Tag: 101

  • Kepo!

    Kepo!

    Konon istilah ‘kepo’ berasal dari Bahasa Hokkien yang artinya kurang lebih ‘ingin tahu’.

    Benar tidaknya? Aku tidak tahu dan jangan kepo untuk cari tahu asal kata ‘kepo’ karena nggak penting-penting amat untuk hidupmu dan hidupku.

    Yang lebih penting, sifat ‘kepo’ itu satu hal lain yang harus dijauhi ketika kalian memutuskan untuk pindah ke Australia.

    Di sini (dan sebenarnya dimana saja sih) privacy itu adalah hal yang amat dihormati. Jangankan untuk bertanya hal-hal ‘besar’ semacam , “Agamamu apa?” atau “Eh, kamu tinggal bareng pacarmu? Pacar atau istri? Hah!? Kamu bersuami? Kan kamu cowok!!!” bahkan untuk pertanyaan sepele semacam “Kamu kusut sekali pagi ini, ada yang bisa kubantu?” itu sudah termasuk kepo, you know?

    Trus kalau kita kepo di Australia hukumnya apa?
    Nggak semua harus dihukum dan dibawa ke pengadilan. Tapi ‘hukuman sosial’ itu kadang jadi guru terbaik supaya kita tak kepo lagi. Di tataran yang paling ringan, kamu cuma disenyumi dengan sinis lalu pertanyaanmu tak terjawab. Di level atasnya lagi dibalas “It’s not your business!” lalu kamu dijauhi…

    Aku juga punya pengalaman tak mengenakkan ketika pertama kali datang kemari. Bertanya tentang hal yang biasa kutanyakan saat di Indonesia tapi jawaban yang kuterima ketus bingit.

    Emang kamu tanya apa, Don?
    Nah, kepo-mu keluar lagi kan?
    Mau tau aja atau mau tau banget?
    Penasaran? Buruan lihat vlog terbaruku tentang ‘kepo’ di bawah ini atau klik di sini untuk menuju link youtube-nya.

    Salam kemal, kepo maksimal!

    https://youtu.be/e20FEdEZzCo

  • 101: False Humility

    101: False Humility

    Merendahkan diri itu baik, tapi sok merendahkan diri untuk meninggikan mutu itu jahanam!

    Sayangnya hal itu sering terjadi di dalam kultur masyarakat kita.

    Contohnya begini,

    “Ah, jangan saya! Saya ini bisa apa, yang lainnya saja…”

    “Saya baru belajar, belum bisa bisa banyak!” Atau yang terbaru, “Aku mah apa atuh!”

    Biasanya harapan yang ada dalam benak orang yang berlaku seperti itu adalah jawaban dari orang lain, “Ah, kamu merendah. Ayo lah, jangan begitu. Kami tahu track recordmu kok…”

    Mentalitas ingin di-puk-puk, aku menyebutnya karena ingin dimanja, dinomersatukan dengan jalan menjatuhkan diri, merendahkan diri.

    Sialnya lagi, karena sudah dianggap umum dan wajar, orang-orang yang berpikir jujur dan tidak merendahkan diri untuk meninggikan mutu malah dianggap orang sombong!

    Misalnya, “Aku bisa mengerjakan. Coba beri aku kesempatan!” atau “Aku pernah melakukannya di masa silam, sepertinya aku masih ingat bagaimana caranya mengerjakan!”

    St Jose maria Escriva, pendiri Opus Dei yang kesohor itu, dalam sebuah tulisannya berkata bahwa bahwa sok merendahkan diri atau yang biasa disebut sebagai false humility justru pertanda seseorang yang tinggi hati. Nah!

    Kenapa tiba-tiba aku menulis tentang hal ini, karena banyak migran dari Indonesia yang pindah kemari lupa bahwa yang dihadapi adalah orang dari berbagai macam ras dan suku yang tak bisa diharapkan akan mem-pukpuk kita ketika kita ‘merendahkan diri untuk meninggikan mutu’. Aku adalah contoh terbaik untuk hal buruk ini. Aku pernah melakukannya dulu.

    Secara khusus aku merilis vlog tentang false humility dan kalian bisa nikmati di bawah ini?atau kalau tak bisa terbuka secara utuh, silakan klik di link ini.

    https://youtu.be/sJBv7OYHcyw