Usai datang ke acara muda-mudi gereja di Sydney CBD malam minggu lalu, ketika hendak menuju Town Hall Station, suasana sepanjang jalan begitu ramai. Orang berbaur dalam tingkah ‘duniawi’ mulai dari cara pakaian nan seronok, berciuman erotis tak peduli jenis kelamin pasangannya… dan kata-kata makian kudengar di sana-sini bak sabda yang terdaraskan.
“Andai sekarang kiamat, tentu mereka akan terbuang neraka! Sedangkan aku… aku aktif di gereja, maka diangkatNyalah aku ke surga!” gumamku.
Lalu tiba-tiba sesosok junkie, dari kalangan itu, mengagetkanku. Tubuhnya terdorong ke belakang, meringsekku. “F*#K!” makian keluar dari mulutku, spontan.
Alih-alih membalas makian, junkie itu tersenyum tulus.“Ups! Sorry, i didn’t mean it” maafnya begitu tulus, sorot matanya lembut, menusukku.
Malam itu, satu hal kupelajari. Tuhan tak segan memakai cara tak terduga untuk menampar seorang yang sok suci, bahwa nyatanya imannya tak lebih besar dari si junkie yang menjengkelkan hatinya tadi.
Mea culpa, mea maxima culpa…
Tinggalkan Balasan