Ketika kita merasa disakiti orang lain dan merasa tak sanggup melawan, hal yang sering kita lakukan adalah menyumpah serapah; berharap tuhan membalas tindakannya dengan hal yang setimpal di masa yang tak terlampau lama di depan.
“Tuhan tak pernah tidur!” begitu penutupnya.
Atau kalau kata Soegiarso Soerojo, Siapa menabur angin, akan menuai badai, dalam bukunya.
Tapi, sebelum menyumpah demikian, pernahkah kita berpikir, jangan-jangan justru kita disakiti karena kita terlebih dulu menyakiti hati orang di masa lalu?
Jangan-jangan kita telah menabur angin sejak dulu dan sekarang adalah saatnya kita harus menuai badai?
Karena kalau demikian, atas dasar ‘angin’ apalagi maka kita meminta tuhan untuk menurunkan tuaian badai baginya, musuh kita, di masa yang akan datang?
Tinggalkan Balasan