Standar Kebahagiaan Alumni dan Alumna yang Berbahagia

24 Mar 2022 | Cetusan

Pernah aktif dalam beberapa kumpulan alumnus, membuatku berkesimpulan bahwa ada satu irisan yang jamak kutemui; alumnus yang muncul atau dimunculkan biasanya mereka yang kaya secara materi, sukses dalam karir, kemilau perusahaannya. Catatan, tentu tak semua kumpulan demikian… 

Misalnya waktu reuni. 
Mereka yang diberi corong, mereka yang maju ke mimbar adalah mereka yang biasanya sudah jadi bos, sudah kaya, sudah jadi tampuk pimpinan perusahaan. 

Mereka lalu akan fasih bercerita tentang masa lalunya saat studi. Ditingkahi cerita pengalaman-pengalaman ‘nakal’ yang membuat orang berkomentar kagum, “Edan! Dulu nakal tapi bisa sesukses ini ya sekarang?!” (Ya iyalah, kalau nggak sukses tapi tetap nekad cerita tentang kenakalannya jaman dulu pasti dibilang, “Makanya kamu nggak sukses! Ternyata udah nakal dari dulu!”)

Lalu bagaimana yang miskin?
Yang bukan jadi siapa-siapa?
Yang bahkan untuk datang ke acara pun harus mengeluarkan uang belanja bulanan sekadar untuk biaya transport dan mengenakan satu-satunya baju yang hanya biasa dipakai saat kondangan setahun sekali hanya demi ketemuan dan menyalami tangan kawan-kawannya yang sudah jadi buos?

Ya ada sih satu-dua kesempatan tapi itupun biasanya diadakan saat serah terima sumbangan dari para bos dengan embel-embel, “Bakti Sosial untuk Alumni yang Membutuhkan” dengan backsound dari speaker panggung menyiarkan lagunya d’Masiv, Jangan Menyerah

Syukuri apa yang ada,
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik…

Salahkah? Tidak!
Bagi guru, mereka yang sukses itu barangkali adalah prasasti hasil kerja mendidik sekian lama. Tapi hanya mengarahkan lampu sorot dan corong mikrofon kepada mereka adalah satu upaya penyempitan definisi kebahagiaan secara banal!

Bahagia itu bukan “asalkan” dan “andaikan.” Bahagia itu “meskipun” dan “walaupun.”

Aku pernah tersentuh membaca sebuah artikel di majalah rohani tentang seorang penderita sakit akut di lereng sebuah gunung. Keluarganya pra-sejahtera, bahasa halus untuk melukiskan kemiskinan yang tak kalah akut dengan penyakitnya. Dokter sudah angkat tangan bahkan katanya kalaupun mereka punya uang tetap saja penyakit itu tak bisa disembuhkan. Menunggu mati, ia berdoa tanpa henti. Setiap malam, istrinya mengoleskan mminyak gosok ke dada sambil mendaraskan cerita-cerita masa lalu, mensyukuri betapa mereka pernah diberi hidup yang sehat, hidup yang bahagia meski tidak kaya materi…

Pernah juga aku bertemu seorang alumna. Kabarnya ia digebukin suami yang lalu pergi meninggalkannya. Tapi kini ia bahagia karena cinta yang diperlukan sudah didapatkan. Bukan dari suami baru karena ia tetap berteguh tidak mau menikah lagi seturut keyakinan yang dipeluknya tapi dari kegiatannya membantu merawat binatang-binatang peliharaan yang terlantar dan terbuang…

Hal-hal seperti ini harusnya pun diangkat dalam berbagai kumpulan alumnus sehingga definisi kebahagiaan tetap terjaga panjang kali lebarnya.

Ketakutanku, kalau standar kebahagiaan jadi terpetakan secara picik secara tidak langsung hal itu akan membuat orang jadi takut untuk mencoba berbahagia di atas definisinya sendiri. Orang jadi ingin bahagia dengan meminjam definisi kebahagiaan orang lain melalui cara-cara yang tidak jujur yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah…

Beberapa hari lalu aku mendengar kabar terbongkarnya kisah seseorang yang selama ini mengaku (dan nyaman diaku-aku) sebagai ahli di bidang tertentu.

Aku nggak kaget. 
Sejak pertengahan tahun lalu, saat dia ndhakik-ndhakik menjelaskan sesuatu yang makin tak jelas, saat orang-orang manggut-manggut berjamaah oleh buaian dan bualannya aku sudah memutuskan untuk kontra. Bagiku apa yang dikatakannya tidak masuk akal maka tidak masuk akal juga kalau dia menyatakan dirinya itu ahli!

Sementara kawan-kawan lain sedang tergagap-gagap dengan hal itu (makasih lho kawan-kawan yang tanya di WA secara japri hari-hari ini hahahaha) aku diam-diam justru mencoba mendalami kenapa yang bersangkutan mau melakukan semua ini?

Kenapa ia nekad padahal sebagai insan berpendidikan dia tentu tahu apa yang dilakukannya salah dan dengan keterbukaan informasi segila sekarang ini, ketahuan bohong itu tinggal tunggu waktu!

Sayangnya hanya sebuah ke-barangkali-an yang kutemukan dalam permenungan.

Barangkali, dia tak percaya diri untuk menyatakan dirinya berbahagia dengan apa adanya. Ia terlanjur menaruh definisi kebahagiaan itu setinggi dagu. Hal ini membuatnya alih-alih membuang standard itu, dia malah menggunakan cara-cara culas hanya supaya dicap bahagia.

Mungkin, kan? Mungkin saja! Kenapa tidak?!

Jadi para alumni dan alumna yang berbahagia, mari berintrospeksi!

Mari semakin fokus untuk berbahagia dengan definisi yang kita yakini benar dan cara-cara yang juga tidak salah…

Ingatlah bahwa kebahagiaan itu tak sesempit meja kelas yang dulu kita pakai di sekolah…

Kebahagiaan juga bahkan lebih luas dari luasan meja CEO, ruang kerja vice president perusahaan, meja makan duta besar atau apalah-apalah yang lainnya… 

Kebahagiaan itu sesederhana ketika kita menyadari betapa kita telah lebih dahulu dicinta oleh Sang Pencipta..

Yuk lanjutkeun lagunya…

Jangan menyerah…
Jangan meyerah…
Jangan menyerah hoo…hooo….

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Imajinasimu bagaikan biarawan yang menyamar sebagai bajingan.
    Maskuh “bahagia” ndak dendangkan goresan ini?
    Hari ini aku memilih tidak bahagia, karena ada kata tidak.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.