Beberapa waktu yang lalu aku membaca sebuah artikel di TIME tentang maraknya pola hidup solo di kota-kota besar di dunia.
Solo di sini tentu bukan kota Solo di Jawa Tengah sana, tapi solo yang mengacu pada pilihan untuk hidup seorang diri, tidak menikah, tidak tinggal dengan orang tua, benar-benar sendiri.
Orang-orang soloist, demikian mereka biasa disebut, biasa tinggal di apartemen tipe studio (seperti kamar hotel, satu ruangan besar berisi tempat tidur, tv, dapur plus satu kamar mandi). Mereka memiliki piranti-piranti rumah tangga serba portable, multifungsi dan untuk bersosialisasi, mereka memanfaatkan pub, cafe, restaurant dan banyak ruang publik lainnya.
Kebanyakan dari mereka memilih cara hidup solo karena simplicity, nggak ribet. Beberapa mengaku takut kehilangan rasa nyaman yang diraihnya seorang diri kalau harus tinggal bersama orang lain atau keluarga. Di sisi yang lainnya, mereka juga tak mau merepotkan dan tergantung pada orang lain. Alasan lain? Kepedulian terhadap sumber daya alam yang kebanyakan memang makin susah untuk diperbaharui. Kok nggak nyambung? Nyambung sih karena dengan hidup solo, konsumsi sumber daya alam akan terkhususkan untuk diri sendiri bukan pada anggota keluarga lain termasuk anak, kan nggak punya.
Sesaat setelah membaca artikel itu hingga tuntas, aku jadi berpikir, barangkali kalau harus menempuh cara hidup sebagai seorang soloist, aku adalah orang pertama yang akan menyerah.
Bagiku, hidup ini akan menjadi lebih kaya ketika kita menghabiskannya tak seorang diri.
Manusia harus terjun ke dalam komunitas baik itu dalam tataran besar di tempat kerja, organisasi, sekolah maupun di tingkat terkecil, keluarga. Interaksi sosial yang seperti ini kupercaya akan menambah pengalaman dan membuat lika-liku kehidupan bertambah, tak lurus-lurus saja seperti jalan tol.
Bagiku, hidup kadang juga perlu menjadikan rasa nyaman sebagai taruhan untuk sesuatu yang lebih baik lagi. Kenyamanan itu hanya menyoal rasa, sesuatu yang dicecap oleh panca indera dan aku percaya entah itu karena keadaan atau kesadaran sendiri, rasa, apapun itu, bisa distimulasi sesuai kehendak kita. Lima tahun yang lalu ketika salah satu kawanku punya anak dan melihat bagaimana ia repot mengganti nappy (popok) ketika anaknya buang air besar, komentar singkatku adalah, “Yurkkk! Jijik bener sih!” Tapi kini, ketika anak-anakku buang air besar aku justru merasakan ketidaknyamanan kalau mereka tak cepat-cepat kuganti (atau istriku yang ganti) nappy.
Mengenai kepedulian terhadap penggunaan sumber daya alam, aku percaya pada satu hal bahwa semua itu diciptakan untuk digunakan sebaik-baiknya. Jadi, penilaian terhadap peduli atau tidak pedulinya ada pada sebaik apa penggunaan dari sumber daya itu, bukan pada perkara menggunakan atau tidak menggunakan. Misal kita menggunakan air untuk menyirami tanaman sehari-harian tanpa henti, tentu hal itu tak elok untuk dilakukan karena selain tanaman tak butuh air sebanyak itu, untuk apa kita buang-buang air? Tapi ketika kita menggunakan air untuk dimasak sebagai air minum keluarga, sebanyak apapun itu, tentu tak bisa dikatakan bahwa kita tak peduli pada konservasi air karena ketahanan orang untuk hidup ditentukan juga dengan jumlah air yang dikonsumsi. Aku percaya ketika semua sudah dilakukan dengan baik dan benar, sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, kehidupan akan memiliki cara tersendiri untuk menyelamatkan diri, ini adalah naluri, kalau tak ingin membawa-bawa nama Tuhan di sini.
Tapi sekali lagi, meski tak setuju bukan berarti kita harus memusuhi karena pada hakikatnya, tak ada baju yang benar-benar bisa pas yang bisa dipakaikan pada seluruh umat manusia, kan?
Kalau kalian gimana? Setuju dengan cara hidup solo atau jangan-jangan kamu sudah menjadi seorang soloist? Silakan tinggalkan komentar, tak terkecuali kalian, orang-orang warga Kota Solo ;)
Tinggalkan Balasan