Syukur ulang tahun ke-43 di tengah pandemik yang melanda

21 Des 2020 | Aku

Hari ini aku berulang tahun yang ke-43 dan tak habis syukur kuucapkan kepada Tuhan yang menguasaiku!

Pelajaran paling berharga

Pelajaran paling berharga yang kudapat di usia setahun belakangan adalah bahwa ketika Tuhan berkehendak, apapun itu, termasuk Pandemik COVID-19, tak kan mampu menghalangiNya!

Sejujurnya, sama dengan sebagian besar dari kalian, tahun ini bukan tahun yang mudah. Tahun 2020 adalah tahun yang tak pernah kita bayangkan wujud penampakannya bakalan seperti ini sebelumnya! Kita selama ini ‘ditakut-takuti’ dengan ramalan gempa bumi, gunung meletus dahsyat, perang nuklir, pemanasan global dan climate change bahkan ramalan kiamat… tapi para peramal itu lupa tentang satu hal: virus jahanam yang menyebar menjangkiti tubuh-tubuh manusia tak peduli siapapun dia! Dan tiba-tiba ketika COVID-19 merajalela, kita tercekat, hidup seolah menemui ujung jalan…

Covid bagai kryptonite

COVID-19 sendiri bagiku bagaikan kryptonite. Nggak mematikan tapi sempat bikin lemes :) Perasaan takut, dan kehilangan mood menyergapku di awal pandemik. Takut membayangkan seperti apa wajah dunia menghadapi pandemik, hilang mood karena takut. Mbulet pokoknya!

Rasa takut dan hilang moodku selama lockdown bisa terukur secara numeris pada jumlah tulisanku  di blog ini 12 bulan belakangan! Blog, bagiku adalah sebuah representasi online yang sangat kupertahankan dan kujaga dalam 18 tahun belakangan, tapi hal itu roboh diterjang pandemik. Hal lain yang juga jadi penanda betapa tahun ini begitu berat adalah hilangnya nafsu untuk shopping baju, celana dan sepatu. Kalian yang kenal denganku secara personal tentu tahu betapa aku ‘gila belanja’ terhadap ketiga hal itu. Setelah pandemik, aku hilang mood dan tak pernah membeli barang-barang itu lagi. Alasannya? Untuk apa? Untuk apa beli baju, celana dan sepatu baru kalau aku hanya bisa diam di rumah karena isolasi lockdown dan work from home yang berkepanjangan?

Kalau tahun 2020 dinilai hanya dari hal-hal tersebut, aku berani menyebut ini adalah tahun terburuk!

Tapi nyatanya? Ketika kurenungi setahun belakangan, justru saat pandemik terjadi aku malah mendapat begitu banyak rahmat serta berkat dari Tuhan!

BaikTV 

Seret nulis di blog ini bikin aku membuka Instagram account @baik.tv. Hingga saat tulisan ini kurawi dan kupublikasikan, BaikTV telah merilis 204 episode video renungan iman Katolik berdurasi rata-rata dua menitan.

Puji Tuhan kontennya banyak digemari kalangan yang justru berbeda sama sekali dengan para penikmat tulisanku sebelumnya. Mereka adalah kaum milenial, para orang muda katolik (OMK) dari seluruh Indonesia dan beberapa belahan dunia! Hal ini begitu menghangatkan hati!

Rekaman!

Mimpiku sejak berpuluh tahun lalu adalah ingin rekaman! Rekaman? Ya! Rekaman! Rekaman lagu, lagu buatanku sendiri lalu kupublikasikan mumpung teknologi sudah sedemikian mudahnya untuk memfasilitasi mimpi itu! Bersama kawan-kawan di Indonesia yang membantuku mewujudkan, tiga lagu kurilis tahun ini, Suluh, Raja Singa dan Salamaria.

Kiprahku di bidang ini membuka cakrawala pemikiran baru yang semakin membuatku bersyukur: aku diberi talenta di banyak hal termasuk musik!

Joyce dapat kerjaan!

Sebenarnya sejak awal tahun lalu Joyce, istriku, sudah mendapat pekerjaan tapi casual (tidak tetap). Saat pandemik dimulai aku sempat mencoba menghiburnya, “Kalau kamu gak dapat panggilan lagi nggak papa, namanya juga lagi pandemik!” Tapi ternyata… sekitar dua minggu sebelum lockdown dijalankan dan sekolah diliburkan kurang lebih enam minggu, Joyce malah mendapat kontrak setahun untuk bekerja di sebuah sekolah! Padahal jika dipikir secara nalar, untuk apa ia dikontrak jika dua minggu kemudian sekolah dilockdown dan saat kontrak itu ditawarkan pihak sekolah sebenarnya sudah tahu bahwa pengumuman lockdown tinggal menunggu hari H dan jam J nya saja?

Anak-anak diterima bersekolah di sekolah Katolik

Salah satu cita-citaku bersama Joyce adalah menyekolahkan anak-anak di sekolah Katolik. Bukan karena mutu atau hal lain selain karena ‘nggak enak dengan Tuhan!’ Kok bisa? Karena waktu nikah dulu kan udah janji kepada Tuhan di hadapan imam, para saksi dan umat bahwa kami akan mendidik anak-anak secara katolik? Nah! menyekolahkan anak-anak ke sekolah Katolik menurutku adalah salah satu implementasinya. 

Punya rumah

Barangkali ini yang paling besar! Sebelumnya aku nggak pernah punya mimpi untuk bisa membeli rumah di Sydney. Harga rumah di Sydney amat tinggi, termasuk yang paling tinggi di dunia! Maka, membangun rumah di Sydney bagi orang sepertiku adalah sebuah kepercayaan yang diberikan Tuhan kepadaku! Dan ketika hal ini terjadi justru di saat pandemik? Itu kan wow sekali!

Pandemik COVID-19 belum berakhir bahkan aku yakin dalam beberapa bulan ke depan, status itu masih tetap akan ada. Tapi semoga tulisan ini jadi pengingat tak hanya bagi kalian tapi juga bagiku sendiri bahwa sesulit apapun keadaan, hal itu tak kan menghalangi Tuhan untuk menjalankan niatNya! Dan… setahuku serta sepercayaku, Tuhan nggak pernah punya niatan buruk untuk kita. Kali ini kumohon kalian supaya percaya kepadaku :)

Sydney, 20 Desember 2020

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.