Tag: 2021

  • Serah Terima Rumah dan Pemugaran ‘Rumah baru’ Mama

    Serah Terima Rumah dan Pemugaran ‘Rumah baru’ Mama

    Salah satu hal yang paling melegakan yang kulakukan tahun lalu adalah memugar makam Mama.

    Sesuai hitung-hitungan Jawa, Mama yang meninggal pada 7 Maret 2016 seharusnya sudah bisa dipugar makamnya pada peringatan 1000 hari wafatnya yang jatuh sekitar Januari 2019. Tapi waktu itu aku dan Chitra, adikku, sepakat untuk tidak membangun makamnya karena kami berencana untuk menyatukan Mama ke dalam makam Papa yang sudah lebih dulu berpulang pada 7 April 2011.

    Sesuai nasihat juru kunci makam, penyatuan makam sebaiknya diadakan setelah lima tahun seseorang berpulang dengan pertimbangan supaya jasad sudah makin sempurna dalam wujud tulang-belulang saja.

    Saat aku berlibur ke Indonesia pada September 2018 silam, kami berunding tentang kapan waktu yang tepat untuk menyatukan makam kedua orang tua kami. Aku dan Chitra sepakat memilih waktu akhir tahun 2021. Selain aku punya waktu untuk menabung (karena pulang ke Indonesia itu tidak murah!) akhir tahun 2021 bertepatan dengan peringatan 25 tahun kelulusanku dari SMA Kolese De Britto dan kawan-kawan seangkatan sudah berencana mengadakan acara reunian secara meriah.

    Tapi apa mau dikata, Covid mengubah semuanya!

    Dunia dilanda pandemik berkepanjangan sejak awal 2020 dan acara asik-asikan di akhir 2021 pun buyar berantakan. Acara reuni 25 tahun tidak jadi diadakan secara meriah dan acara penyatuan  makam mama dan papa pun kami tunda. Satu hal yang sempat terlupa: makam Mama belum dipugar padahal rencana sudah ditunda.

    Adalah Fajar, anak sulung Mas Sardjoko, tetangga kami di Klaten dulu yang secara tidak langsung mengubah jalan cerita.

    Pertengahan 2021 Mas Sardjoko berpulang karena Covid-19 dan ia dimakamkan di makam yang sama dengan Papa dan Mama di Klaten sana.

    Usai memakamkan bapaknya, Fajar juga nyekar Mama. Di laman Facebooknya dia bilang, “Sekalian nyekar Bulik Tyas!” Tyas adalah nama Mamaku. Di foto itu akupun terkejut melihat betapa makam Mama penuh dengan ilalang dan papan namanya pun sudah memudar warna dan lapuk pula kayunya.

    Diskusi kembali kuadakan dengan Chitra.

    “Jadi gimana ini Chit? Kita bangun makam Mama atau kita undur acara penyatuan makam Mama dan Papa, Chit?”

    Di akhir diskusi kamipun berkeputusan melakukan keduanya; menyatukan makam Mama dan Papa ketika pandemik mereda dan sambil menunggu itu kita pugar makam Mama.

    Rencana membangun makam Mama sempat tertunda karena kesibukan kami masing-masing hingga di awal Desember kemarin aku bilang ke Chitra, “Setidaknya sebelum Natal, makam Mama harus sudah kita jadikan yuk!”

    Lalu kenapa sebelum Natal? Apa karena Natal? Ada dorongan lain untuk itu.

    Rumah baruku di Sydney sudah selesai dibangun dan waktu itu, awal Desember, pihak developer bahkan sudah memberikan tanggal untuk penyerahan kunci sebagai tanda bahwa pembangunan telah resmi selesai dan kami bisa menempati bangunan.

    Ketika tanggal yang ditentukan mendekat, tiba-tiba aku terusik; rumahku sudah jadi dan siap ditempati tapi bagaimana dengan ‘rumah’ Mama? Apakah masih layak ditempati? Foto makam penuh ilalang yang dikirim Fajar mengemuka di benak. Batinku jadi tidak tenang.

    Dari situlah kemudian rencana memugar makam Mama semakin kukedepankan dan tak lagi kutunda-tunda.

    Tanggal 22 Desember 2021 yang lalu pemugaran makam mulai dikerjakan. Ayok, adik iparku, mengabarkan bahwa proses pemugaran butuh dua hari. Tanggal 24 Desember sore Ayok mengirimkan foto tentang perkembangan pemugaran dan tepat di Hari Natal, Ayok, Chitra dan keempat anaknya pergi ke makam untuk nyekar dan dari foto yang mereka kirimkan makam Mama sudah selesai dipugar.

    Malam harinya, akupun berangkat ke rumah baru yang telah kuterima dari developer dan untuk melanjutkan tradisi orang Jawa dalam pindahan rumah, untuk pertama kalinya aku menginap seorang diri.

    Aku lega.

  • Catatan Peringatan 25 tahun Lulus dari De Britto

    Catatan Peringatan 25 tahun Lulus dari De Britto

    Sebelum angka tahun berubah jadi 2022, rasanya tulisan ini memang harus kupublikasikan sebagai penanda bahwa di tahun ini, 2021, aku dan kawan-kawan SMA Kolese De Britto angkatan tahun 1996 merayakan ulang tahun kelulusan yang ke-25. Syukur kepada Allah!

    Tapi sebenarnya apa yang penting dari penanda kelulusan ini?

    Penting-nggak penting sebenarnya…

    Bagi sebagian orang, angka tahun hanyalah penanda. Apa istimewanya 25 tahun kelulusan dibandingkan dengan 15 tahun kelulusan? Atau dengan 30 dan 45 misalnya? It’s only a number!

    Bagi segelintir yang lain ha mbok yakin ada yang luweh-luweh bergembira menanggapi kelulusan 25 tahun! 25 tahun? De Britto? Njuk ngapa?

    Meski demikian, kalau boleh menerakan sesuatu yang semoga jadi sedikit lebih penting dari peringatan ini adalah, mari kita gunakan momentum ini untuk meninjau diri kita sebenarnya; sudah sejauh apa kita ‘pergi’ dari De Britto selama ini? Atau… jangan-jangan meski sudah lulus 25 tahun lalu tapi pikiran dan hati kita masih di situ-situ saja?

    Mereka-mereka yang seperti ini adalah kaum yang menurutku belum bisa move on.

    Ketidakbisaan untuk move on tak hanya soal bagaimana seseorang selalu mengait-kaitkan hidup masa kini dengan pengalaman masa lalu di De Britto tapi juga dalam menilai kawan sesama lulusan.

    Misalnya ada seseorang yang dulu waktu masih SMA sukanya mabuk-mabukan lalu sekarang ketika yang bersangkutan diajak mabuk selalu berkelit kemudian dicap “Nggaya!”, “Sombong!” atau “Sok Alim!” Padahal mungkin bukannya sudah jadi alim tapi karena barangkali merasa sudah nggak level kalau kelas mabuknya cuma alkohol hahahaha….

    Atau sebaliknya, ketika ada orang yang dulu veteran, ngentutan, mabuk-mabukan lalu sekarang sudah jadi pengusaha sakses beromset milyaran (dan masih mabuk-mabukan) lalu kawan-kawan lain tetap saja mencibir,

    “Hayah tenanan po?”
    “Ah, gek-gek kuwi duwite wong tuwane!? Kan memang sugih kawit ndisik!”

    Maka move on lah! Hidup ini berubah kenapa kalian tidak?

    Sejak kita lulus dulu hingga kini ada sekian masa yang terjadi dan kita tidak bisa menghentikan Tuhan dan kehidupan dan apa saja untuk mengubah kita dan mereka… 

    Orang yang semula kita kenal setia kawan, jangan kaget kalau sekarang jadi cenderung malah ‘makan teman’. Orang yang tadinya cenderung pendiam dan alim, eh sekarang malah jadi kosok baline, ndugal salah umur… yang kayak gitu ya ada….

    Dalam penggal akhir tulisan ini, aku jadi teringat penggalan lirik Mars De Britto karya Romo L. Moerabi, SJ.

    “Ingat selalu di dalam hatimu ialah de britto contohmu!”

    Kenapa Romo Moerabi tidak meminta kita mengingat menggunakan otak? Barangkali karena makin lama memori otak makin terbatas baik karena fisik maupun memang sudah seharusnya memori otak digunakan untuk hal-hal yang lebih penting dan kontekstual dari sekadar mengingat masa lalu!

    Ingatlah menggunakan hati!

    Mengingat menggunakan hati tidak perlu memori. Mengingat menggunakan hati adalah mendalami dan menghidupi. Apa dan siapa yang didalami dan dihidupi? Ya Santo Yohanes De Britto dan ajaran-ajarannya sebagai seorang Yesuit!

    Jadi kalau sekarang kamu lupa tentang bagaimana dulu pernah nggabrul teh-nya Si Bob atau nantang gelut Pak Kushadi misalnya, bersyukurlah karena memang kedua hal itu adalah aib dan tidak layak untuk diingat-ingat terlalu lama…

    Contoh mengingat menggunakan hati tentang ajaran De Britto barangkali bisa dilihat dari bagaimana bijaksananya angkatan 96 dalam menyikapi pesta 25 tahun kelulusan.

    Setelah melalui refleksi nan panjang terutama terkait kondisi pandemik yang berlarut-larut dan sempat memburuk, kawan-kawan angkatan memilih tidak mengadakan pesta meriah. Uang bantingan yang lama dipersiapkan justru dipakai mengongkosi acara suntik vaksin gratis di sebuah daerah pelosok di Jogja sana.

    Ini adalah bukti bahwa yang diingat nggak melulu kenangan masa lalu! Yang diingat adalah ajaran yang pernah diberikan di masa itu! Ajaran bahwa kita ini diajak berguna bagi sesama, migunani tumraping liyan, man for others lah! Mereka, eh kami, dan semoga kita semua diajak untuk mendalami dan menghidupi hal itu.

    Bagi Tuhan dan Bangsaku

    DV, angkatan 96.

  • Pindahan…

    Pindahan…

    Setelah kurang lebih enam tahun tinggal di rumah kontrakan, pada 1990, kami sekeluarga akhirnya bisa memiliki rumah sendiri.

    Rumah itu berdiri di sebuah lahan yang semula sawah. Papa membeli lahan dari seorang pedagang kaya yang tinggal di Semarang, aku lupa namanya. Letaknya di Jalan Kaswari No. 24 Kebumen dan untuk memudahkan penamaan, dalam tulisan ini kuistilahkan sebagai ‘Rumah Kaswari’. Jaraknya sekitar 4 km dari rumah kontrakan kami di Jl Bengawan No. 32 Kebumen.

    (Gambar di atas difoto Google pada Sept 2019 silam. Rumah tersebut adalah rumah kontrakan di Jl Bengawan No. 32 Kebumen, Jawa Tengah. Hingga sekarang masih sama seperti dulu kutempati dari 1985-1990)

    Beda dari sebagian kalangan waktu itu yang membangun rumah tanpa memperhatikan unsur estetika, Papa lebih dulu berkonsultasi dengan arsitek untuk mendiskusikan model rumah yang cocok dengan idenya. Sebelumnya Papa juga banyak membeli majalah tentang rumah untuk mencari inspirasi design terbaik.

    Adalah Pak Maksum, arsitek sekaligus pemborong kenalan Papa yang membantu mewujudkan mimpi itu.

    Beberapa draft design dikerjakan oleh Pak Maksum dan dikonsultasikan kepada Papa dan Mama dan aku untuk didiskusikan. Chitra, adikku, waktu itu masih lima tahun jadi ya nggak diajak rembugan.

    Setelah draft disetujui, pembangunan pun dimulai.

    Hampir seminggu sekali, kami diajak Papa melihat perkembangan pembangunan Rumah Kaswari. Tak jarang kami mampir, Mama membawa beberapa kotak nasi beserta lauk-pauk untuk diberikan ke para tukang yang bekerja. Sesuatu yang seharusnya tak perlu dilakukan karena toh mereka sudah dapat jatah makan dari Pak Maksum. Tapi Mama keukeuh, “Nek wareg ki mengko gaweane tambah apik…” begitu katanya.

    Beberapa bulan kemudian atap dinaikkan. Sesuai dengan tradisi, Papa mengajakku tidur di rumah yang baru setengah jadi itu. Kami membawa tikar dan senter karena bangunan belum disambungkan ke saluran listrik.

    Dua bulan kemudian, rumah pun jadi. Kami sangat kagum dengan hasil akhirnya. Sebuah rumah yang sangat modern di jamannya. 

    (Gambar di atas difoto Google pada Sept 2019 silam. Rumah tersebut adalah Rumah Kaswari di Jl Kaswari No. 24 Kebumen, Jawa Tengah. Dari penampakan, rumah ini sudah berubah total dibandingkan dengan waktu pertama kali kami membangunnya, 1990. Tampaknya rumah ini sudah beberapa kali berpindah tangan…)

    Selain ruang tamu, ada empat kamar tidur dan dua kamar mandi. Ada ruang keluarga yang nyambung dengan ruang makan. Ada dapur, gudang serta garasi. Membangun garasi adalah sebuah langkah visioner Papa. Maksudku, meski waktu itu kami belum punya mobil tapi Papa sudah berangan-angan untuk memilikinya hehehe…

    Oh ya, bagian yang paling menarik adalah taman tak beratap yang terletak di sebelah ruang keluarga. Di taman itu selain ditanami tanaman-tanaman hias juga ada kolam ikan yang diberi air terjun buatan yang bergemericik suaranya. Di pinggir taman, Papa menggantungkan kurungan burung Poksay yang lumayan pandai berkicau.

    Rumah juga memiliki halaman belakang yang luas. Saking luasnya, Papa membuat sebuah blumbang, kolam ikan yang sayangnya sampai kami pindah ke Klaten delapan tahun kemudian, kolam itu tak pernah terisi ikan.

    Lantai ruang tamunya keramik berukuran 20x20cm. Sementara ruangan lainnya, karena keterbatasan dana, menggunakan tegel biasa yang ditutup karpet warna abu-abu.

    Oh ya, sisi depan rumah belum kuceritakan.

    Di jendela kamar depan dan di ujung bale-bale atap, Papa mengimbuhkan ornamen tradisional ke-bali-bali-an berbahan baku semen. Ada dua pilar putih di sisi kiri dan kanan beranda depan. Lalu ada taman depan yang ditanami dua pohon cemara dan selalu kami hias dengan lampu ketika Natal menjelang seperti saat ini, saat tulisan ini kurawi. Hingga beberapa tahun kemudian, hampir setiap orang yang lalu-lalang selalu menoleh dan memperhatikan rumah indah kami. Mungkin kalau waktu itu sudah ada teknologi handphone ber-kamera dan social media, rumah kami akan sering muncul di banyak feed akun instagram sebagai latar belakang selfie mereka.

    Rumah jadi tapi tak langsung kami tempati.

    Selain karena kontrakan masih tersisa hingga beberapa bulan, waktu itu kami belum punya mobil pribadi jadi Mama dan Papa memindahkan barang sedikit demi sedikit. Kadang pinjam mobil kantor tempat Papa bekerja, kadang menyewa truk pengangkut pasir yang sering berlalu-lalang mengambil pasir di Sungai Lukula depan rumah kontrakan untuk membawa kulkas, lemari, tempat tidur dan yang lain.

    Begitu semua barang dipindah, hingga beberapa minggu berikutnya Mama dan Chitra berada di Rumah Kaswari sejak pagi hingga sore untuk meng-unload barang dan menempatkan satu per satu ke tempat barunya. Dia juga membawa mesin jahit lalu mulai mengukur dan menjahit korden dengan tangannya sendiri. 

    Di masa-masa itu, sepulang sekolah aku nggak langsung pulang ke rumah kontrakan tapi naik sepeda dengan teman-teman yang sejalan ke Rumah Kaswari. Rasanya senang sekali karena punya banyak teman baru seperjalanan.

    Baru setelah sore, Papa datang membawa mobil kantor lalu ramai-ramai pulang ke Rumah Bengawan sementara aku naik sepeda menguntit di belakangnya.

    Ketika rumah sudah siap, Eyang Slamet Putri dan Eyang Pranyoto Putri rawuh ke Kebumen dan kami pindah menempati rumah baru secara resmi.

    Hari-hari ini sekitar tiga puluh tahun kemudian aku melakukan hal yang sama.

    Rumah baru yang ada dalam impian dan akhirnya kubangun sejak tahun lalu telah diserahterimakan beberapa hari yang lalu. 

    Hampir setiap hari kami wira-wiri mengangkuti barang satu persatu dan memori tentang masa lalu itu juga jadi wira-wiri di pikiran. Hadir menjadi penyemangat sekaligus meruapkan rasa syukur nan haru bahwa aku boleh menikmati kesempatan yang sama seperti yang dirasakan orang tuaku dulu…

    Matur sembah nuwun, Gusti!

  • Catatan tahun ke-44

    Catatan tahun ke-44

    Meski sudah mengulanginya selama empat puluh empat kali tapi toh hingga kini hari ulang tahun bagiku tetaplah istimewa.

    Selalu saja ada rasa deg-degan yang tak tahu sebab-musababnya.

    Selalu ada rasa penasaran tentang siapa orang pertama, selain istri, yang akan menyelamatiku di tengah malam buta. Btw kalau aku menuliskan kalimat terakhir ini sebelum era telekomunikasi canggih dan sosial media barangkali kalian akan bertanya, “Tengah malam buta? Orang lain selain istriku? Emang istri Mas Donny ada berapa?” Hayah!

    Semalam aku baru pulang dari sebuah acara kumpul-kumpul musik dengan beberapa pemusik Indonesia di Sydney sekitar jam 10:30 malam.

    Sesampainya di rumah, Joyce dan anak-anak belum tidur. Mereka sibuk menyiapkan barang-barang yang mulai akan kami pindahkan ke rumah baru. Ya, rumah baru yang selesai dibangun adalah kado ulang tahunku tahun ini!

    Sekitar jam 11 aku mengajak anak-anak tidur dan Joyce turun ke bawah untuk membuatkanku mie goreng instan pedas ala Korea plus lima butir bakso dan telur rebus dua biji. Sebagai pemanis, beberapa lembar rempeyek kuimbuhkan di sana.

    Secara khusus aku memang minta hidangan ulang tahunku seperti itu tahun ini.

    Jam dua belas lewat, setelah kecupan Joyce mendarat di bibir lengkap dengan doa-doanya, gelontoran mie instan pun mendarat di bibir lalu mulut lalu perut tanpa malu-malu! Tengah malam makan mie instan? Ya nggak papa lah sekali-kali!

    Menjelang tidur, aku melakukan beberapa ritual ulang tahun yang kulakukan beberapa tahun terakhir ini.

    Pertama, membuka akses orang lain untuk bisa menuliskan pesan di wall Facebook-ku. Secara khusus, setiap setahun sekali aku membuka gembok ini supaya orang-orang mudah menuliskan pesan dan ucapan selamat ulang tahun.

    Kedua, membuat foto diri bertema ulang tahun. Tahun ini, temaku adalah “Dalam Menua Saya Memilih Bahagia dan Tetap Keren Sekeren-kerennya!” Foto itu lalu kushare di akun-akun social mediaku.

    Tadi pagi begitu bangun tidur, kudapati sudah banyak orang berkomentar dan tak satupun dari komentar itu yang kulewatkan. Membalas pesan yang masuk bagiku adalah hal yang sangat penting.

    Aku tahu banyak dari kalian memilih untuk membiarkannya lalu di akhir hari kalian menulis, “Terima kasih atas doa dan ucapan yang masuk. Maaf nggak bisa dan nggak sempat balas satu per satu!”

    Apakah orang yang menulis pesan akan tersinggung dengan balasan itu? Bisa jadi tidak karena sudah biasa dibegitukan.

    Tapi persetan dengan tersinggung nggak tersinggungnya kalian, bagiku ada beberapa prinsip dasar yang hendak kukemukakan.

    Pertama. Kamu sibuk? Sesibuk apa sehingga gak sempat membalas pesan satu per satu? Adakah orang lain yang mengirim ucapan itu lebih tidak sibuk sehingga kamu mengatasnamakan diri menjadi lebih sibuk dari mereka? Katakanlah hari ulang tahunmu memang benar-benar membuatmu sibuk, kan ada hari-hari lain sesudahnya untuk membalasnya satu per satu.

    Kedua. Hakikat ulang tahun bagiku adalah kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan hidup di angka usia yang baru. Jadi kalau kemudian kamu bilang nggak sempat, nggak bisa, bukankah itu sesuatu yang kontradiktif?

    Di atas itu semua, pesan ucapan ulang tahun adalah doa!

    Doa yang dipanjatkan dari si pengucap kepada Tuhan untuk kita yang berulang tahun. Jadi ketika kita membalas ucapan bagiku itu seperti persetujuan, sebuah peng-amin-an dari doa-doa itu.

    Hingga tulisan ini dirawi aku masih tak henti-henti menjawab ucapan ulang tahun sembari bekerja… eh, bekerja sembari membalas ucapan itu.

    “Tuh, Don! Kamu sih enak masih bisa kerja sambil balas pesan, aku kan nggak bisa karena aku benar-benar sibuk dan benar-benar kerja!”

    You’re right! Wkwkwkwkw!

  • Ternyata kita bisa hidup tanpa TV

    Ternyata kita bisa hidup tanpa TV

    Sekitar bulan September 2021 lalu, di area tempatku tinggal mengalami pemadaman listrik secara terencana. 

    Sesuai pemberitahuan, pemadaman terjadi sekitar delapan jam di siang hari. Ketika akhirnya listrik kembali menyala, kami mendapati televisi kami nggak ikutan nyala untuk selamanya alias rusak.

    Waktu aku tanya ke salah satu teman di Indonesia yang mengerti soal ginian, mereka heran, “Lho memangnya TV mu nggak kamu colokin ke powerpoint yang ada fuse pengamannya?”

    Waktu aku lagi berpikir untuk mencerna apa itu fuse pengaman, kawan tadi buru-buru menjawab, “Ah, kamu pasti nggak ngeh apalagi di Australia kan jarang ada mati lampu! Pasti kamu nggak aware soal ginian, Don!”

    Hari-hari berikutnya setelah itu hingga setidaknya pada hari ketika tulisan ini kurawi adalah hari-hari yang kami lalui tanpa TV.

    Awalnya berat.

    Biasanya aku dan Joyce, istriku, hampir setiap hari meluangkan waktu hingga lepas tengah malam di depan TV. Kami menonton apa saja mulai dari free air tv program, DVD-DVD lawas koleksi kami, Netflix, Disney plus hingga channel-channel nggak jelas di Youtube.

    Setelah nggak ada TV, jam 9 malam kami semua sudah naik ke atas. Sambil tiduran menunggu kantuk datang, kami bisa diam dan asyik dengan ‘tv’ kami masing-masing; telepon genggam.

    Dan ternyata kami asik-asik aja melewatkan malam dengan cara seperti itu.

    Tanpa TV? Bisa – nggak bisa

    Jadi, tanpa TV? Kami bisa!
    Tapi sebentar… bagaimana tanpa tontonan yang diakses melalui layar pengganti TV? Sebenarnya kami tetap nggak bisa!

    Malah dengan tetap nonton tayangan di layar kami masing-masing bagiku berpotensi untuk memunculkan satu persoalan baru: semakin terisolasinya kami sebagai anggota keluarga meski kami hidup bersama! Kami jadi tak perlu mengalah dan tak perlu untuk berdiskusi menentukan tayangan terbaik karena toh semua sudah punya layarnya sendiri-sendiri. Ini baru soal urusan tayangan, bagaimana kalau merembet ke hal lain dimana kami lalu tak terbiasa untuk berdiskusi untuk memutuskan keputusan-keputusan bersama? 

    Aku berkeputusan untuk segera membeli TV baru ketika uang sudah terkumpul!

    Joyce sempat nggak setuju dengan ide ini karena uang yang nantinya terkumpul bisa dipakai untuk membeli keperluan lainnya. Tapi aku tetap keukeuh. 

    Di depan TV yang satu, aku bisa terus belajar mengalah dari Joyce untuk nonton film horor meski aku gak suka! Joyce pun bisa kuajak untuk belajar mengerti keasyikan nonton highlight pertandingan LA Lakers!

    Odilia nggak melulu cuma ngertinya aneka ragam masakan di channel-channel Youtube yang disubscribe-nya dan Elodia pun nggak hanya jago bangun rumah dan mengisi perkakas di game Roblox-nya!

    Siapa yang membutuhkan imajinasi jika kita sudah punya televisi
    (Mars Penyembah Berhala – Melancholic Bitch)

  • TAMIYA SUPER ASTUTE Jr.

    TAMIYA SUPER ASTUTE Jr.

    Sebagai anak yang dibesarkan dalam rahim waktu 90an, Tamiya adalah mainan yang menemaniku dan banyak anak-anak seusia di awal era emas itu. Bahkan waktu duduk di bangku SMPN 1 Kebumen (1990 – 1993), pernah ada masanya  hidup bagiku hanya diisi dengan tamiya dan bersekolah. Yang terakhir kusebut itupun hanya sekadar basa-basi karena intinya tetap ngobrol dengan teman untuk membahas Tamiya, onderdil-onderdilnya serta cara memodifikasinya.

    Tamiya sebenarnya adalah nama sebuah perusahaan Jepang yang fokus di bidang hobby didirikan oleh Yoshio Tamiya pada 1946. Tamiya yang kusebut di atas dan di sekujur tulisan ini mengacu pada salah satu produk Tamiya berupa replika mobil balap yang memerlukan proses perakitan sebelum bisa dimainkan. Tamiya digerakkan oleh batu batere yang memutar dinamo. Dinamo memutar beberapa mekanik plastik yang terhubung ke empat roda makanya seri produk tersebut diberi nama 4WD, 4 wheel drive.

    Meski diproduksi sejak 1982, replika mobil baru populer di Indonesia di awal 1990an. Kemunculannya didukung serial film televisi Dash Yonkuro yang dulu diputar setiap minggu pagi.

    Keasyikan bermain Tamiya sebenarnya tak hanya saat merakit rangka dan bodi di awal saja. Bagaimana kita memodifikasi supaya menang ketika diadu di lintas pacuan adalah rabbit hole yang tak pernah ada akhirnya. Waktu itu, hampir setiap pusat perbelanjaan dapat ditemukan ‘lintasan tamiya’ dan perlombaan yang digelar nyaris setiap hari minggu.

    Modifikasi tamiya menyangkut hampir segala aspek. 

    Supaya melaju lebih kencang, dinamo mobil harus diganti dengan yang lebih kencang putarannya. Kalau mobil sudah kencang PR selanjutnya adalah bagaimana supaya tidak terpental ketika menikung di kelokan. Untuk itu kita perlu memodifikasi bemper depan, sayap serta akar (bemper belakang). Tak lupa roda dan ban diganti supaya lebih stabil. 

    Bagaimana pula ketika mobil melewati fly over (jalan layang)? Jika tidak ingin melayang dan keluar lintasan kita harus mengakalinya dengan memasang pemberat dari timbal yang harus benar-benar kita perhitungkan supaya fungsinya berjalan sebagaimana mestinya. Tapi bagaimana kalau semua aksesoris itu malah membuat mobil tidak maksimal? Ya dikulik! Ya dimodifikasi! Disitulah kenikmatannya bermain Tamiya!

    Beruntung… sekali lagi beruntung hobi itu tak berumur panjang! Setelah banyak rupiah terbuang, aku mengakhiri hobi Tamiya ketika hendak memutuskan pindah ke Jogja untuk memulai studi di SMA Kolese De Britto Yogyakarta, 1993.

    Lima belas tahun berikutnya, 2008, ketika hendak memutuskan meninggalkan jogja untuk pindah ke Sydney, Australia, ada seorang kawan menawariku untuk membeli mobil Tamiya Super Astute Jr. masih dalam keadaan tersegel. Atas nama kenangan, akupun membelinya.

    Kembali terjun dalam rabbit hole tentang modifikasi Tamiya yang tak berkesudahan? Tentu tidak! Keledai pun tak jatuh lebih dari sekali di lubang yang sama katanya.

    Mobil kurakit dan kupasang sebagai hiasan sebelah-menyebelah di meja kerja dengan mainan kapal ‘othok-othok’ yang juga akan kuulas minggu depan.

    Bagiku, keduanya, adalah saksi bagaimana aku bertumbuh dalam masa anak-anak dan remaja yang menyenangkan dan sangat layak untuk dikenang. Menuliskan dan memotret lalu mempublikasikannya di sini adalah salah satu usahaku untuk memperpanjang kenangan itu…

  • Cinta, beda rasa meski bentuknya sama

    Cinta, beda rasa meski bentuknya sama

    Seminggu lalu ada seorang kawan bertanya, “Apakah cinta harus disertai baper (bawa perasaan) dan apakah semua yang baper itu pasti cinta?”

    Aku gak menemukan jawaban tapi penggal pengalaman yang barangkali bisa kalian jadikan acuan.

    Jadi ceritanya minggu lalu aku pergi belanja kebutuhan mingguan di sebuah pusat perbelanjaan dekat rumah. DI sudut gedung aku menemukan sebuah papan portable berisi tempelan potongan-potongan kertas seperti tampak di bawah ini.

    Perasaan tiba-tiba membiru, lidah nan kelu dan mataku sebak berkaca. 
    Kenapa jadi baper gini?  gumamku.

    Padahal ini sesuatu yang jamak karena di negara ini utamanya menjelang hari-hari istimewa seperti Natal, Paskah, Hari Ibu maupun perayaan Hari Ayah, pihak pusat perbelanjaan menyediakan waktu dan tempat serta material untuk dimanfaatkan seperti ini… tapi ya tetep aja nggak se-baper ini!

    Apa mungkin karena si kecil bangsat bernama Covid-19 yang terlalu jago mereplika diri di tubuh mamalia yang mengobrak-abrik hidup lantas membuat kita.. eh aku gampang memeras air mata?

    Apa karena ada begitu banyak pembatasan yang membuat nggak nyaman dan cinta yang wujudnya sama datang dalam sepotong kertas penuh oret-oretan lalu rasanya jadi beda?

    Soal rasa yang beda tapi wujudnya sama aku jadi teringat soal segelas cokelat yang disajikan hangat-hangat. Dua puluh lima tahun lalu, setiap menyeduh di sebuah kamar kost kecil di Jogja rasanya biasa aja. Enak? Ya enak tapi biasa…

    Tapi ketika membelinya di warung burjo dekat De Britto, rasanya enak tapi enaknya beda… mungkin yang bikin udah profesional.

    Beda lagi cerita seorang ‘kawan’ yang hendak kuceritakan. 

    Demi menyambangi mbak pacar yang tinggal di sisi barat daya Kota Budaya, kawan tadi rela kehujanan mengendarai sepeda motor Grand 93 bututnya di tengah hujan lebat dengan petir menyambar dan angin yang sembribit!

    Sesampainya di rumah calon mertuanya yang akhirnya berhasil dijadikannya sebagai mantan calon mertua, ia disambut mbak pacar dengan penuh cinta. Rambut basah karena hujan pun diuwel-uwel mbak pacar dengan handuk, sebuah baju dan celana ganti disediakan dan di atas meja sudah ada segelas cokelat hangat ditemani sekompi kudapan pisang goreng, roti bolu… setoples emping.

    Lain hari, waktu kutanya rasa segelas cokelat hangatnya gimana, kawan tadi menjawab, “Wah, enaknya beda banget! Mungkin karena abis kehujanan…atau mung”

    Aku memangkasnya, “Atau mungkin karena yang bikin seorang profesional dalam urusan cinta dan kamu jatuh ke dalamnya!”

    Terima kasih pandemik, rasa cintanya jadi beda banget, mungkin karena pembatasan!

  • Levi’s 501

    Levi’s 501

    Selain Sepatu Sketchers, aku mengenakan celana jeans Levi’s 501 saat pertama kali datang ke Sydney, Australia, Februari 2008. Dan seperti halnya sepasang sepatu yang kuceritakan minggu lalu itu, celana ini kubeli di Centro, Ambarrukmo Plaza dan hingga kini masih kusimpan. 

    Melbourne 2008 bersama istri dan Rm Bone. Aku mengenakan Levi’s 501 dan Sepatu Sketchers yang hingga kini masih kusimpan dan kukenakan.

    Yang agak sedikit berbeda, Sepatu Sketchers semakin jarang kukenakan karena sol yang kian menipis tapi Levi’s 501 ini masih sering kupakai entah untuk bepergian ataupun hanya sekadar untuk mengetahui apakah lingkar perutku masih sama atau tidak dengan lingkar perutku 13 tahun lalu.

    Dalam photo session kemarin, aku bahkan terkaget-kaget karena celana ini justru sekarang agak kedodoran ketika kukenakan! Pertanda baik karena berarti diet ketatku membuahkan hasil hehehe…

    501 adalah flagship product dari brand Levi’s. Celana ini diproduksi mula-mula untuk pegawai tambang di Amerika, tahun 1873. Levi’s 501 adalah jawaban kebutuhan terhadap celana yang awet dan ‘tahan gempur’! Maklum, pegawai tambang, Brur!

    Aku bermimpi untuk memiliki celana Levi’s 501 sejak duduk di bangku SMA. Seingatku dulu hanya satu atau dua orang temanku yang punya 501 karena harganya selangit! Maka ketika aku berhasil mengembangkan perusahaan di pertengahan usia 20-an dulu, hal mula-mula yang kubeli dengan kelimpahan rejeki waktu itu adalah beberapa celana jeans Levi’s 501. Aku dulu bahkan sampai punya koleksi beberapa. Celana yang kuceritakan di tulisan ini adalah salah satunya dan sekarang jadi satu-satunya yang masih kusimpan. Beberapa yang lain dulu tak kubawa ke Sydney lalu oleh Mama dibagi-bagikan begitu saja kepada para saudara.

    Oh ya, kalian boleh percaya boleh juga tidak, salah satu resep supaya celana jeans awet adalah dengan sejarang mungkin mencucinya.

    Hingga tahun ke-13 dalam hidupnya, celana ini kucuci hanya dua kali saja! Pertama kucuci di laundry langgananku di depan Ambarrukmo Plaza sepulang dari Sydney, 2008. Celana ini kucuci lagi baru tahun 2018 yang lalu ketika aku sudah menetap lama di Sydney. Kalian tak perlu menutup hidung! Percayalah celana ini tidak berbau karena kujemur setelah kupakai dan kuolesi desinfektan sebelum akhirnya kusimpan kembali. Kalaupun tidak percaya bahwa celana ini tidak bau, bersyukurlah karena internet belum bisa menghantarkan aromanya hingga ke depan layar piranti elektrikmu!

  • Tentang Jogja (24): Latihan Musik di Columbia

    Tentang Jogja (24): Latihan Musik di Columbia

    Tahun baru 1994, tapi semangatku untuk kembali ke Jogja dan melanjutkan studi di De Britto nggak baru-baru amat. Usai liburan Natal di Kebumen yang menyenangkan, main bareng teman-teman dan berkumpul dengan Papa, Mama serta Chitra, waktunya kini kembali ke Jogja.

    Mama membantuku mengemas barang termasuk menyelipkan beberapa bungkus klanting, makanan khas Kebumen yang amat digemari Heribertus, kawan sekamarku di Asrama. Dia rupanya melihat gelagatku yang tak begitu bersemangat. “Kowe kok ora semangat ngono to, Le?” tanya Mama dengan senyum tersungging.

    Aku diam saja.

    “Kan kowe dhewe ndisik sing nyuwun sekolah Jogja. Tiwas dibayari larang kok saiki nglokro?” sambungnya lagi.

    “Hmmm, apa aku pindah Kebumen wae yo, Ma? Aku ra krasan tenan ki…” balasku.

    Mama diam saja dan aku mensyukuri sikap diamnya itu. Kalau saja ia menganggukkan kepala, barangkali jalan hidupku mungkin tak seperti sekarang.

    Tepat pukul lima sore, travel Kebumen – Jogja sudah sampai di depan halaman rumah. Aku bergegas naik ke travel, Mama mengantar sampai ke gerbang. 

    “Ati-ati, Le… !” ujarnya.

    Di dalam travel ada SS (silakan klik di sini untuk tahu cerita tentang SS hehehe). 

    “Tante, pergi dulu ya…” sapa SS ramah ke Mama. 

    “Iya, Sil… Donny diajak ngobrol ya biar semangat hehehe…” aku sempat menggerutu dalam hati; aku ini sudah SMA tapi masih diatur seperti anak TK saja!

    Sesudahnya, hidup berjalan seperti biasa. 

    Pagi berangkat ke sekolah, siang pulang. Kalau tiba-tiba mood hilang untuk bersosialisasi dengan kawan-kawan asrama atau rasa insecure kambuh tinggal cabut ke rumah eyang di Klaten.

    Tapi secara tak sadar, lingkar pertemanan mulai tercipta dan semua berawal dari… musik.

    Awalnya adalah Catur a.k.a Brindil, kawan kelas 1. Dia sekelas dengan Yudith di kelas 1-2 dan ikut ekstra kurikuler bersamaku dan Yudith, Shorinji Kempo. Suatu waktu, Catur yang asli Jogja dan berambut ikal itu melihatku memainkan jari-jemari seolah aku bermain gitar. Ini adalah kebiasaan sejak kecil yang bahkan bertahan hingga sekarang!

    “Weh, Mit, kowe iso main gitar, to?” Kermit adalah satu dari banyak panggilanku di De Britto, sesuatu yang bikin aku gak kerasan sebenarnya.

    Aku tersenyum, “Sithik…” jawabku.

    “Ayo latihan! Aku juga main gitar. Gelem ra?” jawabnya.

    Aku sempat diam lama lalu menjawab, “Eh, tapi aku main bass, dudu gitar!” 

    Lalu dia menjawab, “Wah, kebeneran kuwi! Aku butuh bassist!”

    Sebenarnya aku bukan bassist bahkan memegang gitar bass pun belum pernah waktu itu. Sejak SD hingga SMP aku justru getol bernyanyi, ikut lomba sana dan sini. Bahkan kalau kalian ingat ceritaku di sini, saat tes wawancara masuk De Britto pun aku diminta untuk bernyanyi karena di formulir pendaftaran aku melampirkan sertifikat bahwa aku pernah juara lomba nyanyi.

    Tapi kenapa aku tak bilang ke Catur bahwa aku juga bisa nyanyi selain main gitar?

    Atau kenapa aku tak bilang bahwa aku main gitar dan bukannya bass?

    Semua karena rasa insecure-ku yang sangat akut!

    Ketika ditawari Catur untuk main bareng, apapun bentuknya, pikiranku otomatis terbelenggu dalam perasaan tak nyaman dan penuh dengan ‘jangan-jangan’.

    Jangan-jangan, kalau aku mengaku bisa bernyanyi, dia akan mengataiku karena suaraku kayak cewek dan cuma cocok nyanyiin lagu-lagunya Tito Sumarsono… atau malah Ismi Aziz ?!?

    Jangan-jangan, kalau aku mengaku bisa main gitar trus nanti permainanku dibilang jelek?

    Ah! Kenapa nggak ngaku jadi bassist? Karena menurutku posisi seorang bassist selalu di belakang gitaris apalagi vokalis. Senarnya lebih sedikit, permainannya tidak dominan dan kalaupun salah dikit nggak kelihatan hahaha!

    Lalu di suatu siang, aku melihat Catur datang ke kelasku. Dia memanggil dan bicara di depan pintu dengan Wiryo, kawan sekelasku yang ternyata teman dekatnya. Catur melambaikan tangan ke arahku dan mereka tampaknya sedang membicarakanku.

    “Duh, ada apalagi nih?!” batinku. Hubunganku dengan banyak anak di kelas tidaklah terlalu baik waktu itu. Lagi-lagi karena aku sangat insecure, mudah tersinggung dan selalu menarik diri ketika mereka sedang kumpul. 

    Dugaanku tepat!
    Setelah Catur pergi, Wiryo mendatangiku.

    “Mit, kowe iso ngebass to? Kok ora omong ket wingi?!” ujar Wiryo dan kali pertama bagiku melihatnya tersenyum kepadaku.

    OK, aku akan sedikit bercerita tentang Wiryo.

    Wiryo bernama asli Pierna Haris Sasongko. Dia asli Minomartani, sebuah kawasan di sisi timur Condong Catur, Sleman, Yogyakarta. Wiryo termasuk salah sedikit dari anak kelas satu yang menurutku rambutnya cepat sekali panjang. Seingatku waktu itu, selain mereka yang tinggal kelas, hanya ada Stephanus Adjie (kini vokalis grup metal Indonesia, Down For Life), FX Laksana Agung Saputra a.k.a Timbul (kini wartawan senior di Harian Kompas) dan Pittor Saragih (adik kandung alm. Kristupa Saragih) yang rambutnya cepat sekali panjang.

    Kami lantas janjian untuk berlatih musik di studio. 

    Suatu sore Wiryo menjemputku di Asrama menggunakan sepeda motor sipitung warna merah. 

    “Latihane neng endi iki, Wir?” tanyaku agak canggung.

    “Columbia. Neng cerak Selokan Mataram….”

    Aku tak tahu dimana letak Selokan Mataram itu, “Yo wes manut…”

    Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam. Hanya sesekali Wiryo bertanya untuk mengisi kekosongan. “Kowe biasa main lagu opo neng Kebumen?” jawabnya. 

    Aku asal menjawab, “GnR!”

    “Woh, wangun!” jawab Wiryo. 

    “Lagu opo? Mesti Sweet Child O Mine ya?” 

    Aku mengiyakan padahal aku belum tahu lagu itu seperti apa.  Yang kutahu dari GnR waktu itu hanyalah Civil War dan Don’t Cry dari album Use Your Illusion. You Could Be Mine dari mini album Terminator 2 aku juga tahu sih tapi nggak tahu cara main bass-nya hehe. 

    Sesudah sore itu aku lantas pontang-panting pinjam gitar dan pinjam kaset Appetite for Destruction untuk mencari tahu seperti apa lagu Sweet Child O Mine itu dan alamaak, aku mengarang cerita yang salah karena ternyata bassline Duff McKagan waktu itu sulit sangat!

    Lalu sampailah kami di Columbia yang terletak di seberang Selokan Mataram.  Selokan Mataram waktu itu masih begitu sepi tidak seperti sekarang. Sisi utara masih penuh sawah sementara sisi selatan baru beberapa lahan yang berubah jadi rumah dan studio Columbia termasuk salah satu diantaranya. Pemilik Columbia seorang engkoh-engkoh dan aku begitu kagum masuk ke dalam studionya karena begitu mewah dan beda banget dengan studio musik yang pernah kumasuki di Kebumen. 

    Di dalam ruangan studio sudah ada Catur yang memegang gitar, lalu seorang yang tak terlalu tinggi dan bertubuh agak gempal dengan rambut ikal dan janggut yang maju ke depan. “Mit! Iki kenalke Armi! Vokalis!” Aku menyalaminya. Dari balik set drum, seorang lain berdiri dan mengulurkan tangan, “Aku Havid!”

    Armi dan Havid, keduanya bukan murid SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Mereka dari SMA 4, sepantaran dan teman ngeband Wiryo. Belakangan, mereka bertiga membentuk Cross Bottom bersama Ajie (gitar) dan Pagon (bass). Cross Bottom dikenal sebagai band Jogja terkenal tahun 90an bahkan pernah rekaman di major label Jakarta meski Havid dan Wiryo tak lagi di sana.

    Akupun mengambil bass guitar dan sok yakin bisa aja.

    “Biasa nganggo pick opo fingering kowe, Mit?” tanya Catur dan aku lagi-lagi bingung. Kalau pick pasti mirip Duff McKagan kalau pakai fingering pasti mirip Flea-nya Red Hot Chilli Peppers? “Fingering!” jawabku.

    “Wangun!” Armi nyeletuk.

    Lalu Everything About You (Ugly Kid Joe), Zombie (The Cranberries), Come Out and Play (Off Springs) dan When I Come Arround (GreenDay) kami mainkan. Tak ada satupun yang pernah kumainkan sebelumnya tapi aku merasa lega karena mengaku sebagai bassist jadi tugasku hanya mengikuti permainan Wiryo dan Catur saja waktu itu.

    Sejam berlalu, setelah urunan 500 rupiah per orang untuk mengongkosi studio kami nongkrong di pos ronda yang terletak di seberang studio sambil menunggu matahari terbenam. Sore itu, bisa dibilang adalah kali pertama aku punya teman asli Jogja dan bisa bercanda lepas bersama mereka tanpa merasa takut apalagi canggung. Pertama kali juga aku merasa luweh dipanggil Kermit atau Bathuk atau apapun dan semua itu terjadi karena… musik.

    Lama tak mendengar kabar tentang Catur, beberapa tahun lalu dari grup WA kawan-kawan De Britto angkatan 1996, aku mendapatkan informasi bahwa ia meninggal dunia karena sakit. 

    Aku langsung mencari konfirmasi dari Wiryo yang waktu itu tinggal di New Zealand dan aku sudah bermigrasi ke Australia. Kini Wiryo tinggal di Switzerland.

    R.I.P Catur!

  • Sepatu Sketchers

    Sepatu Sketchers

    Hingga saat tulisan ini kurawi, aku masih menyimpan sepatu yang kukenakan ketika pertama kali terbang dari Jogja ke Sydney untuk nikah sipil, Februari 2008. Sepasang sepatu ini ber-merk Sketchers.

    Ide membeli Sketchers datang dari Momon, kawan lamaku. September 2007 dia datang dari Jakarta ke Jogja untuk berwisata. 

    Momon ‘Beyondsky’ adalah seorang blogger lawas yang pernah tinggal di Sydney dan menggemari dunia fotografi. Ketika aku menemaninya ke Prambanan untuk photo hunting, aku baru ‘ngeh’ bahwa sepatu yang dikenakannya OK juga. “Merk Sketchers, Don! Loe cari aja di Jakarta… Nggak yakin gw kalau ada di sini (Jogja)…” ucapnya. (Foto di bawah adalah sepasang kaki dan sepatu Momon. Kuambil secara candid di hari itu saat Momon sedang duduk di dinding batu candi …)

    Tapi aku nggak perlu pergi ke Jakarta untuk mendapatkannya. Waktu jalan-jalan ke Centro, Ambarrukmo Plaza, aku melihatnya dipajang di etalase dan bergegas mencoba lalu membelinya. Harga persisnya aku lupa tapi ada di kisaran satu juta. Sebuah harga yang cukup mahal untuk sepasang sepatu kala itu. Centro akhirnya tutup Maret 2021 silam.

    Yang kusuka dari Sketchers-ku, meskipun bentuknya sneakers tapi bahan bakunya didominasi kulit. Nyamannya dapat, trendinya pun ok lah. Belum lagi kekusaman kulit yang didapat karena sering kupakai membuat karakternya muncul begitu kuat.

    Hingga beberapa tahun setelah berdomisili di Sydney, sepatu ini masih cukup sering kupakai meski koleksi sepatu baruku bertambah. 

    Sayangnya karet sol sepatu kian menipis tanpa kenal kompromi. Hal ini membuatku semakin jarang mengenakannya. Sepatu ini lebih sering mangkrak di rak meski masih terlalu pagi untuk berpikir membuangnya. Aku berencana mengganti solnya dengan sepasang yang baru meski untuk itu barangkali harganya akan lebih mahal daripada harga asli sepatunya dulu.

    Ah, nggak papa! 

    Uang bisa dicari sementara kenangan kalau tak ada lagi yang merepresentasi seperti sepatu ini, ia harus dicari di ceruk ingatan yang sayangnya juga semakin banyak menghablur diterjang lupa.

  • Tentang Jogja (23): Nonton di Empire 21 atau Regent 21?

    Tentang Jogja (23): Nonton di Empire 21 atau Regent 21?

    Empire 21 dan Regent 21 adalah dua nama bioskop yang letaknya sebelah-menyebelah di Jl Urip Sumoharjo alias Jl Solo. Keduanya dulu dikenal sebagai gedung pemutar film-film box office Hollywood berlabel 21 yang mula-mula di Jogja. Kehadirannya, terutama Empire, adalah penanda akhir daur hidup bioskop-bioskop lawas Jogja yang sempat jaya di era 70-80an semacam Ratih, Senopati, Widya dan… Royal, bioskop mungil nan tak kalah usangnya yang berada tepat di seberang jalan.

    Bukan penggemar ‘nonton’

    Aku sendiri sebenarnya bukan penggemar nonton film di bioskop. Waktu kecil aku selalu menangis ketika diajak Mama dan Papa nonton. Aku takut berada dalam ruang gelap. Bukan hanya takut hantu tapi lebih dari itu, kalau tiba-tiba terjadi gempa bumi lantas bagaimana caraku untuk melarikan diri dari gedung. Udik ya? Bagiku sih unik hahaha!

    Aku juga trauma dengan G-30/S/PKI yang menyeramkan itu. Film propaganda itu dulu pertama kali diputar di bioskop baru sesudahnya di televisi. Papa dan Mama mengajak nonton di Bioskop Star waktu kami masih tinggal di Kebumen.

    Waktu itu kalau tidak salah aku masih duduk di kelas 1 SD dan sepanjang film yang terlalu panjang itu, aku berkeringat dingin, ngumpet di ketiak Mama dan berulang-ulang bertanya, “Isih suwi, Ma?” Mama menjawab, “Sik to Le, lagi seru iki…” sementara Papa sibuk makan kwaci sambil menganalisa jalannya film… habis jenderal ini lalu jenderal siapa lagi yang diculik…

    Jadi waktu pindah ke Jogja, 1993, dan banyak kawan di asrama menawariku nonton bareng di Empire ataupun Regent, awalnya aku menolak apalagi setiap akhir pekan aku memilih pulang ke Kebumen.

    Tapi lama-kelamaan pertahananku runtuh juga. Banyak kawan cerita kalau waktu nonton mereka bertemu dengan banyak cewek-cewek stece (Stella Duce 1 Yogyakarta). Mataku pun berbinar-binar membayangkan… ya hanya bisa membayangkan aja sih!

    Pertama kali nonton di Empire

    Film pertama yang kutonton di Empire adalah Fugitive (1993). Aku dan teman-teman nonton pertunjukan jam 7 malam. Berangkat dari Asrama sekitar jam setengah enam kami nyegat bis kota dari IAIN Sunan Kalijaga lalu turun di dekat pos polisi pertigaan Demangan, jalan kaki sekitar seratus meter saja jauhnya. Empire berada di lantai atas sebuah gedung baru sementara lantai bawahnya ditempati toko swalayan Hero. Waktu pertama kali masuk ke sana aku begitu terheran-heran, kenapa bioskop harus semewah ini? Lantai marmer, tangga yang begitu lebar dan lampu kristal yang mewah di tengah-tengah ruang tunggu. Sofa empuk warna merah beludru…

    Bukan cuma itu, mereka yang datang… kenapa harus berpakaian kece nan trendi? Bukankah nonton film itu berada di ruangan gelap dan tak kan keliatan oleh orang lain setrendi apapun kamu?

    Perbedaan harga tiket Empire dan Regent

    Harga tiketnya kalau tidak salah 3500 rupiah per pertunjukan. Seribu rupiah lebih mahal dari Regent.

    Perbedaan ini awalnya tak terasa tapi ketika makin ketagihan nonton, ternyata besar juga!

    Bayangkan, seribu rupiah kala itu bisa untuk ongkos makan sepiring pecel lele plus nasi satu setengah porsi dan teh panas manis! Itupun masih ada kembalian dua ratus lima puluh rupiah banyaknya!

    Atau kalau mau makan ‘Gudeg Kayu’ yang nyam-nyam itu, seribu rupiah masih susuk satus untuk seporsi nasi gudeg ayam telor, teh panas dan kerupuk!

    Atau kalau capek dan malas jalan kaki sepulang nonton, kita bisa pakai delapan ratus rupiahnya untuk ongkos taksi sampai ke depan gerbang asrama!

    Aku jadi lebih sering nonton di Regent meski nongkrongnya di Empire. Jadi setelah beli tiket di Regent, sambil menunggu, aku jalan kaki ke Hero beli kudapan lalu naik ke atas ke Empire bertemu dan nongkrong bersama teman. Ketika pengumuman, “Pintu teater lima telah dibuka…” dan teman-teman mengajak aku masuk, aku pura-pura pamit ke toilet dulu. Begitu mereka benar-benar masuk, aku lalu turun dan kembali ke Regent untuk nonton film yang sama.

    Waktu akhirnya aku punya pacar (1996), aku tak punya pilihan! Masa sama pacar harus bohong? Masa pacar diajak nonton di Regent tapi nongkrong di Empire? Akupun jujur bahwa uang jajanku pas-pasan dan pacarku waktu itu menerima hal tersebut. Ia pun tak keberatan untuk nonton di Regent dan sesekali saja di Empire. Dalam percakapan, kami sering membahas kenapa perbedaan ongkos terjadi.

    Empire dan Regent, selain harga beda lainnya apa?

    Dari sisi tempat? Keduanya menurutku OK.
    Kalau Empire lebih baru ya karena ia berada di bangunan yang lebih baru dari Regent. Kalau Empire berada di atas Hero jadi kita gampang untuk membeli kudapan dan minuman sebelum nonton, ah.. jarak Regent ke Hero juga gak beda jauh kok!

    Film yang diputar pun sama!
    Empire muter Braveheart, Regent juga. Mel Gibson-nya juga sama, panjang filmnya juga gak dipotong (kecuali pas adegan William Wallace lagi mau gituan sama Isabelle tiba-tiba kepotong dan penonton pun kecewa dan ber-hu-hu-hu…)

    Hingga satu saat, aku dan pacarku akhirnya tahu kenapa Regent lebih murah dari Empire. Aku lupa apa judul filmnya tapi waktu itu kita dapat tempat duduk di pinggir dinding yang dilapisi karpet peredam. Film diputar seperti biasa dan semua orang fokus mengikuti jalannya cerita. Lalu tiba-tiba pas lagi hening, pacarku yang duduk tepat di pinggir dinding berteriak histeris. Tikus segede gaban meluncur tanpa permisi dan tanpa aba-aba dari atas ke bawah hanya beberapa senti dari mukanya.

    Jangankan aku, bahkan orang-orang segedung pun kaget dengan teriakan itu dan mereka seontak memelototiku.

    “Opo kuwi?”
    “Ngopo kuwi.. lagi dho ngopo hayo?”

    “Mbok ojo ngaget-ngageti, Mbak?”

    Hingga “Ada apa, Mbak?” …aku lupa ada enggak yang berteriak, “Diapain, Mbak?”

    Sejak saat itu kami nggak pernah nonton di Regent lagi. Kami nggak menyesal karena setidaknya jadi tahu dan membuktikan sendiri kenapa nonton di Empire lebih mahal!

    Outro

    Gedung Empire terbakar di tahun 1999. Regent menyusul beberapa tahun kemudian, uniknya, juga terbakar. Setelah itu, beberapa tahun lamanya Jogja hanya ‘menggantungkan diri’ pada Bioskop Mataram dan lapak-lapak penjual dan rental VCD/DVD baik yang asli maupun bajakan.

    Setelah aku pindah ke Australia, 2008, bekas gedung Empire direstorasi dan muncul Empire XXI sementara bekas lahan Regent tetap jadi ruang kosong parkiran saja. Saat mudik berlibur ke Indonesia, Desember 2018, aku sempat mengunjungi Starbuck Cafe yang menempati area bekas Hero di bawah Empire XXI, ngobrol bersama dua orang kawan lama. Akupun terhanyut dalam nostalgia….

    *Tentang Jogja, adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Cangkir Blirik

    Cangkir Blirik

    Cangkir blirik kupakai setiap hari khusus untuk menyesap kopi. Di toilet, di meja kerja, di depan TV, di mana saja. Kopi yang kutuang kepadanya bisa apa saja. Mau sachet-an, mau bijian pokoknya hitam, pahit, wangi: hajar!

    cangkir blirik

    Cangkir blirik bagi sebagian orang Jawa memiliki nilai nostalgia. Simbah Buyutku, Simbah Padmodihardjo Putri dulu kalau ngunjuk teh tubruk ya pakai cangkir seperti ini. Bahkan dulu cangkirnya kadang sampai borot (bocor : jw) karena terlalu sering dipakai. Dengan bantuan tukang patri keliling yang datang every now and then, ke-borot-an cangkir pun tertutup dan bisa dipakai kembali.

    Semasa tinggal di Jogja dari 1993 – 2008, cangkir blirik beberapa kali kulihat dipakai di warung-warung kecil. Di Angkringan Lik Man, cangkir blirik tidak dipakai untuk menghidangkan minuman tapi untuk ngecom kopi dan teh langsung dari ceret panas sebelum dibagi-bagikan ke gelas untuk dihidangkan.

    Tapi sekarang banyak kulihat di linimasa social media, cangkir blirik dipakai di warung-warung tradisional – modern. Penampakannya beradu dengan banyak simbol hedon nan modern. Agak kontras tapi dunia memang gitu kan?

    cangkir blirik

    Cangkir ini kubeli di Klaten di hari yang bersejarah, 15 maret 2015, hari terakhirku menatap mata Mama yang sayu. Setahun sesudahnya ia berpulang dalam keabadian.

    Cangkir blirik jarang kucuci karena toh kupakai sendiri. Sensasi kerak kopi yang tercipta di permukaan dalam cangkir membuatku semakin menghayati Injil Tuhan, Lukas 11:39 “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.”

    Hahaha berlebihan ya? Tapi beneran kok. Setiap menyeruput kopi aku melihat kerak-kerak hitam itu dan memikirkan betapa hidup ini kadang dari luar keliatan keren tapi dalamya penuh kerak pahit. Apalagi hatimu… eh kok tiba-tiba ada kamu?!

    Hal terakhir yang kupercaya kenapa aku tak seharusnya mencuci cangkir setiap hari, rasa kopi yang kusesap adalah akumulasi dari endapan kopi yang tak kucuci sekian lama dan.. iya bener katamu… endapan jigong bangun tidurku juga sih…

    cangkir blirik
  • Tentang Jogja (22) : ‘Nganyari’ Malioboro Mall dan Big Match… eh Big Mac!

    Tentang Jogja (22) : ‘Nganyari’ Malioboro Mall dan Big Match… eh Big Mac!

    Berdirinya Maliboro Mall di jalan Malioboro adalah sebuah tonggak baru untuk memandang bagaimana berdinamikanya dunia perdagangan retail Jogja sebelum dan sesudahnya.

    Berdirinya Malioboro Mall

    Malioboro Mall

    Jogja sebelum Malioboro Mall adalah Jogja yang lebih arkaik. Beli baju di Ramayana mau makan empek-empek harus jalan kaki ke belakang Ramai. Tapi dengan hadirnya pusat perdagangan seperti mall, beli baju di Matahari, mau makan tinggal naik eskalator ke food court di satu gedung yang sama.

    Hadirnya Malioboro Mall bagiku juga menjadi jawaban rasa penasaranku waktu itu tentang bagaimana sih enaknya nongkrong di mall. Sebelumnya aku hanya bisa membayangkan setelah mencecap informasi di majalah Kawanku atau Hai yang menampilkan megah dan asyiknya nongkrong di PI Mall, Jakarta Selatan. (You know what, aku baru punya kesempatan untuk benar-benar nongkrong ke PI Mall sekitar medio 2000-an karena pacarku waktu itu (dan sekarang jadi istri) adalah anak Jakarta Selatan… Kenorakanku waktu itu, begitu sampai di PIM 1, langsung memegang pagar stainless steel-nya dan menggumam, ‘Oh ini toh yang dulu sering kulihat di majalah-majalah itu?’)

    Aku lupa kapan tepatnya Malioboro Mall berdiri tapi yang pasti ada di paruh akhir tahun 1993.

    Jogja, akhir 1993

    Pertama kali aku datang ke Malioboro Mall adalah di sebuah sabtu, hari terakhir sekolah di tahun itu, beberapa hari menjelang Natal. Mood sedang happy-happy-nya karena liburan di depan mata dan aku menyelesaikan semester pertama di De Britto dengan hasil yang membanggakan, rangking V di kelas!

    Mama memberiku uang hadiah untuk beli baju Natal atas prestasi itu.

    Untuk pulang ke Kebumen, kalau menggunakan travel, biasanya aku naik bus kota Jalur 10 dari muka IAIN Sunan Kalijaga menuju Jl Mataram ke pool Bumen Jaya, tapi kali itu karena special aku menggunakan taksi. Bu Sur, Ibu Asrama, yang kupamiti pun berseloroh, “Woalah, lha kok nggleling men tho kowe, Don!” diikuti suara tertawa kecilnya yang khas!

    Sesampainya di Jl Mataram aku tidak langsung ke pool travel. Aku sengaja pesan tiket travel Jogja – Kebumen jam 4 sore jadi aku masih punya waktu sekitar dua jam untuk jalan-jalan ‘nganyari mall’ di Malioboro Mall.

    Malioboro Mall sebetulnya belum selesai dibangun utuh. Masih ada beberapa lembar seng yang dijadikan pagar untuk konstruksi tergeletak di sana-sini, kaleng-kaleng cat bekas, kertas karung semen semua belum dirapikan benar. Bahkan lahan parkir masih ‘beralaskan tanah’ meski siang itu sudah ada ratusan sepeda motor dijajarkan di sana. 

    Asyiknya nge-mall

    Namun apa yang kulihat di luar sangat kontras dengan yang ada di dalam Mall. Ketika masuk ke mall, aku disambut keset super tebal dan nyaman, pintu otomatis yang membuka dan menutup ketika ada yang hendak lewat, sentoran AC yang begitu dingin disertai harum wewangian buatan! Sementara musik berdentum-dentum di sana-sini memenuhi frekuensi yang bisa didengar oleh ribuan pasang telinga yang ada di dalamnya.

    Naik ke lantai dua menggunakan eskalator aku sempat melihat ada banyak orang bingung bagaimana cara mengakali supaya lancar naik eskalator. Aku sejatinya juga masih agak bingung dan gugup tapi kutenang-tenangkan supaya nggak terlalu kelihatan. Sesampainya di lantai dua, aku berusaha bersandar di pagar, memegang-megang permukaan stainless steelnya sambil membayangkan oh begini toh orang-orang Jakarta itu kalau nge-mall?!

    Setelah puas merasakan experience tersebut aku masuk ke Matahari untuk mencari baju Natal. Waktu itu, baju dan celana warna tanah (khaki) sedang ngetop-ngetopnya. Aku pengen beli kemeja dengan warna itu, sewarna dengan yang dipakai Fatur dan Danny Sprit-nya Java Jive di video klip Kau Yang Terindah.

    Aku menemukan sebuah kemeja khaki lengan pendek. Harganya waktu itu termasuk mahal, 40 ribu rupiah. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Mama waktu pulang dan menunjukkan kemeja itu. Barangkali ia akan bilang, “Wah apik, Le!” 

    Big Match… eh Big Mac McDonalds

    Turun dari Matahari, tujuanku adalah McDonalds!

    Terlihat antrian memanjang di bibir pintu masuk gerai makanan cepat saji Amerika tersebut sementara meja dan kursi penuh terisi! Dalam hati aku jumawa bahwa diantara sekian banyak yang antri, aku barangkali termasuk salah sedikit yang pernah makan McDonalds sebelumnya di Jakarta!  Ya! Sebelum siang itu, waktu berkunjung ke Jakarta tahun 1991 aku diajak makan di McDonalds Sarinah bersama keluarga Om Agus dan almh. Mbak In. Bahkan aku ingat sampai beberapa bulan kemudian aku masih menyimpan kertas karton wadah kentang goreng (fried fries) nya untuk kenang-kenangan.

    Sejak berada dalam antrian, mataku tak lepas dari menu yang terpampang di atas kasir. 

    Apa yang harus kubeli? 
    Aku mau beli yang paling mahal karena ini hari special!
    Lha ya tapi yang apa dan yang mana?

    Hmmm…. Big Mac! 
    Paling besar! Paling mahal! (Waktu itu harganya 3500 rupiah belum termasuk pajak).

    Di depan kasir, dengan penuh percaya diri aku memesan, “Mbak, saya pesan kentang, koka-kola dan… Big Match!”

    Ooopsss, aku berpikir, yang benar Big Mek atau Big Match ya?

    Mbaknya sempat bengong mungkin hatinya riuh mengataiku karena nyebut nama aja salah! Tapi Si Mbak tak menanyaiku balik dan langsung memencet tombol di mesin kasir. Aku pun membayar tunai meski rasa maluku belum tunai-tunai amat di situ!

    Pesanan jadi aku lantas kembali ke pool travel.

    Nggak muntah tapi tumpah

    Aku sengaja nggak langsung makan Big Match eh Big Mac karena aku ingin… menyantapnya di dalam travel. Pamer ke penumpang lain? Ya iyalah! Donny Verdian gitu loh!

    Tapi menjelang jam keberangkatan aku baru sadar ternyata travel sore itu begitu penuh! Aku pasti akan duduk berhimpit-himpitan dan nggak bisa membayangkan seribet apa makan Big Mac di sana?

    Sialnya lagi aku dapat tempat duduk di tengah. Awalnya aku hendak mengurungkan niatku untuk makan di dalam mobil. Tapi aku belum makan sejak pagi takutnya nanti malah mabuk karena goncangan kendaraan.

    Nggak ada pilihan lagi, setelah lepas dari Wirobrajan, aku mengeluarkan Big Mac dan mulainya menyantap pelan-pelan.

    Aku melihat dari jarak dekat bagaimana orang-orang di samping kanan dan kiriku melirik ke arahku.

    Barangkali mereka berpikir, Ih, makanan apa ini? Monalisa burger? Tapi kok gede banget burgernya?

    Barangkali ada juga yang berpikir, Ih, tajir banget nih anak udah beli McDonalds yang paling mahal! Tapi tajir kok naik travel?!

    Atau barangkali ada pun yang sinis bilang, Sombong! Makan Big Mac di depan orang-orang!

    Tapi aku tak indahkan pikiran-pikiran itu, pokoknya makan dan makan dan… oh, ternyata kok susah banget makannya!? Big Mac begitu tebal dan aku yang terbiasa makan nasi angkringan harus bergulat dengan ketebalan daging, salad dan roti tiga lapis itu!

    Aku memang berhasil untuk tidak muntah siang itu tapi gagal mengendalikan tumpahan salad Big Mac kemana-mana. Hingga akhirnya aku memutuskan berhenti makan dan memasukkan sisanya ke bungkus kertas coklat dan melayangkan pandangan keluar jendela dengan perasaan malu se-asu-asu-nya!

    *Tentang Jogja, adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Balada Anak De Britto yang tembakan cintanya selalu kandas di halaman hati anak-anak Stella Duce 1

    Balada Anak De Britto yang tembakan cintanya selalu kandas di halaman hati anak-anak Stella Duce 1

    SMA Stella Duce 1 Yogyakarta dan SMA Kolese De Britto Yogyakarta adalah dua sekolah yang tadinya jadi satu kemudian berpisah menurut jenis kelamin murid didiknya. SMA Stella Duce 1 Yogyakarta (Stece) hingga tulisan ini kurawi hanya menerima murid berjenis kelamin wanita sementara De Britto menerima pria. Bukannya tidak mungkin suatu waktu nanti Stece mengikuti jejak SMA Stella Duce 2 yang akhirnya menerima murid pria dan bukannya tidak mungkin aku pada akhirnya punya adik angkatan wanita di De Britto sana!

    Cinta yang selalu kandas

    Dan tulisan ini tidak mengupas terlalu banyak tentang De Britto apalagi Stece. Tulisan ini lebih sebagai pengingat bahwa dulu ada murid JB sekeren aku yang tidak pernah berpacaran dengan murid Stece, bukannya tidak mau tapi karena cintanya ditolak dan kandas melulu!

    Selama sekolah di De Britto, 1993 – 1996, terhitung aku nembak (menyatakan cinta) sebanyak lima kali.

    Tembakan Pertama

    Tembakan pertama terjadi saat aku baru saja duduk di bangku kelas 2. Sebenarnya aku naksir cewek yang lalu kutembak itu sejak beberapa bulan sebelumnya tapi sengaja aku menunda tembakan sekian lama. Anaknya seingatku cukup manis (sebenarnya semua cewek kalau pake rok seragam Stece itu udah jadi otomatis lebih berkemilau sih.. Istilahnya dalam dunia fotografi naik 2 stops lah!) Kutembak ditolak dengan alasan pengen fokus belajar dulu. Padahal bukankah pacaran pun adalah sebuah pembelajaran? Nyebahi!

    Tembakan Kedua

    Tembakan kedua terjadi masih di kelas 2. Dapat kenalan gara-gara abis nge-band dan dia bilang, “Ih kalian keren!” Barangkali aku yang ke-GR-an sih karena mungkin “kalian” itu ditujukan kepada Gepenk, Wicak atau Alvon bukannya aku hahahah… Tapi aku buru-buru PDKT. Dua minggu setelahnya kutembak dan ditolak dengan alasan punya pacar yang sedang berstudi di sebuah sekolah di Magelang (nggak perlu kan kusebut nama sekolahnya kalian bisa nebak sendiri kira-kira wkwkwkwk…)

    Tembakan Ketiga

    Tembakan ketiga masih di kelas 2 juga. Hattrick pokoknya!

    Waktu itu aku mulai gresek cari kenalan ‘cewek gereja’ di Gereja St Antonius Kotabaru Yogyakarta. Rajin ke gereja ikut misa harian ngakunya untuk Tuhan nyatanya ya cari kenalan lalu… ditembak fufufufu… Aku agak lupa liku-likunya tapi yang kuinget pagi setelah misa harian aku ajak sarapan di warung siomai dekat Gereja. Dia cuma menggeleng sambil tersenyum dan aku menyisakan rasa pedih yang kukulum…

    Tembakan Keempat

    Tembakan keempat ada di awal tahun ketigaku sekolah di De Britto. Saat motivasi belajar kian menurun sementara kawan-kawanku seangkatan beberapa sudah punya pacar aku makin belingsatan dan bertanya dalam hati, “Giliranku kapan?”

    Lalu hadirlah seorang anak Stece yang sama-sama asli Klaten. Aku ingat kenalan dengan anak itu di sebuah acara Malam Keakraban dan dia adalah cewek pertama yang mau kuajak slowdance sampai dengkulku gemetar hahaha! Waktu itu aku sudah sangat percaya diri, “Ini pasti kena!”

    Aku sudah membayangkan banyak hal bahwa nanti akan kukenalkan ke Eyang yang tinggal di Klaten. Bahwa nanti Mama pasti akan senangnya bukan main karena sama-sama asal Klaten. Bahwa nanti kami bisa ikut misa di Gereja Maria Assumpta Klaten tempatku dibaptis waktu masih bayi dan tempat Papa dan Mamaku menikah dan banyak “bahwa nanti” lainnya…

    Tapi untung tak dapat diraih, malang eh Malang… ada di Jawa Timur! Aku ditolak! Alasannya?

    “Awake dewe konconan sik wae!”

    Ah prek! Kene ki wes kadung kebelet jhe!

    Tembakan Kelima

    Tembakan kelima ada menjelang akhir studiku di De Britto dan ini yang paling membekas hahaha..

    Jadi setelah ikut sebuah Malam Keakraban dengan anak-anak kelas 1 Stece, seorang kawan mengabariku, “Eh, Don… Kamu dapat salam lho dari B****!”

    Akupun langsung di-cieee-in sekelas. “Wah, rayuanmu masuk, Thuk!” Panggilanku Bathuk waktu itu…

    Gayung pun kusambut! Sekolah tiga tahun di De Britto masak nggak dapat satupun anak Stece sih? batinku.

    Surat demi surat kukirim. Sepulang sekolah, diantar Damar Benni, hampir tiap hari aku menyempatkan untuk sekadar ‘say hi’ di muka sekolahnya dan sesekali di depan asramanya yang terletak di Jl Supadi :)

    Lembaran demi lembaran kertas salam kukirim melalui acara Bursa Nada di Geronimo FM. Bahkan waktu aku berlibur ke Bali bersama keluarga, sebuah kaos kubelikan untuknya sebagai oleh-oleh kusertai dengan ‘surat cinta’. Tapi ya itu tadi… ditolak! Asuwog!

    Yang lebih menyakitkan, penolakan itu terjadi karena dia ternyata lagi di-PDKT-in dan kemudian jadian dengan adik kelasku yang kebetulan teman satu asrama. Sesudahnya kadang muncul situasu yang awkward! Adik kelasku datang ngeboncengin pacarnya lalu dia menyapa, “Halo Donny…” mau nyapa balik tapi lidahku kelu!

    ***

    Sesudah lulus SMA, perburuan dan harapanku untuk dapat anak Stece sebenarnya tidak lantas pupus begitu saja. Pada akhirnya aku punya kesempatan untuk berpacaran dengan anak stece justru di akhir tahun 1998 waktu aku masih kuliah dan dia baru masuk kelas 1 SMA hahaha! Kami kenalan uniknya jusru lewat media internet chat yang terkenal saat itu, mIRC. Kami jadian tapi nggak lama karena cinta kami kalau kata KLa Project dalam lagu Waktu Tersisa, “…cinta kita terlarang membentur batu karang…”

    Selamat ulang tahun SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Untuk Stece… hmmm, ucapin nggak ya? Itung kancing dulu…hahaha ok deh! Selamat Ulang tahun juga untuk SMA Stella Duce 1 Yogyakarta!

  • Mengukur panjang usia pengalaman berduka di masa pandemik

    Mengukur panjang usia pengalaman berduka di masa pandemik

    Waktu Papa meninggal tahun 2011, rasa berduka tertinggal di hati cukup lama. Barangkali karena dia pergi begitu mendadak. Sebelumnya Papa sehat-sehat saja hingga malam sebelum meninggal ia terkena serangan stroke.

    Ketika Mama meninggal lima tahun sesudahnya, rasa duka tertinggal tidak terlalu lama. Mama sudah sakit sejak lama, bahkan sejak sebelum Papa meninggal. Malah ada perasaan lega karena Mama sudah tidak merasakan sakit lagi meskipun aku harus jujur bersitan penyesalan karena aku nggak bisa pulang ke Tanah Air ketika dia berpulang ya ada tersisa.

    berduka

    Pengalaman Berduka

    Pengalaman duka, tak satupun kurasa ada yang ingin memilikinya. Tapi ketika terjadi (karena suatu saat pasti terjadi), sama dengan jenis pengalaman lainnya, hal itu harus kita rasai secara sadar dan sewajarnya tanpa tergesa-gesa hingga menipis lalu mengendap sebagai kenangan.

    Tapi bagaimana dengan rasa duka yang terjadi di masa pagebluk ini?

    Bagaimana mereka yang berduka ketika ada rekan dan kerabat yang meninggal merawat perasaan hingga tuntas ketika ada begitu banyak kabar duka susulan yang lainnya?

    Aku mendengar cerita dari banyak kawan bahwa masjid sebelah rumahnya makin sering mengumumkan berita kematian. Aku mencoba memetakan ‘perjalanan perasaan’ yang muncul setelah mendengarkan berita tersebut. Ketika tersiar pengumuman misalnya Si A dinyatakan meninggal, yang terjadi dalam hati pertama kali barangkali adalah kaget lalu sedih. Seiring dengan itu, karena ini masa pagebluk, pertanyaan-pertanyaan berikut mungkin juga akan muncul,

    ‘Meninggal karena apa ya? Duh jangan-jangan COVID?’

    ‘Duh kalau COVID lalu orang-orang dekatnya gimana? Kena juga nggak?’

    ‘Duh bukankah kemarin aku baru ketemuan dengan salah satu anggota keluarganya?’

    ‘Mau test? Takut! Mahal! Ya kalau negatif, kalau positif? Ribet! Anak-anak butuh makan!’

    Lalu nggak sampai beberapa waktu berikutnya hingga Si B diumumkan juga meninggal. Dan urutan perasaan seperti di atas akan terulang lagi…

    Itu baru pengumuman yang kita terima dari corong masjid, untuk handai taulan yang jauh, kita lebih sering mendengar kabar dari dinding social media dan lagi-lagi perjalanan perasaan seperti di atas akan kembali lagi beredar di kepala tanpa henti…

    perjalanan duka yang utuh

    Aku tak bisa berhenti merenungi hal ini.

    Bagiku setiap yang berduka berhak mengalami perjalanan perasaan yang utuh sebelum akhirnya bangkit untuk kemudian… menerima kabar duka lainnya.

    Ketidakutuhan perjalanan perasaan karena ditimpa kedukaan lain takutnya berakibat dua hal.

    Pertama, menganggap kedukaan yang baru sebagai ‘penghibur’ atas kedukaan yang belum tuntas sebelumnya.

    Kedua, karena kedukaan yang tidak tuntas perjalanannya, nanti entah kapan kita baru sadar ternyata Si A, Si B, Si C dan si lain-lain sudah meninggal karena pada saat mereka berpulang kita terlalu banyak dibuai duka atau tersilap ingatan karena direndam angka dan grafik-grafik statistika tentang berapa yang meninggal dan bukannya siapa yang berpulang.

  • Makan maksimal 20 menit. Ada apa dengan menit ke-21?

    Makan maksimal 20 menit. Ada apa dengan menit ke-21?

    Aturan tentang durasi makan di warung atau rumah makan yang maksimum 20 menit itu bagaikan pakan ikan yang disebar di blumbang penuh ikan; dilahap ramai-ramai oleh netijen yang budiman!

    Dari sekian banyak yang ku-skip-scroll, satu postingan yang menarik adalah yang ada di dinding Facebook kawanku ya adik kelasku di De Britto dulu, Tommy ‘Benny’ Pudyastanto.

    makan maksimal 20 menit

    20 menit cuma dapet teh anget!

    Mbah Mo adalah nama warung makan Bakmi Jawa di kawasan Trirenggo Bantul sana. Selalu ramai karena kelezatannya membuat waktu menunggu pesan makanan relatif lama.

    Dulu aku harus berebut tempat satu jam sebelum jam makan supaya pas lapar memuncak pas makanannya datang. Kalau terlewat sedikit saja, ngalamat menunggu 45 menit… itupun sudah puji tuhan! Jadi apa yang ditulis redaktur PakBob.Id memang nggak berlebihan, 20 menit paling baru dapat segelas teh hangat.

    Dan sayangnya… sayangnya banyak netijen terjebak untuk menanggapi aturan ini secara terburu-buru dan kesannya mentah-mentah. Bahwa karena dilarang makan lebih dari 20 menit lalu responnya adalah, “Mana cukup?” dan “Mana bisa?”

    Kenapa sayangnya? Karena kalau begitu respon balik Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri jadi masuk akal. “Jadi makan tanpa banyak bicara dan kemudian 20 menit cukup, setelah itu memberikan giliran kepada anggota masyarakat yang lain.” (kutipan dari Kompas)

    Apalagi ada bumbu, “Mungkin kedengaran lucu, tapi di luar negeri, di beberapa negara lain sudah lama diberlakukan itu,” seolah yang dari luar pasti akan selalu cocok untuk yang di dalam negeri :)

    Harusnya, cara menanggapi netijen bukan tentang lama durasi makan yang ‘awkward’ tapi lebih pada prinsip kenapa sudah boleh makan di tempat ketika angka penyebaran COVID masih menggila dan tingkat vaksinasi belum tinggi?

    Demi pemasukan?
    Mana yang lebih tidak menguntungkan, membuka warung tapi hanya pesan-bawa-pulang (take away) atau boleh makan di dalam “Tapi jangan lama-lama ya, Mas!” Kalau sudah ada studi perbandingannya ya nggak papa, lha kalau belum?

    Atau barangkali sudah ada penalaran yang menyatakan bahwa virus tidak akan menyebar di 20 menit pertama karena virus sudah cukup tahu pemesannya baru dapat teh anget dan baru kemudian menyerang di menit ke-21? 

    Entah, tapi rasanya di luar negeri sini pun juga enggak segitunya kali!

  • PPKM Level Karet Gelang

    PPKM Level Karet Gelang

    “Kita pakai istilah ‘level’ saja!” begitu kata Luhut Binsar Pandjaitan seperti dikutip Kompas terkait dengan perubahan istilah PPKM.

    Sebelumnya nggak pake level karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diberi label PPKM Darurat saja. Tapi Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi yang secara ajaib ditunjuk Jokowi jadi Koordinator PPKM ini mengganti pakai tingkatan numeris; 1, 2,3, dan 4.

    Sebagai orang User Experience Designer, aku lebih sreg dengan pelevelan numerik ini. Bahasa angka lebih mudah dicerna pengguna untuk membayangkan tingkatan ketimbang kedaruratan yang hanya dijelaskan dengan kata D-A-R-U-R-A-T saja. 

    Kalau darurat , sedarurat apa? 

    Kalau dengan angka, oh sedarurat level 4, wah berarti serem! 

    Atau, oh cuma PPKM level 1 kok, OK lah!

    Meski resikonya ya tetap ada! Semua pihak harus sepakat dengan definisi serta parameter tingkatan-tingkatan tersebut. Kalau enggak ya malah makin amburadul dan nanti naga-naganya ya menunggu istilahnya diganti dengan apalah-apalah selanjutnya.

    Terkait dengan tingkatan numeris, kalau netizen masa kini lalu mengkaitkannya dengan ayam geprek atau makanan kemasan lain yang dijual menggunakan tingkat kepedasan, aku mengkaitkannya dengan hal yang beda lagi.

    Bukan karena aku netizen baheula tapi mungkin karena waktu aku pergi meninggalkan Indonesia, 2008 lalu, ayam geprek belum setenar sekarang dan makanan kemasan dulu dijual tanpa ada level-levean kepedesan. Pedes ya pedes aja kayak PPKM darurat ya darurat aja gitu!

    Jadi aku mengkaitkannya dengan karet gelang yang diikatkan pada bungkusan gado-gado ‘Kolombo’.

    PPKM

    Kalau kita pesan bungkus bawa pulang (take away) gado-gado super pedas, penjualnya memberi info, “Mas, sing lomboke limolas karet telu… Sing lombok sepuluh karet gelang loro!”

    Tapi ada juga warung yang tidak menggunakan karet melainkan klip (staples). Makin pedes, makin banyak klip yang dipasang di ujung bungkusan. Aku sebetulnya nggak terlalu suka model yang beginian karena sering khawatir kalau-kalau ketika membuka bungkusan lalu klipnya malah jatuh ke makanan dan hilang dari pandangan karena bentuknya yang kecil dan logam lalu ketelan dan berabe!

    Beda dengan pelevelan PPKM yang (semoga) ada aturan bakunya, pemasangan jumlah karet gelang dan klip terkait tingkat kepedesan waktu itu gak ada aturan baku. Semua tergantung pesan yang disampaikan penjual kepada kita aja. Kita harus mengingat-ingat jangan sampai kebalik bahwa yang karet gelang tiga adalah yang paling pedas dan bukan sebaliknya.

    Ngemeng-emeng netizen jogja tahu nggak Kolombo itu apa dan dimana?

    Kolombo itu bukan nama kota di Sri Langka lho. Kolombo yang ini ada di Jogja. Coba tanya ke orang-orang Jogja yang usianya sudah 50 tahunan, mereka kalau belum pikun pasti masih ingat. Jangan lupa pake masker dan taati prokes saat tanya sama mereka ya….

  • Ketika Covid jadi laron dan lampu jalan mulai dipadamkan…

    Ketika Covid jadi laron dan lampu jalan mulai dipadamkan…

    Aku agak gimanaa gitu membaca berita rencana pemadaman lampu reklame dan penerangan jalan umum (PJU) di beberapa daerah.

    Barangkali untuk mengurangi mobilitas warga di malam hari maka muncul ide ini. Karena esensi lockdown, apapun namanya, memang begitu; membatasi gerak warga sehingga COVID-19 tidak menyebar terlampau mudah.

    lampu jalan

    Lampu jalan dipadamkan sebuah ide brilian?

    Tapi apakah ini ide brilian? Kecuali kalau covid itu berwujud laron dan akan mampus atau setidaknya minggat karena ketiadaan lampu, kuyakin ini bukan ide brilian!

    Kenapa?
    Pemadaman lampu tidak menghalangi sepenuhnya orang untuk tidak bepergian. Lampu jalan ada di kendaraan dan rumah-rumah dan kios pertokoan serta warung di pinggir jalan yang dibiarkan buka pun bersumber penerangan.

    Lagipula yang padam hanya lampu di jalan umum, kan? Bagaimana dengan jalan-jalan tikus? Pengalamanku dulu, berkendara itu justru lebih banyak lewat jalan tikus. Mengakses jalan besar hanya sesekali saat memang harus bepergian ke satu tempat yang ada di pinggir jalan utama atau ketika menyeberang dari satu jalan tikus ke jalan tikus lainnya.

    Ketiadaan lampu di jalan justru rawan kejahatan karena orang-orang berniat buruk bisa melancarkan aksinya di tempat gelap simply karena mereka tak terlihat.

    Pemadaman lampu juga rawan kecelakaan. Bagaimana kalau mereka yang melintas tiba-tiba keblowok di jeglongan jalan?

    Lampu jalan dipadamkan? Ide terbaik meski tak brilian

    Jadi jelas ide pemadaman lampu tidaklah brilian meski sayangnya bisa jadi itu adalah ide terbaik. Kenapa? Karena dari sekian banyak ide yang lebih tidak brilian, barangkali ya ini adalah satu-satunya ide terbaik. Di saat masyarakat masih harus keluar untuk cari makan, di saat bantuan belum terlalu merata, efektif dan mencukupi, di saat edukasi tentang covid masih belum bisa direbut oleh pemerintah dan pihak berwenang dari tangan para bodoh yang sok tahu, di saat aturan denda dan hukuman juga masih bisa ditawar… sayangnya ide-ide yang tidak brilian akan mendapat panggung dan disemati sebagai ide terbaik.

    Sayangnya demikian.

    Oh ya, untuk menemani malam-malam gelap Anda, laguku, SULUH, ini barangkali jadi senada…

  • Tentang Jogja (21): Shampoo pemanjang anu…

    Tentang Jogja (21): Shampoo pemanjang anu…

    Hal yang ditunggu-tunggu oleh sebagian dari kami setelah diterima jadi siswa di SMA Kolese De Britto adalah memanjangkan rambut. Bagi kebanyakan sekolah lain, murid pria harus berambut pendek. Di De Britto, beda! Kami boleh menggondrongkan rambut! Bebas! Jadi, selain obrolan tentang musik, cewek, bokep dan argh… pelajaran, segala macam pernak-pernik rambut termasuk shampoo terbaik untuk memanjangkan rambut adalah tema biasa yang beredar di kalangan siswa sekolah homogen pria itu.

    shampoo nganu

    Shampoo Nganu

    Nah, perkara terbaik ini, sepertinya nggak ada yang bisa mengalahkan pamor Shampoo Nganu… sebut aja begitu ya Sob karena aku takut menyebut nama trus yang punya nama nggak berkenan jadi berabe nanti :) 

    Nah, Shampoo Nganu ini begitu populer dan aku yakin kepopulerannya pada awalnya terkait dengan namanya yang identik dengan jenis musik hingar-bingar dan… besi-besian. Gila, kan? Bukankah shampoo selama ini identik dengan kelembutan dan kesegaran? Kontras banget pokoknya!

    Dijual di toko musik? Shampoo Nganu

    Nan tak kalah uniknya, waktu itu shampoo ini tidak dijual di sembarang toko. Seingatku dulu Shampoo Nganu hanya bisa ditemukan di sebuah toko kaset terkemuka di Jl Maliboro. Toko kaset? Yup! Toko kaset, toko merchandise kaos band metal pula! Maka kehadiran Shampoo Nganu di Kota Mas seperti semakin mensegmentasi pasar karena bukankah musisi dan fans musik metal identik dengan rambut gondrong!? Strategi pemasaran yang mungkin waktu itu tak terpikirkan tapi tetap aja keren!

    Selain nama, daya tarik Shampoo Nganu menurutku adalah karena klaim beberapa pengguna yang mengatakan bahwa shampoo ini bisa memanjangkan rambut sekian senti hanya dalam waktu 2 minggu! Luar biasa, bukan? Jadi kalian bayangin bagaimana mungkin anak-anak De Britto nggak mau berlomba-lomba membeli shampoo ini?

    Padahal, harganya waktu itu sudah masuk dalam ukuran mahal. Waktu harga segelas es teh masih 150 rupiah dan seporsi pecel lele di pinggiran jalan Solo dijual di harga 750 perak, Shampoo Nganu sudah berani mematok harga 9900 rupiah!

    Dana Cair!

    Untuk membelinya, aku harus membujuk Mama supaya memberi uang ekstra. Mama sempat menolak karena uang segitu tidak kecil bagi kami dulu. Tapi aku janji hanya beli sekali karena pertimbangan ketika sampoo habis dalam waktu 1.5 bulan dan pada waktu itu rambutku akan sudah memanjang enam sentimeter dengan pertimbangan dua minggu tumbuh dua senti, kan?

    Dana pun cair!

    Sepulang ke Jogja, aku beli Shampoo Nganu.

    Begitu sampai di asrama, aku menyembunyikan shampoo di lemari baju. Takut diminta? Enggak! Takut diketawain iya! Jangan sampai mereka menertawakan karena aku termakan hype yang belum tentu benar.

    Menggunakan shampoo itu ternyata memang menghadirkan sensasi yang berbeda. Jika shampoo biasa ketika dipakai kesannya adem, Shampoo Nganu dipakai bikin panas kulit kepala. Waktu akhirnya aku bercerita dengan seorang kawan bahwa aku beli Shampoo Nganu, aku menceritakan efek ini. “Kerasa banget kok bahwa shampoo ini bekerja!” tegasku sok yakin.

    “Kok bisa?” tanya temanku.

    “Ya karena saat dipakai itu panas banget di kulit kepala… Mungkin saat itu kulit kepala bekerja keras supaya rambutnya jadi lebih panjang ya?” Aneh kan logikaku? Hahaha…

    Nganu tak makin panjang? Kalap!

    Tapi ya emang aneh karena ternyata setelah dua minggu, rambut kuukur, tapi gak tumbuh lebih dari satu senti?

    Aku makin kalap!

    Shampo yang harusnya dipakai dua hari sekali itu jadi lebih sering kugunakan lagi.

    “Barangkali karena aku salah porsi pemakaian?”

    “Barangkali karena aku kurang banyak memakainya?”

    Dua minggu berikutnya, aku ukur lagi… dan ternyata tak banyak berubah. Sementara rambut teman-temanku seangkatan sudah semakin panjang dan bisa dikucir tapi rambutku hanya jatuh di bawah pipi, belah tepi seperti Yanto Stock On You kata anak 80an atau kalau jaman sekarang ya mirip Andhika waktu masih di Kangen Band dan belum jadi babang tamvan!

    Aku mulai putus asa terlebih saat Gorgom suatu malam bertanya kepadaku,“Don, rambutmu kok samsoyo abang?”

    Waktu pulang ke Kebumen, perhatian Mama pertama kali adalah ke rambutku. “Endi, Le? Kok ora tambah dawa malah tambah abang?”

    Aku malu. Kukeluarkan sisa Shampo Nganu, kutunjukkan kepadanya dan Mama yang paham hal-hal beginian pun bilang, “Wooo… iki jenenge kowe ki ora cocok! Iki mengandung ginseng dadine neng sirah panas lan nggawe abang!”

    Aku hanya manggut-manggut dan sesuai janjiku, tidak membeli lagi Shampoo Nganu.

    Selanjutnya aku mulai cuek dengan rambutku. Hingga masuk kelas 2 SMA, rambutku sebenarnya sudah lumayan panjang hingga seleher. Tapi suatu waktu saat pulang ke Kebumen di minggu pagi aku bersepeda membeli kue lupis dan waktu Simbok yang jualan bertanya kepadaku, “Tumbas napa, Mbak?” aku tahu itu saatnya aku untuk memangkas rambutku. 

    Aku jadi ilfil! Rambut gondrong gak bikin aku jadi keren dan gahar tapi malah dikira mbak-mbak. Emangnya aku apaan? Hih!

    *Tentang Jogja, adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Kenapa akhirnya aku memutuskan masuk startup?

    Kenapa akhirnya aku memutuskan masuk startup?

    Hari ini sebulan yang lalu, tepat di Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Gereja, 24 Mei 2021, aku memulai karir baru, bekerja di sebuah perusahaan startup yang fokus pada online market place.

    Momentum itu adalah penanda aku menyudahi 11 tahun karirku bekerja di perusahaan-perusahaan besar di Australia. Sekaligus momentum itu membuatku bernostalgia terhadap apa yang dulu pernah kukerjakan 21 tahun silam di Jogja, bekerja membangun perusahaan startup meski saat itu belum dikenal istilah itu.

    Ada banyak yang mengernyitkan dahi ketika aku bercerita tentang keputusan ini. Pendapat-pendapat mereka itu terwakili dalam satu kalimat langsung imajiner di bawah ini,

    “Don! Kamu kan udah makin tua, kenapa nggak tetap kerja di perusahaan besar aja? Kan aman? Kan nyaman?”

    Kenyamanan dan keamanan adalah kuncinya, bukan? Mari kita dalami dua hal ini.

    startup (Pixabay)

    Kenyamanan startup

    Bekerja di perusahaan besar, bagi sebagian orang memang bikin nyaman. Di level jabatan yang kutinggalkan sebulan lalu (kepala design produk digital lah istilahnya) kesibukanku adalah datang ke kantor, join ke banyak pertemuan, membuat intisari tiap pertemuan, membuat rencana kerja lalu membagi pekerjaan dengan anak buah dan kalau masih ada sisa pekerjaan akan kukerjakan, selebihnya… santai.

    Bikin satu gerakan baru nan inovatif memang memungkinkan. Tapi bersiaplah menghadapi tentangan pihak sana-sini dengan berbagai macam alasan. Kalaupun akhirnya jadi dan berhasil, bersiap pula untuk menghadapipihak-pihak yang saling berlomba untuk mengklaim bahwa ide brilian itu adalah milik mereka. 

    Licik? Nggak juga sebenarnya karena dalam dunia kerja, kelicikan itu sah dan halal dalam konteks politik, bukan?

    Santai dan nyaman

    Kembali ke soal santai dan nyaman… sayangnya lagi bagi sebagian orang, nyaman adalah santai. Makin santai makin nyaman. 

    Aku sendiri bukannya tidak mau santai tapi sedari awal aku melatih diriku untuk tidak boleh terlalu santai. Jika terlalu santai, ini terjadi beberapa kali, aku akan merasa semakin lemah. Ketika semakin lemah dan hidup tiba-tiba memberikan skenario yang berbeda dari yang kita harapkan, untuk bangkit itu rasanya bakal berat banget!

    Berbeda dengan di startup, dalam istilah asingnya, ada begitu banyak moving parts yang bisa kita kerjakan untuk membuat pergerakannya makin mulus dan teratur. Pekerjaan tentu jadi bejibun dan tak hanya terbatas pada product design saja tapi juga banyak hal lain. Keadaan ini membuatku menjadi begitu nyaman karena aku sibuk dan aktif dibumbui dengan sedikit stress dan deg-degan… ya OK lah! :)

    Tapi katakanlah kamu sibuk dan banyak orang mengapresiasi kerjaanmu, bagaimana kalau perusahaan nggak running well? Kondisi pasar nggak mendukung? Kamu barangkali nggak dipecat, Bro tapi mereka gak bisa bayar kamu lagi! Gimana?

    Nah, ini bicara soal keamanan.

    Keamanan startup

    To be fair, resiko seperti ini kan gak hanya terjadi di startup aja dong? Apalagi di musim pandemik, bank aja banyak yang nutup cabang? Berapa banyak retail brand besar yang tutup? Puluhan atau bahkan ratusan maskapai penerbangan juga nggak bisa terbang lagi, kan?

    Aku meletakkan keamanan hidupku termasuk pekerjaan hanya kepada Tuhan. (Sounds really plain ya? Hehehe)

    Pasrah? Pasrah!
    Tapi pasrah bagiku bukan berarti diam bukan pula berarti nekad!

    Justru karena aku berani meletakkan kepadaNya maka aku harus mengusahakan yang paling baik semata karena Tuhan sudah memberiku piranti-piranti terbaik dalam mengambil keputusan: akal budi dan pendapat orang-orang terdekat.

    Framework pengambilan keputusan

    Sebelum memutuskan pindah ke startup, aku menggunakan akal budi untuk memikirkan banyak hal.

    Misalnya gaji. Sederhananya, kalau gaji lebih sedikit ya ngapain pindah? Kalau gaji lebih banyak tapi nggak bikin portfolio makin baik, ya ogah juga!

    Atau soal kejelasan perusahaan. 

    Meski startup, bagaimana investasi para pemodalnya? Sudah sejauh apa? Akan sebanyak apa? Apa yang jadi core business dan bagaimana forecast-nya untuk beberapa bulan atau tahun mendatang?

    Setelah mendapat insight-insight matang itu aku lalu mencari dengar pendapat dari orang-orang terdekat.

    Aku bertanya pada Joyce, istriku yang meski jawabannya selalu, “Kamu yang lebih tahu, aku percaya aja” tapi intuisinya sebagai pasangan hidup tetap kuperlukan.

    Pada mama mertua karena dia adalah satu-satunya orang tua yang masih ada dan beberapa orang yang kuanggap mentor dalam pekerjaan.

    Pendapat mereka kutampung dan kupikirkan masak-masak. Dalam bahasa rohaninya, pendapat itu kubawa dalam doa :) Oh ya, ngomongin soal doa, selain menjalankan doa rutin harian aku juga mohon doa khusus kepada kawan-kawan sepelayananku.

    Step-by-step di atas adalah framework-ku mengambil keputusan yang pernah beberapa kali kupraktekkan dalam hidup termasuk saat tahun 2008 silam aku memutuskan pindah ke Sydney, Australia dan meninggalkan Jogja.

    Jadi, kembali ke laptop… aman tidaknya sebuah pekerjaan bahkan hidup bagiku adalah sepasrah apa aku meletakkannya kepada Tuhan.

    Makin aku pasrah, makin aku berusaha. Makin aku berusaha, makin aku menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

    Artinya, jika aku berhasil dalam pekerjaan ini, hal itu terjadi karena kasih karunia Tuhan, bukan karena kuat dan gagahku semata.

    Kalau aku tidak berhasil di sini, bagiku ini bukan kegagalan melainkan cara Tuhan untukku mau belajar hal baru.

    Kalau Tuhan mau kamu masuk ke perusahaan besar lagi?
    Selama itu dari Tuhan, ya nggak papa, aku akan masuk lagi. Meminjam kata-kata Bunda Maria waktu didatangi Malaikat Gabriel, “aku ini hamba Tuhan, terjadilah kepadaku menurut perkataan Tuhan…“