?Stay hungry, stay foolish” dalam perutusan

16 Mei 2019 | Kabar Baik

Bicara tentang perutusan, kepada para murid, dalam Perjamuan TerakhirNya, Yesus berkata,

?Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.? (lih. Yohanes 13:16)

Pesan yang disampaikan Yesus di sini adalah, meskipun para murid mengemban misi perutusan namun Ia mengingatkan bahwa mereka tetaplah hamba yang tak bisa lebih tinggi dariNya.

Lho, kenapa Yesus kembali mengatakan bahwa para murid adalah hamba? Bukankah dalam catatan beberapa hari lalu Ia mengatakan bahwa mereka/kita bukan lagi hamba tapi sahabat? Duh, mana yang benar? Aku sudah terlanjur memperkenalkan diriku pada kawan-kawan bahwa aku ini bukan hamba Tuhan melainkan sahabat Tuhan, Don!?

Hakikat hamba

Benar semua asalkan yang kamu lakukan memang benar bagiNya!

Untuk itu, sebagai hamba atau apapun yang kamu mau aku untuk memanggilmu, kita diajak untuk menyadari bahwa kita ini tak kan bisa lebih tinggi dariNya. 

Karena perutusan memang bukan tentang kita yang diutus tapi Dia yang mengutus.

Makanya kalau ada orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan tapi sombong dan nafsunya untuk mendapat penghargaan dari umat tingginya bukan kepalang? hal yang patut kita lakukan adalah mengasihani mereka.

Kenapa? Karena meski yang dilakukan adalah baik yaitu pelayanan tapi mereka kesombongan mereka akan mampu membuatnya tidak selamat.

Sombong itu manusiawi?

Namun meski demikian, sombong itu manusiawi, kan? 

Betul! Tapi kita diajak untuk melangkah lebih dari sekadar menggunakan alasan bahwa hal itu manusiawi.

Hari sabtu minggu lalu aku diminta memberi renungan dalam sebuah acara persekutuan doa katolik karismatik di Sydney. Acara berlangsung lancar, umat tampak senang dan larut pada hal yang kubawakan. Tak jarang sesudah acara banyak yang menyelamatiku dan memberi pujian.

Sebagai manusia yang ?manusiawi? perasaanku melambung, aku gede kepala! Meski apa yang kuucapkan menyiratkan kerendahan hati tapi dalam hati aku mulai membanding-bandingkan diriku dengan para pelayan lain. 

?Ah, dibandingkan dengan Si A, aku lebih hebat! Dia tak bisa bikin suasana heboh seperti tadi!? atau ketika muncul bayangan Si B yang adalah pelayan lainnya lagi, batinku yang sombong pun berkata, ?Si B boleh hebat dalam membawakan materi tapi.. kolot! Mana bisa membawakan sekeren aku tadi!??

Tapi aku bersyukur hal itu tak lama mengembara dalam benakku karena ketika aku sadar bahwa aku hanyalah pelayan, pikiran-pikiran sombong menyusut. Aku segera melupakan pelayanan kemarin dan fokus pada hal-hal lain di depan termasuk melayani di blog ini dengan menulis renungan setiap hari.

Stay hungry, stay foolish

Apa yang kulakukan saat ini dalam mengelola kesombongan diri, meski belum sempurna tapi sudah jauh lebih baik ketimbang beberapa tahun silam. 

Lalu apa jurusnya?

Pernah dengar istilah ?Stay hungry, stay foolish??

Quote dikenal setelah diucapkan Steve Jobs yang memberikan pidato akademik di Stanford University, Amerika Serikat pada 12 Juni 2005. Pendiri Apple Inc. itu menekankan pentingnya seseorang untuk merasa ?lapar? sehingga ia merasa harus mengerjakan lebih dan merasa ?bodoh? sehingga orang merasa perlu terus-menerus belajar supaya pintar.

Sekalinya seorang merasa sudah kenyang dan sudah lebih pintar, peluangnya untuk mengerjakan hal lebih banyak dan lebih baik akan berkurang.

Dalam dunia pelayanan, perasaan ?bodoh? membuat kita mau untuk terus-menerus belajar. Perasaan ?lapar? akan membuat kita untuk lebih banyak lagi mau makan makanan yang telah disediakan Tuhan yaitu mengerjakan kehendak Bapa. (lih. Yohanes 4:34).

Sekalinya merasa sudah ?pintar? kita akan berhenti untuk tak lagi belajar padahal kuasa Tuhan tak kan pernah habis untuk kita pelajari bahkan saat kita sudah habis usia. Perasaan ?kenyang? membuat kita malas untuk mengerjakan kehendak Bapa bagi dunia dan sesama. Implikasi seriusnya? Kita jatuh dalam rasa sombong, merasa sudah ?pintar? dan ?cukup makan?.

Mari melanjutkan perutusan. Kita ada untuk diutus.

Sydney, 16 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.