Suka-duka jadi konsultan IT di Australia (1)

22 Feb 2017 | Australia

Sejak mulai berkarir di bidang IT, 1999 silam, beberapa kali aku pernah menempati posisi berbeda.

Bermula dari penjaga warnet, lalu web designer. Setelah membangun perusahaan tahun 2000, posisiku jadi web development manager. Web content manager juga pernah kuemban saat mengelola Gudeg.Net hingga akhirnya pindah ke Australia tahun 2008.

Di Australia aku mulai berkarir sebagai web developer (front to back end/full stack) lalu fokus ke front end side pernah pula menjadi Head of Digital (acting) dan sejak Mei 2016, aku banting stir ke dunia konsultasi.

Ya, di perusahaan jasa konsultasi IT milik perusahaan telekom no 1 di Australia ini, posisiku adalah UX/UI Lead Consultant.

Apa pula itu?
UX/UI adalah singkatan dari User Experience/User Interface, sebuah anak cabang IT yang belum lama terdefinisikan bidangnya. Tapi aku belum hendak mengulas tentang hal tersebut karena aku lebih ingin fokus ke suka dan duka bekerja menjadi Lead Consultant.

Tulisan ini akan bersambung ke dalam beberapa tulisan lainnya mendatang, tapi baiklah kumulai dengan ‘duka’ nya menjadi seorang Lead Consultant.

Simak berikut ini…

Nggak punya personal spot di kantor

Bekerja sebagai konsultan, kebanyakan waktu kuhabiskan dengan bekerja di kantor client. Dengan lama engagement per proyek yang sekitar 2 sprints (4 minggu) aku praktis tak punya personal spot di kantor tersebut.

Maksudnya? Aku tak punya kursi dan meja tetap dimana biasanya banyak digunakan pegawai untuk menyimpan barang-barang personal mulai dari alat makan (cutlery), alat olahraga hingga foto istri dan anak-anak yang biasa dipajang di dinding cubical.

Travelling, berpindah-pindah

Sebagian orang bermimpi enaknya bekerja travelling dan berpindah-pindah. Percayalah, aku dulu juga demikian! Tapi setelah mencoba, kini aku mulai punya impian untuk bekerja di satu kantor, tak berpindah-pindah. Mau gimana lagi, namanya manusia, kan? Maunya enaknya aja hahaha!

Ketidaknyamanan bekerja berpindah-pindah itu tak datang dari lelah fisik sebenarnya, lebih banyak lelah pikiran. Ada beberapa waktu dimana dalam seminggu aku mengerjakan dua proyek sekaligus bahkan saat tulisan ini kurawi aku ada dalam komitmen dua proyek dengan pembelahan waktu yang amat tidak menyenangkan karena dari senin – rabu siang aku bekerja di proyek A, lalu rabu sore hingga kamis siang aku ke proyek B, kamis sore hingga jumat aku kembali ke proyek A!

Ketidaknyamanan lain muncul ketika misalnya kita sudah merasa nyaman dengan klien yang lovely dan kawan kerja yang amat supportive lalu tiba-tiba engagement berakhir dan kita harus lompat ke proyek lainnya. Ada banyak ketakutan jangan-jangan klien tak akan se-lovely yang sekarang dan kawan kerja juga gak akan se-supportive sekarang!

Pakaian rapi

Ada yang bertanya kenapa aku sekarang lebih banyak berpakaian rapi-jali? Pake kemeja dan celana non-jeans lalu kadang pakai jas padahal sebelumnya aku selalu tampil casual ketika pergi ke kantor hanya dengan mengenakan kaos polos warna hitam, celana jeans skinny plus sneakers?

Ada tuntutan dari perusahaan untuk tampil rapi jali dan itu tertuang di dalam kontrak kerjaku dulu.

Hal ini membuat aku harus selalu siap dengan pakaian halus ter-setrika (simak tulisanku tentang hal ini di sini) dan selalu membawa deodorant serta permen karet di tas. Kenapa? Supaya klien tak ragu mendekat hanya karena kita bau keringat atau bau mulut sisa makan bawang semalam!

Nah, itulah beberapa hal yang menurutku tak terlalu menyenangkan selama menjadi konsultan. Di tulisan berikutnya aku akan bercerita tentang solusi dari hal-hal tersebut di atas.

Stay tune!

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Don, berpakaian rapi merupakan dukamu soale koe lulusan JB. Jd sdh terbiasa ga berpakaian rapi :)
    Bbrp orang mungkin sebaliknya. Mrk lebih nyaman dan lebih percaya diri kalau berpakaian rapi….hehehe

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.