Superblogger ‘kudet’, catatan lima belas tahun ngeblog

14 Feb 2017 | Cetusan

Hari ini, adalah hari dimana tepat lima belas tahun silam, 14 Februari 2002, aku ngeblog untuk pertama kalinya. Mungkin karena itu pula, segelintir orang lantas menyebutku sebagai superblogger Indonesia; saking lamanya, saking tuanya.

Tapi sebagai orang yang mendapatkan predikat demikian, sebenarnya aku malu juga karena meski menyandang super aku bukanlah sesuper yang dibayangkan oleh segelintir tadi.

Aku blogger yang amat kudet, kurang update!
Suatu waktu kawanku mengirim pesan begini, “Mas, udah tahu gosip tentang Si A? Dia kemarin teken kontrak dengan brand, satu tulisan dihargai sekian puluh juta!” Aku hanya menjawab, “Hah! Serius? Duit semua itu? Banyak amat?”

Suatu waktu yang lain, kawan lainnya mengabarkan sas-sus sekaligus minta konfirmasi, “Mas! Beneran ya Si B katanya dipecat karena ketahuan jadi buzzer untuk lawan perusahaan tempatnya bekerja?”?Lagi-lagi aku hanya bisa menjawab, “Oh, kok gitu?”

Mungkin karena jarak domisili yang 5000 kilometer jauhnya dari Nusantara maka aku kudet! Mungkin angin yang seharusnya menyampaikan gosip ke Sydney kehilangan daya lalu gosip pun terhempas di pertengahan Australia sana!

Tapi mungkin juga karena aku tak peduli dengan segala macamnya itu dan memilih fokus untuk menulis, menulis dan menulis.

 

Makin hari aku makin merasa bahwa salah satu takdirku memang jadi seorang penulis amatiran yang menulis laksana orang berak, kapan saja, dimana saja tergantung berapa jumlah cabe yang kumakan, berapa banyak buah busuk yang termakan!

Setelah lima belas tahun, saking kudet-nya lagi, aku juga baru sadar bahwa ada beda antara blog dan blogger seperti halnya ngesek dan tukang seks.

Ngeseks hanya perlu nafsu dan daya, tak butuh yang lainnya pokoknya jleb-jleb-jleb! Ngeblog juga demikian, hanya perlu nafsu dan daya, tak butuh yang lainnya pokoknya blar-blar-blar!

Tapi blogger dan tukang seks tak cukup dengan ‘hanya perlu’ karena keperluannya banyak.

Tukang seks butuh fantasi, butuh make up supaya menarik, butuh ke gym supaya daya tahan ngeseks-nya tinggi dan segala tetek bengeknya.

Begitu juga dengan blogger! Ia butuh fantasi untuk menulis, butuh pesta untuk rekonsiliasi (meski aku tak tahu apa yang perlu direkonsiliasikan karena mana ada perpecahan jadi apa lagi yang dipersatukan…dan memangnya blogger masih ada?), butuh kopdar, butuh makan siang dan ramah-tamah dengan presiden di istana, butuh duit yang bisa didapat dari nge-buzz, mendekat ke satu tokoh politik karena siapa tahu kalau rejeki bisa pula jadi politikus, penulis buku atau jadi tungku untuk memanaskan bara linimasa percakapan sosial media terlepas mana benar-salahnya.

Lalu lantas apa bedanya blogger dengan superblogger? Pada akhirnya selain ke-kudet-an yang kujelaskan di atas, beda jelasnya adalah superblogger memilih untuk tutup, tutup telinga dan tetap menulis, menulis, menulis dan menulis… hingga akhir masa!

Jadi? Selamat ulang tahun ngeblog, DV! Superblogger Indonesia!

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. PROFICIAT!
    ah, aku april nanti baru 12 tahun. Sampai kapanpun tidak bisa kejar kamu.
    Kecuali… kecuali kamu mati duluan dari aku hahhahaa. Kan aku bercita-cita nulis sampai mati :D
    TAPI yah aku sama dengan kamu, aku bukan blogger jika itu ukuran ngeblog, kudu ini itu hehehe.
    Aku pun belum superblogger nih, jadi … apa dong sebutanku? hehehe

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.