Ini mungkin ide gila!
Berangkat dari keprihatinanku terhadap begitu banyak masalah akhir-akhir ini yang terkesan mengusik kebinnekaan serta pluralitas bangsa, aku berpikir salah satu solusi jitu, murah lagi meriah untuk mengatasi semuanya itu adalah dengan membagi-bagikan foto di bawah ini ke seluruh rakyat Indonesia tak terkecuali, mulai dari presiden sampai petani, dari artis sampai tukang becak, dan dari para lansia hingga bayi yang barusan ceprot dari rahim ibunya.
OK, inilah fotonya

Kalian mau tertawa menertawakan ide ini?
Tak mengapa, namanya juga ide gila!
Tapi sebelum melanjutkan keterpingkalan, ada baiknya kalian menyimak penjelasanku kenapa harus foto yang ini dan bukan yang lain.
Foto ini adalah foto keluaran tahun 1988, diabadikan oleh Ibuku, seorang pemeluk Katholik yang taat.
Yang berdiri paling sebelah kiri mengenakan kemeja dan celana pendek putih serta dasi adalah aku (ketika itu berusia 11 tahun), seorang yang juga Katolik yang saat itu baru saja menerima Sakramen Ekaristi untuk pertama kalinya, sebuah proses pemantapan atau inisiasi lanjutan untuk menjadi seorang Katholik sesudah baptis bayi.
Gadis kecil yang mengenakan topi dan menoleh ke arah kanan itu adalah Citra, adikku, yang sejak lahir hingga saat ini juga adalah seorang Katolik.
Sementara yang tengah, seorang wanita setengah baya itu adalah nenekku, ibu dari Bapakku.
Ia seorang muslimah yang datang secara khusus dari kediamannya di Blitar (Jawa Timur) ke Kebumen (Jawa Tengah) tempat tinggalku dulu hanya demi menyempatkan diri memberiku dukungan dan selamat atas Sakramen Ekaristi pertamaku.
Keluargaku memang keluarga campuran.
Kami dari suku Jawa, tapi bapakku, sama halnya dengan ibu dan bapak serta saudara-saudaranya, adalah pemeluk Islam yang taat.
Sementara aku dan Citra, adikku, ikut Ibuku dan keluarga besarnya yang percaya pada ajaran Gereja Katholik.
Mungkin kalian bertanya-tanya bagaimana bisa aku dan adikku ikut Ibuku sementara bapakku diam saja.
Kenapa ia tidak meronta atau menalak cerai Ibuku karena aku dan adikku tidak memilih seiman dengannya?
Atau kenapa pula dulu Ibu dan Bapakku bisa-bisanya mendapat restu dan berani menikah meski beda agama?
Aku hanya satu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu: aku tidak tahu.
Dan aku patut bersyukur untuk ketidaktahuanku itu!
Karena ketidaktahuan itu bagiku kuartikan sebagai sebuah ruangan gelap dan terkunci; tempat bagi segala macam bentuk perpecahan, amarah, dan ekses-ekses negatif lainnya terkait dengan perbedaan berada dan tersimpan.
Selebihnya, yang kutahu di dalam keluarga orang-tuaku, tak sekalipun aku pernah melihat ada diantara kami yang harus bertengkar dan bermusuhan hanya karena perbedaan agama.
Aku, begitu juga dengan Adik, Ibu serta Bapakku, hidup dalam kebahagiaan dan saling menghargai yang sesungguhnya.
Bagi kami, hidup ini tak sesempit hanya bicara tentang perbedaan, perbedaan dan perbedaan saja. Selalu ada setidaknya satu kesamaan dalam perbedaan seperti yang pernah dibilang Bapakku pada suatu waktu, “Ngapain harus padu (bertengkar – jawa) hanya gara-gara beda agama lha wong sama-sama makan nasi, minum air, langitnya sama, mataharinya pun juga sama kok!”
Bekal keluarga itu tadi pada akhirnya membuatku mantap untuk bergaul dalam masyarakat yang plural tak hanya di sisi agama saja tapi juga dalam hal suku, ras, serta antar golongan.
Aku tak berani bilang bahwa aku tak pernah tergoncang menghadapi perbedaan, tapi setidaknya ketika goncangan itu datang dan menghebat, tak butuh waktu lama bagiku untuk kembali tenang dan reda setelah aku menoleh ke belakang, melihat wajah-wajah penuh damai yang ada di dalam keluargaku serta dalam foto di atas itu tadi.
Pluralitas yang ada di keluargaku dan secara khusus yang tampak dalam foto itu, sekaligus juga menguatkan prinsip harga-menghargai serta bertoleransi terhadap semua manusia terutama mereka yang berbeda karena secara perlahan tapi pasti aku semakin meyakini bahwa setiap manusia diciptakan untuk menjadi pembeda dari manusia lainnya bahkan dalam kaitan anak-orang tua sekalipun.
Jadi, setelah melihat kenyataan betapa berbedanya aku dibanding dengan Bapakku atau nenekku sekalipun, aku semakin mantap untuk melihat kenyataan bahwa antara aku dengan kalian pun juga berbeda dan itu wajar!
Nah, jadi bagaimana?
Apakah kalian semakin tertarik dengan ajakan gilaku ini?
Ayo! Jangan ragu lagi malu! Cukup klik kanan pada foto di atas, pilih menu “Save As” lalu cetak dan pasang di dompet kesayanganmu atau boleh juga kalau tak punya printer atau uang untuk mencetak, transfer saja ke Blackberry atau handphone atau malah laptop kesayanganmu dan jadikan wallpaper di sana!
Berpikirlah sama denganku bahwa dengan melihat foto itu, kita bisa belajar banyak tentang indahnya persatuan dalam perbedaan.
Sebagai contoh, kalau kamu membaca berita tentang perusakan kebhinnekaan atau sekalinya kamu merasa benci dengan orang lain karena mereka berbeda, bukalah dan tataplah fotoku itu… kujamin panas hatimu akan mereda, dan kalian akan tertawa meski entah itu berarti menertawakan wajah polosku di foto itu atau, (semoga!) kalian bisa menertawakan orang-orang serta perasaan benci yang tak bisa menghargai perbedaan dalam persatuan itu tadi.
Gampang tho?
Tinggalkan Balasan