Social media, perlukah di-pantang-in?

5 Mar 2019 | Cetusan

Banyak orang memilih untuk pantang dan puasa social media sepanjang masa Pra-Paskah yang akan kita mulai besok, Rabu 6 Maret 2019.

Jadi prakteknya, mereka tidak akan membuka Facebook, Twitter, Instagram dan akun social media apapun selama empat puluh hari mulai Rabu Abu hingga Jumat Agung tiba.

Tak ada yang bisa menyalahkan karena setiap dari kita diperbolehkan bebas menentukan apa yang akan kita pantang-i selama itu dianggap yang terbaik yang bisa diberikan kepadaNya dalam masa Pra-Paskah.

Aku pribadi tidak memilih untuk pantang social media. Bukan karena tak sanggup tapi secara prinsip ada beberapa hal yang membuatku berkeputusan bahwa social media itu sejatinya nggak perlu di-pantang-in.

Media Informasi

Social media, sadar-tak-sadar telah menjadi media informasi yang penting dalam hidup. Banyak hal-hal yang terjadi yang kutahu mula-mula justru dari social media. Misalnya waktu Gunung Merapi meletus hebat 2010 silam. Aku bangun pagi, scroll Facebook dan mendapati informasi tentang Gunung Merapi dari wall kawan-kawanku yang ada di Jogja sana.

Kalau aku memutuskan untuk tidak mengakses social media selama masa Pra-Paskah, bagaimana kalau ada hal-hal yang sifatnya emergency/darurat terjadi dan aku baru tahu belakangan karena aku pantang untuk ber-sosmed?

Media komunikasi

Social media juga menjadi ajang komunikasi nan ampuh bagiku dan kawan-kawan serta kerabat utamanya di Tanah Air sana. Sama halnya dengan konteks di atas, bagaimana aku bisa tahu jika ada hal-hal darurat (semoga tak terjadi) terhadap mereka sedangkan aku tak mengaktifkan social media selama masa Pra-Paskah?

Media pelayanan

Social media, bagiku sudah kujadikan sebagai media pelayanan kepada sesama dan Tuhan. Tiap hari aku membagikan renungan Kabar Baik yang kutulis di blog ini ya melalui social media. Alangkah anehnya jika aku memutuskan berpantang terhadap satu hal dimana hal itu kupakai sebagai alat untuk melayani Tuhan?

Namun demikian, yang tetap bisa di-pantang-in adalah konten-konten tertentu yang ada di social media.

Misalnya gosip dan hoax!
Kalau selama ini kita begitu asyik menikmati gosip artis dan hoax pilpres, yuk selama Pra Paskah kita tahan diri. Unfollow akun gosip, mute atau left dari grup WA yang kerap mengumbar hoax dan memanfaatkan waktu lebih banyak untuk Tuhan.

Atau kalau mau, kenapa tak melatih diri dalam masa Pra-Paskah ini dengan melawan hoax melalui cara yang kata alm. Om Nukman Luthfie adalah cara terbaik yaitu membuat konten kebaikan?

Lho tapi kan yang diminta pantang dan puasa, Don? Kenapa malah kamu mengajak untuk membuat konten?

Benar! Tapi seperti pernah kita tulis, untuk beriman itu tak hanya pasif tapi juga aktif, gumregah. Pantang mengakses gosip dan hoax baik tapi melawan gosip dan hoax lebih baik. Belajar menulis atau memotret dan imbuhkan kata-kata baik maka jadilah Kabar Baik.

Selamat menyambut masa Pra-Paskah 2019. Semoga pantang dan puasa kita berkenan bagiNya.

pra paskah
Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.