Siapa yang kaya sebenarnya?

22 Sep 2017 | Kabar Baik

dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.
(Lukas?8:2-3)

Ada tiga hal yang menarik dari Kabar Baik hari ini.

Pertama, pengikut Yesus ternyata bukan hanya kaum pria.

Kedua, pengikut Yesus berasal dari berbagai kalangan termasuk Yohana, istri Khuza yang adalah bendahara Raja Herodes yang kita ketahui bersama berada di sisi yang berseberangan dari Yesus.

Ketiga, para wanita itu, seperti ditulis Lukas, melayani rombongan dengan kekayaan mereka.

Lho, katanya orang kaya susah masuk surga tapi kok di sini dilukiskan para wanita itu melayani dengan kekayaan mereka? Kenapa Yesus memperbolehkan?

Makanya jangan membaca kitab suci secara harafiah, Mas Bro dan Mbak Sis! Bagiku kekayaan adalah rejeki yang datangnya dari Tuhan. Kita tentu tetap boleh kaya selama kekayaan itu kita dapatkan dengan cara yang halal dan tak membuat kita gelap mata, tak membuat kita bergantung seolah kalau tidak kaya maka kita tidak layak hidup.

Kunci memahami kekayaan ada pada kata ?cukup? dan ?lebih?.

Kekayaan dipakai untuk mencukupi hidup dan keluarga serta sesama dan alam sekitarnya. Kekayaan tidak bisa dipakai hanya untuk hidup diri sendiri secara berlebihan apalagi foya-foya semata karena ada yang lebih penting daripada hidup yaitu kehidupan abadi.

Dan para wanita yang dilukiskan hari ini oleh Lukas, mereka mengerti akan hal itu. Hidup di dunia harus tercukupi, selebihnya diberikan kepada Tuhan yang menjamin kehidupan abadi.

Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak kaya? Apakah mereka tidak bisa melayani Tuhan?

Tergantung bagaimana kalian memandang kekayaan dan ?kaya? itu sendiri. Kalau kita memandang kekayaan hanya dari materi seperti uang, rumah dan mobil, ada berapa milyar orang di muka bumi ini yang lantas akan berhenti melayaniNya karena tak semua orang dikaruniai uang, rumah dan mobil!

Lagipula, adakah hanya hal-hal itu yang bisa dijadikan tanda bahwa seseorang itu kaya?

Aku punya kawan yang uangnya seolah tak memiliki nomer seri saking banyaknya tapi selalu merasa miskin karena terlalu ngirit dan ketakutan uangnya habis. Menurutku ia adalah orang yang miskin.

Sebaliknya aku punya kawan yang tak seberapa banyak uangnya tapi selalu merasa layak untuk menyumbang dan mendonasikan uang yang tak seberapa itu dan menurutku ia justru lebih kaya dari kawanku yang satunya.

Kekayaan berasal dari hati dan pikiran. Uang hanyalah piranti dan bagaimana kita menyikapinya adalah tanda bagaimana kita ini sejatinya: kaya atau miskin? Ketika kamu membantu sesama dengan keringat dan tenaga, kamu telah membantu dengan kekayaanmu! Ketika kamu mendatangi seseorang yang sakit untuk mendoakan di tengah waktu sibukmu, kamu adalah orang kaya. Ketika ada seorang janda miskin yang menyerahkan seluruh uang untuk Tuhan, apa kamu pikir ia adalah seorang janda yang sebenarnya miskin atau justru kaya? Bagiku, ia kaya!

Sydney, 22 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.