
Menurutmu, apa yang kau rasai dari Natal ?
Saat yang spesial? Hmmm, sespesial apa?
Saat yang membahagiakan? Sebahagia hari yang lain?
Saat yang mengharukan? Eh, kenapa pula sampai berderai-derai menangis di pojokan gereja seperti itu?
Biasa aja lageeeee!
Bagiku Natal adalah peringatan, sama halnya dengan ketika aku berulangtahun seperti yang sudah-sudah, tak lebih.
Peringatan akan Yesus?
Ya nggak salah tapi … please deh kalau itu sih orok juga tahu!
Kenapa nggak pernah mencoba berpikir untuk meng-update dan mengaktualisasikan makna Natal lebih dari sekedar mendengarkan drama Natal, menangis tersedu-sedu melihat perjuangan Maria dan Yosef di atas keledai yang terlunta-lunta mencari penginapan karena penindasan Romawi ?
Natal bagiku adalah peringatan akan sosok yang megahnya, agungnya dan besarnya tak tertandingi matahari tapi berani melakukan hal-hal yang kecilnya mengalahkan blobok a.k.a taimata yang selalu mengkristal di sudut mataku.
Lalu nuraniku yang berasal dariNya akan mengetuk pintu hati dan bertanya “Agungmu tak seagungNya lantas kenapa kamu mesti milih-milih untuk melakukan segala sesuatu dari besar kecilnya?”
Itu saja!
Selebihnya adalah keriaan dunia, pesta yang seakan-akan semuanya disandarkan pada penyambutan kelahiranNya.
Seolah-olah Maria tak jadi melahirkan Yesus andai saja tak ada sinterklas, pohon Natal dan putihnya salju?
Ah, itu kan hanya pandai-pandainya kapitalis saja menyulap makna.
Seperti biasa!
So, dari sisi selatan benua yang berada di selatan Indonesia, Aku dan Joyce, istriku, mengucapkan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru kepada kalian semua tanpa terkecuali!
Semoga mbokde-mbokde pengangkut beras di pasar, pakde-pakde pengayuh becak di malioboro, para birokrat di meja diskusi, para lonte yang sedang mencukur bulu-bulu dan menyiapkan gincu di Sarkem dan sekitarnya hingga para CEO di bawah tahta emas yang mereka kenakan di kepala dan semuanya saja merasakan indahnya Natal dan keriaan akhir tahun ini!

Tinggalkan Balasan