Beberapa hari yang lalu aku mendapat undangan untuk mengikuti PEMILU Indonesia yang akan diadakan pada hari sabtu dua minggu yang akan datang dan Pemilu kali ini sepertinya aku akan datang dan nyoblos.
Kalau dulu aku selalu memaksakan diri ikut Pemilu dengan alasan supaya PKS tak menang (jangan protes, ini alasan pribadi) kali ini aku mendapat alasan baru untuk mendatangi TPS yang letaknya di Parramatta itu yaitu supaya Pemilu caleg dimenangkan single majority dan waktu pilpres nanti juga cukup berlangsung satu putaran supaya uang yang seharusnya dialokasikan untuk putaran kedua Pemilu bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk hal baik yang lain selain korupsi (karena korupsi itu tidak baik, bukan?)
Jadi, ya jelas aku milih PDIP dan Jokowi! Siapa lagi? :)
Aku memilih PDIP sebenarnya bukan karena Jokowi dan memilih Jokowi bukan pula karena PDIP
Aku memilih PDIP sebenarnya bukan karena Jokowi dan memilih Jokowi bukan pula karena PDIP.?Ini lebih ke alasan historis yang agak ‘kubuat-buat’ tapi kubiarkan begitu saja karena tak ada yang perlu diubah: alm. Papaku dulu adalah kader dan pengurus PDIP di Klaten sana.
Sedangkan alasanku memilih Jokowi adalah karena menurutku dibandingkan capres lainnya ia adalah yang paling banyak dicitrakan positif oleh media sebagai sosok yang lurus dan mau bekerja keras serta ini barangkali yang paling penting… media hingga tulisan ini ditulis tak berhasil memuat sisi gelap Jokowi di masa silam.
Emang kamu nggak percaya kalau Jokowi benar-benar kerja keras dan lurus?
Percaya! Tapi kepercayaanku sejauh ini baru sebatas “seperti yang diberitakan banyak media…”
Memang kamu tahu Jokowi punya masa lalu yang gelap?
Aku tak tahu dan sekali lagi, kepercayaanku kepada Jokowi bahwa ia tak punya masa lalu yang gelap adalah baru sebatas “seperti yang diberitakan banyak media…”
Lalu kenapa aku menuliskan itu seolah-olah ia tak lurus dan punya sisi gelap?
Ini adalah salah satu upayaku untuk tetap waras menjadi manusia dan tidak gelap mata tenggelam dalam euforia ‘Jokowi’ ini.
Banyak dari kita hari-hari ini larut dalam euforia Jokowi.
Ok, tak semuanya dari yang larut itu benar-benar larut sih… ada yang dibayar untuk nge-buzz di social media terkait dengan euforia ini.. itu adalah pengecualian.
Yang paling kutakutkan dari euforia adalah semakin lama kita berada dalam putaran arusnya, semakin sulit kita untuk berpikir dan kembali pada obyektivitas hidup. Begitu pula dengan euforia Jokowi ini. Kita terlalu melambung-lambungkan namanya seolah ia adalah satria piningit yang sebenarnya, seolah ia adalah orang yang mampu menyelesaikan persoalan yang tak bisa diselesaikan pendahulunya?
Bagaimana kalau ternyata nanti Jokowi juga tak mampu menyelesaikan persoalan demi persoalan bangsa?
Bagaimana kalau Jokowi ternyata (meminjam istilah kawan dekat saya) ‘sebelas-dua belas’ dengan SBY?
Dan ketika hal itu terjadi, hal yang paling susah dicari dari gerombolan pendukung euforia itu sebenarnya adalah rasa kecewa itu sendiri. Orang yang terlalu lama larut dalam euforia adalah orang yang susah untuk mengakui bahwa dirinya sedang dilanda kecewa. Orang yang seperti ini cenderung akan terus menenggelamkan diri dalam keterbiusan bahwa Jokowi mampu… Jokowi mampu… Kalau tak segera bangun dan menemukan diri bahwa dirinya memang dikecewakan, rasa-rasanya pengultusan individu terhadap sosok Jokowi akan dengan mudah terjadi.
Di sisi lain, ada juga orang yang gampang kecewa. Kalau hal yang ditakutkan terjadi pada Jokowi, orang-orang yang seperti ini akan dengan mudah pindah haluan. Mereka akan mencari sosok yang lebih fenomenal lagi pada masanya nanti. Mari kita sebut orang yang seperti ini sebagai kaum oportunis, kaum yang terlalu mudah move on dan seorang trend follower.
Wah, kalau gitu mending nggak usah milih aja ya?
Lho, ya jangan apatis begitu.
Justru di sini tantangannya. Bangsa dan negara kalian itu butuh dibikin maju salah satunya melalui pengambilan keputusan untuk menentukan pemerintahan dan fungsi legislatif yang lebih bagus ke depannya dan itu harus melalui Pemilu.
Kita memang seperti meniti pada balok yang tipis… harus khidmat, penuh perhitungan dan yakin bahwa yang ada di depan itu adalah kebaikan maka mari kita bergerak maju.
Jadi mari kita lanjutkan mengelu-elukan Jokowi karena memang ia memberikan harapan. Hanya saja, ketika hati sudah penuh dengan kegembiraan kemenangannya (kuanggap ia tak mungkin kalah soalnya) tetap sisakan sebuah rongga dalam hati dan kita namai itu logika. Ya, hati yang berlogika!
Tinggalkan Balasan