Tag: 2019

  • Jika setan pun tahu kebenaran, kenapa masih ada manusia yang menghina dan menyudutkan iman kita?

    Jika setan pun tahu kebenaran, kenapa masih ada manusia yang menghina dan menyudutkan iman kita?

    Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi yang hadir dalam rumah ibadat malam sabat di Kapernaum waktu itu, Seperti ditulis dalam Kabar Baik hari ini. Yesus masuk dan mengajar lalu tiba-tiba saat mereka takjub mendengar pengajaranNya ada seorang kerasukan setan yang berkata-kata, ?Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: yaitu Yang Kudus dari Allah.? (Markus 1:24)

    Kenapa setan sensi?

    Kenapa setan yang ada dalam tubuh orang itu begitu sensi?

    Menurut Ajaran Gereja dari hasil Konsili Lateran IV, pada mulanya setan dan roh jahat lainnya itu adalah malaikat yang berkodrat baik. Tapi karena atas kemauannya sendiri mereka menjadi jahat. Karena Setan secara tradisi pada awalnya adalah malaikat Allah. Mereka diusir dari Surga karena tak setuju rencana Allah untuk menciptakan manusia. Maka, sejak awal tentu mereka tahu rencanaNya untuk menurunkan Yesus maka ketika Ia datang ke dunia, pantas saja setan sensi karena setelah ribuan tahun akhirnya janji itu tergenapi!

    Tahu vs Tidak Tahu Kebenaran

    Apa yang bisa kita renungi dari Kabar Baik ini?

    Seringkali kita merasa bahwa ada begitu banyak orang yang menghina dan menyudutkan kita karena iman yang kita anut. Apakah kita bisa bilang bahwa mereka adalah orang-orang yang derajatnya lebih rendah dari setan karena setan tahu keilahian Yesus sementara mereka tidak?

    Tentu kita tidak boleh bersikap begitu!

    Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang justru patut kita kasihani. Kenapa? Karena mereka tidak tahu kebenaran di saat setan pun tahu dan menyadariNya! Kita patut mendoakan dan memohon supaya Roh Kudus menaungi mereka sehingga dalam sisa umur yang mereka punya, Roh membimbing kepada kebenaran!

    Tapi mereka itu sebenarnya sudah tahu, Don! Hanya saja tak mau tahu!

    Sama saja! Kita tetap harus mengasihani mereka karena ketidaktahuan mereka akan pentingnya untuk mau tahu hal yang sudah ia ketahui itu!

    Dan sebenarnya sebelum kita menyalahkan mereka yang menghina iman kita, ada baiknya kita melakukan refleksi diri, apa yang kita lakukan senadainya kita ada di posisi mereka? Apa yang akan kita lakukan seandainya kita ada di posisi yang ?tidak tahu? tapi lantas menyudutkan orang lain yang tak sepihak dengan kita? Apa yang akan kita perbuat seandainya kita adalah mereka yang merasa gak perlu tahu padahal sudah tahu?

    Reynhard Sinaga dan repons yang kurang tepat

    Ada sebuah daerah yang hendak lebih menggalakkan razia anti-LGBT gara-gara terkuaknya kasus Reynhard Sinaga beberapa waktu silam. Bagiku ini adalah respons yang sembrono dan sok tahu bahwa langkah itu adalah yang paling benar dalam rangka mencegah munculnya Reynhard-reynhard yang lain.

    Apakah jika Reynhard itu adalah penjahat maka setiap orang yang berorientasi seksual sama dengannya adalah penjahat pula? Jika demikian, adakah semua heteroseksual itu salah hanya karena Hitler yang penjahat perang itu pun dulu juga seorang heteroseksual?

    Tentu tidak!

    Aku tidak membenarkan perilaku LGBT tapi urusan dosa, bukankah masing-masing dari kita juga memiliki dosa? Kenapa tidak fokus pada dosa dan kesalahan serta pembenahan diri kita sebelum berupaya sok tahu terhadap pergumulan orang lain?

    Dan di atas segalanya, puncak ketidaktahuan atau ketidak-mau-tahu-an kita dalam perkara ini adalah kenyataan bahwa Tuhan yang kita sembah itu menghendaki kita untuk mengasihi sesama siapapun dia termasuk yang kita anggap berbeda.

    Maka sebagai orang yang sudah dipermandikan, sebagai orang yang sudah menerima Roh Kudus, kita diajak untuk lebih mengetahui hal-hal yang belum kita ketahui secara arif dan bijaksana. Tidak asal menuduh karena kita bukan hakim. Tidak asal menyalahkan karena kita belum tentu benar.

    Jangan salahkan orang lain yang mencibir, merendahkan dan bahkan mengkriminalisasi kita karena iman yang kita peluk jika kitapun belum bersikap sama terhadap hal-hal yang belum kita ketahui seutuhnya.

    Sydney, 15 Januari 2020

  • Menjadi kecil di mataNya

    Menjadi kecil di mataNya

    Kepada para muridnya, Yohanes Pembaptis berkata banyak hal tentang Yesus. Ia kembali mengingatkan bahwa dirinya hanyalah pembuka jalan, pemula bagi kedatangan Mesias yang tak lain adalah Yesus sendiri. Dalam penggalan terakhir seperti ditulis dalam Kabar BaikNya hari ini, Yohanes berkata, Ia (Yesus) harus makin besar, tetapi aku (Yohanes Pembaptis) harus makin kecil (lih. Yoh 3:30). Apa yang dikatakan Yohanes itu bisa jadi teladan dalam hidup. Bahwa Tuhan harus makin besar dan kita harus menjadi kecil. Dulu ketika aktif dalam pelayanan di persekutuan doa, banyak kawan menggunakan hal tersebut sebagai motto pelayanannya.

    Kecil dan menjadi kecil

    Tapi dalam hidup sehari-hari, bagaimana meneladani apa yang dikatakan Yohanes tadi? Apa definisi ?kecil? dan bagaimana pula ?menjadi kecil??

    ?Kecil? yang dimaksud Yohanes Pembaptis bukan berarti berhenti melayani. ?Menjadi kecil? adalah kecil di mata Allah bukan di mata manusia. Yohanes hingga akhir hidupnya terus melayani. Bahkan ia dipenggal kepalanya karena mempertahankan iman dan kebenaran. Jika ia mengartikan ?menjadi kecil? sebagai ?berhenti melayani karena Yesus sudah datang? maka ia tak kan mengalami kematian karena hal tersebut, bukan?

    ?Kecil? di mata Tuhan menurutku di beberapa sisi justru bagaimana caranya kita jadi makin besar di mata dunia. Syaratmya, dalam kebesaran yang kita terima itu kita memuliakan Tuhan!

    Misalnya kita membuka usaha. Menjadikan diri makin kecil di hadapanNya itu bukan berarti lantas membuat kita tidak melanjutkan usaha. Justru sebaliknya, sekuat tenaga kita membesarkan usaha karena usaha adalah berkat dari Tuhan.

    Seperti kawanku yang seorang pengusaha. Dia katolik taat tapi ia tak pernah berhenti bekerja keras untuk membesarkan usahanya. Karena dengan membesarkan usaha, ia dimampukan Tuhan untuk mempekerjakan orang. Mempekerjakan orang berarti ikut mengongkosi hidup keluarga karyawan-karyawannya. Membesarkan usahanya juga berarti ikut mempertahankan hidup banyak orang yang ditampung panti sosial yang ia kelola bersama kawan-kawan lainnya.

    Bayangkan jika kawanku itu salah mengartikan ?menjadi kecil?. Jika ia tak membesarkan usahanya, apa yang terjadi dengan nasib karyawan, keluarga karyawan serta orang-orang dalam penampungan panti sosial?

    Menjadi besar dan meninggalkan Tuhan

    Yang tidak disarankan itu adalah ketika seorang membesarkan usaha dan namanya tapi lantas meninggalkan dan tak menyertakan Tuhan di sana. Sombong dan menggunakan berkat yang harusnya disalurkan kepada sesama untuk kepentingan-kepentingan duniawinya sendiri.

    Tapi, Don, adakah kita ini perlu kecil supaya Tuhan makin besar? Bukankah Tuhan itu tak tergantung pada manusia? Ia harusnya tetap besar tanpa kita jadi kecil karena Ia Maha Besar?

    Benar.
    Ia juga tak pernah menuntut kita jadi kecil karena Ia menghormati kehendak bebas kita. Menjadi kecil itu adalah untuk kebaikan kita sendiri. Artinya, kalau ingin diselamatkan, kita harus mengakui kelemahan dan kekecilan diri di hadapanNya maka Ia akan menopang hidup kita di dunia dan akhirnya memberikan keselamatan kelak di keabadian surga.

    Yesus adalah contoh terbaiknya.

    Sejatinya, Ia memiliki kekuatan untuk menghindari penyaliban atas diriNya. Tapi apa yang dilakukanNya? Ia mau merendahkan diri, mengecilkan diriNya dengan menerima hukuman yang tak semestinya ia hadapi dan jalani. Bahkan Ia yang adalah Tuhan, pada akhrinya rela mengalami kematian supaya kita diselamatkan.

    Untuk itulah Allah mengangkatNya begitu tinggi dan saat ini Ia duduk di sisi kanan Allah Bapa di surga. Jadi jika kita ingin diangkat dan dimuliakan Allah, ikutilah Yohanes dan ikutilah Yesus. Menjadi kecil di mataNya maka kita diselamatkan.

    Sydney, 13 Januari 2020

  • Pesta Pembaptisan Tuhan, adakah semua yang dibaptis masuk surga?

    Pesta Pembaptisan Tuhan, adakah semua yang dibaptis masuk surga?

    Hari ini Gereja Katolik memperingati Pesta Pembaptisan Tuhan. Seperti dikisahkan Matius dalam Kabar BaikNya, Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis yang membaptis banyak orang Yahudi sebelum kedatanganNya.

    Yohanes awalnya tak mau karena kerendahan hatinya, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” (lih. Mat 3:14)

    Lalu Yesus pun menjawab orang yang tak lain adalah anak ?tante?nya sendiri, Elizabeth itu, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” (lih. Mat 3:15)?

    Maka dibaptislah Yesus.

    Pembaptisan Tuhan, menyatu dengan manusia pendosa yang bertobat

    Ada sebuah catatan menarik terkait Kabar Baik hari ini. Adalah Prof. Dr. B.S Mardiatmadja, SJ. Cendekia Katolik yang akrab kusapa Romo Mardi itu, dalam sebuah grup WA yang kuikuti memberikan renungan singkat nan menarik pagi ini. Katanya begini, ?Pembaptisan Yesus adalah saat resmi Yesus secara publik mengaku menyatu dengan manusia pendosa yang bertobat.?

    Sejatinya Yesus tidak perlu dibaptis untuk selamat karena Ialah jalan keselamatan itu sendiri.?Tapi di depan publik, Ia menyediakan diri dibaptis agar manusia pendosa sepertiku (dan barangkali kamu) mau ikut bertobat. Dalam pertobatan kita menyatu dengan Dia. Pembaptisan adalah gerbang tobat. Oleh pembaptisan kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putera-puteri Allah. (KGK 1213).

    Semua yang dibaptis pasti masuk surga?

    Tapi apakah semua yang dibaptis itu pasti akan selamat masuk surga??

    Hampir setiap malam aku membacakan cerita singkat menjelang tidur untuk anak-anakku. Cerita itu biasanya kuambil dari situs-situs rohani Katolik. Beberapa hari lalu, saat membaca, aku amat tersentuh dengan bacaan yang kuceritakan malam itu.

    Bacaan aslinya dalam Bahasa Inggris, tapi baiklah kuterjemahkan dalam Bahasa Indonesia di sini. Simaklah dengan seksama.

    Menjadi Orang Kristen
    Semua ??orang kristen? masuk surga tapi tak semua orang adalah orang kristen. Orang Kristen adalah ia yang memberikan hidupnya kepada Kristus. Seseorang tidak otomatis menjadi orang kristen hanya dengan rajin pergi ke Gereja saja. Seseorang tidak otomatis menjadi orang kristen hanya dengan dibaptis. Bukan pula berarti bahwa seseorang menjadi kristen hanya karena orang tuanya beragama kristen. Bahkan menjadi orang yang berperilaku baik, pun tak bisa menjamin seseorang masuk surga. Hanya ada satu jalan untuk masuk ke surga, memberikan hidup kepada Kristus. Itulah keputusan terbaik seorang yang pernah dilakukan.

    Maka, kembali ke pertanyaan di atas, apakah semua yang dibaptis itu pasti akan selamat masuk surga? 

    Tentu hanya Tuhan yang tahu sejauh apa seseorang yang sudah dibaptis memberikan hidupnya kepada Kristus. Akan tetapi setidaknya seorang yang menyediakan diri dibaptis diajak untuk selalu memiliki semangat tobat sepanjang hidupnya. Semangat untuk semakin menjauh dari dosa. Semangat untuk tidak mau jatuh ke dalam dosa. Namun ketika akhirnya jatuh, tak mau berlama-lama lalu bangkit lagi dari dosa.

    Pembaptisan bukan akhir dari perjuangan keselamatan. Ia adalah awalan dan hari ini kita bersyukur atas awalan itu.

    Sydney, 12 Januari 2020

  • Ketika kamu merasa Tuhan sedang memunggungimu

    Ketika kamu merasa Tuhan sedang memunggungimu

    Dalam kaitan Yesus dengan mukjizat yang kerap dipraktekkanNya, salah satu hal yang kerap menggelitik benakku adalah kenyataan bahwa tak semua orang dijamah oleh mukjizat tersebut. Contohnya seperti yang tertulis dalam Kabar Baik hari ini. Yesus menyembuhkan seorang berpenyakit kusta. Ketika banyak orang datang berbondong-bondong kepadaNya untuk minta disembuhkan juga, apakah Ia menyembuhkan mereka? Tidak! Seperti ditulis Lukas dalam bagian akhir perikop hari ini, ?Akan tetapi Yesus mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.? (lih. Lukas 5:16) Ia memunggungi lalu pergi. Bagaimana perasaanmu ketika mendapati kenyataan hal yang sama, Ia memunggungimu?

    Kalau aku jadi mereka yang dipunggungi tentu kecewa. Katanya mesias yang dijanjikan ribuan tahun, tapi kok tidak semua disembuhkanNya? Kenapa Raja Adil, kenapa justru  tidak adil?

    Kekecewaan karena merasa Ia memunggungimu?

    Dalam konteks hidup masa kini, rasa kecewa seperti itu kadang muncul juga. ?Apa aku kurang taat? Apa aku kurang berdoa? Apa aku kurang baik dengan orang lain? Tapi kenapa Tuhan seolah memunggungiku? Kenapa keinginan bahkan hal yang menurutku adalah kebutuhan pun tak dipenuhiNya??

    Satu hal yang harus kita sadari, perasaan dipunggungi muncul karena kita melihat dari sisi kita sendiri. Karena kita menggunakan sudut pandang diri sendiri, ego, maka seolah yang ada ialah Ia memunggungimu.

    Untuk itu, pada awalnya kita harus memiliki prinsip bahwa hidup ini tak melulu dilihat dari sudut pandang kita saja. Bahkan di tataran dasar, hidup ini bukan milik kita. Hidup ini adalah milikNya.

    Dengan memahami hal tersebut secara bijaksana dan penuh kerendahan hati, lambat laun kita akan menyadari bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini, termasuk mukjizatNya, adalah sesuatu yang merupakan hakNya, bukan kita. Mukjizat terjadi adalah sarana untuk memuliakan nama Tuhan di muka bumi.

    Percaya adalah intinya…

    Maka yang kita perlukan selanjutnya adalah sikap percaya nan teguh kepadaNya.

    Percaya bahwa ketika kita merasa Ia memunggungimu, Ia tidak sedang meninggalkanmu. Percaya bahwa saat-saat seperti itu justru akan menjadi pembuktian sebesar apa iman dan percaya kita kepadaNya. Ingatlah Bapa Abraham yang menanti begitu lama janji akan diberikannya anak-keturunan. Ketika sudah diberi, eh tiba-tiba ia diminta untuk menyerahkan anaknya untuk disembelih? Tapi adakah ia benar-benar meminta Abraham menyembelih Ishak? Tidak! Ia menggantinya dengan domba-domba persembahan.

    Percayalah juga bahwa ketika kamu merasa Tuhan sedang memunggungimu, Ia barangkali justru sedang ingin menunjukkan ke orang-orang sekitarmu tentang kemuliaanNya. KemuliaanNya yang terpancar dari keteguhan, kesabaran dan kepasrahanmu terhadapNya. 

    Terkait hal ini aku pernah diajak bicara oleh seseorang yang memutuskan pindah keyakinan ke Katolik karena hal yang menurutku sangat sederhana. Ia tergerak untuk pindah agama karena melihat tetangganya. ?Tetanggaku bukan orang kaya. Tapi mereka tampak selalu bahagia. Ketika ada kerja bakti, mereka tak kenal lelah membantu secara ?all out?. Setiap minggu pagi mereka bangun pagi lalu dengan wajah ceria pergi ke gereja boncengan berempat naik sepeda motor.?

    Rupanya justru dalam kesederhanaan keluarga itulah yang membuat kawanku memutuskan ingin mengenal lebih dalam Yesus yang memberikan segala kekuatan pada tetangganya itu.?

    Yuk! Jangan pernah merasa Tuhan sedang memunggungimu! Dari sisi kita, semua memang tampak begitu. Tapi mari berpikir sebaliknya, jangan-jangan justru ketika Ia memunggungi sejatinya ia sedang melindungi dari pihak luar yang hendak menyerang kita.

    Memunggungimu berarti Ia sedang fokus menghadapi ancaman-ancaman itu. Dan saat semuanya sudah aman, dengan wajahNya yang bercahanya, senyumNya yang mendamaikan dan tangan kasihNya yang meneguhkan, Ia berpaling kepadamu, mengentaskan keluh-kesahmu, menuntaskan kerinduanmu, membasuhmu dengan kasihNya yang senantiasa baru?.

    Sydney, 10 Januari 2020

  • Reynhard Sinaga, ke-kepo-an dan ke-julid*-an kita

    Reynhard Sinaga, ke-kepo-an dan ke-julid*-an kita

    Nama Reynhard Sinaga, hari-hari ini begitu menggelembung besar di berbagai media. Reynhard, pria Indonesia berusia 36 tahun ini dijatuhi hukuman seumur hidup di Inggris karena terbukti bersalah melakukan sex offences (pelanggaran seksual) lebih dari 150 kali dengan 136 di antaranya adalah tindak pemerkosaan.

    Ya wajar kalau publik kaget dan hal itu tak perlu dipertanyakan karena tak ada yang bisa dibenarkan dari perilakunya yang menjijikkan itu.

    Tapi, cara publik menanggapi, pun menurutku juga tak kalah mengagetkannya. Ada yang malah fokus pada orientasi seksual si Reynhard. Ada juga yang ngomongin identitas dan latar belakang ekonomi keluarganya, siapa orang tuanya, siapa saudaranya. (Bahkan di beberapa grup WA beredar lembar buku tahunan dari almamater tempat Reyhand menuntut ilmu juga tersebar! Di situ tak hanya terpampang foto tapi juga detail identitas termasuk alamat rumah orang tuanya!)

    Reynhard Sinaga memalukan agamanya?

    Dalam tulisan ini, aku mau menanggapi respon publik terkait dengan agama si Reynhard.

    Di sebuah grup WA yang kuikuti, ada seorang berkata, ?Wah, Si Reynhard memalukan agama kita!? karena konon si Reynhard ini memang pemeluk Katolik.

    Terlepas dari benar-salahnya pendapat itu, bagiku orang yang menganggap bahwa ada orang lain yang mempermalukan agama adalah orang yang sok tahu dan sok bisa memahami ?perasaan? sebuah agama.

    Padahal, apakah agama punya ?perasaan???
    Tapi katakanlah agama memang punya perasaan, maka pertanyaan selanjutnya adalah sesensitif apa perasaan agama untuk merasakan sebuah malu?

    Apakah agama hanya akan malu pada kesalahan-kesalahan besar yang diekspos media seperti kasus si Reynhard ini? Bagaimana dengan kesalahan-kesalahan yang sebenarnya juga tak kalah besarnya tapi tidak/belum terekspos media? Adakah agama tidak malu dengan hal-hal tersebut? Bagaimana juga dengan kesalahan-kesalahan yang mungkin kita anggap kecil? Adakah hal tersebut tidak membuat malu agama yang kita peluk? 

    Padahal menurutku, sebagai orang beriman, dosa sebesar dan sekecil apapun itu sejatinya sudah bisa dianggap ?bikin malu? karena iman akan Tuhan amat bertentangan dengan dosa yang menjauhkan kita dariNya. Jadi, katakanlah agama itu memang memiliki perasaan, katakanlah ia sensitif pada dosa dan kesalahan umat, ada baiknya kita fokus pada dosa dan kesalahan kita dulu, ?Adakah agama kita malu pada kesalahan kita sendiri??

    Pilihan sikap, tanpa kepo tanpa julid

    Mari bersikap lebih dewasa dalam menanggapi hal-hal seperti itu.

    Reynhard toh sudah dihukum berat. Daripada kepo dan men-julid-i latar belakangnya, kenapa tidak lebih baik mengambil pelajaran darinya?

    Bahwa dengan adanya kasus tersebut kita tersadar dan waspada karena siapa tahu predator-predator seksual seperti dia mungkin ada dan menyelinap di sekitar.

    Bahwa keluarga besar Reynhard juga punya hak untuk move on melanjutkan hidup mereka tanpa rasa takut di-bully publik.

    Bahwa dengan hukuman yang diterima, semoga Reynhard bisa memanfaatkannya untuk bertobat.

    Jangan malah membahas dari sisi yang tak penting. Takutnya publik malah jadi tahu sejauh apa ukuran kebijaksanaan dan ?kedalamanmu? sendiri?

    Sydney, 9 Januari 2020

    *JULID adalah jargon yang populer di social media, berarti ?nyinyir?.

  • Terapi takjub

    Terapi takjub

    Jika kalian berlangganan Netflix, cobalah tonton serial yang sedang hot-hotnya jadi pembicaraan khalayak, Messiah. Serial itu menceritakan bagaimana kedatangan kedua Sang Mesias di akhir jaman. Kedatangannya menimbulkan kontroversi di sana-sini. Tapi hingga episode yang kutonton, sepertinya tak ada hal yang lebih monumental dari film itu ketimbang scene saat Sang Mesias berjalan di atas air di kolam Lincoln Memorial Reflecting Pool, Washington DC, Amerika Serikat. Ia melakukannya di siang bolong dan ribuan orang takjub melihatnya.

    Murid yang takjub dan takut

    Inspirasi adegan itu, jika boleh kutebak, datang dari Kabar Baik hari ini yang ditulis Markus. Di situ diceritakan Yesus yang awalnya memisahkan diri untuk berdoa, menyusul para murid yang sedang berlayar menuju Bethsaida dan mengalami kepayahan dalam mendayung karena angin keras yang datang, yang berlawanan dengan arah laju perahu mereka (sakal).

    Kedatangan Yesus tidak dengan cara naik perahu, tidak pula berenang. Ia mendatangi para murid dengan cara berjalan di atas air. Sudah barang tentu para murid pun takjub. Saking takjubnya mereka ketakutan karena merasa yang berjalan di atas air adalah hantu bukan Tuhan.

    Ketakjuban muncul sebagai reaksi karena hal yang kita terima melalui indera (termasuk mata) adalah sesuatu yang dirasa tidak sesuai nalar.

    Kapan kalian terakhir kali merasa takjub? Terhadap apa?

    Aku termasuk orang yang gampang sekali merasa takjub. Misalnya melihat mobil ferrari melaju kencang. Aku takjub! karena dua hal: betapa hebatnya manusia yang bisa membuat mobil ferarri sekeren itu dan betapa kayanya orang yang mampu membelinya!

    Membaca berita seorang mahasiswa Indonesia yang ketahuan memerkosa 190 orang di Inggris, aku takjub. Kok tega? Kok sekian lama nggak ketahuan?

    Menyaksikan kebakaran hutan yang terjadi di Australia, aku takjub sekaligus amat sedih. Kok bisa sebesar itu?

    Melihat seorang gubernur yang masih bisa bersilat lidah saat bencana melanda daerahnya, aku takjub. Kok bisa setega dan sebodoh itu?

    Terapi ketakjuban

    Memelihara rasa takjub menurutku adalah penting dalam menjalani hidup. Aku menyebutnya sebagai sebuah terapi karena ketakjuban menyadarkan bahwa kita memiliki keterbatasan. Karena kita maklum bahwa diri ini terbatas, maka penyadaran akan penyertaan Tuhan ?yang maha tak terbatas kuasa dan baikNya? menjadi sangat relevan.

    Tapi atas nama kemajuan jaman dimana teknologi dan ilmu pengetahuan mendominasi, rasa takjub terkadang mulai luntur dan menipis.

    Melihat orang yang bisa sembuh total dari kanker, ada yang berpikir, ?Ya wajarlah! Kan dia punya duit makanya bisa berobat ke luar negeri!? Padahal jika Tuhan tidak memampukan, mau harta segudang, mau berobat ke luar angkasa, kalau tidak sembuh ya tidak akan sembuh.

    Menyaksikan pesawat udara terbang dan mendarat, banyak orang berpendapat, ?Ya, wajar! Kan semua sudah diperhitungkan pakai teknologi!? Benar. Tapi pernahkah kita berpikir betapa Tuhan adalah Allah yang memberi kuasa kepada orang untuk mampu berpikir dan berkarya dalam pembuatan dan pemeliharaan pesawat terbang?

    Apa jasaku terhadapNya?

    Salah satu terapi ketakjuban terbaikku untuk tetap menghadirkan rasa takjub yang barangkali bisa kalian tiru barangkali adalah sebagai berikut.

    Setiap aku merasa sombong dan tak takjub, aku berusaha menerbitkan pikiran, ?Apa jasaku terhadapNya??

    “Apa jasaku terhadapNya sehingga aku masih boleh merasakan hidup yang penuh cinta dari keluarga dan sesama? Apa jasaku terhadapNya hingga bos dan customer-ku masih percaya atas kemampuanku dalam bekerja? Apa jasaku terhadapNya hingga aku masih boleh menghirup udara padahal aku merasa tak pernah mengongkosi pembuatan udara yang kuhirup secara cuma-cuma? Dan?. apa jasaku terhadapNya? hingga aku masih diberi janji dan harapan bahwa setelah hidup ini selesai, akupun akan mendapatkan keselamatan abadi olehNya? Sekali lagi, apa jasaku terhadapNya??

    Sydney, 8 Januari 2020

  • Pernahkah kamu kecewa dan menyesali keputusan untuk mengikutiNya?

    Pernahkah kamu kecewa dan menyesali keputusan untuk mengikutiNya?

    Dua orang murid Yohanes Pembaptis berkeputusan untuk mengikutiNya setelah anak Elizabeth itu melihat Yesus lewat dan berkata, ?Lihatlah Anak Domba Allah.? Kedua murid tersebut adalah Andreas dan yang satu lagi meski tak disebutkan tapi banyak pihak beranggapan orang itu adalah Yohanes yang menjadi penulis Kabar Baik hari ini.

    Kedua murid itu lantas tak hanya mengikuti dari belakang. Mereka dipersilakan Tuhan untuk mampir ke rumahNya. Sesudahnya, Andreas lantas mengabarkan pada Simon, saufaranya, ?Kami telah menemukan Mesias.?

    MengikutiNya, sebuah keputusan yang benar?

    Membayangkan hal itu, aku teringat satu peristiwa saat SMP dulu. Waktu itu aku mulai berani terang-terangan naksir cewek. Yang kutaksir adalah kawan dari kelas yang berbeda tapi satu angkatan, sebutlah namanya L :)

    Aku naksir karena menurutku, waktu itu, L cukup keren dari sisi penampilan. Dari kawan-kawan sekelasnya, L juga termasuk orang yang pintar. Suatu siang, sepulang sekolah aku mencoba mengikutinya. Aku ingin tahu dimana ia tinggal. Setelah kutahu, ternyata rumahnya tak jauh dari rumah kawan sekelasku.

    Keesokan paginya, akupun banyak bertanya kepada kawan sekelasku tadi, sebut saja G, banyak hal tentang L. Mulai dari orang tuanya kerja dimana, namanya siapa, kakak-adiknya ada berapa, hobinya apa, kebiasaan di rumah ngapain hingga yang paling kritikal?. ?Ada yang ngapelin dia atau belum??

    Dari ?pendalaman? yang kudapat tentang L, akhirnya aku berkesimpulan L memang cewek yang ?layak dikejar!? Akupun mulai agresif berkenalan, tak berselang kemudian aku nembak untuk jadi ceweknya.

    Kalian tak perlu tahu bagaimana jawabannya ya :) 

    Tapi apa yang hendak kusajikan di sini adalah, baik kedua murid maupun aku, kami menggunakan metode manusiawi untuk mengambil keputusan/kesimpulan yaitu menganalisa fakta.

    Andreas dan seorang murid Yohanes Pembaptis lainnya yang konon Yohanes menyimpulkan ke-mesias-an Yesus seteah gurunya menyatakan ke-ilahian Yesus, setelah mengikutinya dan datang ke rumahNya.

    Aku menyimpulkan bahwa si-L itu cewek idaman setelah aku tertarik pada penampilan fisiknya, kepandaiannya, kepribadiannya yang kutahu dari kawan sekelasku dan kenyataan bahwa waktu itu ia masih single.

    Menyesal karena salah berpengharapan

    Sampai di sini, analogi itu ?masuk akal?. 

    Tapi pada akhirnya toh aku tak beristrikan ?L? karena istriku berinisial ?J? hahaha? Berarti ada satu kesempatan dimana aku merasa bahwa penilaianku terhadap  L ternyata salah. Tapi bagaimana dengan para murid itu? Adakah mereka, atau murid yang lain yang pernah merasa kecewa terhadap-Nya? Pernahkah kita, yang adalah murid Tuhan, juga kecewa kepadaNya?

    Ada seorang bapak yang mengaku ?kecewa? pada janji Tuhan karena ia merasa sudah melakukan banyak hal untukNya tapi anaknya memutuskan untuk pindah agama? Ia mempertanyakan dimana letak pendampingan Tuhan? ?Kenapa Ia tak menjaga anakku supaya tetap ada di gerejaNya??

    Ada seorang anak yang memutuskan ?pensiun beragama? setelah ibunya dipanggil Tuhan karena kanker padahal selama ini mereka sekeluarga tak pernah berhenti memuji dan menyembahNya?

    Adakah itu semua adalah wujud dari rasa kecewa? 

    Adakah itu semua adalah bentuk pengingkaran terhadap penilaian Andreas dan satu murid lainnya, bahwa Ia sejatinya bukan mesias?

    Kecewa hadir karena apa yang didapat tak sesuai dengan harapan. Maka persoalannya sekarang apa harapanmu terhadap Tuhan? ?Karena Tuhan itu Maha Besar, maka aku berharap semua persoalanku terselesaikan, Don! Bukankah kebesaranNya melebihi semua masalah-masalahku??

    Betul! Tidak ada yang salah sama sekali.

    Bagiku, semua persoalan yang kita hadapi akan terselesaikan dengan penyertaanNya. Tinggal bagaimana kita menerima penyelesaian itu sebagai sesuatu yang terbaik. atau tidak.

    Para murid perdana tidak ada yang kecewa terhadap Yesus karena mereka hidup dan tinggal bersamaNya. Dalam kebersamaan, mereka jadi lebih mengenal bagaimana pola pikirNya, bagaimana cara pandangNya terhadap satu hal. 

    Maka supaya tidak kecewa, kita tetap boleh berharap, kita tetap boleh meminta. Tapi sudahkah kita hidup dan tinggal bersamaNya? Kalau sudah, seharusnya kekecewaan itu bisa diminimalisasi dan diubah menjadi sebuah titik pasrah seperti yang dikatakan Bunda Maria saat Elizabeth datang untuk mengabarkan kehamilannya, ?Terjadilah kepadaku menurut perkataanMu.?

    Terima kasih sudah membaca. 

    Sebagai bonus, kukasih bocoran tentang ?kisahku? dengan ?L?. Pada akhirnya kami nggak pernah sampai jadian karena saat hendak nembak tiba-tiba aku ?ditelikung? oleh kawan baikku sendiri?

    Sydney, 6 Januari 2020

  • Selamat Hari Raya Ephiphany, kita diajak menjadi ?bintang timur? bagi sesama

    Selamat Hari Raya Ephiphany, kita diajak menjadi ?bintang timur? bagi sesama

    Hari ini Gereja memperingati Hari Raya Penampakan Tuhan (Epiphany). Tiga orang Majus dari Timur yang datang kepada Tuhan dituntun Bintang Timur seperti yang ditulis Kabar BaikNya hari ini memiliki kesamaan dengan Yohanes Pembaptis yang kutulis kemarin. Mereka sama-sama belum mengenalNya tapi mengetahui tanda-tanda kedatanganNya, mereka menghampiri, mendatangi Dia.

    Tiga Orang Majus dan Yohanes Pembaptis

    Jika Yohanes Pembaptis mengetahui tanda-tanda dari pesan Allah bahwa Yesus dikenali sebagai sosok dimana Roh turun atasNya (lih. Yohanes 1:33) maka Tiga Majus dari Timur mengenali Yesus dari bintang timur yang mengindikasikan letak palungan Yesus berada.

    Bintang Timur dan Roh yang turun adalah penanda, adalah penuntun. Kita sebagai orang beriman juga memerlukan penuntun untuk sampai kepadaNya.

    Tuntunan itu masih ada dan selamanya tetap akan ada jika kita peka terhadapnya.

    Tuntunan tak melulu berwujud bintang, tak melulu berupa mimpi. Penuntun hadir dalam wajah-wajah kekinian nan sederhana yang kita temui sehari-hari.

    Aku pernah mengalami saat dimana aku merasa begitu kecil hati. Merasa terbuang. Merasa tak dicintai. Merasa ditinggalkan. Lalu ketika scrolling Facebook, aku menemukan foto kawan lamaku yang tinggal di Jogja. Ia adalah kakak kelasku di SMA dulu.

    Di dalam fotonya sekilas tak ada yang luar biasa. Kawanku tak mengenakan baju, hanya mengenakan celana jeans hitam butut dan sendal jepit duduk di atas kursi di rumahnya yang sederhana. Istrinya tak ber-make up, ber-daster rumahan biasa ada di pelukan kawanku, suaminya. Anak-anaknya, empat jumlahnya, dibiarkan bermain-main di lantai rumahnya dengan mainan-mainan plastik sederhana berserakan di sana-sini. 

    Di foto tersebut, kawanku menulis caption, ?Maturnuwun Gusti, Iki titipanMu? kujaga sampai mati!?

    Bintang Timur

    Tiba-tiba aku merasa malu.
    Secara ekonomi, aku jauh lebih beruntung dari kawanku tadi. Tapi kenapa ia dan keluarganya tampak lebih bahagia? Foto itu menjadi penuntun bagiku untuk kembali merasakan kebahagiaan.

    Hari ini adalah hari terakhir dalam rangkaian Natal 2019. Kenapa peringatan Epiphany (penampakan Tuhan) selalu dijadikan hari terakhir dalam rangkaian Natal?

    Aku mencoba menggalinya.
    Keriaan Natal boleh berlalu, tahun yang panjang menanti di hadapan. Seperti apa lika-likunya tak ada yang tahu. Tak mudah? Sepertinya demikian. Banyak godaan serta tantangan? Barangkali juga iya. Tapi yang sudah pasti tak pakai ?barangkali? dan ?sepertinya? adalah tuntunan dan penyertaan Tuhan!

    Seperti halnya Tiga majus dari timur, Tuhan menuntun kita sepanjang tahun ini dan untuk selamanya. Kita sudah melihat bintang timur di hati kita. Mari kita pakai untuk menjalani tahun ini dengan percaya diri. 

    Kita juga mau gunakan bintang timur yang ada dalam hati kita sebagai semangat untuk kita bisa menjadi bintang timur bagi sesama kita. Bagaimana supaya melalui perilaku serta karya-karya yang Tuhan percayakan melalui kita, hidup ini boleh menjadi petunjuk bagi sesama atas kemuliaan Tuhan.

    Tuhan sudah hadir. Tuhan sudah memberi tanda. Mari kita ikuti dengan seksama!

    Selamat Hari Raya Epiphany, Penampakan Tuhan.

    Sydney, 5 Januari 2020

  • Percaya sebelum mengenal, mengenal untuk semakin percaya

    Percaya sebelum mengenal, mengenal untuk semakin percaya

    Ada catatan menarik tentang Yohanes Pembaptis saat pertama kali bertemu Yesus. Dalam Kabar Baik hari ini, Yohanes Pembaptis menyatakan dua kali secara nyaris beruntun bahwa ia pada mulanya tidak mengenal Yesus Kristus.

    Pertama,
    Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel ( lih. Yohanes 1:31)

    Kedua,
    Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus? ( lih. Yohanes 1:33)

    Apa yang bisa kita renungkan hari ini tentang hal tersebut?

    Tidak mengenal bukan berarti tidak perlu percaya

    Sejak beberapa tahun lalu, selain ada beberapa orang yang curhat kepadaku tentang niatannya untuk pindah dari Katolik ke agama lain, ada juga beberapa yang menghubungiku untuk bertanya-tanya tentang ?Bagaimana sih masuk Katolik??

    Untuk yang terakhir, aku biasanya tak langsung memberi jawab tapi malah balik bertanya, ?Lha kenapa kamu tertarik masuk Katolik??

    Rata-rata (tidak semua) jawabnya seragam, mereka merasa ?ditemui? Yesus atau Bunda Maria melalui mimpi.

    Karena tak mudah percaya, aku lantas bertanya lagi, ?Bagaimana kamu tahu dan yakin bahwa sosok itu adalah Yesus? Adalah Maria??

    Jawabannya bermacam-macam. Ada yang mencocokkan wajah yang menemuinya dengan wajah Yesus dan Maria yang beredar di mana-mana. (Untuk yang ini biasanya aku lanjutkan dengan pernyataan konyol, ?Bagaimana kamu tahu bahwa wajah yang beredar itu adalah benar-benar wajah Yesus dan Maria??) Ada pula yang menjawab, ?Aku merasa mereka memang benar-benar Yesus dan Maria, Mas!?

    Sejujurnya aku kagum dengan pengalaman mereka.

    Hal ini sangat selaras dengan apa yang dikatakan Yohanes Pembaptis. Mereka tidak/belum mengenal Yesus (dan Maria) tapi mereka berani untuk bertanya lebih jauh, mencari jalan untuk menjadi salah satu pemeluk imanNya. Tidak kenal bukan berarti tidak bisa percaya. 

    Merasa sudah percaya? Jangan-jangan malah belum kenal!

    Berkebalikan dengan mereka yang belum mengenal tapi mulai mencari jalan untuk percaya, ada juga orang-orang yang merasa sudah percaya maka mereka merasa sudah kenal dengan Dia.

    Komentar-komentar seperti ini adalah salah sedikit dari tanda-tandanya.

    ?Oh jangan khawatir! Tuhan pasti nggak menghukum! Aku kenal dekat karena tiap hari berdoa kepadanya!?

    ?Ah, kamu udah berapa lama sih ?hidup baru di dalam Roh? sehingga merasa sudah kenal Yesus? Ikut retret dulu?.?

    Atau yang menurutku yang paling parah adalah begini, ?Kamu siap masuk neraka lho kalau tetap punya pikiran seperti itu!?

    ?Kenal? terhadap Tuhan itu baik asalkan dibungkus dalam sikap kerendahan hati dan jujur seperti Yohanes Pembaptis. Jika tidak, yang terjadi adalah kesombongan rohani, merasa yang sudah paling kenal dengan Yesus.

    Makin kita rendah hati, makin kita sadar betapa kita ini belum mengenal banyak tentangNya. Makin kita merasa belum mengenal makin kita ingin mencari tahu untuk kenal.

    Makin kita jujur, makin kita merasa tak perlu lagi untuk menggambarkan Tuhan melalui bayangan-bayangan semu yang dibuat hanya untuk menyenangkan dan menenangkan pikiran sendiri. Mari terus mencari di kedalamanNya yang tak bertepi.

    Sydney, 4 Januari 2020

  • Wahai pemimpin, jujurlah seperti Yohanes Pembaptis!

    Wahai pemimpin, jujurlah seperti Yohanes Pembaptis!

    Tak semua pemimpin di dunia itu buruk tapi salah satu yang membuat seorang pemimpin menjadi buruk di mata rakyat adalah ketika terpilih, ia tak mampu melunasi janji-janji manis yang diucapkan saat kampanye pemilihan.

    Seperti Yohanes Pembaptis

    Kenapa sih mereka harus berjanji manis kalau tidak bisa ditepati? Karena mereka berharap dengan janji manis maka suara para pemilih bisa tersemai secara optimal.

    Padahal andai saja mereka, entah itu presiden, bupati maupun gubernur mengikuti apa yang dilakukan Yohanes Pembaptis dulu, hal-hal yang tampak buruk di mata rakyatnya itu tidak akan terjadi atau setidaknya terminimalisasi.

    Seperti ditulis oleh Yohanes dalam Kabar BaikNya hari ini tentang Yohanes Pembaptis, anak Elizabeth, sepupu Yesus.

    Kiprah Yohanes Pembaptis yang membaptis dan memiliki banyak pengikut menarik perhatian Yerusalem. Beberapa imam dan orang-orang Lewi dikirim untuk menemuinya.

    Ketika ditanya, ?Siapakah Engkau?? oleh mereka, Yohanes buru-buru menjawab, ?Aku bukan Mesias!? (lih. Yohanes 1:20)

    Yohanes jujur dan tidak berdusta.?
    Padahal jika mau, ia bisa saja memanfaatkan kesempatan mengaku sebagai Mesias atau Elia. Orang-orang bisa percaya karena mereka memang sedang sangat mengharapkan kedatangan Mesias. Pamornya akan semakin naik dan barangkali Yohanes ?ditarik? ke Yerusalem untuk dijadikan pemimpin. Tapi ia tidak memilih jalan itu.

    Pemimpin dan janji-janji manisnya

    Lihatlah pemimpin dunia masa kini.

    Saat kampanye mengaku akan menuntasi kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, tapi janji tinggal janji. Disentuh pun tidak! Maka layak jika ada begitu banyak orang yang kecewa terutama mereka yang sanak-saudara, anak, suami dan kerabatnya hilang/terbunuh tanpa jejak, tanpa keadilan!

    Mengaku tidak akan menggusur rakyat jika terpilih, mengaku punya solusi untuk mengatasi banjir yang datang berkala di daerahnya dengan pelbagai macam teori.  Tapi nyatanya? Tetap saja ada yang tergusur dan tetap saja? banjir!

    Janji hendak memberi kredit rumah tanpa uang muka, modal buka usaha bagi para penganggur tapi ketika terpilih, tak terdengar juntrungannya!

    Tapi kalau tak jujur, mana bisa terpilih, Don?

    Betul! Tapi kalaupun tak terpilih, Tuhan pasti sudah memilihnya untuk menjalani profesi lain yang tak kalah mulianya kok!

    Lihat saja Yohanes Pembaptis. 

    Karena ia rendah hati dan jujur maka Yesus mengangkatnya begitu tinggi. Dalam Matius 11:11, Yesus bahkan menyatakan bahwa sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.

    Persoalannya tinggak berani atau tidak. Untuk jujur dan rendah hati tak perlu pintar dan berpengalaman. Yang diperlukan adalah keberanian menerima konsekuensi yang mungkin muncul dari pilihan sikapnya.

    Kalau tidak berani ya sudah. 

    Tapi setidaknya kita, yang mengerti, yang punya telinga dan mata hati, jika suatu saat dipercaya untuk menjadi pemimpin, jadikanlah renungan hari ini sebagai pengingat untuk tetap jujur dan rendah hati.

    Sydney, 2 Januari 2020

  • Meneladani Maria: Menyimpan segala perkara dan merenungkannya

    Meneladani Maria: Menyimpan segala perkara dan merenungkannya

    Hari ini dunia merayakan tahun baru masehi, sementara Gereja, masih dalam perayaan Natal hari ke-delapan, merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Karena Anak Maria, Yesus, adalah sungguh Allah sungguh Manusia, maka Bunda Maria tidak hanya menjadi ibu dari Yesus tapi juga ibu dari Allah. Hal ini seturut dengan hasil Konsili Efesus tahun 431 Masehi. Tapi dalam konteks keseharian, apa yang bisa kita petik dari Kabar Baik hari ini? Apa yang bisa kita lakukan dengan meneladani Maria?

    Kedatangan para gembala

    Para gembala yang sedang menjaga domba-dombanya di malam hari di dekat tempat Yesus lahir didatangi malaikat yang mengabarkan kabar sukacita kelahiran Tuhan. (lih. Lukas 2:10-11)

    Mereka lantas berduyun-duyun datang ke palungan Yesus dan berjumpa dengan Yosef serta Maria.

    Kepada mereka, para gembala menceritakan bagaimana mereka didatangi malaikat. Tapi apa reaksi Maria? Ia menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. (lih. Lukas 2: 19)

    Aku tertarik dengan reaksi Maria tersebut.

    Kalau aku ada di posisi Maria, barangkali reaksiku akan seratus delapan puluh derajat berkebalikan! Aku langsung keluarin handphone, bikin Facebook Live atau instastory di Instagram dan mengabarkan pada khalayak di social media, ?Hey Guys, kita kedatangan tamu nih! Para gembala dari desa sebelah. Eh tau nggak, mereka baru didatangin para malaikat dan malaikat itu bilang kalau anak aku yang baru lahir ini adalah Juru Selamat yang dijanjikan Allah loh! Seru kan guys!? Tentu saja sambil berharap banyak yang nge-like dan syukur-syukur nge-share sehingga jumlah yang ?view? banyak!

    Jaman itu memang belum ada social media, tapi kalaupun sudah ada, Bunda Maria tidak akan melakukan seperti yang kulakukan di atas. Kenapa? Karena meski membanggakan, mengabarkan hal tersebut saat itu bukanlah sesuatu yang bijaksana. Bayangkan kalau lantas hal itu terendus para prajurit Herodes, bisa-bisa mereka langsung mendatangi dan bayi Yesus dibunuh karena Herodes memang menginginkan hal tersebut terjadi, bukan?

    Meneladani Maria: Tenang, tidak terpancing euforia

    Maria memilih bersikap menyimpan segala perkara di dalam hati dan merenungkannya. Pilihan sikap ini tidaklah berarti bahwa Maria pasif nan apatis. Sebaliknya, Maria menunjukkan sikap ketenangannya dalam menerima Kabar Gembira dari Tuhan. Ia tidak terpancing perasaan euforia sesaat. Dalam tenangnya itu, Maria menyusun langkah terbaik yang bisa ia dan suaminya berikan untuk membesarkan Tuhan.

    Dalam kita mengelola kabar, meski dari Tuhan sekalipun, ada baiknya kita meneladani Maria; tidak mengedepankan perasaan meski untuk itu tentu tidak mudah.

    Tahun-tahun belakangan ini kita sering melihat bagaimana banyak orang terlalu mengedepankan perasaan ketika mendengar sebuah kabar. Ada kabar bahwa capres A adalah keturunan PKI, karena emosi langsung menyebarluaskan ke khalayak. Ada kabar tentang seorang tokoh yang dituduh menghina agama, langsung naik pitam dan mengkoordinasi massa untuk turun ke jalan.

    Dan yang terjadi hari ini, ada musibah banjir yang terjadi di Jakarta. Alih-alih menunjukkan simpati atau merancang bantuan, yang dilakukan justru mengolok-olok Sang Gubernur.

    Katakanlah Sang Gubernur memang salah tapi apakah dengan mengolok maka air akan langsung turun dan keadaan membaik? Adakah mengolok-olok adalah reaksi hasil dari permenungan yang mendalam?

    Hey, ini sudah tahun 2020!
    Dan mumpung masih tanggal satu, di tahun yang baru, yuk meneladani Maria. Maria yang tak pernah tinggal diam tapi Maria yang tak terlalu reaktif terhadap perasaan. Maria yang menggunakan pendalaman dalam hati dan permenungan untuk berpikir dan bergerak mengusahakan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.

    Selamat Tahun Baru! Tuhan memberkati perjalanan kita semua.

    Wodonga, 1 Januari 2020

  • Selamat Natal atau Selamat Merayakan Natal?

    Selamat Natal atau Selamat Merayakan Natal?

    Selamat Natal! Selamat Merayakan Natal!
    Jika kamu belum mendapatkan satupun ucapan Selamat Natal dari kawan dan handai taulanmu, semoga ucapanku ini mengobati rasa sepimu. Jika kamu merasa kehilangan satu atau beberapa ucapan selamat dari kawan beragama lain yang biasanya mengucapkan tapi kok tiba-tiba tidak lagi menyalamimu dengan alasan, ?Aku tidak boleh mengucapkan tapi kita tetap temenan. Maaf ya!?, bolehlah ucapan salamku ini menggantikannya.?

    Lagipula jika dipikir-pikir, ucapan Selamat Natal itu bagiku tak terlalu penting. Kalau ada yang ngucapin ya bagus dan perlu kita ucapi ?Terima Kasih.??

    Tanpa ucapan ?Selamat?, yang dilahirkan pada hari Natal itu adalah Sang Juru Selamat sendiri! Putra Allah yang Tunggal yang namanya Yesus. Adakah ucapan ?selamat? yang lebih menyelamatkan daripada keselamatanNya sendiri?

    Jadi kalau tidak di-ucap-i ?Selamat Natal? dengan alasan ?tidak sesuai dengan ajaran mereka? jangan lantas berkecil hati.? Justru berbanggalah karena dengan tidak memaksanya untuk menyelamatimu hal itu berarti kamu sudah membantunya melakukan ibadah terhadap ajarannya secara lebih baik!

    Eh? ngomong-ngomong, kalian tau nggak, sebenarnya ada ucapan yang lebih penting dari sekadar ?Selamat Natal.? Ucapan itu adalah, ?Selamat Merayakan Hari Natal.?

    Selamat Merayakan Hari Natal

    Kenapa? Karena merayakan Hari Natal itu beresiko sehingga butuh ?selamat?.

    Nggak percaya?
    Bayangkan kamu sedang hendak pergi ke Gereja merayakan Natal. Untuk itu kamu hendak memberi kejutan kepada pacarmu berupa pakaian yang kau kenakan yang menurutmu sudah keren banget!

    Saat tiba di gerbang pintu kost-kostan sang pacar, semuanya ambyar karena apa yang menurutmu keren ternyata sebaliknya di matanya, ?Kok kamu pake pakaian kayak gitu? Nggak matching sama sekali!? Pacarmu ngambek lalu memilih pergi ke Gereja bareng kawan-kawan nya saja dan kamu?? Karena sudah suntuk nan bete lalu jadinya malah gak ke Gereja dan nongkrong bareng temen. Nah, beresiko kan?

    Bayangkan juga kamu sedang beribadah di dalam Gereja lalu tiba-tiba ada gangguan keamanan yang tak diinginkan dan acara ibadahmu kacau-balau? ?Tidak selamat? bukan?

    Bahkan, jangankan merayakan, seorang non-kristiani yang tidak ikut merayakan tapi ikut menjaga keamanan Gereja saat malam Natal pun pernah ada yang ?tak selamat? dan wafat karena terkena ledakan bom yang dipasang oleh pihak yang tak bertanggung jawab!

    Makanya, ucapan ?Selamat Merayakan Natal? itu menurutku jauh lebih penting daripada ucapan ?Selamat Natal? itu sendiri.

    Selamat melarang perayaan Natal! Selamat membiarkan pelarangan perayaan Natal!

    Ucapan ?Selamat Merayakan Natal? juga layak kita berikan pada umat yang tak boleh merayakan perayaan Natal di daerahnya sendiri. Mereka harus pergi ke daerah lain untuk merayakan dan untuk itu mereka harus bisa selamat sampai tujuan. Maka patutlah kita selamati mereka!

    Meskipun untuk hal seperti ini ya sejatinya sangat memprihatinkan. Bayangkan! ini sudah tahun 2019! Jaman yang sudah begitu modern tapi pelarangan seperti ini masih berlaku!

    Katanya menghargai keberagaman??Katanya hendak membangun bangsa dan negara secara adil dan merata? Tapi ketika dihadapkan pada sekelompok oknum masyarakat yang melarang perayaan lha kok diam saja?

    Untuk itu, selain mengucapkan ?Selamat Merayakan Natal? ada dua ucapan ?selamat? yang menurutku perlu kita ucapkan kepada angin dan abab yang berlalu di muka kita,

    ?Selamat melarang perayaan Natal!??

    ?Selamat membiarkan pelarangan perayaan Natal?


    Entah untuk siapa?
    Entah kepada siapa?.

    Gaudeamus omnes in Domino, quia Salvator noster natus est in mundo. Hodie nobis de caelo pax vera descendit.

    Melbourne, 24 Desember 2019

  • Di hari ulang tahunku, doakan aku supaya selalu ada dalam ruang lingkupNya

    Di hari ulang tahunku, doakan aku supaya selalu ada dalam ruang lingkupNya

    Jika kalian punya waktu barang 1 menit saja, bolehkah kumeminta doamu karena hari ini adalah ulang tahunku yang ke-42 :) Doamu saat penting karena semakin banyak yang mendoakan, semakin banyak pula suara permohonan yang didengar Tuhan.

    Satu hal yang paling kusyukuri selain tentu ada begitu banyak rasa syukur lain adalah kian hari aku kian diberi penyadaran bahwa semua hal baik yang terjadi pada diriku adalah karena kasihNya belaka. Aku ini tak punya daya hidup apa-apa kalau Tuhan tidak menghidupkan. Aku tak punya daya kasih yang kuat merengkuh kalau Tuhan tak lebih dulu memeluk dan mengasihiku.

    DV 42
    DV 42

    Menerima kehendakNya di atas kehendak-kehendak lainnya?

    Dan pagi ini ketika membaca Kabar BaikNya, aku disadarkan satu hal lain. Meski sudah mulai bisa mensyukuri kasihNya, sudah bisakah aku di ulang tahunku ini menerima apa yang jadi kehendakNya di atas kehendakku pribadi?

    Bunda Maria ketika didatangi Malaikat Gabriel yang mengabarkan kehamilannya berani berkata, ?Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.? (Lukas 1:38) Beranikah aku bersikap sama seperti Bunda? Jika berani, bagaimana mengejawantahkannya dalam hidup di alam modern ini?

    Beberapa hari yang lalu aku menonton mini seri di Netflix yang berjudul ?The Story of God?. Dalam sebuah episodenya yang mengupas soal mukjizat, Morgan Freeman (sang pembawa acara) bertanya pada Jenny Liu, seorang tokoh aliran Daoisme tentang makna hidup dan mukjizat.

    Ada satu penggalan yang amat mengena untukku dari percakapan mereka, Birds do not fly they are flown, fish do not swim they are carried yang artinya kurang lebih, burung di udara tidak terbang, mereka diterbangkan. Ikan di dalam air tidak berenang, mereka terbawa (arus).

    Menuruti kehendak Allah dalam hidup menurutku kurang lebih adalah demikian adanya.

    Tapi kalau demikian, bukankah Tuhan itu memberikan kehendak bebas?

    Betul.?
    Burung punya sayap.
    Tapi pernahkah melihat burung yang berusaha terbang melawan arus angin? Seberapa kuat ia mampu bertahan sebelum akhirnya jatuh?

    Ikan punya sirip.
    Tapi pernahkah melihatnya kuat menentang arus? Jika kuat seberapa lama ia mampu bertahan sebelum akhirnya terbawa arus juga?

    Burung yang sadar diri adalah burung yang mengepakkan sayapnya selaras dengan arah angin. Ia bisa terbang ke atas, menukik ke bawah untuk mencari mangsa tapi arahnya tetap tidak melawan angin.

    Ikan yang baik adalah ikan yang menggerakkan siripnya ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah tapi selalu selaras dengan arus, tidak melawan.

    Manusia?
    Kita punya kehendak bebas, akal budi serta talenta-talenta pemberianNya. Kita boleh membuat keputusan-keputusan hidup tapi akankah kita tetap diselamatkan kalau keputusan yang kita buat bertentangan dengan kehendakNya?

    Maria (bersama Yoseph suaminya) pasti juga banyak membuat keputusan dalam hidup menggunakan akal dan budi mereka, tapi mereka selalu menyelaraskan dengan kehendak Bapa yang turun atas mereka. Selalu ada dalam batasanNya, tidak pernah mau membawa hidup keluar dari lingkupNya.

    Doakanlah aku di hari ulang tahunku

    Doakanlah aku agar tetap selalu ada dalam ruang lingkupNya. Tetap sehat, kuat dan bijaksana agar Allah senantiasa memakaiku untuk semakin membuat harum dan mulia namaNya di muka bumi melalui tulisan-tulisanku, melalui pelayanan-pelayanan yang dipercayakanNya kepadaku.

    Terima kasih atas doa-doa kalian di hari ulang tahunku yang spesial ini!

    Sydney, 20 Desember 2019

  • Layakkah kita dipercaya sebagai orang yang sudah percaya kepadaNya?

    Layakkah kita dipercaya sebagai orang yang sudah percaya kepadaNya?

    Kabar Baik hari ini adalah tulisan pertama Matius (Matius 1). Ia membentangkan garis keturunan/silsilah Yesus dari Abraham hingga Yoseph dan Maria, kedua orang tuaNya. Total jendral ada 42 keturunan dan dalam hitungan tahun, menurut situs Hebroots.com jarak dari Abraham hingga lahirnya Yesus kira-kira adalah 2052 tahun! Dari kenyataan diatas, apa yang bisa kita renungkan? Yang utama adalah betapa Allah Bapa itu sangat setia pada janjiNya oleh karenanya sangat bisa dipercaya. Keselamatan abadi yang diberitakan turun-temurun oleh para nabi melalui berbagai macam perjalanan hidup manusia yang naik turun, pada akhirnya menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus.

    Yesus adalah jawaban

    Yesus menjadi jawaban atas penantian 42 generasi sebelumNya. Ia juga akan menjadi jawaban penantian atas entah berapa generasi lagi hingga akhir zaman, ketika Ia datang sebagai raja agung.

    Yesus yang sudah turun ke dunia dan meski sudah kembali ke Surga, tapi melalui kuasa Roh KudusNya, Ia hidup dalam hati kita, umat yang percaya.

    Permasalahannya sekarang adalah percayakah kita pada hal tersebut? Percayakah bahwa Yesus yang dijanjikan secara turun-temurun itu sudah hadir dan hidup serta berdiam di dalam diri kita?

    Percaya? Bagus! Dipercaya? Belum tentu!

    Percaya? Bagus!

    Tapi persoalannya sekarang, bisakah kita dipercaya olehNya? Dipercaya bahwa kita ini adalah bagian dari orang yang sudah menerima Yesus dalam iman dan hidup?

    Kepercayaan bahwa Tuhan hadir dalam diri kita harus dinyatakan melalui perbuatan-perbuatan nyata. Itulah resep supaya kita pun dipercaya.

    Beberapa hari yang lalu aku dibuat merinding oleh sebuah cerita dari seseorang yang berasal di seberang samudra. Ia kutemui di sebuah kedai kopi di siang hari yang terik.

    Ia lahir bukan dari keluarga Katolik. Meski sejak kecil bertekun dalam agama yang diajarkan oleh kedua orangtuanya, menjelang kuliah, ia memutuskan untuk tak beragama. Ia berubah jadi seorang agnostik, sebutan untuk mereka yang percaya pada Tuhan tapi memilih untuk memeluk sebuah agama.

    Keputusannya itu berasal dari ketidakpuasan serta kekecewaan terhadap agama lamanya.

    Setelah menjadi agnostik beberapa lama, terbitlah sebuah kerinduan akan perlunya sosok Tuhan yang lebih ?definitif? dan bisa ?didekati.? Ia merasa terperangkap oleh idenya sendiri untuk menjadi seorang agnostik. ?Aku butuh sosok Tuhan yang bisa kujadikan kawan curhat saat tak ada lagi yang bisa kucurhati, DV.? ujarnya menerawang.?

    Maka ia ?berkenalan? dengan Yesus. 

    Belajar tentang riwayatNya dan ia pun membuka diri untuk jatuh hati pada Anak Allah satu-satunya itu. Beberapa buku kristiani dibaca lalu setelah siap, ia memberanikan diri datang ke Gereja ikut katekumen dan dua tahun sesudahnya ia dibaptis.

    Perjalanannya tak berhenti di situ.

    Karena terpanggil untuk memberi kesaksian tentang bagaimana ia diselamatkan Tuhan, pada satu acara keluarga ia mengumumkan dengan bangga bahwa ia telah menjadi seorang kristiani.

    ?Seluruh ruangan jadi sunyi. Beberapa saat lamanya tak ada yang berkomentar sama sekali, DV!? Dan seperti yang sudah diperkirakannya, hampir seluruhnya kecewa dengan keputusan itu. Ada yang marah, ada yang terus membujuknya untuk kembali bahkan kedua orang tuanya pun mengusir dan tidak lagi menganggapnya sebagai anak.

    Ia telah berkorban lebih dulu

    Aku bertanya, ?Kamu tak menyesal??

    Ia menggeleng. ?Keputusan untuk ikut Yesus adalah keputusan terbaikku, DV. Untuk itu aku mau dan rela berkorban apapun. Karena apapun pengorbanannya, Yesus sudah lebih dulu menggantinya dengan keselamatan abadi yang kuterima kelak!?

    Tiba-tiba tenggorokanku kering. Aku tercekat dan tak bisa berkata apa-apa. Aku Katolik sejak lahir tapi membayangkan diriku ada di posisinya, aku tak yakin punya nyali sebesar itu. Bahkan tak seujung kelingkingnya sekalipun!

    Sydney, 17 Desember 2019

  • Jujur terhadap kebenaran. Berani?

    Jujur terhadap kebenaran. Berani?

    Dari percakapan para imam kepala dengan Yesus dalam Kabar Baik hari ini kita belajar mengerti tentang perlunya bersikap jujur terhadap kebenaran.

    Kenapa tak jujur terhadap kebenaran?

    Ketika bertanya kepada Yesus tentang kuasa dari manakah yang membuat Yesus bisa melakukan banyak pengajaran dan mukjizat, Yesus malah balik bertanya tentang Yohanes Pembaptis, ?Dari manakah pembaptisan yang diberikan Yohanes? Surga atau manusia??. mereka sebenarnya sudah tahu jawabnya. Meski demikian mereka memilih untuk tetap menjawab, ?Kami tidak tahu? karena dua pertimbangan.?

    Pertimbangan pertama, kalau mereka menjawab bahwa kuasa itu dari Surga, mereka takut ditanya Yesus, ?Kalau begitu mengapa kalian tidak percaya?? Sebaliknya, pertimbangan kedua, kalau mereka menjawab bahwa kuasa itu dari manusia, mereka takut karena banyak orang sudah menganggap Yohanes Pembaptis adalah nabi.

    Para imam tidak jujur terhadap kebenaran. Mereka tidak meletakkan kebenaran di atas segalanya. Mereka menomerduakan kebenaran di bawah kepentingan mereka sendiri.

    Hoax!

    Dalam hidup masa kini, hal-hal seperti itu marak kita lihat. Para pembuat hoax adalah salah satu contohnya.

    Para pembuat hoax menurutku adalah contoh terbaik tentang orang yang tak jujur terhadap kebenaran. Mereka tahu kabar yang mereka sebar adalah palsu dan mereka tahu mana yang asli. Tapi kalau mereka jujur pada kebenaran, darimana mereka mendapat uang?

    Ketidakjujuran terhadap kebenaran bukan dominasi para pembuat hoax saja. Dalam banyak praktek hidup, kita ditantang untuk jujur terhadap kebenaran dan untuk itu tidaklah selamanya mudah.

    Semua agama sama saja?

    Misalnya seorang pria suatu saat jatuh cinta pada seseorang yang memeluk agama berbeda dari yang dipeluknya. Tapi karena sudah larut dalam kemilau cinta yang ditawarkannya dan tak ingin untuk mengakhirinya, ia mau melakukan apa saja. Bahkan ketika ditanya pandangan tentang agama, ia menjawab ringan, ?Ah, semua agama sama saja???

    Harapan pria tadi, dengan berkata begitu sang pacar akan berpikir bahwa si pria tak?kan keberatan kalau ia yang harus pindah agama ke agamanya dan hubungan tetap terjaga.

    Padahal tanpa disadari pria tadi malah menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap kebenaran bahkan terhadap pendapatnya sendiri. Bahwa ?Semua agama itu sama.? adakah hal itu merupakan satu kebenaran?

    Apa yang bisa jadi jaminan bahwa semua agama itu sama jika pria tadi belum mendalami semua agama yang ada dan melakukan teknis perbandingan yang adil sehingga sampai kesimpulan bahwa semua agama memang benar-benar sama?

    Lagipula kalau ternyata semua agama sama saja kenapa bukan sang pacar yang pindah ke agama pria tadi dan justru sebaliknya? Bukankah sama saja?

    Menjaga sikap jujur memang tidak pernah mudah. Hal-hal yang menarik dari sisi duniawi lah penyebabnya. Iming-iming yang melenakan membuat kita berani bersikap tak jujur. Satu-satunya cara adalah dengan terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, mau berproses untuk kian hari kian jujur menanggapi kebenaranNya.

    Jujur terhadap kebenaran itu tidak mudah!

    Dari penyadaran kita terhadap sulitnya untuk jujur terhadap kebenaran ini pada akhirnya membuat kitapun harusnya menghormati orang-orang yang sedang bergumul dan bukannya malah menghakimi apalagi menyalahkan.

    Kita diajak mendoakan mereka dan justru menjadikannya sebagai tempat berkaca, apakah kita sudah lebih jujur terhadap kebenaran atau? jangan-jangan jika kita ada di posisinya, kita melakukan hal yang jauh lebih buruk daripadanya?

    Sydney, 16 Desember 2019

  • Mendengarkan suara Tuhan di tengah bisingnya dunia. Mana bisa?

    Mendengarkan suara Tuhan di tengah bisingnya dunia. Mana bisa?

    Kalian pernah ikut acara retret atau rekoleksi? Dulu aku suka sekali ikut acara-acara seperti itu. Aku bisa benar-benar larut dalam nuansa spiritual, mendengarkan suara Tuhan yang dibangun dan sepulang dari acara yang biasanya digelar akhir pekan, pikiran jadi fresh! Tercerahkan!

    Tapi sayangnya ketercerahan itu tak berlangsung lama. Seminggu masih OK, tapi sebulan kemudian biasanya udah ?kembali ke normal.? Udah lupa bahwa sebulan sebelumnya aku pernah ikut retret dan aku sangat menikmatinya nuansa spiritualnya.

    Mendengarkan suara Tuhan vs bisingnya dunia

    Setelah sekian lama akhirnya kusadari kenapa hal-hal tersebut terjadi. Ketika ikut retret, kita tidak merasakan kebisingan dunia. Akses ke handphone dan dunia luar pun kadang dibatasi. Bahkan aku pernah ikut retret yang mewajibkan para pesertanya untuk diam, tidak bicara dengan peserta lain pada jam-jam tertentu. Dalam keadaan seperti itu, kita bisa lebih jernih mendengar ?suara Tuhan.?

    Berbeda jika kita kembali ke hidup keseharian. Dunia kita rasakan begitu bising. Bising tak hanya suara tak hanya visual tapi semuanya. Semua informasi yang berlalu lalang di sekitar kita membuat terkadang sulit untuk mendengar suaraNya.

    Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!

    Tapi dalam Kabar Baik hari ini, Yesus menyatakan perintah tegas, ?Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!? (Mat 11:15) Perintah ini tak hanya berlaku saat retret saja! Perintah ini untuk dilaksanakan setiap saat selama kita hidup.

    Maka mendengarkan suara Tuhan di tengah bisingnya dunia memang menjadi tantangan. Bersyukur kita tak sendirian. Yesus mengutus Roh Kudus untuk menjadi pembimbing kita dalam mendengarkan suara Tuhan. Tapi lagi-lagi persoalan tetap ada. Karena Roh Kudus adalah Roh yang lemah lembut dan tidak pernah memaksa, terkadang kita mengabaikanNya.

    Kemarin aku mengalami kejadian sederhana yang kupikir selaras dengan Kabar Baik hari ini.

    Sepulang kantor, di dalam kereta yang mengantarkanku pulang, di sela-sela kursi aku melihat ada kulit pisang yang tertinggal di sana. Awalnya aku cuek saja, toh bukan aku yang makan? Toh nanti juga ada petugas yang membersihkan?

    ?Lagipula kalau kulit pisangnya minta tolong untuk dibuangin tentu ia akan bicara! Nyatanya tidak, kan?? gumamku.

    Aku lantas larut dalam kegiatan lain kesukaanku selama di dalam kereta, nonton video dari layar handphone-ku!

    Tapi sesekali waktu, mataku tak sengaja kembali menatap kulit pisang tadi dan setiap hal itu terjadi aku merasakan ada yang ingin disampaikan entah oleh siapa kepadaku, ?Haruskah kulit pisang itu kuambil dan kubuang di tempat sampah di stasiun nanti??

    Dan nyatanya itulah yang terjadi! Begitu sampai di stasiun, aku memberanikan diri untuk mengambil kulit pisang itu lalu membuangnya di tempat sampah yang disediakan.

    Mendengarkan suara Tuhan melalui hal-hal kecil

    Bagiku, itu adalah contoh kecil mendengarkan suara Tuhan. Ia bersuara, menyampaikan pendapat terbaik tentang apa yang bisa kulakukan untuk membangun KerajaanNya di atas bumi.

    Tapi apa iya sih Tuhan bicara tentang hal-hal kecil seperti kulit pisang tadi? Bukankah dalam Kabar Baik hari ini yang dibahas adalah tentang kedatangan Yesus?

    Menurutku justru karena Tuhan itu Maha Besar maka Ia amat mudah menjangkau kita melalui hal-hal yang besar maupun yang kecil. Lagipula, kalau tak memulai segalanya dari hal kecil, bagaimana mungkin kita bisa menguasai hal-hal yang besar?

    Eh kawan-kawan?
    aku mau titip doa dong untuk anakku yang kedua. Namanya Elodia. Hari ini, 12 Desember 2019, dia berulang tahun yang ke-7. Doakan semoga panjang umur, sehat selalu dan jadi anak yang takut akan Tuhan, mengasihiNya serta sesama. Semoga ia juga bisa semakin mendengarkan suara Tuhan sepanjang hidupnya.

    Sydney, 12 Desember 2019

  • Meminta solusi kok malah dikasih kelegaan?

    Meminta solusi kok malah dikasih kelegaan?

    Pernah ada yang bertanya kepadaku, ?Salahkah jika aku berdoa meminta solusi atas satu permasalahan kepada Tuhan?? Tentu tidak! Ia Maha Kuasa! Ia bisa memberi apa yang kita pinta. Tapi persoalannya sekarang, bagaimana kalau solusi yang kita dapatkan dariNya tidak sesuai keinginan?

    Jawaban paling nyaman untuk diberikan adalah, ?Yang terbaik menurutNya belum tentu sama dengan yang kau ingini.? Salahkah jawaban itu? Lagi-lagi tidak! Tapi persoalannya kemudian adalah bagaimana kita menghadapi hal tersebut?

    Katakanlah kamu menginginkan sebuah mobil listrik canggih keluaran Tesla tapi yang kau dapat adalah mobil sedan keluaran 90an?

    Katakanlah kamu menginginkan sebuah pekerjaan kantoran yang prestisius tapi yang kau dapat adalah menjadi pegawai administrasi di sebuah kantor di pelosok?

    Katakanlah kamu menginginkan sakit orang tuamu sembuh tapi yang kau dapati adalah ia justru semakin sakit?

    Rasa kecewa? Tentu ada!?Rasa capek? Pastinya juga ada.?Bahkan, alih-alih mensyukuri, terkadang kita malah terjebak dalam perasaan ?beban lebih berat? ketimbang saat sedang berusaha keras berjuang mendapatkan apa yang diinginkan.

    Meminta solusi? Ia memberi kelegaan

    Tapi Kabar Baik hari ini semoga menenangkan!

    Tuhan mengundang kita yang kecewa, letih, capek, lesu dan terbeban berat untuk datang kepadaNya karena Ia akan memberinya dengan kelegaan.

    Tapi, DV? Kenapa hanya kelegaan? Kelegaan bukan solusi persoalan gue!?

    Betul! Tapi apapun persoalanmu, apapun solusimu, semua perlu dihadapi dengan kelegaan. Maka, apakah kelegaan itu?

    Kelegaan adalah rasa ikhlas

    Bagiku kelegaan adalah rasa ikhlas.

    Ikhlas menjalani hidup yang terkadang memang penuh problema, ikhlas meminta solusi, ikhlas menerima apapun yang terbaik dariNya atas problem tersebut.

    Seorang ibu yang kukenal pernah merasa tak tenang menjelang pernikahan anaknya. Ia sebenarnya tak setuju dengan pilihan calon istri dari putra kesayangannya, ?Pokoknya aku akan menyadarkan anakku supaya tak memilih perempuan itu! Anakku sarjana lulusan Amerika! Mencari yang lebih baik dari dia pasti bisa!?

    Maka di saat orang-orang disekitarnya sibuk mempersiapkan pernikahan sang anak, ia malah ?belingsatan? sendiri. Tiap hari murung. Ketika si anak mengajaknya berdiskusi tentang pernikahan, ia menggerutu. Tak satupun ide yang ditawarkan sang anak dianggap baik. Pokoknya salah sampai si anak memilih perempuan lain yang sesuai kehendaknya barulah barangkali bisa dibenarkan. Lain tidak!

    Hingga akhirnya ia diberitahu sang suami bahwa sikapnya itu tidaklah elok. Bahwa hidup si anak adalah hidupnya sendiri, bukan hidup orangtuanya, ibunya. Si ibu lantas sadar. ?Aku pasrahkan pada anakku. Meski aku tak terlalu setuju tapi aku ikhlas. Itu adalah yang terbaik bagi anakku!?

    Sesudahnya, perangai si ibu jadi berubah. Ia lebih bisa diajak berdiskusi, bahkan darinya muncul banyak ide yang bisa membuat acara pernikahan anaknya berlangsung lebih meriah dan megah lagi.

    Sang ibu, meski awalnya tak ikhlas dan tak lega tapi pada akhirnya merasakan keikhlasan dan kelegaan itu. Dengan ikhlas, ia bisa menatap hidup lebih baik lagi.

    Maka mari belajar ikhlas, belajar lega.

    Lega karena kita tahu bahwa hidup ini memang tak mudah untuk dijalankan. Lega karena kita tahu bahwa apa yang kita inginkan saat meminta solusi tak melulu sama dengan kehendakNya. Lega bahwa tak semua harus dan bisa kita menangkan. Bukan karena Tuhan mau melihat kita kalah tapi justru karena untuk mencapai kemenangan sejati yaitu keselamatan abadi, kekalahan-kekalahan itu adalah pengorbanan.

    Seperti Yesus dulu yang tampaknya saja kalah karena ditangkap, didera, disalib hingga mati. Tapi sejatinya justru karena keikhlasanNya menerima semua itu maka Bapa mengangkatNya sebagai pemenang. Ia mulia melalui pengorbananNya.

    Sydney, 11 Desember 2019

  • Ia ?menghilang? demi domba yang hilang?

    Ia ?menghilang? demi domba yang hilang?

    Suatu pagi di Surga, sesosok malaikat bertanya pada seorang kawan lain, sesama malaikat juga. ?Bro, Yesus kemana kok gak ada?? Si malaikat yang disebut ?Bro? pun kaget dan baru sadar beberapa detik kemudian, ?Oh iya ya? Dimana Dia?? Beberapa sosok malaikat lain pun ikut kalang kabut mencari dimana hilangnya Si Anak Tuhan itu. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan Bapa dan memberanikan diri bertanya, ?Bapa, dimanakah Yesus berada? Kok Dia menghilang pagi ini?? Lalu Bapa menjawab, ?Dia kuturunkan ke dunia untuk mencari domba yang hilang!?

    Domba yang hilang

    Cerita di atas tentu karanganku belaka tapi aku tertarik untuk menggunakannya sebagai pengantar permenunganku hari ini. Bahwa demi menyelamatkan domba-domba yang hilang, Yesus rela ?menghilang? dari Surga, tiga puluh tiga tahun lamanya untuk turun ke Bumi.

    Kenapa sampai begitu?
    Karena Bapa sendiri yang mengutusNya. Seperti ditulis dalam Kabar Baik hari ini yang ditulis Matius, Yesus mengungkap, ?Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.? (Mat 18:14)

    Aku mengoleksi beberapa buah topi. Sejak kecil aku memang terobsesi pada topi. Topi-topi kusimpan dalam lemari dan setiap kali hendak memakai baru kukeluarkan, setelah kupakai kumasukkan lagi.

    Karena kita teramat berharga

    Suatu saat aku kehilangan salah satu topiku. Jangan tanya apakah topi yang hilang adalah yang kusayangi atau yang bukan karena semuanya kusayang karena aku mengoleksinya!

    Berhari-hari kucari tak ketemu.

    Kutanya pada seluruh orang di rumah, siapa tahu mereka tahu? Tapi tetap tidak ada yang tahu hingga suatu malam seorang kawan menelponku dan bilang, ?Don! Topimu ketinggalan di rumahku!?

    Aku langsung pergi ke rumah temanku malam itu.Jaraknya tak dekat tapi aku tak peduli karena aku hanya mau topiku kembali.

    Maka kalau kita tanya kenapa Bapa sampai mengutus Yesus untuk turun ke dunia dan mencari domba yang hilang ya karena kita ini amat berharga di mataNya. Ia akan terus mencari sampai akhir jaman.

    Pindah agama = domba yang hilang?

    Tapi DV, anakku pindah agama setelah menikah dan sampai sekarang belum kembali! Kenapa Tuhan tidak mencarinya?

    Ya.. mungkin karena waktuNya belum tiba.

    Mungkin juga Ia sudah mencari dan sudah ketemu tapi anakmu memilih untuk mengikuti kehendaknya sendiri.

    Atau.. mungkin lagi?  anakmu tidak hilang. Ia memeluk agama barunya justru supaya kamu bisa lebih merasa bersyukur karena imanmu. Justru supaya ia bisa jadi penyemangat untukmu berbuat lebih baik bagi Tuhan dan sesama termasuk mengasihi dan mendoakan anakmu itu tanpa syarat?

    Sydney, 10 Desember 2019

  • Bersama Bunda Maria hingga Golgota Kehidupan Kita

    Bersama Bunda Maria hingga Golgota Kehidupan Kita

    Tulisan ini seharusnya terbit kemarin saat kita semua memperingati Hari Raya Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda. Tapi hingga tadi malam, aku merasa belum bisa menuntasinya dan baru pagi ini bisa kuhadirkan untuk kalian semua.

    Bagaimana mungkin?

    Setiap kita memperingati dogma-dogma Gereja tentang Bunda Maria, kadang aku bertanya, bagaimana mungkin?

    Bagaimana mungkin Bunda Maria itu adalah Bunda Ilahi? Adakah Allah perlu Ibu? Hal ini terkait dogma Keibuan Ilahi yang diumumkan pada Konsili Efesus tahun 431.

    Bagaimana mungkin Bunda Maria itu adalah perawan abadi? Bukankah ia melahirkan? Bukankah ia pada akhirnya bersuamikan Yosef? Hal ini terkait dengan dogma yang diumumkan pada Konsili LAteran 649.

    Bagaimana mungkin Bunda Maria itu diangkat ke surga ketika tugasnya sudah selesai di Bumi? Yakin? Apakah sudah benar-benar dicari makamnya sebelum menyimpulkan demikian? Hal ini terkait dengan dogma yang dikeluarkan Paus Pius XII pada 1 November 1950.

    Dan yang kita peringati kemarin, bagaimana mungkin Bunda Maria itu dinyatakan sebagai manusia yang dikandung tanpa noda dosa? Bukankah ia sama dengan kita, bahkan ketika dikandung pun sudah terwarisi dosa asal dari Adam dan Hawa?

    Tapi setiap ada pemikiran ?Bagaimana mungkin?? itu muncul, seperti yang kutulis beberapa yang lalu, aku diajak untuk meletakkan segala hal di dalam Dia. Di dalam Tuhan, tidak ada yang tak mungkin.

    Bunda Maria, teladan, pendoa dan pendamping sempurna

    Maka daripada njelimet membahas dogma, selain bukan pakarnya, aku lebih tertarik untuk merenungi, apa makna dan gunanya bagi hidup kita?

    Maria adalah teladan sempurna bagi kita kaum beriman. Selain itu, Maria adalah pendoa sejati dan kita tidak perlu meragukan adakah doa-doanya didengar Tuhan atau tidak. Karena Ia adalah Bunda Allah. Ia adalah Perawan Abadi. Ia adalah yang sudah pasti ada di surga baik jiwa, roh dan raganya dan?. tidak seperti kita, Ia dikandung tanpa noda. Adakah keempat jaminan itu masih kurang?

    Maria tidak mendoakan kita dari jauh. Ia mendampingi kita seperti halnya dulu Ia mendampingi PuteraNya sejak awal pelayanan hingga akhirnya memanggul salib dari gerbang Yerusalem ke Golgota dan menungguiNya hingga mati.

    Maka ketika kita merasa hidup begitu berat, salib yang kita panggul seolah tak sebanding dengan daya dan kekuatan yang kita miliki, Maria menjaminkan dirinya berada tak jauh dari kita.

    Ia mendorong dan menyemangati.

    Ia tak ragu meminta tolong ?Veronika-Veronika? modern yang ada di sekeliling kita untuk mengelap wajah lelah kita.

    Ketika kita terjatuh, Maria tak malu-malu untuk meminta ?Simon-Simon? yang baru yang tak hanya datang dari Kirene tapi dari manapun untuk membantu kita memanggul salib hidup.

    Dan ketika kita sudah sampai di Golgota, salib sudah terpancang dan penderitaan kita semakin dalam tertancap di batangan kayu-kayunya, Maria ada tepat di bawah kaki salibmu! Ia mendoakan, menguatkan dan menatap ke arahmu dan darah-darahmu menetes bahkan membasahi rambut dan wajahnya seperti dulu pernah ia alami di Golgota.

    Lalu ketika luka-luka kita tuntas dan hidup kita berakhir, Maria jugalah yang menggendong kita masuk ke Gerbang Abadi Tuhan, AnakNya Yang Maha Tinggi.

    Masih kurang bersyukur apalagi kita karena memiliki Maria?

    Sydney, 10 Desember 2019

  • Belas kasihNya yang menyelamatkan kita

    Belas kasihNya yang menyelamatkan kita

    Aku suka dengan Kabar Baik hari ini karena memberi sudut pandang baru tentang bagaimana Tuhan memberikan belas kasihNya kepada kita manusia. Kalau selama ini aku berpikir Tuhan mengasihi seperti seorang ayah atau ibu kepada anaknya, seseorang terhadap sahabatnya maka kali ini Tuhan mengasihi seperti Ia melihat domba-domba yang tak bergembala; lelah dan terlantar.

    Belas kasihNya

    Dimana bedanya?
    Sebelum mencari bedanya, mari kita petik Kabar Baik tulisan Matius di bawah ini,?

    Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Mat 9:36)

    Seorang ayah atau ibu secara naluri mengasihi anaknya. Seseorang otomatis mengasihi sahabatnya tapi Kabar Baik hari ini membuatku bertanya, jika yang mengikutiNya itu hanya sedikit dan tidak tampak lelah dan terlantar, adakah Yesus tetap berbelas kasih kepada mereka?

    Ketika merasa lelah dan terlantar

    Pertanyaanku di atas tidak perlu dijawab. Yang perlu dijadikan sebagai gagasan adalah kita sebagai manusia seharusnya tak perlu malu apalagi gengsi untuk menyatakan bahwa kita ini lelah dan terlantar dalam menjalani hidup supaya belas kasihNya semakin besar terhadap kita.

    Sekitar enam tahun silam aku pernah bergelut dalam satu masalah yang tak ringan. Segala macam cara kucoba dan hasilnya seperti membentur tembok, selalu gagal dan gagal.

    Lalu pada satu malam, aku menatap salibNya dan berkata kepadaNya, ?Tuhan? piye iki? Aku kudu piye meneh? Tulungana aku, Gusti! (Tuhan, bagaimana ini? Aku harus berbuat apalagi? Tolonglah aku, Tuhan – jw)? Ketika berdoa, aku memang lebih senang menggunakan Bahasa Jawa karena itu adalah bahasa ibuku.

    Pagi harinya, jawabanNya datang melalui tanda. Tanda itu kuikuti dan Puji Tuhan, masalah yang selama ini tampak begitu gahar dan seolah aku tak kan mampu mengatasinya jadi lunglai di hadapan Tuhan.

    Waktu itu sempat muncul pertanyaan nakal, seandainya malam itu aku tak benar-benar mengajakNya bicara seperti yang kutulis di atas, adakah keesokan paginya aku akan mendapat jawaban dari Tuhan?

    Aku tak tahu.
    Tapi yang kurenungkan hari ini, bersandar pada tulisan Matius di atas, aku berpikir bahwa caraku berbicara kepadaNya malam itu kuanggap sebagai usahaku untuk ?cari perhatian? (caper) kepadaNya supaya Ia melihat dan berbelas kasih kepadaku! Ia melihat kelelahanku dan menolongku!

    Tapi pertanyaannya sekarang, kapan saat yang tepat bagi kita untuk bisa mengaku bahwa kita sudah lelah dan terlantar di mataNya? Kalau memang Ia berbelas kasih pada yang lelah dan terlantar, kenapa sejak awal didera masalah kita tak usah berusaha saja tapi langsung minta tolong dan bersikap seolah kita lelah dan terlantar?

    Belas kasihNya yang menyelamatkan

    Tentu bukan itu intinya.

    Tuhan memberi kita karunia yaitu akal dan budi untuk membantu kita menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Jika kita terlampau cepat ?melambaikan tangan ke arah kamera? lalu berteriak, ?Tuhan, aku lelah!? apakah kalian tak malu kalau Dia bilang, ?Lelah? Sudah sejauh mana kamu memakai akal dan budimu??

    Lagipula, jika kita baca ulang ayat di atas, orang-orang yang mengikuti Yesus itu tidak menyatakan bahwa diri mereka lelah dan terlantar! Mereka justru seperti tak kenal lelah dan tak peduli adakah mereka terlantar atau tidak pokoknya mengikuti Yesus. Yang terjadi justru Yesus yang melihat kelelahan dan keterlantaran mereka!

    Maka sebagai orang beriman, teruslah berusaha untuk mengikuti jalanNya sebagai jalan hidup kita. Kabar Baik hari ini menguatkan kita supaya kita tak  perlu merasa takut untuk lelah dan tak perlu khawatir kita terlantar. Ia selalu memberi kelegaan dan menjaga kita. Bahkan ketika menurutNya kita memang sudah benar-benar lelah dan terlantar, belas kasihNya menyelamatkan kita!

    Sydney, 8 Desember 2019