Social media dan euforia kita: terbuka tak selalu harus berkata-kata

15 Feb 2019 | Kabar Baik

Jika kalian amati, Kabar Baik hari ini agak ?kontradiktif?. Ada seorang yang tuli dan gagap yang minta untuk disembuhkan. Kepadanya, Yesus pun memberi kesembuhan sehingga ia bisa mendengar dan berkata-kata. Tapi jika kita baca Markus 7: 36, Yesus berpesan tak hanya kepada yang baru disembuhkan tapi juga kepada orang-orang yang hadir di sekitarNya untuk tidak menceritakannya kepada siapapun.?

Jadi di satu sisi, Yesus membuat orang bisu/gagap menjadi berkata-kata, tapi di sisi lain Yesus meminta mereka untuk ?tidak berkata-kata? tentang diriNya.

Apa yang bisa kita pelajari dari sini?

Efata

Aku tertarik untuk menggunakan kata yang diucapkan Yesus saat menyembuhkan, ?Efata!? yang artinya ?Terbukalah!? (lih. Markus 7:34)

Yesus membuka telinga yang tuli dan mulut yang bisu. Mulut yang semula tak bisa berucap satu kata jadi terbuka dan bisa berucap beragam kata.

Tapi keterbukaan itu ada batasnya dan Yesus, dalam Kabar Baik hari ini memberikan batasan tersebut yaitu untuk tidak menceritakan kepada siapapun juga tentang mukjizat itu.

Aku sekian lama berpikir jangan-jangan Yesus tak serius ketika meminta mereka untuk tidak menceritakan kepada siapapun juga. Tapi dalam permenunganku hari ini, menurutku Yesus serius.

Kenapa Ia tak ingin orang-orang bercerita, karena rencana perjalananNya masih panjang. Ia baru saja pergi dari Tirus dan masuk ke Dekapolis di dekat perbatasan dengan Syria padahal tujuanNya ke Yerusalem tempat Ia pada akhirnya diadili untuk disalibkan.

Jika orang-orang tahu tentang Dia, hal itu akan memancing kaum Farisi dan ahli Taurat untuk menangkap sebelum Ia menyatakan diri di Yerusalem.

Social media dan euforia kita

Keterbukaan dalam konteks masa kini aku bandingkan dengan keleluasaan kita mengakses informasi di social media.

Kita yang semula bisu dan tuli jadi punya fasilitas untuk bersuara. Tapi seperti halnya yang dilakukan Yesus kepada orang-orang yang ada, kitapun diwanti-wanti untuk memanfaatkan keterbukaan itu sebaik-baiknya.

Jangan terbius euforia hingga hal-hal yang tak penting dan cenderung destruktif kita tulis dan sampaikan. Keterbukaan justru harusnya menjadikan kita lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi.

Ada begitu banyak contoh ketidakhati-hatian dalam bersuara di social media yang terjadi dewasa ini yang menyebabkan seseorang harus bermusuhan/dimusuhi orang bahkan tak sedikit yang berurusan dengan polisi.

Jadi mari kita belajar untuk memahami makna keterbukaan dengan hati-hati dan sikap dewasa. Mengerti apa yang perlu disuarakan sebagaimana kita tahu ada hal-hal yang tidak perlu disampaikan sekarang atau nanti.

Sydney, 15 Februari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.