Si Pawang

21 Mar 2022 | Cetusan

Kegagapan segelintir orang terhadap fenomena pawang hujan di Mandalika kemarin itu seperti layaknya seorang kakak yang mempermalukan perilaku adiknya ketika ada tamu datang padahal saat nggak ada tamu si kakak ya biasa-biasa aja…

Mekar memang sedang keranjingan film Goggle Five. Saking keranjingannya, hampir setiap lima menit sekali dia memperagakan gerakan Miki Momozono ((桃園ミキ) yang berubah jadi Goggle Pink. Jadi ya kadang random aja, pas lagi mau makan malam tiba-tiba Mekar berdiri lalu perform. Tiap perform jadi bahan ketawaan Banu, kakaknya, juga Ibu dan tak ketinggalan Bapak yang kadang mungkin saking gemesnya mencubit pipi anak bungsunya itu.

Nah, waktu Mbak Mawar datang ke rumah,  semua berubah. Oh ya, Mbak Mawar adalah cewek yang lagi mau ditembak Kak Banu.

Pas lagi nonton TV di ruang tengah, tiba-tiba Mekar ‘kumat’ lalu memperagakan gerakan Goggle Pink. Mbak Mawar berkomentar, “Iiihhh, lucu! Ajarin Kakak dong, Mekar!”

Pas mau ngajarin, Kak Banu bertingkah. “Eh, jangan! Itu nggak bener! Apaan sih! Anak kecil sukanya halu! Itu kan cuma di film-film aja!”

Si Adik diem aja meski dia pengen banget bilang ke Mbak Mawar bahwa diam-diam Kak Banu pun juga sering kok memperagakan gerakan Kanpei Kuroda (黒田 官平) waktu berubah jadi Goggle Black!

Dari dulu kayaknya kita udah sangat terbiasa dengan yang namanya pawang hujan dan kita menyikapinya juga dengan biasa-biasa aja.

Kita datang ke kondangan lalu langit mendung dan tiba-tiba gerimis melebat, ada sih yang komentar, “Wah, pawangnya kurang kuat nih kasihan pengantennya!” Tapi ya udah gitu aja! Nggak perlu dihujat karena melanggar aturan agama kek, atau nggak sesuai dengan ilmu alam lah!

Atau ketika sebelum kondangan udah hujan lebat tapi sekitar setengah jam kemudian sekonyong-konyong hujan berhenti, kita toh tak malu-malu untuk bilang, “Wah! Pawangnya mantep nih! Siapa? Siapa? Berapa? Berapa tarifnya?”

Tapi kenapa sekarang jadi kayak gini, Rudolfo?

Kalian malu karena banyak tamu asing datang dan si pawang hujan melakukan ritual di depan hidung mereka seperti Mekar yang ber-Goggle Pink di depan Mawar yang sedang diincar Banu?

https://www.youtube.com/watch?v=z2bY4oe8Z8E

Atau kalian masih juga belum bisa mengendalikan syahwat untuk menuliskan apa saja di social media seolah di sana tidak ada orang-orang pandai yang menganggapmu pandir karena terlalu reaktif?

Atau… hmmm jangan-jangan kalian masih dendam dengan pilpres-pilpresan waktu itu?

Jangan-jangan kalian iri dengan angka transfer yang diterima si pawang?

Atau… aku tau! Kalian iri karena merasa sudah ikut berdoa supaya tidak hujan tapi ketika hujan akhirnya berhenti dan apresiasi orang-orang termasuk para tamu malah ditujukan ke pawang bukan ke kalian? Hayo ngaku!

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. nek jaman disik, nek arep udan do ngomong “cawet’e diuncalke geting, ben ora udan.” apakah mbaknya ini juga nglempar cawetnya juga di genting sirkuit Mandalika?

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.