Siapa menjiplak siapa?

12 Apr 2012 | Cetusan, Indonesia

Sikap inferior terhadap bangsa lain tampak sangat nyata ketika misalnya suatu waktu kita mendapati ada karya seni anak bangsa yang terdengar/terlihat ‘mirip’ atau bahkan ‘sama betul’ dengan karya dari luar negeri.

Biasanya sih komentar yang keluar seperti ini, “Nah! Ketahuan kan! Ternyata artis kita ngejiplak karya luar negeri!”

Atau mau yang lebih nylekit lagi, “Tau sendirilah… Indonesia! Masalahnya di mentalitas!”

Pernahkah kita berpikir, apa ada yang salah dengan otak kita sehingga selalu menganggap bahwa bangsa kita lebih terbelakang dari bangsa lain?

“Intinya, jangan asal njeplak bahwa kita semua adalah bangsa penjiplak!”

Atau, kalau kata Bono (U2) di lagu One bilang, “Did i disappoint you, leave a bad taste in your mouth?” Ya, emang sesalah apa sih Indonesia terhadap kalian kok sampai mau-maunya kaki kalian rela diinjakkan ke kepala sendiri?

Kalian bolehlah geram dengan perilaku menjijikkan pemimpin-pemimpinnya yang kaya intrik dan rekayasa, tapi itu kan tidak mewakili semuanya. Ada banyak contoh positif dimana ternyata banyak pula karya artis kita yang dicontek/dijiplak habis-habisan oleh orang lain!

Ada pula cerita-cerita menarik dimana karya artis kita diminta atau dibeli oleh seniman asing lalu mereka merilis ulang dalam bahasa dan artikulasi nada yang agak sedikit berbeda tergantung kemauan mereka dan hasilnya, ketika kalian mendengar barangkali kalian tak menyangka bahwa itu adalah karya anak bangsa?.

Intinya, jangan asal njeplak bahwa kita semua adalah bangsa penjiplak!
Penjajah telah lama pergi, lekas-lekas turunkan kaki dari kepala kalian, karena kalau bukan kita, siapa yang sanggup menghargai diri sendiri?

Nah, berikut adalah contoh-contoh yang semoga membuat kalian berubah pikiran kalau ternyata kalian selama ini sudah terlanjur berpikir yang stereotipikal seperti di atas.

* * *

Kalian yang besar pada akhir 80-an hingga awal 90-an tentu tahulah KLa Project. Band besutan Katon, Adi dan Lilo (dulu ada juga Ari) ini mengeluarkan single pertama akhir 80-an berjudul ‘Tentang Kita’. Berikut clip mereka:

Nah, dua tahun silam, aku menemukan sebuah link di Youtube seperti tampak di bawah ini.

Jelas mereka bukan Katon Lilo dan Adi… yang cewek pun bukan pula Sisca, additional singer yang kerap diajak KLa untuk berkarya bersama. Mereka menamakan diri sebagai Puisi III, dan yang bikin kaget adalah, mereka pun menyanyikan ‘Tentang Kita’ yang jelas-jelas adalah kepunyaan KLa Project. Coba perhatikan logat ketiga personil Puisi III, nah menurut kalian, mereka berasal dari mana? :)

Lalu kira-kira dua bulan silam, di sebuah siaran televisi milik Myanmar yang kuakses melalui jaringan parabola, aku menangkap video clip di bawah ini lalu merekamnya.

Coba perhatikan melodinya dan bandingkan dengan lagu “Aku Bukan Milikmu” karya Rossa berikut ini:

Sama kan?

Dua kasus di atas barangkali tetap bisa ‘dibengkokkan’ oleh mereka yang terlanjur bersikap apriori terhadap Indonesia.

Tapi, o well, kupikir kalian pasti sudah pintar dan mampu menilai sendiri kira-kira siapa yang menjiplak/membeli lagu milik siapa.

Eh mau tau lagu Indonesia apa saja yang diminati dan akhirnya dipakai oleh orang lain? Simak infonya di sini

Sebarluaskan!

19 Komentar

  1. hehehe yang pasti aku seriiiing sekali terkejut mendengar lagu berbahasa Cina yang kutahu adalah lagu Indonesia lama! Dan jumlahnya tidak sedikit :D

    Balas
    • Jangan-jangan artisnya dari Indonesia juga? :)

      Balas
  2. dulu sempet ada issu juga lagunya peterpan di buat versi india dan ternyata laku keras bahkan sampai top chart di india. Ya memang kita harus bangga dengan karya anak bangsa.

    Balas
    • Bukan issue tapi emang nyata.. ada di link yang kumention above :)

      Balas
  3. Hahahahaaa…. lucunya yang klip Tentang Kita itu.
    Eniwei Don…. aku pun heran kenapa orang kita sering sekali menganggap remeh seolah kita ini penjiplak dan sebaliknya yang di luar sana yang dijiplak. Padahal ya kayak link mu itu lah..
    Lagipula urusan jiplak menjiplak pasti ada di pikiran siapa saja selama dia masih manusia…

    Balas
    • Ember, Zee.. semua karena kita terlalu minder, inferior menganggap seolah semua yang dari luar adalah pemenangnya :)

      Balas
  4. setuju banget. Kalo bukan kita sendiri yang menghargai Indonesia, siapa lagi?

    aku pernah baca buku tentang seorang “duta budaya” Indonesia yang pergi ke Polandia (sebenernya dia ikutan program exchange dari sebuah organisasi), ternyata orang luar negeri pun terpesona dengan kekayaan alam, keanekaragaman budaya, dan keramahan orang Indonesia. Ada yg masih merasa minder? –> lho, jadi agak OOT

    Balas
  5. kalau bisa dibilang mas DV, sepertinya ada timbal balik ketika ada orang luar yang menjiplak karya anak bangsa, namun tidak bisa kita pungkiri juga bahwa ada anak bangsa yang menjiplak musisi atau karya dari luar.

    Entah memang hal ini dikarenakan kreatifitas yang sudah menurun, atau karena pengaruh pasar yang menuntut, sehingga pihak musisi pada umumnya ingin cepat-cepat mengeluarkan single mereka.

    Balas
  6. ah jangan-jangan nanti ada yang ngejiplak tulisanku *awww :D

    Balas
  7. Jujur aja ya mas, sampai tamat kuliah lalu saya selalu merasa minder kalau liat bule. Selalu merasa bule lebih canggih, lebih pinter dan lebih keren dari kita (saya). Pokoknya saya merasa lebih rendah deh, udah merasa kalah duluan.

    Sampai ketika tahun 2005-an saya bekerja di sebuah perguruan tinggi swasta di daerah saya, saya kebetulan satu ruangan dengan bule yang juga jadi dosen. Pandangan saya mulai berubah. Tampangnya emang keren, tapi ternyata untuk urusan browsing aja dia jauh lebih gaptek dari saya.

    Lalu beberapa waktu lalu sempat main bulutangkis sama bule yang keliatan atletis, tapi ternyata belum bisa main, jauh kalah lah ama saya yang baru belajar ini.

    Intinya, kita ndak selalu kalah kok dari bule / negara lain, kita bahkan bisa lebih hebat dari mereka.

    Balas
  8. Siapa tahu nanti Iwak Peyek dijiplak buat theme song WC Brazil..

    Balas
  9. Rusa pernah denger katanya lagunya Justin Bieber itu ada yg mirip dg lagunya Budi Doremi, padhal lebih dulu keluar Budi Doremi :D

    Balas
  10. Benar bahawa gak boleh langsung apriori bahwa kita bangas tukang jiplak.. Tapi barusan ngalamin sendiri, 2 mahasiswaku jiplak tulisan mahasiswa lain, ampuuun tiu bikin geram
    Duh, Ka, sekalinya berkunjung ke sini koq ya malah curcol :))

    Apa kabar, Don?

    Balas
  11. mungkin karena sebagian kita masih merasa sebagai orang jajahan…?

    Balas
  12. jadi, intinya, kita harus bangga juga ya mas karena karya orang Indonesia juga ada yg njiplak? hehe. *salah fokus.

    Balas
  13. Ingatnya era 90-an lagu anak negeri bisa dikategorikan bagus Om, sejajar dengan lagu luar (menurut saya). Tapi karena dulu saya cuma menikmati, jadi kurang begitu memperhatikan kalau karya anak negeri sempat terjiplak. Ketahuannya ko’ baru sekarang, ah,… ketinggalan aku :(

    Balas
  14. lugas dan didasari dengan bukti otentik :) kalau kita jeli memang banyak musik atau karya musisi kita yang dijiplak negera lain, bahkan negara tetangga yang katanya serumpun saja sering menjiplak karya dari negeri ini. hak paten itulah yang harusnya diterapkan pada suatu karya, sayangnya paten itu tidak mudah. dan kita sendiri juga bersifat, “biar aja yang penting disini laku”, kemudian aksi jiplak karya orang itu terjadi dibanyak hal, termasuk teknologi. dengan begitu kita menjadi lebih kreatif, kecuali emang bakatnya plagiat, gak akan berkembang.

    Balas
  15. saya sering Mas mendengar lagu luar, yang mirip dengan lagu Indonesia yang notabene lagu indonesia tersebut keluar lebih duluan.

    MERDEKA!!!

    Balas
  16. Gak lama lagi lagu Muhamad Ridho (yang dibeli Ahmad Dhani di Indonesian Idol 2012) Neng Nong Neng Nong juga akan ditiru oleh bangsa lain (mungkin…). :) ga pa2 ditiru mas, yang penting ga diklaim sebagai warisan budaya aja. hehe… hati-hati sama Warung Kopi Malay. :)

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.