Sudah selaraskah keputusan-keputusan hidup kita dengan kehendak Allah?

8 Agu 2019 | Kabar Baik

Pernahkah kamu berpikir, bagaimana sih cara memastikan apakah keputusan-keputusan hidup yang kita buat itu selaras dengan kehendak Allah atau bukan?

Waktu lulus SMA dulu, seorang kawan bimbang. Pacarnya hendak kuliah ke Jakarta. Saking sayangnya, iapun berpikir untuk ikut Sang Pacar hijrah ke ibukota. Tapi di sisi lain, ia diterima masuk di fakultas kedokteran sebuah universitas negeri ternama di Jogja.

Yakin kehendakmu adalah kehendak Allah?

Orang tuanya jelas meminta kawanku untuk tetap tinggal di Jogja. Selain bisa ikut bantu jaga toko keluarganya, kuliah di Jogja tentu lebih irit biaya. Sementara di Jakarta, selain biaya hidup lebih mahal, satu pertanyaan orang tua yang membuatnya terdiam adalah, ?Kamu itu mau kuliah atau mau pacaran?!?

Tapi pada akhirnya kawanku, sebagai pribadi yang bebas, memutuskan untuk tetap pergi ke Jakarta. Alasan yang dipakainya cukup membuatku terdiam waktu itu. ?Semalam aku berdoa minta kejelasan dari Tuhan dan Dia bilang aku harus ke Jakarta, Don!?

Aku balik bertanya, ?Bagaimana kamu bisa yakin akan hal itu??

?SuaraNya jelas sekali, Don! Di telingaku semalam!? jawabnya.

?Bagaimana kamu yakin bahwa yang jelas sekali kamu dengar itu adalah kehendak Allah dan bukan suara hatimu sendiri?? tanyaku balik.

Kawanku marah! Ia menganggap aku sebagai orang yang datang dari kalangan yang tak percaya kepadaNya.

Tiga bulan setelah pindah ke Jakarta, kudengar ia putus dari pacarnya. Saat libur akhir tahun, ia kembali ke Jogja. Dalam sebuah kesempatan, aku bertanya, ?Piye? Apakah kamu masih bahwa kuliah ke Jakarta adalah kehendak Allah??

Ia terdiam.

Suara Tuhan vs Suara Bising Dunia

Bagiku, selama kita masih menjadi manusia, rencana Tuhan bukanlah hal yang mudah untuk diketahui. Semua karena kita lemah dalam mendengar di tengah bisingnya dunia. Suara lembut Tuhan bagaikan musik yang kita dengar dari gadget tanpa earphone sedangkan suara dunia laksana tarikan sepeda motor yang meraung-raung di tengah kampanye di jalan raya!

Meskipun kita ya boleh-boleh saja bahkan menurutku perlu untuk meyakini bahwa keputusan-keputusan baik dalam hidup adalah rencana Tuhan. 

Tapi bicara tentang hal ini, ada satu cerita menarik yang disampaikan Matius dalam Kabar BaikNya hari ini.

Suatu ketika Yesus menyampaikan kepada para murid bahwa sesuai rencana BapaNya, Ia akan mengalami banyak penderitaan hingga akhirnya dibunuh meski pada hari ketiga Ia akan bangkit dari antara orang mati.

Mendengar hal itu, Petrus, muridNya, mencoba menarik Yesus dan menegorNya, ?Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (lih. Mat 16:22)

Bukankah apa yang dilakukan Petrus itu satu kebaikan? Saking cintanya pada Sang Guru, Ia tentu tak ingin hal-hal buruk terjadi padaNya. Tapi coba cermati apa yang jadi tanggapan Yesus?

“Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (lih. Mat 16:23)

Wow! Mengejutkan ya?!

Tapi sejatinya tidak. Apa yang dikatakan Yesus itu benar. Sebaik-baiknya yang dipikirkan Petrus itu bukan yang terbaik menurut Allah, BapaNya sendiri. 

keputusan hidup, kehendak Allah

Melalui renungan Kabar Baik hari ini, kita diajak untuk berhati-hati dalam menentukan keputusan-keputusan hidup.

Tak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa keputusan-keputusan hidup yang diambil sudah pasti keputusan yang selaras dengan kehendakNya. Sikap yang terpenting adalah fokus pada keputusan yang diambil dan konsisten dalam menjalankannya. Kita juga dituntut untuk peka karena suara Tuhan hadir tak hanya melalui doa tapi juga melalui orang-orang yang ada di sekitar kita termasuk alam semesta.

Oh ya, tentang kawanku yang kuceritakan di atas pada akhirnya kami tetap tak tahu apakah keputusannya untuk kuliah di Jakarta dulu adalah keputusan yang selaras dengan kehendak Allah atau bukan.

Meski gagal menjadi dokter, kawanku itu kini malah jadi pengusaha kaya raya di Jakarta dan hidup berbahagia bersama istri dan kedua anaknya. Kalau aku diberi waktu untuk bertemu lagi dengannya, aku ingin berkata, ?Bro, terlepas dulu keputusanmu untuk kuliah ke Jakarta itu adalah sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak tapi nyatanya Tuhan menyertaimu hingga sekarang!?

Sydney, 8 Agustus 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.