
Mari bicara tentang Pandji dan Mens Rea seperti kebanyakan orang pada umumnya.
Kita mulai dengan funfact dulu…
Berani bertaruh, aku adalah salah satu orang pertama yang nonton Mens Rea di Netflix yang dirilis tanggal 27 Desember 2025 silam!
Kok bisa? Begini… Aku tinggal di Sydney, Australia dan nonton Mens Rea sekitar jam 1 malam tanggal 27 Desember 2025. Pada saat aku memutarnya, kalian yang di Indonesia belum bisa karena masih jam 10 malam tanggal 26 Desember 2025. Ada sih kemungkinan orang yang tinggal di daerah lain di Australia, New Zealand atau tempat yang dikenal sebagai the earliest timezone, Kiribati (UTC+13) juga nonton di waktu yang sama atau lebih dulu. Tapi kans-nya berapa persen?
Materi
Secara materi, bagi orang yang mengikuti politik Indonesia termutakhir sepertiku, Mens Rea sebenarnya tidak menawarkan hal baru.
Secara teknik pembawaan Mens Rea itu ya Pandji banget! Ada sih beberapa inovasi baru yang segar seperti ketika ia bermanuver “Siu” ala Christiano Ronaldo yang jadi punchline untuk topik tentang para menteri Orde Baru yang kebanyakan diawali dengan suku kata “Soe (dibaca: Su)”
Ada juga tentang “Kok Ngono?” dan “Ngopo?” yang dipakai lebih dari sekali sebagai acuan.. meski bagiku yang paling di luar perkiraan adalah ketika Pandji tiba-tiba menyanyikan lagu mandarin “Wo Yao Ce Chaofan”.
Bagi orang yang tidak mengikuti Pandji sejak lama atau yang lupa pada joke-joke masa lampaunya, nyanyian Bahasa Mandarin itu terkesan lelucon biasa saja.
Tapi karena aku sudah lama mengikuti, joke itu melemparku balik ke joke masa lalunya! Bagiku ini brilian! Pandji tidak hanya cerdas, dia juga percaya diri bahwa sebagian penontonnya akan ingat joke lawasnya dan… berhasil!
Di atas hal materi yang dibawakan, yang membuat Mens Rea itu mahal, menurutku adalah pengalaman atau experience “road to Mens Rea”-nya baik yang dikelola secara sadar maupun hal-hal yang terjadi di luar rencana di sekitar peristiwa Mens Rea yang justru membuat value acara ini meninggi.
Kita bahas dari yang dikelola dulu ya.
Sejak pertama dicetuskan yang seingatku hanya beberapa hari/minggu setelah kisruh MK pada Oktober 2023 lalu, serangkaian promo dari podcast ke podcast digeber Pandji. Dia jadi bintang tamu di banyak podcast untuk membagikan rencana Mens Rea. Dia bahkan merilis lagu rap yang jadi soundtrack dan juga bikin serial podcast Skakmat; podcast dengan format paling aneh tapi jadinya unik karena menghadirkan tak hanya pembicaraan dengan politisi tapi mereka juga diajak main catur oleh Pandji.
Dari yang menurutku tidak dikelola alias terjadi begitu saja (kata anak jaman sekarang, mestakung atau semesta mendukung) adalah ketika tiba-tiba terjadi ricuh dalam podcast antara Pandji dengan Total Politik. Sesuatu yang kemudian kita kenal dengan istilah “Asian Value” a.k.a “Cut that stup*d sh!t” yang malah jadi merchandise pendukung Mens Rea yang kayaknya laku keras.
Kasus Tom Lembong, meski tak terelasi langsung tapi juga mendukung ‘pengalaman’ Mens Rea karena ketika Tom mendapatkan abolisi, Pandji mengundangnya, bersama Anies, untuk tampil di Indonesia Maya di Bandung beberapa bulan sebelum Mens Rea.
Yang terakhir menurutku yang paling dahsyat. Mens Rea finale Jakarta yang diadakan pada saat kerusuhan Agustus 2025 masih sangat panas tensinya!
Sudah barang tentu ini diluar rencana tapi alhasil, pengalaman para penonton di Indonesia Arena tentu menjadi satu yang tak terlupakan sepanjang umur mereka karena hadir dalam acara yang banyak bicara tentang sosial-politik di tengah situasi sosial-politik yang belum kondusif benar!
Jadi ketika tempo hari menyimak Sammy ‘Notaslimboy’ di podcastnya Cing Abdel bilang “materi Pandji segitu doang, bayar tiketnya satu setengah juta!” Well, aku bukan membela Pandji tapi Mens Rea itu memang lebih dari sekadar materi tapi tentang pengalaman yang sayangnya memang bakal sulit untuk direproduksi di masa depan bahkan oleh Pandji sendiri!
Kontroversi
Ketika pertama nonton Mens Rea di Netflix (sampai tulisan ini dirawi aku udah nonton tiga kali!) aku sudah menyangka bakal banyak bit di acara itu yang rawan menimbulkan kontroversi mulai soal Gibran hingga soal Prabowo yang dengan loud and clear dibilang Pandji pernah menculik aktivis!
Dan ternyata hal itu jadi kenyataan. Twitter (X) dan beberapa kanal social media ramai bicara tentang Mens Rea. Banyak yang memuji tapi tak jarang yang mengecam Pandji yang saat tulisan ini kurawi sedang mudik ke New York.
Bagiku, yang kontroversial adalah mereka yang justru menanggapi secara berlebihan dan menganggap Pandji dan Mens Rea itu kontroversial!
Udah tau lelucon, kok diprotes?
Apa kalian protes kepada api
karena ia menimbulkan panas dan luka bakar?
Apa kalian marah-marah kepada es
karena ia bikin dingin dan beku!?
Jadi kalau kamu gak suka stand up komedi ya jangan ditonton karena resikonya kalau gak bikin kamu tertawa ya tersinggung.
Kalian yang menyanjung Pandji secara berlebihan karena materi yang dibawakan sesuai dengan arah politiknya jangan senang dulu! Kalau kalian merasa tersentil, apa kalian bisa lebih dewasa dari mereka?
Aku melihat Mens Rea ini bisa jadi penanda tak hanya bagi Pandji, tak hanya masa depan dunia stand up komedi Indonesia tapi juga dalam kebebasan berbicara.
Kalau semuanya baik, Mens Rea bisa jadi momentum semakin dewasanya masyarakat Indonesia dalam menyampaikan dan mendengarkan pendapat sepedas, selucu atau senyinyir apapun itu.
Tapi, sebaliknya, Mens Rea juga bisa jadi pintu gerbang ke masa silam nan kelam bernama ORDE BARU! Orde yang membungkam mulut dan menekan (serta mematikan) mereka yang berseberangan dengan kekuasaan.
Kalau cuma somasi, kayaknya bakal ada banyak, seperti halnya Pandji belum lama juga menerima somasi dari sekelompok masyarakat Toraja yang tersinggung dengan joke Pandji yang usianya udah belasan tahun!
Tapi kalau sampai Pandji dituntut di muka pengadilan apalagi misalnya menggunakan pasal UU ITE, itu bisa jadi alarm buruk.
Sementara yang terburuk adalah kalau sampai somasi dan tuntutan apalagi ancaman tersebut membuat para komika lain dan kaum sipil yang biasa kritis jadi terbelenggu rasa takut!
Kalau sampai begitu, ya wasalam!
Tinggal nunggu waktu dimana nanti di televisi bakal ada serombongan komika pake bedak lalu bikin grup kayak Punokawan yang di masa Orde Baru muncul di TVRI di minggu siang.
Mereka menghibur melalui banyolan tapi tak lupa menjadi corong bagi pemerintah untuk menyanjung program-program kerjanya supaya semuanya terkesan rapi dan halus kayak kemeja habis disetrika!


















