Surat terbuka untuk Agus yang bukan tetanggaku…

23 Sep 2016 | Cetusan

Hi, Gus!
Sorry kalau aku tak seperti kebanyakan orang-orang di sekitarmu yang memilih memanggilmu “Mas Agus”, aku memanggilmu Agus.

Kenapa? Karena kalau aku memanggilmu demikian, yang kuingat malah ?Mas Agus? tetanggaku di Klaten sana. Ia seorang tukang betul bikin sepatu jebat, sepatu rusak.

Kalau tak salah kita juga seumuran. Kamu kelahiran Agustus 1978 sedangkan aku Desember 1977, tak beda jauh lah. Jadi… gampangnya, Gus, kamu panggil aku DV dan aku menyapamu Agus. Deal?

Oh ya, slamat ya untuk penunjukanmu jadi Calon Gubernur.

I know, di banyak media, orang-orang bilang bahwa bukan Bapak yang memilihmu, tapi partai lain. Dan aku percaya karena Bapak pernah di media bicara bahwa anggota TNI aktif sebaiknya tak usah nyemplung ke dunia politik.

Tapi uniknya, meski memang tak diusung oleh Bapak, tapi partai yang dipimpin bapakmu adalah partai terbesar dalam koalisi yang seolah buru-buru dibentuk sesaat setelah Ahok dan Jarot diumumkan PDI-P, Gus.

Artinya, Bapakmu sebenarnya cukup menggeleng dan mengangkat jari telunjuk seperti yang biasa beliau lakukan saat berpidato di tivi waktu masih aktif di Istana, maka semua pengurus partai dan petinggi partai lain yang malam itu ke Cikeas akan manut dan tunduk.

Tapi entahlah. Mungkin Bapak.. Bapakmu sedang khilaf.

Jadi, sekali lagi selamat, Gus! Enak-tak enak, menang-kalah, anggaplah pengalaman maju ke Pilkada ini sebagai pengalaman tedhak siten (menapak pertama kali) bagimu di dunia politik.

Kan selama ini yang banyak berkoar di media cuman adikmu yang tak pernah menggulungkan lengan kemeja itu hehehe? Jadi, katakanlah kamu belum berhasil nanti, orang sudah mulai semakin mengenalmu.

Pengenalan oleh publik itu amat penting, Gus. Siapa tahu dalam Pemilu 2019 nanti kamu bisa jadi jubir yang handal untuk barangkali Ibu kalau beliau mau maju ke Pilpres RI atau? siapa tahu adikmu? Dunia, atau lebih tepatnya panggung politik kan licin dan tak berprediksi seperti keterpilihanmu yang amat jauh dari perkiraan sebelumnya.

agusKatakanlah juga kamu belum berhasil tahun depan, Gus, kamu tak perlu khawatir untuk tak berpenghasilan apalagi tak berpekerjaan.?Kamu tak perlu kembali ke militer dan sepertinya secara aturan hal itu memang tak mungkin, kan?

Bapak kan mantan presiden, tentu kenalannya banyak. Kalau cuma untuk mencarikan pekerjaan buatmu yang terkenal amat cerdas itu ya gampang. Gampang banget!

Tampangmu juga tampan. Untuk jadi bintang iklan ?Sosis Sonais? atau mendampingi engkong-engkong yang dalam iklan brand-nya kerap bilang ?Cintailah ploduk-ploduk Endonesa!? pasti bisalah! Norman Kamaru aja bisa! Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan dari sisi ini.

Aku justru sebenarnya agak prihatin dengan institusi militer yang kau tinggalkan, Gus.

Kenapa?
Kamu kan disekolahkan tinggi-tinggi dan jauh-jauh oleh mereka. Aku tak tahu siapa yang membiayai, tapi katakanlah institusi tersebut, apakah kamu tak jatuh kasihan pada mereka?

Mungkin mereka sebenarnya sedang menggodokmu untuk jadi panglima tertinggi suatu saat nanti? Kan keren, panglima punya gelar akademik banyak dan mumpuni, ganteng pula, anak mantan presiden pula!

Kalau memang benar sekolahmu itu dibiayai mereka, bukankah uang itu berasal dari pajak yang dibayarkan rakyat yang pernah dipimpin Bapak?

Tentu aku tak bermaksud menyalahkanmu kalau memang benar institusi yang mengongkosi semuanya. Aku hanya menyayangkan sebegitu teganya kamu mundur meski kita tahu hidup ini pilihan.

Apa juga tak ada perjanjian ikatan dinas bagi prajurit yang disekolahkan atau diberi ijin untuk bersekolah meski dengan biaya sendiri, Gus?

Kalau tidak, kok bisa ya? Banyak kawanku yang dikirim dari Indonesia kemari harus balik bukan saja karena ingin balik tapi karena memang mereka terikat dinas hingga tahunan setelah ia lulus.

?Kalau mau keluar harus bayar dan mahal, Mas! Untuk kembaliin ongkos studi selama ini!? begitu kata mereka.

Ah, entahlah, Gus! Di Negeri Utara yang kita cintai, memang ada begitu banyak hal-hal tak terjawab secara acak dan kita tak pernah tahu bagaimana pola pengacakannya sehingga ada masalah yang tampak tak terselesaikan malah selesai dan ada yang tampaknya mudah malah mengambang dan diambangkan.

Siapa tahu kalau kamu nanti jadi Gubernur trus jadi Presiden, kamu bisa mengurai semua itu, Gus, Agus.

Ok, Gus! Segitu dulu ya! Selamat menyiapkan strategi kampanye dan tetek bengeknya, jangan lupa siapkan juga mental ketika kamu tak terpilih atau tak diterima. Kusimak kiprahmu dari jauh, Gus! Semoga apa yang kamu cita-citakan, apa yang bapak, ibu, adik, serta istri dan anak-anak inginkan darimu mendapatkan keberkahan dan keberhasilan.

Mampir-mampirlah main ke Sydney suatu saat kalau tak sibuk nanti. Kutraktir makan atau kita ngupi-ngupi cantik di pinggir Bondi atau Coogee?

Salam dari Sydney,

DV

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Mungkin juga Agus gak begitu kesusahan bayar pinalti mungkin ya kalau memang harus bayar. Tapi memang maneman. Benere kalau niate berkarya buat negara. Yang selama ini dijalani agus juga audah termasuk berkaya buat negara bahkan kelevel bela negara. Tapi mungkin kurang ngehit aja. Jarang nasuk tv.

    Salamin buat agus ya dv

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.