Sydney – Way Kambas – Padang – Sydney dalam sehari. Why not?

28 Agu 2017 | Cetusan

Jalan-jalan dari Sydney ke Way Kambas di Lampung untuk melihat harimau sumatera lalu lanjut ke Padang untuk makan Nasi Padang dan balik lagi ke Sydney dalam satu hari apakah memungkinkan?

Tentu! Kenapa tidak? Kemarin aku melakukannya!

Aku, Joyce, Odilia dan Elodia beserta sebuah keluarga Indonesia lainnya pergi ke kebun binatang di Sydney, Taronga Zoo namanya.

Sejak beberapa hari silam, pembicaraan tentang Taronga Zoo menghangat ke permukaan terkait hadirnya kembali wahana harimau sumatera yang telah selesai direstorasi setelah dua tahun pengerjaan dan dibuka untuk umum. Wahana itu diberi nama Tiger Trek, menghadirkan pengalaman/experience yang luar biasa unik bagi para pengunjung.

Tiger trek tampak depan seperti ini

Tiger trek tampak depan seperti ini

Kita seolah diajak pergi naik pesawat ke Sumatera lalu mendarat di Way Kambas dan menikmati petualangan dengan harimau sumatera.

Awalnya para pengunjung diminta antri menuju ‘kabin pesawat’ yang akan mengantar kita ke Sumatera. Kabinnya benar-benar seperti kabin pesawat, bedanya kita tidak perlu duduk karena penerbangan hanya memakan waktu 10 menit saja.

Ketika jumlah ‘penumpang’ telah cukup, cabin crew segera menutup pintu ‘pesawat’ dan pesawat diberangkatkan. Pemandangan layaknya sebuah penerbangan juga tampak di ‘jendela kabin’ yang tak lain adalah sebuah layar yang berbentuk jendela kabin dan memutar rekaman melewati gugusan awan, gunung Kelimutu di Flores, pegunungan-pegunungan di Jawa lalu mendarat di bandara ‘Way Kambas’ lengkap dengan jajaran pohon kelapa yang tampak nyata!

Pemandangan dari dalam ‘pesawat’. Tampak nyata kan padahal hanya sebuah layar bebentuk jendela pesawat? Kemarin saat kushare di socmed, tak ada kawan yang curiga :)

Selama ‘perjalanan’, melalui rekaman di layar, seorang cabin crew lainnya berparas Indonesia dan bernama Wira Sanjaya yang berbahasa Inggris dengan akses Indonesia, menyampaikan pesan selamat datang. Pesan terakhir yang disampaikan Mas Wira teringat hingga kini, “Selamat datang di Sumatera! Saya sangat bangga kalian datang ke ‘rumah’ saya.” Haru! Mengharukan! Sebagai seorang diaspora Indonesia yang rindu rumah, hal-hal yang mungkin kesannya sepele seperti itu amat menyentuh sisi sensitifku.

Mas Wira, cabin crew berbahasa Inggris dengan logat Indonesia yang kental

Pintu ‘pesawat’ dibuka dan kami sampai di bibir Taman Nasional Way Kambas. Begitu keluar, aroma ‘tropikal’ tak hanya tampak pada pepohonan yang ada di situ tapi juga penataan landscape yang benar-benar dibuat mirip dengan kondisi Tanah Air. Gapura ‘Keluarga Berencana/PKK’, rumah-rumah penduduk ala Indonesia lengkap dengan ‘pengalihan fungsi’ sebagai warung retail, penjual handphone/cellphone, pusat oleh-oleh, gerobak dorong penjual tahu kupat, mie dan bakso, bahkan warung penjual bensin eceran dan tambal ban serta dua sepeda motor butut pun ada terpajang! Amat detail!

Ada yang jualan bensin eceran dan tambal ban :) Ini di Australia!

Ada yang jualan bensin eceran dan tambal ban :) Ini di Australia!

Warung rumahan dan warung henpon. Indonesia sekali kan?

Warung rumahan dan warung henpon. Indonesia sekali kan?

Warung rumahan

Tahu kupat. Anyone?

Taman Nasional Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas

Selamat datang di 'Way Kambas' Australia :)

Selamat datang di ‘Way Kambas’ Australia :)

Gapura KB/PKK. Dua anak cukup :)

Gapura KB/PKK. Dua anak cukup :)

Setelah masuk ke gapura ‘Way Kambas’, kita disuguhkan dengan berbagai macam informasi tentang harimau sumatera dan tantangan pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan populasi harimau yang kini konon tinggal 400 ekor di alam bebas tersebut. Pembabatan hutan liar untuk keperluan industri, pembangunan perumahan yang tak berpola hingga kerusakan lingkungan yang menyebabkan harimau kehilangan tempat tinggal dan makanan pun disorot dengan amat informatif dan seolah disampaikan oleh pegawai Taman Nasional Way Kambas sendiri melalui papan pengumuman!

Perhatikan penggunakan kata 'Pak' :)

Perhatikan penggunakan kata ‘Pak’ :)

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Ilmu per-harimau-an pun dijabarkan dengan menyenangkan

Kita juga bisa melihat fakta-fakta unik tentang harimau sumatera termasuk bagaimana cara membedakan jantan dan betina dari pola tapak kaki, perilaku alamiah harimau bahkan bentuk tinjanya pun dipajang untuk dijadikan tambahan informasi.

Yang tak kalah menariknya adalah bagian ranger station, sebuah gedung semi permanen yang beratapkan seng lalu di ujung gedung terdapat replika kendaraan patroli ‘ranger’ yang langsung berhadapan dengan kandang harimau.

Di mana harimaunya? Di dalam kotak itu sedang tiduran

Di mana harimaunya? Di dalam kotak itu sedang tiduran

Ini mobil patroli. Jika harimau sedang 'in the mood' mereka bisa naik ke depan mobil itu

Ini mobil patroli. Jika harimau sedang ‘in the mood’ mereka bisa naik ke depan mobil itu

Ranger station

Ranger station

Kita boleh naik mobil tersebut dan bila harimau sedang ‘in the mood’, mereka bisa memanjat naik ke atas mobil dan beradu jarak amat dekat dengan pengunjung berbatasan dengan kaca mobil saja.

Sayangnya kemarin harimaunya sedang terlelap tapi justru di sini menariknya. Para pengunjung seolah tak harus menanti harimau berkeliaran untuk merasakan pengalaman hidup di alam tempat mereka berada.

Di ujung wahana terdapat sebuah toko serba ada yang juga amat menarik. Dalam toko itu kita diajak memilih dan berbelanja barang-barang yang secara proses produksi tidak ikut merusak ekosistem alam di Sumatera. Di sana dijelaskan misalnya, barang-barang yang mengandung kelapa sawit adalah barang yang sebisa mungkin tidak perlu kita konsumsi semata karena makin banyak kelapa sawit ditebang untuk produksi, makin besar pula kerusakan hutan alamai di Sumatera yang diganti dengan hutan kelapa sawit untuk kepentingan bisnis belaka tanpa memperhatikan keseimbangan alam tempat hidup harimau sumatera dan satwa lainnya.

Suasana supermarket edukatif

Suasana supermarket edukatif

Contoh makanan yang 'tiger friendly'

Contoh makanan yang ‘tiger friendly’

Edukasi yang 'tiger friendly'

Edukasi yang ‘tiger friendly’

Sepulang dari Taronga Zoo, waktu merambat malam dan kami memutuskan makan ke rumah makan Indonesia, Medan Ciak yang terletak di sisi selatan kota, Surry Hills.

Kerumunan orang mengantri di restaurant Indonesia yang sedang ‘ngehits’ ini. Setelah menunggu sekitar 20 menit kami masuk dan aku memesan nasi padang komplit yang terdiri dari nasi, sayur ketela, rendang, ayam, telur dan sambel hijau.

Nikmat? Jelas! Setelah capek jalan-jalan ke ‘Way Kambas’, makan nasi padang ‘di Padang’ tentu tak hanya mengenyangkan tapi juga menyenangkan.

Nasi padang dan teh kotak. Anyone?

Nasi padang dan teh kotak. Anyone?

Satu jam berselang, kami membayar makanan lalu pulang karena esoknya kami harus kembali bekerja, anak-anak bersekolah.

Keluar dari pintu Medan Ciak, kami seolah telah ‘kembali’ ke Sydney dengan suhu udara di bawah 10 derajat yang mengiggilkan tulang ditingkahi rintik hujan. Usai sudah jalan-jalan kami ‘ke Indonesia’ seharian ini.

Macan ganteng dan... macan ganteng :)))

Macan ganteng dan… macan ganteng :)))

Macan ganteng dan... macan ganteng :)))

Macan ganteng dan… macan ganteng :)))

Kian hari aku, aku kian mensyukuri tinggal di tanah ini. Negara terbuka yang amat menghargai budaya asal warga yang tinggal di dalamnya termasuk Indonesia. Tentang bagaimana negara ini bertetangga dengan Indonesia, itu sudah dari sononya karena secara geografis memang kita bertetangga. Namun perihal bagaimana pemerintah Australia menunjukkan kepedulian yang besar terhadap Indonesia termasuk mengangkat pamor konservasi alam di Sumatera melalui Tiger Trek di Taronga Zoo, hal itu adalah inisiatif yang mengagumkan yang datang dari negara yang mengagumkan dan berbicara tentang Tanah Air yang kepadanya aku tak pernah lepas mengagumi dan membanggainya.

Oh ya, kalian juga bisa menyimak salah satu liputan stasiun televisi lokal Australia tentang peresmian Tiger Trek di bawah ini. Enjoy!!!

https://www.youtube.com/watch?v=oQOonAriOI0

Juga video resmi dari pihak Taronga Zoo:

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Kalau di Indonesia, Way Kambas identik dengan taman nasional tempat gajah. Daerah Lampung Timur itu memang sejak baheula area koloni gajah.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.