Sudahkah mendengar meski kita bertelinga?

13 Des 2018 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini mencoba untuk mengingatkan bahwa kita ini punya telinga dan seharusnya tahu bagaimana cara memanfaatkannya.

Jadi ceritanya Yesus sedang berbicara tentang Yohanes Pembaptis, sepupuNya, anak Elizabeth. Ia menyatakan bahwa Yohanes adalah Elia yang datang membawa kabar nubuatan akan diriNya dan bahwa nubuatan itu benar. 

Tapi tampaknya hal itu tak begitu diperhatikan khalayak, mereka menganggap sebagai angin lalu saja. Terlebih bagaimana kaum Farisi dan ahli Taurat bereaksi terhadap apa yang disampaikan Yohanes, mereka meringsek dan mencoba untuk membuat pengaruh Yohanes tak kuat dalam diri jemaat.

Dalam kondisi seperti itulah Yesus lantas menegur dengan keras, ?Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!? seperti ditulis Matius dalam Matius 11:15.

Telinga adalah sarana untuk mendengar namun berapa banyak dari kita yang kadang menomerduakan kemampuan mendengar dan mendahulukan kemampuan bicara atau menyampaikan pendapat?

Dalam sebuah pesan pada Hari Komunikasi Se-Dunia ke-46, 20 Mei 2012, Paus (Emeritus) Benediktus XVI menyatakan pentingnya sikap hening dalam berkomunikasi.

Begini penggalannya,

Dalam diam dan keheningan, kita dapat mendengarkan dengan lebih baik?? Dengan bersikap diam dan mendengarkan, terciptalah ruang untuk mendengarkan satu sama lain, dan memungkinkan relasi antar manusia terjalin lebih mendalam?

Dalam arus perkembangan teknologi yang memungkinkan arus teknologi bisa mengemuka lebih dari zaman-zaman sebelumnya, tantangan kita sebenarnya tak hanya bagaimana mengungkapkan pemikiran serta ide tapi juga diam dan hening serta menggunakan telinga untuk mendengarkan ide dan gagasan orang lain semata karena kita punya telinga.

Tapi lihatlah apa yang terjadi pada acara-acara talkshow politik di televisi akhir-akhir ini.

Biasanya acara talkshow di-set untuk mendatangkan kedua kubu yang saling bertentangan terhadap satu hal yang dijadikan topik. Lalu setelah topik disampaikan moderator tak lama kemudian suasana jadi seperti kapal pecah! 

Baru tiga kata diucapkan oleh pembicara dari kubu A langsung dipotong oleh pembicara dari kubu B tanpa ba-bi-bu dan tanpa malu-malu seolah ia adalah binatang yang tak berakal dan bermartabat!

Lalu baru lima kalimat pembicara kubu B menyampaikan pendapat, pembicara kubu A balas dendam menyerobot balik seolah dirinya tak kalah hinanya dengan pembicara yang menyerobot duluan.

Sementara sang moderator hanya diam saja dan malah memancing dengan umpan yang membuat acara semakin runyam.

Kalau sudah demikian, lalu apa esensi percakapan yang dihadirkan dalam acara tersebut? Tak ada! Esensi yang didapat dan perdebatan yang seharusnya seru pun jadi hilang value! Kenapa? Mereka sibuk bicara tanpa pernah mendengarkan gagasan lawan!

Entah kalau acara itu ada hanya untuk meraih rating dan meraup untung dari para sponsor yang memasang iklan?

Adakah sekadar menghadirkan kegaduhan, yang penting seru dan bisa jadi amunisi untuk para pemirsa untuk melakukan hal yang sama ketika berkomunikasi dengan sesamanya?

Bagaimana dengan kita dan kalian?

Adakah kamu juga sering motong percakapan orang tanpa ba-bi-bu dan tanpa rasa malu? Kita punya telinga, dengarkanlah apa yang dikatakan dan dikemukakan orang lain!

(Sebenernya catatan ini aku tujukan untuk diriku sendiri! Dari dulu sampai sekarang aku sulit betul untuk mendengarkan apa yang jadi opini kawan/lawan. Layak kalau dulu almh. Mama sering marah kepadaku dan berujar, ?Le! Kuwi kuping atau centhelan wajan?!? hahaha?)

Sydney, 13 Desember 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.