Tag: 2020

  • [Podcast] Renungan 2020: Di mata COVID-19 kita semua ini sama

    Penyebaran virus COVID-19 di tahun 2020 yang akan kita lewati ini mengingatkan kita bahwa di mata virus tersebut manusia itu sama saja. Manusia, bagi makhluk super kecil itu hanyalah sebongkah daging yang nyaman untuk ditempati dan berkembang biak.

    COVID-19 dan caranya berkembang biak

    Virus COVID-19, sebelum merasuki tubuh seseorang nggak perlu ngecheck KTP orang tersebut terlebih dulu. Ia nggak mau tahu, apa agama si calon korban, sesering dan sejarang apa ia beribadah. Ganteng/cantik nya juga tak diperhatikan. Suku bangsa, tempat asal, waktu pilpres memilih siapa bahkan… orientasi seksual pun tak diindahkan! Pokoknya asalkan dia adalah seonggok manusia ya dihajar!

    Satu-satunya hal yang bisa membuat Si Virus nggak merasuk dengan mudah adalah ketika seseorang tidak lengah dan selalu waspada. Menjaga jarak dengan sesamanya, mengenakan masker dan menjaga kebersihan, salah satunya dengan mencuci tangan.

    Lengah dan waspada

    Tentang mudah lengahnya seseorang, hal ini sebenarnya tak terkait virus saja. Tahun 2020 kita juga dikagetkan dengan berita beberapa menteri yang lengah dan terjerat kasus korupsi. Salah satu yang paling bikin geleng-geleng kepala adalah menteri yang terjerat kasus korupsi dana bantuan sosial yang seharusnya disumbangkan bagi mereka yang paling terdampak pandemik.  Bayangkan, menteri yang kaya raya itupun masih tega untuk memungut uang dari bantuan sosial!

    Padahal menteri itu bukan orang tak berpendidikan. Ia sosok terpelajar, mengenyam pendidikan bahkan hingga luar negeri. Ia beragama dan juga bukan penjahat. Tapi karena lengah, godaan korupsi pun masuk merasuki otak dan hatinya, menggerakkan hidupnya dengan memanfaatkan jabatannya secara salah!

    Kelengahan dan kewaspadaan adalah kunci dari segalanya dan dari COVID-19 kita belajar banyak tentang hal itu. Agama, tata nilai spiritual dan budaya serta ilmu pengetahuan adalah sarana untuk membangun kewaspadaan dan rasa eling tersebut. Mengerti dan memahami hal tersebut tak jadi garansi pasti tidak lengah. 

    Dari mudahnya orang terjangkit COVID-19 tahun ini aku jadi terpancing untuk memandang dari sisi sebaliknya.

    Kalau kita bisa begitu mudah terjangkiti virus dan godaan, kenapa kita tak juga mudah untuk terjangkiti hal-hal baik? Kenapa terkadang kita masih ogah-ogahan untuk melakukan kasih kepada sesama? Jangan-jangan karena kita terlalu fokus dan waspada sehingga tidak lengah sama sekali. Tapi kali ini tentu fokus dan waspadanya dari sisi sebaliknya; fokus pada kenikmatan duniawi, terlalu banyak memikirkan diri sendiri sehingga lengah terhadap sesama dan dunia sekitar?

    Simak podcast dari tulisan ini di bawah:

  • [Podcast] Renungan 2020: Dibelenggu itu gak enak banget!

    Tahun 2020 mengajarkan kita bahwa manusia itu ternyata sangat susah untuk dibelenggu.

    Sebelumnya, untuk mendapat pelajaran bagaimana sih rasanya hidup dalam belenggu, orang berpikir harus dipenjara terlebih dahulu. Tapi semenjak Pandemik COVID-19, dunia ini jadi penjara sebesar-besarnya. Karena saking mudahnya COVID-19 menyebar, banyak pemerintah negara-negara di dunia menerapkan aturan lockdown dalam jangka area dan waktu tertentu, social distancing antar-penduduk hingga kewajiban mengenakan masker muka kecuali di kediaman masing-masing.

    Dibelenggu masker!

    Berbeda dengan penduduk di sebagian kawasan Asia yang sudah terbiasa mengenakan masker karena alasan polusi udara, kami yang tinggal di Australia (juga Eropa dan Amerika Serikat) sangat tak terbiasa dalam mengenakan masker wajah.

    Masker wajah dianggap sebagai simbol belenggu, “Kenapa wajah harus disembunyikan dibalik masker? Bahkan nafas pun harus dibelenggu?!” begitu tanya kawanku beberapa bulan lalu saat mulai gencar ada ajakan pemerintah untuk mengenakan masker.

    Tapi nyatanya mengenakan masker itu memang jauh dari nyaman! Nafas jadi ngap-ngapan. Apalagi aku yang mengenakan kacamata, penggunaan masker menghasilkan uap air yang lantas mengembun di kaca membuat pandangan tak bisa optimal. Belum lagi… duh, kalau nafas dan mulut bau, bukankah orang yang pertama kali membaui nafas kita jadinya adalah diri sendiri karena masker yang membekap abab lalu kita hirup sendiri?!

    Dibelenggu dalam berinteraksi sosial

    Itu baru perkara masker lho. Belum lagi soal tidak dibolehkannya orang melakukan jabat tangan, peluk hingga cipika-cipiki yang selama berabad-abad telah jadi simbol kehangatan interaksi seseorang dengan orang lainnya?

    Bagaimana juga dengan budaya banyak bangsa untuk berkumpul di satu tempat entah untuk makan, minum teh, kopi atau sekadar bersulang minuman berlakohol? Semua itu juga dilarang atau setidaknya sangat dibatasi di masa pandemik ini!

    Dibelenggu itu ternyata tak enak sama sekali! 

    Andai pandemik ini berakhir…

    Kalau sudah begini, aku jadi berpikir berandai-andai… Andai pandemik segera berakhir, satu hal yang barangkali akan sangat kusyukuri adalah lepasnya belenggu-belenggu ini! Andai pandemik segera berakhir, aku akan sangat menghargai kebebasan. Andai pandemik segera berakhir, semoga aku juga akan berpikir berulang-ulang kali ketika tindakan yang aku lakukan justru akan membelenggu orang lain siapapun itu semata karena pengalaman dibelenggu itu sama sekali tidak mengenakkan, bukan?!

    Simak podcast dari tulisan ini di sini:

  • [Podcast] Renungan 2020: Kemampuan adaptasi yang patut disyukuri…

    Tahun 2020 yang akan kita tinggalkan ini juga mengajari kita satu hal bahwa karunia beradaptasi itu tidak bisa dipandang remeh dan patut kita syukuri.

    Pandemik COVID-19 memang bukan pandemik yang pertama kali terjadi di dunia. Sejarah mencatat bahkan tepat 100 tahun silam, 1920, pandemik besar pernah juga melanda dunia. Begitu juga ratusan tahun sebelum-sebelumnya.

    Tapi dari tujuh milyar manusia yang saat ini hidup di bumi, berapa persen yang berusia lebih dari 100 tahun dan mengalami pandemik sebelumnya? Tentu sedikit! Sangat sedikit! Artinya, hampir seluruh umat manusia yang hidup ya baru pertama kali mengalami pandemik, ya sekarang ini!

    Secara takaran duniawi, Pandemik COVID-19 membawa kita ke satu bentuk keterpurukan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

    Kesehatan dan kebersihan jadi begitu rentan karena orang harus diatur sedemikian rupa oleh aturan supaya tidak terjangkiti COVID-19.

    Pengaturan-pengaturan itu lantas membuat ekonomi dunia hancur! Resesi melanda negara-negara, angka kemiskinan naik, angka pengangguran melonjak.

    Banyak kawanku yang terkena pemutusan hubungan kerja. Ada juga kawan, seorang pengusaha, merintih beratnya menjalankan usaha di masa ini. Perjuangan setiap bulan tidak lagi difokuskan pada “untung berapa bulan ini?” tapi lebih kepada, “Apa yang harus dilakukan untuk menutup overhead perusahaan bulan ini? Tabungan mana lagi yang harus dipakai untuk menutup ongkos gaji karyawan? Kapan saat terbaik untuk memberhentikan karyawan?”

    Aku sendiri, puji Tuhan, masih diberi pekerjaan yang layak meski sejatinya aku pernah mengalami keterpurukan mental di awal-awal masa pandemik.

    Kok bisa?

    Karena aku merasa ngeri! Aku merasa takut menghadapi dunia yang tak lagi seperti biasanya! Tapi setelah berbulan-bulan berlalu, ketika melongok ke belakang dan aku dikuatkan untuk sebuah keyakinan bahwa aku telah berhasil melaluinya dengan baik.

    Apakah ini berkat kuat dan gagahku?

    Tentu bukan! Kuasa Tuhan yang turun melalui kemampuan beradaptasi lah yang membuatku mampu dan pada akhirnya membuat kita semua akan mampu melewati semua ini.

    Jadi, sekali lagi, mari mensyukuri kekuatan kita untuk beradaptasi. Jangan pongah lagi sombong karena semua itu berasal dari Sang Ilahi!

    Simak tulisan ini dalam versi podcast seperti di bawah:

  • Renungan 2020: Tentang Hidup Yang Tak Mudah Ditebak

    Apa yang bisa kita syukuri dari tahun 2020 yang akan segera berakhir ini?

    Kita patut bersyukur karena boleh belajar satu hal bahwa hidup ini ternyata nggak mudah ditebak! Manusia boleh berencana sebaik mungkin tapi kenyataan yang diterima kadang nggak sesuai rencana bahkan terkadang berbeda 180 derajat.

    Ada kawan yang berencana bikin acara nikah gede-gedean, batal. Ada artis berencana bikin konser megah harus memupus mimpinya. Bahkan kalau mau yang ekstrim, lihatlah bagaimana Pemerintah Jepang, utamanya pemerintah Kota Tokyo yang harus mengundurkan acara Olimpiade Musim Panas tahun 2020 ke 2021.

    Semua karena makhluk super mini bernama COVID-19. Virus ini mengubah hidup tujuh milyar manusia di dunia. Apalagi setelah WHO menetapkan status pandemik di awal tahun, pemerintah negara-negara di dunia kalang kabut menerapkan aturan ketat untuk warganya supaya virus gak menular semakin luas.

    Penerapan ketat itu membuat keadaan ekonomi ikut terdampak. Resesi dimana-mana, pertumbuhan ekonomi mengkerut hingga di bawah 0%. Manusia dibayang-bayangi masa depan yang tidak pasti.

    Di tengah keadaan seperti ini apa yang bisa kita perbuat?

    Tetap melanjutkan hidup karena kita belum mati. Dan selama hidup kita sejatinya tak perlu takut karena Tuhan masih begitu setia menemani pergumulan kita meski terkadang hidup meluluhlantakkan mimpi-mimpi dan Tuhan seolah begitu jauh bahkan ada dari kita mengenaliNya sebagai tiada.

    Simak postingan ini dalam format podcast di sini:

  • Syukur ulang tahun ke-43 di tengah pandemik yang melanda

    Syukur ulang tahun ke-43 di tengah pandemik yang melanda

    Hari ini aku berulang tahun yang ke-43 dan tak habis syukur kuucapkan kepada Tuhan yang menguasaiku!

    Pelajaran paling berharga

    Pelajaran paling berharga yang kudapat di usia setahun belakangan adalah bahwa ketika Tuhan berkehendak, apapun itu, termasuk Pandemik COVID-19, tak kan mampu menghalangiNya!

    Sejujurnya, sama dengan sebagian besar dari kalian, tahun ini bukan tahun yang mudah. Tahun 2020 adalah tahun yang tak pernah kita bayangkan wujud penampakannya bakalan seperti ini sebelumnya! Kita selama ini ‘ditakut-takuti’ dengan ramalan gempa bumi, gunung meletus dahsyat, perang nuklir, pemanasan global dan climate change bahkan ramalan kiamat… tapi para peramal itu lupa tentang satu hal: virus jahanam yang menyebar menjangkiti tubuh-tubuh manusia tak peduli siapapun dia! Dan tiba-tiba ketika COVID-19 merajalela, kita tercekat, hidup seolah menemui ujung jalan…

    Covid bagai kryptonite

    COVID-19 sendiri bagiku bagaikan kryptonite. Nggak mematikan tapi sempat bikin lemes :) Perasaan takut, dan kehilangan mood menyergapku di awal pandemik. Takut membayangkan seperti apa wajah dunia menghadapi pandemik, hilang mood karena takut. Mbulet pokoknya!

    Rasa takut dan hilang moodku selama lockdown bisa terukur secara numeris pada jumlah tulisanku  di blog ini 12 bulan belakangan! Blog, bagiku adalah sebuah representasi online yang sangat kupertahankan dan kujaga dalam 18 tahun belakangan, tapi hal itu roboh diterjang pandemik. Hal lain yang juga jadi penanda betapa tahun ini begitu berat adalah hilangnya nafsu untuk shopping baju, celana dan sepatu. Kalian yang kenal denganku secara personal tentu tahu betapa aku ‘gila belanja’ terhadap ketiga hal itu. Setelah pandemik, aku hilang mood dan tak pernah membeli barang-barang itu lagi. Alasannya? Untuk apa? Untuk apa beli baju, celana dan sepatu baru kalau aku hanya bisa diam di rumah karena isolasi lockdown dan work from home yang berkepanjangan?

    Kalau tahun 2020 dinilai hanya dari hal-hal tersebut, aku berani menyebut ini adalah tahun terburuk!

    Tapi nyatanya? Ketika kurenungi setahun belakangan, justru saat pandemik terjadi aku malah mendapat begitu banyak rahmat serta berkat dari Tuhan!

    BaikTV 

    Seret nulis di blog ini bikin aku membuka Instagram account @baik.tv. Hingga saat tulisan ini kurawi dan kupublikasikan, BaikTV telah merilis 204 episode video renungan iman Katolik berdurasi rata-rata dua menitan.

    Puji Tuhan kontennya banyak digemari kalangan yang justru berbeda sama sekali dengan para penikmat tulisanku sebelumnya. Mereka adalah kaum milenial, para orang muda katolik (OMK) dari seluruh Indonesia dan beberapa belahan dunia! Hal ini begitu menghangatkan hati!

    Rekaman!

    Mimpiku sejak berpuluh tahun lalu adalah ingin rekaman! Rekaman? Ya! Rekaman! Rekaman lagu, lagu buatanku sendiri lalu kupublikasikan mumpung teknologi sudah sedemikian mudahnya untuk memfasilitasi mimpi itu! Bersama kawan-kawan di Indonesia yang membantuku mewujudkan, tiga lagu kurilis tahun ini, Suluh, Raja Singa dan Salamaria.

    Kiprahku di bidang ini membuka cakrawala pemikiran baru yang semakin membuatku bersyukur: aku diberi talenta di banyak hal termasuk musik!

    Joyce dapat kerjaan!

    Sebenarnya sejak awal tahun lalu Joyce, istriku, sudah mendapat pekerjaan tapi casual (tidak tetap). Saat pandemik dimulai aku sempat mencoba menghiburnya, “Kalau kamu gak dapat panggilan lagi nggak papa, namanya juga lagi pandemik!” Tapi ternyata… sekitar dua minggu sebelum lockdown dijalankan dan sekolah diliburkan kurang lebih enam minggu, Joyce malah mendapat kontrak setahun untuk bekerja di sebuah sekolah! Padahal jika dipikir secara nalar, untuk apa ia dikontrak jika dua minggu kemudian sekolah dilockdown dan saat kontrak itu ditawarkan pihak sekolah sebenarnya sudah tahu bahwa pengumuman lockdown tinggal menunggu hari H dan jam J nya saja?

    Anak-anak diterima bersekolah di sekolah Katolik

    Salah satu cita-citaku bersama Joyce adalah menyekolahkan anak-anak di sekolah Katolik. Bukan karena mutu atau hal lain selain karena ‘nggak enak dengan Tuhan!’ Kok bisa? Karena waktu nikah dulu kan udah janji kepada Tuhan di hadapan imam, para saksi dan umat bahwa kami akan mendidik anak-anak secara katolik? Nah! menyekolahkan anak-anak ke sekolah Katolik menurutku adalah salah satu implementasinya. 

    Punya rumah

    Barangkali ini yang paling besar! Sebelumnya aku nggak pernah punya mimpi untuk bisa membeli rumah di Sydney. Harga rumah di Sydney amat tinggi, termasuk yang paling tinggi di dunia! Maka, membangun rumah di Sydney bagi orang sepertiku adalah sebuah kepercayaan yang diberikan Tuhan kepadaku! Dan ketika hal ini terjadi justru di saat pandemik? Itu kan wow sekali!

    Pandemik COVID-19 belum berakhir bahkan aku yakin dalam beberapa bulan ke depan, status itu masih tetap akan ada. Tapi semoga tulisan ini jadi pengingat tak hanya bagi kalian tapi juga bagiku sendiri bahwa sesulit apapun keadaan, hal itu tak kan menghalangi Tuhan untuk menjalankan niatNya! Dan… setahuku serta sepercayaku, Tuhan nggak pernah punya niatan buruk untuk kita. Kali ini kumohon kalian supaya percaya kepadaku :)

    Sydney, 20 Desember 2020

  • Romo Magnis dan Kita

    Artikel Romo Frans Magnis Suseno, SJ bertajuk ‘Kita dan HRS’ awalnya tak terlalu menarik perhatianku. Entah kalian, tapi bagiku jalan cerita terkait HRS sejak tahun-tahun terakhir ini cenderung monoton; tidak ada gejolak yang cukup membuatku tertarik untuk mengikuti dan mengamatinya.

    Toleransi

    Tapi ketika kawan-kawan seperkumpulan mulai asyik mendiskusikan tulisan tersebut, aku akhirnya jadi tergelitik untuk membaca juga. Saat membaca, mata dan perhatianku mendarat di bagian yang menurutku menggelitik dan ada baiknya kusalin di bawah ini:

    Toleransi? Memang, bisa ada dua tiga paroki yang diganggu perayaan Natalnya. Ada gereja yang tak bisa dibangun. Setahun paling-paling ada 20 atau 30 kasus intoleransi dalam wilayah seluas 5.000 km lebih, “dari Sabang sampai Merauke”, dengan 270 juta warga!

    Cukup lama bagiku untuk bisa menelaah nukilan tulisan Romo Magnis di atas. Hingga akhirnya aku bisa menarik satu simpul pertanyaan, sejak kapan masalah toleransi itu bisa dikompromikan dengan cara melihat besaran jumlah angka kasus dengan dibandingkan pada luas wilayah serta jumlah warga?

    Mengelola negara seluas dan sepadat Indonesia memang tak mudah. Tapi memaklumi munculnya kasus toleransi berdasarkan kecilnya prosentase adalah hal yang justru tak bisa  ditolerir sama sekali! Hal ini bisa jadi awalan yang tak terlalu baik dalam rangka mewujudkan masyarakat yang pada akhirnya benar-benar bisa toleran satu sama lain. Kecuali kalau kita mau sepakat menganggap hal itu adalah sesuatu yang utopia semata…

    Eagle view vs empati

    Lagipula kasus toleransi, sebagaimana banyak kasus pelanggaran HAM lain harusnya dinilai tak hanya dari sisi ‘eagle view’ seperti ini tapi juga dari pendekatan ‘empati terhadap korban.’

    Romo Magnis, sebagai seorang imam, harusnya bisa berempati dengan cara duduk sama rendahnya dengan korban, membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar apa dan bagaimana kasus yang mereka alami juga harapan-harapan ke depannya seperti apa.

    Sebelum menulis, Romo Magnis harusnya juga bertanya kepada ’20 atau 30 korban kasus intoleransi’ yang ditulis di atas apakah mereka menerima jika masalah yang mereka hadapi dianggap sebagai sebuah kompromi dan pemakluman? Toh sebagian besar tak mengalaminya?

    Di sisi lain dari tulisan itu, sejatinya ada bagian yang aku setujui juga. Terutama ketika Romo Magnis berpendapat bahwa kita ini diajak untuk tetap menjadi kawan terpercaya umat-umat lain di Indonesia. Tapi kawan-berkawan bukan berarti semua bisa dibikin ‘cincai’, kan? 

    Perkawanan menurutku adalah usaha untuk membangun kesepahaman dan ketika kita semua sama-sama paham bahwa masalah toleransi itu tidak bisa dibenarkan meski hanya satu jumlahnya disitulah perkawanan sejati timbul.

    Kuwi nek aku, nek menurutmu piye?

  • Theo: Ada banyak mata-mata yang lain yang bisa kita gunakan untuk melihat?

    Dari pandemik COVID-19 yang berkepanjangan ini kita belajar untuk berubah. Hidup ini adlah perubahan itu sendiri. Perubahan yang tidak perlahan, perubahan yang cepat. Manusia seakan tak diberi kompromi bahkan untuk sejenak rehat karena berhenti tidak lagi berarti diam melainkan mundur ke belakang.

    Belajar berubah, belajarlah pada Theodosius Dwihantoro atau yang akrab dipanggil Theo. Jauh sebelum pandemi terjadi, lulusan SMA Kolese De Britto tahun 1999 itu mengalami perubahan yang drastis dalam hidupnya. Bayangkan, sore hari sebelumnya pada April 2013, ia masih bisa melihat sinar matahari yang lindap di sisi barat, tapi pagi hari berikutnya, semua jadi gelap! Ia hilang penglihatan secara total setelah mengalami gagal operasi malam sebelumnya.

    Theo sadar hidupnya belum berhenti di titik itu. Dengan keterbatasannya, ia menyelaraskan hidup dan justru semakin bersemangat menyambut perubahan serta terus mencari dan menjalani misi hidupnya.

    Theo berteguh. Ia amat percaya dan memegang erat janji Tuhan. Alhasil, pria kelahiran Sleman 11 Januari 1981 yang sempat mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan ISI Yogyakarta ini kini justru menjalani hidup yang kaya warna meski gelap gulita, bercahaya meski tak ada sebersit pun sinar yang mampu diterima retina kedua mata fisiknya.

    Aku menghubungi Theo beberapa waktu lalu via WhatsApp. Meski sama-sama satu almamater, aku belum pernah berbincang sama sekali dengan adik kelas beda tiga tahun ini. Mengawali obrolan, aku mengajukan pertanyaan yang selama ini kusimpan, ?Kamu bisa aktif di social media dan kini bisa ngetik lancar di WhatsApp padahal kamu mengalami kebutaan. Gimana caranya??

    Dari pertanyaan itu lantas hadir percakapan yang mengular dan berikut adalah penggalan wawancaraku dengannya?

    Theo, apa pendapatmu tentang mata?

    Mata? mata adalah salah satu cara untuk kita bisa melihat. Tapi mata bukan satu-satunya cara? Ada banyak mata-mata yang lain yang bisa kita gunakan untuk melihat. 

    Wah menarik! Ada mata-mata yang lain. Bagaimana penjelasannya?

    Dari pengalamanku sendiri, pada akhirnya aku bisa melihat banyak hal justru tidak menggunakan mata. Ketika aku mendengar sesuatu, aku bisa membayangkan dan mem-visualisasi-kan. Aku melihat dengan mata hati karena itu justru lebih tajam bagiku. Aku jadi bisa lebih mudah berimajinasi tanpa harus tersekat pada ukuran-ukuran tertentu dan pada akhirnya aku bisa melihat lebih jauh ke dalam?

    Butuh waktu berapa lama untukmu menyadari bahwa mata hanyalah salah satu cara untuk melihat sesuatu?

    Prosesnya cepat.?
    Barangkali karena Tuhan sudah mempersiapkan sejak 2-3 tahun sebelumnya (sebelum April 2013 saat Theo mengalami kebutaan karena operasi yang dinyatakan gagal -red) karena aku mulai belajar meditasi. Belajar meditasi membuatku tidak terikat pada sesuatu, belajar fokus pada apa yang dihadapi saat ini.

    Kalau boleh mengulas lagi kejadian di saat kamu kehilangan penglihatan, bagaimana ceritanya hal itu bisa terjadi?

    Waktu itu, April 2013. Malam harinya aku mengalami kegagalan operasi mata (mata Theo mengalami ablasio retina (retina lepas/detachment retina) -red). Pagi harinya saat perban dibuka, yang kulihat hanya gelap yang pekat. Ya udah gitu aja?

    Apa reaksimu pagi itu dan pagi-pagi selanjutnya?

    Biasa aja.
    Mungkin malah ada orang yang menganggap aku ini gila karena setelah itu aku ya benar-benar biasa aja seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena aku sendiri nggak mau terjebak dalam perasaan melankolis dan menyesali keadaan. Karena basic meditasi itu tadi juga membuatku lebih mudah untuk menerima kenyataan.

    Sesampainya di rumah dari rumah sakit, yang kupikirkan adalah bagaimana caranya aku bisa berjalan di rumah tanpa nabrak. Itu dulu. Secara otomatis pikiranku langsung membuat pola visualisasi. Pola visualisasi ini membuatku mudah untuk beradaptasi dengan banyak hal.

    Kamu tampak kuat dan siap menghadapi keadaan matamu. Tapi pernahkah kamu merasa down?

    Down yang banget-banget hingga berhari-hari gitu seingatku belum pernah. Karena setiap kali mentok terhadap sesuatu, aku terbiasa untuk mencari jawaban saat itu juga kenapa mentok, apa jalan keluarnya?

    Misalnya dulu pernah aku pengen pergi nonton konser. Aku minta tolong ke seorang teman dan biasanya teman tadi bisa mengantar tapi saat itu dia nggak bisa ngantar. Lalu muncul pikiran-pikiran negatif. Tapi tiba-tiba ada bantahan dari sisiku yang lain, ?Ya mungkin dia lagi sibuk. Kenapa enggak cari teman yang lain??

    Aku pernah juga merasa gagal saat paduan suara yang kulatih tak berhasil mengulang prestasi juara tahun-tahun sebelumnya. Saat itu sempat terlintas? pikiran, ?Waduh, kenapa begini? Apa karena kondisiku ya?? Tapi lagi-lagi, tak lama kemudian muncul bantahan dari dalam diri, ?Bukan gitu! Kemarin-kemarin kamu bisa juga kok bawa mereka juara padahal kamu sudah tidak ?awas? lagi. Bukan semata-mata karena kamu nggak bisa melihat!?

    Lalu apa yang membuatmu bisa sekuat ini?

    Sejak awal aku selalu mendapat penguatan dari Tuhan bahwa semua yang terjadi ini atas ijinNya. Artinya, Dia sudah menyiapkan aku untuk masuk ke tahap ini?

    Kalau kamu sudah sedemikian siap dan kuat, bagaimana kamu menerima perhatian dari sekelilingmu? Pernahkah mengalami keadaan dimana sekeliling mengasihanimu? Bagaimana caramu menguatkan mereka? Atau jangan-jangan kamu malah nggak suka dikasihani?

    Sejujurnya aku nggak suka dikasihani tapi persoalannya kita kan nggak bisa melarang orang untuk tidak melakukan hal itu kepada kita. Ketika aku berada dalam posisi mereka, barangkali ketika melihat sesuatu yang dalam konteks normal itu tidak wajar, akupun  akan merasakan rasa yang sama; iba dan kasihan.

    Pernah sih ada yang secara lugas mengatakan dia bersimpati kepada saya tapi aku lantas menjelaskan bahkan aku tidak mengalami kesulitan seperti yang dibayangkan.

    Ada juga orang yang memberiku pekerjaan yang sepertinya hanya karena merasa kasihan kepadaku. Aku nggak mau terjebak dalam konflik batin itu. Aku fokus aja pada apa yang kulakukan, memberikan kemampuan terbaik. Itu membuat penilaian mereka berubah terhadapku.

    Ok, sekarang mari bicara tentang Tuhan. Bagaimana kamu memandang dan berinteraksi denganNya?

    Aku memandang Tuhan sebagai pribadi yang dekat, hangat. Sebagai sahabat. Sebagai orang tua dan sebagai tempat meminta. 

    Kadang komunikasiku dengan Tuhan muncul melalui cara-cara yang spontan. Misalnya ada hal yang mentok, aku bilang, ?Tuhan gimana ini mbok aku diajarin..? Atau ketika butuh duit, ?Tuhan mbok aku dikasih duit sekian??

    Kedekatan dengan Tuhan kualami sejak dulu meski secara reiligus aku ini sebenarnya tidak terlalu, aku tidak rajin ke gereja.  Tapi aku yakin justru aku merasa dekat secara spiritual.

    Apakah ada perubahan secara ekonomi saat sebelum dan sesudah kamu mengalami kebutaan?

    Pernah aku membandingkan dan sejujurnya, dari sisi penghasilan, keuanganku sekarang justru lebih baik ketimbang dulu! Dulu aku gak bisa nabung sekarang bisa.

    Profesiku sejak sebelum kejadian juga sama hingga sekarang. Aku tarot reader, aku pelatih vokal dan kadang-kadang aku juga bernyanyi. Malah sejak dua bulan lalu aku diberi kesempatan membuka lapak tarot di Kabar Baik Eatery milik Mas Ison (Ison Desy Satriyo – JB91). Aku juga sedang merintis Youtube channel tentang tarot dan aku mulai merealisasikan mimpiku untuk ke depan punya sekolah musik, tempat praktek tarot dan hipnoterapi.

    Aku percaya janji Tuhan akan mencukupkan dan rejeki kan memang selalu cukup meski kadang gak bisa diprediksi. Yang kupegang janji-Nya, tidak perlu khawatir, serahkan segala sesuatu dan semua akan dipenuhkan!

    Ngomongin soal De Britto, sebesar apa pengaruh pendidikan De Britto dalam hidupmu?

    Ajaran ?bebas bertanggung jawab? tanpa kusadari telah membentuk aku jadi pribadi yang lebih bebas dalam mengarungi hidup. Tidak terpaku pada satu pandangan, bisa diajak berpikir dan diajak untuk menggunakan cara pandang yang lain.

    Aku jadi tidak mudah terjebak dalam fanatisme tertentu apapun itu, terbuka pada segala macam pandangan tanpa aku harus ikut arus ke dalamnya.

    Lalu tentang Man for others, itu selalu jadi doaku! Bagaimana aku bisa jadi berkat bagi orang lain. Bagaimana aku bisa memberi inspirasi dan warna dalam setiap kehadiranku. Kehadiranku tidak lagi sia-sia, tidak sekadar sebagai penggembira tapi bisa memberikan warna meski aku tidak terlalu banyak bicara.

    Apakah kamu masih berharap suatu waktu Tuhan memberi mukjizat untukmu dapat melihat dengan mata lagi?

    Masih! Tapi aku tak mau harapan-harapanku itu jadi hambatan untuk maju.

    Dulu awal-awal, harapan-harapan itu justru jadi semacam pergumulan seolah aku ini tidak ikhlas. Pergumulan itu sering jadi penunda pekerjaan dan aktivitas. Pernah aku berpikir ingin melakukan sesuatu tapi lantas aku berpikir, ?Ah, nanti saja nunggu aku bisa melihat lagi?? Sering aku harus ekstra keras mendorong diriku untuk melawan hal-hal seperti ini.

    Tapi setelah aku ngobrol dengan Pakdhe Bambang Sakunthala (salah satu alumni senior De Britto), aku diajarkan untuk belajar fokus pada hal yang lebih besar lagi yaitu tentang misi hidup. Aku dikasih PR oleh Pakde Bambang, ?Coba kamu berdoa pada Tuhan, bertanya apakah misi hidupmu? Jangan sampai waktu kamu meninggal nanti kamu tidak menyelesaikan misi hidupmu!?

    Jika kamu kuminta untuk memberi satu pesan pada pembaca blog ini, apa yang hendak kamu sampaikan?

    Hidup itu sangat luarbiasa, nggak perlu ditanyakan lagi!

  • Alumni De Britto Jalur Non-Prestasi

    Alumni De Britto Jalur Non-Prestasi

    Aku merasa bersyukur karena hingga tulisan ini kurawi, pada akhirnya aku hanya tergabung dalam tiga grup WA yang ?ada ambune De Britto?: JB Klaten Asli karena aku asli Klaten, Wisma Ampel 2 karena aku pernah tinggal di sana dan JB angkatan 96, karena aku lulusan angkatan terbaik tersebut.

    Dubes, alumni ber-prestasi

    Sebelumnya? Wah, sebelumnya bahkan hingga setahun silam, barangkali kalau tak salah hitung ada lah sekitar dua puluh atau tiga puluh grup WA yang ?ndeBritto?.

    Aku bersyukur karena kalau hari-hari ini aku masih ikut banyak grup WA tersebut, aku akan jatuh dalam rasa bosan melihat begitu banyak bersliweran berita dan banjir ucapan selamat atas terpilihnya seorang duta besar yang baru yang lagi-lagi adalah? lulusan De Britto.

    Iya! Iya! Aku juga sadar dulu sering bikin kalian bosan dengan postinganku tentang Kabar Baik di grup-grup WA yang kuikuti? Ya salah kalian invite aku, nggak menegurku dan nggak nge-remove aku hahaha?

    Banggakah aku dengan prestasi Mas Dubes itu? Tentu! Tapi banggaku sebenarnya bukan karena dia kecuali dengan jadi Dubes lantas dia mengundangku untuk bertamu ke tempat perutusannya secara cuma-cuma :) 

    Aku bangga dan bersyukur karena aku tidak salah memilih sekolah! Bayangkan, aku pernah menuntut ilmu di sekolah yang sama, di tempat dimana dulu Mas Dubes juga pernah duduk, mendengarkan guru mengajar, bersenda gurau dengan kawan dan yang paling penting berproses membentuk karakternya.

    Dengan bangga pula aku berani bilang, Kalau Mas Dubes itu dulu tak sekolah di De Britto, barangkali dia tak jadi dubes? tapi malah jadi Presiden *eh!.

    Prestasi, wajar-tak wajar

    de britto

    Peristiwa bersliwerannya berita dan banjir ucapan selamat terhadap alumni yang berprestasi tentu tidak kali ini saja. Ada begitu banyak pasukan pengombyong yang ngombyongi kabar-kabar baik keberhasilan alumni lain dan ini wajar!

    Tapi kalau kita berani menganggap ini adalah satu kewajaran, bagaimana dengan kawan-kawan lain yang selama ini dianggap dari kalangan non-prestasi? Jangan-jangan kalian bisa bilang, ?Ya wajar juga tho kalau gak berprestasi lantas yang dikeploki apanya? Yang diselamati mananya??

    Hati-hati, Lur!
    Kewajaran itu subyektif karena bagi sebagian orang, prestasi itu nggak melulu soal mendapat jabatan, berharta banyak dan masuk koran lho! Berprestasi itu bagi sebagian orang lain sesederhana bagaimana membesarkan anak di tengah segala keterbatasan, bagaimana berani bangkit dari serangan stroke.. bahkan bagaimana kita tetap beriman kepada Tuhan di tengah pandemik yang asu-asunan ini? itupun adalah prestasi, bukan!?

    Tapi kalau begitu apa lantas berarti untuk setiap hal yang dianggap prestasi kita harus ngeploki dan membanjiri grup WA dengan ucapan selamat? Ya nggak juga! Lebih pada bagaimana aku mengajak kalian semua untuk menilik ke dalam. Bahwa bangga pada kawan-kawan yang prestasinya sampai masuk koran karena mendapat jabatan (atau karena rilis lagu keren seperti saya!) itu boleh tapi sadarilah bahwa diri ini bukannya berarti gak punya prestasi kok! Kita ini berprestasi tinggal bagaimana pintar-pintarnya kita mengakui prestasi-prestasi itu!

    Tapi.. duh tapi lagi!
    Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang cenderung merasa minderan sehingga semakin merasa ? tak berprestasi?

    Ya nggak masalah to!? Kan dengan lantang kita bernyanyi, ?selalu tetap bersatu dengan semua kawanmu? lha mereka itu apa lantas karena minderan maka nggak jadi kawanmu? Ya jangan ditinggal begitu saja!

    Oleh karena itu aku salut pada kegigihan kawan-kawan perintis komunitas-komunitas yang tak pernah berhenti mengajak para alumni untuk bergabung, termasuk mengajak gabung grup WA (dan segelintir yang tanpa permisi langsung meng-invite begitu saja!)

    Kenapa?
    Karena secara tidak langsung, mereka itu adalah kalangan yang peduli dan menganggap siapapun termasuk yang minderan sebagai bagian dari ?kawan?. Karena siapa tahu, bagi sekalangan orang, dengan memasang foto selfie karena udah lari sekian puluh kilometer di social media? adalah prestasi! Siapa tahu bagi seseorang, membeli sebuah sepeda lipat seharga gitar Accoustic Gibson J-35 kepunyaanku juga adalah prestasi yang hakiki! Siapa tahu pula dengan sanggup berbagi guyonan receh? adalah prestasi juga! Siapa tau, kan? :)

    Jadi pada intinya, lantas semua ini sudah baik-baik saja adanya dan tulisan ini? sama sekali gak ada isinya. Kopong! Kosong.

    Lalu kenapa kamu nulis, Su? Su DV?

    Ya?. Itung-itung dengan aku nulis nyinyir begini aku terhibur! Karena dengan nyinyir, aku telah merasa ? BERPRESTASI!

    Sydney, 18 September 2020

  • TENTANG JOGJA (16): Memelihara ular

    Salah satu pengalaman unik saat tinggal di Jogja dulu adalah memelihara ular.?Waktu itu, sekitar tahun 1995-1996, aku duduk di bangku kelas 3 SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

    Memelihara ular karena ikut-ikutan

    Memelihara ular saat itu belum se-booming sekarang sehingga ketika aku dan beberapa kawan berpikir untuk memelihara, banyak orang memandang sebagai sebuah hobi yang nyeleneh, nekad? pokoknya bikin dahi orang berkernyit.

    Aku lupa siapa yang memulai hobi itu di Wisma tapi yang pasti aku ikut-ikut memelihara setelah Yudith, sahabatku, memeliharanya. Ia punya beberapa koleksi ular yang disimpan di kotak-kotak plastik di kamarnya. Karena aku sering main ke kamar Yudith, aku yang semula takut dan geli pada ular pun lama-kelamaan jadi terbiasa, memegang dan mengelus-elusnya.

    Pak Min

    Suatu hari, Yudith mengajakku untuk pergi ke rumah penjual ular tersebut, Pak Min namanya. Rumahnya ada di sekitar Candi Prambanan, 10 kilometer ke arah timur dari Jogja. Kami berdua berboncengan naik sepeda motor Crystal Silver milik Yudith.

    Rumah Pak Min tak terlalu jauh dari kompleks Candi Prambanan. Setelah lewat gapura Kabupaten Klaten, kami belok ke arah kanan (Selatan) lalu masuk ke beberapa gang sebelum sampai di rumahnya.

    Pak Min ternyata tak hanya mengoleksi ular. Ia juga menjual daging serta empedu ular. Daging untuk dimasak, empedu ular untuk dipakai sebagai obat.

    Orangnya ramah dan ketika aku memperkenalkan diri sebagai orang Klaten (meski saat ngobrol dengan Yudith ya tetap pakai Bahasa ngapak ala Kebumen – Purwokerto) kami jadi semakin akrab. 

    Bahkan uniknya, setelah ditelusur jaringan perkawanan kami, aku kemudian sadar bahwa waktu aku masih tinggal di Klaten (sebelum 1984), Pak Min pernah datang ke rumahku karena Ibuk (Eyang Pranyoto) memesan empedu ular untuk obat penyakit asma-nya Mbak Yo (Tante Yohana). 

    Waktu itu aku bahkan ingat ular dibawa dalam keadaan hidup ke Klaten lalu disembelih di pekarangan sebelah rumah. Empedunya langsung dimakan Mbak Yo dan dagingnya kami masak. Aku juga masih ingat ketika memasak, Mama begitu kaget sampai berteriak karena melihat potongan daging yang dipikir sudah mati itu tetap menggeliat saat dimasukkan ke wajan yang panas!

    Petunjuk memberi makan ular

    Kehangatan Pak Min siang itu membuatku memutuskan untuk membeli salah satu koleksinya. Padahal waktu berangkat ke rumahnya aku tak terpikir untuk memelihara sama sekali.

    ?Tapi nanti cara memberi makannya gimana? Berapa hari sekali?? tanyaku pada Pak Min.

    ?Oh gampang kok, Mas! Tinggal beli daging ayam dicacah lalu dimasukin ke mulutnya lima potong, tiga hari sekali.? jelas Pak Min.

    ?Hmmm.. masukinnya pakai apa?? tanyaku gamang.

    ?Nganggo pinset, Don!? tukas Yudith.

    Pak Min lantas mempraktekannya. Seekor ular dipegang, Ibu jari dan telunjuk tangan kiri dipakai untuk membuka mulut si ular, pinset di tangan kanan yang menjepit potongan daging ayam dimasukkan ke mulut si ular.

    ?Wah, kok susah?? tanyaku.

    Tapi entah kenapa siang itu aku teryakinkan. Lagipula, kalaupun susah toh nanti aku bisa belajar pada Yudith.

    Sore itu, aku memasukkan ular peliharaanku ke dalam karung beras dan kumasukkannya ke dalam tas ranselku. Kami pulang ke Wisma.

    Sesampainya di Wisma, Yudith memberiku pinjaman sebuah kotak plastik untuk tempat hidup ularku.

    ?Dit, nanti aku dibantu ya untuk kasih makan?? Dan Yudith pun mengiyakan.

    Ular dalam kotak plastik itupun kubawa ke kamar. Kuletakkan di atas meja kecil di sebelah meja belajarku.

    Warna ular ini kecoklatan. Diameternya sekitar lima senti dan panjangnya tak sampai satu meter.

    Aku lupa jenisnya tapi yang pasti kata Pak Min, ular ini tidak agresif dan bisanya pun tidak mematikan. Aku terngiang-ngiang perkataannya, ?Pokoknya nggak nggigit, Mas. Kalau njenengan nggak mukul kepalanya, ular ini nggak menggigit.?

    Ular dalam kotak plastik

    Saat yang tak kuduga pun tiba.

    Malam harinya ketika hendak tidur, ular yang semula diam saja itu tiba-tiba menggeliat. Berputar-putar di kotak  plastik dan sesekali mematuk-matukkan kepalanya ke dinding kotak .

    Aku yang sedari siang merasa nyaman kali itu jadi tak tenang.

    Aku merasa ketakutan sendiri!

    Kok muter-muter terus, ya? Kenapa gak diam kan sudah malam?

    Berusaha untuk tak memikirkan, tapi setiap dengar patukan kepalanya ke dinding kotak , ketakutanku makin bertambah.

    Gimana kalau nanti malam saat aku tidur dan ia berhasil membuka kotak? plastik itu lalu menggigitku? Atau katakanlah tidak menggigit tapi lantas ia lepas dari kotak? dan bersembunyi di antah-berantah, menanti saat yang tepat untuk menyerangku?

    Atau kubuang saja?

    Tapi kalau kubuang, apa kata Yudith nanti? Malu aku!

    Aku semakin panik!

    Kepanikan itu lantas membuatku memutuskan sesuatu: memasukkan kotak  plastik berisi ular itu ke dalam almari yang ada di bawah meja belajar lalu kukunci. Aku berpikir dengan mengunci maka meskipun lepas, ia tak kan bisa menembus kuncian laci!

    Dan malam itu, adalah malam terakhir aku melihat wujudnya.

    Siang hari berikutnya, ketika hendak kutengok, aku tak mendengar suara patukannya. Jangan-jangan sudah lepas dari kotak? AKu mengurungkan niatku. Di malam hari, sebaliknya yang terjadi, patukan-patukan kepalanya ke kotak plastik selalu kudengar. Hal ini meyakinkanku untuk menengok si ular keesokan harinya. Begitu kejadian berulang-ulang.

    Malam hari ketiga, suara patukan-patukan itu lenyap. Aku jadi was-was. Jangan-jangan si ular telah lepas dari kotak plastiknya?

    Hari ketujuh, sepulang sekolah, tiba-tiba kurasakan bau busuk meruap di kamarku. 

    Apa ini?
    Aku tahu ini pasti karena ular itu mati. Ingin kubuka almari untuk memastikan tapi? ah bagaimana kalau tidak mati? Bagaimana kalau ia sudah bebas dari kotak? plastik karena bukankah dalam beberapa hari terakhir sudah tak ada suara patukan-patukan kepalanya lagi?!

    Aku pusing dengan pikiranku sendiri.

    Hari berikutnya, suatu siang di depan kamar kost ada seorang tukang bangunan yang dipekerjakan pemilik Wisma untuk menggali pipa. Sepulang sekolah, aku memberanikan diri untuk minta tolong kepadanya. ?Pak, boleh minta tolong??

    ?Ya, Mas??

    ?Nganu? ini saya minta tolong nanti saya bayar tapi jangan bilang-bilang ke Pak Sur!?

    Ia mendekat, ?Gimana, Mas??

    Akupun lantas menceritakan semuanya. Lalu diakhir cerita aku meminta, ?Tolong dicheck ya, Pak. Kalau sudah mati langsung dikubur saja, saya nggak mau liat! Takut!?

    ?Ka.. kalau belum mati?? tanya si tukang.

    ?Ya?. dibawa pergi!? jawabku.

    Si Tukang itu kuijinkan masuk sekitar jam 3 sore saat dimana biasanya Pak dan Bu Sur tidur siang. Jika ketahuan tentu aku akan kena marah dan si tukang itu barangkali akan berhenti dipekerjakan.

    Mati dan membusuk

    ?Mas, sampun mati! ?Pun bosok! Nganti nggandha niki! (Mas, sudah mati! Sudah busuk! Sampai bau! –jw)?

    Aku tak mau tahu? Dari jarak cukup juah, aku memberi isyarat menggunakan telunjuk, memintanya membuang jasad si ular tadi. Kepada si tukang aku memberinya uang lima ribu rupiah sebagai upah.

    Beberapa waktu lamanya, beberapa anak di Wisma ikut memelihara ular sepertiku dan Yudith. Semuanya berhenti setelah dua kejadian yang akan kuceritakan setelah ini.

    Kejadian pertama, ular peliharaan si Budi lepas dari wadahnya, hilang entah kemana! Kejadian ini membuat seisi Wisma panik. Akupun yang sudah tenang sepeninggal si ular jadi ikutan panik lagi. Beberapa minggu lamanya aku selalu menabur garam di depan pintu, jendela bahkan lubang ventilasi supaya si ular tak mampir ke kamarku.

    Kejadian kedua, tangan kanan Yudith digigit ular peliharaannya sendiri. Tangannya jadi bengkak dan iapun harus pergi ke Rumah Sakit untuk dirawat meski tak harus menginap.

    Sydney, 27 Agustus 2020

    *Tentang Jogja adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Tentang Jogja (15): Lustrum IX SMA Kolese De Britto Yogyakarta

    Tentang Jogja (15): Lustrum IX SMA Kolese De Britto Yogyakarta

    Lustrum IX SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang diadakan pada tanggal 20 – 21 Agustus 1993 adalah acara ?hore-hore? sekolah pertama yang kuikuti di Jogja.

    Waktu itu aku masih dalam periode ?belum kerasan? dan masih begitu terkaget-kaget menerima perlakukan ?bully? di Wisma yang pernah kuceritakan di sini. 

    Seharusnya aku bergembira mengikuti acara tersebut. Tapi nyatanya meski ada sisi gembiranya tapi ada juga sisi ketar-ketir, sisi insecure yang membaur meski tak menyatu benar.

    Ingatanku tentang acara itu sudah cukup kabur, tapi beberapa hal yang bisa kuingat, ada baiknya kutulis dalam bentuk butiran di bawah ini.

    #1 Diadakan di lapangan sepak bola SMA Kolese De Britto Yogyakarta

    Salah satu hal yang membuatku bangga waktu itu adalah karena sekolahku memiliki lapangan sepakbola sendiri. Di atas lapangan yang membujur utara-selatan di sisi timur kampus itulah kegiatan lustrum diadakan. Sebuah panggung besar dibangun di sisi utara lapangan menghadap ke selatan. Lalu di sekeliling lapangan, stall/stand didirikan.

    #2 Stand Stece yang ramai benar?

    Salah satu stand/stall yang paling ramai dikunjungi adalah stand milik SMA Stella Duce I Yogyakarta yang saat itu juga sama-sama merayakan lustrum IX. Waktu itu aku jadi salah satu dari keramaian tersebut. Mendatangi stall mereka, aku hanya memiliki satu alasan, penasaran dengan para siswi-nya, seperti apa wujud mereka. 

    SMA Stella Duce I atau yang akrab disebut Stece adalah sekolah homogen wanita, sekolah yang selalu dipasang-pasangkan dengan De Britto. Masuk akal karena keduanya lahir dari ?rahim? yang sama, di tanggal dan tahun yang sama pula. Banyak kegiatan formal/non-formal yang diadakan antar-keduanya. Banyak juga yang akhirnya menemukan jodoh melalui kegiatan-kegiatan tersebut, tak sedikit yang kemudian, meski tak berjodoh, tapi tetap berkawan erat hingga jangka waktu yang lama.

    #3 Band JB berlatih?

    Sabtu siang, saat pengunjung belum terlalu banyak, band JB (John De Britto) berlatih sekaligus sound check sebelum acara manggung di malam harinya. Dalam latihan tersebut kuingat mereka membawakan dua lagu, Bed of Roses (Bon Jovi) yang lagi ngetop banget waktu itu dan Orion, sebuah nomer instrumentalia dari supergrup Metallica!

    Suara Andre Jemb*t, sang vokalis, luar biasa kerennya di lagu itu! Dengan perawakan cukup kekar dan rambut yang nyrodhog-nyrodhog (makanya dipanggil jemb*t), ia tampak luar biasa? waktu itu hahaha!

    Saat membawakan Orion, aransemennya keren betul. Bagian solo bass terasa begitu sama dengan yang pernah dibawakan oleh alm. Cliff Burton, bassist Metallica.

    Penampilan mereka menjadi lebih lagi karena rambut gondrong para personilnya. Hal ini jadi keunggulan karena sekolah kami memang mengijinkan para siswanya memanjangkan rambut.

    #4 Hanya bayangan ada di depanku?

    Anton Ismael, yang kini menjelma menjadi fotografer papan atas Indonesia adalah kakak angkatanku yang sekaligus jadi pendamping grup saat aku menjalani masa inisiasi (mospek) di De Britto. Dari dulu ia memang sudah suka motret. Sabtu siang itu, ia tampak sibuk hilir-mudik membawa peralatan kameranya dan jaga stand DPC (De Britto Photography Club) bersama salah satunya alm. Kristupa Saragih yang tak kalah kesohor itu. Lalu saat ia lewat stall di mana aku nongkrong bersama kawan-kawan, tiba-tiba Profit (kakak kelasku) menyanyikan Hanya Bayangan milik U-Camp, ?Hanya bayangan, ada di depanku?? 

    Aku dan Anton Ismael saat reuni De Britto, 27 Desember 2018 silam…

    Kami sontak tertawa dan Anton hanya manyun tersenyum. Lagu itu tentu ditujukan untuk Anton, seorang berperawakan hitam legam yang berjalan di depan kami?

    #5 Membeli kaos lustrum

    Aku dan Heribertus, kawan sekamar di Wisma, membeli kaos Lustrum. Kaos kepunyaanku sekarang entah hilang ke mana. Beberapa bulan lalu, Heribertus mengirim foto-foto di bawah ini! Setelah dua puluh tujuh tahun, kaos itu masih disimpannya dengan baik. Ia mengenakan lalu difoto oleh anaknya di depan cermin yang kami beli di tahun itu juga!

    Heribertus bersama cermin yang kami beli pagi itu di Gelael
    Heribertus bersama cermin yang kami beli pagi itu di Gelael

    Her, betapa bersyukurnya kamu punya niat baik untuk menyimpan kenangan tak hanya dalam memori tapi dalam wujud barang aslinya!

    #6 Acara puncak di malam hari

    Acara puncak di malam harinya benar-benar hingar-bingar. Musik diputar dalam volume kencang, para kakak kelas berpakaian hitam legam, berambut gondrong menggoyang-goyangkan kepala dan mengibaskan rambutnya di muka panggung sambil menikmati musik. Dari mulut tercium aroma wangi alkohol bercampur asap tembakau?

    Aku memilih untuk minggir, ketakutan. 

    Heri mengajak, ?Ayo ikut headbang, Don!?

    Aku takut ketahuan kalau aku ketakutan.

    Spontan kujawab ajakan itu, ?Di sini aja aku, Her! Rambutku belum gondrong dan lebih suka menikmati musiknya?? 

    Heri yang akrab disapa Gorgom itupun meninggalkanku dan ikut mengayun-ayunkan rambutnya yang belum gondrong benar waktu itu?

    Selamat ulang tahun ke-72, 19 Agustus 2020, SMA Kolese De Britto, almamaterku tercinta. Tetap jaya untuk selamanya!

    Sydney, 19 Agustus 2020

    *Tentang Jogja adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • TENTANG JOGJA (14): Iwak Asu

    TENTANG JOGJA (14): Iwak Asu

    Setelah akhirnya mulai bisa bergaul dengan kawan-kawan di Wisma, ada banyak hal yang kupelajari dari mereka sebagai pengalaman baru. Salah satunya adalah tentang makan daging anjing. Seumur hidup aku belum pernah menyantapnya hingga akhirnya suatu malam selepas jam belajar seorang kakak kelas mendatangi kamarku, sebutlah AR, namanya.

    Ia mengetuk pintu dan bilang, ?Hey Don, mau ikut urunan beli makan gak??

    Karena aku sudah makin ingin masuk dalam pergaulan demi menghindari/mengurangi bully, aku pun meng-iya-kan saja.

    ?Berapa?? tanyaku.

    B1

    ?Dua ribu lima ratus udah termasuk nasi dan es teh!? Untuk harga segitu pada tahun 1993 sudah cukup mahal! Sebagai perbandingan, kalau kalian ingat tulisanku di sini, harga makanan rumahan bahkan bisa kudapat seharga di bawah lima ratus perak. Harga seporsi pecel lele plus nasi dan teh panas waktu itu sekitar 1100 perak, makan nasi plus sayur plus telur dadar plus ayam goreng di warung lesehan depan kantor DPU sekitar 800 perak. Makanan apa seharga 2500??

    Tapi aku toh nurut saja sambil mengangsurkan sejumlah uang yang diminta.

    Sekitar 45 menit kemudian, menjelang jam 10 malam, AR datang kembali ke kamarku. ?Makanannya udah datang, ayo ngumpul makan bareng di kamar Rico!? Yericho adalah kakak kelasku yang lainnya. Waktu datang ke kamar Rico, ada banyak kawan berkumpul di sana termasuk SLK yang hampir memukulku waktu itu, tentu kami bersikap saling dingin satu sama lain.

    Bungkusan kubuka dan kulihat ada daging dipotong dadu bersalut bumbu. Dari penampakannya tampak sangat pedas. Aku tak sempat bertanya melainkan langsung melahap. 

    Duh! Jangan tanya rasanya! Wow! Menggelegar pedasnya, bumbu yang kaya rasa dan daging yang berserat menyatu dengan nasi panas yang kulahap. Saking pedasnya keringat pun mengucur deras. Setelah makan aku lantas bertanya pada AR, ?Ini daging apa kok enak sekali??

    Dia tertawa, ?Kamu belum pernah nyoba ya? Itu namanya Saksang B1!?

    ?Saksang? B1??

    ?Saksang itu masakan Batak.?

    ?B1??

    ?B1 itu anjing.?

    ?Heh??

    ?Iya, daging anjing! Enak, kan? Hahahha??

    Iwak Asu

    Sejak saat itu, sejak malam itu kecintaanku makan daging anjing dimulai.

    Pada malam-malam berikutnya, meski tentu tak setiap malam, kami menyantap tak hanya saksang B1 tapi terkadang juga rica-rica B1 ala Manado/Kawanua hingga olahan daging anjing ala Jawa alias sengsu.

    Saksang B1 bisa kami dapatkan di Rumah Makan Tapian Nauli Condongcatur milik Bang Ucok (alm) yang ketika malam hari juga membuka lesehan di Malioboro. Masakan rica-rica Manado bisa kami dapatkan di Rumah Makan Kawanua, Jl Flamboyan Yogyakarta. Sedangkan untuk sajian tongseng aku mendapatkannya di warung emperan depan Perdana Billiard seberang Bioskop Mataram Yogyakarta.

    Setelah punya kendaraan sepeda motor saat duduk di kelas tiga, aku bersama kawan-kawan bereksplorasi ke tempat-tempat lain mulai dari warung saksang pinggir jalan di muka RS Bethesda, depan hotel Phoenix Jl A Yani Yogyakarta dan sajian yang menurutku cukup istimewa karena hadir dalam olahan goreng tepung (kami menyebutnya sebagai SGT, Snoopy Goreng Tepung) di sekitar Pasar Pathuk Yogyakarta.

    Hobi makan daging anjing tak berhenti di Jogja. Meski tak berhasil menemukan warung serupa di Kebumen, tapi di Klaten dulu ada setidaknya dua tempat yang menjajakan masakan daging anjing dalam olahan tongseng yaitu di seberang Toko Roti Harum dan di dekat perempatan pasar – Jl Garuda yang dekat dari rumah dan penjualnya pun aku kenal baik karena kami akrab sejak kecil!

    Saking seringnya makan daging anjing, Eyang Putri, aku memanggilnya Ibuk, pernah menegurku begini, ?Don, kowe ki kok mangan asu terus.. mengko emosimu dadi tinggi koyo asu lho!? Aku hanya tersenyum saja sambil lalu. Pernah juga salah satu mantan pacarku dulu juga bilang, ?Kamu sering banget makan daging anjing? jangan sering-sering lah!? Tapi karena statusnya ?cuma? pacar, ya kubalas saja, ?Ya hidup sendiri kadang udah asu-asunan makanya perlu asu banyak-banyak hahaha!?

    Hobi makan daging anjing sempat menjarang ketika aku berpacaran dengan mantan yang memang benar-benar tidak suka aku makan daging anjing entah karena alasan agamanya tidak mengijinkan (beberapa kali aku sempat pacaran beda agama) atau karena alasan lainnya. Tapi itupun biasanya hanya di awal-awal saja karena sesudahnya aku diam-diam makan daging anjing juga!

    Pluto

    Hingga ada satu kejadian yang pada akhirnya membuatku berhenti total makan daging anjing.? Di tahun 2002, Chitra, adikku yang waktu itu duduk di bangku kelas 2 SMA, diberi anak anjing untuk dipelihara oleh teman dekatnya. Anakan teckel dengan campuran yang antah-berantah. Kami memberinya nama Pluto.

    Adapun keluargaku dulunya sama sekali asing dengan memelihara anjing tapi sejak Pluto datang, kami jatuh cinta kepadanya. Mama dan Papa serta Chitra sering berebut untuk memangku dan memanjakan serta bermain-main dengan Pluto. Aku yang biasanya hanya pulang setiap akhir pekan pernah di satu masa karena saking inginnya main bersama Pluto lantas beberapa kali pulang di tengah minggu.

    Pengalaman mencintai dan dicintai oleh Pluto membuatku lantas memutuskan untuk tidak lagi makan daging anjing. Aku tak tega kalau harus makan daging hewan yang amat kucintai. Alasan ini sempat disanggah beberapa kawan yang biasa kerap kuajak makan daging anjing. Menurut mereka, aku sangat tak adil dan subyektif karena bagaimana dengan ayam yang dipelihara orang? Bukankah mereka juga masih makan ayam goreng kremes? Bagaimana dengan pemelihara kambing, bukankah mereka juga masih doyan sate kambing? Atau seseorang yang memelihara ikan toh bukan berarti lantas tak doyan disuguhi ikan bakar?

    Tapi aku teguh melangkah, tak lagi mau menyantap daging anjing! Dalam tahun-tahun berikutnya kecintaanku pada anjing (bukan daging anjing) makin tinggi hingga kini. 

    Ada sedikit? sangat sedikit hal yang kusesali dalam hidup dan makan daging anjing adalah satu dari antaranya. Menuliskan hal ini dan mengakui penyesalanku kepada kalian adalah caraku untuk mengurangi beban penyesalan itu sendiri?

    Sydney, 12 Agustus 2020

    *Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • TENTANG JOGJA (13): MUDIK (JOGJA – KEBUMEN)

    Sejak pindah ke Jogja pada 1993 hingga keluar tahun 2008, hampir setiap akhir pekan aku selalu menyempatkan diri pulang ke rumah orang tuaku. Sebelum 1998, aku pulang ke Kebumen karena kedua orang tua dan adikku tinggal di sana. Setelahnya, aku pulang ke Klaten karena sejak 1998, Papa, Mama dan Chitra pindah ke kota kelahiranku tersebut.

    Namun demikian pada rentang tahun 1996-1998 dan 1999-2000, bisa dibilang aku hanya pulang sebulan bahkan dua bulan sekali. Pada rentang-rentang itu aku punya pacar yang tinggal satu kota sehingga akhir pekan kumanfaatkan untuk pacaran. Rentang waktu selain itu? Aku pacaran tapi luar kota bahkan luar negeri, jadi kalau malam minggu nggak pulang justru akan menimbulkan pertanyaan mbak pacar, ?Kamu malam minggu kok nggak pulang? Ngapain di Jogja?!? Nah, repot kan? Hahaha!

    Di awal-awal sekolah, bagaimana perjalanan bolak-balik Jogja – Kebumen – Jogja adalah seperti yang kuceritakan di bawah ini.

    TIDAK MENGGUNAKAN TRAVEL

    Sejak awal, aku tak lagi menggunakan jasa travel ketika pulang dari Jogja ke Kebumen. Alasan terkuatnya adalah karena untuk sore hari, jadwal travel Jogja – Kebumen adalah jam 3:30 sore. Kalau lalu lintas lancar, sampai di rumah jam 5:30. Aku rugi waktu untuk bersama keluarga, kan?

    BUS KOTA JALUR 7

    photo:KITLV

    Jadi aku memutuskan untuk naik bus antar kota antar propinsi yang bisa kutumpangi kapan saja dari Terminal Bus Umbulharjo Yogyakarta. Waktu itu, di SMA Kolese De Britto, kegiatan belajar-mengajar di hari sabtu diakhiri pada sekitar jam 11:30 WIB. Biasanya aku tak pulang dulu ke Wisma. Dari sekolah, masih berseragam, aku naik bus kota jalur 7 dari depan sebuah rumah di sebelah barat Museum Affandi yang dijadikan halte.

    Bus jalur 7 melaju ke arah timur, belok ke selatan di pertigaan Janti. Melewati Blok-O, belok ke arah barat ke Gedong Kuning lurus ke selatan hingga Jl Kusumanegara melewati Kebun Binatang Gembira Loka belok ke arah selatan di Jl Veteran mentok hingga ke Warung Boto, Gambiran lalu memutar masuk ke Terminal Umbulharjo, Yogyakarta.

    Perjalanan itu biasanya kutempuh dalam waktu 45 menit. Turun di terminal bus kota yang letaknya bersebelahan dengan terminal bus antar kota antar propinsi, ada hal yang selalu tak pernah lupa untuk kulakukan, mengenakan jaket.

    JAKET, STENSILAN, PENGAMEN DAN HARGA TIKET

    Kenapa?

    Mengenakan seragam SMA itu menurutku berbahaya karena beberapa kali aku kerap kena todong penjual buku stensilan yang memaksaku untuk membeli dagangannya. Bukannya aku sok suci sehingga menolak membaca stensilan, tapi aku sejak awal memang tak suka dipaksa. Lagipula mereka biasa memaksa untuk membeli dengan harga tinggi, Rp 4.500,00 sementara di luaran aku bisa mendapatkannya dengan harga Rp 1.500,00? saja! (Loh, aku kok hapal sih hahaha)

    Nah, mengenakan jaket membuat peluang untuk ditodong jadi kecil karena raut wajahku cukup boros jadi mereka barangkali tak mengira aku adalah anak SMA hahaha!

    Aku biasa naik bus jurusan Purwokerto ataupun Cilacap untuk perjalanan menuju Kebumen. Waktu itu belum begitu banyak bus patas. Kalaupun ada, mereka tak mau menurunkan penumpang di Kebumen karena mereka tak lewat Terminal Kebumen melainkan belok ke arah ringroad selatan yang jaraknya beberapa kilometer sebelum terminal.

    Bus yang kutumpangi mengikuti rute Jl Kol. Sugiyono menuju ke Jl MT Haryono lalu belok ke arah utara ke Jl Bugisan dan setelah mencapai perempatan WIrobrajan lalu belok ke arah barat ke Jl Yogya – Wates hingga sampai di Kebumen.

    Selama dari terminal hingga lepas perempatan Wirobrajan, jaket selalu kukenakan. Todong-menodong penjual buku stensilan hanya terjadi di dalam terminal saja. Namun demikian, sepanjang jalan di dalam kota tersebut, para pengamen bergiliran masuk untuk bernyanyi dan meminta uang. Kalau aku tak mengenakan jaket, ketika menolak untuk memberi uang, biasanya mereka akan sedikit memaksa karena lagi-lagi tahu aku anak SMA. Tapi kalau pakai jaket, mereka akan berlalu begitu saja.

    Selepas Wirobrajan, jaket buru-buru kulepas karena saat itu biasanya pak kondektur akan mulai menarik tarip dari para penumpang. Dengan mengenakan kemeja seragam SMA, aku cukup membayar ongkos 1800 saja (kadang-kadang 1600 perak!) padahal harga tiket Jogja – Kebumen waktu itu sekitar 2200!

    Rute paling membosankan bagiku adalah dari Jogja ke Kulon Progo. Jalannya sempit dan bus melaju tidak terlalu kencang. Aku biasanya memilih tidur.

    Aku terbangun di sektiar perbatasan DIY – Jawa Tengah dan mood-ku biasanya terbangun luar biasa indahnya karena melewati perbatasan seperti meninggalkan Jogja dengan segala aksi bully yang kudapat di Wisma, menuju ke Jawa Tengah, tempat dimana orang tua dan adikku berada :) (Hal ini berlaku sebaliknya saat aku akhirnya punya pacar satu kota. Meninggalkan Jogja membuatku ingin cepat-cepat kembali ke sana hahaha?)

    MEGA

    Sampai Kebumen, biasanya waktu sudah menunjuk pukul 15:00 WIB. Turun di terminal bus Kebumen, aku tak langsung pulang. Menyeberang ke warung Mie Ayam Manshur yang letaknya tepat di depan terminal. Warung Mie Ayam Manshur adalah langgananku sejak awal masuk SMP. Setelah habis semangkok dan merokok barang sebatang atau dua, aku lantas pulang jalan kaki dari arah Terminal yang letaknya di Jl A. Yani Kebumen ke rumahku di Jl Kaswari No. 24 Kebumen.

    Sesampainya di rumah, Mama biasanya sedang tidur siang bareng Chitra sementara Papa masih ngantor.

    Aku langsung masuk ke kamar, menyerahkan cucian ke pembantu rumah tangga lalu nonton siaran parabola di layar televisi.

    Papa pulang kantor jam 3:30 atau kadang jam 4 sore dan di minggu-minggu tertentu, Mas Kokok (Om Y. Widyatmaka, adik bungsu Mama) yang waktu itu kuliah di Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto, datang untuk menginap pula semalam.

    Kalau sudah begitu biasanya suasana jadi seru. Hilang sudah bayangan dibully selama di Jogja tergantikan dengan begitu banyak cerita yang kami tukar satu-sama lain ditingkahi penganan, teh panas manis serta kepulan asap rokok (Waktu itu hanya Chitra dan pembantu rumah tangga yang tidak merokok karena aku, Papa, Mama dan Mas Kokok semua adalah perokok berat).

    Menjelang jam enam sore, jika tidak malas, biasanya aku pergi ke Gereja bersama Mama, Chitra dan Mas Kokok. Papa tinggal di rumah karena waktu itu beliau belum masuk Katolik.

    Sepulang dari Gereja, kami biasanya beli makanan di luar entah itu nasi goreng babat semarang depan toko ABC, Jl Pemuda Kebumen atau Mie goreng Ratman Muda yang letaknya juga ada di Jl Pemuda. Tapi kadang kami beli sate ayam madura atau soto sulung.

    Sampai di rumah, biasanya kawan-kawan Papa berdatangan. Mereka adalah teman yang dikenal dari dunia radio amatir. (Papa, Mama dan aku dulu sangat aktif dalam dunia radio amatir atau yang dulu dikenal dengan istilah ?nge-break?)

    Mereka bisa datang berempat tapi makin malam jadi berdelapan atau bahkan 12! Roti bakar bandung dan kacang kulit garing atau rebus menjadi kudapan beradu bersama berbotol-botol bir. Kongkow-kongkow sambil berkaraoke atau nonton pertandingan sepakbola di televisi pokoknya seru-seruan hingga menjelang tengah malam. Beberapa dari mereka yang masih kuingat nama-namanya hingga sekarang adalah Pak Leo (seorang polisi, aku sering bertanya-tanya tentang pistol darinya.), Mas Boni, Hengky, Billy, Mbak Mia?

    Biasanya aku hanya ikut ngobrol pada 1-2 jam pertama. Sekitar jam 9 malam aku mengendap masuk kamar dan? telpon gebetan! :)) Aku tak perlu bercerita apa yang kami bicarakan, bukan? 

    Telepon biasanya kami sudahi sekitar jam 10 malam karena mbak gebetan terkena jam malam oleh orang tuanya :) Selebihnya aku mendengarkan radio sambil membaca majalah hingga larut. Sesekali aku keluar kamar kalau aku ingin ikut mengudap makanan atau mengambil sebotol bir dan kehabisan rokok. Dari jam 11 hingga jam 1 malam di radio Bimasakti 774 AM Kebumen (anjrittt gue masih hapal!) diadakan acara untuk kirim-kiriman lagu dan biasanya aku berpartisipasi dalam acara tersebut. Banyak penyiar radio Bimasakti yang kukenal waktu itu dan dari kata ?Halo? yang kuucapkan, biasanya mereka sudah langsung mengenal, ?Halo, Mega!?

    Hah? Mega? :)
    Ya! Mega adalah nama ?udara? ku saat nge-break dulu! Aku menggunakan kata Mega karena menurut banyak orang, suaraku waktu itu lebih mirip cewek daripada cowok :)?

    MINGGU PAGI YANG MALAS

    Aku tidur jam 1 malam lalu bangun pagi sekitar jam 9 pagi.

    Ketika keluar kamar biasanya ruang tengah sudah bersih dari acara seru-seruan malam sebelumnya. Papa, Mama dan Mas Kokok biasanya masih tidur sementara Chitra sedang sarapan disuapin pembantu rumah tangga.

    Menjelang jam 10 aku segera telpon ke travel untuk memesan tempat menuju ke Jogja pada sore harinya.

    Untuk pulang ke Jogja pada minggu sore aku tak menggunakan Bumen Jaya karena jadwal paling sore mereka untuk trayek tujuan Kebumen – Jogja adalah jam 14:30! Bagiku itu terlalu pagi karena aku ingin lebih lama di Kebumen!

    Maka sejak pertama, untuk pulang ke Jogja, aku menggunakan Travel Rajawali karena trayek terakhir mereka ke Jogja adalah jam 4:30 sore. Kantornya berada di dekat bioskop Star yang letaknya bersebelahan dengan Terminal Kebumen di Jl. A. Yani. Kebetulan anak pemilik Travel Rajawali adalah kawan se-SMAku, Andre.

    Setelah memesan travel aku biasanya nonton tv bersama Mama, Papa, Mas Kokok yang baru saja bangun dan Chitra, adikku. Mama turun ke dapur untuk menyiapkan makan siang lalu setelah menyantap bersama, Mas Kokok biasanya lebih dulu pulang ke Purwokerto sekitar jam 1 naik bus dari Terminal.

    Mood-ku di saat itu biasanya sudah hancur berantakan. Mas Kokok pulang, rumah jadi lebih sepi dan? tak lama lagi aku juga harus kembali ke Jogja! Tak jarang aku biasanya ngelendot ke Mama dan menyatakan kembali berulang-ulang betapa aku malas sekali kembali ke Jogja.

    Mama tahu betul perasaanku. Ia biasanya mengusap-usap rambutku dan membesarkan hatiku.

    PULANG KE JOGJA

    Menjelang jam 4 sore biasanya aku sudah siap-siap mandi lalu menunggu travel datang. Papa dan Mama tak henti-hentinya membesarkan hatiku dan salah satu hal yang Mama pakai untuk membesarkan hatiku adalah karena di dalam travel nanti biasanya aku bertemu dengan SS, seorang perempuan, kawan dari TK dan SD yang entah kenapa Mama suka betul kepadanya.

    Menurutku, Mama dulu berharap betul aku ?jadian? dengan SS padahal aku tak ada hati sama sekali dengannya hahaha. SS sebetulnya adalah pribadi yang menarik! Sama sepertiku, olah orangtuanya, SS dikirim untuk bersekolah di Jogja. SS sekolah di Stella Duce 1, sekolah khusus cewek yang kerap jadi pasangan untuk SMA Kolese De Britto yang cowok semua.?

    Tapi harus kuakui, meski aku tak pernah menaruh hati kepadanya, peran SS yang tak pernah berhenti mengajak bicara sepanjang perjalanan Kebumen – Jogja cukup membantu membalut mood-ku yang sedang hancur-hancurnya, ngobrol dengannya adalah hal yang menyenangkan. Kami banyak bercerita tentang pengalaman selama di sekolah masing-masing dan banyak hal. SS orang yang sangat lembut kepribadiaannya, ceria dan secara fisik menarik. Ia tak hanya jago bicara dan menjaga tema untuk tetap hangat dibicarakan tapi juga seorang pendengar yang baik.

    Ia dulu kost di belakang Duta Foto Yogyakarta dan biasanya travel mengantarnya lebih dulu sebelumku. Kadang dia menawariku untuk mampir tapi aku selalu menolak dengan alasan harus ikut jam belajar (tapi boong!).

    Tak lama setelah lulus SMA, SS menikah dengan seorang pria berkebangsaan Amerika Serikat yang dikenalnya melalui program sahabat pena. Beberapa kali SS sering menceritakan tentang program tersebut di atas travel. Kini SS tinggal di Amerika Serikat bersama keluarganya.

    Setelah SS turun, penumpang berikut yang diantar adalah aku.

    Meski Mama selalu berpesan kepada pak sopir untukku diturunkan di depan asrama, tapi terkadang aku minta sopir untuk turun di warung lesehan depan Kantor Pekerjaan Umum untuk makan sambil menunggu selesai jam belajar.

    Di sana aku nongkrong hingga larut. Dari yang semula untuk menunggu jam belajar usai tapi karena membayangkan suasana wisma yang ramai dan rawan untukku ditelanjangi, biasanya aku tetap ada di situ hingga menjelang jam 10 malam saat pintu gerbang Wisma ditutup menandai berlakunya jam istirahat malam. 

    Aku jalan kaki menuju ke Wisma, masuk mengendap lewat pintu gerbang lalu langsung menuju ke kamar. Tak lama kemudian tidur. Mood booster-ku untuk minggu malam yang rapuh adalah karena keesokan harinya aku akan pergi ke rumah eyang di Klaten dan bermalam di sana dua-tingga hari lamanya! Begitu terus-menerus caraku untuk membunuh waktu di masa awal-awal tinggal di Jogja?

    Sydney, 8 Juli 2020

    *Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Cerita di balik ?SULUH?

    Cerita di balik ?SULUH?

    Kemarin adalah hari yang cukup bersejarah bagiku.? Untuk pertama kalinya, aku merilis single laguku, SULUH, ke kanal-kanal musik digital berbayar.

    Tak lama sesudah aku mendapat kabar dari label/agregator, hal pertama yang kulakukan lantas mengabarkan kepada banyak rekan tentang berita menggembirakan tersebut. Di antara komentar yang kuterima, banyak yang nadanya begini, ?Kok tiba-tiba rekaman? Kok tiba-tiba jadi musisi???

    Kok tiba-tiba jadi musisi?

    Dan jawabanku adalah, ?Kenapa tidak??

    Rekaman adalah obsesi lamaku, Bos!?
    Waktu masih suka nge-band saat SMA dan kuliah (serta awal-awal kerja) di Jogja dulu, rekaman ke Jakarta adalah cita-cita. Mungkin karena terlalu banyak membaca kisah sejarah band di Majalah HAI pada era 90-an, aku waktu itu kerap membayangkan diri ini dan kawan-kawan se-band naik kereta diundang major label di Jakarta untuk rekaman, rilis album, jadi artis, punya banyak fans, terkenal :)

    Sebagian dari hal itu barangkali tetap akan jadi mimpi. Tapi teknologi, dengan kemajuan dan kemudahannya serta mudahnya membangun relasi lewat social media, bayangan rekaman dan merilis rekaman itu ke publik jadi sangat mudah untuk dilakukan. Bahkan band pun tak perlu ada karena semua bisa dikerjakan secara mandiri, tidak dengan alat musik asli melainkan dengan bantuan teknologi bernama musical instrument digital interface alias MIDI.

    Hakikat karya dan berkarya

    Tapi bagaimana kalau hasilnya jelek?
    Salah seorang kawanku semalam juga sudah bilang begitu :) Tapi aku menjawab pertanyaan itu menggunakan pernyataan kawanku lainnya, ?Sing penting wani! (Yang penting berani -jw)!?

    Baik-buruk tak melulu jadi takaran dalam berkarya. Keberanian untuk men-ceprot-kan karyalah yang mutlak harus dimiliki orang yang bergerak dalam dunia kreatif.

    Sebagai blogger yang ngeblog sejak 2002 (media dan publik kerap menyapaku sebagai superblogger Indonesia) aku sudah paham betul tentang prinsip ini. Aku menulis hampir setiap hari dan setiap hari aku sebelum memencet tombol rilis, pertanyaan besar yang keluar adalah, ?Berani??

    Isi ‘SULUH’

    Carik kertas konsep lagu SULUH

    SULUH sendiri sebenarnya adalah laguku yang kesekian yang sudah kurilis keluar. Beberapa sebelumnya adalah Raja Singa (lagu tentang Aksi Kamisan) dan Saat Kunanti Pulang yang kupersembahkan untuk almh. Mama. Juga dua lagu religi, Bapa Kami dan Salam Maria (kukerjakan bersama Ari Wulu, seniman Jogja).

    Ide musik SULUH terlontar secara spontan beberapa bulan yang lalu. Main gitar, memainkan chord-chord dasar dengan ketukan 3/4 lalu muncullah melodi bagian reff menyusul baitnya.

    Ide kemudian kurekam dengan handphone dan sempat kudiamkan cukup lama sebagai referensi dan arsip saja. Hingga akhirnya ketika Pandemik COVID-19 melanda, aku terpikir untuk membuat lagu, kubuka kembali referensi-referensi dan yang cocok untuk menyuarakan pesan ya irama yang kini bisa kalian dengarkan sebagai SULUH itu.

    Secara isi, SULUH menyuarakan bagaimana sejatinya kita bersikap dalam masa ini. 

    Pandemik kuibaratkan sebagai satu masa yang gelap nan menyesakkan. Sesak karena hidup tiba-tiba berubah kepada satu keadaan yang lebih morat-marit, ekonomi tiarap, pekerjaan dan uang banyak hilang, ketahanan pangan jadi momok nan menakutkan. Ketiadaan vaksinasi dan obat yang benar-benar manjur untuk mengusir COVID-19 membuat kita tak tahu kapan semua ini akan berakhir? Ibarat malam, kita tak tahu kapan pagi menjelang!

    Lantas apa yang bisa kita lakukan?

    Mengutuk kegelapan?
    Sudah biasa dan terlampau banyak!

    Mendiamkan keadaan?
    Lantas ngapain?

    Melawan gelap, pendarkan pelita!

    Melawan adalah satu-satunya jawaban! Ya lawan! Melawan kegelapan meski dengan pelita-pelita kita. Pendarnya menyuluhkan sekitar, membuat orang lain ikutan berani menyalakan pelitanya masing-masing sehingga terciptalah terang yang lebih besar dan makin besar lagi!

    Aku percaya bahwa masing-masing dari kita memiliki pelita itu. Pelita itu adalah kasih. Kasih yang hidup di dalam diri, kasih yang memampukan kita hidup maka kenapa tak kita bagikan kepada sesama supaya mereka pun jadi lebih hidup?!

    Di masa yang gelap ini, aku melihat pendar pelita tampak dari paramedis yang bertugas di banyak fasilitas kesehatan di dunia. Mereka manusia biasa seperti kita tapi mereka berani untuk merelakan tak hanya waktu tapi juga kenyamanan dan hidup mereka sendiri. 

    Aku juga melihat pendar pelita tampak dari para relawan yang mau-maunya mengorbankan diri untuk mengurus penguburan jenasah dengan standard tertentu yang telah ditentukan pemerintah. Tak mudah, tak menyenangkan tapi ketika hal itu adalah menjadi jalan untuk menyuluhkan terang bagi sekitar, mereka melakukannya!

    Aku juga melihat pendar pelita dari orang-orang yang menggalakkan bekerja dan beraktivitas dari rumah saja dan mereka yang meski keluar dari rumah tapi tetap memperhatikan betul rambu-rambu kesehatan yang telah ditentukan pemerintah.

    Lagu ini kupersembahkan bagi mereka dan kita semua!

    Proses produksi

    Proses produksi SULUH mulai dari recording, tracking, mixing hingga mastering kubikin dengan sangat sederhana kalau tak mau kukatakan seadanya. Vokal kurekam beberapa kali pada menjelang tengah malam dengan lampu ruangan benar-benar kupadamkan. Hal ini kulakukan supaya aku bisa mendapat nuansa ketika aku bernyanyi, ?Di tengah malam tak berbintang??

    Hampir semua instrumen kupercayakan pada MIDI kecuali gitar baik iringan, petikan maupun melodi. Bass sempat kuambil dengan instrumen asli tapi karena tak terlalu sreg dengan hasilnya, track itu lantas kuhapus begitu saja :)

    Secara khusus aku menggunakan Abbey Road plugin set untuk mixing dan mastering. Plugin set itu kupilih karena aku suka nuansa vintage dan ?roomy? yang bisa kalian temukan di SULUH. Beberapa kawan menganggap hasil rekaman tidak bersih dan penuh noise? Hmm, tapi itu memang kusengaja adanya hahaha?

    Aku butuh waktu hampir satu bulan dengan 27 versi yang kubuat karena merasa tak pernah puas dengan hasil akhir. Jadi kalau kamu anggap hasil rekaman ini tidak terlalu bagus, percayalah itu adalah yang terbaik dari 26 lainnya hahaha!

    Setelah jadi, aku lantas mencari tahu bagaimana cara mendaftarkan lagu ke kanal-kanal musik tersebut. Setelah mendaftar, aku segera membuat cover art yang lagi-lagi kubuat sendiri. Kulukis malam hari menggunakan cat acrylic di atas kertas gambar milik anakku.?

    Ada yang bertanya kenapa gambarnya lilin dan bukan senthir/teplok yang lebih cocok ke pelita dan suluh? Aku menjawab, ?Susah ngegambarnya! Ini aja yang gampang hahaha??

    Emang laku?

    Maka sampailah pada pertanyaan, ?Apa yakin laku??

    Hahaha… Menjawab pertanyaan itu, kubalas dengan bertanya, apa sih yang membuat khawatir ketika lagu ini tak laku?

    Ide lagu kudapat secara cuma-cuma. Proses produksi kulakukan dengan sukarela dan penuh rasa gembira. Apa yang perlu dibayar balik supaya mampu mengganti perasaan-perasaan itu?

    Dari sisi perhitungan uang, laku atau nggak laku, dapatnya juga dikit, Bos!

    Bayangin aja,  setiap kali kalian putar laguku, aku hanya mendapat 0.006 dollar. Jadi kalau ada 1000 orang memutar, aku baru dapat enam dollar. Hal itu setara dengan harga secangkir kopi pagiku ahahaha?

    Tapi kalau ada yang putar sampai sejuta kali? Yaelah! Jangankan sejuta, seratus juga aku udah hepi Bro!

    Jadi ya begitulah! 

    Kalau kalian tertarik, silakan mendownload/streaming di sini:

    Spotify: https://open.spotify.com/album/7m5wBkkbeBvfi5yhQnEooz

    Apple Music: https://music.apple.com/us/album/suluh-single/1519673202?uo=4&app=music&at=1001lry3&ct=dashboard

    iTunes: https://music.apple.com/us/album/suluh-single/1519673202?uo=4&app=itunes&at=1001lry3&ct=dashboard

    GooglePlay/Youtube: https://play.google.com/store/music/album/Donny_Verdian_Suluh?id=B2ajvuishrdkkxci3fvgqhqp2xu

    Amazon: http://www.amazon.com/gp/product/B08BKTL426/?tag=distrokid06-20

    Deezer: https://www.deezer.com/album/156051952

    IHeartRadio: https://www.iheart.com/artist/id-34658082/albums/id-105073940

    Atau kalau ingin mengakses yang ?gratisan? bisa juga membuka video di bawah ini:

    Mari menjadi pelita bagi sesama!

    Sydney,
    di hari pesta kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, 24 Juni 2020.

    DV, Superblogger Indonesia

  • Tentang Jogja (12) : Titik balik

    Satu hal penting dalam hidup dan kupercaya sebagai sesuatu yang benar adalah, ketika kita mengharapkan perubahan, kitalah yang harus memperjuangkan dan mengusahakan perubahan itu.  Dua puluh tujuh tahun silam aku belajar tentang hal ini melalui ?jalur keras.?

    SLK

    Seperti yang kutulis sebelumnya, strategi untuk membagi waktu antara Klaten dan Jogja tidak lantas membuatku berhenti dibully. Faktor pengurangannya berbanding lurus dengan faktor penambahanku untuk tinggal di Klaten. Artinya makin sering tinggal di Klaten, makin berkurang dibully. Makin sering tinggal di Wisma? Ya makin kerap dibully!

    Suatu sore, saat sedang minum teh dan ngerokok di kantin Wisma, seorang kakak kelas beda setahun, anggap saja bernama SLK, datang menghampiri.

    SLK berasal dari Jakarta.?
    Orangnya berkulit gelap, berambut panjang dan berpawakan kurus tapi berotot. Ia gape main gitar dan kerap kulihatnya bermain dikelilingi anak-anak lain sambil bernyanyi-nyanyi menghabiskan waktu baik itu petang ataupun malam setelah jam belajar. Ia kadang ikut menelanjangiku tapi tak sesering kawan-kawan lainnya.

    ?Don?? sapanya.
    Aku kaget tak menyangka akan disapa. ?Oh? halo?.? jawabku kaku.

    ?Bole pinjem kaset loe nggak?? SLK duduk di depanku.

    ?Bo?boleh? Kaset yang mana?? tanyaku.

    Use Your Illusion

    Rupanya, saat aku sedang ke Klaten, SLK datang ke kamar, ngobrol dengan Heribertus dan di sela-sela ngobrolnya itu, SLK melihat koleksi kasetku yang meski tak seberapa banyak tapi membuatnya tertarik untuk meminjam.

    ?Yang Guns N Roses dong. Gw punya yang orange tapi gak punya yang biru?? Guns N Roses, band rock Amerika kenamaan waktu itu sedang hot-hotnya setelah mengeluarkan album ganda Use Your Illusions. Kaset dengan cover art dominan warna orange adalah Use Your Illusion I dan yang warna biru adalah Use Your Illusion II.

    Tak lama sesudahnya aku segera mengambil kaset yang dimaksud lalu mengantarnya ke kamar SLK.

    ?Thanks, Don. Seminggu gue balikin ya!? jawabnya. Aku mengangguk mengiyakan.

    Tak lama berselang, ketika sedang sendirian tiba-tiba aku punya pikiran yang aneh. ?Eh, gimana kalau ternyata setelah seminggu kasetku nggak dikembalikan ya? Gimana kalau lantas kaset itu dijadikan hak miliknya??

    Malam harinya, setelah jam belajar aku pergi ke kamar SLK. Tak kutemui ia di sana, aku naik ke lantai atas ke kamar kawan dekatnya.

    Dengan wajah datar, aku mendatangi SLK yang sedang duduk-duduk dan main gitar. ?Boleh kuminta lagi kasetku?? 

    Wajah SLK tampak seperti agak kebingungan, ?Oh? Boleh dong? Ada di kamar?. Tapi boleh nggak kupinjam seminggu? Baru gue puter sekali nih..? Ia mencoba tersenyum.

    Aku seperti tak memberi ruang baginya, tekadku sudah bulat, ?Sekarang, please??

    SLK berdiri. Ketika hendak keluar dari kamar untuk mengambil kaset, aku mengimbuhi, ?Sorry tapi aku gak mau kasetku hilang? Aku nggak mau nanti ada yang mengaku-aku sebagai seolah-olah yang punya kaset!?

    Bogem mentah

    SLK naik pitam. Matanya melotot ke arahku.

    Aku didorong keluar dari kamar kawannya. Leherku dicengkeram dengan tangan kiri sementara tangan kanan terkepal diarahkan ke pipiku, ?Emang loe pikir gw maling? Anjing!? Suaranya keras menggema membuat seisi asrama terdiam lantas menyisakan wajah-wajah yang menatapku dengan hampa.

    Aku minta ampun saat itu dan dia pun melepaskan cengkeramannya. Aku terhindar dari bogem mentahnya. Segera ia berlari ke kamarnya mengambil kaset dan melemparkannya kepadaku. ?Makan tuh kaset loe!?

    Dengan gemetar aku kembali ke kamar dan malam itu aku menangis hampir semalam-malaman.

    Tangisku bukan karena ketakutan tapi karena aku sadar itu semua terjadi karena salahku! Aku membayangkan kalau aku adalah Si SLK, barangkali aku sudah akan meluncurkan bogem mentah itu, tak hanya sekali bahkan berulang kali.  Siapa yang suka dituduh maling? Dan kenapa aku menuduhnya demikian?

    Perubahan

    Hari-hari berikutnya begitu mencekam bagiku.

    Ada perubahan besar yang terjadi dari sikap dan perilaku kakak-kakak kelasku terhadapku.

    Mereka tak lagi datang untuk menelanjangiku seperti malam-malam sebelumnya, tapi di sisi lain mereka juga berhenti menyapaku sama sekali. Padahal sebelumnya, meski kerap ditelanjangi tapi sejatinya mereka selalu menyapaku dengan hangat. 

    Mereka tak menegur, tak mengajakku untuk bergabung dalam obrolan. Tatapan mereka dingin saat melihatku. Saat berpapasan, mereka menjauh. Ada yang melotot ke arahku, ada pula yang berbisik-bisik dengan kawannya yang kuyakin sedang membicarakanku.

    Aku lantas melakukan intorspeksi diri.

    Ngobrol dengan banyak kawan termasuk Joedith dan kawan-kawan lain yang kuanggap dekat. Dari situ aku akhirnya tahu bahwa cara bergaulku lah yang kurang benar!

    Selama itu aku terlalu menarik diri untuk mau bergaul dan mengenal kawan-kawan dengan baik dan dekat.  Padahal sebagai anak baru, akulah yang harus memperkenalkan diri dan membaur untuk lebih mengenal mereka supaya mereka pun mengenalku. Tapi yang ada, ketika yang kutemui adalah sesuatu yang tak kusukai, tanpa kompromi aku lantas balik badan dan memunggungi. 

    Ketika yang kutemui adalah sesuatu yang tak kusukai, aku lantas lari dan tak mau lagi mendekat.  Hal ini membuat mereka penasaran dan melakukan segala cara termasuk menelanjangi dan mengolok-olok supaya aku bisa akhirnya mau bergabung dengan mereka. Ketika aku merasa diserang atau sedang tak aman, aku memasang tembok pertahanan tinggi-tinggi supaya mereka tak mampu menyerang dan menjatuhkanku. Ketika aku berhasil membangun lantas melongok dari balik tembok, kusadari mereka menghilang karena tak ada yang mau berkawan denganku.

    Sejak saat itu, sedikit demi sedikit aku mulai berubah.

    Tak mudah karena aku kerap disindir tentang apa yang terjadi malam itu dengan SLK. Sering juga aku mengalami diolok-olok dan ditelanjangi tapi aku akhirnya malah mensyukuri hal itu sebagai tanda bahwa mereka mulai kembali menerimaku.

    Aku mulai mau diajak jalan-jalan bareng, makan diluar bareng bahkan bolos jam belajar bareng-bareng. Tak jarang sepulang sekolah hingga menjelang petang aku dan kawan-kawan berkumpul sambil main gitar dan bernyanyi. Mereka akhirnya tahu aku cukup lumayan main gitar dan bernyanyi dengan wawasan musik yang lumayan luas untuk ukuran anak seusiaku.

    Dari situ aku belajar, seperti yang kutulis di paragraf awal, bahwa ketika menghendaki sesuatu berubah, kitalah yang harus ikut andil dalam perubahan itu dan tak hanya diam menunggu!

    Hingga SLK lulus dua tahun sesudahnya, aku tak pernah bisa berhubungan baik lagi dengannya. Aku berusaha menawarkan maaf kepadanya tapi hanya dibalas dengan senyum yang kaku. Aku bisa mengerti betul perasaannya itu.?

    Sudah lebih dari 25 tahun aku tak lagi bertemu dengan SLK. Jika Tuhan memberikan kesempatan untuk kami bertemu, sudah barang tentu aku akan kembali menyodorkan tanganku serendah-rendahnya di hadapannya untuk meminta maaf atas kelancangan yang pernah kubuat di masa itu. Sorry, Jep!

    Sydney, 22 Juni 2020

    *Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Tentang Jogja (11): Solusi Klaten – Jogja

    Tentang Jogja (11): Solusi Klaten – Jogja

    Sore itu, seperti yang kurencanakan, setelah pulang dari mengikuti perayaan ekaristi, aku pergi ke warung telekomunikasi (wartel). Jalan kaki dari Wisma Ampel 2 ke Hotel Puri Artha di Jl Cendrawasih, Demangan Baru tempat wartel berada. 

    Sebenarnya ada sih yang lebih dekat jaraknya dari Wisma, tapi sore itu aku sengaja memilih yang jauh karena aku memang sedang benar-benar tidak ingin berada di Wisma. Sengaja pula aku membolos jam belajar dengan menulis pesan di buku pamit bahwa aku harus bertemu dengan wali orang tuaku yang rumahnya ada di bilangan Prawirodirjan. (Alasan ini kupakai berulang-ulang kali ketika aku hendak membolos jam belajar. Nyatanya hingga akhirnya aku pindah ke Australia dan hingga sekarang, tak sekalipun aku pernah bertemu dengan waliku itu?).

    Bertahan, Le

    ?Ma?? sapaku kepada Mama.

    ?Ya, Le? Piye kabarmu? Wingi inisiasi-ne piye? Adimu kangen mergo kowe wingi ora bali ki?? ujarnya di ujung telepon. Aku tahu sebenarnya yang kangen adalah Mama bukan Chitra :)

    ?Apik, Ma?tapi?.?

    Aku lantas bercerita dari awal tentang apa yang terjadi dan apa yang kualami dalam beberapa hari terakhir. Hingga di simpul ujung pembicaraan aku berkata, ?Ma, aku pindah sekolah Kebumen wae piye??

    Mama bisa mengerti perasaanku. Ia tak marah tapi dari nada suaranya terasa betul kesedihannya. Ia menguatkan, ?Le? nek kowe sekolah neng Kebumen ki arep sekolah neng endi? SMA 1 wes kebak, wes ora ana kursi kosong!?

    Aku sempat menyebut sebuah sekolah swasta di Kebumen tapi Mama tak menyetujuinya. ?Bertahan, Le? Moso kowe kalah? Ora iso ngadepi? Bertahan!?

    Dengan langkah gontai, aku keluar dari kamar telepon, membayar di kasir lalu berjalan ke Jalan Solo dari arah Jl Demangan Baru. Aku sempat kecewa malam itu karena Mama yang kujadikan sebagai satu-satunya harapan untukku kembali pun tak membuka tangannya. 

    Malam itu aku menghabiskan waktu di Toko Buku Gunung Agung untuk membaca beberapa buku. Menjelang jam 9, aku keluar dari toko lalu makan malam di warung lesehan di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum. Setelah menghabiskan nasi sayur dan telor dadar dengan ayam goreng ditingkahi teh panas dan beberapa batang rokok, aku berjalan kembali ke Wisma.

    Joedith

    Sampai di depan Wisma sekitar jam setengah sepuluh malam. Tiba-tiba dari arah kantin yang sudah hampir tutup, kudengar seseorang memanggilku, ?Don, saka ngendi ko? Lemes temen rasane??

    Semula aku tak bisa mengenali wajahnya karena terhalang tanaman hias, tapi dari nada bicara dan pilihan kata, sudah barang tentu dia adalah anggota dari Gang Ngapak!

    ?Eh, kowe Dith?? ternyata Joedith-lah dia.

    Ia tersenyum.

    ?Saka telpon Mamaku, Dit..? ujarku.

    ?Ayuhhh dolan kamarku, ngobrol?? Semula aku tak ingin menerima tawarannya. Kamar Joedith ada di area ?neraka? dikitari kamar-kamar kakak kelas yang kuingat dan kutahu betul adalah anggota rombongan yang kerap menelanjangiku.

    Tapi aku memberanikan diri. Toh, ada Joedith yang berjalan bareng dan rasanya karena Joedith ini orangnya cukup pendiam, kakak-kakak kelasku akan sungkan untuk menelanjangiku di dalam kamarnya.

    Ketika sedang asyik ngobrol dengan Joedith, tiba-tiba kamarnya dibuka dan muncul sosok seorang berambut ombak, berpawakan pendek yang kerap menelanjangiku. ?Wah, Donny main ke atas? Nah gitu dong! Sekali-kali main ke atas. Kene, njaluk udud-e!??

    Aku ketakutan.

    Aku mengeluarkan bungkus rokok dan memberinya sebatang. ?Ayo ngrokok neng njaba?? ajaknya. Aku menolak. Sakit hati dan traumaku masih kental. Gila aja kalau aku mengikuti ajakannya! Gimana kalau aku nanti ditelanjangi di depan publik?! Lantas celanaku disita? Bagaimana pula aku harus jalan pulang ke kamar nantinya?

    Sejak malam itu, hubunganku dengan Joedith makin dekat. Tak hanya karena kami sama-sama ngapak tapi karena Joedith meski umurnya hanya selisih satu bulan lebih tua dariku tapi pembawaannya yang kalem, pola pikirnya yang cerdas dan tak sungkan untuk menegur ketika aku berbuat salah membuatku kadang menganggapnya seperti kakak bagiku.

    Kami juga punya hobi yang sama, martial arts dan saat kelas tiga, menjelang lulus, aku dan Joedith punya pacar pertama dalam waktu yang nyaris bersamaan. Pacar-pacar kami pun berasal dari sekolah yang sama pula! 

    Setelah lulus, Joedith melanjutkan ke Bandung dan tinggal di sana hingga sekarang. Sehari sebelum tulisan ini kurawi dan publikasikan, aku sempat hendak janjian telepon dengannya meski di awal kuberi aba-aba, ?Aku udah nggak bisa ngapak-ngapak lagi. Jadi kalau aku nanti telepon pakai basa Jawa khas jogja atau malah berbahasa Indonesia, maafkan!?

    Klaten – Jogja

    Sementara waktu berlalu, sesuai anjuran Mama, aku mencoba bertahan. Sekitar bulan Agustus 1993, Mama menawarkan satu solusi yang kemudian kuikuti dan amat kusyukuri kuambil waktu itu! Mama mengusulkan untukku membagi waktu dalam satu minggu antara Klaten dan Jogja. Dua hari tinggal di rumah Klaten dan tiga hari sisanya di Jogja lalu akhir pekan pulang ke Kebumen seperti biasa.

    Rumah Klaten sejak aku dan Mama pindah ke Kebumen pada 1984 ditinggali oleh Simbah Buyut Putri (Mbah Padmodiharjo) Eyang Putri (Ibu Pranyoto, aku memanggilnya Ibu), Mbak Yo (Tante Yohana Widiyatmi) dan Mas Kokok (Om Yohanes Widyatmoko). Tapi setelah Mbak Yo dan Mas Kokok lulus SMA (1988), keduanya meninggalkan rumah. Mas Kokok kuliah di Purwokerto dan Mbak Yo kuliah di Jogja.

    Tahun 1991, Simbah Buyut Putri seda (meninggal dunia) menyisakan Ibu yang lantas ditemani Mak Ndhuk (tetangga rumah yang digaji untuk menemani Ibu) setiap malamnya. Ide Mama tadi disambut baik oleh Ibu karena selain tambah satu orang yang menemaninya, sejak kecil aku sebagai cucu pertama memang sangat dekat dengan Ibu.

    Maka rutinku berubah.

    Setiap Senin dan Selasa aku selalu pulang ke Klaten. Kenapa aku memilih kedua hari itu?

    Yang pertama karena setelah hari Minggu pulang dari Kebumen, jadwal pulang ke Klaten hari Senin adalah semacam rangsangan untuk membahagiakan hati di minggu malam yang sepi! Yang kedua, karena di De Britto waktu itu aku wajib mengenakan seragam putih-abu-abu di Senin, Selasa dan Sabtu, pulang pergi Klaten – Jogja di hari itu dengan mengenakan seragam akan mengirit ongkos tarip bis hampir 50% karena aku dikenai tarif siswa!

    Sepulang sekolah, aku tak mampir ke Wisma tapi langsung nyegat bis kota Jalur 7 dari rumah di dekat Museum Affandi, turun di pertigaan Janti. Dari situ aku nyegat bis Jogja – Solo lalu selama kurang lebih 45 menit kemudian sampai di Stasiun Klaten. Aku turun di sana lantas disambung naik becak hingga ke rumah Ibu.

    Apa yang kulakukan selama di Klaten?

    Aku biasanya sampai di rumah sekitar jam 2 siang, Ibu sudah menyiapkan makan. (Ibu tak begitu pandai memasak maka ia selalu membelikan lawuh dari luar untukku). Setelah makan aku buru-buru keluar ke rumah kawan dekatku waktu kecil, Agus ?Cilik? namanya. Di sana kami ngobrol, kadang main gitar kadang janjian main basket di lapangan basket almamaterku, TK Maria Assumpta Klaten hingga menjelang maghrib.

    Aku lantas pulang untuk mandi, sesudahnya aku pamit keluar untuk cari makan malam. Hampir bisa dipastikan aku memilih makan malam di warung tahu kupat Kromo Lempok. Waktu itu, letak warungnya ada di emperan Toko Gita Busana di samping Masjid Raya Klaten. Setelah Klaten Plasa didirikan, warung tersebut pindah di samping parkiran sepeda Pasar Klaten hingga sekarang. Terakhir kali aku ke sana adalah Desember 2018 saat aku pulang untuk merayakan ulang tahun Ibu ke-88!

    Pulang dari sana aku tak langsung kembali ke rumah. Aku main lagi ke rumah Agus ?Cilik? untuk merokok beberapa batang sambil ngobrol ngalor-ngidul atau bermain gitar. Oh ya, Ibu tak tahu kalau aku sudah merokok dan karena ia sangat benci pada asap rokok, aku tak pernah merokok di rumah :)

    Menjelang jam 9:30 aku pulang, cuci kaki lalu siap-siap nonton TV dan pura-pura belajar, membuka-buka buku di depan Ibu. Sekitar jam 22:30 biasanya Ibu pamit untuk tidur sambil mendengarkan siaran radio wayang semalam-malaman. Aku sendiri biasanya baru tidur menjelang tengah malam.

    Bangun pagi jam 5 aku lantas bersiap mandi lalu pamit Ibu untuk mengejar bus jam 5:45 dari Stasiun Klaten. Sesampainya di Jogja, sekitar jam 6:15, turun di Janti lalu disambung naik bus kota jalur 7 hingga ke Gedung Wanitatama tepat di depan kampus De Britto.

    Klaten – Jogja, bukan solusi terbaik tapi kusyukuri…

    Bolak-balik Klaten -Jogja terus berlanjut hingga beberapa tahun berikutnya. Meski demikian frekuensinya naik-turun karena di tahun kedua aku mulai punya banyak teman dan di tahun ketiga aku punya pacar :)

    Kalau menilik ke belakang mengenang saat-saat itu, betapa aku mensyukurinya saat ini! Aku mensyukuri untuk mengiyakan solusi yang diberikan Mama karena selain memberikan kelonggaran tekanan dari bully aku jadi punya waktu untuk bicara hati-ke-hati dengan Ibu, dengan Mak Ndhuk dan dengan banyak kawan masa kecilku yang tinggal di kampung!

    Tapi apakah hal itu lantas membuat bully berakhir?

    Tidak! Tidak sama sekali! Setiap kali mereka tahu aku bermalam di Wisma, ya di-wudani?.

    Tapi setidaknya frekuensi menjarang dan setiap kali diwudani aku sudah bisa pasrah dan berpikir, ?Jika ini adalah cara untuk membahagiakan kalian, lakukanlah!?

    Sydney, 16 Juni 2020

    *Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Tentang Jogja (10): Wudani? wudani?

    Kira-kira seminggu setelah masuk sekolah, pada suatu pagi, saat hendak bersiap-siap antri di kamar mandi, pintu kamarku diketuk, ?Don, bukain dong?? Aku tak tahu siapa dan kupikir waktu itu tak perlu kutanya siapa. Ketika pintu kubuka kagetlah aku karena bukan seseorang tapi serombongan orang. Mereka mendorong pintu yang baru terbuka sebagian lalu berteriak, ?Wudani?. wudani?.??

    Aku dijatuhkan di atas kasur dan diwudani, ditelanjangi?

    Setelah berhasil membuatku telanjang, mereka bergelak-gelak dalam tawa bagaikan menang perang, mengangkat celana dan celana dalamku tinggi-tinggi lalu beramai-ramai keluar.

    Aku bingung.?
    Aku takut? dan aku merasa sangat sedih.

    Kenapa aku harus dibegitukan??
    Adakah aku berbuat salah terhadap mereka?? Adakah menelanjangiku membuat syahwat mereka tertuntaskan? Tapi kenapa harus aku?

    Ketika lantas aku keluar dari kamar untuk mandi, seorang kakak kelas yang tak ikut dalam rombongan tadi mendekatiku. ?Di sini biasa, anak baru sering di-wudani? Sing sabar, Don?? Ia menghiburku. Tapi aku tetap tak habis pikir?

    Pagi itu menjadi begitu sangat tidak mengesankan bagiku.

    Kermit The Frog

    Sementara itu di sekolah, aku bukannya tidak mengalami masalah.

    Baru seminggu tuntas, sudah mulai ada yang memanggil bukan nama asli tapi ?Bathuk.? ?Bathuk? adalah istilah dalam Bahasa Jawa yang berarti jidat. Aku semula berpikir bahwa dengan pindah ke Jogja, kota besar, kota pelajar panggilan-panggilan seperti itu tidak akan pernah ada. Tapi nyatanya tetap saja ada. Bahkan panggilan yang kuterima tak hanya yang terkait dengan lebarnya jidat dan besarnya lingkar kepalaku. Ada juga yang memanggilku ?Kermit?.

    Semula aku bingung, kenapa kermit?

    Bagi yang tidak tahu, Kermit The Frog adalah karakter yang muncul dalam serial The Muppet Show yang dulu disiarkan TVRI. Kermit tidak berjidat lebar tapi kenapa aku disapa kermit?

    Karena penasaran, aku bertanya pada salah satu dari mereka kenapa aku dipanggil Kermit?

    ?Deloken lambemu! Lambe kok amba banget kaya Kermit hahahaha!? jawab mereka sambil tertawa terbahak-bahak di depanku dan kawan-kawanku.

    Aku benar-benar tertekan.?
    Untuk melawan tekanan itu, setiap jam istirahat aku memilih menyendiri ke lapangan sepakbola atau ke perpustakaan pura-pura asyik membaca. Ketika lapar, aku memilih pergi ke kantin di sela-sela jam pelajaran dengan alasan pamit ke toilet. Hal ini kulakukan untuk menghindari keramaian di kantin saat jam istirahat karena dalam keramaian seperti itu aku takut dipanggil dengan panggilan-panggilan yang tak membuatku bahagia itu.

    Inisiasi

    Pada paruh akhir minggu kedua, De Britto mengadakan inisiasi bagi siswa baru. Kegiatan diadakan pada sore hingga malam hari karena pagi harinya tetap harus mengikuti kegiatan belajar di kelas.

    Konsepnya adalah pengenalan kampus, pengenalan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler tapi pada prakteknya acara tersebut juga berisi pemberian tugas-tugas yang menurutku tidak masuk akal dan sangat sulit dilakukan.  Misalnya kami disuruh mencari korek api dari kayu yang memiliki dimensi ukuran tertentu. Membeli gayung warna-warna yang nyaris tak masuk akal untuk dicari dalam waktu yang sempit! Ketika gawal mengumpulkan tugas, hukuman mulai dari bentakan hingga push-up siap menanti.

    Beruntung kakak pendamping grup-ku adalah orang yang begitu kalem, tidak banyak bicara dan tidak pernah membentak apalagi menghukum. Kakak pendamping grupku ada dua, yang pertama adalah Tony (dia juga tingga di asrama) dan Anton Ismael, orang yang kini banyak dikenal sebagai fotografer ternama di Indonesia dan pernah kutulis di sini.

    Aku dan Anton Ismael dalam reuni tahun 2018 silam di Yogyakarta

    (Pengalaman mengikuti inisiasi ini membuatku lantas tak mau ikut kegiatan bertajuk yang sama saat masuk kuliah tiga tahun kemudian. Waktu itu aku menolak ikut dengan alasan tak mau dijadikan badut dan aku bukan orang yang bisa diinjak-injak serta diremehkan dan diperintah hanya karena aku lebih muda dari mereka! Pertentanganku waktu itu sempat dipermasalahkan pihak kampus mengingat kegiatan tersebut adalah kewajiban. Ancaman tidak bisa lulus pun kudengar tapi aku tetap tak bergeming. Lebih baik baiku untuk tak diluluskan dari perkuliahan daripada harus merendahkan kepala di bawah kaki kakak angkatan! Bagaimana kisah lengkapnya? Nanti kuceritakan juga di sini.)

    Acara inisiasi di De Britto diakhiri pada akhir pekan. Waktu itu kami diminta tidur di ruang kelas beralaskan koran sejak hari sabtu hingga minggu pagi.

    Wudani… wudani…

    Pulang ke Wisma, dalam keadaan letih dan ngantuk aku hanya bisa tidur beberapa jam. Sekitar jam 12 siang, aku mencari makan bersama Heri ke warung Gayeng Niki yang letaknya tak jauh dari Warung Makan Barokah di Jl Ori. Setelah makan kami langsung pulang karena aku pikir hendak melanjutkan tidur siang untuk sore harinya ke Gereja.

    Saat melewati kantin, ada sekelompok kakak kelas. Akupun menyapa mereka. Kulihat sebagian dari mereka adalah orang-orang yang menelanjangiku beberapa pagi sebelumnya. Beberapa dari mereka membalas sapaan tapi yang lain tampak sedang merencanakan sesuatu dengan berbisik-bisik dan terus memandangku. Aku menangkap gelagat itu dari sudut mata saat aku melaluinya hendak jalan ke kamar.

    Dan benar saja!

    Tak lama setelah aku masuk kamar, segerombolan kakak kelas menyerbu masuk dan berteriak, ?Wudaniiii? Wudaniiii??

    Kejadian itu berulang lagi.?
    Aku ditelanjangi!

    Setelah berhasil membuatku telanjang, mereka bergelak-gelak dalam tawa bagaikan menang perang, mengangkat celana dan celana dalamku tinggi-tinggi lalu beramai-ramai keluar.

    Mentalku begitu rapuh waktu itu?
    Aku menangis dan tak bisa kusembunyikan sedih perihku di hadapan Heri, kawan sekamarku.

    Aku merasa hadir dalam kubangan yang salah. Kiubangan yang semula tampak begitu indah tapi ternyata seperti itu keadaannya.

    Sore itu keputusan kuambil dan bulat. 

    Nanti sepulang dari ikut misa di Gereja, aku hendak telpon Mama dan meminta maaf atas keputusanku pindah ke Jogja. Aku akan mengakui bahwa keputusan itu salah dan akan kumohon kepadanya supaya ia menarikku pulang ke Kebumen. 

    Lebih baik melanjutkan studi di kota kecil tapi dibesarkan dalam lingkungan penuh cinta?

    Sydney, 15 Juni 2020

    *Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Tentang Jogja (9): Hari Pertama Sekolah

    Hari pertama masuk sekolah, aku dan Heri memasang weker jam 5:30 pagi. Segera sesudahnya kami mengambil handuk dan keluar untuk antri ke kamar mandi. Sambil mengantri kami saling bertukar ?Selamat pagi? dengan kawan lain yang juga sama-sama barusan bangun. 

    Yang menarik kuamati waktu itu adalah hampir setiap kamar punya weker. Tak setiap kamar men-setting weker pada jam yang sama. Dari perbedaan weker, menghasilkan paduan suara yang unik dan berbeda-beda pula. Dari yang standard, ?Kring?, ke yang digital ?Tut-tut.. tut-tut.? Dari yang menyodorkan suara berupa kokok ayam jantan hingga yang bisa memutar suara orang berkata, ?Selamat pagi?.Ayo bangun!.?

    Hari Pertama Sekolah

    Sekitar jam 6:15 pagi, aku selesai mandi dan bersiap. 

    Pagi itu aku mengenakan seragam kemeja putih dengan logo De Britto dan celana abu-abu yang masih benar-benar baru, hasil jahitan dari penjahit langganan Papa dan Mama di Kebumen, Elita. Di De Britto waktu itu, sesuai aturan, kami wajib mengenakan seragam setiap senin, selasa dan sabtu. Di hari rabu, kamis serta jumat kami boleh mengenakan baju bebas asal atasannya ber-krah dan bercelana panjang. Untuk alas kaki tak mesti mengenakan sepatu. Sepatu sendal khas ?Neckermann? atau sendal gunung ?Alpina? juga diperbolehkan.

    Kami berjalan berombongan pagi itu. Dari Wisma Ampel, keluar di Jl Petung. Sesampainya di pertigaan IAIN Sunan Kalijaga belok ke kanan ke arah Gelael, Kantor Pekerjaan Umum, Toko RIMO lalu sampailah di De Britto.

    Blok kelas satu terletak di sisi utara sekolah, memanjang dari timur yang bersebelahan dengan parkir sepeda dan lapangan sepakbola hingga ke kelas yang letaknya dekat dengan ruang yang diberi nama Ruang Koran karena di situ selalu dipajang koran Kedaulatan Rakyat terbaru bersebelahan dengan majalah dinding dan papan pengumuman.

    Aku segera mencari namaku dari kelas ke kelas bersama ratusan anak lain. Sementara di seberangnya, para kakak kelas dengan rambut gondrong dan tampang yang disangar-sangarkan, sibuk mengamati dengan beraneka ragam tatapan. Setelah sekitar lima belas menit mencari, akhirnya kudapati namaku ada di kelas 1-6 yang letaknya ada di sisi paling luar, bersebelahan dengan ruang parkir sepeda dan merupakan kelas yang tidak biasa karena memiliki jendela dan pintu. Kalau kalian baca tulisanku ini, di situ kutulis bahwa kebanyakan kelas di De Britto tidak memiliki tembok pembatas yang utuh, tak pula berjendela dan berpintu.

    Dari sekian nama yang kulihat, ada dua yang tak asing lagi ada di kelas yang sama. Mereka adalah Opang Christian (alm) dan Ario Nirmolo. Keduanya adalah orang-orang yang kukenal pertama kali saat mendaftar sekitar sebulan sebelumnya.

    Sebagaimana halnya sekolah-sekolah lain dan universitas waktu itu. minggu pertama kegiatan belajar-mengajar diisi dengan Penataran P4. Maka jam demi jam pun berjalan dengan cukup membosankan. Satu-satunya hiburan hanyalah saat jam istirahat saja.

    Bertemu kawan-kawan lama: Kebumen dan Klaten

    Saat jalan-jalan ke kelas lain selama masa istirahat, aku mendapati pula beberapa gelintir kawan yang datang dari Kebumen. Diantaranya Andi Karsono, kawan sejak TK (TK Pius Bhakti Utama), SD (Pius Bhakti Utama) dan SMP (SMPN 1 Kebumen), Ciang Han (aku lupa nama Indonesianya, dia kawan di SMP) serta yang cukup mengagetkan adalah Adi Nugroho, kawan dekatku saat duduk di SD Pius Bhakti Utama! Ia duduk di kelas 1-1!

    Lalu di kelas lain, aku berjumpa beberapa kawan TK semasa aku sekolah di TK Maria Assumpta Klaten, 1983-1984. Mereka adalah Richardus Ukki, Dandung Bawono dan salah satu kawan terdekat saat TK, Lie Fock Kuang, pemilik Bakso Anda Klaten yang meninggal dunia akhir 2018 silam.

    Menemui mereka semua ada di De Britto, meski tak sekelas, membuatku merasa tak sendirian.

    Sepulang sekolah, sekitar jam 12:45 WIB, kami berjalan beriringan. Kali itu tak hanya dengan sesama penghuni Wisma Ampel 2 tapi juga dengan anak-anak lain yang letak rumah kost nya searah. 

    Di antaranya adalah Bona (Bonaventura Cahyo Kusmono), Deddy ?Giant?Indracahya (meninggal 2016 silam) dan Rianto Naibaho. Ketiganya ngekost di depan INSTIPER (Tiga tahun sesudahnya, tepat setelah lulus, saat aku sedang mencari universitas dan belum punya kost baru, aku sempat numpang di kamar Heribertus yang menyewa salah satu kamar di kost tersebut).? Juga ada seorang yang aku lupa namanya tapi ia kerap dipanggil Hanoman karena giginya yang tonggos ke depan. Si Hanoman ini kost di Jl Petung sebelah utara yang dari kostnya jika ingin pergi ke warung makan Barokah (Jl Ori) tinggal jalan kaki dari arah belakang melalui kebun dan pekarangan serta kandang ternak penduduk waktu itu.

    Warung Makan ‘Suyat’

    Letak Warung Makan ?Suyat?

    Siang itu, aku dan beberapa kawan Wisma makan di warung makan Suyat yang letaknya ada di depan Wisma agak menjorok ke sisi timur. Warung makan ini masih kukunjungi bahkan hingga menjelang kepindahanku ke Australia, 2008 silam. Makanan yang dijual adalah makanan rumahan lengkap dengan sayur-mayur yang selalu ganti setiap hari, ayamg goreng, perkedel, telur, tahu, tempe dan semur sapi. Lalu di atasnya digantung keranjang telur asin serta setandan pisang. Sementara itu ia juga menjual beberapa jenis rokok yang bisa dibeli secara eceran.

    Dibandingkan dengan Barokah, harga makanan yang dijual di warung Bu Suyat agak sedikit lebih mahal. Seingatku dulu aku makan dengan sayur tiga macam plus ayam goreng dan kerupuk serta rokok sebatang Gudang Garam Filter cukup membayar ongkos Rp 600,- saja.

    ‘Rudy’ Rujak

    Berjalan pulang ke wisma, di depan pintu gerbang ada seorang bakul rujak segar yang kerap ngendon di situ selama jam makan siang. Aku tak tahu nama aslinya tapi anak-anak memanggilnya sebagai Rudy mungkin karena ketika memasarkan dagangannya ia kerap berseru ?Ruuud? jak..?

    Rudy ini adalah orang yang juga kupamiti ketika aku pindah ke Australia pada 2008 silam karena waktu itu ketika melewati Wisma Ampel 2 dan ia ada di sana. Saat kutemui pada 2008, rautnya sudah tua, rambut memutih meski tubuhnya masih terlihat kuat, ?Aku sakjane wes ora oleh dodolan karo anakku. Dikon pindah Kalimantan amor mereka tapi aku wegah, Don?? ujarnya waktu itu.

    Oh ya, oleh Rudy aku dipanggil sebagai ?Donny Kithul.’

    Tau kenapa? Kithul dalam bahasa ngapak berarti ?Senggama/bersetubuh?. Istilah itu dipakai sebagai tanda saja untuknya bahwa aku berasal dari Kebumen.

    Aku tak membeli rujak siang itu karena cukup kenyang. Aku segera masuk kamar dan berusaha untuk rebahan dan ngobrol dengan Heri. Heri tak sekelas denganku. Ia tinggal di kelas 1-4 dan kami saling berbagi pengalaman hari pertama.

    Rombongan ‘Ngapak’

    Menjelang sore, ketika sedang duduk-duduk di kantin, aku mendengar serombongan anak wisma yang juga bicara dalam bahasa ?ngapak?, bahasa Jawa dengan dialek khusus yang dipakai orang-orang di sisi barat Jawa Tengah. Akupun tertarik mendekat dan memperkenalkan diri, juga dengan Bahasa Ngapak.

    ?Loh.. rika sekang ngendi? Purwokerto?? tanya salah satu dari mereka yang kemudian kutahu bernama Budi.

    ?Ora, nyong sekang ?Bumen?? jawabku.

    Rombongan ?ngapak? itu lantas jadi kawan-kawan dekatku waktu itu. Bicara ?ngapak? dengan mereka membuat rasa kangenku pada kawan-kawan SMP (dan gebetanku) terobati. Mereka adalah Budi Susanto, Rano Merciano Tangkilisan, Joedith Tjhristianto, RIchard Hartono, Junianto Santoso dan Dionisius Vianney Pontoan yang akrab dipanggil Donny. Budi, Rano, Joedith dan Richard berasal dari Purwokerto/Banyumas. Mereka sudah saling kenal sejak lama. Junianto berasal dari Klampok, Banjarnegara dan Donny berasal dari Cilacap.

    Joedith lantas menjadi salah satu teman dekatku bahkan hingga setelah aku lulus SMA. Richard Hartono sekarang tinggal di Auckland, New Zealand, dan beberapa kali kami bertemu saat ia sedang berkunjung ke Sydney, Australia.

    Rokok

    Sekitar jam 4 sore, ketika sedang berjalan kembali ke kamar, aku melihat Pak Suryanto sedang menyirami tanaman yang letaknya ada di sebelah kantin. Saat itu aku sedang menghisap rokok dan menyapa, ?Selamat sore, Pak Sur??

    Pak Sur menoleh. Raut mukanya yang semula ceria berubah saat melihatku merokok, ?Donny, kamu merokok??

    ?I.. iya, Pak. Kan Mama saya sudah bilang waktu itu bahwa saya merokok..?

    Ia diam saja sambil menggeleng-geleng kepala?

    Sekitar jam enam sore, satu jam sebelum jam belajar pertama dimulai, aku mendapat telepon dari Papa/Mama.

    Cara mendapat sambungan telepon saat tinggal di Wisma Ampel 2 saat itu ada aturannya. Yang boleh menelpon hanyalah orang tua atau saudara kandung. (Meski demikian, saat akhirnya aku punya pacar, pacarku kuajari mengelabui dengan berpura-pura jadi adikku dan setiap Pak/Bu Sur curiga karena aku telpon kelamaan dan mereka mencoba mengangkat telepon dari dalam, pembicaraan kami ubah yang semula sayang-sayangan antar-pacar jadi sayang-sayangan adik-kakak hahahah!) Setiap kali ada panggilan, Pak dan Bu Sur mengumumkan melalui corong, ?Panggilan, Donny kamar 34B ada telepon? diulang hingga tiga kali.

    Kami tak diijinkan masuk ke rumah untuk menerima telepon. Pak Sur menyediakan sebuah telepon yang dipasang paralel di halaman di atas akuarium. 

    Sore itu, ketika mendapat hubungan telepon dari Papa/Mama, seperti anak-anak lainnya, aku mendatangi telepon yang ada di halaman rumah. Tapi tak seperti sebelumnya, kali itu Pak Sur tampak bicara cukup lama dengan Papa/Mama. Hmmm, sepertinya ada yang sedang dibicarakan?

    Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya Pak Sur memberi kode kepadaku untuk mengangkat gagang telepon tanda aku bisa bicara dengan Papa/Mama.

    ?Halo, Don?. piye Le dina pertama sekolah?? tanya Mama.

    ?Yo, apik, Ma. Kesel juga hehehe tapi seneng.? jawabku.

    ?Don, Papa meh ngendika sedilut ki?.? ujar Mama seraya menyodorkan telepon ke Papa. Aku deg-degan. Biasanya ada ?sesuatu? kalau sudah demikian.

    ?Le?? suara Papa pun terdengar datar, aku bernafas agak lega.

    ?Halo, Pa? piye?? jawabku.

    ?Nganu, Le?. Pak Sur mau ngendika karo Papa.. leh mu ngrokok aja kebanteren, Le??

    Nah!?
    Sudah kutebak!?
    Pak Sur rupanya lapor ke Papa/Mama bahwa aku merokok.?

    ?Lho, tapi kan Mama pas wingi kae wes matur karo Pak Sur bahwa aku memang ngerokok?? aku menanggapi.

    ?Iyooo.. tapi aja banter-banter, Le?? jawab Papa.

    ?Aku ora banter kok, Pa?. biasa wae?? sanggahku lagi.

    ?Ealah.. cah kok angel men dikandani? Yo wes ngene wae, nek iso pas ngerokok aja neng ngarepe Pak Sur, Le??

    Aku manggut-manggut mengerti.

    Di balik kaca kulihat Pak Sur menatapku dalam-dalam dengan raut muka datar. Barangkali ia merasa puas telah melaporkan kelakuanku ke Papa/Mama dan hal itu memang benar. Barangkali ia merasa apa yang jadi laporan akan membuatku kena bombardir kemarahan kedua orang tuaku? hal itu tidak benar! Hahaha?

    Sydney, 11 June 2020

    *Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Tentang Jogja (8): Barokah – Gelael – Gunung Agung – Kapel Sanata Dharma Mrican

    Hari itu minggu, 18 Juli 1993.?
    Hari kedua aku resmi menyandang gelar sebagai anak rantau, satu hari menjelang aku resmi jadi ?anak De Britto.?

    Sejak kira-kira jam 6 pagi, kebisingan terjadi di depan kamar. Antrian orang hendak mandi, suara kecebang-kecebung air, teriakan di sana-sini bahkan suara kentut menjelang berak pun terdengar jernih! Membuatku akhirnya berpikir, pantas kalau harga kamar ini adalah yang paling murah.

    Sejak semalam, aku dan Heri sepakat bahwa hari itu kami akan pergi berbelanja keperluan kamar yang akan kami pakai bersama-sama: tempat sampah, sapu, keset, cermin, parfum ruangan dan jam weker.

    (Beberapa hari lalu ketika bercakap dengan Heri melalui WhatsApp, ia mengejutkanku dengan kenyataan bahwa hingga kini, dua puluh tujuh tahun sesudahnya, ia masih menyimpan dua barang yang kami beli waktu itu: kaca cermin dan jam weker! Aku lantas memintanya untuk memotret untuk kupajang di postingan ini. Maka jika kalian melihat gambar di bawah, itulah cermin yang kami beli hari itu).

    Heribertus bersama cermin yang kami beli pagi itu di Gelael
    Heribertus bersama cermin yang kami beli pagi itu di Gelael. Foto diambil dua puluh tujuh tahun sesudah kami membelinya dan Heri masih menyimpan dengan rapi cermin itu!

    Warung Makan Barokah

    Segera setelah mandi, kami keluar dari wisma dan tujuan kami adalah isi perut terlebih dulu. Waktu saat itu menunjuk sekitar pukul 10 pagi.

    ?Makan di mana, Her?? tanyaku.

    ?Wah, mbuh ya? coba aja jalan terus?? jawab Heri dalam Bahasa Jawa berdialek Lampung.

    Dari Jl Ampel kami berjalan ke arah timur. Hingga di perempatan Jl Ampel – Jl Petung – Jl Ori kami sempat bingung. 

    ?Lurus aja yuk?? ajak Heri. Akupun turut.

    Jl Ori, lebar jalannya lebih kecil dari Jl Ampel. Beberapa rumah modern sudah berdiri waktu itu tapi kebanyakan masih didominasi rumah-rumah kampung dengan pekarangan yang cukup luas di belakang. (Kini, konon pekarangan-pekarangan dan rumah kampung itu sudah lenyap tergantikan rumah baru yang berhimpit-himpitan).

    Sekitar lima puluh meter dari bibir Jl Ori, ada sebuah warung makan mungil bernama Barokah. Awalnya kami tak yakin hendak makan di situ karena warungnya sepi. Tapi kami toh memutuskan untuk masuk saja.

    Pagi itu aku memesan nasi putih, sup (dengan sedikit) ayam dan tahu tempe goreng. Saat membayar, si pemilik warung menyebut angka yang sangat fantastis dan selalu kami kenang hingga kini, Rp 175,-.

    Iya! Cuma seratus tujuh puluh lima rupiah!

    Karena begitu murah, aku lantas memutuskan untuk menambah sepotong ayam goreng serta tak lupa sambel!

    Puas makan, kami keluar.

    Waktu itu aku sudah merokok dan Heri, setahuku, hingga saat ini pun tak pernah menghisap rokok. Di sebelah Barokah ada penjual rokok dan akupun membeli setengah bungkus Gudang Garam Filter.

    Toko Swalayan Gelael

    Kami berjalan ke arah Toko Swalayan Gelael yang dulu letaknya ada di lantai dasar rumah makan saji cepat Kentucky Fried Chicken di depan IAIN Sunan Kalijaga.

    Dari arah Jl Ori, kami menyusuri Jl Petung melewati INSTIPER lalu menyeberang lewat sisi samping Gelael yang didominasi tong sampah berukuran besar dan berbau busuk.

    Di Gelael kami segera mencari barang-barang yang sudah kami daftar di atas. Sebagai orang yang baru pindah ke kota besar seperti Jogja, aku takjub dengan konsep swalayan dimana kita bebas mengambil segala sesuatunya sebelum akhirnya membayar di kasir. Aku begitu menikmati sensasi itu.

    Toko Buku Gunung Agung

    Dari sana kami tak langsung pulang. Kami pergi ke Toko Buku Gunung Agung yang letaknya dengan Gelael hanya dibatasi kompleks Kantor DPU dan berbatasan langsung dengan kompleks SMA Kolese De Britto Yogyakarta. (Saat tulisan ini kupublikasikan, gedung sudah dipakai untuk perkantoran lain)

    Toko Buku Gunung Agung dulu kalau tidak salah ada di lantai tiga. Lantai underground ditempati toko swalayan GA (yang kupikir juga adalah singkatan dari Gunung Agung tapi sepertinya bukan!). Lantai satu dan dua dipakai oleh Toko pakaian RIMO yang menjual brand-brand mahal yang selama ini hanya kulihat di iklan-iklan majalah remaja seperti Levi?s, Dr Martens, Kenzo dan Calvin Klein.

    Di Gunung Agung aku membeli beberapa perkakas sekolah. Tas, buku tulis, pena, pensil dan penghapus serta penggaris.

    Bersosialisasi

    Hari menjelang sore, kamipun kembali ke Wisma Ampel 2.

    Setibanya di Ampel 2, kawan-kawan sedang nongkrong di depan kamar 29 dan 30 yang letaknya tepat di tusuk sate Jl Ampel. Kamar 29 kalau tak salah ditempati oleh seorang kakak kelas bernama Denny sementara kamar 30 ditempati Pandhu Astanu, orang yang beberapa tahun kemudian lantas jadi kawan baik dan bersamanya aku punya banyak cerita yang tentu saja akan kuceritakan di sini, nanti.

    Ada juga yang nongkrong di kafe yang letaknya di depan.

    Segera sesudah menaruh barang di kamar, aku dan Heri pun bersosialisasi ke depan. Sebelah kamarku, Kamar 33 ternyata ada seorang yang berasal dari Bali, Leonardus Ignasius namanya. Sama-sama kelas 1. Di sebelahnya lagi, Kamar 32, tinggal Didit (kelas 2) dan Petrus (kelas 3). Didit berasal dari Lampung, se-daerah dengan Heribertus dan Petrus asli Purworejo.

    DI kamar 31 ada Thomas (kelas 1) juga berasal dari Lampung dan Rurie (kelas 2) aku lupa ia berasal dari mana.

    Karena hari itu hari minggu, akupun bertanya pada kawan-kawan tentang jadwal misa dan gereja terdekat karena aku perlu ikut perayaan.

    Tadinya kupikir Heri beragama Katolik karena dari namanya saja Heribertus tapi ternyata ia adalah seorang muslim. Maka aku bertanya pada kawan lain dan akhirnya sore itu aku memutuskan untuk pergi ke Kapel Sanata Dharma di daerah Mrican Jogjakarta.

    Kapel Sanata Dharma Mrican

    Aku lupa sore itu pergi bersama siapa tapi yang pasti aku tidak sendirian karena jarak yang cukup jauh dan aku perlu kendaraan.

    Kapel Sanata Dharma dari dulu hingga sekarang tampak asri dengan begitu banyak pepohonan tumbuh di halaman. Ruangnya cukup kecil tapi arsitekur bangunan sangat menarik didominasi warna krem dan hijau tua. Adem ketika ada di dalamnya.

    Keluar dari kapel hari sudah menggelap kami langsung pulang karena hendak makan di kantin wisma sambil ngobrol dengan kawan-kawan se-wisma.

    Kantin di Wisma Ampel 2 adalah kantin yang menyenangkan.

    Selain karena tak perlu pergi keluar, kami juga boleh bayar belakangan (nge-bon). Makanan yang dijual juga cukup enak untuk disantap. Beberapa lauk-pauk saji bisa kita pilih, kalaupun kita ingin memesan makanan yang langsung dimasak seperti nasi goreng, mie goreng juga bisa dilayani.

    Sayangnya hanya setahun aku bisa merasakan adanya kantin karena pada tahun kedua aku tinggal di Ampel 2, kantin ditutup, ruangan dibagi dua untuk dijadikan kamar dan disewakan!

    Aku lupa malam itu menyantap apa dan bersama siapa tapi yang pasti ada banyak kawan sesama kelas 1 yang terkaget-kaget mengetahui bahwa aku sudah merokok di usia se-belia itu.

    Awal mula di-bully

    Malam itu, jam belajar yang menurut aturan antara jam 7-9 ditiadakan karena sekolah baru mulai keesokan harinya.

    Menjelang pukul setengah delapan aku kembali ke kamar.

    Ketika sampai di gerbang parkir menuju kamar, betapa kagetnya aku pintu kamar terbuka lebar, jendela ikut terbuka dan ada banyak anak berada di sana.

    ?Nah? yang punya kamar datang nih kayaknya!? seru salah satu dari mereka. Berkepala gundul, bertubuh gempal dan bermata membelalak ketika bicara.

    ?Sini? sini? kenalan dulu, sini!?

    Aku bingung. Kaget. Takut.

    Aku belum kenal mereka. Tapi dilihat dari perawakan, tampang dan panjang rambutnya, mereka adalah kakak-kakak kelas. Lalu apa tujuan mereka datang ke kamarku ya? 

    Belum sempat aku mengunyah hal-hal itu dalam pikiran, mereka memanggilku lebih kuat lagi,

    ?Woy? kemari, woy! Kan kita mau kenalan sama adik kelas? ini kamar loe, kan?? Si Botak itu kembali memanggilku kuat-kuat.

    Aku mengendap mendatangi mereka dan mengenalkan diri, ?Namaku Donny, asli Kebumen??

    ?Nah! Gitu dong?.Selamat datang, Donny!? Aku diajak ?tos? sangat keras membuat telapak tanganku pedas. Kawan-kawan di belakangnya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi tersebut.

    Sayangnya aku tak menikmati proses perkenalan yang seperti itu. Mungkin karena ke-kuper-anku, mungkin karena pengalaman dibully di masa lalu membuatku merasa was-was dengan semua itu.

    Aku hanya tersenyum lalu menjauh, melipir masuk ke dalam kamar, menutup pintu dan jendela lalu mengurung diri. Sementara suara mereka semakin tinggi di luar, tertawa-tertawa, memukul-mukul jok motor dan berteriak-teriak sebelum akhirnya aku dengar suara Ibu Sur dari kejauhan, ?Eh, ana apa iki? bubar! Bubar! Wes meh jam sanga? kembali ke kamar masing-masing besok sekolah!?

    Mereka bubar ditingkahi suara cekikikan yang seolah menertawakan suara Ibu Sur tadi.

    Keadaan senyap lalu tak lama kemudian Heri masuk ke kamar, ?Loh, kowe kok ora melu ngumpul-ngumpul, Don??

    Aku menggeleng? wajahku tegang.

    Kejadian malam itu menjadi awal yang tak mudah bagiku dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan di Wisma. Aku sempat jadi bulan-bulanan karena di mata sebagian kakak kelas sikap menjauhku, sikap penolakanku terhadap mereka justru membuat rasa penasaran dan meletakkanku di posisi dimana aku adalah sosok ?layak bully?.

    Sydney, 10 Juni 2020

    *Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Tentang Jogja (7): Jl Mataram – Balai Desa Condong Catur – Wisma Ampel 2 Kamar 34B

    Tentang Jogja (7): Jl Mataram – Balai Desa Condong Catur – Wisma Ampel 2 Kamar 34B

    Matahari kian temaram ketika bis kota yang mengantarku melaju dan menjauh dari Jalan Mataram.

    Awalnya aku duduk di bangku paling belakang karena tak mau kehilangan pandangan kepada Mama yang melepasku sore itu. Tapi setelah Jl Mataram lewat, sebelum melewati Kretek Kewek, oleh Pak Kernet aku disuruh pindah tempat duduk, ?Pindah ngarep, Dik. Neng kene angine gede??

    JL Mataram – Balai Desa Condong Catur

    Bis menyusuri Kotabaru melewati SMA 3 lalu ke utara hingga perempatan Gramedia. Menyeberang ke Jl Cik Di Tiro melewati pertigaan jalan menuju SMA 6. Membawa ingatan terhadap peristiwa saat tukang becak ?memperkenalkanku? pada SMA Kolese De Britto beberapa minggu sebelumnya.

    Dari situ bus bergerak melambat melewati Rumah Sakit Mata Dr Yap hingga Panti Rapih dan bundaran UGM. Melingkar ke kanan, bus melaju ke Samirono yang ramai betul sore itu sementara waktu sudah menunjuk pukul enam.

    Mentok hingga Jl Gejayan (kini Jl Affandi), bus belok ke kiri ke arah utara dan? aku mulai deg-degan. 

    Kenapa belok ke kiri?
    Bukankah harusnya belok ke kanan menuju Demangan lalu belok kiri lagi ke Jl Solo hingga IAIN?

    Aku berusaha tahu jalan tapi semakin berusaha semakin tak tahu ke mana bus ini akan berjalan. Mau bertanya masih malu campur deg-degan! Bagaimana kalau nanti malah ketahuan aku pendatang baru dan dicelakai? Hari kian menggelap hingga akhirnya bus sampai di satu tempat yang oleh si kernet diteriaki sebagai ?Bale? Bale??

    Sekonyong-konyong semua penumpang yang tinggal segelintir itupun turun. Aku tak sempat lagi bertanya selain ikutan turun. Kupikir, teriakan ?Bale? adalah ?Bali? alias ?kembali? sebagai isyarat bahwa bus akan pulang kandang dan penumpang diminta turun di situ dan saat itu juga. 

    Tapi ternyata aku salah!?
    Bale adalah sebutan untuk Balai Desa Condong Catur yang letaknya berseberangan dengan Terminal Condong Catur.

    Bus terlanjur melaju pergi saat aku tersadar dan berpikir untuk naik lagi. Akupun bingung harus ke mana, naik apa? Kalaupun bertanya kepada siapa?

    Sempat hendak menyerah untuk naik becak saja tapi akhirnya datanglah keberanian itu. Kepada seorang yang berdiri tak jauh dariku, aku bertanya, ?Mas, mau tanya.. kalau mau ke IAIN Sunan Kalijaga naik jalur berapa ya??

    ?Jalur 7, Dik??

    ?Nyegatnya dari mana??

    ?Dari sini, aku juga mau naik bus yang sama??

    Fiuhhh! Lega!!!

    Balai Desa Condong Catur – Wisma Ampel 2

    Tak seberapa lama kemudian bus pun datang dan aku segera naik dan masuk ke dalamnya.

    Bus kali itu benar-benar beda dengan bus yang kutumpangi sebelumnya. Lampu kabin begitu redup, penumpang penuh berjejalan dan aku harus berdiri gencet-gencetan di antara penumpang lain, bergumul dengan bau abab serta keringat penguk mereka.

    Tiba-tiba terbersit rasa sesal saat itu.

    Kenapa? Kenapa aku mesti pindah ke Jogja? Hanya supaya dapat status ?Anak Jogja?? Hanya supaya semua orang menaruh hormat karena aku anak De Britto?

    Huh! Bayangkan jika aku memilih untuk tetap bersekolah di Kebumen! Jam-jam segini biasanya aku sudah mandi dan ongkang-ongkang kaki sambil nonton siaran televisi ditemani teh panas manis dan pisang goreng bikinan Mama!

    Tapi perjuanganku usai saat aku turun di IAIN Sunan Kalijaga. Dari situ aku jalan ke arah utara hingga akhirnya sampai di Wisma Ampel 2.

    Berbeda dengan pemandangan di siang hari, sore itu suasana wisma lebih ramai dengan para penghuninya. Di sana-sini terdengar suara orang mandi. Ada yang memutar musik keras-keras baik dari radio maupun tape player ditingkahi beberapa anak yang ikutan bernyanyi.

    Aku segera masuk ke pintu garasi menuju kamarku, Kamar 34B.

    Tiba di depan pintu, aku mengeluarkan kunci. 

    Belum sempat memutar gagang kunci, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam. Seorang pria berpawakan sedang dengan senyum ramah mengulurkan tangan dan menyapaku, ?Halo, kamu Donny ya??

    Aku tersenyum, menjabat tangan dan membalasnya, ?Iya, kamu Heribertus??

    ?Panggil saja aku Heri, Don!? jabatnya erat.

    (Beberapa hari sebelum merilis tulisan ini, aku sempat kembali menghubungi Heribertus melalui WhatsApp untuk iseng bertanya bagaimana kesannya dulu ketika pertama kali melihatku sore itu. Ia bilang bahwa hal yang paling diingat adalah model belahan rambutku hahaha! Waktu itu rambutku agak merah ?dari sononya?, tipis, lurus dan kubelah pinggir/sisi dengan jidat yang lebar!)

    Me & Heribertus

    Keterangan foto: Aku (berkacamata) dan Heribertus pada pertemuan 2008 yang lalu

    Tak lama kemudian akupun mandi.?

    Sesudahnya, semalam-malaman aku ngobrol dengan Heri tentang banyak hal. Menjelang jam 12 malam, aku jatuh dalam lelap.

    Tidur yang tidak nyaman, sebentar-sebentar bangun hingga sekitar jam 4 pagi aku benar-benar tak bisa tidur lagi. Aku hanya bisa memandangi langit-langit kamar menunggu waktu menjelang pagi.

    Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup aku merasakan rindu terhadap Papa, Mama dan Chitra, adik semata wayangku. Rindu yang kuat? terlampau kuat?

    Sydney, 9 Juni 2020

    *Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Tentang Jogja (6): Kebumen – Jogja (1993), Jogja – Klaten (2008)

    Malam itu tanggal 30 September 2008.?
    Malam yang akan selalu kuingat sebagai malam terakhir dimana aku boleh menyandang status sebagai ?Orang Jogja!??

    Sebagaimana lima belas tahun sebelumnya aku berkeputusan pindah dari Kebumen ke Jogja, malam itu aku sudah bulat berkeputusan pindah dari Jogja ke Klaten selama sebulan lantas pergi ke Sydney, Australia dan menetap di sini.?

    Jogja – Klaten (2008)

    Dari Jogja naik sepeda motor, sekitar jam 11 malam, aku mengetuk pintu dan Mama lah yang membukakan pintunya.

    ?Kok bengi men tho, Le?? tanyanya.

    ?He eh, Ma? Mama kok durung sare? Papa, Chitra karo Ibu (Eyang) wes bobo kabeh??

    ?Uwis? Ibu isih nyetel wayang kae? Mama mau yo wes meh merem sakjane. Piye? Wes rampung kabeh urusanmu neng Jogja?? Mama menyambung.

    Aku mengangguk.

    Segera setelah cuci muka, aku duduk di ruang keluarga depan tv.

    ?Pamit karo sopo wae kowe mau, Le?? tanyanya sambil menghidangkan teh panas dan pisang goreng yang ia siapkan untukku sejak sore hari.

    ?Mung karo Viktor. Lha liyane sibuk??

    ?Ora pamit karo cah-cah kantor??
    Aku menggeleng.

    Kami terdiam untuk beberapa saat, larut dalam lamunan. Suara detak jam dinding terasa begitu dominan. ?Hffff?.Akhire aku wes dudu wong Jogja meneh ya, Ma?? mataku nanar menerawang kosong, nafas kutarik begitu berat.?

    Mama tersenyum mencoba melegakan, ?Yo ra popo? Satu proses hidup wes mbok lalui dengan sukses. Sediluk meneh kan kowe dadi Wong Sydney??

    ***

    Malam itu tanggal 15 Juli 1993.
    Menjelang lepas tengah malam, aku keluar dari kamar menuju ke ruang tengah untuk nonton TV bersama Mama dan Papa. ?Kowe sesuk mangkat jam piro, Yas?? tanya Papa yang sejak dulu memang sulit menghapal jadwal siapapun kecuali dirinya sendiri.

    ?Jam 9 saka kene?? jawab Mama sekenanya.

    Papa manggut-manggut. Ia lantas memandangku.

    ?Don, sing ati-ati neng Jogja. Saben minggu kowe kudu mulih! Mama lan adimu mesti kangen banget karo kowe, Le!? ujar Papa kepadaku.

    Aku hanya mengangguk.
    Pikiranku tak ada di situ. Jika bisa keluar malam itu aku sudah akan pergi ke Jl Sarbini, mendatangi L, gebetanku untuk pamit. Aku ingin mengakhiri semuanya dengan indah. Tapi hal itu tidak bisa kulakukan. L sudah benar-benar menutup pintu hati terhadapku. Jangankan kudatangi, dititipi salam lewat adikku yang adalah teman adiknya pun ditolak!

    ?Yo wes gek ndang bobo? ? sambung Papa.

    Aku segera masuk kamar dan malam terakhir di Kebumen itu kulewati begitu saja?

    Kebumen – Jogja (1993)

    Pagi harinya,? Papa masuk ke kamar saat aku masih tertidur. Ia membangunkanku, ?Le? Le? Papa mangkat kantor sik. Sing ati-ati yo Le?? dan kujawab ?Yo?? sambil membalikkan badan melanjutkan tidur.

    Chitra menyusul melakukan hal yang sama beberapa belas menit kemudian. Sebelum berangkat ke sekolah, ia mendatangi kamarku dan bilang, ?Mas sabtu pulang ya?? aku mengangguk saja sambil memunggunginya.

    Satu jam berkemas, travel Bumen Jaya datang menjemput jam sembilan lewat lima. Pagi itu aku dihantar Mama berangkat ke Jogja membawa satu tas besar berisi baju dan beberapa barang esensial seperti sabun, pasta gigi dan handuk. ?Sisanya nanti kamu beli saja di Gardena.? jelas Mama malam sebelumnya supaya aku gak bawa terlalu banyak barang.?

    Sesampainya di Jogja kami turun langsung di Wisma Ampel 2. Kepada Pak sopir travel yang sudah kami kenal, Mama menjelaskan bahwa mulai minggu depan aku tinggal di situ, ?Jadi nanti kalau ke Jogja Donny diturunkan di sini, Pak. Kalau Donny minta diturunkan di tempat lain jangan boleh ya?? Aku hanya tertawa?. :)

    Sampai di Wisma Ampel 2, Mama menyerahkanku kepada Pak Sur dan Bu Sur yang lantas mengantarku ke kamar 34 B. ?Donny, nama teman sekamarmu adalah Heribertus. Sekolah di De Britto juga sama-sama baru masuk dan asli Lampung.? Sebuah kunci diberikan kepadaku lengkap dengan gantungan kayu bertuliskan, ?34B.?

    Siang itu Heribertus ternyata tak ada di kamar. Ia sedang jalan-jalan dengan keluarganya yang juga datang mengantar ke Jogja. 

    Kamar berukuran 3x4m itu aku tempati berdua dengan Heribertus selama setahun ke depan. Dua buah tempat tidur berukuran single bed ditata rapi membujur dan mepet di tembok. DI sebelahnya ditaruh dua set meja belajar dan kursi yang semuanya terbuat dari kayu.

    Segera setelah meletakkan barang, aku dan Mama pamit. ?Bu Sur, dalem ititp Donny nggih, Bu? ujar Mama dengan suara bergetar.

    Bu Sur lantas memeluk Mama. Ia tentu tahu betul bagaimana perasaan Mama dan pelukan itu seolah mengangsurkan perasaan bahwa semua akan baik-baik saja.

    Tapi aku tak berpisah dengan Mama di situ.

    Aku ingin jalan-jalan dengan Mama terlebih dahulu. Sesudah berpamitan, aku dan Mama naik becak makan gudeg di dekat Ibu kota. Dari situ kami naik becak lagi ke Gardena. Mama rupanya perlu? membeli beberapa kebutuhan tambahan untuk rumah Kebumen. ?Kowe butuh apa, Le? Sisan po mengko golek dewe??

    Aku menjawab, ?Mengko aku golek dewe wae, Ma ?.karo kanca-kancaku??

    Dari Gardena kami naik becak lagi ke Malioboro.

    ?Aku arep tuku klambi dinggo Papa lan Chitra?? aku pun ikut jalan ke Toko Ramai.

    Lagi-lagi Mama menawariku dan lagi-lagi pula aku menolaknya. ?Ora, Ma. Aku mengko mundhut kaos de britto wae, Ma???

    Hari menjelang sore, matahari sudah semakin condong ke barat..

    Kami tiba di restaurant kantor travel dan Mama sengaja memesan tiket travel pulang ke Kebumen paling sore hari itu, jam 5 supaya memiliki waktu cukup untuk bersama denganku.

    Kami duduk di kursi tunggu.

    ?Le, pokokmen kowe sing ati-ati neng Jogja! Manut karo Pak Sur dan Bu Sur! Ora sah nakal! Mengko saben bengi Mama telpon?? aku menggenggam tangan Mama erat-erat. Kali itu aku merasa sangat ingin guliran waktu berhenti seketika.

    ?Le, wes kari 15 menit meneh? ayo nyegat bis!? Mama berdiri menggandengku, jantungku berdetak kencang dan kami berjalan menuju ke halte bus kota di pertigaan Jl Mataram.

    Dari beberapa orang yang kami tanya di sana termasuk loper koran berpostur tubuh tinggi legam berkamcamata lodhong yang kuceritakan di sini, mereka memberitahu Mama bahwa untuk sampai di Papringan, aku harus naik bus kota jalur sekian (aku lupa), berhenti di IAIN Sunan Kalijaga lalu jalan kaki hingga ke Wisma Ampel 2.

    Tak lama kemudian yang dinanti pun tiba. Bus berwarna oranye, berpawakan butut dan sore itu cukup lengang keadaannya.

    Mama menggandeng tanganku hingga ke ujung trotoar. Aku lama menggandengnya bahkan saat Pak Kernet sudah menyuruhku masuk ke dalam bus cepat-cepat.

    ?Ma, aku pamit!? seruku.

    ?Ati-ati, Le?? paras Mama tampak begitu temaram sore itu melepasku.

    Aku naik ke dalam bus dan dari kaca belakang, pandangan mata tak kulepaskan darinya.

    Bus melaju pelan dan Mama tampak mengecil, makin kecil, menjadi titik lalu hilang lindap dalam remang sore yang hendak dituntasi malam.

    ***

    Tyas
    Mama dan Papa, 1979

    Sejak saat itu, sejak sore itu aku sudah bukan orang rumahan lagi. Aku resmi menjadi pengelana. Membangun hidup dalam duniaku sendiri yang kutanam di kota Jogja selama lima belas tahun kemudian.?

    Mama melepasku ke Jogja sore itu, 15 Juli 1993, Mama juga yang menerimaku kembali ketika aku menuntasi perjalananku di Jogja di malam tanggal 30 September 2008.

    Sydney, 5 Juni 2020

    *Tentang Jogja?adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.