia membengkokkan pendapatku tentang dirinya dan bukankah itu letak komedi yang sesungguhnya? Menertawakan hal yang selama ini kita anggap lurus tapi ternyata bengkok tanpa bisa dinyana!?

    On to the next one, dua minggu dari sekarang, Pandji Pragiwaksono bakal melucu di hadapanku, semoga Tuhan memberkatinya kelucuan sehingga tiket yang kubayar tidak hangus sia-sia!

  • Saat terbaik untuk memutus tali pertemanan?

    Pertemanan itu tidak untuk selamanya atau setidaknya tidak semuanya bisa dijadikan teman selamanya. Ketika sudah tidak lagi compatible ya baiknya kita tinggalkan saja.

    Ada seorang teman lama. Puluhan tahun lalu ketika duduk di bangku sekolah, orangnya asik meski agama kami berbeda. Tapi pas ketemu belakangan, tiba-tiba kata-katanya penuh duri dan sengatan terutama waktu bicara tentang iman. Untung ketemunya cuma online, tinggal kugeser topik dikit lalu kuputuskan untuk melipir dan kutinggal pergi begitu saja.

    Ada juga kawan lain yang dulu akrab tapi sekarang menjauh hanya gara-gara merasa dirinya beda kelas denganku yang tinggal di luar negeri. Baginya, orang yang tinggal di luar negeri itu identik dengan kaya dan mapan. Ya aku aminin sih kalau dia bilang gitu sebagai doa meski pada kenyataannya, mau tinggal di luar negeri ataupun di dalam negeri ya sama saja!

    Dua orang teman di atas akhirnya kutempatkan sebagai mereka yang ada dalam ‘rak’ teman lama. TEMAN. LAMA. Teman tapi ada di masa lampau bukan sekarang karena pertemanan kami sudah tidak compatible lagi. Dan karena tidak compatible ya ada baiknya diakhiri.

    Di sini yang kadang jadi pembeda.

    Ada orang yang merasa teman itu harus dijaga untuk selamanya. Alasannya? 

    “Demi masa lalu lah! Masa gitu aja trus musuhan?”

    Nah, ini konyolnya!
    Tidak berteman itu bukan berarti lantas bermusuhan. Tidak berteman itu bisa berarti tidak lagi berhubungan kecuali dalam hal-hal yang sifatnya penting. Aku punya teman lama lainnya yang kami berdua bersepakat untuk tidak berhubungan lagi tapi ya tidak bermusuhan. Ketika pulang ke Jogja, aku nggak ngabarin, ketika dia dan keluarga berkunjung ke Sydney, aku juga gak mengharapkan dia menghubungiku. Cukup tau lewat sosmed aja bahwa dia sedang di sini.

    Tapi suatu waktu ketika tidur, aku bermimpi tentangnya. Sebagai orang Jawa, aku merasa harus menyapa (ngaruhke) untuk memastikan dia baik-baik saja. Maka pagi itu aku mengirimkan pesan singkat menanyakan apakah dia baik-baik saja. Dia menjawab, “Terima kasih. Kami baik.” Singkat, padat dan jelas … jelas kaku maksudnya hahaha

    Ada juga orang yang malu-malu menyudahi pertemanan karena alasan ‘nggak enak.’

    “Nggak enaklah dulu kan baik banget, kalau sekarang dia berubah ya lebih baik dimaklumin aja!“

    Gak papa sebenarnya. Pemakluman adalah langkah awal tapi kalau berkali-kali kita maklumi tanpa berani menyudahi, apa wajar? Kan enggak juga.

    Jadi sekali lagi, bagiku pertemanan itu tidak untuk selamanya atau setidaknya tidak semuanya bisa dijadikan teman selamanya. Ketika sudah tidak compatible ya ada baiknya kita tinggalkan saja sambil terus merawat kenangan sebagai pengalaman indah yang ada di masa silam. Gitu aja…

  • Butuh Validasi?

    Awalnya aku geli melihat di Threads belakangan ini ada banyak orang berusaha menarik perhatian supaya yang nge-like dan yang nge-comment banyak. Tapi kegelian itu sirna ketika melihat diri sendiri! “Hey! Bukankah kamu juga masih kadang seperti itu bahkan lebih parah, Don!”

    Pernah juga mendengar kabar ada oknum runner yang demi validasi sampai harus menyewa joki (membayar orang lain untuk lari mewakili dirinya dengan menggunakan piranti tracker) supaya di komunitas, si runner lebih dihargai dengan menunjukkan statistik trackernya? Duh! Bro! Sis! Kalau cuma untuk ngakali statistik, pakai AI aja gratis!

    Semua orang butuh validasi, sadar-gak-sadar, dan itu wajar. Sejorok apapun levelnya ya nggak papa… Malah, hidup tanpa keperluan untuk divalidasi adalah hidup yang nir-tujuan.

    Ketika ada seorang yang berani bilang bahwa hidupnya lepas-bebas tanpa peduli validasi orang lain, sejatinya, menurutku pada saat yang bersamaan dia justru butuh validasi! Validasi bahwa hidupnya gak butuh divalidasi hahaha…

    Tinggal bagaimana kita mengelola dunia per-validasi-an, itu yang kemudian membedakan. Hidupku masih perlu validasi setidaknya dari dua pihak.

    Pihak pertama, keluarga.
    Makin ke sini aku makin mengerti bahwa panggilan hidupku ya untuk keluarga. Perjalanan setelah menikah adalah memenuhi janji pernikahanku di depan Allah; bahwa aku harus setia dan mencinta dalam kondisi apapun: untung dan malang, sehat dan sakit hingga maut memisahkan.

    Artinya, ketika bekerja, validasiku  bukan semata untuk karir yang kinclong dan jabatan yang mentereng tapi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. 

    Ketika harus beli sepeda, validasinya bukan supaya ketika selfie jadi keren karena ada sepedanya tapi untuk penghematan biaya transport dari rumah ke stasiun kereta terdekat sekaligus olahraga! 

    Atau ketika aku sesekali minta ijin istri dan anak-anak untuk nongkrong dengan teman, nonton konser atau sekadar bersuara di social media, validasi yang paling masuk akal dalam kaitan dengan keluarga ya supaya aku mendapatkan sedikit hiburan di waktu senggang karena dengan hati yang terhibur bukankah beban hidup itu terasa lebih ringan untuk dijalankan?

    Yang kedua dan yang utama adalah Tuhan.

    Sebagai orang beriman, aku percaya sesudah mati nanti, perjalanan hidupku selama di dunia akan divalidasiNya; apakah aku layak masuk Surga atau pantasnya dibuang ke neraka?

    Untuk itu, sekujur hidupku haruslah kubaktikan melalui cara-cara yang kuanggap benar. Cara itu bernama agama. Mendalami agama jadi faktor yang penting, sama pentingnya dengan menjalankan ajaran-ajaranNya dalam hidup sehari-hari.

    Di titik yang paling praktikal yang kuterapkan, ketika sedang hendak melakukan apapun, sebisa mungkin aku menghadirkan dialog imajiner antaraku dengan Tuhan sebagai validator.

    “Tuhan, boleh gak ngelakuin ini?”
    “Tuhan, dikit aja deh! Aku tahu salah tapi nanti aku ngaku dosa kok di Gereja!”

    Perkaranya aku ini kan makhluk lemah. 
    Mentang-mentang Tuhan itu gak kasat mata lalu narasi tentangNya kadang kubikin seenak hati. Aku paling senang membayangkan Tuhan sebagai sosok bapak-bapak yang penuh senyum dan pemakluman seolah semua yang kita lakukan pasti diperbolehkan. Padahal? Nyatanya? Ya entah! Untuk yang satu ini aku merasa gak perlu tergesa-gesa untuk memvalidasi. Masih banyak tugas yang harus kuselesaikan di dunia…

  • Catatan 20 tahun Gempa Jogja: Jogja kota destinasi NGO

    Catatan 20 tahun Gempa Jogja: Jogja kota destinasi NGO

    Hari ini, 20 tahun yang lalu, gempa besar mengguncang Jogja dan sekitarnya.

    Aku ingat pagi itu sedang tidur di kantor di sekitaran Papringan, Jogja, lalu tiba-tiba suara gemuruh hebat dan hempasan yang mengguncang naik-turun, kiri-kanan, aku dan beberapa kawan lain yang juga bermalam di kantor pun lari berhamburan keluar menyelamatkan diri. Belum pernah aku merasakan gempa sehebat itu selama hidup.

    Jogja pun luluh lantak.
    Enam ribu korban jiwa jatuh, entah berapa yang terluka dan ada begitu banyak rumah-kantor rubuh, bahkan beberapa pusat perbelanjaan yang baru buka di Jl Solo rusak.

    Hari itu, seperti yang kutulis dalam buku yang kemudian diterbitkan secara publik beberapa bulan sesudahnya bertajuk Detik-Detik Menghempas, aku melihat sisi dari kota Jogja yang gak pernah kulihat sebelumnya. Sejak pindah  pada 1993, Jogja itu sarat dengan keriaan dan petualngan masa muda, tapi pagi itu, aku melihat Jogja dari sisi pandang kedukaan yang teramat dalam.

    Dua puluh tahun sesudahnya, menengok ke belakang, sebenarnya gempa pagi itu bukan hanya mengubah Jogja dari dimensi duka saja, tapi juga mengimbuhkan dimensi lain tentang Jogja sejak saat itu hingga beberapa waktu berikutnya.

    Jogja menjadi lebih internasional! 

    Bukan karena Jogja adalah destinasi wisata terbesar kedua setelah Bali, tapi karena gempa, Jogja menjadi destinasi, mungkin yang kedua terbesar setelah Aceh, bagi para non-government organisation (NGO) yang kebanyakan berasal dari luar negeri.

    Mereka datang untuk memberikan bantuan atau lebih tepatnya menjadi operator dari bantuan-bantuan yang dikirim dari luar negeri untuk disalurkan kepada yang membutuhkan.

    Para bule jadi lebih banyak berlalu-lalang. 

    Mereka tentu membutuhkan tenaga kerja lokal. Teman-teman yang dulunya hanya kuliah, mendapatkan sangu tambahan dari bekerja di NGO. Teman-teman yang dulunya bekerja di bidang-bidang ‘konvensional’ memilih untuk keluar dari pekerjaan dan masuk ke NGO juga. Mereka mengerjakan banyak hal mulai dari pemeriksaan lapangan, administrasi dan banyak hal lainnya.

    Teman-teman jadi lebih fasih berbahasa Inggris. 

    Pulang kerja yang biasanya nongkrong di angkringan pindah tempat ke coffeeshop-coffeeshop yang waktu itu memang mulai banyak bertebaran. Menenteng laptop, menggamit rokok, menyesap kopi dan bekerja. Budaya nge-beer sepulang kerja juga seingatku makin merebak waktu itu.

    Gajinya rata-rata berapa? Aku tak tahu, tapi yang kutaksir sih lebih banyak dari yang sebelumnya mereka terima. Ada juga satu-dua yang panen raya. Mereka jadi bisa membuka usaha dan beli rumah. Ada juga yang serius melanjutkan karir di NGO, mereka direkrut untuk dipekerjakan di tempat-tempat lainnya. Dan… ada juga satu-dua yang kukenal bertemu jodoh di sana…

    Aku tentu tidak tertarik untuk bergabung waktu itu karena selain bekerja di perusahaan sendiri, fokusku adalah untuk mempersiapkan pernikahanku dan pindah ke Australia.

    Dua tahun kemudian, 2008, ketika pindah ke Australia, “trend NGO” masih ada di Jogja. Aku nggak mengikuti hingga kapan trend itu berakhir…

    Aku mengenang para korban jiwa yang jatuh pada pagi itu dan pagi-pagi selanjutnya…

    Damai di sisiNya!

  • Ongkos Pulang

    Hal yang paling menyenangkan selama mengikuti berita perjalanan Artemis II mengelilingi bulan adalah ketika melihat wajah para astronot dengan senyum bahagia muncul dari pintu pesawat yang terbuka. Tapi tahu nggak, ongkos untuk pulang ke bumi itu gak murah dan bisa dibilang yang paling beresiko dibanding fase-fase lain yang telah mereka lewati sebelumnya? Ada banyak faktor teknis yang mempengaruhi dan kalau salah perhitungan sedikit saja, pesawat bisa terbakar dan meledak.

    Dari potongan video yang kulihat, tampak bagaimana ketika Artemis II masuk atmosfir bumi, badannya tergoncang-goncang, percikan api membesar dan menimbulkan suara gemuruh yang mengerikan! Gak kebayang sih kalau aku jadi astronot yang ada di dalamnya.

    Aku melukiskan perjalanan tobat dalam beberapa hal juga demikian.

    Ongkos tobat juga gak murah, perjalanannya gak pernah gampang!
    Ada banyak hal-hal duniawi yang selama ini membuat kita jatuh dalam lena dan memberikan rasa nyaman yang semu tapi harus kita korbankan, kita tinggalkan karena ternyata itu semua tidak sesuai dengan apa yang Tuhan mau. 

    Seorang teman dulu bercerita, pengorbanan terberat untuk ikut Tuhan adalah ketika harus putus dari pacar. Bukannya bertobat berarti gak boleh pacaran, tapi karena si pacar menolak untuk mengubah gaya hidup yang semula: kumpul kebo termasuk melakukan hubungan intim pra-nikah. Perjalanannya tentu gak mulus. Putus sambung, jatuh-bangun tapi temanku punya niat kuat. Ia tahu kemana harus kembali. Ia tahu kepada siapa hidup harus diarahkan.

    Ibarat para astronot tadi, mau setidak nyaman apapun perjalanannya tapi pulang ke rumah, pulang kepada kehendak yang Tuhan maui dalam hidup kita adalah obat rindu paling mujarab.

    Bedanya, para astronot itu tahu estimasi kapan tiba sampai di bumi tapi kita tidak diberitahu, pokoknya Tuhan janji akan selalu menyertai hingga akhir.

    Dan bayangin aja, ketika saatnya sampai, pintu dibuka dan kita disambut Dia yang selama hidup kita rindukan, Dia yang jadi alasan untuk menempuh semua ketidaknyamanan ini, adakah perasaan yang lebih membahagiakan daripada itu?

  • Membaca Nadiem

    Sangat banyak yang prihatin dengan apa yang terjadi dalam kasus Google Chromebook yang melibatkan Nadiem Makarim (dan Ibam); dua nama besar dalam dunia startup tech Indonesia.

    Kenapa semua ini bisa terjadi?
    Apa ini salah Jokowi?
    Nadiem ditumbalin?

    As much as aku pengen langsung nyosor ke muara itu tapi aku memilih menyusuri arus agak sedikit ke hulu supaya lebih runut. 

    Menurutku, semua kekisruhan ini berawal dari penunjukan Nadiem sebagai menteri dan ketidaktahuannya terhadap lanskap medan yang ia bakal hadapi waktu itu. Mungkin dia tahu garis besarnya, tapi garis-garis lain yang setebal rambut barangkali gak terlihat dan lupa diperhitungkan.

    Mungkin dia tahu bahwa nggak semua yang dia lakukan di sektor swasta bisa diterima dengan baik di sektor pemerintahan tapi dalam prakteknya, pengetahuan itu ternyata beda jauh dari kenyataan. Bahwa gak semua yang manggut-manggut dan bilang “Siap, Ndan” atau “Iya, Pak” itu berarti sepaham. Bisa jadi mereka justru sedang menimbun dendam di belakang dan ketika jabatan Nadiem terselesaikan, semuanya disemburkan ke mukanya seperti yang terjadi sekarang.

    Dari yang kulihat di podcast-podcast, konon Nadiem selama jadi menteri jarang ngantor dan jarang kunjungan ke kampus-kampus. Aku gak menyalahkan karena di dunia swasta terlebih industri digital, hal seperti ini wajar; gak perlu in-person meeting, yang penting ada hasil dan sesuai KPI. Tapi lagi-lagi di medan bernama pemerintahan, garis-garis tipis bernama kepantasan, unggah-ungguh, ketimuran itu hal yang juga harus diperhitungkan bahkan kadang jadi yang paling penting untuk dipertimbangkan.

    Belum lagi soal model kurikulum dan gebrakan lainnya yang konon (kupakai kata konon karena aku gak mengikuti secara detail) bertujuan menata ulang sistem pendidikan yang sudah berlangsung lama. Bagus sih tapi lagi-lagi Nadiem mungkin gagal mengukur sedahsyat apa gegar dan gempa yang ditimbulkan. Nadiem, jangankan untuk mengubah cara lama, untuk memindahkan pantat dari satu kursi ke kursi lain aja bisa jadi ada oknum yang merasa mager dan berat bro!

    Tapi benar kata kalian, Nadiem gak salah karena dia sejak awal memang diminta membuat perubahan?

    Betul! Kesalahan ada pada orang yang mengajaknya masuk ke dalam sistem :)  Bisa jadi orang itu punya mimpi ketinggian tapi gak punya kapabilitas di level eksekutif untuk bikin keputusan. Dia gawal untuk mengukur target dan mengelola risk management kalau terjadi kenapa-napa termasuk kalau pas akhir masa jabatan belum kelar semuanya.

    Keputusan eksekutif itu gak bisa cuma dilandaskan pada kata “pokoknya”.

    Pokoknya yang penting Si Nadiem yang keren itu mau memimpin departemen.

    Pokoknya harus cepat, harus sat-set..

    Pokoknya kerja! kerja! kerja!

    Tapi ketika Nadiem ‘dibegitukan’? Ya jangan tanya saya! Gitu?

    Di sinilah sebenarnya blusukan itu penting!

    Bukan blusukan ke got dan ke masyarakat, kecuali dia sedang pengen meraih simpati untuk pemilihan ke depan tapi blusukan ke instansi dan departemen-departemen. Belanja masalah sedetil-detilnya karena barangkali akar dari semua akar persoalan itu memang justru ada di sana.

    Prihatinku untuk kasus Nadiem dan Ibam serta semua anak bangsa yang tadinya barangkali berpikir untuk pulang ke Tanah Air dan ingin berkontribusi untuk negeri tapi harus kembali berpikir panjang gara-gara paparan kasus seperti ini!

  • Gaslighting terang-benderang dalam Insiden Lomba Cerdas Cermat

    Gaslighting terang-benderang dalam Insiden Lomba Cerdas Cermat

    Kasus yang terjadi dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar Sabtu (9/5/2026) kemarin itu menurutku adalah contoh gaslighting yang terang-benderang!

    Gaslighting sebuah bentuk manipulasi psikologis yang membuat korban mempertanyakan kebenaran dirinya sendiri melalui tindakan pelaku yang berupa penyangkalan, peremehtemehan dan pemutarbalikan fakta serta pengalihan topik pembicaraan.

    Mari kita dudukkan perkaranya dulu terutama buat kalian yang nggak mengikuti kasus ini.

    Adalah Josepha Alexandra, juru bicara Grup C, peserta lomba dari SMAN 1 Pontianak. Dialah korbannya. Josepha menjawab pertanyaan dan dianggap salah oleh Dyastasita WB, juri yang merupakan Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI.

    Lucunya di sini, ketika juru bicara regu lain menjawab, hal itu dibenarkan Dastasita padahal jawabannya sama persis dengan jawaban Josepha.

    Gak seperti anak kebanyakan, Josepha, diluar perkiraan mengambil microphone lalu memprotes kenapa jawabannya dipersalahkan?

    Ini titik awal gaslighting terjadi. Dyastasita buru-buru menyangkal bahwa jawaban Josepha salah. 

    Josepha gak menyerah. Dia meminta supaya juri mengambil saksi lain mungkin dari penonton bahwa jawabannya benar. Lagi-lagi Dyastasita tetap kukuh, jawaban Josepha dianggap salah dan mendapatkan nilai -5.

    Shindy Lutfiana, sang MC, bermaksud menyudahi persoalan dengan cara yang… memperburuk gaslighting itu. Ia bilang bahwa sang juri punya kompetensi dan sangat teliti. Asumsi klasik tak beralasan itu diimbuhi dengan quote yang sangat layak dijadikan meme, “mungkin perasaan adik-adik saja!” Peremehtemehan dan pengalihan topik pembicaraan tampak jelas, bukan?

    Belum yang terakhir,  gongnya ditabuh adalah Indri Wahyuni S.IP, MA. Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI menimpali dengan persoalan artikulasi. Mungkin dia menganggap bahwa Josepha menyatakan jawaban dengan benar tapi tidak memiliki artikulasi yang baik dan jelas sehingga tidak terdengar oleh Dyastasita. Lagi-lagi, peremetemehan dan pengalihan topik pembicaraan terjadi lagi.

    Sebenarnya ini kan perkara sepele!
    Acaranya direkam, kan? Kalau gak direkam gimana mungkin bisa viral? Harusnya MC langsung menyetop acara kemudian mempersilakan sang juri dengan bantuan teknisi acara untuk memutar ulang rekaman kejadian untuk mencari tahu kebenaran. Dalam dunia olahraga ini sudah lama dipraktekkan kok! Wasit entah karena kesadaran sendiri atau mendapatkan challenge dari kapten maupun pelatih tim menghentikan pertandingan lalu memutar ulang video untuk mendapatkan validasi jawaban.

    Terus-terang aku miris melihat kasus ini. Kalau melihat Josepha, si korban, dia sih tenang dan terlihat kuat. Yang bikin miris karena acaranya kan judulnya cerdas cermat. Yang diuji harusnya peserta seperti Josepha, tapi yang diuji oleh netizen justru si MC dan para jurinya; adakah mereka sudah cerdas dan cukup cermat?

    Lagipula, ini kan sudah tahun 2026, apa iya lomba cerdas cermat dengan pola pertanyaan hapalan begitu masih sesuai jaman? Apakah kecerdasan dan kecermatan para peserta dinilai dari sekuat apa ia menghapal dan mengartikulasikan hapalannya?

  • Obituari: Pak Sur

    Obituari: Pak Sur

    Padahal baru dua malam lalu, aku bersama Singgih dan istrinya, Ambar yang sedang berlibur ke Sydney bicara tentang kenangan tinggal di asrama Ampel 2 eh tadi pagi kudengar kabar bahwa Pak Sur, Silverius Suryanto, pemilik Wisma Ampel 2 meninggal dunia.

    Aku dan Singgih adalah sedikit dari begitu banyak anak yang waktu duduk di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta tinggal di bangunan berwarna hijau kalem yang letaknya di Jl Ampel 2 Papringan, Catur Tunggal, Depok Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Sebenarnya Ampel 2 itu bukan asrama dan ia tidak melekat pada sekolah karena dikelola secara pribadi. Tapi mungkin karena aturan yang ketat, orang lantas mengidentikannya sebagai asrama.

    Aku tinggal di Ampel 2 sejak masuk hingga lulus SMA, 1993 – 1996. Sebenarnya aku gak mau tinggal di situ. Lebih tertarik untuk bergabung ngekost bersama Aan dan Ciang Han, dua kawan seangkatan sesama asal dari Kebumen yang sekolah di De Britto tapi Mama buru-buru mengultimatum, “Kalau kamu gak mau tinggal di asramanya Pak Sur, kamu gak usah ke Jogja, Le!” Dia tahu akan seliar apa anaknya kalau dilepas bebas di Jogja waktu itu lha wong di rumah aja udah beberapa kali ketahuan ngebokep kan! Hehehe…

    Waktu pertama kali bertemu Pak Sur dan Bu Sur, kesanku seperti bertemu Bu Broto dan Pak Broto di serial Losmen yang dulu ngetop di TVRI itu. Priyayi Jogja, rumahnya asri menempel dengan asrama. Di dalamnya ada akuarium besar dengan ikan arwana yang bergerak gemulai malang melintang seolah ingin memberi tahu bahwa si empunya adalah dari kalangan berada.

    Pak Sur berpawakan tinggi, kurus dan perangainya tenang. Sementara Bu Sur, seperti banyak ibu-ibu Jawa termasuk alm Mamaku, lebih banyak berbicara dan control freak hahaha!

    Setiap jam belajar malam, jam 7-9, Pak Sur selalu mengetuk pintu lalu menampakkan wajahnya untuk ngecheck apakah kami di kamar dan apakah kami tampak sedang belajar atau ngapain hehehe. Ada banyak sekali pengalaman selama tinggal di sana tapi dalam tulisan ini aku gak ingin mengulas itu semua, fokusku pada Pak Sur aja ya.

    Ada dua yang paling membekas yang hendak kuceritakan.

    Yang pertama adalah tak lama setelah masuk asrama, tiba-tiba aku yang sedang merokok di depan kamar 30 tempat Pandhu Astanu, temanku, tinggal, Pak Sur mendekat. “Donny! Kamu kok sudah merokok?”

    Aku sempat kaget ditegur seperti itu. “Oh, ya gak papa, Pak. Gak boleh ya?” tanyaku sopan.

    “Kamu nanti kulaporkan ke Papamu lho…” tegasnya sambil tersenyum.
    Aku dengan ringan sambil terus menyedot rokok pun menjawab, “Yaa.. laporin aja, Pak!”

    Malam harinya, melalui saluran telepon, Papa bilang kepadaku, “Pak Sur tadi bilang katanya ngeliat kamu merokok trus aku bilang kalau kamu memang kuijinkan untuk merokok hehehe…” Sejak saat itu aku cuek aja untuk merokok di depan siapapun!

    Pengalaman kedua waktu duduk di bangku kelas tiga, aku ketahuan manjat pagar selepas jam malam. Asrama Ampel 2 menerapkan jam malam. Seingatku Minggu malam sampai jumat malam, pintu gerbang tutup jam 22:30 sementara malam minggu pintu tutup jam 23:00. Tapi malam itu aku nonton film ‘midnight show’ yang digelar di Empire 21.

    Seperti malam-malam sebelumnya, strategiku sama, manjat pagar lalu bersicepat masuk kamar. Malam itu, dengan sigap aku manjat pagar yang tingginya sekitar 5 meter. Karena keadaan sekitar begitu gelap, ketika sampai di atas pagar aku baru sadar Pak Sur sudah menunggu di bawah.

    Dengan nada tinggi, Pak Sur bertanya, “Darimana kamu? Malam-malam baru pulang?!”
    Aku tak menjawab sama sekali dan selama hampir sepuluh menit kemudian aku membiarkannya menasihatiku tentang banyak hal mulai dari prestasi belajarku yang terus menurun, perilakuku di sekolah yang juga gak bagus karena barusan diskors hampir dua minggu gak boleh sekolah karena badung dan banyak lagi. Tapi semua itu harus kuinterupsi dengan bilang, “Maaf, Pak! Saya tahu saya salah! Tapi boleh nggak saya turun dari pagar sekarang?”

    Ya! Selama itu aku harus nangkring di atas pagar sementara dia di bawah dan banyak orang berlalu lalang di muka Jl Ampel yang memperhatikan kami berdua!

    Teman-temanku tentu punya cerita yang lebih seru, lebih nakal dan membekas juga. Tapi separah apapun dulu, ketika melihat sekarang, terlebih dalam rangka mengenang Pak Sur yang baru saja berpulang, semua itu terasa lucu nan menggelikan, seperti yang dibilang Frank Sinatra dalam lagunya, My Way,

    “And now, as tears subside. 
    I find it all so amusing!”

    Dan kalau dilihat ke belakang, apa yang dikatakan Mama untuk menaruhku di asrama, apa yang dilakukan Pak Sur dan Bu Sur selama aku di sana, semua itu adalah demi menjaga kesempurnaan rencana Tuhan atasku. Barangkali kalau waktu itu aku nggak tinggal di asrama, aku gak akan ada di posisi sekarang. Mungkin aku akan bernasib yang sama dengan kawan-kawanku lainnya yang harus mengakhiri masa mudanya terlalu dini karena pacarnya bunting duluan!

    Oh, mengenai kebuntingan ini, aku dulu bahkan sempat berpikir untuk menyelundupkan mbak pacar ke kamar! Sekali-dua kali gak ketahuan tapi ketika ada kawan lain yang ketahuan membawa pacarnya ke kamar dan dia dikeluarkan, dilaporkan ke orang tua dan sekolah, hal itu membuatku kapok dan berhenti mencoba hal-hal yang tidak baik untuk dilakukan…Padahal waktu itu aku sudah mempersiapkan alasan! Kalau sampai ketahuan aku akan bilang bahwa kami berdua sedang belajar dan berdoa bersama!

    Pak Sur, sugeng kondur, swargi langgeng!
    Nyuwun ngapunten kalau dulu saya banyak bikin salah dan bikin Pak Sur stress melihat tingkah saya hehehe…

    Semoga keluarga yang ditinggalkan, Bu Sur, anak-anak, para menantu serta cucu diberi penghiburan dan kekuatan.

    Berkah Dalem

    Donny Verdian
    Alumni kamar 34B (1993/4) – kamar 2 (1994/5) – kamar 3 (1995/6)

  • Menanggapi Mbak Tyas LPDP: Dimana Bumi dipijak disitu langit dijunjung

    Menanggapi Mbak Tyas LPDP: Dimana Bumi dipijak disitu langit dijunjung

    Kasus mantan penerima beasiswa LPDP yang viral karena memamerkan paspor UK anaknya sambil bilang “Cukup aku aja yang jadi WNI, anakku jangan” adalah sesuatu yang memang kurang pada tempatnya.

    Pantas kalau kemudian banyak orang merasa tersinggung oleh lontaran Tyas meski sebenarnya yang paling perlu melakukan introspeksi, menurutku adalah pemerintah Indonesia karena dalam permintaan maaf yang disebarluaskan, Tyas mengutarakan alasan kenapa muncul pendapat itu yang adalah karena rasa kecewa dan frustrasinya terhadap Pemerintah Indonesia.

    Tyas sebenarnya tidak perlu mengutarakan semua itu kalau ia memiliki kesadaran penuh bahwa meski WNI, dia toh tinggal di luar negeri. Tyas belum mampu menghayati pepatah lama “Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung” padahal itu adalah prinsip penting untuk hidup sebagai seorang perantau.

    Aku berasumsi, meski tinggal di Inggris, dunia Tyas masih sangat Indonesia. Bisa kutebak, banyak grup WA di telepon genggamnya yang isinya teman dan saudara yang bicara Indonesia. Akun-akun yang difollownya, podcast dan kanal berita yang ditonton juga mungkin tentang Indonesia.

    Ibaratnya, Ia bicara, melihat, mendengarkan dalam Indonesia meski hidup di Inggris.

    Maka nggak heran ketika kiriman Paspor Inggris untuk anaknya datang, yang ada dalam benaknya adalah ia harus berbicara dan menyampaikan berita baik itu kepada Indonesia, kepada dunianya. Untuk membuat related ke Indonesia, Tyas pun melakukan perbandingan kewarganegaraan sehingga muncul statemen itu, “Cukup aku aja yang jadi WNI, anakku jangan!”

    Mari membayangkan kalau Tyas itu dalam kesehariannya lebih banyak berinteraksi dengan sesama penduduk yang tinggal di Inggris.

    Mari membayangkan kalau Tyas itu mem-follow lebih banyak akun Inggris dan menikmati podcast serta mengikuti berita-berita Inggris.

    Maka ketika kiriman paspor anaknya datang, ia tidak akan merasa perlu membicarakannya secara publik karena dalam konteks Inggris, tak ada yang perlu dirayakan secara berlebihan apalagi membandingkan dengan Indonesia, bukan?

    Sama seperti misalnya ketika seseorang pindah dari pelosok ke Jogja lalu berhasil mendapatkan KTP Jogja, apa istimewanya KTP itu untuk orang-orang Jogja meski mungkin ketika memamerkannya di kampung halaman, ia akan dianggap sebagai orang istimewa karena ber-KTP Jogja!

    Sebagai sesama perantau, aku tahu menghayati peribahasa

    “Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung” itu tak semudah mengucapkannya.

    Aku sudah 18 tahun tinggal di Australia, pun kewarganegaraanku sudah bukan lagi Indonesia, tapi kadang masih sulit untuk move on daripadanya. Istriku lahir di Indonesia. Kami berbicara, berdebat, berpikir dan berdoa dalam Bahasa Indonesia. Kanal-kanal youtube favoritku ya masih Rocky Gerung, Bocor Alus Politik hingga Rakyat Bersuara!

    Tapi akhir-akhir ini setidaknya aku mencoba mengerem dan mengelola waktu untuk mengikuti semua itu hanya di akhir pekan, pun kalau senggang (meski kadang sulit terutama kalau pas scrolling lalu melihat kiriman meme tokoh politik tertentu ya tetap aja ketawa ngakak dan kadang ikutan me-repost).

    Di hari kerja aku berusaha fokus pada pekerjaan dan lebih banyak berinteraksi dengan kawan kerja dan penduduk lokal yang tentu bukan orang Indonesia. Aku lebih aktif di grup-grup WA gereja paroki lokal ketimbang membalas pesan kawan-kawan di WAG-WAG Indonesia.

    Bukan karena aku anti Indonesia, bukan pula karena aku kacang yang lupa pada kulitnya karena bagaimanapun juga aku lahir dan besar di sana.

    Tapi aku harus memijakkan kaki di bumi dan menjunjung langit yang sudah kupilih yaitu bumi dan langit Australia. Untuk itu aku berusaha menciptakan sela antara aku dengan Indonesia supaya aku menjadi manusia yang punya kesadaran diri sepenuh dan seutuhnya.

    Berbekal itu, ketika misalnya aku melihat ada harga barang murah atau mendapati layanan publik yang cepat dan efisien, aku tak lantas mudah terpancing untuk membingkai temuan-temuan itu dalam kerangka keindonesiaan.

    Aku berusaha untuk jadi orang yang nggak dikit-dikit membandingkan apa yang kudapati di sini dengan Indonesia, meski sebagai manusia aku sering gawal juga!

    Jadi untuk Mbak Tyas, semoga masalahmu cepat selesai.

    Kenali bumi yang kamu pijak dan langit yang kamu junjung. Letakkan Indonesia dalam bingkai nostalgia yang indah untuk dikenang.

    Kalau ada yang tampak pahit atau menyakitkan, ingatlah yang manis dan yang harumnya menyenangkan…