Siapakah nabi palsu? Kitakah dia?

26 Jun 2019 | Kabar Baik

Orang-orang berlomba mencari sudah adakah, atau siapakah nabi palsu di antara kita?

Hal ini terkait dengan apa yang dikatakan Yesus hari ini, ?Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.? (lih. Mat 7:15)

Lebih jauh, ketertarikan untuk mencari tahu tentang nabi palsu adalah karena Yesus menyatakan bahwa hari dimana Ia akan datang kembali (Kiamat) akan didahului dengan banyak bermunculannya nabi dan bahkan mesias-mesias palsu seperti dinyatakan dalam Matius 24:11 dan Matius 24:24.

Siapakah nabi palsu?

Pencarian nabi palsu biasanya dimulai dengan sikap ?kepo? tentang seseorang yang ?dicalonkan? untuk menjadi nabi palsu. Setelah kepo, tindakan selanjutnya adalah mencari kawan untuk bergunjing alias nggosip. ?Eh, Pak itu pengajarannya aneh deh! Jangan-jangan nabi palsu?!? atau ?Eh, Bu itu perilakunya ternyata agak menyimpang dari apa yang diajarkan lho! Wah bentar lagi kiamat nih!?

Pokoknya, prinsip yang dianut adalah gajah di pelupuk mata tak tampak, kutu rambut di seberang lautan kelihatan!

Kitakah nabi palsu?

Hari ini aku mengajak untuk merenung, bukan untuk mengenali siapakah nabi palsu di sekeliling kita tapi tentang adakah bibit-bibit kepalsuan yang muncul dari hati kita.

Adakah kita memiliki intensi terhadap siapapun untuk menyamar jadi domba tapi sesungguhnya dibalik itu kita adalah serigala yang buas? Adakah buah-buah yang kita hasilkan dan dilihat dari banyak orang itu sesuai dengan pencitraan yang kita lakukan? (lih. Mat 7:15-16)

Mari berkaca.?
Aku sendiri mengenali masih banyak kepalsuan di dalam diri sendiri. Kepalsuan muncul ketika aku sudah mulai melibatkan dan menjadikan keinginan-keinginan duniawi sebagai tujuan dalam rencana-rencana baikku. Keinginan duniawi itu datang merongrong, membujuk dan merayu?

Dan ketika aku kalah, aku telah menjadi seorang yang palsu.

Gelombang besar kepalsuan

Kepalsuan dalam diri juga bisa dipicu dari ?trend? kepalsuan yang mengglobal. Trend yang menyatakan seolah-olah menjadi palsu adalah biasa dan bisa!

Gelombang itu muncul bisa melalui media sosial. Ketika orang berlomba-lomba untuk lebih mengutamakan tampil baik, yang penting keren; hal tersebut bisa jadi pemicu munculnya kepalsuan-kepalsuan yang ada.

Orang bisa menganggap cara tersebut sebagai jalan pintas untuk menjadi baik dan keren. Ada kecenderungan ia jadi tak mau mengakui kelemahan atau tak mau membangun sebuah usaha keras untuk bisa benar-benar baik. Bibit-bibit kepalsuan pun tumbuh dalam diri bak cendawan di musim hujan.

Jika sudah demikian, kita sejatinya tak perlu kepo, tak perlu bergunjing tentang siapakah nabi palsu di antara kita karena ketika kita merenung dan mau membuka diri di hadapanNya, jangan-jangan kitalah dia!?

Sydney, 26 Juni 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.