Sebelum 14 Oktober 2005, tak pernah terpikirkan padaku bahwa tepat pada hari itu aku akan melakukan satu keputusan besar, berhenti merokok setelah lima belas tahun sebelumnya menjadi orang yang sangat tergantung pada satu hingga dua bungkus rokok setiap harinya.
Meski sebelum-sebelumnya telah berulangkali mencoba dengan berbagai metode untuk lepas dari ketergantungan batang-batang tembakau yang dipadatkan itu, akan tetapi justru hari itu kulewati tanpa berpikir sedikitpun tentang bagaimana berhenti rokok.
Sama sekali tak kulibatkan permen karet anti nikotin yang susah-susah kutitip dari Australia dan dibawakan Joyce, mantan kekasih yang sekarang menjadi istriku itu. Tak kupasang juga plester anti nikotin yang katanya setiap kita tempel di lengan akan menstimulasi sistem syaraf perasa kita bahwa kita “seakan-akan telah merokok” itu.
Juga Tuhan, ah.. pihak yang sering kujadikan simbol menakutkan yang kuanggap selalu berkata “tubuhmu adalah bait suciku, jangan kau kotori dengan rokokmu….”. Ya, bahkan dia waktu itu tak kulihat berjaga-jaga menakut-nakutiku dengan gada dan tongkatnya.
Yang dibutuhkan ternyata hanya seorang kerabat dekat yang sangat lembut berkata padaku melalui teleponnya malam itu “Don, aku divonis kanker.”
Akupun tercekat, terkesiap lalu secara tak sadar kumatikan batang rokok dengan memusnahkan baranya pada permukaan kaca asbak rokokku sambil membayangkan betapa sel-sel ganas mulai merenggut tubuh letih kerabatku itu tadi.
Satu hal yang kuingat, itulah rokok terakhir yang kuhisap sejak tiga tahun lalu hingga sekarang …
Lalu pada akhirnya sekarang aku sanggup berkata, inilah kemenangan tahun ketiga setelah aku memutuskan untuk menjadi orang yang bisa hidup bebas bergerak tanpa rokok.
Merdeka!

Tinggalkan Balasan