Sepuluh yang terbaik

10 Agu 2015 | Cetusan

blog_1000

Mencari sepuluh yang terbaik di antara seribu tulisan yang telah beredar itu memusingkan.

Tak mungkin menulis yang tak baik di antara yang baik karena semua tulisanku muncul dari tungku otak dan tubir hati yang sama (kecuali beberapa tulisan yang merupakan tulisan sumbangan dari kawan di folder ?Wagen?)

Kalaupun akhirnya memang ada mutu yang berbeda-beda dari keseribu tulisan itu, tak mungkin juga kalau hanya sepuluh yang menonjol dan 990 lainnya biasa. Tak masuk di akal.

Maka proses pencarian sepuluh terbaik itu jadi njlimet. Beberapa bulan belakangan kumencoba meramu tapi benar-benar tak mudah.

Pernah kucoba bertanya pada beberapa pembaca, mereka punya prespektif dan pilihan sendiri-sendiri yang malah semakin membingungkanku.

Pernah juga aku membaca satu per satu tulisan-tulisanku, tapi baru selesai seperempatnya sudah tak bisa karena kesibukan menuntutku untuk melakukan hal lainnya.

Metode pencarian lalu kubalik.
Aku mencoba mengingat-ingat momen-momen menonjol yang pernah kualami sepanjang aktif menulis di blog ini (aku menulis di blog ini sejak 20 Desember 2007). Ketika kuingat tanggal kejadian momen itu, kucari pada bagian arsip di blog, adakah tulisan yang muncul di sekitar tanggal itu terkait dengan momen tersebut.

Metode ini cukup mujarab dan munculah sekitar empat puluh tulisan. Tapi empat puluh? Bukan sepuluh!

Aku biarkan keempat puluh tulisan itu sekian lama mengembara dalam pikiranku hingga akhirnya kemarin malam, aku melakukan maraton untuk membaca dan memilih, mirip anak kuliah yang menggunakan sistem kebut semalam (SKS) ketika ujian semesteran datang!

Dan inilah hasilnya!
Banyak di antara kamu pasti tak setuju, tapi setuju-tidak setuju itu memang tak layak diperdebatkan. Baiknya, ajukan sendiri tulisan-tulisan terbaikku menurut versimu! Itupun kalau ada!

 

10. Akhirnya saya menikah

donnyverdian0039.jpgPernikahan itu bukan sesuatu yang datang dengan mulus, mudah dan tiba-tiba. Ada perjuangan yang panjang nan mengesankan. Demikian juga dengan pernikahanku. Ada tikungan dan lekukan yang kadang tajam nan curam yang harus kami hadapi.?Oleh karena itu, aku memilih menggunakan kata awalan ?Akhirnya? karena memang inilah akhir dari petualangan dua jejaka muda, Donny dan Joyce :)

Aku menggunakan kuote dari Bono, vokalis band favoritku, U2. Aku tak berhasil menemukan kuote yang paling cocok daripada apa yang dikatakannya!

Baca artikelnya di sini.

 

9. Solusi Mujarab Perekat Persatuan Bangsa

lombablog.jpgTulisan ini kurangkai karena ikut lomba menulis di ajang Pesta Blogger 2009! Tak sia-sia, tulisan ini menang di urutan ketiga dan aku meminta salah seorang teman, Eka Situmorang-Sir, untuk mewakiliku mengambilkan hadiahnya karena waktu itu aku sudah pindah ke Australia.

Tapi terlepas dari kemenangan itu, aku sangat suka dengan apa yang kucetuskan dalam tulisan ini. Sebuah ide unik untuk mengajak orang menyimpan fotoku yang sudah pasti akan ditanggapi mula-mula sebagai, ?What? Nggak lah ya!?

Tapi itulah pancingannya karena dibalik ajakan ?gila? itu, aku menanamkan pesan tentang pentingnya menghormati keberagaman yang ada terutama dalam hal agama; sesuatu yang kini tampaknya semakin mahal dan langka?

Oh ya, kalau sekarang aku diminta untuk ikut lomba, tentu aku akan menolaknya. Aku tak perlu mengungkapkan alasanku.

Baca artikelnya di sini.

 

8. Kemana Perginya Indonesiaku

Tulisan ini, tak bisa kupungkiri, adalah pintu gerbang bagiku untuk menjadi salah satu blogger ternama di Tanah Air hehehe…

Gara-garanya Multiply yang membuka cabang di Indonesia mengakuisisi URL indonesia.multiply.com yang sejak sekitar tahun 2004 kupakai cukup aktif untuk berkomunikasi dalam platform Multiply.

Aku sadarnya telat. Lalu ketika membuka URL itu, inilah tanggapanku yang ku-share di Twitter waktu itu:

blog_1000_1

Dengan cepat, tulisan ini mem-viral dan dijadikan senjata banyak orang untuk ?menelanjangi? Multiply waktu itu termasuk orang-orang yang aktif di forum Multiply itu sendiri.

Tentu ada pihak yang tak senang karena aku ?membakar jenggot? di muka publik, tapi sebaliknya, ada begitu banyak teman baru yang kudapat dari ?pertikaian ini? dan bertahan hingga kini.

Beberapa tahun berikutnya Multiply gulung tikar. Suara-suara mengumandang kebangkrutannya itu terkait langkahnya yang salah dengan mengakuisisi akun indonesia.multiply.com secara tak adil.

Hehehe? agak berlebihan sih kalau yang terakhir ini tapi siapa tahu?

Baca artikelnya di sini.

 

7. Kalian tak sedang menjual blog kalian, kan?

Sekian waktu setelah kasus Multiply mencuat, aku dikenal sebagai anak ?baik-baik? yang penurut pada trend. Tapi melalui tulisan ini aku memutarbalikkan semua pendapat itu!

Aku mulai jengah dengan blogosphere yang mulai sunyi nan kaku, tak dinamis dan ?bau duit? dimana-mana!

Ada banyak blogger-blogger kugiran yang memilih meninggalkan gelanggang, menjadi konsultan PR ataupun terjun ke dunia content agency. Ada blogger-blogger lain tulisan-tulisannya semula kuikuti karena semangatnya untuk berbagi, tapi sejak saat itu mulai berbau sponsor dan lebih banyak lagi yang benar-benar hilang dan nongol-nongol di Twitter berubah bentuk menjadi buzzer dengan alasan, ?Abisnya kalau di blog, capek-capek nulis dapetnya cuman lima digit, di twitter, ngetik 140 karakter, dapetnya enam sampai tujuh digit!?

Salahkah? Tidak, itu pilihan mereka. Maka mereka juga tak bisa menyalahkanku mencetuskan tulisan ini. Konon, tulisan ini cukup membuat merah telinga para buzzer dan antek-antek content agency waktu itu. Seolah, daya tulisan ini telah menggarisi sekelilingku dan menjadi perhatian banyak kalangan bahwa aku adalah seorang anti-buzzer.

Nyatanya? Tergantung buzzernya hahaha!

Baca artikelnya di sini.

 

6. Burung di atas salib

blog_burungsalibAku memahami tulisan ini benar-benar sebagai sebuah karya. Nyaris tidak ada momentum yang mengular di sekelilingnya ketika kata demi kata kutorehkan.

Kugulirkan tema pencemaran agama dan kubatasi tema itu dalam ruang yang cukup kerdil; 150 kata.

Beberapa kali aku mencoba ?menulis? di benak, tentang approach apa yang paling nyaman untuk langsung menghujam dengan kata-kata yang efektif, sret-sret-sret.. lalu sudah!

Tiba-tiba aku terpikir ada salib, burung yang menclok di atasnya lalu menorehkan tainya!

Hingga kini, ketika aku baca ulang tulisan itu, hentakan tulisan ini masih kurasakan. Aku merasakan ?orgasme intelektual? yang meski tetap tak bisa dibandingkan dengan apa yang dilukiskan Coelho dalam ?Aleph? (2011) tapi kurang lebih seperempatnya sama.

Baca artikelnya di sini.

 

5. Kenapa kita memilih jalan ini

Aku bukanlah orang yang mudah bimbang, tapi ketika memutuskan sesuatu, aku juga kadang takut bahwa keputusan yang kubuat adalah benar-benar yang terbaik.

Masa 2007 – 2008 adalah masa penentuan bagiku untuk melanjutkan hidup. Persimpangan jalan antara bermigrasi ke Australia atau menetap di Indonesia. Dan keputusan yang kuhasilkan pada 1 Maret 2008 untuk akhirnya pindah ke Australia bukanlah keputusan yang lahir sehar-lam, tapi meski demikian, banyak orang mengira aku terlalu gegabah dengan keputusan itu; mungkin mengingat posisiku di perusahaan di Jogja dulu yang sudah sangat nyaman.

Nah, empat tahun sesudah aku bermigrasi ke Australia dan sudah mulai mapan, aku pulang ke Jogja dalam rangka menghadiri pernikahan adik kandungku, Chitra, Juli 2012. Saat itu aku memutuskan untuk menginap di Novotel Hotel, hotel yang cukup berarti bagiku karena saat kuliah aku indekost tepat di belakang hotel itu dan setiap malam dulu aku memandang Novotel dan berpikir, ?Bisakah suatu waktu nanti aku bermalam di sana??

Tulisan ini kubuat ketika aku berada pada posisi sebaliknya, bermalam di Novotel dan melongok ke bawah, ke Kampung Sagan, tempat ?srawung? ku dulu ketika indekost di sana.

Tentang permenungan, tentang keputusan yang pernah kuambil dan tentang perandaian kalau waktu itu aku tak memilih jalan ini.

Tulisan ini adalah hasil meditasi singkat pada sore hari menjelang maghrib di kamar Novotel ketika istri dan anak-anakku sedang terlelap.

Baca artikelnya di sini.

 

4. Citraweb, you?ll be in my heart

donnyverdian0166.jpgCitraweb adalah sebuah perusahaan IT di Jogja yang sangat kubanggai. Bersama kawan-kawanku saat sekolah di SMA Kolese De Britto dulu, lima belas tahun silam, ia kami bidani kelahirannya.

Keputusan untuk pergi meninggalkan Indonesia dan bermigrasi ke Australia adalah sama saja keputusanku untuk memisahkan diri dari ?anak kandung spiritualku? itu!

Tulisan ini adalah caraku memerangkap emosiku yang sangat berat waktu itu ke dalam sebuah lagu milik Phil Collins, You?ll be in my heart.

Lagu yang dipakai untuk soundtrack film Tarzan ini memang sangat kusuka.?Aku memasukkan emosiku ke dalam percakapan lirik lagu itu dan seolah menjadi karakter yang bicara,

?When destiny calls you, you must be strong!
I may not be with you but you?ve got to hold on??

dan kutujukan hal itu pada seluruh awak Citraweb; baik yang suka untuk kutujukan demikian ataupun yang tidak suka?

Tulisan ini kurangkai dalam sekejap meski kurencanakan dalam rentang waktu yang tak sebentar. Sore itu setelah mentari lindap dan aku benar-benar pamit dari Citraweb, aku mengendarai motor membawa tas laptop ke sebuah coffee shop. Di sana, kubuka laptop dan kutuliskan semuanya lalu kuunggah ke blog ini.

Baca artikelnya di sini.

 

3. Natal

christmas.jpgTulisan ini sangat biasa! Biasa sangat!
Tapi keadaan spiritual yang terjadi di sekelilingnya dan terkait pada peristiwa yang lantas terjadi sesudahnya membuatnya menjadi luar biasa setidaknya menurutku.

Itu adalah Natal kedua aku di Australia, Joyce sedang hamil besar dan kami berbelanja ke Target (foto di tulisan itu kujepret di sana).

Aku belum tau hendak menulis apa tentang Natal dan tiba-tiba Sang Ide mampir di otak dan menyampaikan topik soal kenyataan bahwa meski berada di Misa Natal yang meriah dan bahagia, puncak perayaan tetap bertumpu pada darasan Doa Syukur Agung yang tak lain adalah pernyataan karya keselamatan Allah melalui sengsara Yesus; orang yang saat itu sedang diperingati hari lahirNya!

Membayangkan memperingati hari lahir seseorang tapi sekaligus mengenang kisah sengsaraNya pada waktu yang bersamaan? Semacam kenyataan bahwa sejauh-jauhnya kita bahagia, tak kan pernah terpisahkan dari duka?

Dua hari kemudian, tepat pada hari Natal, sahabatku Anton Budianto meninggal dunia di Yogyakarta. Tulisan ini ternyata adalah sebuah firasat tentang sebuah kehilangan di hari kelahiran Tuhan.

Baca artikelnya di sini.

 

2. Diek – 01

Tujuh April 2011, Papa meninggal dunia setelah terkena serangan stroke sehari sebelumnya.

Tulisan ini kususun sekitar seminggu setelah kepergiannya dan hingga kini ketika membaca ulang; aku selalu takjub, darimana aku mendapatkan kekuatan tiap kata yang kuterakan di sana!

Tulisan ini adalah tulisan pertama dari tujuh tulisan yang kupersembahkan untuk mengenang kepergian Papaku, Stanislaus Didiek Hardiono (makanya tulisan ini kuberi judul serial Diek, tapi pada tiga tulisan terakhir kutambahkan judul serial baru Stanislaus, nama baptisnya ).

Secara teknik tulisan aku memang terinspirasi pada kemuraman kisah Pramoedya muda yang harus pulang mendadak karena bapaknya sakit di Blora dalam Bukan Pasar Malam (1951).

Kekuatan tulisan Diek-01 menurutku adalah karena aku berhasil menyulam tiga keadaan dalam satu tulisan. Pertama, keadaan ketika aku sedang menanti pesawat lepas landas dari Sydney menuju ke Denpasar. Kedua, kenyataan tentang kekhawatiranku pada kondisi Papa yang hingga saat kejadian itu kutulis, ia masih dalam kondisi koma. Ketiga, masa lalu yang terjadi pada sekitar awal 80an ketika Papa bekerja di Kebumen dan hanya menjenguk aku dan Mama (Chitra belum lahir) seminggu sekali di Klaten.

Aku merasa seperti pemain sepakbola yang menggulirkan bola dari satu keadaan ke keadaan yang lainnya yang kusebut di atas.

Banyak kawan sangat suka pada tulisan ini. Salah satu teman dekatku malah pernah berujar bahwa karena membaca tulisan ini dan tulisan-tulisan yang mengikutinya dalam serial yang sama, setiap melewati Klaten (ia tinggal di Jogja tapi bekerja di Surabaya), ia tak bisa lepas berpikir bahwa dulu ada seorang Diek yang tinggal di kota itu, bapaknya Donny Verdian.

Baca artikelnya di sini.

 

1. Selamat Ulang Tahun, Ma

blog_mamaAku menuliskannya dengan hati; hati yang bimbang, hati yang merasa sendirian dan ketika sedang mencoba merengkuh otak untuk dijadikan teman, ternyata ia juga sama-sama tak mampu menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan, untuk pulang menjenguk Mama di tengah sakit kritisnya.

Yang bisa kulakukan hanyalah menulis dan jadilah tulisan ini.?Aku percaya, ketika akhirnya aku bisa pulang sekitar sepuluh hari sesudahnya dan bertemu dengan Mama, itu berkat tulisan ini yang kujadikan doa dan juga jadi mantra yang sama bagi para pembaca memohonkanku kepada Tuhan untukku bertemu dengan Mama.

Hingga tulisan ini kurawi, Mama masih diberi perpanjangan usia dan aku terus membaca ulang tulisan ini dan mengajak kalian untuk selalu membaca sebagai mantra, sebagai doa!

Baca artikelnya di sini.

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. Semua tulisanmu keren Don, saya suka.
    Salut sudah sampai 1000 tulisan. Kagum.

    Balas
  2. wis sewu, don?
    wih…
    salut aku… *salim

    Balas
    • Heheh suwun. Tapi aja nggumun, Imelda wes nulis seribu sejak 2011 lho :)

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.