Seyakin apa dirimu nanti akan diselamatkanNya?

30 Okt 2018 | Cetusan, Kabar Baik

Aku tertegun dengan pertanyaan seorang penduduk desa yang ?tak diberi nama? oleh penulisnya, Lukas, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (lih. Lukas 13:23)

Beberapa hari lalu aku merasa sangat muak dan terganggu dengan pernyataan seorang pemuka agama kristiani dalam video yang disebar di laman facebooknya.

Dalam video itu, si pemuka agama bicara soal kekafiran.

?Saya bertemu dengan seorang pemuda dari eropa di atas pesawat. Saya tanya apakah dia kristen dan dijawab iya. Lalu saya tanya apakah kamu ke gereja dan dia bilang ?tidak!??

Lalu si pemuka agama tadi berkata, ?Kafir!?

Secara pribadi aku setuju dengan pandangan bahwa menjadi seorang penganut kristiani yang baik adalah salah satunya dengan rajin beribadah di Gereja. Tapi yang jadi persoalan adalah, seribu topan badai? darimana si pemuka agama tadi mendapat kuasa untuk mengkafirkan seseorang?

Katakanlah hukum bagi seorang kristiani yang tidak ke gereja adalah kafir, ia tak punya hak sama sekali untuk menyatakannya karena hanya Tuhan yang layak membenar atau menyalahkan!

Tapi sejujurnya aku berterima kasih juga dengan munculnya video tersebut. Kenapa? Membuatku jadi bertanya dan koreksi dalam diri, adakah aku juga pernah mengkafirkan seseorang hanya gara-gara ia tak pernah ke gereja?

Jika iya, duh aku merasa harus benar-benar bertobat!

Kenapa, Don? Bukankah sebagai pembawa Kabar Baik menilai seseorang itu wajar?

Tentu tidak! 

Ketika seseorang merasa sudah bisa menilai orang lain, secara prinsip sejatinya orang itu telah meninggikan diri terhadap yang lain. Dari perasaan yang sudah tinggi itulah yang membuatnya merasa layak untuk memberikan penilaian dan penghakiman!

Dari sini kita sadar bahwa menjadi sombong atau menjadi tinggi itu bukanlah hal baik untuk menambah peluang kita diselamatkan dalam hidup abadi nantinya!

Video tadi sekaligus mengingatkanku (dan semoga juga kalian) bahwa meskipun kita telah bergumul dengan agama sebegitu dalam dan erat tapi tetap saja tak ada jaminan bahwa kita akan selamat seperti halnya yang Yesus katakan hari ini bahwa bukan mereka yang telah merasa makan dan minum di hadapanNya yang akan diselamatkan. Hanya kepada mereka yang telah berusaha dan berjuang masuk ?pintu yang sesak itu? (lih. Lukas 13:24).

Di akhir renungan ini aku jadi sadar kenapa Lukas tak memberi nama pada penduduk desa yang bertanya kepada Yesus tadi. Kenapa? Supaya kita leluasa untuk menempatkan nama dan diri kita sebagai si penanya, ?Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan??

Seyakin apa kamu telah diselamatkan?

Sydney, 31 Oktober 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.