Tag: 2023

  • Perkara Etika

    Perkara Etika

    Akhir-akhir ini banyak orang bicara etika. 
    Sesuatu yang bagi sebagian orang membingungkan sementara bagi segelintir dipakai untuk membuat orang lain bingung meski dia sendiri juga barangkali kalau ditodong tentang apa dan bagaimana itu etika… ya bingung juga. 

    Beberapa percakapan yang muncul terkait “etika” akhir-akhir ini dalam wujud pernyataan dan pertanyaan kira-kira begini,

    Lho yang penting kan gak melanggar hukum?

    Dimana letak tidak etisnya?
    Kalau dianggap tidak etis bagaimana dengan yang lain?

    Tapi sepertinya tidak ada yang lebih memiliki signature tersendiri ketimbang ucapan jenderal pecatan yang maju untuk kesekian kalinya dalam pemilihan presiden, “Etik?! Ndasmu etik!”

    Aku sendiri sebenarnya tak paham betul tapi nukilan kisah masa laluku di bawah ini barangkali bisa membuatku ingat lagi tentang apa itu etika dan semoga juga buatmu.

    Pada suatu hari minggu di tahun 1984, aku yang saat itu berumur enam tahun diajak bertamu oleh kedua orang tuaku ke rumah kerabat di daerah Manjungan, Klaten.

    Setelah lima menit duduk, istri sang tuan rumah yang kupanggil Budhe dan dipanggil Mbak oleh Bapak dan Ibu menawari kami minum. Aku dibikinkan es setrup rasa jeruk kesukaanku. “Tak gawekke es setrup yo Lik!” ujarnya kepadaku. Aku menelan ludah. membayangkan cuaca panas siang itu yang bakalan lumer digelontor es setrup rasa jeruk manis!

    LIma menit minuman terhidang tapi Bapak dan Ibu tak kunjung menyeruputnya sementara aku semakin haus. Embun yang menetes di sisi luar gelas es strup seolah ngawe-awe (istilah ini beda dengan ‘cawe-cawe’, cari aja artinya di kamus Bahasa Jawa) untuk kuminum.

    Tanpa ba-bi-bu, tanganku mengambil gelas lalu kutenggak begitu saja. Glek… glek… glek… gle… dan pada glek keempat, tangan Ibu meraih gelas itu dan menjauhkannya cepat-cepat. “Saru!” tegurnya dengan suara tertata tapi emosinya kurasa meletup-letup di balik senyum manisnya.

    Ibu segera meminta maaf kepada Pakdhe dan Budhe, “Nyuwun ngapunten, Mas lan Mbak. Donny punika jan saru tenan….”

    Pakdhe dengan senyum nggeleges berujar, “Pun kajenge, Dik Tyas. Lare alit kok hehehe… ngelak yo Lik… ayo dimimik meneh mengko nek entek Budhe ngejok’i meneh…”

    Errr…. Tolong kalian mencari tahu sendiri arti percakapan itu ya, aku tak hendak menerjemahkannya karena takut nuansanya jadi berbeda.

    Sepulang dari situ aku dimarahi habis-habisan dan dianggap sebagai anak yang memalukan!

    “Tapi kan minumannya sudah dihidangkan Budhe? Kenapa gak boleh diminum, Ma?” belaku.

    “Saru! Sebagai tamu, kita harus nunggu Pakdhe memberi aba-aba ‘Monggo diunjuk!’ Selama itu tidak ada, kita tidak elok untuk meminumnya!”

    Ketika kemudian aku bertumbuh semakin dewasa, semakin sadar pula betapa pentingnya ajaran-ajaran seperti itu. Ajaran bukan tentang hitam-putih dan salah benar tapi tentang memper lan pener kalau dalam istilah Jawa.

    Ajaran yang terkadang tak bisa kita temukan dalam perpustakaan-perpustakaan besar tapi ada dalam pustaka cinta yang ditumbuhkan dalam keluarga kita.

    Ada begitu banyak ilmu pengetahuan dan pelajaran di semesta. Kita bisa mengenali bintang di angkasa, kita bisa mencari tahu kapan hujan tiba dengannya. Tapi jika tanpa diletakkan dalam kerangka etika dan moral, syukur-syukur spiritualitas keagamaan, semua pelajaran-pelajaran itu hanya akan jadi pelijaran.

    Apa itu pelijaran? Ah, untuk yang satu ini, kamu cari di kamus bahasa jawa pun tak bisa kau temukan. Tanyakan pada kawanmu yang orang jawa apa arti pelijaran. Tanyakanlah sambil berbisik, kalau keras-keras takutnya kamu akan dibilang, “Woooo! Saru! Tidak etis kata itu disebutkan!”

    Haha…

    Sydney, 6 Februari 2024

    Ilustrasi: Kendra Paramita

  • Tongseng Jamu

    Tongseng Jamu

    Tongseng jamu, sejauh yang kutahu dan kualami adalah hal yang tak asing di kalangan anak-anak De Britto. Dulu, di jamanku, kalau ada acara kumpul-kumpul bareng kawan sekelas entah itu karena menang adu sepakbola dengan kelas lain atau syukuran, makanannya ya tongseng jamu.

    Apa yang ditongseng kok jadi jamu? Daging anjing.
    Rasanya? Enak! Sangat enak! Adakah berkhasiat daging itu maka disebut sebagai jamu? Iya nggak tahu selain bahwa khasiat tertingginya terletak pada rasa nikmat yang hadir apalagi kalau ditambah merica dan irisan cabe!

    Tapi apa semua anak De Britto menyantap tongseng jamu? Tidak! Ada yang memang tidak doyan. Ada yang menganggap bahwa menyantap daging anjing adalah berlawanan dengan prinsip keagamaannya. Ada pula yang tidak menyantap karena alasan bahwa dia memelihara anjing dan tak tega kalau harus menyantap daging dari hewan yang disayanginya itu.

    Alasan terakhir ini pula yang akhirnya pun membuatku berhenti untuk menyantap daging anjing pada 2003. Sejak tahun itu, kedua orang tuaku memelihara anjing, aku jatuh hati pada anjing dan membuat keputusan besar untuk berhenti makan daging anjing sejak saat itu hingga sekarang.

    Tapi ketika memutuskan berhenti makan daging anjing, aku toh tetap menghargai kawan-kawan yang tetap menyantapnya. Aku tidak memaksa apalagi merengek kepada mereka untuk berhenti menyantap karena alasan “Kan kasihan! Coba deh kamu datang ke rumahku dan kamu akan melihat betapa cutenya mereka. Lebih cute dari kamu, Su!” Tidak pula dengan alasan “Jangan makan daging anjing nanti kamu kena rabies loh!”

    Kenapa?
    Karena aku berpandangan bahwa tubuh itu dikelola oleh jiwa sang pemilknya. Tubuhku dikelola jiwaku, tubuh kawanku dikelola kawanku. Aku tak berhak mengatur apa yang tubuh kawanku hendak konsumsi sebagaimana aku juga nggak mau ada kawan yang melarangku makan itu atau ini. Semua harus berasal dari kesadaran diri kecuali kalau memang secara aturan negara menuliskan secara lebih spesifik.

    Jadi misalnya suatu waktu negara melarang warganya untuk makan daging anjing dan babi tanpa terkecuali, kita pun harus menaati. Tapi kalau tidak, mari saling menghormati .

    Akhir-akhir ini, ramai kontroversi terkait munculnya menu tongseng jamu dalam draft poster Manuk Pulang Kandang (MPK), reuni tahunan SMA Kolese de Britto yang akan diadakan 27 Desember 2023 ini.

    Jadi ceritanya ada komunitas penyayang anjing yang keberatan jika dalam acara itu dihidangkan tongseng berbahan baku daging anjing. Bagiku, apa yang mereka lakukan itu tidak salah. Mereka punya hak untuk bersuara dan berkeberatan.

    Tapi adakah respon dari panitia bahwa kemudian menu tongseng jamu dihapuskan dari daftar hidangan adalah jawaban terbaik? Ah, lagi-lagi aku tak berhak menilai.

    Memang, dalam surat edaran, panitia menyatakan bahwa penarikan menu tongseng jamu katanya diputuskan jauh sebelum ada protas-protes itu?

    Jika memang demikian, wahai para panitia yang juga adalah adik-adik angkatanku itu, doakanlah supaya Tuhan memberiku rasa percaya sehingga akupun bisa manggut-manggut tanda percaya bahwa alasannya memang demikian :)

    Sebagai balasannya, aku akan mendoakan supaya tahun depan kalau masih ada MPK dan pihak sekolah masih mengijinkan MPK diadakan di kampus maka tidak ada komunitas penyayang sapi, komunitas penyayang kambing, komunitas penyayang ayam yang protes dan kita semua pun pada akhirnya jadi vegetarian.

    Aku ingin menutup tulisan ini dengan memberi selamat kepada kawan-kawan yang hendak ber-reuni. Reuni ada untuk mengenang masa lalu. Kenanglah masa lalu ketika kita masih bisa dengan gagah memekik semangat “Tidak takut, Tidak malu Tidak malas” karena siapa tahu tiga hal itu benar-benar sudah jadi kenangan karena nyatanya sekarang kadang kita sudah terlalu renta untuk tahan menerima desakan dan tekanan kanan-kiri lalu atas nama “daripada ribut dan daripada tambah musuh ya kan?” trus kita pun menurutinya begitu saja?

    Bagi Tuhan dan bangsaku!

    DV
    Alumni De Britto ’96.

  • Pakdhe…

    Pakdhe…

    Ketika banyak orang memanggil Jokowi sebagai Pakdhe, sebenarnya aku tak setuju tapi aku toh diam saja. Karena kutahu arus yang menginginkan itu lebih banyak daripada yang tidak.

    Kenapa aku tidak setuju?
    Dalam tradisi Jawa, sebutan pakdhe itu berarti bapak gedhe. Gedhe bukan fisik tapi gedhe dalam artian besar, lebih tua, lebih dituakan dari urutan silsilah dan Jokowi secara usia lebih muda dari kedua orang tuaku yang sekarang sudah almarhum.

    Aku dipanggil pakdhe oleh keempat keponakanku, anak-anaknya adikku. Aku memanggil Pakdhe kepada Sudharsono dan almarhum Soetarto, karena Pakdhe Dhar dan Pakde To’ keduanya adalah kakak ipar almarhum bapakku.

    Masalah ketepatan penggunaan kata sandang ini jadi unik sekaligus ribet ketika kita bertemu dengan orang yang ternyata masih ada dalam silsilah keluarga besar kita. Hal ini kerap terjadi saat acara-acara kumpul keluarga besar (dalam tradisi jawa kami menyebutnya sebagai kumpul “trah”).

    Pada satu acara kumpul trah, kalau nggak salah waktu SMA, aku pernah hampir naksir seorang cewek yang juga hadir di acara itu. Taksir-menaksir antar-saudara begini memang banyak terjadi. Tak jarang ada yang sampai menikah, asal gak terlalu dekat kaitannya, gak papa.

    Nah, usia si cewek itu kira-kira sepantaran. Ketika kudekati, dia menyambutnya. 

    “Halo, saya Donny…”
    Kami berjabat tangan lalu dia bilang, “Aku… eh, bentar aku tanya Mamaku dulu ya…”

    Dia pun berlari-lari kecil mencari Mamanya untuk bertanya bagaimana harusnya dia memanggilku dan aku memanggilnya. Dari kejauhan aku lihat dia umak-umik dengan Mamanya yang sesekali meamndangku. Aku tidak kenal siapa Mamanya. Cewek itu berbalik dan bilang, “Oalah… Kamu itu anaknya Mas Didiek ternyata ya? Papamu manggil Mamaku itu bulik… jadi kamu harusnya manggil aku Bulik juga…”

    Tanganku mendingin! Gila masa gue harus naksir sama tante sendiri? Wkwkwkwk!

    Pernah juga suatu waktu, masih di acara keluarga, di depanku ada anak yang usianya kira-kira SMA, waktu itu umurku 23 tahun. Tiba-tiba dia datang, “Om! Minta rokoknya dong, Om!”

    Aku memberinya sebatang. “Stttt.. jangan merokok di sini nanti kamu dimarahi…” Ia kemudian menyingkir, bersamaku, sama-sama ngerokok juga waktu itu.

    Dari situ jadi dekat dan malamnya kami keluar main bareng-bareng. Dia mengajak kawan-kawan sepantarannya dan aku diperkenalkannya sebagai “Om.”

    Sepulang dari situ, tak lama setelah masuk rumah, Budhe memanggilku. “Don… Don… sini…”

    “Ya, Budhe…” sahutku.

    “Aku dilapori katanya Mas Toto baru saja keluar bareng kamu…? Kemana saja? Rokokan ya? Dia kan besok harus kembali sekolah lagi!”

    Aku tertawa, “Hahaha,. lha Dik Totok yang mengajak keluar, Budhe…”

    Budheku kaget setengah mati! “Dik? Kamu panggil dia itu Dik?”

    Aku tak kalah kagetnya. Aku baru ingat dia kan saudaraku sendiri, pasti ada kata sandang yang pas untukkku memanggilnya sebagai apa!

    “Mas Toto… “

    Toto pun keluar dari kamar, “Ya, Dik Her…. ada apa?”

    What? Budheku dipanggil Dik oleh anak ingusan yang minta rokok tadi pagi? Singkat kata mudah ditebak, aku harus memanggil Toto itu sebagai… Pakdhe! Anjirrrr! Telisik punya telisik, ternyata Toto.. eh Pakdhe Toto itu adalah anak bungsu dari kakaknya Eyang yang didapat dari istri mudanya! 

    Dua puluh tahun kemudian, suatu saat aku mendapat pesan di Instagram. Seorang yang tak kukenal menyampaikan demikian, “Halo, Mas? Apakabar?! Masih ingat aku? Aku Toto yang dulu kamu beri rokok!”

    Akupun menyahut, “Oh, Toto si Pakdhe?”

    Kami berdua pun ngakak. Selanjutnya kami sepakat untuk memanggil santai aja, dia memanggilku Mas, dan aku memanggilnya Toto meski kadang kalau isengku keluar ya kupanggil dia Pakdhe sampai dia malu sendiri…

    Jadi, kalau kalian mau panggil Jokowi itu Pakdhe, ya panggil aja bebas!  Kalau aku ada kesempatan mungkin aku akan panggil dia Paklik atau Paman yang artinya kurang lebih sama! Paman Khong Guan!

  • Kenapa akhirnya aku harus berpihak dan bersuara?

    Kenapa akhirnya aku harus berpihak dan bersuara?

    Baiknya aku membuka tulisan ini dengan sebuah pernyataan bahwa dalam putaran pertama Pilpres nanti aku akan mendukung pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD. Kalau mereka kalah, di putaran kedua dukunganku kupindah ke pasangan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar.

    “Lho…lho..lho nggak bahaya ta memilih Anies – Muhaimin?”

    Hidup ini pertaruhan. Lebih baik aku bertaruh untuk masa depan yang meski agak ‘pinggir jurang’ terkait politik identitas yang sering diidentikkan dengan Anies daripada membayangkan pasangan lain berkuasa dan cara mendapatkan kuasanya melalui cara yang tidak etis dimana ada ketua mahkamah keluarga memutuskan kasus yang menguntungkan keponakannya sendiri yang adalah anak presiden yang sedang berkuasa!

    Tapi kan kamu sudah tinggal di Australia?

    Ada yang tanya gitu, “Kan kamu sudah di Australia? Apa pengaruhnya untuk bicara?”, “Gak pengaruh ke gaji kita anyway” atau…”Udah lah mending share link bokep aja, Mas!”

    Betul, hidupku tak terpengaruh pada siapapun yang berkuasa karena aku tinggal di Australia. Tapi aku juga tak bisa membiarkan hal-hal yang melawan prinsipku terjadi. Aku tidak bisa bersikap apatis. Bagiku memiilih sikap diam dan membiarkan yang tidak kita inginkan berkuasa itu sama saja dengan kita sedang berinvestasi keburukan di masa nanti!

    Secara garis besar, ada dua alasan kenapa aku harus bicara.

    Pertama, aku kecewa pada Jokowi.
    Kupikir orang yang kupilih dan kubela di dua pemilihan sebelumnya adalah orang yang jadi antitesisnya Soeharto. Kupikir Jokowi adalah representasi bahwa hantu nepotisme yang berkelindan selama tiga puluh dua tahun di masa Orde Baru sudah runtuh dan setiap orang, seperti halnya Jokowi, berhak untuk bermimpi dan menjadi siapapun selama ia punya kapasitas, kapabilitas dan elektabilitasnya bagus. Tapi nyatanya, tidak kan?

    Kedua, karena aku peduli!
    Bukan peduli pada siapa yang akan jadi di pilpres nanti tapi peduli pada kawan-kawan yang masih belum tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi dan kawan-kawan yang sudah tahu tapi memilih diam. Harapanku ketika bersuara, hal itu membuat mereka yang belum tahu jadi mencari tahu lalu mengambil sikap. Sikap yang diambil nggak harus sama tapi setidaknya mereka tidak acuh pada kenyataan yang terjadi. Sementara bagi yang sudah tahu tapi diam semoga jadi tidak diam! Kalaupun suaraku justru membuatnya makin antipati dan bahkan harus berpaling dariku ya nggak papa itu resiko.

    Kehilangan teman?

    Melanjutkan kalimat di atas, kalau pada akhirnya cara bicaraku malah membuat ada yang memunggungiku lalu pergi, aku siap kehilangan teman dan ini sudah terjadi.

    Ada seorang aktivis yang kukenal baik dan dekat sejak akhir dekade 2000-2010an. Minggu lalu memutuskan tali pertemanan karena tersinggung pada yang kubicarakan. Dianggapnya aku tak menghargai sikapnya tapi bagiku dialah yang sudah lebih dulu tak berharga karena memilih tunduk dan membutakan mata hatinya.

    Ya nggak papa. Lebih baik bagiku kehilangan teman daripada kehilangan akal untuk bersuara yang kuanggap benar. Lagipula, bagiku teman yang baik bukan hanya mereka yang bersikap baik dan selalu setuju dengan sikapku. Teman baik juga adalah orang yang tahu kapan saatnya menghentikan pertemanan itu sendiri, bukan?

  • Lima belas tahun meninggalkan Indonesia: menjadi manusia yang lebih baik lagi

    Lima belas tahun meninggalkan Indonesia: menjadi manusia yang lebih baik lagi

    Hari ini, lima belas tahun lalu adalah hari terakhirku tinggal di Indonesia. Diantar almh. Mama dan almh. Tante In (aku memanggilnya Mbak In), aku dan Joyce berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, transit di Bali untuk kemudian terbang ke Sydney, Australia menetap hingga sekarang dan barangkali untuk selama hayat dikandung badan.

    Aku ingat dalam tulisan terakhir yang kubuat sehari sebelumnya, di blog ini, aku menulis begini,

    Percayalah, jangankan kalian, akupun tak tahu secara tepat dan pasti kecuali satu hal yang kusebutkan di atas tadi: menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih baik lagi. Aku melihat sinar dan aku menuju ke sana! Selamat tinggal, Indonesia! (Akhir Pergumulan Tentang Kepergianku, 29/10/2008)

    Waktu itu, apa yang kutulis adalah apa yang sejatinya memang benar-benar kurasakan!

    Penganten baru, tanpa pekerjaan. Memang aku membawa uang tapi habis tandas dalam dua bulan saja. 

    Terlalu percaya diri? Tidak! Lebih tepatnya, aku percaya Tuhan! Peganganku waktu itu hanya satu, hidup untuk keluargaku karena itu adalah janjiku kepadaNya di depan altar ketika menikah beberapa hari sebelum kepindahanku ke Sydney.

    Lima belas tahun berlalu, aku terus berusaha menepati janjiku dan nyatanya janji Tuhan pun selalu penuh terhadapku.

    Hidup di Sydney bukannya tanpa hambatan. Yang namanya masalah selalu muncul di setiap waktu. Yang namanya jatuh-bangun menghiasi hari-minggu, bulan dan tahun demi tahun yang kulewati. Tapi penyertaan Tuhan adalah tiada henti. KasihNya bertubi-tubi dan meyakinkanku Ia selalu akan ada di sini, di hati ini dan di keluarga ini sampai nanti, sampai mati.

    Semakin hari aku semakin membuktikan bahwa hidup ini adalah menuju kebaikan yang lebih dan lebih hingga suatu waktu ketika kita menengok ke belakang, semuanya membentuk sebuah simfoni terbaik yang Tuhan beri.

    Pagi tadi sebelum mulai kerja, aku membuka kotak di lemari bajuku. Di dalamnya tersimpan rapi: celana, sepatu, topi, kaos, ikat pinggang, jam tangan serta tiket bagasi pesawat yang kupakai lima belas tahun lalu untuk meninggalkan Indonesia menuju Australia.

    Mengenakannya seharian sebagai wujud syukur sekaligus sarana mengenang apa yang aku putuskan lima belas tahun lalu, yang kemudian kujalani: menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi!

  • Mereka hebat karena bapaknya lurah, Le!

    Mereka hebat karena bapaknya lurah, Le!

    Kadang semua itu jadi salah kaprah kalau kita memandangnya dari sisi yang salah.

    Steve Jobs, Bill Gates dan Mark Zuckerberg. Ketiganya pemuda putus kuliah dan ketiganya sosok besar dalam sejarah IT dunia. Steve berjasa memulai Apple Inc, Bill Gates membangun Microsoft dan Mark berjasa memulai Facebook di era 2000an. Kenapa mereka sukses? Karena mereka cerdas! Bukan karena mereka DO dari kuliah. 

    Namun sayangnya, ada banyak orang mengambil cara pandang sebaliknya, bahwa karena mereka tidak lulus kuliah itulah yang membuat mereka sukses!  Dulu aku pernah berpikir sepicik itu juga. Untunglah sebelum akhirnya pindah ke Australia, aku insap dan bertekad menyelesaikan kuliah S1-ku. Di hari wisuda aku jadi satu dari yang paling tua. Nggak papa setidaknya aku setia pada proses.

    Hari-hari ini aku jadi ketar-ketir bagaimana anak-anak muda akan menaruh sudut pandang melihat fenomena yang terjadi belakangan.

    Anak Bungsu Pak Lurah tiga hari untuk masuk partai tiba-tiba langsung jadi ketuanya! Stempel di kartunya pun bahkan belum kering tapi dia sudah nangkring di pucuk pimpinan mengalahkan yang lain yang barangkali sudah berproses hingga tahunan!

    Anak Pak Lurah yang satunya lebih serem lagi! Ditunjuk jadi bacawapres padahal umurnya belum mencukupi! Untung punya paman yang dengan ketokan palunya bisa jadi juru ketok mejik aturan… Alhasil dia pun jadi bacawapresnya membuat orang-orang lain yang selama ini sudah gede kepala karena kepalanya bakal tampak di kartu suara pun ngaplo alias ndlongop alias plonga-plongo!

    Kenapa kedua anak pak lurah itu sukses?
    Karena keren? Belum tentu karena siapa bisa membuktikan kalau semua diputuskan dengan grusa-grusu, kesusu! Mereka sukses karena bapaknya Lurah dan orang-orang di sekitarnya ingin mendapatkan restu dari Lurah dengan cara mengangkat mereka.

    Jadi, sebelum banting stir untuk terjun ke politik atau dunia apapun di masa depan nanti, tepang awak dulu! Ndelok githok dulu!

    Ambil kaca dan katakan pada sosok yang ada di dalam kaca itu bahwa meskipun kamu cerdas, meskipun kamu memikat dan tatap matamu teduh tapi kalau bapakmu bukan siapa-siapa dan pamanmu juga tidak punya kuasa, jangan mimpi bisa jadi seinstan mereka!

    Kamu juga sebenarnya gak harus jadi pemimpin kalau memang gak ada garis tangan ke situ. Tekun saja dalam berproses sambil terus mengutamakan etika juga norma nanti Tuhan akan bekerja dengan caranya sendiri.

    Ketika akhirnya kamu memang digariskan jadi pemimpin, jangan takabur!  Jangan jadi kacang lupa kulitnya. Jangan jadi penis yang lupa pada kulup yang pernah melindunginya. Ingatlah jalan yang kamu tapaki sejauh ini karena itu akan jadi jalan terbaik untukmu lengser nanti.

    Jangan lompat, jangan menginjak kepala-kepala yang selama ini menyanggamu. Jangan pula jadi malas turun karena keenakan di atas karena dijatuhkan itu ndak enak, Le. Nek ra ngandel tanya saja pada orang-orang di Cendana itu…

  • Kaos “Kutus-Kutus”

    Kaos “Kutus-Kutus”

    Almarhumah Eyang buyutku, Mbah Yut (Simbah Buyut), begitu aku memanggilnya, selalu minta dituangkan minyak oles ke piring kecil setiap malam lalu dibawanya ke kamar. Sempat penasaran untuk apa, akhirnya sekali waktu aku pernah mengintip ke kamarnya yang hanya dipisahkan dengan papan ‘harbot’ dan ternyata minyak itu dioleskannya ke perut, punggung dan kaki sebelum tidur.

    Eyang Putri, anaknya Simbah, yang kupanggil Ibu dan sekarang tinggal di Bekasi, punya kebiasaan yang lebih ‘parah’ lagi. Seingatku hampir setiap hari ia minta dikerok punggungnya. Masuk angin atau tidak, ia selalu mengawali malam dengan berseloroh, “Awakku kok ra penak yo… mbok tulung dikeroki…”

    Almarhumah Mamaku sebelas dua belas. Gak perlu berseloroh, cukup bersendawa lalu mengambil uang logam dan minyak untuk kerokan menjelang tidur.

    Sementara aku? Umur baru 46 tahun tapi sudah sampai pada tingkat sugesti bahwa kalau belum mengolesi bagian tubuh tertentu dengan Minyak Kutus-Kutus rasanya belum afdol untuk tidur! Setidaknya kuoleskan ke telapak kaki. Kalau dengkulku sakit karena kebanyakan jalan kaki (sehari aku jalan setidaknya 10 ribu langkah) ya kuoleskan juga ke bagian itu. Kalau pas latihan beban trus merasa persendian atau ototnya gak enak, diolesin juga. Sesudahnya tidur dan konon memang lebih pulas jadinya.

    Saking pentingnya Minyak Kutus-Kutus, bahkan kepada Kadri Mohammad, vokalis Makara Band dan seorang lawyer hebat di Tanah Air, ketika beliau berkunjung kemari aku bilang, “Mas, nitip Minyak Kutus-Kutus dong!” Dan iapun membawakannya untukku, dua botol jumlahnya hahaha…

    Ada kawan bilang itu efek placebo saja. Ya benar juga barangkali karena ketika sudah terlalu ngantuk, ketiduran dan lupa mengoleskan minyak kutus-kutus toh aku ok-ok saja, bangun dengan segar di pagi harinya. Tapi malamnya  begitu lagi-begitu lagi! Kutus-kutus lagi! Kutus-kutus lagi!

    Tapi kadang penasaran juga kenapa aku suka minyak ini? Selain khasiatnya, selain karena pemilik usahanya adalah kakak angkatan (cukup jauh) di SMA Kolese De Britto juga karena aromanya. Aroma Kutus-Kutus bikin nagih! Gak bikin eneg dan bau mentol seperti minyak angin kebanyakan.

    Tapi meski alami, karena terlalu sering mengoleskan maka aroma sprei dan kaos tidur pun ikut bau kutus-kutus.

    Ngomong-ngomong soal kaos? Ya ini kaos GudegNet :) Kaos tidurku…

    Kaos ini punya makna bagiku. GudegNet adalah situs web tentang kota Jogja yang bersama kawan-kawan kudirikan pada 24 Februari 2000. Aku berada di sana hingga 2008 lalu pindah ke Sydney, Australia. 

    Ketika liburan ke Jogja pada Maret 2015, Iwan Santoso, kawan dekatku waktu TK dan SMA serta sesama pendiri GudegNet memberiku kaos ini. “Buat kenang-kenangan,” katanya.

    “Mesti bayar berapa?” tanyaku setengah bercanda.

    “Gratis ra sah mbayar tapi syarate kudu mbok enggo neng Ostrali!” ujarnya.

    Dua bulan sesudahnya Iwan meninggal dunia mendadak dan hingga kini aku menuruti permintaan terakhirnya itu, mengenakan kaos itu meski hanya sebagai kaos tidurku yang makin lama makin harum karena bau minyak kutus-kutus…

  • Sunset Politik yang gak terlalu asik bagi Jokowi

    Sunset Politik yang gak terlalu asik bagi Jokowi

    Dulu aku pernah bingung kenapa banyak kawan suka sekali menikmati sunset apalagi di pantai? Bukankah itu peristiwa alami? Lama kemudian aku baru sadar bahwa sunset itu perlu dinikmati sebagai perayaan bahwa matahari telah sukses bersinar seharian dan sunset terindah adalah sunset nir-awan. Sunset yang menampakkan matahari hingga ia tenggelam dan menjingga di peraduan perlahan-lahan.

    Gonjang-ganjing politik beberapa pekan ini yang membawa-bawa nama Jokowi menurutku adalah sunset yang tak terlalu indah bagi “karir politik” nya. Sembilan tahun karya-karya besarnya yang harusnya bisa kita kenang dengan tenang harus melalui sebuah turbulensi politik.

    Adalah benar bahwa akan susah bagi kita untuk membuktikan adanya campur tangan Jokowi dalam lahirnya keputusan Mahkamah Konstitusi tentang batasan umur orang yang bisa dijadikan capres/cawapres senin lalu. Tapi di sisi lain susah juga untuk menghindari hadirnya begitu banyak percakapan di media tentang kontroversi tersebut.

    Oh jangan-jangan memang ada campur tangan, kan beliau pernah bilang di muka publik akan cawe-cawe urusan pilpres?

    Oh jangan-jangan itu adalah jalan untuk memberi karpet merah bagi anaknya Gibran Rakabuming maju jadi cawapres?

    Atau.. oh tuntutan yang disetujui diajukan oleh Almas Tsaiqibbiru, pengagum Gibran, anaknya Jokowi dan tahukah kamu, Almas itu anak Boyamin Salman, Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI).

    Dan yang paling menohok, nan tak bisa dihindarkan, ketua MK, Anwar Usman adalah adik ipar Presiden Jokowi setelah ia menikahi Idayati tahun 2022 silam. Othak-athik… gathuk, kata orang Jawa.

    Yang lebih memprihatinkan lagi, sunset yang tak asik ini menjadikan Jokowi dipunggungi oleh sebagian kalangan yang dulu adalah pendukung garis kerasnya. Ditambah lagi dengan pandainya PDI-P dan koalisi membaca momentum.

    Saat percakapan tentang keputusan MK sedang tinggi-tingginya, saat sebagian orang begitu marah dan kecewa, partai banteng moncong putih, PDI-P, yang sekaligus adalah rumah bagi Jokowi dan Gibran itu mengumumkan calon wakil presiden bagi capres Ganjar Pranowo, Mahfud MD. Jokowi yang sedang dinas ke luar negeri tentu tak bisa hadir dan Gibran pun tak diundang.

    Mengenai hal ini aku jadi ingat tentang apa yang dikatakan kawan politikus baru-baru ini.

    Konon di lingkungan internal PDI-P, ada orang bertanya pada Bu Mega,

    “Bu, sampai kapan Ibu membiarkan Pak Jokowi berdansa politik?”
    Bu Mega menjawab, “Sampai musiknya habis..”
    “Kapan?” tanya orang itu lagi.
    “Sampai saya mengumumkan cawapres…”

    Dansa politik Jokowi, setidaknya di rumahnya sendiri, memang terhenti di situ.

    Jokowi masih punya waktu untuk menyelesaikan masa jabatannya lebih baik lagi terlepas dari gonjang-ganjing ini. Yang jadi masalah, perhatian orang mungkin tak bisa lagi mengamati kinerjanya karena sejak saat ini hingga setidaknya pertengahan tahun depan warga akan lebih fokus mengikuti jalannya Pemilu.

    Tulisan ini bukan untuk mengesampingkan prestasi emas Jokowi dalam sembilan tahun terakhir. Bagiku, Jokowi tetap satu dari yang terbaik yang pernah dimiliki Negeri. Catatan ini lebih tentang gerutu orang yang dulu pernah membelanya. Bahwa sebenarnya semua yang moncer-moncer ini seharusnya bisa diakhiri dengan indah seperti kata kawanku Pongki Barata lewat lagunya, “Akhiri dengan indah”, 

    Ketika selamanya pun harus berakhir, akhirilah ini dengan indah…

    Semoga sunset kalian sore ini baik-baik saja…

  • Tentang Jogja (31): Hari terakhir sebagai orang Jogja

    Tentang Jogja (31): Hari terakhir sebagai orang Jogja

    Hari ini, 30 September 2023, adalah hari yang begitu berarti! Lima belas tahun yang lalu adalah hari terakhirku tinggal di Jogja setelah lima belas tahun tinggal di dalamnya. Aku pindah dari Kebumen ke Jogja sejak 15 Juli 1993. Aku keluar dari Jogja pada 30 September 2008 untuk sebulan di Jakarta lalu pindah ke Sydney.

    Hari itu adalah H-1 sebelum Lebaran. Seperti biasa, setelah bangun pagi di kamar kost, aku segera gosok gigi dan pergi ke Novotel Hotel untuk berolahraga lalu mandi. Yang luar biasa, karena itu hari terakhirku di Jogja, aku akan berpamitan dengan kawan-kawanku yang selalu berolahraga bersama juga resepsionis dan para trainer yang sudah menjadi kawan akrabku dalam beberapa tahun belakangan.

    Barang-barang di kamar kost sudah kumasukkan kembali ke koper. Peralatan mandi sudah kubuang. Spring bed sudah kutegakkan siap untuk diangkut ke Klaten. Aku sudah booking mobil dengan bak terbuka untuk membawa barang-barang itu ke Klaten siang itu.

    Setelah selesai olahraga dan pamitan inginku pergi ke Lotek Colombo tapi sudah barang tentu tutup lagi-lagi karena jelang Lebaran. Satu-satunya pilihan yang masuk dalam list ‘makanan enak’ dan masih buka ya rumah makan khas batak milik Om Ucok di Condong Catur.

    Setelah makan siang, sekitar jam 2, aku ditelpon oleh sopir mobil yang akan mengantarkan barang-barangku ke Klaten. Aku bergegas balik ke kost. Perjalanan dari Condong Catur ke kost di Jl Ampel yang biasanya makan waktu lama, kali itu, karena lebih lama lagi karena sekujur Jl Gejayan (Jl Affandi) padat merayap!

    Sesampainya di kost, mobil sudah bersiap di depan. Aku segera menginstruksikan sopir untuk mengambil barang-barang dan mengangkutnya ke bak mobil.

    “Mas Donny sekalian ke Klaten, kan?” tanya sopir.

    “Enggak! Aku mau jalan-jalan dulu. Di rumah udah ada adik dan Papa Mamaku! Nanti tolong diturunin sekalian ya?” Aku mengulurkan uang sebanyak yang ia minta. Setelah mobil pergi, aku mengetuk pintu kamar pemilik kost untuk pamitan.

    “Wah, Mas Donny udah siap hari ini ya pindahannnya?” ujar Si Cicik pemilik kost.

    “Iya, Cik! Hmmmm… makasih banyak ya. Maaf kalau aku gak pernah ada di kost. Maaf kalau aku selalu datang malam trus paginya udah pergi lagi…”

    “Oh nggak papa, Mas… kita tahu kok…”

    “Ya wes, aku pamit dulu Cik! Tuhan berkati ya…”

    “Iya, Mas Donny! Selamat jalan…” Kunci kamar kuserahkan kembali dan sejak saat itu sejatinya aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi di Jogja :)

    Menjelang sore, aku mengendarai sepeda motor berkeliling Jogja. Ketika aku menulis berkeliling itu memang literally berkeliling. Aku tak punya tujuan! Tujuanku berkeliling mengitari kota yang begitu sangat kucintai dan memberikan arti bagiku. Ulasan kenangan demi kenangan keluar tanpa permisi setiap melewati sudut demi sudut kota. Ada rasa sedih yang teramat sangat bercampur aduk dengan rasa lega yang menyeruak menandai akhir dari satu masa dalam hidupku untuk kemudian membuka masa yang baru.

    Menjelang lindapnya sang mentari ke ufuk barat, aku mencoba menelpon dua orang yang dalam tahun-tahun terakhirku begitu dekat denganku, Martho dan Viktor. Inginku ngopi dengan mereka sekalian pamitan.

    Berkali-kali aku menelpon Martho tidak diangkat. Pesan terkirim, tidak dibalas.

    Berkali-kali aku menelpon Viktor pun demikian. Pesan terkirim, sempat tidak dibalas hingga akhirnya menjelang jam tujuh malam ia membalas, “Ya, Mas! Piye?”

    “Ngopi!” balasku singkat.
    “Mangkat!” jawabnya.

    Kami bertemu di sebuah kedai kopi di sekitar Selokan Mataram. Barangkali kedai itu adalah sedikit dari yang masih buka mengingat malam itu adalah malam takbiran.

    Bertemu dengan Viktor (dan juga Marto) itu selalu menyenangkan. Selalu ada diskusi ngayawara, antah-berantah yang kadang berakhir dengan kami saling diam sekian lama karena tak juga menemui kata setuju pada topik yang dibicarakan!

    Tapi malam itu kami lebih banyak membiarkan suasana lengang menguasai pertemuan.

    “Piye perasaanmu, Mas?” tanya Viktor.

    “Ya sedih, Tor! Lima belas tahun jhe…” balasku.

    “Tapi kan besok ketemu Mbak Joyce di Jakarta trus merit trus pindah Sydney…”

    Aku hanya mengangguk…
    Menjelang jam 9, kedai sudah hendak tutup kami pun bergegas.

    Berjalan beriringan ke arah parkiran, Viktor berujar, “Mas, sorry banget aku gak bisa nemenin kamu naik motor sampai Klaten karena aku harus kembaliin motor ke temanku jhe…”

    “Iya Tor! Nggak papa! Aku malah yang makasih banget udah mau jadi sahabatku selama ini dan malam ini kamu adalah orang terakhir yang kutemui untuk nongkrong bareng di Jogja!”

    Aku menjabat tangan Viktor erat dan memeluknya cukup lama. Ia mengiringiku hingga ke perempatan Condong Catur. Di perempatan lampu merah, dia membuka kaca helm, “Ati-ati yo, Mas!”

    Aku hanya mengangguk tak sanggup membalas kata dengan kata. Lampu hijau menyala. Viktor berlalu lurus ke arah Condong Catur, aku belok ke arah kanan menuju ringroad lanjut ke Maguwo, belok ke kiri langsung ke Klaten.

    Sepanjang perjalanan, perasaanku tersayat-sayat. Meski sejatinya aku sudah cukup lama mempersiapkan hari itu sejak aku tak mau lagi mendengarkan Yogyakarta-nya KLa Project untuk sementara waktu tapi tetap saja nyatanya lebur berkeping-keping.

    Sampai di rumah Klaten, Papa membukakan pintu.

    “Kok nganti wengi, Le?”
    “He eh.. macet takbiran, Pa…”

    Rumah sudah sangat sepi karena Mama, Chitra dan Eyang sudah tidur. Hanya suara radio yang menyiarkan pagelaran wayang kulit tedengar lamat-lamat dari kamar Eyang.

    “Pa…”
    “Hmm?”
    “Aku wes dudu wong Jogja meneh. Nuwun ya wes nyekolahke aku neng Jogja…”

    Papa hanya tersenyum sambil menghisap rokok dalam-dalam….

    *Tentang Jogja adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Tentang Jogja (30): Dari Ampel menuju Ampel

    Tentang Jogja (30): Dari Ampel menuju Ampel

    Lima belas tahun tinggal di Jogja, aku memulai dan mengakhirinya di Jalan Ampel, Papringan, Catur Tunggal, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Wisma Ampel 2 yang terletak di Jl Ampel No.2 adalah tempat tinggal pertamaku selama tiga tahun sejak Juli 1993. (Simak tulisanku tentang Wisma Ampel 2 di sini).

    Wisma Ampel 2

    Sebuah kamar kost di dalam bangunan yang letaknya di Jl Ampel No.16 adalah tempat tinggal selama enam bulan terakhirku hingga September 2008.

    Jl Ampel No. 16

    Ketika masuk Wisma Ampel 2, keputusan itu bukan lahir dariku. Lebih karena Mama dan Papa percaya bahwa anak sebadung aku akan lebih baik jika tinggal di asrama. Ketika aku memilih Jl Ampel No. sejatinya pun bukan kehendakku. Lho kok bisa?

    Begini…
    Sejak mendirikan Citraweb, tahun 2000, aku praktis gak pernah menyewa kamar kost karena selalu menggunakan salah satu  ruang di kantor untuk kutempati (dan almarhum Iwan biasanya juga mengambil satu ruang untuk kamarnya sendiri).

    Tapi ketika akhirnya Citraweb membangun kantor sendiri di Jl Petung No. 31, 2007, kami di board of directors sepakat untuk tidak lagi tidur di kantor. Kami mulai mencoba membangun keseimbangan hidup lebih baik, waktunya ngantor ya ke kantor, waktunya pulang ya ke rumah.

    Valens dan Riza waktu itu sudah punya rumah sendiri, pun mereka sudah menikah. Iwan yang belum menikah sedang berpikir membeli rumah sementara aku… gamang.

    Gamang karena pada waktu itu aku mulai berpikir untuk meninggalkan Citraweb. Belum sepenuhnya bulat karena aku harus menyelesaikan kuliah yang terbengkalai dan Joyce masih perlu membenahi “hal yang perlu dibenahi.” Dalam masa penantian itu aku memutuskan untuk tidak membeli rumah terlebih dahulu.

    Pada awal 2008, ketika aku akhirnya membuat keputusan akan meninggalkan Citraweb dan Jogja, bangunan kantor sudah hampir jadi. Kami pindah kantor baru di bulan Maret 2008 sementara sesuai perhitungan, aku baru akan mengajukan surat pengunduran diri secara resmi pada Juni supaya bisa keluar di bulan September 2008.

    Kenapa September? Karena aku masih harus menyelesaikan skripsi lalu wisuda di bulan yang sama selanjutnya ke Jakarta untuk menikah pada Oktober 2008 dan pergi ke Sydney.

    Artinya, ada tenggat waktu enam bulan dimana aku tidak punya tempat untuk tinggal. Sempat berpikir untuk bolak-balik Klaten tapi setelah kuuji coba, bagiku itu tidak efisien. Dalam sehari aku harus bolak-balik ke kantor, ke kampus AKAKOM (sekarang UTDI) belum lagi kalau harus ke rumah dosen untuk bimbingan skripsi dan yang paling penting, aku tahu masa hidupku di Jogja sudah akan berakhir! Aku ingin benar-benar menikmati saat-saat itu. Kalau harus bolak-balik Klaten, setidaknya aku harus meluangkan waktu sekitar 1.5 jam hanya untuk pulang-perginya!

    Ya sudah! Akhirnya aku harus cari kamar kost! Adalah Dave, kawan sepersekutuanku di Persekutuan Doa Rhema yang menawarkanku untuk menyewa kamar kost di sebelahnya di Jl Ampel No 16.

    Bangunan kost itu sebenarnya tidak asing lagi. Dulu waktu masih SMA dan tinggal di Wisma Ampel 2, beberapa kali aku beli makan di warung yang letaknya ada di sisi depan bangunan kost. Yang kuingat, pemiliknya adalah seorang tante-tante yang lumayan sepuh dan masakannya adalah masakan indo-chinesse food.

    Sore itu, ditemani Dave, aku datang untuk menyewa kamar kost. Yang mengelola rupanya adalah anak dan menantu dari si tante yang menjual masakan waktu itu. Umur mereka kutaksir sekitar lima tahun di atasku.

    “Oh, Mas Donny dulu sering makan di sini juga?” tanya mereka setelah percakapan kubuka.

    “Iya waktu SMA. Tapi nggak sering kok, Cik. Beberapa kali aja waktu aku masih di asrama..”

    Akupun menjelaskan niatanku menyewa kamar hanya untuk enam bulan karena hendak pindah ke Sydney. Aku lupa berapa yang harus kubayar setiap bulan.

    “Oh ya , Koh dan Cik, saya juga bakalan jarang pake kamar kost ini soalnya lagi sibuk banget buat selesaiin skripsi, nyiapin pindah dan tetap harus bekerja. Jadi kalau saya ngilang, jangan khawatir saya pasti kembali hehehe….”

    Dan kenyataannya memang begitu. Aku nggak pernah tinggal lebih lama di kamar kost seluas 4×5 meter itu lebih dari satu jam sejak aku membuka mata di pagi hari dan menutup mata di malam hari.

    Koper yang kubawa masuk sejak Maret 2008 pun hingga keluar di bulan September 2008 tak sepenuhnya kubuka dan kupindahkan isinya ke lemari.

    Kamar mandi, seingatku juga tak pernah kupakai. Hanya untuk gosok gigi karena aku selalu mandi setelah olahraga di fitness centre Novotel Hotel setiap pagi dan malamnya.

    Tetangga kamar yang kutahu ya hanya Dave. Selebihnya aku tidak tahu dan tidak ingin tahu. Entah, mungkin karena aku merasa kost-kostan itu hanya rumah singgah sementara untuk apa membuka pertemanan baru, kan? Ribet!

    Interaksiku dengan pemilik kost pun hanya ketika mengantar pakaian kotor untuk dilaundry., Itupun kebanyakan hanya kuserahkan pada ART yang tiap hari hanya menjawab, “Taruh di situ aja Mas nanti kuambil!”

    Sama seperti pengalaman awal tinggal di Wisma Ampel 2, lima belas tahun sebelumnya, hatiku sejatinya tidak pernah ada di kost terakhir itu. Aku hanya singgah, menghitung hari untuk selanjutnya pergi…

    *Tentang Jogja adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Tentang Jogja (29): Meninggalkan Citraweb Nusa Infomedia

    Tentang Jogja (29): Meninggalkan Citraweb Nusa Infomedia

    Jumat, 26 September 2008 adalah hari dimana aku belajar lebih jauh tentang makna ikhlas dan meninggalkan.

    Setelah delapan tahun lebih membidani dan membesarkan, hari itu adalah hari terakhirku bekerja di CV Citraweb Nusa Infomedia. Aku memutuskan pindah ke Sydney, Australia untuk memulai keluarga baru dan petualangan hidup yang sudah barang tentu baru pula. 

    Keputusan itu tidak lahir dalam kurun waktu seharlam. Secara resmi, pernyataan pengunduran diri sudah kuajukan sejak tiga bulan sebelumnya kepada kawan-kawan di board of directors. Secara tidak resminya, pikiran untuk meninggalkan Citraweb sebenarnya sudah terbesit bahkan sejak beberapa tahun sebelumnya, sejak aku mulai mengkontemplasikan kira-kira akan seperti apa sih diriku dalam laju perusahaan itu pada tahun-tahun ke depan? Juga tentang siapa, kapan dan bagaimana aku hendak mulai berkeluarga karena umurku yang semakin tidak muda. Penggalan tentang ini adalah hal yang sebelumnya tidak pernah kuungkap.

    Karena aku tahu akan tidak mudah, hari itu sudah kupersiapkan untuk kujalani sebiasa mungkin seperti hari-hari sebelumnya.

    Pagi bangun tidur sekitar jam sepuluh di kamar kost, aku langsung ke kamar mandi hanya untuk gosok gigi, mengambil tas gym lalu pergi naik motor ke Novotel Hotel, tempat aku jadi member untuk fitness centre-nya. Di sana aku nge-gym sekitar dua jam lalu mandi. Makan siang di Lotek Colombo yang sangat kusuka itu lalu datang ke kantor saat jam makan siang. Aku mengenakan polo shirt Citraweb.

    Ketika masuk ke ruang tim web development yang letaknya di lantai atas, sambutan para anak buah sudah berbeda dari biasanya. Biasanya mereka meledekku, “Pagi Mas.. eh sudah siang, Mas” lalu aku biasanya misuh bercanda “Asu!” siang itu… kaku. Tetap penuh senyum tapi guratan alis yang datar tak bisa disembunyikan dari mereka. Aku langsung masuk ke ruang kerja dan menutup pintu.

    Tak sampai lima menit, Sari, front officer menelponku lewat intercomm, “Mas, udah sampai? Kalau udah longgar bisa ke ruangnya Pak Iwan?” Iwan yang dimaksud adalah Iwan Santoso. Direktur Keuangan yang sudah ada di perusahaan sejak hari pertama kami berdiri, 7 Februari 2000. 

    Iwan bukanlah orang lain bagiku.
    Kami bertetangga sejak di Klaten. Mamanya, Tante Mi’Ing adalah kawan dekat Mamaku. Waktu Mama meninggal pada 7 Maret 2016, Tante Mi’ing lah yang merias wajah jenasah Mama. Aku bersekolah di TK yang sama dengan Iwan, TK Maria Assumpta Klaten. Waktu aku pernah sekali terjatuh di sekolah dan kepalaku berdarah, Tante Mi’Ing memboncengkanku naik Vespanya bersama Iwan. Aku berdiri di depan dipeluknya dan Iwan duduk di belakang memeluk mamanya. Aku bertemu lagi dengan Iwan di SMA Kolese De Britto pada tahun 1993. Dia kakak kelasku dua tahun dan kamipun pernah tinggal di satu asrama, Asrama Ampel 2 Yogyakarta. Sejak Citraweb berdiri, aku dan Iwan tinggal di kantor sejak masih berlokasi di Jl Kemuning, Baciro hingga ke Jl Ampel 10 dan Jl Ampel 5.

    10 Mei 2015, Iwan Santoso yang pola hidupnya menurutku dan diamini kawan-kawan lain termasuk yang paling sehat di Citraweb itu meninggal dunia karena serangan jantung saat bermain sepakbola bersama kawan-kawannya di lapangan sepakbola SMA Kolese De Britto. Aku begitu kehilangan! Obituari tentang Iwan kutulis di blogku.

    Ok, kembali ke alur cerita tulisan ini ya…

    Aku masuk ke ruangan Iwan. “Piye, Wan?”
    Dia mengajakku duduk lalu berdikusi. Tak terlalu panjang lalu diakhiri dengan beberapa hal yang sifatnya personal. “Piye? Wes siap dadi Wong Ostrali kowe?” Iwan nyengir seperti biasa.

    Tiba-tiba mataku sebak berkaca. Bibirku bergetar ketika orang yang kukenal sejak kecil dan tetap ada hingga saat itu dalam satu kantor bertanya hal yang kesannya gak penting tapi sangat mengena. “Yo, siap, Wan! Dongamu yo…” balasku singkat dengan bibir tergetar.

    “Yo wes! Selamat menempuh hidup baru neng Sydney yo! Aku bakal teko karo cah-cah neng nikahanmu neng Jakarta sasi ngarep!” Iwan menjabat tanganku begitu erat, kami berpelukan lalu aku keluar dari ruangannya.

    Kembali ke ruang kerja, tak seberapa lama kemudian, sekitar pukul 3 sore, Ria Utami, manajer pemasaran di timku mengetuk pintu lalu kupersilakan masuk.

    “Mas Donny… boleh kami masuk bareng-bareng?”

    “Silakan, Ri… silakan! Ayo masuk semua…” Aku tahu inilah saatnya. Hati kukukuhkan.

    “Mas, kami menyiapkan bingkisan perpisahan untuk Mas Donny lho! Semoga bisa jadi kenang-kenangan saat nanti sudah jadi orang Australia…”

    Di depan mereka, aku membuka bingkisan itu.

    Sebuah kaos, jam dinding dan gelas semuanya hadir dalam design yang sama. Sebuah karikatur yang digambar Ardian Sukmaji, web designer. Dalam karikatur itu aku digambarkan sebagai orang yang duduk di toilet sambil baca koran sementara di latar belakang ada gambar beberapa tempat monumental di Indonesia. Mereka tahu betul, hobiku memang nongkrong di toilet berjam-jam sambil membaca koran setiap pagi dan siang, sore dan malam.

    “Makasih banget ya cah! Iki bermakna banget. Pokoknya kalian tetap kerja yang bener. Makasih banget…“ Aku sengaja menjaga semuanya seformal mungkin supaya kaca di mata tidak pecah, air di pelupuk tidak tumpah. Lalu kamipun foto-foto seperti tampak dalam postingan ini. 

    Waktu sudah menunjuk pukul 4:30 sore dan hari itu adalah hari terakhir kerja sebelum libur Lebaran. Aku tak mau menahan mereka terlalu lama bekerja supaya mereka bisa menikmati persiapan Lebaran.

    “Perintah terakhirku untuk kalian dan semoga kalian tidak keberatan adalah, kalian langsung pulang ya! Kasih waktu sebentar untukku menerima dan membalas email terakhir ke manajemen trus kita sama-sama pulang…”

    Mereka lalu keluar dari ruangan dan pintu kamar kerja kututup kembali. Dalam waktu sekitar lima belas menit itu aku benar-benar sendiri, sepi dan menikmati menit-menit terakhir bekerja sebagai Manajer Web Development di CV Citraweb Nusa Infomedia.

    Kenangan demi kenangan sejak perusahaan ini kami dirikan mengulas cepat. Email terakhir berisi laporan bandwidh dari salah satu klien kubaca lalu kuforward ke admin Citrahost untuk ditindaklanjuti seperti yang kulakukan di hari-hari sebelumnya. Satu per satu aplikasi kututup lalu aku logout dan mematikan Apple iMac 20 inchku untuk yang terakhir kalinya dan tidak akan pernah menghidupkannya lagi. Aku mengambil nafas dalam-dalam, mengambil tas gym dan memasukkan bingkisan ke dalamnya, berdiri, menatap setiap sudut ruang lalu keluar. (Tujuh tahun sesudahnya, 2015, tiga bulan sebelum Iwan meninggal dunia aku pulang ke Indonesia. Dalam kesempatan itu untuk pertama kalinya , aku kembali masuk ke ruang yang sama untuk sekadar berkunjung dan bernostalgia).

    “Wes! Ayo!” ujarku pada mereka.

    Kami semua turun ke bawah, aku jalan sambil pamit ke semua orang yang ada di ruangan-ruangan lain. Semua kusapa, kujabat. Sebagian kupeluk termasuk Riza Tantular, Direktur ISP yang sore itu kudatangi ruangannya. Sama seperti Iwan dan Valens, Riza adalah orang yang turut membidani Citraweb sejak hari pertama bersamaku pada 7 Februari 2000.. Valens hari itu tidak ada di kantor jadi aku hanya berpamitan lewat pesan singkat.

    Mas Darman, office boy yang dekat denganku, mengambilkan motor Supra 125ccku dari parkiran lalu mempersiapkannya di depan.

    Aku segera menaiki motor sesampainya di pagar kuhentikan sejenak untuk memalingkan wajah ke belakang kepada semua yang mengantarku sore itu keluar dari gerbang kantor. “Aku pamit ya!…” Tangan kulambaikan. Mereka tersenyum dan membalas lambaian tangan sementara matahari sudah semakin lindap ke sisi barat, aku melaju melanjutkan hidup, memunggungi yang harus kupunggungi, menghadapi apa yang harus dihadapi.

    Dalam tulisan yang kurilis di blog ini pada malam itu, aku menulis begini,

    di saat aku memunggungi kalian semua, sadarkah kalian bahwa takdir itu telah dimulai dan sedang menyempurnakan goresan hidupmu, hidupku dan hidup kita semua ?
    Citraweb, kalian semua tanpa terkecuali, will always be in my heart, always.

    Lima belas tahun sesudahnya, saat aku menorehkan tulisan ini, saat hidup sudah begitu banyak berubah dan berusaha mengubah, aku tetap teguh menempatkan Citraweb dan mereka semua tanpa terkecuali di dalam hati!

    *Tentang Jogja, adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Si Blirik: Dari cangkir menjadi pot tanaman

    Si Blirik: Dari cangkir menjadi pot tanaman

    Masih ingat cerita tentang cangkir blirik-ku yang borot dalam postingan minggu lalu? Kalau kalian baca, dalam salah satu paragraf di sana kutulis begini, “Si Blirik kupensiunkan meski atas nama kenangan ia tetap akan ada di sini entah nanti hendak kuapakan.” 

    Nggak sampai seminggu, aku berkeputusan tentang apa yang akan kulakukan pada Si Blirik! Cangkir yang kubeli di Klaten pada bulan Maret 2015 saat aku menjenguk Mama yang kritis waktu itu akan kujadikan pot tanaman lalu kupajang di atas speaker meja kerjaku.

    Gak nyangka sih bakal secepat itu realisasinya. Pikirku nanti-nanti aja tapi kebetulan hari Sabtu kemarin, pas anak-anak sibuk dengan aktivitas mereka, aku dan Joyce pergi jalan-jalan ke nursery alias toko/lahan penjual tanaman.

    Niatan awal untuk jalan-jalan ke situ sebenarnya sedang mencari ide untuk tanaman yang akan kami tanam di halaman depan rumah. Nah, sambil looking-looking, tiba-tiba perhatianku jatuh pada Haworthias!

    Apa itu haworthias?
    Sebuah tanaman jenis succulent berasal dari Afrika Utara. Bentuknya kecil dan dua hal yang paling penting: ia bisa tumbuh di dalam ruangan dan… warnanya itu lho! Hijau dan putih! Selaras banget dengan Si Blirik yang juga hijau dan putih, kan!? Harganya pun tak lebih mahal dari harga dua gelas kopi… ya udah tanpa tunggu waktu lama langsung kubeli!

    Sesampainya di rumah, aku mengambil Si Blirik, mengeluarkan simpanan tanah kebun yang kubeli untuk menanam succulent tempo hari dan segera memindah si Haworthias ke dalam Si Blirik!

    Ah, aku jadi ingat komentar salah satu pembaca blogku beberapa waktu lalu, “Mas Donny sepertinya seorang penyayang barang ya?”

    Well, aku menyayangi barang sebisa mungkin dengan tidak menimbulkan rasa lekat kepadanya tapi dengan memperpanjang usianya. 

    Si Blirik memang sudah tidak bisa lagi menjalankan fungsi utamanya sebagai alat untuk mencecap kopi dan teh. Tapi mulai Hari Sabtu lalu fungsinya sudah berubah jadi tempat hidup bagi Haworthias!

    Eh btw baru sadar bahwa nama Haworthias itu dekat dengan nama almh Mama, Mbak Tyas :)

  • Tumbler penyok

    Tumbler penyok

    Dari dulu aku gemar minum air putih. Dalam sehari minimal dua liter. Sejak beberapa bulan belakangan aku lebih suka lagi kalau air putih itu disajikan dalam kondisi hangat. Kuota yang kuhabiskan bisa lebih banyak lagi.

    Aku lupa bagaimana awal mulanya tapi sejak suatu pagi, aku merasa ada yang lebih menyenangkan ketika minum air putih hangat ketimbang dingin. Rasa mulut, tenggorokan hingga perut yang menghangat itu jadi sensasi yang menyenangkan. Waktu aku menceritakan hal ini kepada Joyce, istriku, komentarnya singkat padat, jelas, “Kayak kakek-kakek aja kamu! Sukanya minum air putih hangat…”

    Karena air putih hangat itu tidak boleh dituang dalam botol plastik sementara untuk membeli tumbler berinsulasi  lumayan mahal aku berusaha mencari di almari perkakas di dapur siapa tahu masih tersimpan beberapa tumbler yang sudah tak terpakai lagi dan aku bersyukur menemukan satu.

    Tumbler itu merk-nya Thermos. Salah satu merk terkemuka yang saking terkenalnya kerap jadi asosiasi ketika kita menunjuk tumbler. Sama seperti nasib odol pengganti kata pasta gigi, honda pengganti sepeda motor dan googling pengganti kata kerja mencari informasi di internet.

    Maka sejak saat itu, tumbler kubawa kemana-mana. Ketika bekerja di rumah, tumbler itu selalu terisi penuh menemaniku bekerja. Ke kantor, tumbler itupun kubawa. Bahkan menjelang tidur aku selalu mengisinya supaya ketika terbangun aku bisa menyeruput air putih hangat dari meja kamar… lalu tidur lagi.

    Belum lama ini, ketika hendak bepergian, seperti biasa aku tak lupa membawa tumbler yang sudah kupastikan penuh dengan air putih hangat.

    Di mobil aku meletakkan tumbler itu di saku pintu geser mobil yang cara pengoperasiannya otomatis digerakkan mesin. Ketika kami berhenti di satu tempat, aku lupa mengambil tumbler itu lebih dulu sebelum membuka pintu geser. Alhasil, tumbler itupun penyok!

    Aku sempat sedih sih!

    Gak cuma karena itu berarti aku harus beli baru tapi juga karena tumbler itu salah satu barang kenangan yang dulu kerap dipakai Joyce untuk menyiapkan air putih cadangan saat bepergian untuk membuat susu ataupun cereal waktu anak-anak masih kecil.

    Eh, bentar… tapi masa sih aku harus beli tumbler baru hanya gara-gara penyok?

    Alih-alih membuang, aku lantas berusaha memastikan apakah tumbler ini sama sekali tak bisa digunakan?

    Hal yang pertama kucheck adalah insulasinya. Adakah vacuumnya ikut rusak karena penyok sehingga tak bisa lagi menjaga minuman tetap hangat? Kuraba bagian dalam tumbler tepat di area yang penyok dan ternyata masih utuh. Fiuhhhhh! Artinya, ia masih bisa kugunakan untuk menjaga temperatur air.

    Akupun memutuskan untuk tak membuangnya. Lagipula, justru dengan kepenyokannya, tumbler ini memiliki daya guna yang lebih. Kok bisa?

    Sisi yang penyok dari tumbler itu justru jadi tempat nyaman untukku meletakkan jempol ketika menggenggam dan meminum darinya. Tanpa penyoknya, tumbler ini tadinya gak cukup mudah untuk dipegang satu tangan dalam relatif waktu yang lama. Bahan baku stainless steel plus air yang dituangkan di dalamnya kadang membuat bobotnya jadi lumayan berat dan gampang jatuh karena permukaan yang licin. Mrusut, bahasa Jawanya.

    Dalam dunia experience design yang kugeluti, istilahnya tumbler ini setelah penyok justru jadi punya tingkat usabilitas yang lebih tinggi karena ketika digenggam timbul rasa aman karena lekukannya membuat genggamanku lebih erat dan rasa takut untuk mrusut pun terkurangi!

    Kalau mau ditinjau dari sisi yang lebih dalam lagi, aku melihat peristiwa penyoknya tumblerku ini sebagai sebuah pelajaran bahwa tak semua cacat dan cela itu berarti daur hidup suatu barang berakhir. Tentu cacat dan cela membuat keadaanya tak lagi sama dengan sebelumnya. Tapi bukankah hidup ini sejatinya juga tak pernah sama?

    Justru fase dimana kita merasa barang sudah cacat harusnya jadi fase dimana kita diajak kreatif dalam melihat dan menyikapinya dari sudut pandang baru yang semoga ditemukan juga nilai-nilai baik yang baru setelah cacat dan cela yang kadang tak bisa dielakkan tapi terjadi…Seperti kisah tumbler kesayanganku ini…

  • Si Blirik ‘borot’

    Si Blirik ‘borot’

    Si Blirik, cangkir minum berbahan baku enamel yang selalu kupakai untuk menikmati teh dan kopi itu berlubang pada bagian bawahnya. Istilah Jawanya borot. Bukan barat tetapi borot. ‘O’ diucapkan seperti O dalam ‘komik‘.

    Si Blirik kubeli di Klaten pada Maret 2015, saat aku harus pulang menengok Mama yang kritis dalam sakitnya. Mama berpulang tiga belas bulan sesudahnya tapi Si Blirik tetap kupakai hingga dua hari lalu kutengarai.

    Cangkir blirik berbahan enamel bagi banyak orang yang pernah tinggal di kawasan Jogja – Solo adalah cangkir legendaris. Mungkin karena harganya yang murah dibanding cangkir berbahan baku kaca ataupun keramik. Hampir di setiap meja di rumah bisa ditemui menemani si pemilik mencecap teh dan kopi. Ketika tinggal di Jogja dan cangkir yang kupakai adalah yang terbuat dari keramik ataupun kaca, cangkir blirik tetap ada di warung angkringan sebagai sarana menyiapkan ramuan teh si pemilik warung sebelum akhirnya dituang di cangkir kaca untuk disajikan pada para pelanggan.

    Tentang borot-nya Si Blirik, aku jadi teringat apa yang dulu dilakukan Eyang buyutku ketika perkakas-perkakas berbahan baku enamel, termasuk cangkir bliriknya, borot.

    Alih-alih membuang, Eyang mengumpulkan perkakas itu dalam satu wadah. Ketika sudah terkumpul banyak, ia lalu memanggil tukang patri keliling untuk membetulkannya sehingga bisa dipakai lagi. Dulu setiap tukang patri datang ke rumah aku selalu mengamati sambil terheran-heran, bagaimana mungkin ia bisa menambal logam? Adakah ia superman yang menambal besi patah dengan laser yang tersorot dari matanya?

    Tapi itu dulu, medio 1980an.
    Jaman sudah berubah. Aku sudah tinggal di Australia. Jangankan untuk mencari, dari keyakinanku pun aku tak bisa membayangkan akan ada tukang patri di sini. Kalaupun ada ongkosnya mesti berapa? Sebanding nggak dengan membeli cangkir baru?

    Aku lantas membeli cangkir baru. Tak kalah legendarisnya dengan cangkir blirik tapi dalam paradigma yang berbeda saja. Cangkir blirik ada dalam paradigma orang Jawa, cangkir baruku, Queen merknya, ada dalam paradigma orang-orang Inggris dan negara persemakmuran termasuk Australia. Cangkir baruku itu berbahan baku porselen warna cokelat.

    Si Blirik kupensiunkan meski atas nama kenangan ia tetap akan ada di sini entah nanti hendak kuapakan.

    Dari pergantian cangkir aku belajar bahwa hidup ini sejatinya seperti perlombaan lari estafet. Pelari sebelumnya tak kan pernah bisa digantikan keberadaannya oleh pelari selanjutnya . Mereka tetap ada sebagai pribadi yang berbeda dengan catatan hidup yang berbeda pula. Adapun yang menyatukan mereka adalah perjuangan; bagaimana mereka mampu berfungsi pada masanya sendiri-sendiri….

  • Halo dari Bandung ke Kuala Lumpur!

    Halo dari Bandung ke Kuala Lumpur!

    Aku melihat viralnya berita tentang kemiripan lagu Halo Kuala Lumpur dengan Halo-halo Bandung akhir-akhir ini sebagai sebuah berkah!

    Bagaimana tidak?
    Gara-gara berita itu, perhatian orang yang akhir-akhir ini makin tersedot ke topik siapa yang akan jadi cawapresnya siapa agak sedikit buyar beberapa saat.

    Ya! Ini soal bagaimana study yang dipelajari Johannes Münster and Klaas Staal menemui pembuktiannya, common-enemy effect yang salah satu quote terkenalnya adalah… “external conflict is used to prevent internal conflict”

    Secara musik, kedua lagu itu memang mirip benar tapi aku tidak kaget karena bukankah ini cerita lama dari negeri tetangga? Tanpa permisi mengkopi, tanpa alasan mempublikasikan hasil curian… eh kopian!

    Batik. Wayang. Reog. Apalagi?

    Adalah baik melihat langkah yang hendak diambil Menko PMK, Muhadjir Effendy untuk memperkarakan masalah ini lewat jalur formal, mengaitkannya dengan hak cipta.

    Selebihnya, mari kita semakin viralkan, berkomentar tajam tapi sopan dan sebagai orang yang tidak lagi muda, aku mengajak kalian untuk berefleksi terhadap diri sendiri tentang hal yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini.

    Pertama, jangan menjeneralisasi!

    Karena kasus ini (dan beberapa kasus lain di atas) lalu menjeneralisasi bahwa semua orang Malaysia pasti plagiat adalah salah! Orang Jawa bilang, jangan nggebyah uyah!

    Kita toh nggak pengen juga dicap sebagai plagiator hanya karena lagu (Kulihat) Ibu Pertiwi karya Kamsidi Samsudinlebih dari seratus tahun lalu itu mirip betul dengan What a friend we have in Jesus ciptaan Charles Crozat Conversetahun 1868.

    Atau Dari Sabang Sampai Merauke ciptaan R. Suharjo itu mirip banget dengan lagu kebangsaan La Marseillaise (dan intro All You Need is Love-nya Beatles pun mirip dengan keduanya!)

    Kedua, mari semakin menghargai hak cipta!

    Momentum ini barangkali juga bisa dimanfaatkan untuk lebih menghargai hak cipta atas karya seseorang.

    Penghargaan yang seharusnya nggak lagi cuman soal “Duh bagus ya!” atau “Jangan beli bajakan!” tapi juga bagaimana memproteksi ketika soalan plagiasi seperti ini terjadi..

    To the very extreme… ya harusnya perjuangan menangani hak cipta itu disuarakan secara banal seperti yang kita lihat belakangan dari beberapa pencipta lagu di Tanah Air. Hal itu tidak salah meski kesannya kok tiba-tiba begitu menggema! Semoga seiring berjalannya waktu (baca: setelah Pemilu tahun depan) bisa makin dilihat masyarakat bukan sebagai reaksi kemarahan atau… terkait kampanye doang.

    Ketiga, peringatan bagi pencipta lagu

    Ya! Era dimana kita hidup berbeda dengan era dulu.

    Sekarang, orang gampang banget buat cari informasi apakah sebuah lagu itu mirip dengan lagu-lagu yang sudah ada sebelumnya atau tidak lewat internet dan social media. Jadi, untuk para pencipta lagu, i know gak ada yang original di muka bumi ini!

    Tapi kalau mau ngejiplak, carilah lagu yang dirilis dari sebuah grup band atau penyanyi tak terkenal dari negara antah-berantah jadi kemungkinan netijen tahu bahwa karya loe jiplakan itu kecil atau bahkan gak ada sama sekali.

    Sekian dulu.

    Aku mau ngelanjutin nyeruput kopi sambil dengerin Father and Son (Cat Stevens / Boyzone) trus lanjut Anugerah Terindah yang pernah kumiliki (Sheila on 7) atau Bimbim Jangan Menangis (Slank) lalu lanjut Fool to Cry-nya Rolling Stones.

    Uhuk….

  • Artis juga manusia…

    Artis juga manusia…

    Pagi ini aku tergelak membaca berita yang judulnya nendang banget, “Mantan finalis AFI sekarang jualan rujak!” Sekujur berita intinya hanya bercerita tentang betapa dulu sang finalis ajang kompetisi bernyanyi di televisi itu namanya termashyur tapi sekarang harus jualan rujak untuk menyambung hidup dan anak-anaknya. Sampai akhir berita aku membaca dan tiba-tiba merasa rugi telah memangkas lima menit dari waktu hidupku untuk membaca berita yang nggak bermutu itu!

    Tapi nggak bermutu itu barangkali hanya menurutku dan kamu. Bagi mereka belum tentu! Kuyakin masih banyak yang berkomentar, “Duh kasian ya! Udah nggak laku trus jadi gitu hidupnya… jualan rujak?! Amit-amit!”

    Padahal apa yang perlu dikasihani?

    Hidup itu memang harus disambung dan diusahakan, bukan? Kasihanilah ketika melihat ada yang tahu hidupnya harus disambung tapi malah nggak ngapa-ngapain dan hidup dalam buaian seolah hidup bisa diselesaikan tanpa usaha!

    Ini memang soal persepsi. Persepsi bahwa artis itu adalah manusia luar biasa. Mungkin ini persepsi bawaan masa lampau dimana layar kaca dan frekuensi radio serta majalah juga koran hanya bisa didominasi oleh pejabat, artis dan penjahat selebihnya adalah jarak. Jarak antara mereka dan kita, rakyat jelata, rakyat biasa.

    Maka tak heran, berbekal persepsi lawas ini masih ada para penipu bisnis yang menggunakan nama artis sebagai daya tarik karena jadi laku. Ada juga (bahkan makin banyak) partai politik yang menggunakan nama artis untuk menggaet suara dari mereka yang mengagumi sang artis secara buta. Meski memang nyatanya nggak sedikit dari kalangan artis yang memang cerdas meski nggak semuanya juga. (Aku nulis gini supaya nggak terperangkap juga pada persepsi lain bahwa artis pasti bodoh! Enggak!)

    Jaman sudah berganti!
    Di era social media ini semua bisa jadi siapa saja termasuk artis dan kita yang mungkin semula jelata.

    Artis juga manusia biasa…
    Ketika kentut, baunya sama dengan bau kentut kita. Ketika boker, mukanya juga sama-sama gak keruannya ketika mengejan supaya tinjanya cepat keluar.

    Jadi kalau denger kabar mereka harus menyambung hidup, mereka berhak untuk berusaha. Seperti halnya si finalis AFI yang jualan rujak atau Norman Kamaru, mantan polisi yang sempat jualan soto… mereka gak perlu dipersalahkan karena bahkan yang sekelas Anang dan Ashanti pun jualan kue-kue dan Ahmad Dhani yang konser tiada henti pun masih mau kok jualan makanan dan minuman lewat restorannya sembari nyaleg… siapa tahu menang! Ye kan?

  • Indonesia Pusaka

    Indonesia Pusaka

    Ada satu lagu nasional yang sangat kusuka tapi tak bisa kutuntaskan untuk kunyanyikan, Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki.

    Kenapa tak bisa kutuntaskan, karena lidahku kelu untuk menyanyikan dua larik terakhir dari bait pertama lagu tersebut

    Tempat berlindung di hari tua
    Tempat akhir menutup mata

    Sejak aku menetap di Sydney, Australia, lima belas tahun lalu, tak ada satupun niat untuk menghabiskan hidup di Indonesia karena aku akan berada dimana keluargaku tinggal.

    Tapi apapun itu…Dirgahayu Indonesia ke-78!

    Meski mungkin aku tak akan menghabiskan hari tuaku di Indonesia, meski aku tidak akan menutup mata untuk terakhir kalinya di sana tapi tanahmu adalah tempat dimana bunda melahirkanku, air yang kuminum darimu adalah air yang pernah menghidupiku…. 

    Indonesia, Tanah Air Beta!

  • Tentang Rocky Gerung yang misuhan…

    Tentang Rocky Gerung yang misuhan…

    Perkara ngomong jorok atau dalam bahasa jawanya misuh, aku jagonya! Waktu SMA, misuhku tak terkira. Ungkapan “Asu” dan “Bajingan” sudah kuanggap sebagai pengganti titik dan koma. Sementara ungkapan-ungkapan terkait piranti kelamin layaknya imbuhan hampir setiap kalimat atau panggilan “sayang” untuk kawan sekelilingku. 

    Tol. 
    Pik. 
    Mbut.
    Dan… Til!

    Makanya gak heran kalau kemudian Pak Sukris, guru matematikaku di SMA Kolese De Britto dulu menghukumku dengan menuliskan semua kata pisuhan dalam selembar kertas manila ukuran besar. 

    Awalnya aku kegirangan karena berarti Pak Sukris yang adalah kawan SMA salah satu tanteku itu memberikanku media legal untuk misuh sepanjang kali lebar kertas manila yang disodorkan. Tapi anggapanku salah! Ternyata Itu baru awalannya saja karena sesudahnya Pak Sukris memintaku mempresentasikan kertas manila pisuhanku itu ke para guru wanita di De Britto.

    Jadi bayangin!
    Di depan Bu Nanik, guru Fisika, aku menjelaskan kenapa menulis kata Asu begitu banyak di kertas itu. Di depan Bu Endah yang karateka itu aku menggamblangkan kenapa aku gemar menulis Bajingan dan Jancuk di kertas itu.

    Dan masih banyak lagi… sebanyak hukuman yang kuterima dari mereka mulai dari push-up, lari keliling lapangan, dicubit kecil di pipi yang pedasnya gak ketulungan hingga yang terberat, mencabuti rumput lapangan sepakbola!

    Dari situ aku berhenti misuh? Enggak!
    Tapi setidaknya aku belajar kapan waktu yang tepat untuk misuh dan kapan yang tidak. Tentu aku tak lagi misuh di depan para guru supaya tak lagi dihukum tapi aku misuh ketika ngobrol dengan teman-teman.

    Dari situ aku juga belajar untuk “hemat” dalam misuh dan setidaknya tahu kenapa alasan aku harus misuh.

    Waktu SMA dulu, aku misuh supaya suaraku “didengarkan” atau setidaknya harus “terdengar.”  Aku nggak pede dengan kualitas pembicaraanku sehingga merasa harus mengimbuhkan asu bajingan dalam kalimat-kalimatku. 

    Waktu dewasa muda, misuh kupakai sebagai “senjata” untuk mengintimidasi lawan bicara. Bahwa aku ini bukan anak kecil lagi. Bahwa aku ini, meski sregep ke Gereja, tapi ya tetap ada jiwa “premannya” (padahal konon preman sejati itu justru halus tutur katanya ya…)

    Lalu apa alasan dan kondisi yang terpenuhi bagiku untuk misuh di usia setengah baya ini? Setelah kuhitung-hitung, ada tiga.

    Pertama, aku misuh karena merasa dalam kondisi jiwa labil. Contohnya di dunia pekerjaan. Karena stress dengan beban kerja, aku curhat dengan rekan sejawat dalam bahasa Inggris tentunya. 

    “I dont f**kin understand why that motherf**ker asked me to work on this f**kin thing!”

    Kedua, aku misuh ketika merasa bahwa menjelaskan dengan runut dan jelas itu akan makan banyak waktu. Misalnya ketika mendengar berita kenaikan suku bunga bank. Aku memilih bilang, “We’re f**ked up!” daripada “They decided to increase the interest rate again. So We’re in trouble as we need to pay more on our monthly mortgage repayment!”

    Ketiga, aku misuh ketika latah!
    Ya! Kalian nggak menyangka bahwa aku ini latah! Hahaha… Kemarin pagi misalnya. Ketika menyiapkan sarapan, aku menaruh dua risoles ke airfryer dan ketika sudah selesai, jariku menyentuh dinding air frye dan kepasan. Spontan aku teriak, “Asu! Bajingan! K*pet!”

    Pernah juga hal seperti ini terjadi di kantor, jari tanganku kejepit drawer meja dan aku teriak hal yang sama. Untung karena aku orang Jawa, misuh spontannya ya dalam bahasa Jawa sehingga mereka tak tahu apa yang aku umpatkan hahaha…

    Misuhlah ketika kamu tahu alasan terbaik untuk misuh.
    Kalau kamu gak tahu alasannya (dan tetap misuh), bergabunglah dengan Rocky Gerung. Kalau kamu mau bergabung bersama orang-orang yang berharap supaya Rocky belajar mencari alasan meski harus dari balik jeruji penajara, ramai-ramailah melaporkannya ke polisi.

    Aku bukan pembencinya tapi aku benci karena sosok yang kuidolakan karena jago dalam retorika itu harus punya kelemahan sepertiku dulu, misuhan. Asu!

  • Tentang Festival Jazz ber-skena-kan Dangdut itu…

    Tentang Festival Jazz ber-skena-kan Dangdut itu…

    Hmmm, dari mana mulainya? OK, gini deh…
    Kalau kamu pergi ke pertunjukan musik dangdut, adakah kamu berani bertaruh bahwa yang akan muncul di atas panggung adalah Burgerkill atau Edane? Kalau Achmad Albar masih mungkin karena vokalis GodBless itu pernah membawakan lagu dangdut Zakia. Tapi Burgerkill dan Edane rasanya tidak karena mereka adalah grup band cadas!

    Tapi kalau kamu pergi ke festival jazz, kemungkinan untuk nonton Dewa19, Slank, KLa Project bahkan Denny Caknan cukup besar! Kok bisa? Entah! Aku juga bingung karena sebagaimana aku mengharapkan Soneta dan Rhoma Irama di gelaran musik dangdut, bagiku nonton festival jazz ya akan dapetin setidaknya Indra Lesmana dan Krakatau lah! I know! I hear you! Kamu barangkali bakalan ngomong

    “Musik kan universal jangan dikotak-kotakkan!”
    “Yang penting tiketnya laku!”
    “Tau apa sih loe tentang musik, Anjirrr?”

    Yuk kita kupas satu per satu!

    “Musik kan universal jangan dikotak-kotakkan!”

    I got a short answer for that, “Woy, yang ngotak-kotakin musik itu ya justru yang bikin festival! Kalau udah tahu yang diundang bukan musisi jazz kenapa pake kotak jazz, Justo?!”

    Lagipula, apa salahnya mengkotak-kotakkan musik sesuai ragamnya? Pengklasifikasian itu tidak haram kok! Manusia aja dikotak-kotakkan sesuai agama dan kalian gak protes, kan?

    Aku malah bersyukur dengan pengklasifikasian musik karena hal itu membantuku mendapatkan musik yang kumau ketika aku browsing Apple Music ataupun Spotify misalnya!

    Ketika aku ngeklik kategori Heavy Metal yang kudapat ya band metal, ketika aku klik kategori Jazz yang nongol ya ragam musik jazz… hmm apa mungkin karena Spotify dan Apple Music itu nama app bukan festival jazz ya?

    “Yang penting tiketnya laku!”

    Tiket laku itu target realistis karena bagaimanapun pertunjukan adalah bisnis dan bisnis itu perkara cuan! Tapi menjebak penonton dengan memberikan sajian selain jazz dalam sebuah festival jazz adalah sebuah pelaksanaan bisnis yang tidak mengindahkan kaidah etis-tidak etis!

    Tapi kan penonton gak protes?
    Ya karena gak semua penonton sepintar dan seberani dan se-gabut gue! Kalau panitia mau tiket laku, undang aja Dewa19 karena meski lagu Kangen dibawaian sejuta kali, sejuta kali itu pula stadion akan penuh terisi.

    Dan ketika nonton Dewa19, ekspektasi orang sudah jelas! Kalau nggak dengerin Kangen, Separuh Nafas, Pupus atau Kirana karena itu lagu-lagu mereka! Gak mungkin kan kamu nonton Dewa lalu tiba-tiba Ahmad Dhani maju ke depan pake gitar akustik nyanyi

    “Aku mau mendampingi dirimu..
    aku mau cintai kekuranganmu!”

    Karena itu lagu Once hehehe… Eh tapi kayaknya kamu mulai bisa berekspektasi bahwa Dewa akan bawain lagu-lagu Queen juga sih…. hahaha!

    “Tau apa loe tentang musik, Anjir!”

    Nah justru itu! Karena aku gak tau tentang musik, ketika aku datang ke festival musik, secara tidak langsung aku juga mengharapkan supaya pengetahuanku terhadap khasanah musik bertambah!

    Bayangkan kalau orang sepertiku, yang menurutmu gak tahu banyak tentang musik, datang ke festival bersalutkan jazz. Lalu aku disuguhi pertunjukan yang bukan dari jalur jazz, tau kan apa yang terjadi? Aku akan menganggap semua yang tampil sebagai… musisi jazz!

    Lalu bayangkan kalau kemudian aku pacaran dengan anak seorang musisi trus pas di tanya musik kesukaan, aku akan menjawab, “Wah, saya suka jazz, Om!”

    Lalu Si Om bertanya,
    “Wow keren! Apa referensi jazz-mu?”

    Dan aku, yang nggak tahu musik hanya berbekal pengetahuan musik dari festival jazz yang kudatangi dengan sok pede menjawab,

    “Banyak, Om! Kadang saya dengerin Dewa19, Slank, KLa Project atau kalau pas menikmati senja bersama kawan-kawan skena ya saya dengerin Denny Caknan supaya vibe-nya kerasa, Om!”

    Si Om Bengong….

  • Fenomena Aldi Taher dan Ujian Kewaskitaan Kita…

    Fenomena Aldi Taher dan Ujian Kewaskitaan Kita…

    Hal paling mengagumkan dari seorang Aldi Taher adalah bahwa ia mau mengorbankan dirinya untuk jadi sarana berkaca tentang banyak hal terkait bagaimana kita menempatkan diri dan hidup bersama dengan sesama. Semoga ini membuat kalian berhati-hati bahwa ketika kalian menertawakan tingkah Si Aldi, jangan-jangan kalian sedang menertawakan diri kalian sendiri.

    Bagi yang semula berpikir bahwa menjadi golput dalam ajang kontestasi politik tahun depan adalah cara terbaik menyatakan sikap apatis, memilih Aldi Taher yang konon mengajukan diri sebagai caleg dari sebuah parpol adalah cara yang lebih baik lagi. 

    Memilih Aldi adalah memilih yang bukan arus utama. Arus yang selama ini mengatasnamakan politik sebagai sesuatu yang harus serius, cerdas dan parlente dipatahkan begitu saja oleh Aldi. Kalau Anies Baswedan dianggap sebagai antitesis Jokowi, Aldi Taher adalah antitesis dari sebagian besar caleg yang foto-fotonya sekarang sedang marak beredar!

    Melalui Aldi Taher, kita juga mendapatkan gambaran tentang betapa taat (atau takut) kita pada hal bernama: doa. Mungkin ada dari kita yang tidak patuh pada antrian, tidak patuh berkendara, tidak patuh dalam melaporkan pajak tapi… dalam hal berdoa kita taat! Lihat dalam pemunculannya, Aldi kerap tiba-tiba mengajak audiens untuk berdoa. Coba perhatikan apa reaksi audiens-nya?

    Biasanya mereka kaget, tertawa cekikan sebentar tapi tak lama kemudian mereka menundukkan kepala dan larut dalam doa yang dibawakan Aldi terlepas apapun agama si audiens tadi! Secara gamblang, trik ini bisa diadopsi para MC yang susah menghadapi crowd, ajaklah berdoa niscaya semua akan turut serta (dan nanti sama-sama masuk surga, yekan!) Secara spiritual, kenyataan ini menjelaskan bahwa apapun urusannya, bawalah para pemangku urusan untuk bicara tentang Tuhan niscaya mereka akan taat (dan takut).

    Aldi juga adalah simbol bahwa untuk diingat kita tidak perlu membawa karya yang orisinil! Comot sana dan sini, imbuhi dengan sedikit aksen lalu tawarkan! Ini tampak waktu Aldi membuat lagu spontan. Notasi dan irama lagunya sama saja tapi liriknya berubah-ubah.

    Notasi dan iramanya pun mirip dengan lagu Gerimis Mengundang milik grup band asal Malaysia yang pernah tenar di Indonesia di era 90an, Slam. Lirik aslinya begini:

    “Kusangkakan panas perpanjangan…” 

    Oleh Aldi diubah menjadi

    “[Nama entitas (bisa jadi orang, partai, mantan presiden ataupun mantan istri)]… i love you so much”

    Materi itu dibawakan terus-menerus dan berulang-ulang. Nyebelin? Iya! Eneg? Iya! Tapi kamu bisa apa selain menerima dan larut dalam irama yang diorkestrasi Aldi?

    Dan yang terakhir, Aldi membuat kita sadar diri bahwa kadang hanya karena seseorang dianggap bodoh, udik, kampungan, norak dan nggak logis maka semua bakat yang dimilikinya akan kita nilai lebih rendah dan layak ditertawakan daripada mereka yang tampak pintar, anak pejabat dan kaya.

    Lihat bagaimana orang tertawa ngakak melihat gaya Aldi membawakan lagu-lagu Britpop seperti Coldplay, Oasis dan Radiohead (meskipun cuma Creep doang sih… ) Orang-orang tertawa geli melihat aksinya tanpa sadar bahwa musikalitas Aldi itu keren dan suaranya punya karakter! Coba bayangin kalau Aldi hadir sebagai figur yang diam, tampak cerdas dan dia lahir dari trah biru kekuasaan, mungkin orang-orang akan punya pendapat yang berbeda….

    Jadi hati-hati pada ‘fenomena’ Aldi Taher ini. Gunakan kewaskitaan dan jangan terjerumus dengan menganggapnya sepele! Karena dari yang sepele biasanya muncul yang gede!

    Sydney, 10 Juli 2023