Aku menuliskan rangkaian kisah tentang ayahku dan kepergiannya. Simak kisah sebelumnya di Diek (1), Diek (2), Diek (3), Diek (4), Stanislaus (1) / Diek (5) dan Stanislaus (2) / Diek (6)
Bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta, 15 April 2011, 14:00 WIB
Setelah delapan hari berada di Klaten untuk melepas kepulangan Papa ke Rumah Bapa, kini tiba waktuku untuk kembali melanjutkan kehidupan, berkumpul kembali bersama anak dan istriku di Sydney, Australia melanjutkan tugas sebagai seorang Papa seperti yang dulu Papaku lakukan.
Meski kami sekeluarga telah merasakan kelegaan atas berpulangnya Papa dan duka itu telah semakin ringan terangkat, namun toh tak bisa dipungkiri lagi, saat-saat perpisahan adalah saat yang tak kalah beratnya karena dengan demikian aku harus kembali meninggalkan Mama dan Citra, adikku. Jika sebelum-sebelumnya, selama ini mereka begitu terhibur dengan keberadaanku di sisi mereka kali itu, aku harus pergi.
Mobil yang mengantarkanku masuk ke pelataran parkir bandara dan segera sesudah turun, aku menghampiri Mama yang duduk di kursi bersama Budhe dan Eyang yang turut pula mengantar. Kucium punggung tangannya sebagai tanda baktiku dan ia pun mengusap rambutku. “Sing ati-ati, Le… Cah bagus! (Hati-hati, Nak! -jw)” Dipeluknya aku erat. Pipi tirusnya ditempelkan ke pipiku, tangisnya tak terbendung lagi namun aku toh tidak menangis, mencoba untuk terus menguatkan diri.
“Iyo Ma, Mama juga sing ngati-ati… Eling pesen-e Papa, Mama kudu sehat! (Iya Ma, Mama juga hati-hati… Ingat pesan Papa, Mama harus sehat! -jw)” Kutatap matanya yang sayu. Mata seorang Ibu, mata orang tua yang tinggal seorang bagiku.
Pak Yuli membantuku menurunkan barang-barang dari bagasi mobil, dan sesudahnya kuminta ia untuk segera mengantar Mama pulang kembali ke Klaten. Kulambaikan tangan dan kutatap wajah Mama dalam-dalam di balik kaca seolah meyakinkan dan memantapkannya bahwa kita tetap harus melanjutkan hidup sepedih dan seduka apapun itu karena ditinggal Papa.
Aku balik arah. Kutenteng barangku dan karena masih terlalu pagi, aku lantas duduk di kedai kopi yang ada di selasar bandara. Tak sengaja mataku menangkap sebuah tempat yang kuingat tiga bulan sebelumnya kupakai untuk berfoto bersama dengan Papa, Mama, Eyang dan istri serta anakku dan kini aku menyadari bahwa foto itu adalah foto terakhirku bersama Papa sebelum ia pergi untuk selamanya.
* * *
Hari dimana kupublikasikan tulisan ini adalah hari Paskah, hari dimana kehidupan orang Katholik mendapati puncaknya ketika Yesus bangkit dari kematian. Sebelumnya tak kurencanakan untuk menutup rangkaian tulisan duka tepat pada hari ini, semua seperti mengalir begitu saja.
Ada begitu banyak orang yang terkesan dengan rangkaian tulisan ini, meski tak jarang yang bertanya, “Mengapa kamu begitu kuat menuliskan dukamu?” ada pula yang bertanya, “Tak khawatirkah kamu bila Mamamu membaca tulisan ini, bagaimana pedih hatinya?”
Motivasiku untuk menuliskan ini semua tak lain adalah untuk mengabarkan sebuah kabar baik, sebuah kabar penuh sukacita karena sebagai seorang Katholik yang diharapkan taat dan baik, aku wajib untuk bersyukur atas apapun yang kuhadapi dalam hidup ini termasuk saat kehilangan Papa untuk selamanya.
Aku ingat, ketika misa arwah untuk almarhum Papaku sedang diselenggarakan, 7 April 2011, bersama Chitra yang duduk diantara ratusan pelayat yang hadir saat itu, aku membuka iPhone dan menuliskan beberapa poin yang kupikir bisa kuanggap sebagai ungkapan syukur ketimbang ungkapan duka. Beberapa menit lamanya aku berdoa memohon supaya Tuhan membukakan pintu hatiku untuk sejenak mengesampingkan duka itu lalu bersyukur dan bermadah bagiNya. Setelah menuliskan beberapa poin, aku lalu memberanikan diri untuk menyampaikan sepatah dua patah kata di depan para pelayat yang hadir.
Ini sesuatu diluar kebiasaan masyarakat sekitar karena biasanya, keluarga yang ditinggalkan dibiarkan larut dalam duka dan untuk urusan ‘pidato’, para pemuka masyarakat lah yang akan menyampaikannya mewakili keluarga.
Bukan perkara ‘supaya tampil beda’ sebenarnya, lagipula aku toh tak sedang berniat untuk melakukan politik pencitraan di tengah perkabungan seperti itu :) Aku hanya berpikir bahwa kalau aku bisa, kenapa harus bersandar pada orang lain?
Lalu apa isi pidato yang kusampaikan sesaat setelah Misa Arwah usai diselenggarakan itu?
Inilah petikannya,
“Kami sekeluarga bersyukur memiliki Papa yang meski sederhana namun justru karena kesederhanaannya itu, ia menjadi sosok yang begitu luar biasa bagi kami”
“Kami sekeluarga bersyukur betapa Allah telah memberi waktu untuk Papa di sisa sempit waktu hidupnya untuk mengenal Yesus sebagai juru selamat dan ia pun wafat sebagai seorang Katholik”
“Kami sekeluarga bersyukur memiliki seorang malaikat baru di surga yang siap setiap saat mendoakan kami, orang-orang yang dicintainya… Malaikat itu adalah Stanislaus Didiek Hardiono”
“Kami sekeluarga bersyukur betapa kami, atas didikan Papa, mendapatkan dan memiliki kawan-kawan yang begitu baik dan setia membantu kami dalam kedukaan ini”
Berat kah mengucapkan semua itu?
Jelas! Bayangkan aku harus bersyukur sementara tak sampai jarak 25 meter dariku terbaring Papa yang kaku dan Mama yang duduk di sebelahnya menungguinya dengan uraian air mata kepedihan sepanjang hari itu. Namun tiada lain yang harus kulakukan selain itu.. Harus dan wajib!
Oleh karenanya, meski menyisakan linangan duka, besar harapanku bagi kalian semua pembaca tulisan demi tulisan yang kupublikasikan ini supaya kalian menyadari betapa Tuhan tak pernah berhenti bekerja dalam hidup ini. Ia yang tak kelihatan namun kita imani ada, adalah sebuah Kekuatan Maha Sempurna yang mampu menguatkan kita ketika kita lunglai sekalipun. Ia adalah pelita bagi dunia, penawar kesementaraan dengan keabadian yang ada di genggamanNya dan dimana rasa syukur kita panjatkan padaNya, disitulah Ia dimenangkan dan dipermuliakan.
Usai sudah tulisan duka yang kurangkai dalam 7 bagian terpisah ini. Kedukaan akan berlalu seiring berjalannya waktu. Kehidupan Papa pun telah pula usai menyisakan ketiadaan dalam kebersamaan kami sebelumnya sebagai sebuah keluarga. Namun sesuatu yang kekal adalah ketika aku selalu membawa semangat; nyala api yang tak pernah padam yang dulu selalu kulihat di sorot teduh mata Papaku, Stanislaus Didiek Hardiono.? (Tamat)
Credit? ‘sampul’ photo from here
Tinggalkan Balasan