Siapkah anak-anak zaman now menghadapi dunia di masa depan?

8 Mei 2018 | Kabar Baik

Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
(Yohanes 16:7)

Pernyataan Yesus di atas terutama pada kalimat pertama begitu kuat mengesima! ?Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi!?

Ada tiga hal yang perlu kita pelajari dari sikap Yesus di sini; keberpihakan, kerelaan dan kepercayaan pada penyelenggaraan Allah.

Siapakah Yesus dan siapalah kita sehingga Ia rela untuk pergi dengan alasan supaya lebih berguna bagi manusia? Siapapun Dia menurut pandangamu, pernyataanNya di atas menunjukkan keberpihakannya pada kita!

Padahal jika mau, Yesus bisa saja memilih untuk tetap tinggal di bumi menjadi Raja Yahudi. Waktu itu kondisi psikologis masyarakat sudah begitu terjepit dengan penjajahan Romawi dan perilaku Farisi dan Ahli Taurat yang maunya menang sendiri. Pengajaran yang Yesus berikan, mukjizat demi mukjizat yang Yesus lakukan, semuanya memberi harapan bagi rakyat. Ia rela menanggalkan semuanya.

Yesus juga percaya pada penyelenggaraan BapaNya sendiri. Ia percaya pada rencana mulia untuk hadirnya Sang Penghibur yang diutus yang adalah Roh Kudus yang akan segera kita peringati turunNya sebentar lagi.

Menggunakan ketiga hal di atas, keberpihakan, kerelaan dan kepercayaan pada penyelenggaraan Allah, kita bisa menyikapi dunia secara lebih baik.

Pernahkah kamu bertanya pada orang-orang yang lebih tua tentang generasi muda dan masa depan dunia?

Di antara jawaban-jawaban yang positif, biasanya terselip yang kira-kira seperti ini, ?Membayangkan masa depan itu mengerikan! Bagaimana nanti anak-anak muda itu? Siapkah mereka menghadapi dunia yang penuh tantangan kalau kerjanya cuma mabuk-mabukan, pacaran di luar batas, berkelahi di jalanan dan berbuat onar??

Kesannya baik, kesannya peduli dan khawatir. Tapi, benarkah demikian?

Pandangan seperti itu menurutku justru mengesankan kesombongan tingkat tinggi dan tidak selaras dengan tiga hal yang kukemukakan di atas tadi.

Mereka tidak berpihak pada para generasi penerus. Yang mereka soroti hanya perilaku-perilaku buruk yang belum tentu mereka lakukan. Mereka memandang rendah seolah dirinya tinggi. Menghakimi.

Kekhawatiran juga menunjukkan potret ketidakrelaan. Mereka tidak rela bahwa apa yang selama ini mereka lakukan harus diserahkan kepada generasi penerus. Padahal segala sesuatu ada masanya. Ada masa bertumbuh dan berkembang, ada masanya untuk surut dan mundur.

Dan yang terakhir, ketidakberpihakan pada generasi muda dan ketidakrelaan untuk menyerahkan tongkat estafet adalah tanda kekurangpasrahan pada penyelenggaraan Bapa sendiri.

Jika kita percaya Tuhan itu memiliki banyak sifat ?Maha?, apakah kamu pikir suatu saat Tuhan akan kalah menghadapi zaman seedan dan sedestruktif apapun itu? Kita juga sadar bahwa generasi muda itu tentu juga tak lepas dari bimbinganNya.

Marilah kita berkaca.
Seperti halnya kita menanggung salib hidup, setiap anak zaman termasuk zaman mendatang punya salib mereka masing-masing. Berat-ringannya salib, Tuhan yang akan menguatkan. Lambat atau cepat dalam menanggung toh pada akhirnya sampai juga kita ke Golgota?

Sydney, 8 Mei 2018?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.