Surat untuk Mbak Salma yang menemukan cinta hakiki dari Mas Haqi

24 Mar 2017 | Cetusan

Mbak Salma, apakabar?
Sehat? Jogja gimana, Mbak? Tambah macet apa tambah sumpek?

Tapi semoga, apapun itu, bunga-bunga cinta pernikahanmu dengan Mas Haqi melarutkan kemacetan dan kesumpekan Jogja karena bukankah dalam cinta dan cita itu dunia terasa longgar dan milik berdua?

Nganu Mbak, nyuwun ngapunten kalau surat ini baru terkirim sekarang. Bukan karena ideku ketlingsut, tapi lebih karena aku ini makin tua makin sadar bahwa diri ini bukan seorang sprinter lagi. Aku telah menjelma menjadi seorang slow runner; menanggapi segala sesuatunya dengan pelan tapi seksama, mengharapkan waskita turun kepadaku baru kemudian dituliskan. Itupun kalau perlu, kalau kupandang tak perlu dituangkan ya sudah dibuang saja untuk dijadikan kenangan. Beda dengan media-media online yang belakangan kesannya kemrungsung berlomba-lomba dalam memberitakan dan menanggapi ini-itu tanpa cek dan ricek terlebih dahulu.

Jadi, setelah sekian lama, baru kali ini surat ini kubuat dan kukirimkan.

Mbak, aku dengar banyak yang bersuara miring terhadapmu karena bagaimana kamu mengambil keputusan untuk menerima lamaran Mas Haqi yang berarti meninggalkan Mas yang satunya lagi, yang sudah enam tahun memacarimu, di sudut yang mungkin tak terlalu menyenangkan untuk ditempatinya saat ini.

Tapi ketahuilah, Mbak, aku di sini justru mendukung keputusan yang telah kamu ambil sebagai yang terbaik, tak hanya untuk dirimu sendiri tapi juga untuk Si Mas yang kau tinggalkan itu.

Berkeputusan, menurut iman yang kuanut adalah ciri manusia berakal budi dan merupakan proses akhir dari sebuah diskresi (pembedaan roh). Berkeputusan yang didahului dengan diskresi adalah tanda bahwa kita sejatinya bukan makhluk material tapi juga spritual; memikirkan apa yang tak kasat sambil melibatkan apa yang tampak.

Caramu berkeputusan itu menurutku, dan ini yang terutama, membuatmu memandang cinta lebih dari satu sisi saja dan berterimakasihlah pada Tuhan yang memampukan kita untuk melihat ini semua.

Cinta oleh Tuhan ditunjukkan kepadamu tak hanya sebatas cinta monyet, cinta pacar yang meleleh ketika disantapi bunga, yang legit ketika dipeluk dan dibelai tapi cinta persegi yang berkilau ketika cahaya membentur dinding-dindingnya.

Setidaknya ada tiga sisi cinta yang kulihat dari semua ini, Mbak Salma.

Yang pertama adalah segi cinta yang mewujud dalam pembelajaran yang brilian… meski gemerlapnya menyakitkan.
Aku pernah berada di posisi Mas yang kamu tinggalkan itu kok, Mbak. Rasanya? Sembilu! Pacarku pun dulu kabur dengan orang lain setelah tujuh tahun berpacaran!

Di saat-saat seperti itu aku sadar bahwa ternyata anestesi terampuh untuk melawan rasa sakit itu adalah anestesi yang terbuat dari rasa sakit yang lebih kuat! Dan waktu itu, aku merasakannya, Mbak! Saestu niki! Lapar jadi tak terasa lapar! Kepalan tangan berdarah-darah karena kuadukan ke tembok berkali-kali tak jua memedihkan! Bahkan ketika harus ngglangsar dari pit montor di dekat Kretek Kewek karena saking kalutnya perasaan, rasa sakit tak kudapatkan. Kenapa? Karena anestesi rasa ditinggalkan itu tadi telah membunuh rasa sakit-rasa sakit yang lainnya!

Tapi kalau ditilik kembali ke belakang, aku mensyukuri peristiwa itu karena dari ketidakenakan itu aku disapih, Mbak. Dari ketertinggalan, dari kesuwungan yang tercipta itu aku malah seperti mendapat kesempatan untuk menguras hati, mengoseknya, menyikatnya untuk menjadi hati yang nyaman bagi rumah singgah cinta-cinta yang baru. Aku menjadi kuat dan ketika semua sesah kuletakkan dan bangkit, aku menjadi pria yang lebih tahan uji, dewasa dan berkarakter. Pada saat seperti itu, digilai wanita hanyalah jadi salah satu efek positif saja hehehe…

Jadi, meski Mbak Salma meninggalkan Mas-nya itu, percayalah bahwa suatu saat nanti Si Mas akan mengerti dan mensyukuri cara Mbak meninggalkannya…

Yang kedua, Mbak, adalah cinta yang mewujud dalam keberanian untuk memutuskan.?Setiap manusia harus berpikir dari diri mereka sendiri baru kemudian ke orang lain. Kamu memutuskan untuk menerima lamaran Mas Haqi dan meninggalkan si Mas yang satunya karena kamu tahu betul seperti apa dirimu. Kamu mengenali apa yang kamu butuhkan lebih dari yang kamu inginkan dan atas dasar itu semua kamu lantas memutuskan keputusan yang terbaik.

Akupun dulu juga pernah begitu, Mbak! Meninggalkan seseorang yang mencintaiku untuk kemudian menikah dengan orang yang juga mencintaiku. Waktu itu pandanganku sederhana, siapapun yang kelak menjadi pasanganku, ia berhak untuk mendapatkan cinta yang utuh dari seorang yang menikahinya, dari diriku. Jadi, aku hanya ingin menikahi orang yang mencintai dan kepadanya aku tumpahkan cintaku sepenuhnya, bukan pada orang yang mencintai tapi kepadanya hanya kudereskan cintaku sa’crit-an?banyaknya.

Sisi ketiga dari cinta yang hendak kukatakan adalah yang paling luar biasa, paling berkejora!?Mbak Salma, bukannya kali pertama aku mendengar istilah ‘Cinta bisa karena terbiasa’ tapi pilihanmu untuk mengangkat quote itu di dalam penjelasanmu yang terekspos publik itu mengesimaku!

Cinta bagimu adalah seperti karbohidrat dalam rantai makanan kita. Kamu yang biasa melahap karbohidrat dalam wujud nasi, lalu harus menggantinya menjadi sagu, kamu tak ragu! Kamu yakin akan terbiasa ketika mulai mengkonsumsi sagu karena kamu merasa tak pernah terikat pada nasi, tapi kamu terikat pada ke-hakiki-an nasi yaitu karbohidrat itu sendiri. Dan ketika kita sudah mengenal sesuatu yang hakiki, proses transformasi dari Mas yang satu itu ke Mas Haqi ya tinggal masalah kebiasaan.

Ini adalah tanda bahwa kamu tumbuh dan ditumbuhkan dalam lingkungan keluarga yang penuh cinta, Mbak! Keluarga yang telah melatihmu untuk mencintai dan dicintai sehingga tak peduli seberat apapun nanti, selucu dan seaneh bentuknya kelak cinta adalah tetap sesuatu yang menguatkan meski kadang melenakan.

Jadi, Mbak Salma, sampun mboten ‘sah dipenggalih soal suara-suara miring itu. Anggap saja mereka iri, bukan iri karena Mbak punya suami anak orang berpengaruh, tapi iri karena Mbak diberi ijin Tuhan untuk mengenali cinta lebih dari satu sisi.

Saatnya untuk membangun keluarga yang kamu dambakan, Mbak. Hidup dan hidupilah cinta hingga paripurna!

Sampaikan salamku untuk Mas Haqi, suamimu, meski sayangnya hingga saat ini aku tak punya salam yang bisa kukirimkan untuk?mertuamu…

Kalau main ke Sydney sama Masnya, kabar-kabar nggih nanti kita ngobrol-ngobrol di tepi Darling Harbour yang temaram menyaksikan camar yang bercengkrama…

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.