Summer in July: Tentang sahabatku dan Merapi, sahabatku yang lainnya

14 Agu 2012 | Australia, Cetusan, Indonesia, Summer in july

Pak Thomas adalah seorang yang kukenal sejak sekitar enam tahun silam.

Ketika itu, kami terhubungkan berkat kerja apik tim marketing perusahaan tempatku bekerja yang melakukan pendekatan dan akhirnya deal dengan pihak museum Ullen Sentalu Kaliurang, musem yang dikelolanya, untuk pembuatan situs webnya.

Waktu itu Ullen Sentalu belumlah setenar sekarang, tapi keindahannya sudah mulai tersiar…

Sebagai atasan, sebut saja demikian, aku lantas memutuskan untuk mengambil alih kelangsungan proyek dari para anak buahku dengan alasan, “Ini klien penting!”

Maka bertemulah aku dengannya.
Menggunakan motor butut, aku ‘naik’ ke Kaliurang bertemu dengannya di selasar restaurant Beukenhof yang masih satu kompleks dengan Ullen Sentalu.

“Pak Thomas begitu lembut dan njawani… mriyayeni.”

Kuingat kesan pertamaku terhadapnya; Pak Thomas begitu lembut dan njawani, kata yang paling tepat sayangnya tak kutemukan dalam bahasa Indonesia, melainkan bahasa Jawa, mriyayeni.

Tutur katanya sopan, ditambah lagi dengan bahasa tubuh serta wawasan yang diutarakannya menunjukkan bahwa ia bukan orang ‘biasa’.

Selanjutnya hubungan kami menjadi lebih akrab terlebih karena proses pembuatan situs web Ullen Sentalu bukan proses yang singkat. Kami, tim produksi, butuh waktu berbulan-bulan untuk mengerjakan konsep, implementasi hingga finalisasi.

Hal ini terjadi karena ada begitu banyak tantangan diberikan Pak Thomas dalam kami membangun situs tersebut. Ia tak ingin sesuatu yang ‘biasa’ dan jatuh dalam pola-pola yang sama dengan situs web kebanyakan.

Tapi toh aku menganggap tantangan itu sebagai sesuatu yang positif; karena kupikir pada nantinya toh ketika ia terpuaskan, credit akan terberikan padaku dan tim.

Mungkin karena kesamaan pandangan untuk tak membuat segala sesuatunya sembarangan itu yang lantas semakin mendekatkan hubunganku dengan Pak Thomas ditambah lagi frekuensi pertemuan yang tinggi.

Kedekatan terus berlanjut meski proyek pengerjaan situs web telah selesai. Bisa dibilang, Pak Thomas juga adalah satu-satunya klien yang kupamiti ketika aku hendak pindah ke Australia; waktu itu bersama calon istriku, kami datang ke museum dan berpamitan.

Empat tahun berlalu.
Sekitar dua bulan sebelum liburan Juli silam, aku mengontak Pak Thomas melalui aplikasi Whatsapp. Di situ kukatakan rencanaku untuk mengunjungi Jogja sekaligus tak lupa hendak sowan ke museum Ullen Sentalu sekadar untuk mengudar rasa.

Dan skali lagi, Tuhan mengijinkan pertemuan itu terjadi.?Pada sebuah selasa sore yang teduh, bersama anak dan istri aku pergi ke kompleks museum Ullen Sentalu.

Waktu telah merangkak ke sekitar dua puluh menit menjelang pukul empat sore.?Matahari yang hangat menembus halaman belakang Ullen Sentalu yang dibiarkan rungkut oleh pohon-pohon besar yang seolah merengkuh siapapun yang ada di bawahnya. Beberapa area juga dibiarkan berlumut, menampakkan keasrian yang terjaga.

Sebagai orang yang bisa dibilang telah ‘puluhan kali’ datang dan masuk museum Ullen Sentalu, sore itu aku tak tertarik untuk mengunjunginya. Aku memilih untuk njujug ke restaurant Beukenhof yang letaknya masih satu kompleks dengan museum Ullen Sentalu namun berada di sisi belakangnya.

Beukenhof masihlah sama seperti dulu, tak kalah uniknya dengan museum.?Aku dulu sempat menyebutnya sebagai restaurant pipih karena bentuknya yang memanjang tapi tak menyisakan lebar yang berlebihan.

Properti yang kebanyakan terbuat dari kayu tampak terjaga seperti dulu.?Kami lantas memilih meja tengah yang menjadi poros; terhubung dengan pintu yang membuat kami begitu mudah melongok taman tengah Ullen Sentalu melalui terasnya.

Siang itu sembari memesan makanan (aku memesan steak, demikian juga istri dan anakku) aku menceritakan bagaimana kesanku pertama kali kepada istriku dulu.

“Ketika datang ke Beukenhof… kamu akan merasa singgah di sebuah restaurant yang berada di antah berantah dengan sajian lezat yang mendukung ?keantahberantahan? itu “

Kukatakan demikian,

Ketika datang ke Beukenhof, letakkanlah otakmu barang sejenak untuk tak mengingat dimana kamu berada. Maka kamu akan merasa singgah di sebuah restaurant yang berada di antah berantah dengan sajian lezat yang mendukung ‘keantahberantahan’ itu sendiri.?Kalian yang pernah ke Eropa, barangkali ketika merasakan semua itu akan merasakan de-ja-vu seolah kamu sedang berada di daratannya.

“Benar tidaknya gimana? Aku sih belum pernah ke Eropa!” tukasku pada istriku.

Ketika pelayan mengantarkan pesanan, aku lantas mengutarakan niatku kepadanya, “Mbak, Pak Thomas-nya ada?”

“Oh, sepertinya ada di belakang. Bapak? Temannya?”

“Bilang saja saya Donny… Donny Verdian dari Australia yang dulu pernah bekerja di Citraweb.”

Tak sampai lima menit kemudian, Pak Thomas menyembul datang dari ruang belakang.

Kehangatannya sebagai seorang kawan menyeruak, belum lagi hilang! Kami pun terlibat dalam percakapan yang hangat dengan sesekali menjadikan Odilia, anakku, sebagai perhatian utama. Aku membahasakan dia kepada anakku sebagai Opa.. Opa Thomas.

“Semua baik, Pak?” tanyaku agak lebih serius.
“Baik, Mas Donny!” Ah, ia tak pernah melepas sandang ‘Mas’ dari namaku, cara bicaranya pun masih dengan membungkuk-bungkukkan punggung, tanda perendahan diri yang tak dibuat-buat karena berlaku tetap sejak dulu.

Lalu setelah hidangan usai, kami duduk di teras.
Aku membiarkan Odilia bermain dengan ibunya, dan aku meluangkan waktu sejenak dengan Pak Thomas.

“Hmmm, waktu Merapi meletus dulu, semua baik kan Pak?”
“Oh… 2010 dulu?”
“Iya… letusan besar itu..”

“Wah, ya gimana ya… pokoknya saya bersyukur saja bahwa kami bisa melewatinya, Mas” Nada bicaranya menjadi pelan, bibirnya menyunggingkan senyum tapi matanya menerawang memandang jendela dan pemandangan hijau yang ada di sekitar.

Ia melanjutkan “Waktu itu kami tutup tiga bulan. Tapi sebelumnya, hingga hari-hari akhir sebelum erupsi kami tetap bertahan. Dan Mas Donny tahu, ketika erupsi terjadi, saya malah sedang ada di China untuk sebuah konferensi.”

Aku hanya termenung membiarkan suasana mengalir sembari membayangkan suasana yang mencekam dua tahun silam itu.

“Yang saya ingat pada hari terakhir kami buka sebelum erupsi, langit ini sudah gelap. Gemuruh dan kilat campur aduk.”

“Hmmm..”

Aku dan Pak Thomas

“Lalu sekitar setengah bulan setelah erupsi, ketika kami naik kembali ke atas, bangunan museum dan semua ini praktis tertutup abu. Ada yang sampai 25 senti tebalnya!” Tuturnya sembari menggambarkan ketebalan abu menggunakan kedua telapak tangannya.

Aku tetap mendengarkannya. Secangkir teh panas manis kuseruput…

“Tapi justru dari situ kami belajar, Mas…”
“Oh… belajar?”

?Kami belajar untuk hidup bersama Merapi.?

“Kami belajar untuk hidup bersama Merapi.”
“Kami memilih untuk bersahabat dengan Merapi dan menganggap erupsi atau apapun aktivitasnya sebagai sesuatu yang harus dihormati karena itu pilihan dan titi wanci nya. Ya, semacam Mas Donny dulu yang memutuskan pindah ke Australia lah hehehe…”

Aku hanya tersenyum.
“Dan sebagai seorang sahabat, kami ingin mengenal perilaku Merapi, lebih jauh lagi.”

“Jadi, misalnya Merapi memang perlu ‘berbenah’ seperti dua tahun lalu, kami belajar untuk tanggap terhadap tanda-tandanya, tidak mengeluh dan justru mempersilakannya untuk melakukannya hingga tuntas tanpa kami ganggu dan kami juga yakin tak kan terganggu karena kami mengerti…”

Aku hanya bisa merenungkan kata-kata itu.
Aku percaya, Pak Thomas bukan orang pertama yang mengemukakan konsep tersebut. Bagi sebagian besar warga Jogja, mereka tak pernah komplain dengan ‘kesibukan’ Merapi yang memang adalah salah satu gunung vulkanik teraktif di dunia itu.

Tapi melalui Pak Thomas aku terbukakan bahwa sejatinya memang demikian, Merapi sebagaimana halnya komponen alam lainnya, bukanlah hal yang perlu ditakuti meski jangan pula disepelekan. Ia adalah sahabat, sahabat manusia yang juga adalah penikmat alam.

“Coba dipikirkan, Mas…” ungkapnya memecah permenunganku.
“Nggih, Pak Thomas?”

“Njenengan kemarin-kemarin lewat jalan Jogja – Solo tho?”
“Nggih..”

“Macet tho?”
“Wah… jangan tanya, Pak!”

“Tau penyebab macetnya?”
“Hmm..”

“Truk pasir!”
“Hehehe, iya.. leres, Pak!”

“Nah, bayangkan! Dulu mereka, para pengusaha pasir itu banyak memaksakan truk-truknya untuk terus mengeruk pasir padahal keadaan Merapi sudah ‘siaga’ siap njeblug. Itu kan murka manusia!”

“Padahal, kalau mereka mau sabar tentu mereka tak perlu celaka!”
Nada suara Pak Thomas meninggi. Aku bisa merasakan ada gereget yang kuat mengingat kemurkaan manusia itu.

“Justru sekarang coba lihat, ada ratusan juta kubik pasir Merapi yang bisa dimanfaatkan secara cuma-cuma… yang ambil? Ya para pengusaha pasir itu!”

Merapi itu tak pernah melakukan sesuatu tanpa maksud yang baik bagi yang tinggal di lerengnya…

“Hmmm..”
“Nah, dari itu semualah kami belajar, Mas… Merapi itu tak pernah melakukan sesuatu tanpa maksud yang baik bagi yang tinggal di lerengnya, Jogja, Klaten, Magelang, Muntilan hingga di Solo sana.”

Dan aku terjebak dalam permenungan lagi.
Apa yang dikatakan Pak Thomas memang benar. Dalam konsep yang lebih luas lagi, alam yang diatur oleh Penciptanya adalah komponen yang bergerak dinamis untuk satu tujuan yang kita percaya untuk kebaikan alam semesta termasuk manusia itu sendiri.

“Jadi hal itu yang membuat Pak Thomas tak takut melanjutkan usahanya meski di Kaliurang sini ya Pak?”

Ia hanya tersenyum sambil menggeleng. Tangannya menggamit tangan Odilia yang sibuk bermain di sebelahnya bersama istriku.

Aku merasa begitu tertampar dengan ketenangan manusia yang satu ini. Daripadanya siang itu aku belajar banyak hal yang jika disatukan bermuara pada kesimpulan bahwa kuasa Tuhan terlalu sempit untuk sekadar diterjemahkan sebagai berkat dan murka.

Ia berjalan dalam range yang tak terkatakan oleh apapun. Agama hanyalah tuntunan. Dalam beberapa segi yang kutangkap, bahkan alam adalah pihak yang lebih tampak nyata ketimbang agama untuk melukiskan sebesar apa kuasaNya.

Tak terasa matahari semakin condong ke barat. Sinarnya tak sampai lagi ke permukaan, ia hanya tinggal di ujung-ujung genting museum yang menjingga.

Saatnya untuk berpisah. Kami lalu berpamitan. Untaian doa terucap dalam salam yang dibalut dengan jabat tangan yang erat nan tak sebentar.

“Sampai ketemu lagi, Pak Thomas.. Sehat-sehat ya!” Aku lantas memunggunginya, meninggalkannya.

Setelah berpamitan, mobil mengantarkanku keluar kompleks Ullen Sentalu.?Aku mencari-cari sosok Merapi yang tadi seolah tuntas terceritakan di belakang Bukit Turgo yang mengungkungi Kaliurang. Sayang, kabut yang tebal menyembunyikan parasnya.

Sore itu, batinku terpuaskan. Selain bertemu sahabat lamaku, Pak Thomas, aku diperkenalkannya pula pada sahabatnya yang sore itu tampak jadi pemalu, Merapi.

How great Thou art! – Carl Gustav Boberg

Sebarluaskan!

12 Komentar

  1. kapan kapan ke Sentalu ah, belon pernah hihihi

    Balas
  2. aku dah pernah ke ulen sentalu pak.
    sekalian goa jepangnya. keren emang.

    salam.

    Balas
  3. wah penuturan yang sangat mengalir hehehe fotomu kui ngganggu konsentrasi mergo koe nggo celono pendek ketok tatomu hahahahaha

    Balas
    • Tatto sing pinggir sing ketok. Sing tengah? Hahhaha..

      Balas
  4. dari dulu, yang saya baca tentang merapi, selalunya seperti yang disampaikan Pak Thomas.
    lain sendiri dengan yang dituturkan oleh orang lain tentang gunung lainnya.
    dan sayapun bisa setuju dan memahami tentang kelakuan Merapi yang genit itu :)

    Balas
  5. Aku pernah ke Ulen Sentalu sekali…
    daann… pengen ke sana lagi. karena waktu itu “menggiring” murid-murid yang nyuri-nyri kesempatan untuk ngumpet pacaran, ku jadi kurang bisa menikmati museumnya..

    Satu lagi, wajah Pak Thomas kok sangat familiar ya…

    Balas
    • Mirip Butet ya?

      Balas
  6. ..
    ke museum ulating blencong sejatine tataraning lumaku.. saya sangat sering Mas, nganter tamu dan selalu saya rekomen ke semua tamu guest house.. ^^
    ..
    murka dengan murko sama ya Mas..?
    ..

    Balas
  7. betul kita memang harus hidup berdampingan dengan alam… setuju banget tuh… wah temannya senior banyak yang bisa dipelajarinya,…

    Balas
  8. aku baru sekali ke museum ulen sentalu. menurutku itu museum terbaik di indonesia yg pernah kukunjungi. dan kesanku, penggagas serta pemilik museum itu benar-benar orang kaya yang punya cita rasa. kesan jawa-nya kuat. dan anggun. mungkin museum itu juga bisa dibilang “mriyayeni” :) mestinya orang-orang berduit itu mbok ya bikin museum, minimal kaya ulen sentalu gitu. jadi orang-orang indonesia itu biar lebih punya cita rasa, punya selera tinggi.

    Balas
  9. Mau, ah, ke museum itu. Baik bisa ketemu atau tidak dengan pemiliknya, Pak Thomas. ;)

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

    Balas
  10. wah blm pernah ke ulen sentalu :(

    Menegaskan sekali lagi pemahaman masyarakat sekitar merapi, bersahabat dengan “ulating” merapi, dan mereguk berkah darinya

    salam,

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.