Siapkah kita untuk tersesat?

28 Feb 2019 | Kabar Baik

Yang berat itu ternyata gak cuma mereka yang nahan rindu. Menjadi pemimpin pun juga gak mudah. Jika menyesatkan umat, yang dalam perumpamaan Yesus digambarkan sebagai sosok ?anak kecil?, maka lebih baik bagi pemimpin itu jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. (lih. Markus 9:42)

Mari mengambil sudut pandang dalam konteks ini. Alih-alih di posisi para pemimpin, kenapa tak melihat dari sisi bagaimana umat menanggapi ketersesatan itu?

Umat dan ketersesatan

Pernahkah kita sebagai umat siap untuk tersesat? Jika siap, bagaimana sikap? Diam dan membenamkan diri dalam ketersesatan atau keluar. Tapi kalau keluar, adakah kita tak takut akan tersesat dalam ketersesatan-ketersesatan lainnya? 

Pusing, kan?!
Aku pernah tersesat dan aku tak tahu apakah sekarang sudah tidak tersesat lagi.

Aku tersesat ketika memilih cara untuk merespon kenyataan bahwa aku banyak melakukan dosa. Karena dosa aku merasa jijik pada diriku sendiri dan menghukum diri dengan banyak hal termasuk nggak mau menerima komuni saat misa karena merasa tak layak atas dosa-dosaku, nggak mau memberikan pendapat ketika ditanya dengan alasan yang sama, ?Aku pendosa! Jangan dengarkan aku!?

Tapi bukankah dosa itu tidak baik, DV?

Betul! Dosa menjauhkan kita dari Allah. Tapi ketika itu aku tersesat karena saking merasa berdosanya aku tak lagi memandang dan tak lagi percaya bahwa Allah sebagai Sumber Pengampunan yang mau menerimaku kembali dan mampu membersihkan dosa-dosaku.

Petrus dan Yudas

Di sinilah letak ketersesatanku. Beruntung waktu itu aku menghubungi pastor yang kukenal dekat dan darinya aku diajak untuk melihat dan berefleksi bagaimana Petrus dan Yudas bereaksi terhadap dosa.

Petrus dan Yudas, pada masa-masa akhir hidup Yesus di dunia, mereka sama-sama mengkhianati Tuhan. Petrus mengkhianati dengan cara menyangkal bahwa dirinya kenal dan jadi murid Yesus di depan orang-orang yang menunggui Yesus dinihari sebelum Ia disalibkan. (lih. Matius: 26:69-75) Sementara Yudas seperti kita ketahui bersama, ia menyerahkan Yesus setelah disogok tiga puluh keping mata uang. (lih. Matius 26:47-51)

Tapi yang membedakan adalah, Petrus mengakui kesalahan lalu ia kembali pada para murid dan Maria, Ibu Yesus, lalu bersama-sama membangun komunitas iman perdana hingga ia jadi pemimpin gereja yang pertama. Petrus tahu bahwa meski berdosa, Yesus akan menerimanya kembali karena Allah Maha Kasih dan Maha Pengampun.

Sedangkan Yudas, larut dalam rasa salah yang tak berkesudahan. Ia tak mau kembali dan memilih bunuh diri. Bunuh diri Yudas adalah buah dari sikap yang tidak lagi punya rasa percaya pada kerahiman Allah yang sanggup melunturkan dosa-dosanya.

Dari situ aku memilih ?jalan Petrus?. Aku menyikapi kedosaan secara ?wajar? yaitu hal yang masih mungkin dilakukan karena kita manusia tapi Allah selalu mengampuni selama kita mau mengakuinya.

Tapi, DV? bagaimana kalau justru karena tahu Tuhan itu maha pengampun lantas kita merasa biasa saja saat berbuat dosa? Toh nanti diampuni juga!

Tersesat atau tak tersesat?

Nah itu dia! Makanya kubilang aku pernah tersesat dan sekarang tak tahu apakah aku sudah keluar dari ketersesatan itu atau belum!

Mana yang benar kalau demikian??

Kalian kupersilakan untuk berpikir dan merenungi sendiri. Aku nggak mau menyesatkan kalian dan nggak mau dibuang ke laut! Aku masih ingin hidup ! Hahaha?

Sydney, 28 Februari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.