Yang kuingat dari liburan pertamaku ke Indonesia, Desember 2010, sejak kepindahanku ke Australia empat tahun silam adalah; beberapa kawan lamaku yang tinggal di Jogja justru mengajakku makan ke restaurant yang menjual makanan internasional.
Mereka seolah berlomba-lomba menunjukkan makanan termutakhir yang dijual di Jogja. Ada pizza, burger, spaghetti hingga risotto. Dari steak, sushi hingga ramen.
Masuk akal sih kenapa mereka berbuat seperti itu karena aku kan wong ndesa yang asli Klaten jadi mungkin dirasa perlu olehnya untuk mengajakku makan ke tempat-tempat demikian semacam pemutakhiran diriku.
Tapi meski ndesa aku kan , sayangnya, sudah ng-internasional! Lha tinggal di Sydney jhe! Tempat berkumpulnya makanan-makanan internasional yang kusebutkan di atas dan dimasak oleh chef-chef terbaik dunia!
Barangkali bagi mereka, simbol-simbol kemajuan jaman itu dianggap sebagai yang paling superior ketimbang yang tradisional.
Hehehe, kesannya sombong sekali ya pernyataanku barusan?
Tak mengapa kalau kalian menganggap demikian, tapi semoga setelah membaca beberapa paragraf di bawah, pikiran kalian tercerahkan siapa yang lebih sombong sebenarnya.
Menurutku yang sombong itu justru mereka, kawan-kawanku yang menunjukkan makanan-makanan internasional tadi kepadaku.
Kenapa?
Mereka sombong karena justru mereka sebenarnya ingin menunjukkan bahwa mereka sanggup membeli sesuatu yang menjadi ‘trend’ dan seolah-olah memantati (maaf kuistilahkan demikian) makanan-makanan tradisional yang telah lebih dulu ada dan lebih ‘asli’ ketimbang rentetan makanan di atas.
Barangkali bagi mereka, simbol-simbol kemajuan jaman itu dianggap sebagai yang paling superior ketimbang yang tradisional.
Tak percaya?
Ceritanya setelah aku dipaksa menikmati pizza yang menurutku rasanya tak keruan itu, malam berikutnya aku mengajak mereka gantian untuk makan di Ayam Goreng Suharti.
Ketika aku mengutaraka hal itu, tau kalian apa komentarnya?
“Hah?! Suharti? Males ah, ndeso.. nggak sip!”
Nah, sekarang siapa yang lebih sombong? Aku atau mereka? Siapa yang lebih ‘tradisional’, aku atau mereka?
Temans,
Setiap aku berlibur khususnya ke Indonesia, seperti bulan Juli silam misalnya, aku mengharapkan sesuatu yang bisa kudapatkan dan tak pernah kutemui di Sydney.
Karena kita bicara soal makanan, maka yang kucari di Indonesia adalah makanan-makanan khas Indonesia yang dimasak orang-orangnya, bukannya mencari masakan-masakan internasional yang dimasak orang-orang Indonesia dengan bumbu-bumbu hasil bumi Indonesia pula!
Jadi, jangan salah kalau aku lebih mengapresiasi ajakan makan di angkringan dengan lampu senthir (minyak) yang kalau ketiup angin bisa mati api itu ketimbang makan di gerai masakan Jepang yang rasanya malah membikin bingung perut, ini masakan Jepang atau apa ya?
Tapi sayangnya keinginanku untuk lebih mengapresiasi masakan tradisional ini tak disambut dengan baik oleh beberapa pihak, termasuk teman-temanku di atas dan banyak yang satu ragam dengan mereka.
Orang-orang itu tampaknya lebih senang untuk datang ke restaurant-restaurant berlabel internasional! Hal ini seolah ‘diperburuk’ dengan adanya banyak rumah makan-rumah makan yang menjual masakan internasional itu tadi.
Namun, betapa untungnya aku.
Di tengah gencarnya restaurant-restaurant internasional seperti itu, Juli kemarin aku toh menemukan sebuah rumah makan baru yang mengusung tema ‘masakan rumahan’ yang sebenarnya sudah cukup lama kukenal lewat Twitter yang gencar diiklankan oleh pemiliknya, Butet Kartaredjasa.
Tepat kata kalian, Rumah Makan ‘masakan rumahan’ Bu Ageng lah namanya!
Rumah makan yang letaknya di jalan Tirtodipuran itu menjadi semacam oase bagiku selama liburan kemarin.
Sesuai tema, ‘masakan rumahan’, bahkan sejak masuk ke dalam areal rumah makannya, feel ‘rumahan’ begitu terasa melalui tatanan kursi-kursi sederhana, konsep open air dengan meniadakan eternit dan menyisakan atap genteng saja, pilar-pilar yang kokoh serta sebuah dinding berhiaskan foto yang ketika kudekati ternyata adalah memorabilia, semacam kumpulan foto-foto tokoh Yogyakarta yang telah berpulang ke keabadian.
kami lebih rindu simbok-simbok bertanya dengan polosnya,”Nganggo endok opo nggo suwir, Le?”
Makanannya?
Hohoho, jangan tanya! Dari namanya pun sudah bikin ngiler.
Ada nasi campur baceman paru, kambing, sayur lodeh, sambal jambal ikan asin, dan tak lupa yang menjadi favoritku adalah lele njingkrung!
Yang kusebut terakhir ini menarik karena lele yang disajikan benar-benar dalam keadaan njingkrung alias mlungker.
Selain rumah makan Bu Ageng, yang juga sempat kukunjungi adalah SGPC Bu Wiryo di Selokan Mataram, Ayam Goreng Suharti, sate klathak, Mie mBah Mo, Soto Soleh dan tak ketinggalan sajian masakan berbahan baku babi, Rumah Makan Tapian Nauli milik alm. Bang Ucok, dan nasi goreng babi Pasar Beringharjo.
Beberapa yang lain memang tak sempat kukunjungi karena keterbatasan waktu.
Jadi, teman-teman… lain waktu, ketika ada kesempatan untuk kembali berlibur ke Jogja, meski ada rumah makan internasional sebagus dan semahal apapun, janganlah ajak kami ke sana.
Kami sudah cukup bosan dengan sofa dan sajian musik jazz cozy yang terkesan mahal itu. Tak pula dengan espresso coffee maupun piranti makan yang pisau dengan garpu.
Kami justru rindu bising deru motor yang melaju tak jauh dari meja tempat kami makan di pinggir jalan yang dilewatinya. Menikmati makanan dengan sendok dan tangan di atas daun pisang. Kami rindu suara fales pengamen jalanan yang khas Jogja itu! Kami rindu makan makanan yang disajikan oleh tangan-tangan penjual yang semenit sebelumnya baru saja digunakan digunakan untuk menghitung uang dalam kotak dan mengambilnya untuk kembalian orang yang makan sebelum kami.
Kami bosan dengan sapaan sopan para penerima tamu semacam, “Selamat malam, Kakak! Mau dicoba makanan khas Italinya?! Kami punya bolonesse dan pizza!” Ah, persetan.. karena kami lebih rindu simbok-simbok bertanya dengan polosnya,“Nganggo endok opo nggo suwir, Le?”

Sungguh, meski ini subyektif, kami rindu Jogja yang lebih istimewa tak hanya dari perspektif politik dan tata negaranya saja tapi juga seisinya termasuk makanannya.

Tinggalkan Balasan