Summer in July: Kuliner lama, kuliner baru

15 Agu 2012 | Australia, Cetusan, Indonesia, Summer in july

Yang kuingat dari liburan pertamaku ke Indonesia, Desember 2010, sejak kepindahanku ke Australia empat tahun silam adalah; beberapa kawan lamaku yang tinggal di Jogja justru mengajakku makan ke restaurant yang menjual makanan internasional.

Mereka seolah berlomba-lomba menunjukkan makanan termutakhir yang dijual di Jogja. Ada pizza, burger, spaghetti hingga risotto. Dari steak, sushi hingga ramen.

Masuk akal sih kenapa mereka berbuat seperti itu karena aku kan wong ndesa yang asli Klaten jadi mungkin dirasa perlu olehnya untuk mengajakku makan ke tempat-tempat demikian semacam pemutakhiran diriku.

Tapi meski ndesa aku kan , sayangnya, sudah ng-internasional! Lha tinggal di Sydney jhe! Tempat berkumpulnya makanan-makanan internasional yang kusebutkan di atas dan dimasak oleh chef-chef terbaik dunia!

Barangkali bagi mereka, simbol-simbol kemajuan jaman itu dianggap sebagai yang paling superior ketimbang yang tradisional.

Hehehe, kesannya sombong sekali ya pernyataanku barusan?
Tak mengapa kalau kalian menganggap demikian, tapi semoga setelah membaca beberapa paragraf di bawah, pikiran kalian tercerahkan siapa yang lebih sombong sebenarnya.

Menurutku yang sombong itu justru mereka, kawan-kawanku yang menunjukkan makanan-makanan internasional tadi kepadaku.

Kenapa?
Mereka sombong karena justru mereka sebenarnya ingin menunjukkan bahwa mereka sanggup membeli sesuatu yang menjadi ‘trend’ dan seolah-olah memantati (maaf kuistilahkan demikian) makanan-makanan tradisional yang telah lebih dulu ada dan lebih ‘asli’ ketimbang rentetan makanan di atas.

Barangkali bagi mereka, simbol-simbol kemajuan jaman itu dianggap sebagai yang paling superior ketimbang yang tradisional.

Tak percaya?
Ceritanya setelah aku dipaksa menikmati pizza yang menurutku rasanya tak keruan itu, malam berikutnya aku mengajak mereka gantian untuk makan di Ayam Goreng Suharti.

Ketika aku mengutaraka hal itu, tau kalian apa komentarnya?
“Hah?! Suharti? Males ah, ndeso.. nggak sip!”

Nah, sekarang siapa yang lebih sombong? Aku atau mereka? Siapa yang lebih ‘tradisional’, aku atau mereka?

Temans,
Setiap aku berlibur khususnya ke Indonesia, seperti bulan Juli silam misalnya, aku mengharapkan sesuatu yang bisa kudapatkan dan tak pernah kutemui di Sydney.

Karena kita bicara soal makanan, maka yang kucari di Indonesia adalah makanan-makanan khas Indonesia yang dimasak orang-orangnya, bukannya mencari masakan-masakan internasional yang dimasak orang-orang Indonesia dengan bumbu-bumbu hasil bumi Indonesia pula!

Jadi, jangan salah kalau aku lebih mengapresiasi ajakan makan di angkringan dengan lampu senthir (minyak) yang kalau ketiup angin bisa mati api itu ketimbang makan di gerai masakan Jepang yang rasanya malah membikin bingung perut, ini masakan Jepang atau apa ya?

Tapi sayangnya keinginanku untuk lebih mengapresiasi masakan tradisional ini tak disambut dengan baik oleh beberapa pihak, termasuk teman-temanku di atas dan banyak yang satu ragam dengan mereka.

Orang-orang itu tampaknya lebih senang untuk datang ke restaurant-restaurant berlabel internasional! Hal ini seolah ‘diperburuk’ dengan adanya banyak rumah makan-rumah makan yang menjual masakan internasional itu tadi.

Namun, betapa untungnya aku.
Di tengah gencarnya restaurant-restaurant internasional seperti itu, Juli kemarin aku toh menemukan sebuah rumah makan baru yang mengusung tema ‘masakan rumahan’ yang sebenarnya sudah cukup lama kukenal lewat Twitter yang gencar diiklankan oleh pemiliknya, Butet Kartaredjasa.

Tepat kata kalian, Rumah Makan ‘masakan rumahan’ Bu Ageng lah namanya!

Rumah makan yang letaknya di jalan Tirtodipuran itu menjadi semacam oase bagiku selama liburan kemarin.

Sesuai tema, ‘masakan rumahan’, bahkan sejak masuk ke dalam areal rumah makannya, feel ‘rumahan’ begitu terasa melalui tatanan kursi-kursi sederhana, konsep open air dengan meniadakan eternit dan menyisakan atap genteng saja, pilar-pilar yang kokoh serta sebuah dinding berhiaskan foto yang ketika kudekati ternyata adalah memorabilia, semacam kumpulan foto-foto tokoh Yogyakarta yang telah berpulang ke keabadian.

kami lebih rindu simbok-simbok bertanya dengan polosnya,”Nganggo endok opo nggo suwir, Le?”

Makanannya?
Hohoho, jangan tanya! Dari namanya pun sudah bikin ngiler.
Ada nasi campur baceman paru, kambing, sayur lodeh, sambal jambal ikan asin, dan tak lupa yang menjadi favoritku adalah lele njingkrung!

Yang kusebut terakhir ini menarik karena lele yang disajikan benar-benar dalam keadaan njingkrung alias mlungker.

Selain rumah makan Bu Ageng, yang juga sempat kukunjungi adalah SGPC Bu Wiryo di Selokan Mataram, Ayam Goreng Suharti, sate klathak, Mie mBah Mo, Soto Soleh dan tak ketinggalan sajian masakan berbahan baku babi, Rumah Makan Tapian Nauli milik alm. Bang Ucok, dan nasi goreng babi Pasar Beringharjo.

Beberapa yang lain memang tak sempat kukunjungi karena keterbatasan waktu.

Jadi, teman-teman… lain waktu, ketika ada kesempatan untuk kembali berlibur ke Jogja, meski ada rumah makan internasional sebagus dan semahal apapun, janganlah ajak kami ke sana.

Kami sudah cukup bosan dengan sofa dan sajian musik jazz cozy yang terkesan mahal itu. Tak pula dengan espresso coffee maupun piranti makan yang pisau dengan garpu.

Kami justru rindu bising deru motor yang melaju tak jauh dari meja tempat kami makan di pinggir jalan yang dilewatinya. Menikmati makanan dengan sendok dan tangan di atas daun pisang. Kami rindu suara fales pengamen jalanan yang khas Jogja itu! Kami rindu makan makanan yang disajikan oleh tangan-tangan penjual yang semenit sebelumnya baru saja digunakan digunakan untuk menghitung uang dalam kotak dan mengambilnya untuk kembalian orang yang makan sebelum kami.

Kami bosan dengan sapaan sopan para penerima tamu semacam, “Selamat malam, Kakak! Mau dicoba makanan khas Italinya?! Kami punya bolonesse dan pizza!” Ah, persetan.. karena kami lebih rindu simbok-simbok bertanya dengan polosnya,“Nganggo endok opo nggo suwir, Le?”

Lele njingkrung dan sajian nasi campur baceman kambing

Sungguh, meski ini subyektif, kami rindu Jogja yang lebih istimewa tak hanya dari perspektif politik dan tata negaranya saja tapi juga seisinya termasuk makanannya.

Sebarluaskan!

13 Komentar

  1. Ya udah mas.. kalau ke pontianak nanti aku ajakin makan bubur pedas, sama peceri nenas deh.. mantap pasti rasanya ;)

    Balas
  2. ya manusiawi sih mas sebenarnya, yang di dalam negeri merasa ‘keren’ kalau makan makanan dari luar, yg kelamaan di luar negeri dan sudah gerah dengan masakan luar, kalau pulkam nyarinya yang ndeso-ndeso karena di luar ndak ada yang jual, hihihi… tapi memang menjengkelkan kalau niat kita terpaksa di’rusak’ oleh sekeliling kita yang malah demen yang berbau internasional di saat kita rindu yang lokal :-) lain kali kalau mo kopdaran, kudu ditentukan dulu lokasinya harus di local resto or no kopdar at all, haha

    Balas
  3. aku juga kangen kuliner Indonesia :(
    klayapan ke manca justru membuat aku makin cinta (kuliner) Indonesia dan Jogjakarta pastinya !
    Bahan boleh sama, tapi cara olahan yg membuatnya beda dan pastinya cita rasa yg membuatnya jauh berbeda.

    Balas
  4. tenang, mas. mas kalau ke medan, mention aku, aku kasih tau makanan “kampung” apa yang kudu harus mas coba

    Balas
  5. ya …mustinya pada nyadar dong ya..yang dikangeni orang yang sudah lama merantau ya justru masakan asli setempat lah…
    sama sepertiku yang dicari kalau pulang ke Medan pastilah mi rebus keling

    Balas
  6. ya lain kali kasih tahu diriku di jakarta.. nanti tak ajak makan makan emper mas don.. kasih tahu saja ya… kuliner bersama diriku deh….

    Balas
  7. Terima kasih untuk responnya. jangan kapok memangsa di warung Bu Ageng. Syalom

    Balas
  8. Aku seringkali heran, meskipun jajanan kampung yg menurut standar kesehatan kurang higienis penyajiannya toh tetap saja enak dan ngangeni.

    Gak peduli berapa kali dia mengambil uang kembalian dari dalam kotak, lalu mengusapkan ke jariknya sebelum nyomot sayuran rebus (pecel) atau mengurangi porsi nasi langsung dari tangannya..toh tetep saja tidak menimbulkan rasa jijik yg berlebihan.

    Whuaa…tulisanmu ini membuatku makin kangen kampung.

    Balas
  9. menurutku masakan indonesia itu tetep juara! memang sesekali aku juga makan masakan yg nginternasional. tapi menurutku, masakan indonesia itu ngangeni. di jakarta ini banyak yg jual makanan internasional, tapi akhirnya aku mesti mengakui bahwa masakan indonesia tidak kalah enaknya. di jakarta aku kalau suruh milih pizza hut atau masakan manado, jelas aku pilih masakan manado, dong! hehe. mi aceh juga enak. cuma di sini susah cari mi jawa yg enak. dan itu yg membuatku merindukan jogja. apalagi jajan pasar di kranggan. *to, jadi pengen mulih jogja meneh, ki*

    Balas
  10. Terima kasih infonya. Saya akan kalap dan mengamuk di tempat2 makan yang disebutkan di atas bila ada kesempatan ke Jogja lagi. ;)

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

    Balas
  11. Rumah Makan Bu Ageng… I’ll come!!

    sayang, info dr @masbutet pagi ini, rumah makannya masih tutup, mulai buka besok (21/8/12) jam 11.00 – 23.00

    *lho kok jd malah promosi*

    bsk ke sana ah…

    Salam,

    Balas
  12. Hahah….
    Mirip dengan seorang temanku yang mukanya ndeso banget, tapi sok banget kalau sudah pernah makan di restoran internasional. Kalau aku makan Di tempat2 begitu, katanya awas mules padahal aku sudah biasa makan yg katanya “mahal” itu, tp gak norak kayak orang baru kenal makanan internasional.
    Aku apa adanya Don, kalau lagi pengen nyobain makanan luar ya ayo, tp gak mau sering2 karena pasti muak. Beda dgn makanan asli, ya gak kan bosan2…. Untuk apa sok2an makan makanan luar terus, tinggal di Indonesia ajapun…. :p

    Balas
  13. Seleraku ki masakan Indonesia, yang ngeropah gak suka, bagiku rasane cemplang dan kurang nendang. Kalau dapat yang enak pun, entah ya, kok nggak berselera untuk nambah lagi. Lha, nek pecel peyek teri, rasane pengen nambah terus.. hihihi…

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.