Sirekap dan cara singkat untuk membenahinya

21 Feb 2024 | Cetusan

Sirekap adalah Sistem Informasi Rekapitulasi. Alat bantu yang dikembangkan untuk mencatat dan mendokumentasikan perhitungan suara selama pemilihan yang nantinya akan di-crosscheck dengan perhitungan suara manual. Sebuah niatan yang sebenarnya baik dan asik…

Tapi dalam hari-hari ini, ada banyak yang mempersoalkannya.

Sebagai aplikasi, Sirekap dianggap tidak pintar dan dikerjakan secara buruk. Ada yang mengomentari algoritma sirekap yang katanya dibikin untuk mendukung paslon tertentu. Ada pula yang mempersoalkan tentang dimana data Sirekap disimpan. Di dalam negeri atau di luar negeri?

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia IT sejak lebih dari dua puluh lima tahun, ini pemandangan yang biasa terjadi di kawasan tertentu. Maksudnya, biasa karena sering terjadi utamanya terkait ketidakbaikan dalam perancangan, pembuatan dan pemeliharaan aplikasi.

Jadi jangan berharap terlalu banyak. Kesalahan yang sudah terjadi pada akhirnya akan disimpan dalam koridor masa lalu adapun usulan perbaikan akan didorong ke masa depan dengan label, “Kita akan perbaiki dan pastikan bahwa 2029 lebih baik lagi!” Dan kalau belum kiamat, lima tahun lagi ya akan gitu lagi-gitu lagi…

Di atas persoalan IT yang rumit, sebenarnya ada hal sederhana yang menarik untuk dibahas. Bahwa jangan-jangan, gonjang-ganjing yang terjadi terkait sirekap ini bukan soal niatan jahat, konsep dan teknologinya tapi soal nama.

Sebagai alat bantu, sirekap harusnya punya derajat yang tinggi karena niatnya baik, membantu. Maka harusnya bukan Sirekap tapi Sangrekap.

Karena “si” sudah terbiasa kita pakai untuk menyandangi hal-hal kecil atau hal-hal yang kita anggap remahan.

Kita menyebut “si pencuri”, “si pembohong” karena derajat pencuri dan pembohong itu rendah. Tapi kita tak kan berani menyebut “Si Joko” karena lurah bernama Joko itu konon besar jasanya.

Nah sekarang tentang “sang”.
Sang dipakai untuk menyandangi hal-hal besar yang tidak boleh kita kecilkan atau kadang kita pakai juga untuk mengecilkan hal-hal besar.

Kita menyebut “Sang Pencipta” bukan “si pencipta

Kita memanggil “Sang Presiden” bukan “si presiden

Meski kita melawan “Sang Penguasa” bukan “si penguasa.”

Maka harusnya Sang Rekap atau Sangrekap. Keren. Gagah.

Meski ada pengecualian dengan Sang Kae, bukan nama Korea meski mungkin menurut Bambang Pacul ia termasuk korea yang butuh melenting menggunakan galah yang tepat!

Uniknya, dalam telaah bahasa Jawa yang kulakukan secara instant dan belum tentu benar, Sang Kae bisa berarti “Sang Itu” atau menunjuk sesuatu (kae) sebagai yang besar (sang) sementara dirinya hanya jadi penonton saja!

Lalu siapa obyek yang di-kae-kan?

Bisa jadi kakak sulungnya yang memang jadi besar karena bantuan paman, atau bapaknya yang kita pikir dulunya memiliki semangat orang kecil eh ternyata….!

Sang Kae juga bisa berarti menunjuk partai lain yang besar-besar sementara partai yang dihadiahkan kepadanya tetap kecil meski balihonya besar-besar.

Dalam hal ini menarik membawa Komandante Bambang Pacul ke dalam frame pembicaraan karena kita pengen tahu siapa yang kadar koreanya lebih besar, siapa yang jadi galah dan siapa yang melenting.

Adakah partai itu jadi galah Sang Kae untuk melenting jadi gubernur akhir tahun ini? Atau sebaliknya, partai yang menggunakan galah bernama Sang Kae untuk melenting ke Senayan tapi entah galahnya yang patah atau lentingannya yang kurang sip maka yang ada justru ambyar.

Kita tunggu saja karena kata asbak istana, saat tulisan ini kurawi ada komplotan yang sedang melakukan operasi senyap untuk menggelembungkan suara supaya partai sang kae bisa benar-benar melenting sampai ke Senayan…

Sydney, 21 Februari 2024

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.