Stay hungry, stay foolish? stay humble

23 Jul 2018 | Kabar Baik

Sering tak bisa mengartikan apa yang dikatakan Yesus di bawah ini:

“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.? (lih. Mat 11:25)

Caraku untuk menggapai adalah dengan mengingat apa yang dikatakan Steve Jobs, pendiri Apple Inc. Orang yang banyak menelurkan inovasi teknologi itu pernah mengutarakan pentingnya untuk bersikap ?stay hungry, stay foolish.?

Stay hungry dan stay foolish adalah sikap untuk tidak pernah cepat puas dan tidak merasa pintar terhadap apa yang telah kita dapatkan dan kuasai.

Cepat puas membuat kita tak lagi punya nafsu untuk mengerjakan hal-hal baru, merasa sok pintar membuat kita tak lagi merasa perlu untuk mengetahui dan belajar hal-hal lain karena mungkin dianggap remeh. Akibatnya secara tak kita sadari, kita disalip orang-orang yang ?stay hungry dan stay foolish? karena mereka tak pernah berhenti untuk belajar dan mengerjakan hal-hal baru.

Dalam perspektif iman, kedua hal tersebut bisa kita ?bahasakan? sebagai sikap untuk tetap merasa kecil (humble). Di sini, apa yang dikatakan Yesus di atas masuk ke dalam konteks pembicaraan.? Kita tak boleh merasa besar karena banyak hal disembunyikan Tuhan di depan orang-orang yang sudah merasa sok besar!

Aku pernah menjadi orang yang sudah merasa puas, merasa pintar dan sombong. Akibatnya aku merasa sok besar. Semua karena ?kesuksesanku? membangun dan mengelola perusahaan sejak berumur awal 20 tahunan.

Hal itu membuatku tutup mata dan telinga terhadap hal-hal yang terjadi di sekelilingku. Aku tak lagi menganggap penting semua hal itu.

Baru setelah aku memutuskan meninggalkan perusahaan dan pindah ke Australia sebagai ?orang biasa? pada 2008, aku merasakan betapa ruginya merasa besar!

Di Australia, karena aku bekerja di perusahaan, aku jadi bisa belajar bagaimana diperintah dan tak hanya memerintah. Alhasil ketika diberi kepercayaan untuk kembali memerintah, aku bisa melakukan lebih baik karena tahu bagaimana rasanya orang diperintah itu.

Di Australia, aku juga harus mengerjakan semuanya secara mandiri. Ngepel, setrika, cuci piring adalah hal-hal yang tak pernah kulakukan selama aku di Indonesia karena semua kuanggap remeh-temeh. Tapi setelah aku mengerjakan di sini, aku jadi bisa lebih menghargai kerja keras orang-orang yang berprofesi jadi tukang pel, tukang cuci piring dan tukang setrika. Aku juga jadi lebih bisa mengerti dan sadar pentingnya menjaga kebersihan dan kerapian karena ?ongkos? untuk itu tidaklah murah!

Hal-hal tersebut memperkaya jiwa dan diriku. Semakin aku merasa kecil, semakin aku diberi ?kebijaksanaan? dari Tuhan.

Jadi? Stay hungry, stay foolish dan jangan lupa stay humble.

Sydney, 23 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.